
"I, ,i, Iyah bu.!! Si, si, silahkan masuk, silahkan masuk.!!!" Kata Ibu Ati gugup melihat Dinda tersenyum menyapanya.
"I, i, iya Om Erik, Tante Dinda juga.!!! Silahkan masuk, Om, Tan.!!!" Kata Diki yang juga gugup dan tegang melihat pak Erik dan Dinda yang secara tiba-tiba berkunjung kerumahnya.
"Iya terimakasih Bu, nak Diki juga.!!" Kata Pak Erik dan Dinda secara bersamaan sambil tersenyum, kemudian dengan segera pak Erik dan Dinda pun langsung masuk ke dalam rumah Diki mengikuti langkah kaki ibu Ati dari belakang, begitupun juga dengan Devano, namun belum sempat Devano melangkah, langkahnya sudah terhenti, karena tiba-tiba Diki langsung menarik tangannya.
"Dev, sini dulu deh.!!!" Kata Diki sambil terus menarik tangan Devano.
"Gw mau tanya nih sama loh, sebenarnya ini ada apa sih Dev.??? Gw jadi takut nih, kok bokap sama nyokap loh pada kesini sih.??" Kata Diki panik dan penasaran dengan apa sebenarnya maksud dari kedatangan pak Erik dan Dinda berkunjung kerumahnya.
Melihat raut wajah Diki sepanik itu, alih-alih menjelaskan kepadanya, Devano malah justru semakin menakut-nakutinya.
"Enggak tau tuh Bokap sama Nyokap gw.?? Katanya sih kesini mau nangkap loh atau apa yah tadi..?!!"
Kata Devano sambil memasang wajah serius agar Diki percaya dan semakin ketakutan.
"Yaelaaah Dev, yang bener loh.?? Loh enggak usah nakut-nakuti gw deh Dev.!!!" Kata Diki semakin panik mendengar jawaban dari Devano.
Melihat raut wajah Diki sepanik itu, Devano justru malah menertawakannya.
"Santai aja kali Dik.!!! Loh kayak panik banget gitu sih.???"
Kata Devano sambil terus mentertawakan sahabatnya itu.
"Loh kok malah ketawa sih Dev.?? Ngeselin banget sih loh.!!! Lagian gimana gw enggak panik coba Dev, Rumah gw yang enggak layak kayak gini.??? Didatangi orang yang sangat terhormat seperti Bokap sama Nyokap loh, dan loh nyuruh gw untuk tetap santai.?? Ya mana gw bisa sih Dev." Kata Diki sedikit kesal sambil mencoba untuk menjelaskan kepada Devano.
"Udah deh Dev, lebih baik loh cepetan kasih tau gw.!! Sebenarnya Bokap sama Nyokap loh itu kesini mau ngapain.??? Gw sama Nyokap gw itu takut tau enggak sih Dev.!!!." Kata Diki sedikit memaksa karena ia dan Ibu Ati memang benar-benar ketakutan melihat keluarga Devano yang secara tiba-tiba berkunjung kerumahnya.
"Udah loh tenang aja, enggak ada apa-apa kok.!!! Ayo lebih baik kita cepetan masuk.!! Nanti juga loh tau sendiri didalam." Kata Devano mencoba untuk menenangkan Diki, kemudian ia pun langsung merangkul pundaknya dan mengajaknya masuk ke dalam bersama dengan Ibu Ati, pak Erik dan juga Dinda.
"Silahkan duduk.!! Pak, Bu, Nak Devano juga.??" Kata Ibu Ati dengan sangat sopan.
"Oh iya Om, Tan, Devano juga, silahkan duduk.!!!" Sambung Diki yang juga sangat sopan dan ramah.
"Oh iya, iya, terimakasih.!!" Kata pak Erik, dan Devano secara bersamaan sambil tersenyum.
"Ya udah nak Diki, kamu temenin mereka ngobrol dulu yah.?? Mamah mau ambil minuman buat mereka dulu." Kata ibu Ati sambil buru-buru melangkah menuju dapur.
