
Makan malam sudah selesai, terlihat pak Irsyad, Ibu Yuli dan Arya yang sedang santai duduk di ruang keluarga, akan tetapi tidak dengan Dinda dan Erik, sehabis makan malam mereka berdua langsung masuk kedalam kamarnya.
Di dalam kamar, Erik langsung disibukkan dengan pekerjaannya dari pak Irsyad.
Karena mulai besok ia sudah mulai bekerja di kantornya, akan tetapi tidak dengan Dinda, ia terlihat sedang asyik mengecat kuku-kuku cantiknya di atas kasur.
"Eeeeemmm pake warna apa yah.?" Kata Dinda bingung sambil memilih-milih warna cat kuku yang ia sukai.
"Oh iya, yang ini aja deh.! Pasti kelihatan cantik deh, kalau pake warna yang ini.?" Kata Dinda lagi sambil tersenyum senang, karena ia telah menemukan warna cat kuku ya ia sukai, kemudian dengan segera ia pun langsung memakaikannya ke kuku-kukunya satu persatu sampai terlihat cantik.
"Tuh kan bener cantik bangeeet.? Dindaaa, Dinda, kenapa sih kamu itu selalu terlihat cantik.? Iiiiiihhhhh kesel deh.!" Kata Dinda memuji dirinya sendiri sambil membolak balikan tangannya
Untuk melihat kuku-kuku cantiknya itu.
Melihat tingkah laku istrinya seperti itu, Erik yang dari tadi sedang fokus mengerjakan pekerjaannya pun tersenyum heran sambil menggelengkan kepalanya, kemudian ia pun langsung melanjutkan pekerjaannya lagi.
Dinda memang paling senang merawat bagian dari tubuhnya agar terlihat cantik dan menarik, karena menurutnya penampilan itu nomor satu dan Itu sebabnya, banyak laki-laki yang tergila-gila kepadanya.
Dinda mengecat kuku-kukunya sudah cukup lama, namun ia masih saja terlihat sibuk dengan kuku-kukunya itu.
"Eeemmm pake warna apa lagi y,,,,,,," belum sempat Dinda menyelsaikan ucapannya namun sudah terpotong.
"Kamu mau sampai kapan main-main dengan kuku-kuku kamu itu.? Ini tuh udah malam, kamu belum ngerjain tugas dari saya kan.?" Kata Erik dingin, sambil menatap kearah Dinda.
"Pak Erik enggak usah takut.! Tugas dari pak Erik, pasti nanti Dinda kerjain kok, tenang aja.!" Kata Dinda ketus tanpa menatap kearahnya sama sekali.
"Ini itu udah malam.! Mau jam berapa kamu ngerjain tugas dari saya.?" Kata Erik tegas dan serius.
"Iiiiiihhhhh Pak Erik tuh bawel banget sih.? Enggak di Kampus, enggak di Rumah, ngomonginnya tugas, tugas dan tugas terus.! Nanti juga Dinda kerjain, tapi entar.! Dinda lagi cat kuku dulu, lagian emang pak Erik enggak mau apa punya istri cantik.?" Kata Dinda semakin kesal, sepertinya tanpa ia sadari akhirnya ia mengakui juga kalau sekarang dirinya adalah istri dari Erik, Dosen galaknya di Kampus.
Mendengar jawaban dari Dinda, Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung melangkah menghampirinya dan berdiri tepat di hadapannya.
"Emang kamu maunya, kita ngomongin tentang apa kalau di dalam kamar, hah.?" Bisik Erik tepat ditelinga Dinda dengan suara yang sangat menggoda.
"Eemmmm pak Erik.?" Kata Dinda merengek manja, sambil menatap dalam wajah tampan Erik, sepertinya sekarang ini ia tidak tahan mendengar bisikannya itu.
"Kenapaaa, hah.?" Kata Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda.
"Peluk.!" Kata Dinda manja, sepertinya pelukkan hangat dari Erik sudah membuatnya ketagihan, sehingga sekarang ini ia sudah tidak malu lagi meminta peluk kepadanya.
__ADS_1
"Apa.?" Kata Erik kaget sambil tersenyum, ia benar-benar tidak percaya Dinda istrnya yang biasanya malu jika ia dekati sekarang sudah berani meminta peluk kepadanya.
