
DI RUMAH SAKIT.
Waktu menunjukkan pukul 11:00 Siang.
Terlihat Renata yang sedang duduk termenung di dalam ruang kerjanya dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Ya Tuhaaan, sekarang gw harus gimana.? Gw bener-bener udah enggak tau lagi apa yang harus gw lakukan sekarang.! Bang Diki bener-bener udah enggak mau tanggung jawab dengan kehamilan gw ini.! Gw harus gimana Tuhaaan.? Sedangkan cepet atau lambat, perut gw ini pasti akan membesar, dan cepet atau lambat juga, mamah sama papah pasti akan tau kenyataan ini.! Dan gw sangat yakin, mamah sama papah pasti akan marah dan kecewa banget sama gw kalau sampai tau tentang ini.! Belum lagi dengan omongan-omongan orang diluar, kalau gw ini hamil diluar nikah tanpa suami, mamah sama papah pasti akan malu banget."
Ucap Renata dalam hati sedih, karena ia tidak tau lagi apa yang harus ia lakukan sekarang.
"Gw harus gimana Tuhaaan.? Apa mungkin gw gugurin aja kandungan gw ini.?" Ucapnya lagi dalam hati bingung sambil mengusap-usap perutnya yang masih rata itu.
"Tapi semua itu juga enggak mungkin, enggak mungkin gw tega bunuh anak gw sendiri, darah daging gw.! Apalagi gw ini adalah seorang Dokter kandungan." Ucapnya lagi serba salah.
"Kenapa sih Tuhan, engkau harus pertemukan gw sama Bang Diki, kalau akhirnya akan jadi seperti ini.! Seandainya aja gw bisa mengulang lagi waktu, gw enggak mau mengenal Bang Diki, apalagi sampai jatuh cinta sama di,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong.
"Aw.! Sssssttt, aduh, aduh.! Kok perut gw ini sakit banget yah.?" Ucap Renata bingung, karena lagi-lagi ia merasakan sakit diperutnya.
"Aw, ssssstt.! Kepala gw juga pusing bangeeet." Ucapnya lagi sambil memegangi kepalanya karena pusing.
"Apa gw ini kurang istirahat.?" Ucapnya lagi masih bingung.
"Aw.! Ssstttt, aduuuuuh ! Sakit bangeeeet. Kayaknya sekarang ini gw memang harus istirahat deh.!" Ucapnya lagi sambil terus kepusingan dan kesakitan, kemudian ia pun langsung buru-buru istirahat di dalam ruang istirahat yang ada di dalam ruangan kerjanya.
DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH DEVANO.
Terlihat Devano yang dari tadi sedang sibuk merayu Alana istri tersayangnya itu untuk makan.
"Sayang, kamu ini harus makan.! Kasihan loh Dede bayi yang ada didalam perut kamu ini.!" Ucap Devano panik karena melihat Alana istri tersayangnya dari sejak ia hamil tidak mau makan.
"Sekarang biar mas suapin yah.? Biar kamu ini makannya enak."
Ucapnya lagi sambil sibuk mengambil makanan yang ada didalam piring untuk menyuapinya.
"Nih.! A." Ucap Devano dengan penuh perhatiannya.
"Enggak mauuuu.!" Ucap Alana menolak makanan tersebut sambil merengek.
"Terus kamu maunya apa sayang.? Apa kamu mau makan sendiri aja.?" Ucap Devano lagi-lagi mencoba untuk merayunya.
"Ya udah, nih.! Ini itu makanannya enaaak banget tau enggak sih sayang, tadi itu mas sengaja pesenin khusus buat kamu.!" Ucap Devano sambil tersenyum dan memberi satu buah kotak makanan tersebut untuknya.
"Iiiiiihhhh enggak mau masssss, Alana enggak mau makaaan."
Ucap Alana menolak makanan tersebut sambil cemberut, karena sekarang ini ia memang benar-benar tidak nafsu untuk makan.
"Ya tapi kan kamu ini harus makan sayang.! Kalau kamu enggak makan, nanti gimana perkembangan Dede bayi diperut.! Kasihan loh nanti kelaparan." Ucap Devano mencoba untuk menasehatinya.
