
DI RUMAH ERIK.
Waktu menunjukkan pukul 06:30 Pagi.
Terlihat Sania yang baru saja selesai mandi dan sedang sibuk memakai perawatan kecantikannya sambil bercermin didalam kamarnya.
"Pokoknya hari ini gw harus kelihatan cantik didepan Erik.! Iya, gw harus kelihatan cantik.! Gw enggak boleh kalah dari Dinda.! Lagian kalau dilihat-lihat, gw sama Dinda itu cantik kan gw.? Jadi masih ada kemungkinan dong Erik itu suka sama gw.? Mungkin kemaren Erik lagi sok jual mahal aja ke gw.?" Kata Sania sambil tersenyum dengan percaya dirinya, karena menurutnya ia lebih cantik dari Dinda.
"Hemmm, kita lihat aja nanti.! Pasti Erik akan tergoda dengan penampilan gw in,,,,,,," Seketika ucapan Sania terpotong.
"Eh, tapi tunggu dulu.! Gimana nasib Dinda sekarang yah.? Terus susu yang gw kasih semalam, udah Dinda minum apa belum.?" Kata Sania lagi kaget, karena sepertinya ia baru ingat akan rencananya itu kepada Dinda semalam.
"Eeemmm gw yakin, pasti susu itu udah Dinda minum.! Waaah jadi penasaran nih gw, kira-kira nasib Dinda gimana yah sekarang.? Lebih baik sekarang gw cek deh keluar.!" Kata Sania sambil tersenyum senang, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah keluar dari kamarnya untuk mengecek keadaan Dinda sekarang ini, namun baru saja ia melangkah keluar dari kamarnya, langkahnya sudah terhenti, karena ia melihat keadaan Dinda yang justru baik-baik saja, karena ternyata semalam Dinda memang tidak minum susu pemberian darinya, karena sebelum bi Ijah membuatkan susu untuk Dinda, Erik sudah membuatkan terlebih dahulu susu untuk Dinda dan Dinda pun sudah meminumnya, namun mengapa semalam ia menerima susu pemberian dari Sania, karena ia merasa tidak enak kepadanya jika harus menolak, apalagi melihat Sania yang sudah repot-repot mau mengantarkan susu untuknya.
"Apa.? Gw enggak salah lihat kan.? Itu yang lagi sarapan beneraan Dinda.? Kok Dinda enggak kenapa-napa sih.?" Kata Sania kaget dan tak percaya, sambil menatap kearah Dinda yang sekarang ini sedang sarapan dengan Erik sambil asyik ngobrol di meja makan.
"Waaahhh kayaknya enak nih masakan istri mas.?"
Kata Erik sambil tersenyum dan buru-buru mencoba masakan tersebut yang sudah Dinda buatkan khusus untuknya.
"Pasti doooong.?"
Kata Dinda sambil tersenyum karena senang mendengar pujian dari Erik.
"Eeemmm istri mas udah pinter masak nih sekarang.?" Kata Erik sambil tersenyum.
"Harus pinter dong mas.? Kan biar mas tambah sayang sama Din,,,,,,," Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong, karena ia melihat Sania yang sedang berdiri didepan pintu kamarnya dan sedang memperhatikan dirinya dan Erik.
"Kak Sania.? Kak Sania lagi ngapain di situ.? Ayo sini kak.! Kita sarapan bareng." Triak Dinda, ia mengajak Sania untuk sarapan bersama dengannya dan Erik.
Mendengar tawaran dari Dinda, Sania pun langsung tersenyum.
"Apa.? Dinda ajak gw untuk sarapan.? Gw enggak salah denger kan.? Eeeemm ini kesempatan untuk gw, gw harus bisa deketin Erik.! Apalagi dengan penampilan gw sekarang ini yang cantik.! Gw yakin, Erik enggak akan pernah sok jual mahal lagi ke gw.? Dindaaa, Dinda, kasihan kamu.! Sebentar lagi suami kesayangan loh itu akan menjadi milik gw." Kata Sania dalam hati sambil terus tersenyum, kemudian dengan segera ia pun langsung melangkah menghampiri Dinda dan Erik di meja makan. Namun sayang, sesampainya ia di meja makan tersebut, Erik justru langsung beranjak bangun dari tempat duduknya.
"Loh, mas mau kemana.? Emang mas udah selesai sarapan.?" Kata Dinda bingung melihat Erik yang beranjak dari tempat duduknya.
