
"K, k, kak Devano.?" Ucap Siska dan Dimas secara bersamaan, ia pun kaget melihat Devano yang tiba-tiba bisa berada didalam rumahnya.
"Ia ini gw, kalian lagi pada kenapa sih.? Kok kelihatannya kaget banget lihat gw.?" Ucap Devano kebingungan karena sepertinya ia tidak mendengar apa yang tadi sempat Diki, Dimas dan Siska obrolkan.
"Dan loh Dik.! Tadi loh ngomong, katanya gw enggak bakalan maafin, emang gw enggak bakalan maafin siapa.?" Ucapnya lagi penasaran.
Mendengar ucapan Devano, Diki tidak menjawabnya, ia masih terus terdiam.
"Kok Devano nanyanya kayak gitu.? Apa mungkin dia enggak denger yang gw obrolin tadi sama Dimas.?" Ucap Diki dalam hati sambil terus terdiam, sehingga Devano pun semakin kebingungan.
"Woy.! Loh kenapa sih.? Dari tadi gw tanya diem aja." Ucap Devano dengan suara tinggi tepat ditelinga Diki.
"Eh, ia kenapa Dev.? T, t, tadi loh ngomong apa.?" Ucap Diki gugup dan terbangun dari bengongnya.
"Yaaaah nih anak.! Makanya kalau gw ngomong dengerin.! Tadi gw nanya, kata loh gw enggak akan pernah maafin, emang gw enggak akan pernah maafin siapa.?" Ucap Devano mencoba untuk mengulangi lagi pertanyaannya.
Mendengar Devano yang lagi-lagi bertanya seperti itu, seketika Dimas pun langsung gemetaran.
"Aduuuh gawat.! Kira-kira bang Diki mau jawab apa yah.? Gimana kalau bang Diki sampai jawab yang sebenarnya, kalau ternyata yang hendak meneror Alana tadi adalah gw. Bisa-bisa habis gw sekarang juga sama kak Devano." Ucap Dimas dalam hati panik dan ketakutan.
"Ooooh i, i, itu Dev. Ituuu, tadi gw lagi ngomong sama Dimas, kalau gw harus nemuin pelaku peneror Alana. Kalau sampai gw enggak nemuin, loh enggak akan pernah maafin gw. Iya kan Dim, Sis.?" Ucap Diki gugup karena ia sedang berbohong, dan ini adalah kali pertama ia membohongi Devano sahabat terbaiknya dan itu pun karena terpaksa demi keselamatan Dimas adiknya.
"I, i, ia kak.! Bener apa yang diomongin bang Diki, kalau kak Devano enggak bakalan maafin bang Diki, kalau sampai bang Diki enggak berhasil nemuin itu peneror." Ucap Siska yang juga gugup, ia pun terpaksa berbohong kepada Devano demi Dimas adiknya.
"Oh itu, tapi ya enggak segitunya juga kali. Masa gw setega itu sih sama Diki, sahabat gw sendiri, sahabat terbaik lagi dari kita masih sekolah, iya enggak Dik.?" Ucap Devano sambil tersenyum kearahnya.
"I, i iya Dev." Ucap Diki yang juga tersenyum, kemudian ia pun langsung terdiam.
"Loh enggak tau aja Dev, kalau pelaku teror Alana adalah Dimas Adik gw sendiri. Kalau sampai loh tau, apa mungkin loh masih mau anggap gw sebagai sahabat terbaik loh.?" Ucapnya lagi dalam hati sedih, sehingga Siska yang sedang berdiri di sampingnya pun tidak tega untuk melihatnya.
"Y, y ya udah bang Diki, kak Devano juga. Kalau gitu Siska sama Dimas masuk ke dalam dulu yah.?" Ucap Siska, kemudian ia pun langsung menggandeng tangan Dimas, dan mengajaknya untuk masuk ke dalam.
"Eehhh Dimas tunggu dulu.!" Ucap Devano mencoba untuk menghentikan langkahnya.
"I, i, ia kak Devano ada apa.?" Ucap Dimas gugup sambil menengok ke belakang ke arahnya.
"Itu tangan kamu kenapa, kok berdarah.?" Ucap Devano sambil menatap kearah luka ditangan Dimas.
"Oh i, i, ini.? I, i, ini itu kak.! T, t, tadi Dimas,,,,,,," Ucap Dimas gugup dan panik sambil menatap kearah Diki abangnya, berharap ia mau membantunya menjawab pertanyaan dari Devano.
"Ooohhh luka itu Dev.! Ituuu, tadi Dimas jatuh dari motor waktu mau berangkat sekolah, terus tadi tangannya enggak sengaja kena potongan besi dipinggir jalan." Ucap Diki, lagi-lagi ia berbohong demi keselamatan Dimas adiknya.
"Ooooh gitu" Ucap Devano percaya.
"I, ,i iya kak. Tadi Dimas jatuh dari motor.." Ucap Dimas lagi-lagi gugup.
