DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 35


__ADS_3

"I, i, iya kak.! Kalau enggak salah kalung itu punya Alana kak.? Yang sempat ilang 10 tahun lalu di taman." Kata Siska mencoba untuk menyakinkan Devano lagi.


"S, s, siska itu inget betul kalau kalung Alana itu kayak gini kak.?? Kalau kakak enggak percaya, coba deh sekarang kakak buka.!! Di dalam kalung ini itu, ada foto Alana waktu dia masih kecil, sama Almarhum mamah Alana kak.??" Kata Siska mencoba untuk meyakinkan Devano, seyakin-yakinnya kalau kalung tersebut memang milik Alana.


Mendengar kata-kata dari Siska, Devano hanya bisa terdiam, dalam benaknya berkata.


"Apa.?!! J, j, jadi,,, foto gadis kecil yang ada didalam kalung ini itu, foto Alana sama Almarhum mamahnya, dan bukanlah foto Laras sama Almarhum mamah Laras.?? Apa mungkin semua yang di ucapkan Siska itu ben,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.


"Kak Devanooo, kak Devano kenapa diem aja sih kak.?!!" Kata Siska sedikit kesal melihat Devano terdiam seperti itu, kemudian dengan segera ia pun langsung merebut kalung tersebut dari tangannya.


"Coba sini kalungnya.! Bar Siska aja yang buk,,,,,,," Seketika Siska pun langsung terdiam sambil melototkan matanya, kemudian ia pun langsung tersenyum melihat foto siapa yang ada di dalam kalung tersebut.


"Tuh kak beneraan kak.?! Kalung ini itu punya Alana kak.?!! Foto yang ada di dalam kalung ini itu bener-bener foto Alana sama Almarhum mamahnya kak.?!!" Kata Siska tergesa-gesa, sambil terus tersenyum karena senang melihat foto di dalam kalung tersebut benar adalah foto Alana dan Almarhum mamahnya, yang artinya kalung kesayangan Alana sahabatnya yang sempat ilang 10 tahun lalu itu, sudah di temukan kembali.


"Waaahhh.!!! Gw yakin pasti Alana seneng banget deh denger kabar ini.??" Kata Siska sambil terus tersenyum.


"Kak Raka, kak Raka.!! Lihat deh.!! Kalung kesayangan Alana udah ketemu kak.?!! Foto yang ada di dalam kalung ini itu, beneran foto Alana sama Almarhum tante Endang kak.?!!" Kata Siska tergesa-gesa sambil menunjukkan foto di dalam kalung tersebut kepada Diki kakaknya, yang dari tadi memang sedang berdiri tepat di hadapannya.


"Yang bener kamu dek.?!! Mana dek, man,,,,,,," Seketika ucapan Diki pun terpotong.


"Waaah bener dek.!! Kalung ini kalung Alana, foto yang ada didalam kalung ini itu bener-bener foto Alana sama Tante Endang Sis.??" Kata Diki yang juga tergesa-gesa sambil tersenyum, karena ia pun sangat senang, akhirnya kalung kesayangan Alana yang hilang 10 tahun lalu sudah di temukan kembali.


"Apa.?!!! J, j, jadi, foto gadis kecil yang ada didalam kalung ini.?? Foto Alana sama foto Almarhum mamahnya.??" Kata Devano gugup, karena ia masih belum percaya dengan semua ucapan Siska dan Diki itu.


"Iya Dev, foto yang ada didalam kalung ini itu.?? Foto Alana sama tante Endang, Almarhum mamah Alana Dev." Kata Diki mencoba untuk meyakinkan Devano kembali.


"Iya kak Devano, beneran kak Devano.?!! Foto yang ada di dalam kalung ini itu, bener-bener foto Alana sama Tante Endang almarhum mamah Alana kak Devano." Kata Siska, lagi-lagi ia mencoba untuk meyakinkan Devano kalau semua ucapannya itu memang benar adanya.


"K, k, kalian serius.?? B, b, bukanya foto yang ada di dalam kalung ini itu, foto Laras sama Almarhum mamahnya yah.??" Kata Devano masih belum percaya dengan ucapan Diki dan juga Siska itu.


"M, m, maksud kak Devano.??" Kata Siska gugup dan bingung mendengar ucapan dari Devano itu.


"Tau loh Dev.! Maksud loh itu apa sih.??" Kata Diki yang juga bingung mendengar ucapan dari Devano.