"Peluuuuuuuk.!" Kata Dinda lagi sambil merengek seperti anak kecil.
"Peluk.?" Kata Erik lagi masih tak percaya.
"Iya,,,," Kata Dinda singkat, sambil menganggukkan kepalanya, ia mencoba untuk meyakinkan Erik lagi.
Mendengar Dinda meminta peluk kepadanya, dengan segera Erik pun langsung duduk tepat di sampingnya, perlahan ia pun mencoba untuk memeluknya.
"Eeeemmmm." Kata Erik gemas, sambil mengusap-usap rambut Dinda dengan penuh kasih sayang, kemudian ia pun mencoba untuk melepaskan pelukannya itu.
"P, p, pak Erik kenapa.? Kok udahan peluk Dinda nya.?" Kata Dinda bingung mengapa Erik memeluknya hanya sebentar.
Mendengar kata-kata Dinda, Erik hanya tersenyum sambil menatap dalam wajah cantiknya, perlahan ia pun mencoba untuk mendekatkan bibirnya tepat dibibir Dinda, karena sepertinya ia ingin mendapatkan ciuman pertamanya.
"P, p, pak Erik.?" Kata Dinda gugup, sambil menatap dalam wajah tampannya.
"Kenapaaa.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum.
"D, D, Dinda takuuuut.?" Kata Dinda ketakutan karena memang sekarang ini adalah ciuman pertamanya.
"Kamu enggak usah takut.! Sekarang kamu penjamin aja mata kamu yah.? Terus nanti kamu ikuti aja gerakan bibir saya.!" Kata Erik pelan sambil tersenyum.
Melihat Dinda memejamkan matanya, Erik pun langsung mencium bibirnya, dan Dinda pun mencoba untuk membalasnya mengikuti gerakan bibir Erik.
Sampai akhirnya mereka berdua pun saling balas-membalas ciuman tersebut, kemudian setelah puas membalas ciuman dari Erik, Dinda pun mencoba untuk menyudahinya dan langsung memeluk Erik dengan begitu eratnya.
"Eeemmm pak Eriiiiiik.?" Kata Dinda manja, sambil terus memeluknya dengan erat.
"Kamu seneng banget yah, peluk-peluk saya, hah.?" Bisik Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya, ia tersenyum karena senang melihat Dinda istrinya yang sekarang sudah berani memeluknya seperti itu, karena memang itu lah yang ia harapkan darinya.
Mendengar bisikan dari Erik, seketika wajah Dinda pun berubah menjadi merah karena malu, ia hanya bisa terdiam dan tidak bisa berkata-kata.
"Apa yang sekarang sedang gw lakukan.? Kenapa gw peluk pak Erik sih.? Terus ngapain coba tadi gw minta peluk sama dia.? Aduhhhh.! Kegatelan banget sih gw ini.? Bodoh, Bodoh, Bodoh.! Pasti pak Erik beranggapan, kalau gw ini cewek gampangan." Kata Dinda dalam hati panik, sepertinya ia sangat menyesal sudah berbuat seperti itu kepadanya.
"Dinda, kamu kenapa.? Kok diem.?" Kata Erik bingung melihat Dinda terdiam di pelukannya seperti itu.
"Aduuuhh, mati gw.! Gw harus ngomong apa sama pak Er,,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Dinda, kamu kenapa.? Kamu enggak papa kan.? Kok dari tadi kamu diem aja.?" Kata Erik lagi semakin bingung, kemudian ia pun mencoba untuk melepaskan pelukan Dinda dari tubuhnya.
__ADS_1
"P, p, pak Erik jangan pernah yah, ngelakuin ini lagi sama Dinda.!" Kata Dinda gugup dan panik.
"Maksudnya.?" Kata Erik semakin Bingung, karena ia benar-benar tidak tau apa maksud dari ucapannya itu.
"Ya yang baru pak Erik lakuin ke Dinda.? Pak Erik sengaja kan cari-cari kesempatan, supaya Dinda mau dipeluk-peluk pak Erik.? Supaya Dinda mau dicium-cium pak Erik, iya kan.?" Kata Dinda kesal, ia mencoba untuk menjelaskan kepada Erik apa maksud dari ucapannya itu.