"Y, Y, Ya udah yah kak, Dimas mau masuk dulu." Ucapnya lagi sambil melangkah masuk ke dalam, namun belum sempat ia melangkah, lagi-lagi langkahnya terhenti oleh Devano.
"Eh Dimas sebentar.! Tapi itu luka lumayan parah loh, kamu udah berobat belum ke rumah sakit.?" Ucap Devano penuh perhatian.
"Dik, loh udah bawa berobat adik loh belum.?" Ucapnya lagi.
"B, b, belum Dev." Ucap Diki.
"Ya ampun Dik, loh itu gimana sih.? Masa adik loh terluka kayak gini enggak loh bawa berobat, loh itu gimana sih jadi Abang.?" Ucap Devano mencoba untuk menasehatinya.
__ADS_1
"I, i, itu kak, soalnya tadi bang Dikinya sibuk. Jadinya bang Diki enggak sempet bawa Dimas berobat ke rumah sakit." Ucap Dimas mencoba untuk melindungi Diki abangnya.
"Oh ya udah kalau gitu, ini ada sedikit uang buat kamu berobat.! Kamu bisa kan berobat sendiri.?" Ucap Devano sambil memberikan beberapa lembar uang kepada Dimas.
Melihat betapa baiknya Devano kepada Dimas adiknya, lagi-lagi Diki pun terdiam.
"Ya ampun Dev, loh itu dari dulu baik banget sih sama keluarga gw, sama adik-adik gw, apa lagi sama gw. Enggak sepantasnya gw bohongin loh kayak gini Dev." Ucap Diki dalam hati sedih dan merasa bersalah karena sudah berbohong kepada Devano sahabatnya.
"Tapi gw janji Dev, secepatnya gw akan selidiki kasus ini. Gw akan cari tau siapa pelaku yang sebenarnya yang sudah berani meneror Alana, dan gw juga janji, gw akan selidiki Marcell hari ini juga." Ucapnya lagi dalam hati.
DI DEPAN KAMPUS.
Waktu menunjukkan pukul 02:00 Siang.
Terlihat Diki yang sedang duduk di dalam mobil, karena sepertinya ia akan menepati janjinya, ia akan menyelidiki Marcell hari ini juga.
"Aduuuuuh.! Mana sih si Marcell, lama banget keluarnya." Ucap Diki yang dari tadi sedang menunggu Marcell di depan kampus, karena ia berniat untuk mengikutinya dari belakang.
"Ini Marcell beneran kayak gini kan bentuknya.? Tapi kok lama banget sih enggak keluar-keluar orang yang bentuknya kayak gini." Ucapnya lagi sedikit kesal sambil menatap foto Marcell yang baru saja Dimas kirimkan untuknya.
"Eehhh tunggu dulu.! Itu kayaknya Marcell deh." Ucap Diki sambil menatap kearah Marcell yang baru saja keluar dari dalam kampus dengan motor gedenya.
"Oh iya bener itu Marcell, gw harus ikuti dia sekarang."
Ucap Diki lagi sambil buru-buru melajukan mobilnya dan mengikutinya dari belakang.
"Aduuuuuh sial.! Siapa lagi yang berani-beraninya ngikutin gw." Ucap Marcell kesal, sambil menatap kebelakang ke arah mobil Diki.
"Hemmm, kejar gw nih kalau loh bisa.!" Ucapnya lagi sambil terus tersenyum, dan melajukan moge nya dengan kecepatan yang lebih tinggi lagi.
"Eehhhh kok dia ngebut sih.?" Ucap Diki dari dalam mobil.
"Ooooh, ini anak mau main-main rupanya sama gw. Its Ok.!"
Ucapnya lagi dengan santainya, kemudian ia pun langsung ikut melajukan mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi dari Marcell untuk mengejarnya.
"Aduuuuuh.! Kok itu orang bawa mobilnya kenceng banget sih.? Kalau kayak gini caranya bisa kekejar gw." Ucap Marcell sedikit panik.
"Lewat mana yah gw sekarang.? Apa gw belok kesitu aja biar itu orang kehilangan jejak gw. Ucapnya lagi sambil buru-buru belok untuk menghilangkan jejak dari Diki, namun sayang rupanya ia salah jalan.
"Ahhh SIAL.! Kenapa gw bisa lupa sih kalau disini ada lampu merah." Ucapnya lagi marah sambil menatap kearah lampu merah tersebut, kemudian ia pun mengentikan moge nya secara perlahan dan kemudian lari meninggalkan moge tersebut, karena ia berniat untuk kabur dari Diki.
"Woy.! Mau lari kemana loh.!" Teriak Diki sambil buru-buru keluar dari dalam mobil untuk mengejarnya.
"Aduuuuuh gawat.! Itu orang masih ngejar gw lagi. Sebenarnya itu orang siapa sih.?" Ucap Marcell kesel sambil terus berlari, kemudian ia pun masuk menuju kompleks perumahan mewah.