Melihat Diki dan Siska kebingungan seperti itu, dengan segera Devano pun langsung menceritakan semuanya, tentang awal mula ia bisa bertemu dengan gadis kecil yang ia tolong yang tak lain adalah Alana, dan bagaimana ia bisa mendapatkan kalung liontin tersebut, hingga akhirnya ia pun bisa bertemu dan pacaran dengan Laras.


"A, a, apa.?!!! J, j, jadi,,, kakak ini bener-bener ada.?? Dan selama ini, Alana itu enggak lagi ngehalu.??" Kata Siska gugup, karena sekarang ini ia benar-benar kaget, ternyata apa yang semua di ceritakan oleh Alana tentang kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya yang sudah Alana anggap sebagai cinta sejatinya itu benar-benar ada, karena selama ini ai percaya tidak percaya mendengar cerita Alana itu.


"M, m, maksud kamu Sis.??" Kata Devano gugup dan bingung mendengar ucapan dari Siska itu.


Melihat Devano kebingungan seperti itu, dengan segera Siska pun langsung menceritakan semuanya, seperti apa yang pernah Alana ceritakan kepada dirinya, tentang bagaimana pertama kali Alana bertemu dengan kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya yang tak lain adalah Devano, dan tentang bagaimana ia bisa kehilangan kalung liontin kesayangannya itu, hingga akhirnya ia menganggap kalau kakak-kakak yang pernah menolongnya itu adalah cinta sejatinya.


"Apa.?!!! B, b, berarti,,, gadis kecil yang dulu pernah gw tolong itu Alana.?? I, i, istri gw sendiri.?? Jadi selama ini, Laras sama Tante Rika itu bohongin gw.??" Kata Devano kaget dan tak percaya, dengan raut wajah yang sangat marah, karena sekarang ini ia benar-benar kesal kepada Laras dan juga Ibu Rika yang dengan beraninya sudah membohonginya.


"Gw enggak bisa tinggal diam.!!! Gw bener-bener enggak bisa tinggal diam.!!! Sekarang juga gw harus ke rumah Laras, gw harus kasih pelajaran kepada mereka berdua.!!" Kata Devano dengan suara tinggi dan penuh emosi, sambil buru-buru mencoba untuk melangkah keluar dari rumah Diki, namun belum sempat ia melangkah tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.


"Dev.!! Loh mau kemana Dev.?!! Loh ini harus sabar.!! Lebih baik sekarang loh disini tungguin Alana, Alana itu lagi sakit Dev.?? Alana itu butuh loh.?!!!" Teriak Diki, ia mencoba untuk mencegah Devano agar mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Laras, karena ia tau betul sifat Devano sahabatnya itu seperti apa, ia takut kalau sampai Devano sahabatnya itu berbuat kasar kepada Laras dan juga ibu Rika yang tak lain adalah keluarga Alana istrinya sendiri.


"T, t, tapi Dik.! Gw ini bener-bener enggak bisa tinggal diam seperti ini.?!! Gw ini harus kasih pelajaran sama mereka berdua.!!!" Kata Devano lagi masih penuh dengan emosi, kemudian ia pun langsung buru-buru mencoba untuk melangkah kembali keluar dari rumah Diki, namun sayang, belum juga sempat ia melangkah, lagi-lagi langkahnya harus terhenti.


"Kak Devano, kak Devano harus nurut sama kak Diki kak.!! Laras sama Tante Rika itu keluarga Alana, jadi kalau sekarang kak Devano kesana untuk kasih pelajaran sama mereka berdua, Alana pasti akan marah kak.?? Meskipun Siska tau mereka berdua itu sering nyakitin Alana, dan mereka berdua juga selalu berbuat kasar sama Alana, tapi biar bagaimana pun mereka berdua itu masaih keluarga Alana kak.?? Dan Siska juga tau betul, kalau Alana itu sangat menyayangi mereka berdua kak." Kata Siska mencoba untuk memberi tahu Devano, tenang apa yang akan terjadi kepada dirinya, kalau sampai benar sekarang ini Devano memberi pelajaran kepada Laras dan juga Ibu Rika yang tak lain adalah keluarga Alana istri dari Devano sendiri, yang pastinya Alana akan marah besar kepada Devano suaminya itu, karena sejahat-jahatnya Laras dan ibu Rika, Siska itu tau betul, kalau Alana itu sangat menyayangi mereka berdua.