"Iya mah.!!" Kata Diki singkat.
"Om, Tan, kenapa pada diem aja.?? Ayo duduk.!!!" Kata Diki lagi sambil menatap kearah pak Erik dan Dinda yang dari tadi masih berdiri.
"Dev, kamu ajak dong papah sama mamah kamu itu duduk.?!!" Kata Diki lagi, sambil menatap kearah Devano yang sudah duduk dari tadi.
"Oh iya,,, pah, mah, ayo duduk.!!" Kata Devano menyuruh kedua orangtuanya untuk duduk.
Mendengar kata-kata dari Devano, dengan segera pak Erik pun langsung duduk, akan tetapi tidak dengan Dinda, dari pertama ia masuk kedalam rumah Diki, ia masih terus berdiri dan terdiam sambil menatap kekanan dan kekiri seisi ruangan tersebut, tingkahnya sama persis dengan Devano saat pertama ia melihat keadaan rumah Diki.
"Ya ampuuuuun rumahnya kecil bangeeett,, mana panas lagi.!! Ini serius,, orang sebanyak ini tinggal diruamah sekecil dan sepanas ini.??? Kasihan banget sih mereka." Kata Dinda dalam hati heran dan tak tega, sambil terus menatap ke kanan dan ke kiri seisi ruangan tersebut.
"E, e, ehhh tunggu dulu deh.!! Anak kecil Itu lagi ngapaiiin.?? Iiiiiihhh jorok bang,,,,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Hueeeek,,, hueeeek,,," Dinda langsung mual-mual karena melihat anak kecil tersebut yang tak lain adalah Dimas adik dari Diki, yang baru saja buang air kecil dan keluar dari dalam kamar mandi tanpa menyiramnya, sehingga aroma tersebut pun tercium olehnya, ditambah lagi melihat keadaan kamar mandi Diki yang menurutnya sangat-sangat tidak layak untuk dipakai, semua itu pun membuat Dinda semakin mual, apalagi dengan keadaan perutnya yang dari tadi siang memang sedang mual-mual yang ia pun tak tau kenapa.
Melihat keadaan Dinda seperti itu, seisi ruangan pun dibuat panik olehnya, apalagi pak Erik.
"Sayang, kamu kenapaaa.??? Perut kamu mual lagi, hah.???" Kata pak Erik tergesa-gesa sambil buru-buru berdiri disampingnya.
"Iya maaass,,, perut Dinda muaaal.??? Dinda enggak betah disini, Dinda mau di mobil ajaaa.???" Bisik Dinda sambil merengek, karena memang ia benar-benar sudah tidak kuat berada di dalam rumah Diki, dan sebenarnya keadaan rumah Diki seperti itu sangatlah wajar bagi para kalangan bawah, hanya saja yang sekarang sedang bertamu ke rumahnya adalah Dinda, jadi semuanya pun menjadi berbeda.
"Sayaaaang,,, sebentar aja, kamu enggak boleh kayak gitu yaaah.?? Enggak enak tuh sama keluarga Diki, yaaah.??" Bisik pak Erik sambil mengusap-usap rambut Dinda, ia mencoba untuk menasehatinya agar ia tidak seperti itu.
"Udah lebih baiiik,, sekarang kita duduk.!! Entar habis dari sini,,, kita langsung ke Dokter, Oke.???" Kata pak Erik sambil tersenyum dan merangkul pundaknya, kemudian mengajaknya untuk duduk, hingga akhirnya pak Erik dan Dinda pun duduk bersama dengan Devano dan Diki.
"Mamah, mamah enggak kenapa-napa kan.??" Kata Devano panik.
"Iya Tan, Tante enggak papa kan Tan.??" Sambung Diki yang juga panik melihat keadaan Dinda seperti itu.
"E, e, enggak,,, Ta, ta, tante enggak papa kok.!!" Kata Dinda gugup karena ia sedang berbohong agar ia tidak mengecewakan pak Erik dan juga Devano didepan keluarga Diki.