"Aduuuuuh.! Gw udah capek banget lagi, gw harus ngumpet dimana ini.?" Ucapnya lagi ngos-ngosan sambil menengok ke kanan dan ke kiri mencari tempat yang aman untuk sembunyi dari Diki.
"Mau lari kemana loh.! Udah loh nyerah aja.! Loh enggak bakalan bisa kabur dari gw." Teriak Diki lagi yang sudah semakin mendekat ke arahnya.
"Aduuuuuh gimana nih.! Itu orang udah deket banget lagi, gw harus gimana in,,,,,," Seketika ucapannya terpotong.
__ADS_1
"Ehhh tunggu dulu.! Kalau enggak salah, ini kan udah dekat banget sama rumah bokap gw.?" Ucapnya lagi serius, ternyata ia baru sadar kalau jalan yang ia lewati sekarang berada dekat dengan rumah orangtuanya.
"Iya bener, ini itu udah deket banget sama rumah bokap gw. Nah, itu ada kak Renata.!" Ucapnya lagi sambil tersenyum senang menatap kearah Renata kakaknya, yang sedang berdiri tepat di depan rumahnya, karena ia hendak pergi ke suatu tempat.
Ia, Renata. Karena ternyata Marcell itu adalah adik dari Renata, seorang Dokter yang kemarin sempat menangani Alana saat keguguran.
"Kak Renata.!" Teriak Marcell, kemudian ia pun langsung berlari menghampirinya.
"Marcell.?" Ucap Renata kaget.
"Kak, tolongin gw kak.! Please.!" Ucap Marcell tergesa-gesa dan panik.
"Eh ada apa.? Loh kenapa.? Terus dia siapa, kok ngejar-ngejar loh.?" Ucap Renata tergesa-gesa dan panik sambil menatap kearah Diki yang masih terus mengejar Marcell adiknya.
"Woy.! Mau lari kemana loh.!" Teriak Diki sambil terus mengejarnya.
"Udah yah kak, kakak enggak usah banyak tanya.! Nanti Marcell jelasin. Sekarang kakak mau kemana.? Marcell ikut yah kak, pleaseeeeee." Ucap Marcell tergesa-gesa dan panik, sambil buru-buru masuk dan ngumpet di dalam mobil milik Renata kakaknya yang sedang terparkir tepat dihadapannya, karena seperti yang kita tau, tadi Dokter Renata hendak pergi ke suatu tempat.
"Ya udah cepetan, cepetan, kamu ngumpet.! Nanti kamu ketahuan lag,,,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong.
"Maaf mba, boleh enggak saya ngecek mobilnya.?"
Ucap Diki yang baru saja sampai tepat dihadapan Renata, ia berbicara seperti itu karena ia melihat dengan jelas kalau tadi Marcell masuk ke dalam mobil milik Renata tersebut.
"Ehhh.! A, a, ada apa yah mas.?"
Ucap Renata gugup, karena ia pura-pura tidak tau apa maksud dari ucapan Diki.
"Tadi saya lihat ada orang masuk kedalam mobil Mba, boleh enggak saya cek mobilnya." Ucap Diki lagi dengan sopan.
"E, e, enggak kok, enggak ada orang yang masuk kedalam mobil saya, lagian ngapain mas mau ngecek-ngecek mobil saya.? Mas mau maling yah.?" Ucap Renata nyolot.
Mendengar ucapan Renata yang tidak masuk akal, Diki pun tersenyum.
"Mba, saya serius. Tadi ada orang masuk kedalam mobil Mba, orang itu bahaya loh Mba. Kalau Mba enggak percaya, ayo kita cek bareng-bar,,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.
"Awwww.! Aduh, aduh.!" Teriak Diki begitu kencangnya sambil memegangi juniornya dengan erat, karena tiba-tiba Renata menendang juniornya itu dengan sangat kencang sehingga ia pun kesakitan, kemudian Renata pun langsung buru-buru masuk ke dalam mobil miliknya.
"Ayo kak Renata cepetan.! Cepetan jalanin mobilnya.!" Ucap Marcell yang dari tadi ngumpet di dalam mobil tersebut.
"Ia cell, ini kakak juga mau jalanin mobilnya, lagian dia itu siapa sih.? Kok loh bisa berurusan sama orang enggak jelas kayak gitu.?" Ucap Renata heran, sambil buru-buru melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkan Diki yang sedang kesakitan sendiri.
"Ahhh Sial.! Sebenarnya itu perempuan apa laki-laki sih.? Gede banget tenaganya." Ucap Diki marah, sambil mendang gerbang rumah Renata yang ada dihadapannya.
"Aduuuuuh.! Sakit banget lagi INI gw." Ucapnya lagi kesakitan sambil terus memegangi juniornya dengan erat.
#######
Hy guys.! Kira-kira siapa yah dalang dibalik kasus teror Alana.? Mungkinkah itu Renata.? 🤔
__ADS_1
Jangan lupa like, coment dan fav 😍