
DI MOBIL ERIK.
Waktu menunjukkan pukul 07:30 pagi,
Terlihat Erik dan Dinda yang sedang berada di perjalanan menuju kampus.
Di dalam mobil, terlihat Erik yg sedang fokus menyetir mobilnya, akan tetapi tidak dengan Dinda, setelah hampir semalaman ia sibuk dengan kuku-kuku cantiknya, sampai sekarang pun ia terlihat masih sibuk dengan kuku-kuku cantiknya itu, sepertinya sekarang ini ia melanjutkan mengecat kuku-kuku cantiknya itu yang tertunda karena semalam ia ketiduran.
Namun disaat ia sedang asyik mengecat kuku-kuku cantiknya itu, ia dibuat kaget oleh Erik, karena tiba-tiba Erik mengerem mobilnya secara mendadak, sehingga kuku-kuku cantiknya itu terlihat sangat acak-acakan bahkan cat kuku yang ia pegang pun terjatuh ke bawah kolong mobil.
"Ya ampun pak Eriiiiiik.! Pak Erik tuh kenapa ngerem mendadak sih.? Nih lihat.! Kuku-kuku Dinda kan jadi jelek kaya gini.? Pake jatuh ke bawah lagi itu cat kukunya, kan susah Dinda ngambilnya." Kata Dinda dengan suara sedikit tinggi karena kesal.
Mendengar Dinda marah-marah kepada dirinya, Erik hanya terdiam, ia tidak menghiraukannya sama sekali, matanya justru tertuju ke arah jalan yang ada dihadapannya, karena ia melihat seseorang yang tergeletak di tengah jalan tepat di depan mobilnya, dan itulah alasan mengapa ia ngerem mobilnya secara mendadak.
"Iiiiihhhhh ngeselin banget sih.! Orang lagi ngomong juga enggak didenge......." Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.
"Dinda, kamu tunggu disini yah.!" Kata Erik panik sambil terus menatap kearah jalan dimana orang tersebut tergeletak.
"Tunggu disini.? Emang pak Erik mau kemana.?" Kata Dinda penasaran dan bingung, karena dari tadi ia tertunduk dan matanya pun hanya tertuju ke kuku-kukunya yang acak-acakan, sampai-sampai ia tidak melihat ada seseorang yang tergeletak di tengah jalan tepat di depan mobil Erik.
"Kamu enggak lihat tuh didepan.! Ada orang tergeletak.? Saya mau jalanin mobilnya susah, saya cek dulu yah.?" Kata Erik sambil menunjuk kearah jalan dimana orang tersebut tergeletak.
Mendengar kata-kata dari Erik, seketika Dinda pun langsung melihat kearah dimana orang tersebut tergeletak.
"Pak Erik, itu orang kenapa.? Dinda takuuuut, Dinda takut kalau itu orang jahat yang cuma lagi pura-pura pingsan." Kata Dinda panik dan ketakutan, karena ia yakin kalau orang tersebut adalah begal yang sedang pura-pura pingsan, apalagi dengan keadaan jalanan yang lumayan sepi.
"Ya udah kamu tenang yah.! Pokoknya kamu diem didalam mobil, dan jangan kemana-mana.!" Kata Erik tegas dan penuh perhatian, ia melarang Dinda keluar dari mobil karena ia khawatir akannya.
"Ya udah saya keluar yah.?" Kata Erik lagi sambil buru-buru membuka pintu mobil untuk keluar.
"Pak Erik mau kemanaaa.? Pak Erik jangan keluar Dinda takuuuut.?" Kata Dinda merengek ketakutan sambil menarik-narik lengan Erik.
"Udah kamu enggak usah takut.! Kamu enggak akan kenapa-nap,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong.
"Dinda takut pak Erik kenapa-napaaa.?" Kata Dinda panik, sepertinya tanpa ia sadari ternyata ia sangat mengkhawatirkannya.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Dinda, Erik pun langsung tersenyum.
"Udah kamu tenang aja yah.? Saya enggak akan kenapa-napa kok, yang penting ingat.! Tetap didalam mobil.!" Kata Erik penuh perhatian sambil menatap dalam wajah cantik Dinda, kemudian ia pun langsung membuka kembali pintu mobilnya untuk keluar dan melangkah menuju orang tersebut.
"Pak Erik hati-hati.!" Triak Dinda khawatir, dan semua itu pun terlihat jelas oleh Erik.
"Iya." Kata Erik sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya, kemudian ia pun langsung melanjutkan langkahnya kembali untuk mengecek orang tersebut, dan ternyata benar apa yang ditakut-takuti oleh Dinda, kalau semua itu adalah jebakan, belum sempat Erik mengecek orang tersebut, orang tersebut sudah terbangun dan langsung menghajarnya.
Melihat orang tersebut menghajar dirinya, Erik pun mencoba untuk melawannya, namun sayang ia tidak berhasil melawannya, karena orang tersebut langsung memanggil teman-temannya untuk membantu menghajar Erik, hingga akhirnya ia pun tak sanggup untuk melawannya, karena jumlah mereka terlalu banyak.
Melihat kejadian seperti itu didepan mata, Dinda pun langsung triak histeris.
"Tolong, tolong, tolong.!" Teriak Dinda panik sambil buru-buru keluar dari dalam mobil.
Mendengar Dinda meminta tolong, preman-preman tersebut pun takut dan langsung kabur meninggalkan Erik yang sudah babak belur dihajar olehnya, sedangkan Dinda yang melihat preman-preman tersebut kabur, dengan segera ia pun langsung lari menghampiri Erik, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan begitu erat.