__ADS_1
"Ohhh syukur deh Tan kalau Tante enggak papa, Diki sampai kaget tadi ngelihat Tante mual-mual kayak gitu.???" Kata Diki sambil tersenyum.
"Udah kamu tenang aja Dik.!! Tante Dinda enggak papa kok, Tante Dinda memang lagi enggak enak badan dari tadi siang, ini juga niatnya habis dari rumah kamu kita mau langsung ke Dokter bawa Tante Dinda bertobat." Kata pak Erik sambil tersenyum, ia mencoba untuk menjelaskan kepada Diki agar Diki tidak salah paham.
"Ooohh gitu Om,,, Diki kira Tante Dinda enggak nyaman berada di rumah Dik,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.
"Nak Diki, tolong panggilin Lala suruh kesini bantuin mamah nak.!!! Tolong bawain minuman ini kedepan.!!!" Teriak Ibu Ati yang dari tadi sedang sibuk di dapur.
"Iya mah.!!!" Jawab Diki.
"Maaf yah Om, Tan, Devano juga, Diki tinggal dulu yah sebentar.???" Kata Diki sambil buru-buru keluar untuk memanggil Lala adiknya.
Melihat Diki keluar, Dinda pun langsung merengek kepada pak Erik.
"Maaasss.???" Rengek Dinda.
Mendengar rengekan dari Dinda, pak Erik pun tersenyum.
"Iyaaa mas tauuu, tapi kamu enggak boleh kayak gitu, yaaah.??? Enggak enak tuh sama keluarga Diki." Kata pak Erik pelan, ia berbicara seperti itu karena memang sebenarnya ia sudah tau kalau dari tadi Dinda istrinya itu sedang tidak nyaman berada di dalam rumah Diki, karena pak Erik pun sangat tau kalau Dinda istrinya itu paling tidak bisa melihat yang kotor dan yang jorok-jorok.
"Tapi maass,, Dinda enggak betah disini bauuu.?? Terus panas lagi, ayo cepetan pulaaang.??" Bisik Dinda sambil terus merengek dan menarik-narik baju pak Erik karena ia memang benar-benar ingin pulang dari rumah Diki.
"Sayaaaang,,, kamu enggak boleh kayak gituuu.?? Enggak enak ah takut kedengran sama keluarga Diki, yaaah.???" Kata pak Erik mencoba untuk menasehatinya lagi.
"Tapi maaass,, Dinda disini enggak bet,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Ssssssttttt udah, udaaah,,, entar habis ini kita pulang yaaah.???" Kata pak Erik dengan begitu sabarnya.
"Mamah kenapa pah.??" Kata Devano penasaran melihat tingkah laku mamahnya yang dari tadi seperti itu.
"Ini Dev, mamah kamu katanya pening pul,,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong.
"Maaf yah Om, Tan, Devano juga, lama yah nungguinnya.???" Kata Diki sopan sambil buru-buru duduk kembali ketempat duduknya.
"Oohh enggak, enggak papa." Kata pak Erik sambil tersenyum.
"Oh iya Dik, itu adik kamu.???" Kata pak Erik lagi, sambil menatap kearah Lala yang sedang berjalan menghampiri ibu Ati di dapur, karena seperti yang kita tau ia akan membantu ibu Ati untuk membawakan minuman ke depan.
"I, i, iya Om.!! Dia adik Diki." Kata Diki gugup.
"Masih kelas enam SD Om adik Dik,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.
"M, m, maaf kak Diki,,, ini minumannya ditaroh dimana yah.???" Kata Lala sopan sambil membawa satu nampan berisi air minum.
"Ya udah ditaroh disitu aja dek.!!" Kata Diki sambil menunjuk ke arah meja tepat dihadapan Dinda.
"M, m, maaf yah Tan,,, L, L, Lala naroh minuman dulu disin,,,,,,,," Seketika ucapan Lala terpotong.
