
DI RUMAH PAK ERIK.
Waktu menunjukkan pukul 11:30 siang.
Terlihat Dinda yang sedang berjalan keluar menuju pak Ridwan supir pribadinya dengan penampilannya yang sangat cantik dan Dinda pun terlihat masih sangat awet muda, mungkin Dinda seperti itu karena ia selalu menjaga dan merawat tubuhnya agar selalu terlihat cantik dan seksi, namun penampilannya sekarang ini tidak lah seseksi dulu.
"Pak Ridwan, tolong antarain saya ke rumah Rasya yah.???" Perintah Dinda sopan, Rasya adalah salah satu teman Devano.
"Baik Bu.!!!" Jawab pak Ridwan sambil buru-buru melangkah menuju mobilnya dan diikuti oleh Dinda dari belakang, namun belum juga Dinda sampai ke mobil, tiba-tiba langkah Dinda terhenti, karena Dinda melihat pak Erik turun dari mobilnya.
"Loh, itu kok kayak mas Erik.??? Kok mas Erik udah pulang sih,,, emangnya sekarang hari apa.???" Kata Dinda dalam hati panik, sambil terus menatap kearah pak Erik yang sedang berjalan masuk kedalam rumah.
Melihat pak Erik masuk ke dalam rumah dengan segera Dinda pun langsung menghampirinya.
"Mas Erik,,, kok mas udah pulang sih.??? Emang sekarang hari apa.??? Bukanya semalam mas telepon ke Dinda, katanya tiga hari lagi mas baru pulang yah.???" Kata Dinda panik dan bingung mengapa tiba-tiba pak Erik sudah pulang dari Singapore, karena tanpa sepengetahuan dari kita, semalam pak Erik telepon kepada Dinda, memberi tahu kepadanya kalau ia pulang ke Indonesia sekitar tiga harian lagi.
"Kenapa emaaang, hah.??? Kamu enggak seneng nih lihat mas pulang.???" Kata pak Erik sambil tersenyum menggoda Dinda.
"Y, y, ya bukan gitu mas,,,, Di, Di, Dinda cuma kaget aja, lihat mas pagi-pagi udah ada di rumah, soalnya kan semalam mas ngomong, katanya mas pulangnya tiga harian lagi.??" Kata Dinda gugup.
"Apa jangan-jangan.!!! Semalam pas mas telepon Dinda, mas udah ada di pesawat lagi.???" Kata Dinda lagi.
Melihat istrinya kebingungan seperti itu, pak Erik pun tersenyum, kemudian langsung merangkul pundaknya.
"Iya sayaaaang,,, semalam pas mas telepon istri mas yang cantik ini,,,, sebenarnya mas udah ada di bandara mau pulang, mas sengaja enggak kasih tau dulu ke istri mas yang cantik ini,,,,, karena mas pengin kasih kejutan, gimanaaa,,, mas berhasil kan kasih istri mas yang cantik ini kejutan.???" Kata pak Erik sambil terus merangkul pundak Dinda, kemudian berjalan masuk ke dalam rumah.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda hanya terdiam dan panik, dalam benaknya berkata.
"Kalau kayak gini sih, bukan berahasil-berhasil lagi kasih Dinda kejutan.??? Aduuuuuhhhh,, gimana ni,,,,,,,,," Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong oleh pak Erik.
"Sayang,,, sayang kenapa kok dari tadi mas ngomong diem aja.???" Kata pak Erik bingung karena melihat Dinda yang dari tadi hanya diam.
"Oohhh e, e, enggaaaak, enggak papa.!!! Di, Di, Dinda cuma terkejut aja lihat mas pagi-pagi udah ada di rumah, yah udah sekarang kita masuk yuks.???" Kata Dinda gugup sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah.
Mendengar kata-kata dari Dinda, pak Erik pun tersenyum kemudian langsung menyenderkan kepala Dinda kepundaknya.
"Eeeeemmmm,, istri mas yang cantik ini terkejut yah, lihat mas pagi-pagi udah ada di rumah, hah.???" Kata pak Erik pelan, sambil mengusap-usap rambut Dinda.
