DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 47


__ADS_3

DI KAMPUS.


Waktu menunjukkan pukul 11:30 Siang.


Terlihat Tika dan Ria yang sedang asyik ngobrol di kantin, namun tidak terlihat adanya Dinda bersama mereka, karena memang hari ini ia sengaja tidak masuk kuliah, untuk menghindar dan menjauh dari Erik, karena kalau hari ini ia masuk kuliah, ia sangat yakin Erik pasti akan menemui dirinya dan membicarakan masalah rumah tangganya.


Tika dan Ria masih terus ngobrol dengan begitu asyiknya, tertawa-tawa sambil bercanda-canda, namun disaat mereka berdua sedang asyik dengan semuanya, tiba-tiba Ria melihat Erik yang sedang berjalan menghampirinya dan Tika.


"Tik, Tika, lihat deh.! Itu kok pak Erik kaya mau kesini.? Apa pak Erik kesini karena disuruh Dinda yah.? Untuk nyampein ke kita, kalau Dinda enggak bisa masuk kuliah, karena perut Dinda masih sakit.?" Kata Ria penasaran, sambil menunjuk ke arah Erik yang terus berjalan menghampirinya, ia berbicara seperti itu karena ia tidak tau kalau ternyata Dinda sudah keluar meninggalkan rumah Erik.


"Iya yah Ri, pak Erik kayaknya mau kesini deh.! Tapi kayaknya enggak mungkin sih, kalau pak Erik kesini mau ngomong kaya gitu.? Kan loh tau sendiri Dinda merahasiakan penyakitnya dari pak Erik.? Jadi enggak mungkin dong pak Erik nyamperin kita untuk ngomong kaya gitu.?" Kata Tika tak sependapat dengan Ria, kalau Erik menghampiri dirinya dan Ria untuk berbicara seperti itu, karena Tika ingat betul pesan dari Dinda waktu di Rumah sakit kemaren, yaitu jangan sampai Erik tau tentang penyakitnya.


"Bener juga yah loh.? Tapi ngomong-ngomong pak Erik kesini mau ngapain yah.?" Kata Dia semakin penasaran.


"Ya mana gw tau.! Orang gw dari tadi sama l,,,,,,," Belum sempat Tika menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong, karena ia melihat Erik yang berjalan semakin mendekat ke arahnya dan berdiri tepat di hadapannya.


"S, s, siang pak Erik.?" Kata Tika dan Ria gugup dan sopan sambil tersenyum.


Mendengar Tika dan Ria menyapa dirinya, Erik hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Oh iya.! Ria, Tika, Dinda dimana yah.? Kok tumben dia enggak bareng kalian.?" Kata Erik heran karena melihat mereka ngobrol tidak bersamanya, karena ia sangat tau biasanya Dinda selalu bersama-sama mereka, namun sepertinya ia tidak tau kalau ternyata sekarang ini Dinda bolos kuliah.


"Dinda kemana.? Kan Dinda enggak masuk kuliah, emang pak Erik enggak tau.?" Kata Tika semakin bingung mendengar pertanyaan dari Erik, karena ia sangat tau kalau Erik dan Dinda itu satu rumah.


"Iya, bukanya pak Erik sama Dinda tinggal satu rumah yah, kok pak Erik enggak tau.?" Sambung Ria yang juga bingung mendengar pertanyaan dari Erik.


Mendengar jawaban dari mereka, Erik pun langsung terdiam.


"Jadi hari ini Dinda enggak masuk kuliah.?" Kata Erik dalam hati bingung mendengar jawaban dari mereka.


"Oh, hari ini Dinda enggak masuk kuliah.? Ya udah kalau gitu, terimakasih yah infonya.?"



Kata Erik, kemudian ia pun langsung melangkah pergi meninggalkan mereka.


Setelah Erik pergi, dengan segera Tika pun langsung mencoba untuk menelpon Dinda, karena ia penasaran mengapa tiba-tiba Erik menanyakan hal seperti itu kepada dirinya dan juga Ria.


DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH PAK IRSYAD.

__ADS_1


Terlihat Dinda yang sedang duduk diruang tamu dengan raut wajah yang sangat pusing.



Karena memikirkan nasib hidupnya sekarang ini, ia duduk di ruang tamu, karena sekarang ini ia sedang menunggu Dokter Irvan yang tak lain adalah Dokter pribadinya, karena ia dan Dokter Irvan sudah janjian untuk bertemu di rumahnya, untuk membicarakan masalah penyakitnya.


Namun disaat ia sedang menunggu Dokter Irvan, tiba-tiba hp nya bergetar karena ada telepon dari Tika, Drttttt,,, Drttttt,,, Drttttt,,,


Melihat ada telpon dari Tika, dengan segera ia pun langsung menjawabnya.


Obrolan Tika dan Dinda via telepon.


"Hallo Din, loh sekarang di mana sih.? Kok tadi pak Erik nyariin loh di kampus.?" Kata Tika tergesa-gesa dan panik dengan keberadaan Dinda sekarang, karena ia takut kalau sampai Dinda kenapa-napa.