"Awwww.!!! Ya ampuuuuun,,, maaass.???" Teriak Dinda kaget sambil merengek dan memegangi bajunya yang basah kuyup, karena Lala tak sengaja menumpahkan satu gelas air minum tepat dibagian depan bajunya.
"Ya ampun Tan, Lala minta maaf Tan.?!! Lala benar-benar enggak sengaja numpahin air di baju Tane, Lala minta maaf banget yah Tan.??? Lala bener-bener minta maaf Tan.??" Kata Lala tergesa-gesa, karena ia merasa sangat bersalah karena dengan beraninya sudah menumpahkan air minum ke baju orang yang sangat-sangat terhormat seperti Dinda.
"Ya ampun lalaaaa.?!!! Kamu ini apa-apan sih Dek.?? Kan baju Tante Dinda basah Dek.?!!" Kata Diki dengan suara tinggi karena ia merasa sangat tak enak kepada Dinda, pak Erik dan juga Devano dengan perbuatan Lala adiknya.
"Ada apa nak, Ada apa.?!!!" Teriak Ibu Ati tergesa-gesa sambil buru-buru melangkah menuju ruang tamu.
"Ini mah, Lala numpahin air ke baju Tante Dinda.???" Kata Diki mencoba untuk menjawab pertanyaan ibu Ati.
"Ya ampun Lala, kamu ini apa-apan sih nak.?? Cepetan sekarang juga kamu minta maaf sama Tante Dinda nak, cepetan.!!!" Kata Ibu Ati dengan suara tinggi, ia menyuruhnya untuk cepat-cepat minta maaf kepada Dinda, karena ia pun sama seperti Diki sangat tidak enak dengan perbuatan Lala meskipun itu semua tidak lah sengaja.
"I, i, iya mah,,,," Kata Lala gugup dan ketakutan
"Ta, ta, Tante Dinda,,, L, l, lala minta m, m, maaf yah.?? L, l, lala bener-bener enggak sengaj,,,,,,," Seketika ucapan Lala terpotong.
"Sssstttt udah, udah, enggak usah minta maaf.!! Kan ade enggak sengaja, jadi Ade enggak salah.?? Dan lagian Tante Dinda juga enggak kenapa-napa kok." Kata pak Erik pelan, ia berbicara seperti itu karena ia tidak tega melihat raut wajah Lala yang sangat ketakutan seperti sekarang ini.
"Ta, ta, tapi mas, baju Dinda kan bas,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Ssssssttttt sayaaaang,,,," Kata pak Erik pelan sambil menggelengkan kepalanya agar Dinda tidak melanjutkan kata-katanya lagi karena takut membuat keluarga Diki akan semakin merasa bersalah.
"Iya mas, Dinda ngerti.!!" Kata Dinda pelan, ia berusaha mencoba untuk mengikuti semua perintah dari pak Erik.
Melihat Dinda mengikuti perintahnya, pak Erik pun langsung tersenyum.
__ADS_1
"Enggak papa yaaah,,, entar habis ini kamu ganti baju di dalam mobil.??? Eeemmm pinter nih istri mas nih, enggak marah nih.???" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda, sepertinya sekarang ini ia sedang berusaha untuk merayu Dinda agar tidak marah kepada Lala.
"Eeeeemmmm maaaasss,,,??" Kata Dinda merengek manja.
"Kenapaaa, hah.??? Enggak papa yaaaaah.???" Kata pak Erik lagi, sambil tersenyum dan terus mengusap-usap rambutnya.
"Iya mas, enggak papa kok.!!!" Kata Dinda sambil tersenyum manja, sepertinya pak Erik benar-benar seseorang yang sangat tepat untuk mendampingi hidup Dinda, karena sejak menikah dengannya, ia bisa berubah menjadi lebih baik, dan sedikit-sedikit ia pun selalu mendengar kan nasihat dari suaminya itu seperti sekarang ini yang mau memaafkan kesalahan Lala.
"Ya udah Dek enggak papa, Ade enggak usah minta maaf.!! Lagian Tante juga enggak kenapa-napa kok, cuma baju Tante doang yang basah." Kata Dinda pelan sambil tersenyum.