"A, a, apa tadi kamu bilang.?!! Laras sama Tante Rika sering nyakitin Alana, dan sering berbuat kasar sama dia.??" Kata Devano gugup dan tak percaya mendengar ucapan dari Siska, kalau gadis kecil pujaan hatinya yang selama ini ia cari-cari dan ia sayangi, sering disakiti dan dikasari oleh saudara dan ibu tirinya itu


Melihat Devano sekaget itu, dengan segera Siska pun mencoba untuk menceritakan semuanya, tentang bagaimana perlakuan jahat dan kasar Laras dan juga Ibu Rika kepada Alana, dari sejak Alana masih kecil, dari sejak ibu Rika menikah dengan pak Adi yang tak lain adalah ayah dari Alana.


"Apa.?!! Laras sama Tante Rika sekasar itu sama Alana.?? Dan bahkan saat kejadian dulu saat Alana di kejar-kejar para preman, itu semua adalah ulah Laras dan Tante Rika.??" Kata Devano semakin kaget dan tak percaya, mengapa bisa ada orang sejahat Laras dan juga Ibu Rika.


"Iya kak.! Sebenarnya Alana sudah tau semua itu, tapi mereka berdua mengancam Alana kak.! Mereka berdua mengancam Alana agar Alana tidak menceritakan semua kejadian itu kepada Om Ad,,,,,,,," Seketika ucapan Siska terpotong.


"Maaf pak, bu.! Ibu Alananya sudah selesai di periksa, dan sepertinya sebentar lagi juga ibu Alana akan sad,,,,,,," Seketika ucapan Dokter tersebut terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Devano lari dan masuk ke dalam kamar Siska untuk menghampiri Alana yang masih terbaring itu, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Hiks,, hiks,, maafin kakak yah sayang.?? Hiks,, hiks,, selama ini kakak bener-bener bodoh.!!! Hiks,, hiks,, bisa-bisanya kakak enggak mengenali kamu, hiks,, hiks,, gadis kecil yang dulu sudah pernah menyelamatkan hidup kakak.?? Hiks,, hiks,, Kakak malah percaya sama Laras dan selalu nyakitin hati kamu.?? Hiks,, hiks,, kakak ini benar-benar bodoh.!!! Hiks,, hiks,, kakak ini memang bodoh.!! Hiks,, hiks,, kakak minta maaf yah sayaaaang.?? Hiks,, hiks,, kakak benar-benar minta maaf.?? Hiks,, hiks,, dan kakak juga janji sama kamu sayang.?? Hiks,, hiks,, mulai hari ini dan seterusnya,,, hiks,, hiks,, tidak akan pernah ada satu orang pun yang akan berani menyakiti kamu sayang.?? Hiks,, hiks,, kakak janji sayang.?? Hiks,, hiks,, kakak janji.!! Hiks,, hiks,, kakak akan selalu jaga kamu sayang.?? Hiks,, hiks,, semampu dan sebisa kakak."



Kata Devano sambil menangis dengan raut wajah yang sangat sedih, karena sekarang ini ia benar-benar sangat menyesal sudah percaya dengan Laras dan selalu menyakiti hati Alana, gadis kecil yang dulu pernah menolongnya itu yang tak lain adalah istrinya sendiri, dan sepertinya ia pun sudah berjanji kepada dirinya sendiri, kalau ia akan selalu menjaga Alana istrinya itu, sebisa dan semampunya.


"Kaaak,,, Alana kangen sama kakaaaak.?? Mas Devano jahat kaaaak, mas Devano jahaaat.??" Kata Alana lagi-lagi mengingo, dengan suara yang terdengar sangat pelan dan lirih.


"Hiks,, hiks,, iya sayang, hiks,, hiks,, iya.!! Hiks,, hiks,, ini kakak sayang,, hiks,, hiks,, ini kakak.??? Hiks,, hiks,, iya sayang mas Devano jahat.!!! Hiks,, hiks,, mas Devano jahat sayang.?? Hiks,, hiks,, mas Devano minta maaf yah sayang, hiks,, hiks,, yaaahh.??" Kata Devano tergesa-gesa sambil terus menangis dan memeluk tubuh Alana dengan begitu eratnya.


"Kaaak, kakak dimana kak.?? Alana pengin ketemu sama kak,,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong, perlahan ia pun membukaan matanya karena sepertinya sekarang ini ia sudah mulai tersadar.


