DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 28


__ADS_3

DI KAMAR DINDA


Waktu menunjukan pukul 06:00 Pagi.


Terlihat Dinda yang sudah bangun dari tidurnya dan sedang siap-siap untuk pergi ke kampus, Dinda terlihat sibuk memakai krim kecantikannya sambil bercemin didepan kaca, namun disaat ia sibuk dengan semua itu, tiba-tiba ia terdiam dan terbengong.


"Pak Erik kemana yah.? Kok udah jam segini belum pulang-pulang.?" Kata Dinda dalam hati sedih dan merasa bersalah.


"Apa jangan-jangan, pak Erik kenapa-napa yah di jal,,,,,,,," Seketika Dinda terdiam.


"Ahhh enggak mungkin, kamu lagi mikir apa sih Dinda.?" Kata Dinda lagi mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, kemudian ia pun mencoba untuk memakai krim kecantikan kembali, namun lagi-lagi ia terdiam dan terbengong memikirkan Erik, karena sepertinya sekarang ini ia benar-benar merasa bersalah kepadanya, karena ia sudah membuatnya kecewa dan marah seperti sekarang ini.


Disaat Dinda terdiam memikirkan Erik, tiba-tiba Erik pun datang dan masuk kedalam kamar, akan tetapi Erik masuk ke dalam kamar dengan raut wajah yang masih sangat kecewa dan marah, karena sepertinya penolakan dari Dinda semalam benar-benar membuatnya kecewa.


Melihat raut wajah Erik seperti itu, Dinda hanya terdiam, ia terdiam karena bingung harus berbicara apa kepadanya, karena disatu sisi memang ia lah yang salah belum bisa menjalani kewajibannya sebagai seorang istri, namun disisi lain ia memang benar-benar belum siap merelakan keperawanannya kepada Erik suaminya.


Melihat Dinda terdiam seperti itu, Erik pun ikut terdiam, sepatah katapun tak terucap dari bibirnya, bahkan melihat Dinda berada di depan mata pun ia seperti tidak melihat siapa-siapa, jika biasanya ia perhatian kepadanya, kali ini ia justru acuh dan tidak perduli sama sekali kepada Dinda istrinya.


Melihat Erik acuh dan tidak perduli kepada dirinya, entah mengapa Dinda merasa sedih, ia merasa kehilangan perhatian dan kasih sayang darinya, sepertinya tanpa ia sadari perhatian dan kasih sayang Erik sangat berarti untuknya.


Di dalam kamar mereka berdua hanya terdiam dan membisu, tak terdengar sepatah katapun dari bibir mereka, mereka seperti orang yang belum kenal satu sama lain.


Mereka terdiam dan membisu didalam kamar cukup lama, hingga akhirnya mereka berdua pun turun kebawah menuju mobil Erik, karena seperti yang kita tau, mereka berdua akan berangkat ke kampus.


Di dalam mobil Erik, mereka berdua pun masih tetap dalam keadaan terdiam dan membisu, jika biasanya Erik yang menggoda Dinda, saat Dinda marah, saat Dinda kesel dan saat Dinda sedih, kali ini Erik diam dan tidak perduli kepadanya sama sekali, ia tetap fokus menyetir mobilnya, tanpa menengok kearah Dinda, tatapannya fokus kedepan kearah jalan, sepertinya sekarang ini ia sengaja ingin mengetes seberapa besar cinta Dinda kepada dirinya, dan seberapa jauh Dinda bisa hidup tanpa kasih sayang darinya, ia melakukan semua itu karena ia ingin membuktikan kepadanya, kalau ia sangat berarti untuknya.

__ADS_1


Merasa Erik berubah kepada dirinya, Dinda pun merasa resah dan tak tenang, ia sangat sedih dengan perubahan sikap Erik itu, namun ia mencoba untuk tenang dan biasa saja, meskipun sesungguhnya hatinya sangat sakit.


Setelah terdiam dan membisu di dalam mobil cukup lama, akhirnya Erik dan Dinda pun sampai di kampus, setelah sampai di kampus mereka berdua pun turun dari mobil, kemudian Erik melangkah menuju ruangannya, sedangkan Dinda terlihat berjalan menghampiri Tika dan Ria di Kantin dengan raut wajah yang sangat sedih.


"Eh Din, loh kenapa.? Loh lagi ada masalah.?" Kata Ria penasaran melihat raut wajah Dinda sahabatnya sedih seperti itu.


"Iya Din, loh kenapa.?" Sambung Tika, yang juga penasaran melihat raut wajah Dinda seperti itu.


