
MASIH DI RUMAH DEVANO.
Waktu menunjukkan pukul 07:00 Malam.
Terlihat Devano dan Diki yang sedang berdiri di depan rumahnya, sambil menunggu taksi online yang Diki pesen untuk mengantarkannya pulang.
"Oh iya Dik, tapi ngomong-ngomong loh cocok juga sih sama Renata. Lagian Renata juga baik lagi Dik orangnya." Ucap Devano serius, sepertinya ia ingin menjodohkannya dengan Renata, ia tidak tau kalau ternyata cowok yang Renata cintai adalah dirinya.
"Aduh Deeev, loh itu ngomong apa sih.? Gw itu enggak kenal sama Renata, gw itu cuma kenal sepintas doang sama dia, dan itu juga rusuh.! Masa udah dibilang cocok aja, dan lagian gw juga enggak ada perasaan apa-apa sih sama dia." Ucap Diki serius kalau ia memang tidak mempunyai perasaan apa-apa kepadanya.
"Kenapa emang, Anita.?" Ucap Devano sedikit nyolot.
"Loh kok jadi ke Anita sih Dev." Ucap Diki sedikit kesel, karena ia tau betul kalau Devano paling tidak suka jika dirinya berhubungan dengannya.
"Ya lagian dari sejak kita sekolah, loh itu susah banget tau enggak sih move on dari itu cewek.! Padahal kan loh juga udah tau sindiri dia cuma mempermainkan loh doang, dia bisanya cuma memberi loh harapan palsu tau enggak.? Asal loh lagi deket sama cewek lain aja, dia ikutan deketin loh.! Giliran loh udah enggak deket sama siapa-siapa dia cuek lagi sama loh.! Apa coba yang bisa loh harapin dari cewek kayak gitu." Ucap Devano mencoba untuk menasehatinya, kalau Anita cewek pujian hatinya dari sejak ia masih sekolah hanya mempermainkannya saja dan itu sebabnya Devano tidak suka dengannya.
ANITA.
Anita adalah tetangga Diki sekaligus teman dari Siska adiknya, dari sejak kecil ia memang suka main ke rumahnya, dan Anita adalah cewek matre yang terlahir dari keluarga biasa saja sama seperti dirinya, namun ia gengsi jika memiliki kekasih yang biasa-biasa saja dan tidak kaya, itu sebabnya dari dulu ia tidak mau menerima cinta Diki dan hanya memberikannya harapan palsu meskipun ia memiliki perasaan kepadanya, namun jika ada perempuan lain yang sedang dekat dengannya, ia tidak terima dan langsung ikut mendekatinya, karena yang ia mau Diki hanya tergila-gila kepadanya saja. namun ia bebas dekat dengan cowok mana saja yang ia mau.
"Aduuuh, udah lah Dev.! Gw lagi males banget bahas masalah kayak ginian." Ucap Diki, ia berbicara seperti itu karena sebenarnya ia pun sangat tau kalau Anita hanyalah mempermainkannya saja, namun entah mengapa ia tidak bisa move on darinya.
__ADS_1
"Oooh ya udah kalau gitu.!" Ucap Devano.
"Eh tapi gw enggak bohong loh Dik, loh itu cocok banget sumpah deh sama Renata, dan gw juga yakin banget suatu saat nanti pasti loh bisa suka sama dia." Ucap Devano dengan sangat yakin, karena sepertinya ia tetap akan menjodohkannya dengan Renata, meskipun Diki tidak mencintainya, karena ia berharap Diki bisa move on dari Anita, cewek matre yang hanya bisa mempermainkannya saja.
"Loh itu ngomong apa sih Dev.? Enggak, gw itu enggak cocok sama dia, dan sampai kapanpun gw enggak bakalan suka sama itu cewek." Ucap Diki dengan percaya dirinya.
"Yakin loh.?" Ucap Devano sambil tersenyum.
