
Setelah Erik menyudahi telepon dengan dirinya, Dinda pun langsung terdiam sambil tersenyum.
"Tadi Dinda enggak salah denger kan.? Mas Erik mau kasih Dinda kejutan.? Eeeemmm mas Erik kok sekarang jadi romantis banget siihh sama Dindaaa.? Dinda jadi makin sayang deh sama mas Erik." Kata Dinda dalam hati sambil terus tersenyum.
"Tapi kira-kira, mas Erik mau kasih Dinda kejutan apa yaaah.? Kok Dinda jadi penasaran gini sih.? Ahhhhhh udah lah.! Dari pada Dinda penasaran kaya gini, mendingan Dinda bobo aja.! Siapa tau kan nanti pas Dinda bangun bobo, mas Erik udah pulang bawa kejutan deh untuk Dinda." Kata Dinda lagi dalam hati, kemudian ia pun langsung beranjak untuk tidur.
DI TOKYO JEPANG, DI BANDARA.
Waktu menunjukkan pukul 09:30 malam.
Terlihat Erik yang sedang berjalan di bandara menuju pesawat yang akan ia tumpangi.
Kemudian ia pun langsung naik pesawat tersebut dan terbang menuju Indonesia.
DI INDONESIA.
Waktu menunjukkan pukul 02:00 Pagi.
Terlihat Dinda yang sudah tertidur pulas di dalam kamarnya, namun disaat ia sedang tidur tiba-tiba ia mendengar Arya menggedor-gedor pintu kamarnya DOR.! DOR.! DOR.!
"Dinda, bangun Dinda.! Cepetan bangun.!" Teriak Arya dari balik pintu kamarnya, dengan suara tergesa-gesa dan terdengar sangat panik.
Mendengar Arya membangunkannya seperti itu, Dinda pun langsung bangun dari tidurnya.
__ADS_1
"Iya ini Dinda udah bangun mas Arya, ada apa mas.?" Kata Dinda dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, sambil berjalan menuju pintu kamarnya.
Kemudian ia pun langsung membuka pintu kamar tersebut untuk Arya, namun setelah ia membuka pintu kamar tersebut, ia kaget bukan main melihat raut wajah Arya yang terlihat sangat panik, dengan suara nafas yang terdengar sangat ngos-ngosan.
"Mas Arya, ada apa mas.? Mas Arya kenapa.?" Kata Dinda ikut panik melihat raut wajah Arya seperti itu.
"Din, ayo secepatnya kita ke rumah sakit sekarang Din.! Buruan Din, cepetan.!" Kata Arya dengan suara tinggi sambil menarik tangan Dinda.
"K, k, ke rumah sakit.? Emang mau ngapain mas.? Siapa yang sakit.?" kata Dinda semakin panik dan bingung.
"E, E, Erik Din, Erik.? Erik kecelakaan, tadi dari pihak rumah sakit telepon mas Arya, katanya sekarang Erik ada di rumah sakit.?" Kata Arya tergesa-gesa, ia berbicara seperti itu, karena memang tadi dari pihak rumah sakit menelfonnya untuk memberi tahu kepadanya, kalau pesawat yang di tumpangi Erik mengalami kecelakaan dan sekarang ia sedang dirawat di rumah sakit tersebut.
Mendengar kata-kata dari Arya, Dinda pun langsung kaget dan syok, tubuhnya pun menjadi lemas dan tak berdaya, seketika ia pun langsung menangis.
"Mas Arya juga enggak tau Din, lebih baik sekarang kita ke rumah sakit.! Ayo cepetan.!" Kata Arya tergesa-gesa, sambil menarik tangan Dinda kembali dan mengajaknya keluar menuju mobilnya, kemudian mereka berdua pun langsung buru-buru ke rumah sakit, ia tidak bisa menjawab pertanyaan dari Dinda, karena ia pun masih belum percaya dengan kabar tersebut.
1 jam berlalu,,,,,
DI RUMAH SAKIT.
Terlihat Arya dan Dinda yang baru saja sampai di rumah sakit tersebut, kemudian mereka berdua pun langsung buru-buru melangkah menuju resepsionis.
"Suster, apa bener disini ada pasien bernama Erik Pratama.? Korban dari kecelakaan pesawat 4 jam yang lalu.?" Kata Arya tergesa-gesa dan panik.
"Iya sus, tolong cek sus.!" Kata Dinda yang juga terlihat sangat panik.
__ADS_1
"Nanti yah pak, Bu.? Saya coba cek dulu." Kata suster tersebut, kemudian ia pun langsung buru-buru mengecek data-data tersebut.
"Iya pak, bu, memang benar di sini ada pasien yang bernama Erik Pratama, korban dari kecelakaan pesawat 4 jam yang lal,,,,,,," Belum juga suster tersebut menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.
"Hiks,, hiks,, enggak sus.! Hiks,, hiks,, enggak mungkin mas Erik kecelakaan.! Hiks,, hiks,, enggak mungkin suster.! Hiks,, hiks,, enggak mungkin.!" Kata Dinda dengan suara bergetar karena menangis, sambil menggeleng gelengkan kepalanya karena tidak percaya dan syok mendengar pernyataan dari resepsionis tersebut.