"Aku sekarang tinggal di rumah mamah lagi tik, soalnya, aku enggak mau kalau mas Erik sampai terbebani dengan penyakit aku ini." Kata Dinda pelan dan terdengar sangat sedih.


"Maksudnya.? Loh sekarang udah enggak tinggal di rumah pak Erik lagi, karena loh enggak mau ngebebanin pak Erik dengan penyakit loh.? Loh udah gila kali yah Din.? Pak Erik kan suami loh.! Ya udah kewajiban pak Erik lah ngurusin loh.! Lagian pak Erik juga enggak bakalan terbebani dengan penyakit loh kok.! Pak Erik tuh sayang banget Din sama loh.? Tadi juga di kampus pak Erik nyari-nyari loh tuh.!" Kata Tika kaget mendengar jawaban dari Dinda yang menurutnya tidak masuk akal.


"Iya, aku juga tau mas Erik sayang banget sama aku.! Dan itu sebabnya, aku memilih tinggal di rumah mamah, karena aku mau menghindar dari mas Erik, aku yakin dengan cara ini.? Sedikit demi sedikit mas Erik bisa ngelupain aku.! Karena aku,,,, aku mau cerai dari mas Erik Tik, aku enggak mau mas Erik mempertahankan pernikahannya bersama aku, Karena loh tau sendiri kan Tik.? Mas Erik itu pengin banget mempunyai keturunan, dan loh juga kan tau kalau aku itu enggak akan bisa kasih mas Erik itu keturunan, jadi untuk apa aku mempertahankan semua ini.?" Kata Dinda sedih, ia mencoba menjelaskan kepada Tika alasan mengapa dirinya pergi dan keluar dari Rumah Erik.


"Apa.! Loh mau cerai dari pak Erik.? Loh itu bodoh banget yah Din.? Bodoh banget tau enggak.? Loh itu masih ada kemungkinan untuk ham,,,,,,,,,," Belum juga Tika menyelsaikan ucapannya, namun sudah terpotong.


"Oh iya dok, silahkan duduk.!" Kata Dinda sopan sambil tersenyum.


"Iya terimakasih." Kata dokter Irvan sopan, kemudian ia pun langsung duduk dihadapan Dinda, dokter Irvan datang ke rumah Dinda, dengan penampilan yang tidak seperti dokter-dokter pada umumnya, ia tidak memakai baju seragam, karena seperti yang kita tau, ia adalah dokter yang sangat santai.


"Oh iya, gimana.? Setelah berobat kemaren masih sering sakit-sakitan enggak perutnya.?" Kata Dokter Irvan serius, ia mencoba untuk menanyakan apakah ada keluhan atau tidak setelah Dinda berobat kemarin kepadanya.


"Masih suka sakit sih dok, tapi sekarang sakitnya yang sebelah sini dok.?" Kata Dinda serius, kalau perutnya memang masih sering terasa sakit dan sekarang sakitnya sering berpindah-pindah tempat, itu sebabnya ia meminta ketemuan dengan Dokter Irvan untuk konsultasi dengannya mengenai penyakitnya itu.


Mendengar keluhan dari Dinda, dokter Irvan pun langsung berdiri kemudian duduk disampingnya untuk memeriksa keadaan perutnya.


"Oh masih sering sakit-sakitan.? Terus sekarang pindah di sebelah mana sakitnya.?" Kata Dokter Irvan serius, sambil menatap kearah perut Dinda yang sedang ia pegang.


"Yang sebelah sini Dok.!" Kata Dinda sambil memegang perutnya yang sakit.


Melihat Dinda menunjukkan disebelah mana perutnya yang sakit, dokter Irvan pun langsung mencoba untuk memeriksanya.


"Ohhh yang sebelah sini.? Maaf yah, saya coba periksa dulu." Kata dokter Irvan sopan, kemudian ia pun langsung memegang perut Dinda yang sakit untuk memeriksanya.

__ADS_1


"Yang ini bukan.?" Kata Dokter Irvan lagi, sambil terus memegang dan menekan-nekan perut Dinda yang sakit.


"Aww.! Iya yang sebelah sini.? Aduh, aduh.! Sakit banget.? Nekannya pelan-pel,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Erik yang sedang berdiri di depan pintu, sambil menatap kearahnya dan Dokter Irvan yang sedang memegang-megang perutnya, dengan tatapan tak percaya dan raut wajah yang sangat marah karena cemburu.



Erik datang ke rumah Dinda, karena ia ingin berbicara dan mencoba untuk merayunya, agar Dinda mau pulang kembali ke rumahnya, karena seperti yang kita tau, Erik benar-benar tidak mau bercerai dengannya, namun saat ia masuk kedalam rumah tersebut, ia kaget bukan main melihat Dinda istrinya, sedang bersama laki-laki lain dan sedang dipegang-pegang perutnya.