"Atau enggak gini aja deh sayang, mas coba chat Renata yah.? Suruh dia kesini.! Biar kamu nanti dikasih Vitamin atau apa kek.! Biar kamu jadi nafsu makan." Ucap Devano mencoba untuk memberi saran seperti itu kepadanya, karena ia benar-benar takut kalau sampai Alana dan calon buah hatinya yang sudah lama ia dan Alana istrinya itu tunggu-tunggu kenapa-napa, karena sepertinya kejadian kemarin membuatnya lebih berhati-hati lagi dalam menjaga Alana dan juga menjaga calon buah hatinya itu.
"Ya udah terserah mas aja.! Tapi kalau mas nyuruh Alana untuk makan sekarang, Alana enggak mauuuu." Ucap Alana lagi.
"Ya udah iya, iyaaa.!" Ucap Devano dengan sabarnya sambil mengusap-usap rambutnya.
"Ya udah, mas coba chat Renata dulu yah.?" Ucapnya lagi sambil buru-buru mengambil ponselnya dan langsung mengechat nya.
"Ren, loh sekarang dimana.? Lagi sibuk apa enggak.? Kalau enggak sibuk ke rumah yah.? Periksa istri gw nih.! Soalnya mual-mual mulu, nafsu makannya juga berkurang, enggak mau makan dia Ren, loh kasih vitamin atau apa kek.! Biar istri gw ini nafsu lagi makannya." Isi chat tersebut yang Devano kirimkan untuk Renata. Dan tanpa selang waktu lama, Renata pun langsung membalasnya.
"Aduh Dev, sorry banget yah.? Kalau sekarang gw ke rumah loh, kayaknya gw enggak bisa deh.! Soalnya sekarang ini gw lagi kurang enak badan, gimana kalau sekarang loh sama Alana aja yang ke rumah sakit.? Soalnya sekarang ini gw lagi ada di rumah sakit." Isi balasan chat tersebut, dan kemudian Devano pun langsung membalasnya.
"Oh ya udah kalau gitu Ok.!" Isi balasan chat tersebut.
1 Jam kemudian,,,,,,,,
DI RUMAH SAKIT.
__ADS_1
Waktu menunjukkan pukul 12:00 Siang.
Terlihat Renata yang baru saja keluar dari ruang istirahat dan langsung duduk di ruangan kerjanya.
"Aw, Sssssttt.! Devano sama Alana jadi enggak yah kesini.! Kok lama banget sih.? Mana kepala gw ini masih pusing banget lagi." Ucapnya serius kalau sekarang ini kepalanya itu masih sangat pusing.
"Aduuuh.! Kira-kira nanti gw kuat enggak yah periksa Alan,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar seseorang dari luar mengetuk pintu ruang kerjanya
Tok, tok, tok.!
"Iya masuk.!" Ucap Renata, menyuruhnya untuk masuk.
"Ya ampun kak, Alana minta maaf banget yah kak.? Pasti kak Renata udah nungguin Alana lama yah.?" Ucap Alana yang baru saja masuk ke dalam ruangan tersebut, karena ternyata yang mengetuk pintu ruangan kerjanya itu adalah Alana dan Devano.
"Iya Ren, gw juga minta maaf yah.?" Ucap Devano yang sudah berdiri tepat dihadapannya.
"Iya enggak papa kok.!" Ucap Renata mencoba untuk tersenyum, meskipun sesungguhnya sekarang ini ia masih sangat merasakan pusing di kepalanya.
"Ya udah silahkan duduk.!" Ucapnya lagi dengan sangat ramah.
"Iya kak Renata, makasih yah.?" Ucap Alana sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung duduk tepat di hadapannya, begitu juga dengan Devano suaminya, ia pun langsung duduk tepat di hadapan Renata.
"Oh iya Dev, tadi apa keluhan Alan,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong.
"Eh Ren, emang loh lagi sakit apa sih.? Kok muka loh bisa pucet banget kayak gini.!" Ucap Devano penasaran, karena ia melihat wajah Renata sahabatnya yang sekarang ini sangat lah pucat.
"Iya kak Renata, kok muka kak Renata pucet banget sih.? Kak Renata enggak papa kan.?" Ucap Alana sedikit panik karena melihat keadaannya seperti itu.
"Enggaaak, gw enggak papa kok.!"