"Udah jam tujuh nih sayang, mas berangkat ke kantor dulu yah.?" Kata Erik sambil menatap kearah jam yang ada ditangannya.
"Iiiiiiihhhhh sengaja banget sih Erik, ngehindar terus dari gw.! Emang dia enggak lihat apa penampilan gw sekarang.? Udah cantik kayak gini juga, malah dicuekin." Kata Sania dalam hati kesel, melihat Erik pamitan kepada Dinda, karena seperti yang kita tau, yang ia inginkan sekarang ini adalah ia bisa dekat dengannya, agar ia bisa dengan mudah untuk menggodanya.
"Iiiiiihhhhh mas Eriiiiik, ini kan masih pagi maaas.? Emang mas mau ngapain pagi-pagi ke kantoooor.? Lagian kan kak Sania pengin sarapan bareng kita, masa mas malah kekantor sih.?" Kata Dinda merengek sambil cemberut, karena ia pun kesel kepada Erik, yang bukanya sarapan bersama dengannya dan Sania, namun malah justru buru-buru pamitan untuk berangkat ke kantor.
Mendengar rengekan dari Dinda, Sania pun tersenyum.
"Bagus Din, loh cegah terus suami loh itu Din.! Supaya suami loh itu bisa mengulurkan waktunya untuk makan dan duduk bersama kita, biar gw bisa dengan mudah untuk deketinnya." Kata Sania dalam hati, kemudian ia pun langsung buru-buru duduk di tempat duduknya, berharap Erik akan sarapan dan duduk kembali ditempat duduknya.
"Sayaaang, mas enggak bisa lanjutin sarapan.! Udah siang nih.! Entar mas telat lagi ke kantor." Kata Erik.
__ADS_1
"Iiiiiihhh mas mah gituuu," Kata Dinda kesel, sambil terus cemberut.
Melihat istrinya cemberut seperti itu, Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung menyenderkan kepala Dinda tepat diperutnya, karena posisinya sekarang ini sedang berdiri tepat di sampingnya.
"Eeeemmmm istri Ndut mas ini manja banget siiiiih.? Ngambek muuulu nih.!" Kata Erik sambil terus tersenyum dan mencubit manja hidung Dinda.
"Mas ini sekarang harus berangkat ke kantor pagi-pagi sayaaaang.? Lagian kan pagi ini mas Arya ke Korea, jadi pagi ini mas harus gantiin mas Arya meeting, kamu ngerti kaaan, hah.?" Kata Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda dengan penuh kasih sayang.
"Iya deh Dinda ngerti.! Ya udah kalau mas Erik mau berangkat, mas Erik hati-hati.! Tapi Inget.! Di luar mas enggak boleh macem-maceeem.!" Kata Dinda masih cemberut, ia mencoba untuk mengancam Erik suami tersayangnya itu.
"Iyaaa, istri mas ini tenang aja yaaah.? Suami kamu ini setia kok.! Ya udah, mas berangkat dulu yah.?" Kata Erik dengan sabarnya, kemudian ia pun langsung mencoba untuk melangkah keluar menuju mobilnya.
"Iiiiiihhhhh bener-bener yah ini laki-laki.? Kayaknya dia memang benar-bener sengaja deh ngehindar dari gw.? Setiap gw deketin, dia selalu ngejauh.! Sok jual mahal banget sih jadi cowok.! Pokoknya kalau gw enggak bisa dapatin loh, jangan harap rumah tangga loh dan Dinda akan bertahan lama.! Kita lihat aja, siapa yang akan menang.? Tunggu pembalasan dari gw nanti malam.! Gw akan buat loh dan Dinda bertengkar dan kemudian berpisah." Kata Sania dalam hati sambil tersenyum sinis, kemudian ia pun ikut beranjak dari tempat duduknya.
"Oh iya Din, kayaknya kak Sania juga enggak bisa ikut sarapan deh.! Soalnya pagi ini kan kak Sania ada jadwal kuliah.? Apalagi ini kan hari pertama kak Sania kuliah disini." Kata Sania.
"Oh iya, kak Sania hari ini ada jadwal kuliah yah.? Mas Erik, tunggu.!" Teriak Dinda memanggil Erik yang baru saja sampai di dalam pintu keluar rumahnya.
Mendengar Dinda memanggil namanya, seketika langkah Erik pun terhenti.
"Iya sayang ada apa.?" Kata Erik dengan suara sedikit tinggi sambil menengok ke arahnya.