"M, m, mas Erik ?" Kata Dinda gugup dan kaget, sambil terus menatap kearahnya.


"Oooh, jadi kaya gini kelakuan kamu di belakang mas.?" Kata Erik dengan raut wajah yang masih sangat marah, sambil berjalan menghampirinya dan juga dokter Irvan.


"Mas ngerti sekarang, jadi karena dia.! Karena dia, kenapa kamu tiba-tiba meminta cerai dari mas.? Enggak nyangka yah mas sama kamu.! Ternyata dari awal mas enggak pernah salah menilai kamu, kamu itu memang benar-benar perempuan murahan.!" Kata Erik dengan suara yang sangat tinggi, sambil menunjuk-nunjuk kearah Dokter Irvan yang sekarang ini masih memegang-megang perutnya, ia berbicara seperti itu karena memang ia benar-benar tidak tau kalau ternyata dokter Irvan adalah dokter pribadinya, karena memang Dinda belum pernah mengenalkan sebelumnya kepada dirinya.


Melihat Erik marah-marah seperti itu kepada dirinya, dengan segera dokter Irvan pun langsung melepaskan pegangannya dari perut Dinda, kemudian ia pun mencoba untuk menjelaskan semuanya.


"M, m, maksudnya apa ini.? Kamu itu salah paham, saya ini buk,,,,,," Seketika ucapan dokter Irvan terpotong.


"Iya, dia emang pacar Dinda.! Dan memang benar, Dinda mau cerai dari mas Erik karena Dia.! Asal mas Erik tau yah.? Dinda itu enggak pernah cinta sama mas Erik.! Dan secepatnya Dinda mau cerai dari mas Erik.!" Teriak Dinda penuh emosi, sepertinya sekarang ini ia sedang memanfaatkan keadaan, dengan mengakui kalau dokter Irvan adalah alasannya mengapa ia ingin cerai dari Erik, karena ia sangat yakin, dengan alasan tersebut Erik pasti akan menyerah dan menyetujui permintaan cerai darinya.


Mendengar teriakkan dari Dinda, Erik pun tersenyum sinis.


"Oke, oke kalau memang ini mau kamu.! Secepatnya mas akan mengurus surat perceraian kita.!" Kata Erik dengan suara yang sangat tinggi dan raut wajah yang sangat marah, kemudian ia pun langsung melangkah pergi keluar dari rumah Dinda, meninggalkan Dinda dan dokter Irvan hanya berdua di rumah tersebut.


Melihat Erik melangkah pergi meninggalkan dirinya, seketika Dinda pun langsung menangis.


"Hiks,,, hiks,,, hiks,,,," Suara Dinda menangis, dengan raut wajah yang sangat sedih, karena sebenarnya ia benar-benar tidak ikhlas jika harus bercerai dengan Erik suaminya itu, orang yang paling ia sayangi.


"Dinda, kamu kenapa kok nangis.? Tadi dia itu siapa.? Apa dia suami kamu.?" Kata Dokter Irvan penasaran dan bingung, mengapa tiba-tiba Dinda menangis setelah bertengkar dengan laki-laki tersebut yang tak lain adalah Erik, karena Dokter Irvan pun sama sekali belum mengenalnya.


"Iya, dia itu suami saya dok.! Saya itu sebenarnya sayaaaaaang, banget sama dia.! Dan tadi itu saya minta maaf.! Saya terpaksa ngomong kalau dokter Irvan pacar saya, karena saya mau cerai dari dia dok.?" Kata Dinda dengan suara bergetar karena masih terus menangis dan raut wajah yang masih sangat sedih, ia mencoba untuk menjelaskan mengapa tadi ia mengaku kalau dokter Irvan adalah kekasihnya.


"Kalau kamu memang cinta sama suami kamu, kenapa kamu mau cerai dari suami kamu.?" Kata Dokter Irvan bingung mendengar jawaban dari Dinda.


Melihat Dokter Irvan yang kebingungan seperti itu, Dinda pun langsung menjelaskan semua kepadanya, kalau ia ingin bercerai dari Erik karena terpaksa, karena ia tidak ingin mengecewakannya dengan penyakit yang ia derita sekarang ini.


"Kamu itu enggak boleh gegabah minta cerai dari suami kamu, karena kamu ini masih ada kemungkinan untuk hamil.! Jadi kamu enggak usah takut.! Lebih baik, sekarang kamu perbaiki lagi hubungan kamu dengan suami kamu itu.! Kamu ngomong baik-baik, kamu jujur tentang penyakit kamu ini sama suami kamu.! Saya yakin suami kamu itu pasti akan mengerti." Kata Dokter Irvan serius, ia mencoba untuk menasehatinya.


Mendengar masukan dari Dokter Irvan, Dinda yang memang sangat keras kepala pun tidak mau menurutinya, ia malah meminta tolong kepadanya untuk terus pura-pura jadi pacarnya didepan Erik.

__ADS_1


__ADS_2