"Hiksss,,,hiksss,,, Pak Eriiiik.?" Kata Dinda panik dan ketakutan sambil menangis.
"Ssstttt.! Kamu kenapa nangis.?" Kata Erik pelan, dengan keadaan yang sudah tidak karuan sambil mengusap-usap rambut Dinda.
Mendengar pertanyaannya Erik, Dinda tidak menjawabnya, ia masih tetap menangis.
Melihat Dinda yang terus menagis dipelukan nya seperti itu, perlahan Erik pun mencoba untuk melepaskan pelukannya itu dari tubuhnya.
"Kamu kenapa nangis.?" Kata Erik lagi sambil menatap dalam wajah cantik Dinda.
"Hiks,, hiks,, menurut pak Erik, hiks,, hiks,, kenapa Dinda nangis.?" Kata Dinda kesal karena Erik tak henti-hentinya bertanya seperti itu kepadanya.
Mendengar jawaban dari Dinda, Erik pun tersenyum, ia tersenyum karena sebenernya ia sangat tau kalau Dinda menangis seperti itu karena sangat mengkhawatirkan dirinya.
"Kenapa pak Erik malah senyum sih.?" Kata Dinda semakin kesel melihat Erik tersenyum seperti itu.
"Udah jangan ngambek terus.! Lagian, kalau mau peluk-peluk saya, jagan disini malu.! Lebih baik kita pelukannya di dalam mobil aja yuk.?" Kata Erik sambil tersenyum menggodanya.
"Iiiiiiihhhhh pak Erik apan sih.!" Kata Dinda sambil mendorong pelan tubuh Erik, kemudian melangkah pergi meninggalkannya menuju mobil, namun belum sempat ia melangkah, tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.
"Awww sakit.! Aduh, aduuh.! Sakit banget.? Kayanya ini saya enggak bisa jalan deh.!" Teriak Erik pura-pura kesakitan, supaya Dinda kembali lagi perhatian kepadanya.
__ADS_1
"Pak Erik, pak Erik kenapa.? Apanya yang sakit.?" Kata Dinda tergesa-gesa dan panik, sambil buru-buru melangkah kembali menghampirinya.
Melihat Dinda kembali perhatian kepadanya, Erik pun langsung terdiam sambil tersenyum.
"Pak Erik, pak Erik kok diem.? Apanya yang sakit.?" Kata Dinda semakin panik.
"A, a, aduhhhh kaki saya sakit banget.? Kayaknya saya enggak bisa jalan deh." Kata Erik gugup karena ia sedang berbohong.
"Pak Erik enggak bisa jalan.? Terus gimana dong.?"Kata Dinda bingung.
"Gimana yah.? Kayanya saya harus dipapah deh jalannya, kamu bisa kan.?" Kata Erik sambil terus pura-pura kesakitan.
Mendengar permintaan dari Erik, akhirnya Dinda pun bersedia memapahnya sampai ke mobil, sesampainya Dinda di dalam mobil, ia miris melihat keadaan Erik.
"Ya ampun pak Eriiiik, kenapa jadi kaya giniiii.?" Kata Dinda sambil memegang pelan wajah tampannya yang babak belur itu.
"Tunggu sebentar yah.! Dinda mau ambil obat dulu buat bersihin dan obati luka pak Erik." Kata Dinda lagi penuh perhatian, sambil buru-buru mengambil kotak obat di dalam tasnya, karena ia memang sudah terbiasa membawa kotak obat setiap hari untuk jaga-jaga, setelah mengambil kotak obat tersebut, dengan segera ia pun langsung mengobati lukanya itu.
"Pak Erik tahan yah.? Biar Dinda obati dulu, soalnya perih." Kata Dinda penuh perhatian, kemudian ia pun langsung mengoleskan obat tersebut diwajah tampan Erik dengan sangat pelan.
"Awww stttttt.! Sakit.?" Kata Erik sambil mereunyi kesakitan.
"I, i, iya maaf.! Sambil Dinda tiupin yah.?" Kata Dinda panik, kemudian ia pun langsung kembali mengoleskan obat tersebut di luka Erik dan meniupinya dengan sangat pelan
Melihat Dinda seperhatian itu kepada dirinya, Erik hanya bisa terdiam sambil memandangi wajah cantiknya.
"Saya bener-bener enggak nyangka, anak manja seperti kamu ternyata bisa seperhatian ini sama saya, enggak salah saya pilih kamu jadi istri.! Udah baik, cantik lagi." Kata Erik dalam hati sambil tersenyum, dan terus memandangi wajah cantiknya.
"P, p, pak Erik, pak Erik ngapain sih ngelihatin Dinda kaya gitu.?" Kata Dinda gugup dan canggung.
"K, k, kenapa.? Ohhh enggaaak, siapa yang lagi lihatin kamu.!" Kata Erik yang juga gugup karena ia sedang berbohong.
"Tadi pak Erik senyum-senyum lihatin Din,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Aw.! Aduh, aduuuh.! Sakit banget nih yang sebelah sini.?" Teriak Erik pura-pura kesakitan untuk mengalihkan perhatian Dinda.
"Pak Erik, yang mana lagi yang sakit.?" Kata Dinda tergesa-gesa dan panik.
__ADS_1
Melihat Dinda sepanik itu, Erik pun lagi-lagi tersenyum.
"Kamu sepanik itu sama saya.? Apa jangan-jangan, kamu udah mulai jatuh cinta lagi sama saya.?" Kata Erik sambil terus tersenyum menggodanya.