Ucap Renata mencoba untuk terus tersenyum dan berusaha menyembunyikan rasa sakitnya itu, karena ia tidak mau kalau sampai Devano dan Alana itu tau apa yang sekarang ini sedang ia alami.
"Tapi serius loh Ren, muka loh itu pucet banget.! Loh beneran enggak papa.?" Ucap Devano yang juga panik melihat keadaannya seperti itu.
"Enggak, gw beneran enggak papa kok.!" Ucap Renata berbohong, sambil terus tersenyum dan terus menyembunyikan rasa sakitnya, kemudian ia pun langsung beranjak dari tempat duduk.
"Ya ampun kak Renata.! Kak Renta kenapa kak.? Bangun kak.!" Ucap Alana tergesa-gesa sambil buru-buru mencoba untuk membangunkannya.
"Iya Ren, loh kenapa Ren.? Bangun Ren.!" Ucap Devano yang juga tergesa-gesa.
"Mas Devano, cepatan panggilin Dokter mas.! Cepetan.!" Ucap Alana menyuruhnya untuk cepat-cepat memanggilkan Dokter.
"I, i, iya sayang, sekarang juga mas panggilin Dokter." Ucap Devano gugup dan tergesa-gesa, sambil buru-buru keluar dari ruangan tersebut untuk memanggilkannya Dokter, meninggalkan Alana dan Renata hanya berdua diruangan tersebut.
"Ya ampun kak Renata kenapa kaaak.? Bangun dong kaaak.!" Ucap Alana masih panik, sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya agar terbangun, namun disaat ia sedang membangunkannya ia dibuat kaget, karena tak sengaja ia melihat bercak darah yang lumayan banyak menempel diroknya.
"Darah.?" Ucapnya bingung sambil terus menatap darah tersebut.
"Ini darah apaan yah.? Apa mungkin sekarang ini kak Renata lagi mens.? Tapi kok darahnya sebanyak ini sih.?" Ucapnya lagi masih bingung.
"Apa jangan-jangan.!" Seketika Alana pun langsung terdiam, karena ia mengingat apa yang pernah Renata dan Diki lakukan di dalam mobil.
"Enggak, enggak mungkin.! Kak Renata enggak mungkin lagi hamil apalagi sampai keguguran.! Enggak, enggak mungkin." Ucapnya lagi tak percaya dengan kecurigaannya itu.
Setengah jam kemudian,,,,,,,,
Renata pun akhirnya sudah di bawa masuk ke dalam ruang IGD dan sedang ditangani oleh Dokter Dita yang tak lain adalah sahabatnya, sedangkan Devano dan Alana terlihat sedang duduk di ruang tunggu.
"Ya ampun mas, kira-kira kak Renata itu kenapa yah.? Kak Renata itu sakit apa.?" Ucap Alana masih sangat panik dan penasaran.
"Udah sayang, kamu yang tenang aja dulu.! Nanti juga Dokter nya kelu,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Dev, gimana kondisi Renata sekarang Dev.? Renata udah sadar apa belum.?" Ucap Ibu Lia yang tak lain adalah Ibu dari Renata yang baru saja datang dan masuk ke dalam rumah sakit tersebut, karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi itu Devano sempat memberinya kabar tentang apa yang sedang terjadi kepada Renata putri kesayangannya itu sekarang ini.
"Eh Tante.!" Ucap Devano.
"Belum Tan, Renata belum sadar." Ucapnya lagi mencoba untuk memberi tahunya.
"Ya Tuhaaaan, sebenarnya apa yang terjadi sama Renata Dev.? Kenapa Renata bisa sampai pingsan kayak gitu.!" Ucap Ibu Lia semakin panik.
__ADS_1
"Devano juga enggak tau Tan, soalnya tadi itu tiba-tiba Renata langsung pings,,,,,,,,," Lagi-lagi ucapan Devano terpotong, karena tiba-tiba Dokter Dita, yang tak lain adalah Dokter yang menangani Renata pun keluar dari ruang IGD.
"Dok, gimana dengan kondisi Renata sekarang Dok.?" Ucap Ibu Lia tergesa-gesa karena saking paniknya.
"Iya Dok, gimana dengan kondisi kak Renata sekarang Dok.? Kak Renata nya udah sadar kan Dok.?" Ucap Alana yang juga tergesa-gesa dan panik.