"Mas Erik, kan kampus kak Sania searah tuh sama kantor mas, jadi enggak papa kan kalau sekarang kak Sania berangkat ke kampus bareng sama mas.?" Kata Dinda meminta izin kepada Erik.
"Sayaaaang, enggak bisa.! Hari ini kan mas lagi buru-buru, enggak mungkin dong mas ke kampus dulu nganterin kak Sania.?" Kata Erik mencoba untuk menolak perintah dari Dinda.
"Oh iya, Dinda lupa.! Ya udah kalau gitu kak Sania diantar supir aja." Kata Dinda lagi.
"Dinda, kok tadi kamu nyuruh kak Sania berangkat bareng mas Erik sih.? Emang kantor mas Erik sama kampus kak Sania satu arah.?" Kata Sania penasaran.
"Iya kak, kampus kak Sania sama kantor mas Erik searah, malahan kalau enggak salah deket-deketan." Kata Dinda serius, kalau kampus Sania dan kantor Erik itu memang searah dan berdekatan.
Mendengar jawaban dari Dinda, Sania pun langsung tersenyum bahagia.
"Apa.? Jadi kantor Erik sama kampus gw yang baru deket-deketan.? Gw enggak salah denger kan ini.? Gw enggak lagi mimpi kan.? Kalau itu bener, berarti semakin banyak dong kesempatan gw untuk deketin Erik." Kata Sania dalam hati.
"E, e, ehhh tunggu dulu.! Tapi Gw rasa enggak semudah itu juga sih untuk deketin Erik, secara Erik tertarik juga enggak ke gw.! Kayaknya nanti malam gw memang harus tetap melanjutkan rencana gw deh.! Soalnya gw sangat yakin, kalau sampai rencana gw nanti malam berhasil, Dinda pasti akan sangat marah sama Erik.! Iya bener, Dinda pasti akan sangat marah sama Erik, dan bukan hanya itu saja.! Dinda juga pasti akan sangat-sangat benci kepadanya." Kata Sania lagi dalam hati sambil terus tersenyum senang, namun entah rencana apa yang sebenarnya akan Sania lakukan nanti malam kepada Erik, sehingga ia sangat yakin kalau rencananya itu berhasil, Dinda pasti akan sangat marah dan benci kepadanya.
DI RUMAH ERIK
Waktu menunjukkan pukul 11:00 Malam.
Terlihat Dinda yang sudah tertidur dengan sangat pulas hanya sendiri di dalam kamarnya.
Karena Erik suaminya belum pulang dari kantor.
Akan tetapi tidak dengan Sania, di dalam kamar ia terlihat masih melek dan sedang mondar-mandir sambil menunggu Erik pulang dari kantor.
"Aduuuuuh, Erik lama banget sih enggak pulang-pulang.? Ayo cepetan pulang dooong.! Nanti keburu Dinda bangun lagi." Kata Sania panik, karena seperti yang kita tau, malam ini ia akan menjalankan rencana jahatnya kepada Erik.
__ADS_1
"Pokoknya malam ini rencana gw harus berha,,,,," Seketika ucapan Sania terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar mobil Erik berparkir di halaman rumahnya.
"Eh tunggu dulu.! Kayaknya itu mobil Erik yah.? Sekarang juga gw harus cepat-cepat samperin dia.!" Kata Sania dalam hati, sambil buru-buru melangkah menghampiri Erik yang sekarang ini sudah masuk kedalam rumahnya.
"Mas Erik.! Mas Erik tolongin Sania mas.! Di kamar mandi Sania ada tikus, Sania takut banget, tolongin Sania mas.!" Teriak Sania tergesa-gesa dan panik, sambil menarik-narik lengan Erik, agar Erik percaya dengan aktingnya itu, karena semua itu hanyalah akting dari salah satu rencana jahatnya.
"Ada apa, ada apa.? Di kamar mandi kamu ada tikus.? Ya udah kamu tunggu disini.! Biar saya lihat." Kata Erik tergesa-gesa, sambil buru-buru masuk kedalam kamar Sania.
Melihat Erik masuk kedalam kamarnya, Sania pun langsung tersenyum.
"Bagus, sepertinya Erik percaya dengan kata-kata gw.! Eeemmm kita lihat aja.! Siapa di antara kita yang akan menang.?" Kata Sania dalam hati sambil terus tersenyum karena senang, akhirnya salah satu dari bagian rencananya itu berhasil, kemudian dengan segera ia pun langsung menyusul Erik masuk kedalam kamarnya.