"A, A, Alana.?!!! Kamu udah sadar sayang.?? Kamu udah sadar.??" Kata Devano dengan suara tinggi dan tergesa-gesa, karena saking senangnya melihat keadaan Alana seperti itu.


"M, m, mas Devanooo.??" Kata Alana gugup dan kaget, dengan keadaan yang masih sangat lemas dan tak berdaya.


"Iya sayang.!!! Ini mas sayang, ini mas.??" Kata Devano tergesa-gesa, sambil tersenyum menatap wajah cantik Alana yang sudah tersadar itu.


"E, e, enggak mas.!! Jangan.!! Alana enggak mau mas.!!! A, A, Alana enggak mau.!!" Kata Alana gugup dan ketekunan melihat Devano, kemudian dengan keadaan yang masih sangat lemas dan tak berdaya seperti itu, ia pun langsung mencoba untuk memaksakan diri bangun dan keluar dari kamar Siska, karena saking takut dan bencinya kepada Devano.


"Alana.!!! Kamu mau kemana Alana.?? Jangan tinggalin mas Alana.!! Jangan tinggalin mas.!! Mas minta maaf Alana, mas benar-benar minta maaf.!!" Teriak Devano sambil buru-buru menyusul Alana keluar dari kamar Siska.


"Alana, kamu kemana Alana.?? Kamu mau keman,,,,,,," Seketika teriakan Siska terpotong.


"Diki.!! Alana mana Dik.?? Alana mana.??" Teriak Devano dengan suara yang sangat tinggi, sambil menggoyang-goyangkan pundak Diki dengan sangat kuat, karena sekarang ini ia benar-benar sangat panik dengan keadaan Alana, dan sepertinya sekarang ini, ia pun sangat takut kehilangan Alana istrinya itu yang tak lain adalah gadis kecil pujaan hatinya yang dulu sempat merubah hidupnya menjadi lebih baik, seperti sekarang ini.


"Sabar Dev.!!! Sabar.!! Udah lebih baik sekarang kamu biarin Alana pergi, kamu jangan kejar dia Dev.!! Sekarang ini Alana lagi butuh ketenangan Dev, Alana itu lagi butuh ketenangan.!!!" Teriak Diki mencoba untuk menasehati Devano, tentang keadaan Alana yang sekarang ini seperti sangat takut dan benci kepada Devano suaminya itu.


"T, t, tapi Dik.! Keadaan Alana sekarang ini itu benar-benar sangat lem,,,,,," Seketika teriakan Devano terhenti.


"Udah kak, udah.!!! Benar kata kak Diki, lebih baik sekarang kak Devano diam disini.!! Sepertinya sekarang ini Alana memang lagi butuh ketenangan kak.?? Alana lagi butuh ketenangan." Kata Siska serius, ia pun mencoba untuk menasehati Devano yang sekarang ini sedang panik itu.


Mendengar nasehat dari Siska dan Diki, Devano hanya terdiam.


Satu jam kemudian,,,,,


DI TAMAN.


Terlihat Alana yang dari tadi sedang berdiri sambil terus menangis dan teriak-teriak memanggil-manggil kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya yang tak lain adalah Devano.

__ADS_1


"Hiks,, hiks,, kaaak.!!! Hiks,, hiks,, sekarang Kaka dimanaaa.?? Hiks,, hiks,,, Alana kangen sama kakaaak, hiks,,, hiks,, Alana sayang sama kakaak, hiks,, hiks,, sekarang kakak dimana kaaaaak.?!!!" Teriak Alana dengan suara yang sangat kencang sambil terus menangis, karena sekarang ini ia benar-benar sangat kangen dan ingin bertemu lagi dengan kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya itu yang tak lain adalah Devano.


"Hiks,, hiks,, kakak kesini kaaak.?!! Hiks,, hiks,, mas Devano jahat sama Alana kaaak.?? Hiks,, hiks,, tolongin Alana lagi kaaak.!!! Hiks,, hiks,,, sekarang Alana ada di taman hiks,, hiks,,, di tempat pertama kali kita bertemuuu.!! Hiks,, hiks,,, Alana pengin ketemu lagi sama kakaaaak.?? Hiks,,, hiks,,, Alana kangen kak sama kakaaak, hiks,, hiks,, Alana kangen sama kak,,,,,,,," Seketika teriakan Alana itu terhenti.