"Iya sus, enggak mungkin sus.! Enggak mungkin Erik kecelakaan.? Kalau memang Erik kecelakaan, sekarang Erik di mana sus.? Sekarang Erik dimana.?" Kata Arya dengan suara yang sangat tinggi karena ia pun tidak percaya mendengar ucapan resepsionis tersebut.
"Maaf yah pak, bu.? Bapak dan ibu yang sabar yah.?" Kata Resepsionis tersebut mencoba untuk menenangkannya.
"Sebenarnyaaa,,, sekarang ini pak Erik sudah dinyatakan meninggal, bahkan sejak di dalam perjalanan menuju rumah sakit pun, pak Erik sudah meninggal." Kata resepsionis lagi sopan.
"Enggak, enggak mungkin sus.? Ini semua enggak mungkin.!" Kata Arya pelan, sambil menggeleng-gelengkkan kepalanya dengan tatapan mata kosong, dan keadaan yang sangat lemas, ia tidak percaya Erik sahabatnya sejak kecil, yang sekarang ini sudah menjadi bagian dari keluarganya dinyatakan telah meninggal.
"Apa.? Hiks,,, hiks,, enggak, hiks,, hiks,, enggak mungkin.! Hiks,, hiks,, mas Erik enggak mungkin meninggal, hiks,, hiks,, mas Erik enggak mungkin meninggal sus.? Hiks,, hiks,, mas Erik enggak mungkin meninggal.!" Teriak Dinda tak percaya sambil menangis histeris, kemudian dengan segera ia pun langsung lari menuju ruang rawat Erik, sambil terus menangis dengan keadaan yang sangat lemas dan tak berdaya bahkan hampir pingsan, apalagi dengan keadaannya yang sekarang ini sedang hamil, namun ia tetap berusaha untuk tetap kuat, hingga akhirnya ia pun sampai di depan ruang rawat Erik.
Sesampainya di depan ruang rawat Erik, perlahan Dinda pun berhenti berlari dan terdiam.
"Hiks,, hiks,, hiks,,," Suara Dinda menangis sambil menatap pintu ruang rawat tersebut, perlahan ia pun mencoba untuk membuka pintunya.
"Hiks,, hiks,, enggak, hiks,, hiks,, enggak mungkin.! Hiks,, hiks,, dia pasti bukan mas Erik.? Hiks,, hiks,, dia pasti bukan mas Erik." Kata Dinda gemeteran, sambil menatap kearah pasien yang sudah terbaring dan hanya terdiam dengan keadaan tubuh yang sudah tertutup rapat oleh selimut, sepertinya pasien tersebut memang benar-benar sudah dinyatakan meninggal, kemudian dengan langkah kaki yang semakin gemetaran ia pun mencoba untuk memberanikan diri menghampiri pasien tersebut, perlahan ia pun mencoba untuk membuka selimut yang menutupi wajahnya
"Apa.? Hiks,, hiks,, enggak, hiks,, hiks,, enggak mungkin.! Hiks,, hiks,, mas Erik.! Hiks,, hiks,, mas Eriiiiiiik.!" Teriak Dinda histeris, karena ia benar-benar kaget dan syok melihat jasad tersebut ternyata memang benar- benar adalah jasad Erik suami tersayangnya, kemudian ia pun langsung memeluk erat tubuhnya.
"Hiks,, hiks,, mas Erik bangun mas Erik.! Hiks,, hiks,, mas Erik banguuuunnn.! Hiks,, hiks,, bangun massss.! Hiks,, hiks,, mas Erik banguuuuuunnn.!" Teriak Dinda sambil terus menangis dan menggoyang-goyangkan tubuhnya agar terbangun.
"Hiks,, hiks,, mas Erik jangan tinggalin Dinda.! Hiks,, hiks,, mas Erik jangan tinggalin Dindaaaa.! Hiks,, hiks,, Dinda enggak akan sanggup mas Erik.? Hiks,, hiks,, Dinda enggak akan sanggup hidup tanpa mas Erik.? Hiks,, hiks,, bangun mas.! Hiks,, hiks,, Banguuuunnn.! Hiks,, hiks,, mas Erik jangan tinggalin Dinda maaaas.? Hiks,, hiks,, bangun maaas.! Hiks,, hiks,, banguuuunnn.! Hiks,, hiks,, kasihan anak kita maaas.? Hiks,, hiks,, anak kita masih butuh mas.? Hiks,, hiks,, Dinda enggak akan sanggup ngurus anak kita hanya sendiri, hiks,, hiks,, Dinda enggak akan sanggup maass.? Hiks,, hiks,, bangun mas Erik, hiks,, hiks,, banguuuunnn.!" Teriak Dinda lagi dengan keadaan yang sudah tidak karuan, sambil terus menangis dan terus menggoyang-goyangkan tubuh Erik dengan sangat kuat agar bangun.
__ADS_1
Sepertinya terjawab lah sudah apa kejutan dari Erik untuk Dinda, disaat Dinda bangun dari tidurnya, kejutan yang belum pernah ia berikan kepadanya sebelumnya dan kejutan yang membuatnya tidak anak pernah bisa tidur dan istirahat dengan tenang karenanya.