"Iya Dinda terkejuuuut.???" Kata Dinda manja, ia memang selalu manja kepada pak Erik meskipun sekarang Devano sudah besar dan ia pun sudah tidak semuda dulu lagi.
Melihat istrinya yang sangat manja, pak Erik pun tersenyum sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah, hingga akhirnya pak Erik dan Dinda pun sampai di dalam, setelah sampai di dalam rumah, pak Erik heran karena melihat keadaan rumah sepi.
"Sayang kok ini rumah sepi,, emang Devano kemana sayang.???" Kata pak Erik bingung.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda pun kembali panik.
"Aduuuuh mati nih, Dinda harus jawab apa sama mas Erik .??? Gimana kalau mas Erik sampai tau, kalau ternyata Devano belum pulang dari semalam dan nginep di rumah Rasya.??? Bisa-bisa,, Devano kena marah lagi sama mas Erik.???" Kata Dinda dalam hati, ternyata Dinda dari tadi panik melihat pak Erik pulang secara tiba-tiba, karena Dinda sedang menyembunyikan sesuatu kepada pak Erik, kalau Devano ternyata belum juga pulang dari semalam, dan itu sebabnya Dinda meminta supir untuk mengantarkannya ke kerumah Rasya, karena Dinda mau menjemput Devano.
__ADS_1
Melihat Dinda yang lagi-lagi terdiam, pak Erik pun semakin bingung.
"Sayang,,, kamu enggak papa kan.??? Perasaan dari tadi mas ngomong, kamu diam aja.??? Istri mas yang cantik ini lagi mikirin apa sih sebenarnyaaa, hah.??? Devano enggak bikin ulah lagi kan selama mas enggak ada.???" Kata pak Erik khawatir, pak Erik berbicara seperti itu karena pak Erik sangat tau kalau Devano itu selalu bikin ulah.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda pun langsung bangun dari bengongnya.
"Oooh e, e, enggak mas, Devano enggak bikin ulah lagi kok,,, malahan tadi Devano berangkat sekolah bareng sama Raka." Kata Dinda gugup, Dinda berbohong kepada pak Erik karena Dinda tidak mau kalau sampai Devano kena marah pak Erik, karena Dinda sangat menyayangi dan memanjakannya.
"Ohhh Devano berangkat sekolah sayang.??? Eeemmmm tumben banget itu anak rajin, biasanya kalau papahnya enggak ada, Dia suka bolos terus.??" Kata pak Erik heran karena tidak biasanya Devano berangkat sekolah disaat dirinya tidak ada di rumah.
"Iya mas,,, Devano tadi berangkat sekolah." Kata Dinda mencoba untuk menyakinkan pak Erik.
"Oooohhh bagus deh kalau gitu, ada kemajuan Dia." Kata pak Erik sambil tersenyum.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda pun sedikit lega karena akhirnya pak Erik percaya dengan kata-katanya, kemudian Dinda pun langsung mengalihkan pembicaraannya.
"Oh iya mas,,,, sekarang pasti mas laper kan.??? Dinda siapin mas sarapan dulu yah..???" Kata Dinda sambil tersenyum, kemudian mencoba untuk melangkah menuju ruang makan, namun belum sempat Dinda melangkah, langkah Dinda terhenti, karena tiba-tiba pak Erik menarik tangannya dengan kuat, sehingga Dinda pun terjatuh di pelukannya.
Melihat Dinda terjatuh di pelukannya, pak Erik pun langsung menatap wajah Dinda dengan tatapan yang sangat dalam.
"Yang lapar bukan mas sayang.???" Kata pak Erik pelan, sambil membelai lembut wajah cantik Dinda, sepertinya pak Erik sedang memancing-mancing nafsu Dinda.
"Yang laper bukan maaaasss,,, terus siapa dong.???" Kata Dinda bingung.
Melihat Dinda bingung, pak Erik pun tersenyum.
"Coba tangan istri mas yang cantik ini sekarang mana ???" Kata pak Erik serius.
"Sekaraaang,,, tangan istri mas yang halus ini, biar mas genggam yah.???" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum.
"Kok mas genggam tangan Dinda,,, emang yang lapar siapa sih mas.???" Kata Dinda semakin bingung.