"Kalian semua tenang aja.! Dokter Renata nya sekarang udah sadar kok." Ucap Dokter Dita serius, sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Dokter Dita, seketika Ibu Lia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Alhamdulillaaaah," Ucapnya sambil tersenyum karena saking leganya.
"Terus sekarang Renata nya dimana Dok.? Boleh enggak kita masuk untuk melihat keadaannya." Ucap Devano.
"Boleh pak, tapi sebelumnya saya mau memberitahukan dulu kepada Tante Lia, selaku ibu dari Dokter Renata, kalau keadaan Dokter Renata sekarang ini masih sangat lemah, dan sepertinya Dokter Renata juga harus bed rest total dulu untuk sementara waktu, jangan terlalu banyak gerak atau kecapekan, apalagi sampai banyak pikiran, soalnya tadi itu Dokter Renata pendarahan cukup banyak Tan.! Tapi beruntung sekali semuanya berhasil diselamatkan." Ucap Dokter Dita serius kalau keadaan Renata sekarang ini memang separah itu, namun untungnya janin yang ada didalam kandungannya berhasil ia selamat kan.
"P, p, pendarahan cukup banyak, maksudnya.?" Ucap Ibu Lia bingung, karena seperti yang kita tau, ia benar-benar tidak tau sama sekali kalau Renata putri kesayangannya itu sedang hamil.
"Ia Dok, maksudnya apa yah Dok.? Kok Dokter ngomong kayak gitu.!" Ucap Alana yang juga bingung mendengar ucapannya.
Melihat ibu Lia dan Alana kebingungan seperti itu, Dokter Dita pun terdiam sejenak, kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Tante Lia, sebenarnya ada sesuatu yang mau Dita sampaikan sama tante.! Tapi sebelumya Dita mohoooon banget sama tante.! Tante jangan marahin Renata yah.? Apa lagi sampai nyalah-nyalahin dia.! Soalnya kondisi Renata sekarang ini benar-benar sangat lemah, Dita cuma takut aja kalau nanti Renata sampai stress, dan Dita juga mohon banget sama tante.! Tante jangan kaget yah dengernya.?" Ucap Dokter Dita mencoba untuk mengingatkannya terlebih dahulu.
"J, j, jangan kaget dengernya, maksudnya.?" Ucap Ibu Lia semakin panik dan penasaran.
"I, i iya Dok, maksudnya apa yah.?" Ucap Alana dan Devano secara bersamaan yang juga panik dan penasaran.
"Gimana yah Dita mau nyampeinnya Tan.! Karena jujur aja yah Tan, sebenarnya Dita itu berat banget mau nyampein ini semua sama Tante.! Tapi mau gimana lagi, ini semua sudah tugas Dita sebagai seorang Dokter." Ucap Dita tak tega.
"Ya udah enggak papa Dit, cepetan kasih tau Tante.! Renata kenapa, ada apa dengan Renata Dit.?" Ucap ibu Lia tergesa-gesa karena saking paniknya.
"S, s, sebenarnya,,,," Seketika Dita pun langsung terdiam, kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Sebenarnya Dokter Renata sekarang ini sedang mengandung tan." Ucap Dokter Dita mencoba untuk memberitahukannya dengan jelas.
"A, a, apa.?" Ucap Ibu Lia, Devano, dan Alana secara bersamaan, dengan suara tinggi karena saking kagetnya.
"E, e, enggak, enggak mungkin.! Renata enggak mungkin mengandung Dok.! Enggak, enggak mungkin.! Renta itu belum punya suami.! Jadi mana mungkin Renata itu bisa mengandung.?" Ucap Ibu Lia gugup karena ia tak percaya dengan ucapannya itu, apalagi ia juga sangat kenal dengan Renta putrinya, kalau ia adalah gadis yang masih sangat polos meskipun usianya sekarang ini sudah dewasa, karena seperti yang kita tau, pacaran pun Renata belum pernah, jadi ia benar-benar tidak percaya dengan semua ucapannya itu. Kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru masuk kedalam ruang rawat Renata, di ikuti oleh Devano dan Alana dari belakang.
"Mamah, Devano, Alana juga.?" Ucap Renata kaget, dengan keadaan yang masih sangat lemah terbaring di atas ranjang.