"Sania.! Tikusnya mana.? Kok saya enggak lihat." Teriak Erik dari dalam kamar mandi Sania.
"Yang bener mas Erik, kok enggak ada sih.? Tadi itu Sania bener-bener lihat ada tikus di kamar mandi Sania." Kata Sania berbohong.
"Tapi disini itu benar-benar enggak ad,,,,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Sania menutup dan mengunci pintu kamar mandinya, karena sepertinya itu pun adalah salah satu dari rencana jahatnya.
"Dor.! dor.! dor.! Sania, buka pintunya.! Kamu apa-apa sih.? Cepetan buka enggak pintunya.!" Teriak Erik marah, sambil menggedor-dedor pintu kamar mandi tersebut dengan sangat kencang.
Mendengar Erik menggedor-gedor pintu kamar mandinya seperti itu, Sania justru malah tersenyum.
"Rasain loh sekarang Erik.! Ini adalah balasan dari gw, karena dari kemarin loh sok jual mahal ke gw.! Belum tau aja loh, siapa gw sebenarnya.?" Kata Sania dalam hati sambil tersenyum sinis, kemudian dengan segera Sania pun langsung melanjutkan rencana jahatnya itu.
"Tolong.! Tolong.! Jangan mas Erik.! Jangan.! Jangan lakukan ini sama Sania mas Erik.! Jangan.!" Teriak Sania pura-pura meminta tolong, sambil merobek-robek bajunya sampai koyak.
"Dor.! Dor.! Dor.! Sania.! Sekarang juga buka enggak pintunya.! Cepetan buka Sania.! Buka pintunya.!" Teriak Erik semakin marah, karena sepertinya sekarang ini ia sudah tau apa maksud dari rencana jahat Sania itu.
Mendengar Erik yang lagi-lagi menggedor-gedor pintu kamar mandinya seperti itu, Sania tidak perduli, ia pun lagi-lagi justru pura-pura meminta tolong.
"Tolong.! Tolong.! Jangan mas Erik.! Jangan lakukan ini sama Sania.! Jangan mas Erik.! Jangan.! Mas Erik udah punya Dinda, Sania enggak mau mas.! Sania enggak mau.!" Teriak Sania dengan suara yang sangat kencang, sehingga Dinda dan semua orang yang ada di dalam rumah tersebut pun terbangun dan langsung melangkah menuju kamarnya.
"Tok.! Tok.! Tok.! Kak Sania, kak Sania kenapa.? Ada apa kak Sania.? Buka pintunya kak Sania.!" Teriak Dinda panik, sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut.
Mendengar Dinda mengetuk-ngetuk pintu kamarnya seperti itu, Sania pun tersenyum.
"Bagus.! Semuanya berjalan dengan lancar." Kata Sania dalam hati sambil terus tersenyum karena rencana jahatnya itu berjalan dengan mulus.
"Ya udah deh.! Lebih baik sekarang gw buka pintu kamar mandinya, terus gw teriak-teriak lagi pura-pura minta tolong." Kata Sania lagi dalam hati sambil buru-buru membuka pintu kamar mandinya.
"Sania.! Kamu ini apa-apa,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong, karena tiba-tiba Sania langsung memeluknya dengan begitu erat.
"Dinda.! Tolongin kak Sania Dinda.! Jangan mas Erik.! Jangan lakukan ini.! Sania enggak mau mas." Teriak Sania lagi-lagi meminta tolong agar Dinda masuk kedalam kamarnya.
"Lepasin.! Kamu itu apa-apan sih.?" Teriak Erik dengan raut wajah yang sangat marah, sambil mendorong tubuh Sania dengan kuat, sehingga ia dan Sania pun sama-sama terjatuh tepat di atas ranjang.
"Aw.! Mas Erik sakit.? Jangan mas Erik.! Jang,,,,,," Seketika terikan Sania terpotong.
"Mas Erik.?" Kata Dinda yang baru saja masuk kedalam kamar Sania, kaget dan tak percaya dengan apa yang sedang mereka berdua lakukan di dalam kamar tersebut.
"Enggak, enggak mungkin.! Ini enggak mungkin, ini semua enggak mungkin.!" Kata Dinda lagi, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, karena ia masih benar-benar tak percaya dengan apa yang ia lihat sekarang ini.
__ADS_1