Mendengar pertanyaan dari Ria dan Tika, Dinda tidak menjawabnya, ia hanya terdiam dan menyenderkan kepalanya dipundak Ria, kemudian ia pun langsung menangis.


"Hiks,, hiks,, hiks,,,," Suara Dinda menangis, karena ia benar-benar sangat sedih memikirkan sikap Erik yang berubah kepada dirinya.


Melihat Dinda menangis di pundaknya seperti itu, Ria pun langsung memeluknya.


"Din, loh kenapa.? Kok nangis sih.?" Kata Ria ikut sedih melihat keadaan Dinda seperti itu.


"Dinda, loh kenapa sih.? Cerita dong kalau ada apa-apa sama kita.!" Kata Tika panik, karena ia memang benar-benar tidak tau apa sebenarnya penyebab yang membuat Dinda menangis seperti sekarang ini.


"Tau Din, loh kenapa sih sebenarnya, hah.?" Kata Ria yang juga panik.


Melihat Ria dan Tika sepnik itu, Dinda pun mencoba menghentikan tangisannya dan menghapus air matanya.


"Enggak kok, gw papa.! Gw cuma lagi pusing aja, ya udah lebih baik kita ke kelas yuk.! Tuh pak Erik udah lewat." Kata Dinda sambil menatap kearah Erik yang sedang berjalan menuju ruang kelasnya karena pagi ini adalah jam mata kuliahnya, ia terpaksa berbohong kepada Ria dan Tika, karena ia bingung harus curhat dengan mereka dari mana, secara mereka berdua belum ada yang tau soal pernikahannya dengan Erik.


"Ya udah yuk kita ke kelas.?" Kata Dinda lagi, sambil buru-buru melangkah masuk menuju ruang kelasnya.

__ADS_1


Mendengar jawaban dari Dinda, yang tak masuk akal, Ria dan Tika pun sebenarnya tidak percaya, akan tetapi karena waktu sudah siang dan mereka juga melihat Erik yang memang sudah melangkah menuju ruangan kelasnya, mereka pun lebih memilih diam dan langsung melangkah bersama Dinda menuju kelas, karena meraka takut kalau sampai telat, karena kalau sampai telat, mereka sudah pasti akan kena hukum.


DI RUANG KELAS.


Terlihat Dinda, Ria dan Tika yang baru saja duduk di bangku masing-masing untuk menunggu Erik datang, karena tadi mereka jalan cukup cepat sehingga mereka masuk ke dalam kelas lebih dulu dibanding Erik.


Disaat mereka menunggu Erik, akhirnya Erik pun datang dan memasuki ruang kelas mereka.


"Selamat pagi semuanya.?" Kata Erik tegas dan dingin.


Mendengar Erik menyapa, Dinda pun langsung menatap kearahnya sambil tersenyum manis kepada Erik yang juga sedang menatap kearahnya.



Namun alih-alih membalas senyuman Dinda, Erik justru tersenyum sinis.



Kemudian langsung memalingkan wajahnya dari Dinda, bahkan ia pun terlihat sangat benci kepadanya.


Melihat Erik seperti itu kepada dirinya, Dinda pun langsung tertunduk dengan raut wajah yang sangat sedih, apalagi selama di dalam kelas, Erik sama sekali tidak perduli kepadanya, menatap kearahnya pun tidak, Dinda seperti tak terlihat olehnya, ia lebih memilih memberikan pertanyaan kepada murid-muridnya yang lain, sehingga membuat Dinda pun tak tahan dan kali ini ia benar-benar sudah tidak tahan lagi, bahkan ia pun sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.


"Hiks,,, hiks,,, hiks,,," Suara Dinda menangis dengan raut wajah yang sangat sedih, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru menghapus air matanya, karena ia tidak mau kalau sampai Erik dan teman-temannya tau, kalau ia sedang menangisi Erik.


Namun sayang, Erik sudah mengetahuinya terlebih dahulu kalau Dinda menangis, bahkan ia pun melihat semua tingkah lakunya, saat dirinya acuh dan tidak perduli kepadanya, karena sebenarnya ia selalu memperhatikannya disaat Dinda sedang lengah dan tidak melihat kearahnya.

__ADS_1


"Kasihan kamu sampai nangis kayak gitu, maafin saya yah.?" Kata Erik dalam hati sambil menatap kearah Dinda yang masih terus menangis, sepertinya ia tidak tega melihat Dinda menangis seperti itu karenanya.


__ADS_2