"Ya ampun Tan, makasih yah Tan.??? Terimakasih.!!" Kata Lala tergesa-gesa dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena saking senangnya akhirnya Dinda mau memaafkan kesalahannya itu.
"Iya enggak apa." Kata Dinda lagi sambil tersenyum dan mengusap-usap pundaknya.
Melihat mamahnya mau memaafkan kesalahan Lala, Devano yang dari tadi hanya terdiam pun langsung tersenyum, kemudian ia pun langsung memeluknya.
"Eeemmm mamaaah, Devano bangga deh sama mamah.???" Kata Devano sambil tersenyum karena saking bangganya mempunyai mamah seperti Dinda.
"Ya ampun bu Dinda, terimakasih yah bu.?? Ibu udah mau memaafkan kesalahan anak saya.???" Kata ibu Ati tergesa-gesa karena saking leganya.
"Iya Tante Dinda makasih yah Tan.?? Sekali lagi Diki benar-benar minta ma,,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.
"Sssttttt udah, udaaaah,, enggak usah minta maaf lagi.!! Lagian kan tadi Lala enggak sengaja, jadi Lala enggak salah." Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap pundak Diki.
"Oh iya bu, sebelumnya saya mewakili istri saya dan juga anak saya Devano, mau minta maaf juga yang sebesar-besarnya kepada keluarga ibu, karena kedatangan keluarga saya kesini bikin kacau seperti ini Bu.??? Dan sekaraaang,, lebih baik ibu duduk, ibu enggak usah repot-repot di dapur nyiapin apa-apa untuk saya, istri saya dan juga Devano, karena kedatangan saya kesini juga enggak lama bu.?? Soalnya habis dari sini saya harus buru-buru antar istri saya ini ke Dokter." Kata pak Erik serius sambil mencoba untuk menjelaskan kepada ibu Ati.
"I, i, iya pak.!!!" kata ibu Ati gugup.
"Oh iya pak, bu, nak Devano juga.??? Maaf yah bukannya ibu lancang, sebenarnya ada keperluan apa yah, kenapa bapak, ibu, dab nak Devano tiba-tiba berkunjung ke rumah ibu.?? Karena jujur saja pak, bu dan juga nak Devano, ibu bener-bener takut, ibu takut kalau keluarga ibu ada salah, karena kemarin nak Devano udah nginap di rumah ibu.???" Kata ibu Ati serius, ia mencoba untuk memberanikan diri bertanya kepada pak Erik, sebenarnya apa maksud kedatangan keluarganya mengapa tiba-tiba berkunjung ke rumahnya.
"Iya Om Erik, Tante Dinda juga, maaf sebelumnya, sebenarnya ada keperluan apa yah mengapa tiba-tiba Om Erik sama Tante Dinda berkunjung ke rumah Diki.???" Sambung Diki yang dari tadi masih sangat penasaran dengan kedatangan keluarga pak Erik yang secara tiba-tiba berkunjung kerumahnya.
Mendengar kata-kata dari Ibu Ati dan Diki, pak Erik pun tersenyum, kemudian dengan segera ia pun langsung menjelaskan apa maksud dari kedatangannya beserta istri dan Anaknya berkunjung kerumah mereka.
"Apa Om.?!!! Om akan bawa bapak Diki Oprasi ke rumah sakit, dan semua biayanya akan ditanggung oleh Om.???" Kata Diki dengan suara tinggi karena kaget dan tak percaya mendengar kata-kata dari pak Erik.
"Iya, Om akan bawa bapak kamu Oprasi ke rumah sakit, dan semua biayanya Om yang akan tanggung." Kata pak Erik serius, ia mencoba untuk meyakinkannya kembali kalau semua kata-katanya itu memang benar.