"Yakin gw Dev, loh enggak percaya emang sama gw.? Sahabat loh sendiri loh.!" Ucap Diki.
"Ya udah kalau gitu, gimana kalau kita taruhan.! Kalau sampai suatu saat nanti omongan gw ini sampai terbukti bener, pokoknya loh harus beliin gw mobil.! Dan sebaliknya, kalau sampai omongan gw ini salah, gw yang akan beliin loh mobil, gimana.?" Ucap Devano menantangnya.
"Eh Dev, tapi ngomong-ngomong taksi gw udah datang tuh.! Gw cabut dulu yah.?" Ucapnya lagi sambil menatap kearah taksi yang ia pesan, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah masuk menuju taksi tersebut.
"Ya udah hati-hati loh.! Ingat.! Gw pasti yang akan memenangkan taruhan itu.!" Teriak Devano sambil tertawa menatap kearahnya.
"Gilaaaa, makin kesini loh itu makin ganteng aja sih Dev.? Bodoh banget sih gw dulu selingkuh dari loh.! Dan gw malah lebih pilih temen loh yang brengsek itu dari pada loh.!" Ucap seorang perempuan dari dalam mobil yang dari tadi ternyata sedang memperhatikannya ngobrol dengan Diki.
"Pokoknya secepatnya gw harus bisa dapatin loh kembali Dev, dan secepatnya juga gw harus bisa bikin Alana istri loh itu GILA." Ucapnya lagi, sepertinya ia adalah dalang dibalik pelaku teror Alana.
__ADS_1
"Iya, secepatnya gw harus bisa bikin Alana istri loh itu gil,,,,,,,," Seketika ucapan perempuan tersebut terpotong, karena tiba-tiba ponselnya bergetar ada telepon masuk.
"Aduuuuh siapa sih yang nelepon.?" Ucap perempuan tersebut sambil buru-buru mengambil ponsel tersebut dan mengeceknya.
"Marcell.?" Ucapnya lagi, kemudian ia pun langsung buru-buru mengangkat telepon tersebut.
"Iya Cell, ada kabar bagus apa hari ini.?" Ucapnya via telepon.
"Apa.? Ada orang yang berani ngikutin loh.!" Ucapnya lagi kaget.
"Ya udah, ya udah.! Sekarang juga loh kasih tau gw, ciri-ciri orang itu kayak gimana.?" Ucapnya penasaran.
"Iya kenapa.? Oh loh punya fotonya. Ya udah kalau loh punya fotonya, sekarang juga loh kirim foto orang itu ke gw.! Gw penasaran sebenarnya siapa sih orang yang udah berani-beraninya ngikutin loh.!" Ucapnya lagi penuh emosi.
Mendengar ucapan perempuan tersebut yang tak lain adalah bos nya, ia perempuan tersebut adalah bos Marcell, yang tak lain adalah dalang dibalik kasus peneroran Alana, Marcell pun langsung buru-buru mengirimkan foto tersebut yang ia dapatkan waktu berada di dalam mobil Renata yang tak lain adalah kakaknya, karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata waktu Renata berdebat dengan Diki, diam-diam Marcell memphotonya.
"Apa.! Diki.?" Ucap perempuan tersebut kaget dan tak percaya sambil menatap foto Diki yang baru saja Marcell kirimkan untuknya.
"Ini bener-bener gawat.! Bagaimana kalau sampai Diki tau kalau ternyata gw yang nyuruh Marcell untuk neror Alana.? Gw yakin dia pasti akan kasih tau Devano, dan Devano pasti akan marah besar sama gw." Ucapnya lagi dalam hati panik dan ketakutan.
"Enggak, ini enggak bisa dibiarin.! Gw harus cepat-cepat ancam Marcell dan anak buahnya untuk tutup mulut.! Jangan sampai Marcell atau anak buahnya kasih tau Diki kalau gw dalang dibalik semuanya." Ucapnya lagi dalam hati.
__ADS_1