"Sama, kakak juga kangen sama kamu.??" Kata Devano yang sedang berdiri tepat dibelakangnya sambil tersenyum, karena ternyata dari tadi ia memang sudah berada di taman tersebut dan mendengarkan semua terikan Alana itu, karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata tadi itu ia langsung mengikuti kemana langkah kaki Alana itu pergi, ia tidak mau mengikuti nasihat dari Diki dan juga Siska yang menyuruhnya untuk tetap diam melihat Alana pergi dengan keadaan seperti itu.


"Hiks,,, hiks,, m, m, mas Devanooo.??" Kata Alana gugup dan kaget, melihat Devano yang ternyata sedang berdiri tepat di belakangnya.


"Iya, ini mas.! Mas juga kangen sama kamu, mas juga sayang sama kamu.??" Kata Devano sambil terus tersenyum, kemudian ia pun langsung menghampiri Alana, dan berdiri tepat dihadapannya.


"Hiks,, hiks,, mas mau ngapain kesini.?? Hiks,, hiks,, Alana udah enggak mau lagi hiks,, hiks,, ketemu sama mas.?? Hiks,, hiks,, Alana benci hiks,, hiks,, sama mas.?? Hiks,,, hiks,,, lebih baik sekarang, hiks,, hiks,, mas pergi.!!"



Kata Alana sambil membelakangi Devano dan terus menangis dengan raut wajah yang sangat sedih, ia berbicara seperti itu karena sekarang ini ia benar-benar sangat benci kepada Devano suaminya itu, yang dengan beraninya sudah menikmati habis seluruh tubuhnya secara paksa, dan sepertinya sekarang ini ia pun sudah tidak mau lagi bertemu dengannya.


Mendengar kata-kata dari Alana, alih-alih pergi menjauh darinya, Devano malah justru tersenyum, kemudian dengan segera ia pun langsung memeluknya dari belakang dengan begitu eratnya.


"Eeeemmm kakak juga kangen sama adik kecil yang dulu pernah kakak tolong ini.?? Dan kakak juga sayang banget sama adik kecil yang dulu pernah kakak gendong ini.??" Kata Devano sambil terus tersenyum dan terus memeluknya dengan begitu erat.


Mendengar kata-kata dari Devano, Alana yang sekarang ini masih terus di peluk olehnya pun, seketika langsung menengok kebelakang tepat didepan wajahnya.


"M, m, maksud maaaas.??" Kata Alana gugup, karena ia benar-benar kaget mendengar Devano yang tiba-tiba berbicara seperti itu, kemudian dengan segera ia pun mencoba untuk melepaskan pelukan Devano itu dari tubuhnya.


"Eeeeemmmm sssssstttt.!! Enggak mau sayaaaang.?? Kakak enggak mau lepasin lagi pelukan ini." Bisik Devano tepat ditelinga Alana, sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Alana istrinya itu dari belakang, kemudian dengan segera ia pun langsung mengeluarkan kalung liontin milik gadis kecil yang dulu pernah ia tolong, yang tak lain adalah milik Alana, dari saku celananya.


"Kamu lihat ini sayaaaang, hah.??" Bisik Devano lagi tepat di telinganya, sambil menunjukkan kalung liontin tersebut kepada Alana.


"K, k, kalung ini.??" Kata Alana gugup dan gemetaran, sambil menatap kearah kalung tersebut, kemudian dengan segera ia pun langsung melepaskan pelukan Devano itu dari tubuhnya.


"K, k, kalung ini,, k, k, kalung ini kenapa bisa ada di mas.?? Mas dapat dari mana kalung ini mas.?? Jawab mas.!! Jawab.!!!" Teriak Alana gugup, karena sekarang ini ia benar-benar sangat kaget melihat kalung liontin miliknya, yang sudah hilang 10 tahun lalu, bisa berada di tangan Devano suaminya itu.


Melihat Alana gugup seperti itu, lagi-lagi Devano malah justru tersenyum.


"M, m, mas kenapa senyum mas.?? Jawab mas.!! Jawab.!!! Mas bisa dapat kalung ini dari man,,,,,,,," Seketika teriakan Alana itu terpotong.


"Kamu inget sama kakak-kakak ini.??" Kata Devano pelan, sambil menunjukkan foto-fotonya saat ia masih remaja, kepada Alana satu-persatu dari ponselnya.



"Terus ini.??"