"Hiks,, hiks,, ya ampun pak Eriiiiik,,,, terimakasih pak Erik, hiks,, hiks,,, terimakasiiiih.??? Hiks,, hiks,, Ibu benar-benar udah enggak tau lagi harus membalas semua kebaikan pak Erik ini dengan apa.??? Hiks,, hiks,, yang jelas ibu dan semua keluarga ibu benar-benar berterimakasih kepada pak Erik, hiks,, hiks,, kepada ibu Dinda, hiks,, hiks,, dan juga kepada nak Devano.??? Hiks,,, hiks,, terimakasih pak Erik, hiks,, hiks,, terimakasih.???" Kata Ibu Ati sambil menangis karena saking bahagia dan terharunya mendengar kata-kata dari pak Erik.
"Hiks,,, hiks,,, iya Om, hiks,,, hiks,, Diki juga benar-benar berterimakasih kepada Om, hiks,, hiks,, kepada Tante Dinda, hiks,, hiks,, dan juga kepada loh Devanooo.??" Kata Diki sambil menangis karena saking seneng dan terharunya, kemudian ia pun langsung memeluk tubuh Devano dengan begitu eratnya.
"Hiks,,, hiks,,, terimakasih Dev, Hiks,, hiks,, terimakasih.?? Hiks,, hiks,, Loh bener-bener sahabat gw yang paling hiks,, hiks,, baik Dev.?? Hiks,, hiks,, gw janji Dev, hiks,, hiks,, gw janji.!!! Hiks,, hiks,, sampai kapan pun gw enggak bakalan ngelupain semua hiks,, hiks,, kebaikan loh dan kebaikan hiks,, hiks,, keluarga loh Dev.??? Hiks,, hiks,,, gw janji Dev, hiks,, hiks,, gw janji.!!!" Kata Diki sambil terus menangis dan memeluk erat tubuh Devano.
"Ssssssttttt iya Dik, iya, gw tau.??" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap pundak Diki.
"Udah lebih baiiiik,,, besok kamu cepet-cepet bawa bokap loh ke rumah sakit yah.??? Biar bokap loh enggak kesakitan lagi." Kata Devano pelan sambil terus mengusap-usap pundak Diki.
Mendengar kata-kata dari Devano, Diki pun langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Devano.
"Hiks,,, hiks,, Iya Dev, terimakasih ya Dev.???" Kata Diki pelan sambil terus menangis.
"Iya Dik." Kata Devano singkat sambil tersenyum
Melihat anaknya yang sudah berubah menjadi lebih baik, pak Erik dan Dinda pun tersenyum.
"Ya udah nak Diki, secepatnya kamu bawa bapak kamu itu ke rumah sakit yang terbaik di sini yah.??? Supaya secepatnya bapak kamu itu bisa langsung mendapat penanganan dari Dokter." Kata pak Erik serius sambil mengusap-usap pundak Diki.
"Iya Om, terimakasih yah Om.??? Tante Dinda juga, terimakasih yah Tan.???" Kata Diki.
"Iya nak Diki sama-sama, secepatnya kamu bawa bapak kamu itu ke rumah sakit yah.??? Biar cepet sembuh.??" Kata Dinda sambil tersenyum.
"Iya Tante Dinda, terimakasih yah Tan.???" Kata Diki lagi.
"Iya,,," kata Dinda sambil tersenyum.
"Ya udah kalau gitu kita pulang dulu yah, Bu, nak Diki juga.??" Sambung pak Erik.
"Iya Dik, gw juga mau pulang dulu yah.??? Soalnya gw juga pengen ikut nganter nyokap gw ke dokter." Sambung Devano sambil tersenyum.
"I, i, iya enggak papa Dev, terimakasih yah Dev, Om Erik, Tante Dinda juga.??' Kata Diki.
"Iya pak Erik, Ibu Dinda, nak Devano juga, terimakasih yah sudah mau membantu keluarga ibu.??" Kata Ibu Ati.
__ADS_1
"Iya bu sama-sama,,," Kata pak Erik, Dinda dan juga Devano secara bersamaan sambil tersenyum, kemudian mereka bertiga pun langsung melangkah keluar dari rumah Diki menuju rumah sakit.