"Sayang, semua ini enggak bener kan sayang.? Semua ini bohong kan.? Enggak mungkin kan sekarang ini kamu lagi ha,,,,,,,,," Seketika ucapan Ibu Lia pun terpotong, karena tiba-tiba Renata langsung memeluknya dengan sangat erat sambil menangis.
"Hiks,, hiks,, Maafin Renata mah.! Hiks,, hiks,, maafin Renata.! Hiks,, hiks,, Renata udah bikin mamah sama papah kecewa sama Renata.! Hiks,, hiks,, Renata udah bikin mamah sama papah malu.! Hiks,, hiks,, maafin Renata mah.! Hiks,, hiks,, maafin Renata.!" Ucap Renata menyesal, sambil terus menangis dan terus memeluk Ibu Lia dengan sangat erat.
"Enggak, enggak mungkin.! Kamu enggak mungkin hamil kan sayang.? Kamu enggak mungkin hamil kan.? Semua ini bohong kan sayang.? Semua ini bohong kan.?" Ucap Ibu Lia dengan suara tinggi sambil mencoba untuk melepas pelukan Renata dari tubuhnya.
"Hiks,, hiks,, enggak mah.! Hiks,, hiks,, semua ini bener.! Hiks,, hiks,, semua ini bener.! Hiks,, hiks,, Renata sekarang lagi hamil mah.! Hiks,, hiks,, Renata hamil.! Hiks,, hiks,, dan Orang yang udah buat Renata hamil kayak gini.! Hiks,, hiks,, enggak mau tanggung jawab mah.! Hiks,, hiks,, enggak mau tanggung jawab.! Hiks,, hiks,, sekarang Renata harus gimana mah.? Hiks,, hiks,,, sekarang Renata harus gimana.?" Ucap Renata mencoba untuk memberitahukan apa yang sedang ia rasakan akhir-akhir ini kepada ibu Lia yang tak lain adalah mamahnya.
"A, a, apa.? Orang yang udah hamilin kamu enggak mau tanggung jawab.?" Ucap Ibu Lia gugup karena saking kagetnya.
"Enggak, enggak bisa.! Dia harus tanggung jawab sayang, dia itu harus tanggung jawab.! Dia harus cepet-cepet nikahin kamu sebelum semua orang tau keadaan kami sekarang ini.!" Ucapnya lagi dengan suara tinggi karena emosi.
"Siapa laki-laki itu sayang.? Siapa.? Kasih tau mamah.! Biar nanti mamah kasih tau papah, biar papah dan anak buah papah yang urus semuanya." Ucapnya lagi serius.
"Hiks,, hiks,, tapi mah, hiks,, hiks,, Renata enggak mau mah.! Hiks,, hiks,, Renata enggak mau kalau sampai nanti papah sama anak buah papah sakiti dia mah.! Hiks,, hiks,, Renata sayang banget sama dia mah, hiks,, hiks,, Renata sayang banget sama dia.!" Ucap Renata serius sambil terus menangis.
"A, a, apa kamu bilang sayang.? Kamu sayang banget sama laki-laki yang udah buat kamu kayak gini.! Dan enggak bertanggung jawab kayak dia.!" Ucap Ibu Lia kaget, karena ia tak habis pikir dengan pemikiran Renata putrinya itu.
"Enggak sayang, sekarang juga kamu harus kasih tau mamah.! Siapa orang yang udah hamilin kamu sayang, siapa.?" Ucap Ibu Lia semakin emosi, lagi-lagi ia bertanya seperti itu, sehingga Alana yang dari tadi hanya terdiam pun seketika langsung ikut angkat suara.
"Maaf sebelumnya Tan, kak Renata juga.! Bukannya Alana ini mau ikut campur. Tapi,,, apa semua ini ulah Bang Diki.? Bang Diki yang udah hamilin kak Renata.?" Ucap Alana dengan sangat sopan dan jelas, sehingga Devano yang dari tadi sedang berdiri di sampingnya pun kaget dibuatnya.
"A, a, apa tadi kamu bilang sayang.? Bang Diki, maksudnya.?" Ucap Devano gugup karena ia memang benar-benar tidak tau sama sekali tentang hal itu.
#########
Maaf baru bisa up, anak bayi lagi sakit soalnya 😥😥😥
Jangan lupa like, coment dan vote.!
__ADS_1