Kata Devano lagi, sambil menggeser layar ponselnya dan menunjukkan foto-fotonya itu kepada Alana.


"Dan ini,,,"



Kata Devano sambil tersenyum dan menunjukkan foto terkahirnya itu dari ponselnya.


Melihat Devano menunjukkan foto kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya, seketika Alana pun langsung terdiam dan syok.


Melihat Alana menangis seperti itu, seketika Devano pun langsung ikut menangis, kemudian ia pun langsung memeluk tubuh Alana kembali dengan begitu eratnya.


"Hiks,, hiks,, laki-laki yang ada foto ini, hiks,,, hiks,, mas sayaaang.?? Hiks,, hiks,, laki-laki yang ada di foto ini, hiks,, hiks,,, mas.??" Kata Devano sambil terus menangis dan terus memeluk tubuh Alana itu dengan begitu eratnya.


"M, m, maksud mas.??" Kata Alana gugup dan bingung mendengar ucapan dari Devano itu.


Melihat Alana gugup dan kebingungan seperti itu, Devano pun langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Alana, kemudian ia pun langsung menceritakan semuanya, dari pertama ia bertemu dengannya, sampai akhirnya ia harus melanjutkan sekolah dan kuliahnya di Korea, kemudian pulang lagi ke Indonesia, hingga akhirnya ia pun di tipu oleh Laras dan Ibu Rika yang tak lain adalah mamah dan kakak tiri dari Alana istrinya itu.


"Apa.?!!! J, j, jadi,,,, mas ini bener-bener kakak-kakak yang ada di foto ini.?? Kakak-kakak yang dulu pernah nolongin Alana.?? Dan selama ini,,, mas itu di bohongi sama kak Laras.??" Kata Alana gugup dengan suara tinggi, karena sekarang ini ia benar-benar sangat kaget dan syok mendengar cerita dari Devano itu, bahkan saking kaget dan syoknya ia pun sampai gemetaran.


Melihat Alana kaget dan syok sampai gemetaran seperti itu, Devano pun tersenyum.


"Iya sayang, laki-laki di foto ini adalah mas.?? Mas ini yang dulu pernah nolongin kamu dari kejaran para preman, dan mas ini yang dulu pernah gendong kamu saat kamu di kejar-kejar para preman itu, dan mas ini juga yang dulu pernah bawa kamu ketaman ini sayang.??" Kata Devano mencoba untuk meyakinkan Alana seyakin-yakinnya, kalau semua ceritanya itu memang benar.


"Sebenarnya mas udah lama nyari-nyari kamu sayang.?? Sampai akhirnya,,, mas itu ketemu sama Laras, tapi dengan beraninya Laras malah mengaku-ngaku jadi kamu sayang.??" Kata Devano mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada Alana.


Mendengar ucapan Devano yang sangat meyakinkan, seketika Alana pun langsung mengencangkan suara tangisannya.


"Hiks,, hiks,, hiks,,," Suara Alana menangis karena saking bahagianya, akhirnya ia bisa bertemu dengan kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya, kemudian dengan segera ia pun langsung memeluk tubuh Devano dengan begitu eratnya.


"Hiks,, hiks,,, Alana sayang sama hiks,, hiks,, kakaaak.?? Hiks,, hiks,, Alana kangen sama hiks,, hiks kakaaak.?? Hiks,, hiks,,, kakak enggak boleh pergi lagi dari hiks,,, hiks,,, Alanaaa.?!! Hiks,, hiks,, kakak enggak boleh lagi hiks,, hiks,, pacaran sama hiks,, hiks,, kak Laraaas.??" Kata Alana sambil terus menangis di pelukan Devano, sepertinya sekarang ini ia sudah berani melarang Devano agar tidak pacaran lagi dengan Laras kakak tirinya itu.


Mendengar kata-kata dari Alana yang seperti sangat menyayangi dirinya, Devano pun lagi-lagi tersenyum, kemudian ia pun mencoba untuk melepaskan pelukan Alana dari tubuhnya.


"Iya sayang, kakak janji.!! Kakak enggak akan pernah ninggalin kamu lagi, dan kakak juga janji, kakak enggak akan pernah pacaran lagi sama kak Laras, karena apa.?? Karena kakak juga sayang banget sama adik kecil kakak ini.?? Dan kakak juga kangeeeeen banget sama adik kecil kakak ini yang sekarang udah gede nih, hah.??" Kata Devano pelan, sambil tersenyum dan mencubit manja hidung Alana, karena sepertinya sekarang ini ia sedang ingin manja-manjaan dengan Alana istrinya itu.