"Yang lapar itu,,,,, ini sayang.???" Kata pak Erik pelan, sambil tersenyum dan mengelus-elus kan tangan Dinda tepat di juniornya yang sudah berdiri dan menegang.
"Iiiiiiihhhhh mas Erik apaan sih.??? Udah tua juga, malu tuh entar ada bi Ijah ngelihatin.???" Kata Dinda dengan raut wajah merah karena malu.
"Tadi kamu bilang apa sayang,,, mas udah tua.??? Eeemmmm mas ini masih muda tau sayang.???" Kata pak Erik sambil tersenyum dan mencubit manja hidung Dinda.
"Iiiiiiihhhhh mas itu udah tua,,, Orang Devano juga udah gede, udah punya pacar lagi.???" Kata Dinda sambil tersenyum, Dinda tau kalau Devano sudah mempunyai pacar, karena Tania sering berkunjung ke rumahnya.
Mendengar kata-kata dari Dinda, pak Erik pun tersenyum kemudian langsung menggodanya.
"Enggak apa-aaapa mas udah tua juga, yang penting goyangan mas masih kuat bikin istri mas yang seksi ini lemes diatas ranjang.???" Bisik pak Erik ditelinga Dinda.
"Iiiiiiihhhhh maaaasss.???" Kata Dinda semakin malu.
"Kenapaaa, hah.??? Istri mas yang cantik ini juga sama kan kayak mas, udah enggak kuat pengin cepet-cepet.???" Kata pak Erik sambil tersenyum, lagi-lagi pak Erik menggoda Dinda, sepertinya pak Erik memang sudah benar-benar tidak kuat dan pengin cepat-cepat bermain-main dengan Dinda diatas ranjang, apalagi sudah hampir satu minggu pak Erik tidak bertemu dengan Dinda, karena pak Erik baru saja menyelesaikan pekerjaannya di Singapore.
"Mas ngomong apa sih,,, Dinda enggak ngerti.???" Kata Dinda pura-pura polos dan tidak tau, sebenarnya Dinda sangat tau apa maksud dari ucapan pak Erik itu, karena sebenarnya Dinda pun sama seperti pak Erik sudah tidak kuat ingin cepat-cepet bermain-main dengannya di atas ranjang.
"Eeeeemmmm,,, beneran nih kamu enggak ngerti sayang.????" Kata pak Erik sambil tersenyum.
__ADS_1
"Beneran Dinda enggak ngerti.???" Kata Dinda manja.
"Ya udaaah, kalau istri mas yang cantik ini enggak ngerti,,, sekaraaaang kita ke kamar yuk, biar istri mas yang cantik ini ngerti.???" Kata pak Erik sambil tersenyum dan membelai lembut wajah cantik Dinda.
"Ke kamar,,, emang mau ngapain mas ngajakin Dinda ke kamar.????" Kata Dinda manja.
Mendengar kata-kata dari Dinda yang lagi-lagi pura-pura tidak tahu dengan maksud ucapannya, pak Erik pun tersenyum, kemudian langsung berbisik tepat di telinga Dinda.
"Kita bobo,,, terus kita bikin Dede untuk Devano sayang.????" Kata pak Erik sambil terus tersenyum menggoda Dinda.
"Eeemmmm maaaasss.???" Kata Dinda sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh pak Erik.
"Kenapaaaa, hah.??? Kata kamu Devano kan udah gede, kalau Devano udah gedeeee,, berarti Devano harus dikasih Dede doooong,, istri mas yang cantik ini mau kan, bikin Dede sama mas untuk Devano.???" Kata pak Erik sambil tersenyum.
"Dinda mauuuu,, bikin Dede untuk Devanooo.???" Kata Dinda manja.
"Ya udah, sekarang kita ke kamar yuk.?!!! Kita bobo, terus kita bikin Dede untuk Devano.??? Mas udah enggak kuat niiiih, ngelihat tubuh istri mas yang seksi ini, ini mas jadi bangun terus dari tadi." Kata pak Erik sambil tersenyum dan menunjuk ke junior nya yang dari tadi sudah menegang dan berdiri, kemudian pak Erik pun merangkul pundak Dinda dan mencoba melangkah menuju kamarnya, namun belum juga pak Erik dan Dinda sampai di kamar, tiba-tiba langkah mereka terhenti, karena mereka mendengar suara langkah kaki yang seperti sedang berlari dan mendengar teriakkan dari Raka.