Melihat perlakuan Devano yang seperti sedang memanjakan dirinya, Alana yang sedang menangis pun langsung tersenyum.


"Hiks,, hiks,, maaaas.?? Hiks,, hiks,, Alana sayang sama Kakaaak.??" Kata Alana manja sambil menatap dalam wajah Devano.


"Iya,," Kata Devano pelan sambil tersenyum, dan mengusap air mata Alana yang menetes di pipinya itu.


"Oh iya.! Tadi kamu ngomong apa sayang.?? Kamu sayang sama siapa.??" Kata Devano sambil tersenyum, ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan agar Alana tidak sedih lagi dan tidak terus menangis.


"Hiks,, hiks,, Alana sayang sama kakak.!"



Kata Alana sambil tersenyum manja menatap wajah tampan Devano suaminya itu.


"Sayang sama kakak, apa sayang sama mas niiiih, hah.??" Kata Devano sambil tersenyum menggodanya.


"Alana sayangnya sama kakak, Alana enggak sayang sama mas.??" Kata Alana mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Devano suaminya itu.


"Kok bisa sih sayang sama kakak, tapi enggak sayang sama mas, hah.??" Kata Devano pelan, sambil terus tersenyum menatap wajah cantik Alana.


"Iya bisa.! Soalnya kakak itu baik, dulu kakak udah pernah nolongin Alana." Kata Alana manja, sambil mencoba untuk menjelaskan kepada Devano.

__ADS_1


"Oohh gituuu.?? Tapi ko sama mas enggak sayang sihhh, emang mas enggak baiiiik, hah.??" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana.


"Enggak.! Mas enggak baik, mas jahat.! Soalnya semalam mas udah perkosa Alana." Kata Alana cemberut sambil memasang raut wajah sedih.


"Eeemmmm mas minta maaf yaaah, hah.??" Kata Devano pelan sambil tersenyum dan terus mengusap-usap rambut Alana istrinya itu.


Mendengar kata-kata dari Devano, Alana pun langsung tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Iya mas, Alana maafin.! Tapi mas enggak boleh kayak gitu lagi.!! Sakiiiit.??" Kata Alana merengek manja.


"Iyaaa,,," Kata Devano pelan, sambil tersenyum.


"Oh iya.! Tadi kata adik kecil kakak, adik kecil Kaka yang sekarang udah gede ini, sayang kan sama Kaka.??" Kata Devano serius sambil tersenyum.


"Iya.! Adik kecil kakak yang udah gede ini, sayang sama Kaka." Kata Alana dengan sangat manjanya, ia mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Devano suaminya itu.


"Eeemmmm bener niiiiih.?? Adik kecil kakak yang sekarang udah gede ini, sayang sama Kakaaak.??" Kata Devano pelan sambil tersenyum menatap wajah cantik Alana.


"Iya bener.! Adik kecil kakak yang sekarang udah gede ini, sayang sama kakak.??" Kata Alana sambil tersenyum, ia mencoba untuk menjawab lagi pertanyaan dari Devano itu.


Mendengar jawaban dari Alana, Devano pun langsung tersenyum.


"Ya udah.! Kalau benar adik kecil kakak ini sayang sama kakak, kakaknya minta cium dong.!"



Kata Devano sambil tersenyum dan memandangi bibir seksi Alana istrinya itu.


"Iiiiiiihhhhh maaaas.?? Tapi kan Alana enggak bisaaa,,, Alana kan belum pernah cium mas duluaaan." Kata Alana dengan sangat polosnya.


Melihat tingkah laku istrinya yang sangat polos, Devano pun langsung tersenyum.


"Heeemmm polos banget sih kamu.?? Ternyata benar dugaan gw, ciuman pertama kamu itu kemaren, saat kita berdua sedang berada di dalam mobil." Kata Devano dalam hati sambil terus tersenyum memandangi wajah cantik Alana istrinya itu.


"Ya udah.! Kalau kamu enggak bisa, biar mas yang ajarin yaaah.??" Kata Devano pelan sambil terus tersenyum.


"Sekarang, kamu pegang pipi mas.!!" Kata Devano lagi, ia mencoba untuk mengajari Alana.


Mendengar kata-kata dari Devano, Alana pun langsung menurutinya.