"Tante gawat tante.!!! Devano Tante, Devan,,,,,," Seketika ucapan Raka terhenti, karena Raka kaget bukan main melihat pak Erik yang ternyata sudah pulang dari Singapore dan sedang berdiri di samping Dinda tantenya.
Mendengar suara teriakan dari Raka, pak Erik pun langsung menghampirinya.
"Raka ada apa dengan Devano.??? Dia kenapa,, Dia bikin ulah apa lagi.???" Kata pak Erik dengan suara tinggi dan raut wajah yang sangat marah karena pak Erik sudah bisa menebak apa yang akan Raka sampaikan kepada Dinda.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Raka hanya bisa terdiam dengan raut wajah yang sangat ketakutan.
"Kenapa kamu diam, cepet kasih tau om.!!!! Ada apa dengan Devano, Dia bikin ulah apa lagi.????" Kata pak Erik lagi dengan suara tinggi.
"I, i, itu om,,,, De, De, Devano,,,,,,,," Kata Raka gugup, sambil menatap kearah Dinda yang sedang berdiri di belakang pak Erik, yang terlihat sangat panik sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena Dinda tidak mau kalau sampai Raka melanjutkan ucapannya tentang Devano kepada pak Erik, karena Dinda sangat-sangat takut kalau sampai Devano putra kesayangannya itu kena marah pak Erik, karena Dinda pun sama seperti pak Erik, ia sudah bisa menebak apa yang akan Raka sampaikan kepada dirinya tentang Devano.
"Iya om tau Devano, Devano kenapa.??? Devano bikin ulah apa lagi disekolah.???" Kata pak Erik.
"I, i, itu om,,,,, De, De, Devano,,, De, De, Devano, Devano itu om,," Kata Raka sambil terus menatap kearah Dinda yang masih terus menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah ketakutan.
Melihat Raka menatap kearah Dinda, seketika pak Erik pun langsung ikut menatap kearah Dinda dengan tatapan yang sangat tajam.
"Sayang,,, kamu nyembunyiin sesuatu lagi tentang Devano sama mas.???" Kata pak Erik, pak Erik berbicara seperti itu karena pak Erik tau kalau Dinda sering menyembunyikan sesuatu tentang Devano kepada dirinya.
"E, e, enggak kok mas,,, Di, Di, Dinda enggak nyembunyiin sesuatu tentang Devano ke mas." Kata Dinda gugup dan ketakutan.
Mendengar kata-kata dari Dinda, pak Erik hanya terdiam, kemudian pak Erik pun langsung mencoba bertanya lagi kepada Raka.
"Raka, sekarang juga tolong kasih tau om.!!! Devano kenapa, ada apa dengan Devano.???" Kata pak Erik tegas.
"I, i, itu om,,, De, De, Devano,,, se, se, semalam ikut tawuran om, dan sekarang,, Devano babak belur om di Rumah Rasya." Kata Raka gugup, akhirnya Raka menjawab semua pertanyaan pak Erik
"Apa.!!!! Devano ikut tawuran lagi semalam.??? Bukanya tadi pagi Devano kesekolah bareng kamu.???" Kata pak Erik dengan suara tinggi karena kaget dan pak Erik pun terlihat sangat marah kepada Devano.
"E, e, enggak kok om,,, tadi Raka berangkat sekolah sendiri." Kata Raka.
Mendengar kata-kata dari Raka, Seketika pak Erik pun langsung menatap ke arah Dinda, dengan tatapan yang sangat tajam dan raut wajah yang sangat marah.
__ADS_1
Sedangkan Dinda yang melihat pak Erik menatap kearahnya dengan tatapan seperti itu, Dinda hanya bisa terdiam seketika Dinda pun langsung menundukkan kepalanya, ia sangat takut kepada pak Erik, karena dengan beraninya sudah membohongi pak Erik tentang Devano.