"Kayak gini mas.??" Kata Alana dengan polosnya, sambil memegang pipi Devano dengan sangat lembut.


"Iya, sekarang coba kamu cium mas.!!"



Kata Devano pelan sambil menatap dalam wajah cantik Alana istrinya itu.


"T, t, tapi,, A, A, Alana enggak bisa maaas.?? Kata Alana gugup dan sedikit ketakutan.


"Pasti bisaaa.! Entar sama mas di ajarin, ayo cepetan sekarang cium mas.!" Kata Devano, lagi-lagi ia meminta Alana untuk menciumnya.


"Y, y, ya udah.! Alana coba yah mas.?? T, t, ,tapi beneraaan,, entar sama mas diajariiiin.!!!" Kata Alana lagi-lagi merengek manja, perlahan ia pun mencoba untuk mencium Devano suaminya itu.



Hingga akhirnya ia pun berhasil dan bisa menciumnya.



Setelah puas dan capek menciumi Devano, perlahan Alana pun mencoba untuk menyudahinya,


"Kok sebentar banget siiiih, hah.??" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana.


"Alana nya capeeek.??" Kata Alana dengan sangat manjanya.


"Oooohhh capeeek.??" Kata Devano pelan.


"Iya capeeek." Kata Alana merengek manja.


Mendengar kata-kata dari Alana , Devano pun langsung tersenyum.


"Ya udah enggak papa.!! Kalau gituuu,, lebih baik sekarang kita pulang yuk.?!! Udah sore nih." Kata Devano, ia mencoba mengajak Alana istrinya itu untuk pulang.


"Kita mau langsung pulang aja mas.?? Emang mau ngapain.?? Alana masih pengin di taman maaas.??" Kata Alana sambil merengek, karena sekarang ini ia memang benar-benar masih sangat betah berada di taman tersebut.


"Mau ngapain sayaaang.?? Kan kakak-kakaknya juga udah ketemu.?? Jadi sekaraaang, giliran adik kecilnya ini nih.!! Yang harus puasin kakaknya dikamar." Kata Devano sambil tersenyum menggodanya, sepertinya permainannya dengan Alana semalam itu sudah berhasil membuatnya ketagihan.


"M, m, maksud mas.??" Kata Alana gugup dan sedikit ketakutan, karena ia sudah tau apa maksud dari ucapan Devano itu.


"Masa kamu enggak tau sih sayaaang.?? Yang kayak semalaaam.??" Kata Devano sambil tersenyum, ia mencoba untuk menjelaskan kepada Alana istrinya itu.


"E, e, enggak mau mas.!! Jangan dulu.!! Ini Alana masih sakiiiiit.??" Kata Alana ketakutan, sambil memegang bagian bawahnya yang sekarang ini memang masih terasa sangat sakit dan perih.


"Eeemmmm masih sakit yah sayang, hah.??" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana.


"Iya masih sakiiiiit.??" Kata Alana dengan begitu manjanya.


"Tapi enak kaaan, hah.??" Kata Devano sambil tersenyum, lagi-lagi ia mencoba untuk menggoda Alana istrinya itu.


"Iiiiiiihhhhh maaas.??" Kata Alana dengan raut wajah merah karena malu, karena sebenarnya semalam ia pun merasakan nikmat yang luar biasa dari permainan Devano suaminya itu, hanya saja permainan Devano suaminya itu terlalu kasar dan kuat, sehingga ia pun terus menangis dan tak henti-hentinya menjerit-jerit karena kesakitan.


"Kenapaaaa, enak kan.??" Kata Devano sambil tersenyum dan terus menggodanya, karena sebenarnya ia pun tau, kalau semalam Alana istrinya, sangat menikmati permainannya itu, dari desahan manja Alana, hingga rintihan Alana yang terdengar sangat kenikmatan, ia pun sebenarnya sudah tau semuanya.


"Iiiiiiihhhhh mas apaan sih.??" Kata Alana dengan raut wajah yang semakin marah lagi.


Melihat raut wajah Alana seperti itu, Devano pun tersenyum.


"Iya, iya, enggaaak.!!" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Alana.


"Ya udah yuks pulang.?!! Udah sore nih.!!" Kata Devano sambil menggandeng tangan Alana, kemudian ia dan Alana pun langsung melangkah menuju mobilnya untuk pulang.

__ADS_1


######


Jangan lupa Like, coment dan vote.!!!


__ADS_2