Mendengar jawaban dari Dinda yang menurutnya tidak masuk akal, Erik pun tersenyum.
"Maksud kamu apa.? Bukanya kamu yang tadi mohon-mohon pengin dipeluk sama saya.?Lagian kan bukan sekali ini saja kita pelukan, kita udah pernah pelukan sebelumnya, dan kamu biasa-biasa aja, bahkan kamu malah sampai tidur dipelukan saya, iya kan.?" Kata Erik panjang lebar, dengan suara sedikit tinggi karena kesal.
"Tapi kan Dinda enggak minta cium.! Kenapa tadi pak Erik cium Dinda.?" Kata Dinda kesel.
"Kalau memang tadi kamu enggak mau di cium, kenapa tadi kamu balas ciuman saya.?" Kata Erik lagi semakin kesal dengan tingkah laku Dinda seperti itu.
"Y, y, ya terserah, mau Dinda balas apa enggak.! Pokonya jangan pernah pak Erik ngelakuin ini lagi sama Dinda.! Udah, udah cukup.! Ini yang terakhir.!" Kata Dinda gugup, dengan raut wajah merah karena malu.
Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun tersenyum sinis.
"Hemmm.! Dari pada kamu marah-marah enggak jelas kayak gini.? Lebih baik kamu kerjakan tuh.! Tugas dari saya." Kata Erik sambil menatap kearah tugas-tugas Dinda, yang belum ia kerjakan.
"Pak Erik enggak usah takut.! Nanti juga Dinda kerjain kok, tapi entar.! Habis Dinda pake ini dulu.!" Kata Dinda sambil menunjukkan cat kuku yang mau ia pake lagi kepada Erik, karena sekarang ia mau melanjutkan mengecat kuku-kuku cantiknya itu.
Melihat Dinda yang keras kepala, Erik lebih memilih diam, kemudian ia pun langsung melanjutkan kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.
2 jam berlalu,,,,
Erik pun akhirnya selesai mengerjakan pekerjaannya, setelah itu ia pun langsung bangun dari tempat duduknya, kemudian melangkah menuju ranjang untuk istirahat, namun belum sempat ia melangkah, ia sudah melihat Dinda yang tertidur dengan cat kuku yang berserakan diatas kasur, posisi tidurnya pun tidak teratur, karena sepertinya Dinda ketiduran saat ia memakaikan cat di kuku-kuku cantiknya, dan sepertinya Dinda juga belum sempat mengerjakan tugas darinya.
Melihat keadaan istrinya seperti itu, Erik pun tersenyum heran sambil menggelengkan kepalanya, kemudian melangkah menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya.
"Kenapa siiiiih, kamu itu susah banget dikasih taunyaaa, hah.?" Kata Erik sambil menatap dalam wajah cantik Dinda, sepertinya sekarang ini ia sudah mulai kepusingan menghadapi sikap Dinda yang sangat keras kepala itu.
"Ngerjain tugas juga belum, udah ketiduran kayak gini.? Mana ini cat kuku berantakan lagi enggak diberesin." Kata Erik lagi sambil tersenyum menatap kearah cat kuku Dinda yang berserakan diatas kasur, kemudian ia pun langsung membereskannya satu persatu dan menaruhnya di atas meja rias milik Dinda.
Setelah membereskan cat kuku tersebut, Erik pun langsung memindahkan tidurnya ke posisi tidur yg benar, kemudian menyelimutinya dengan pelan dan sangat hati-hati, kemudian ia pun ikut berbaring disampingnya, perlahan ia pun memeluk tubuhnya dari belakang.
"Eeeemmmm." Kata Erik gemas, sambil menciumi rambut, leher dan pundak Dinda dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang.
"Euuuummmm,,,,," Suara Dinda terusik dari tidurnya, mungkin karena ia merasa risih dengan sentuhan Erik, yang terus memeluk dan menciuminya seperti itu.
"Ssssssttttt,,,,," Kata Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda, agar ia tidak terbangun dari tidurnya.
"Hemmm.! Kamu itu lucu banget sih.? Kamu yang pengin dipeluk, tapi malah nyalahin saya, pake marah-marah enggak jelas lagi, emang segitu gengsinya yah kamu untuk ngaku kalau kamu yang mau.?" Kata Erik lagi sambil tersenyum dan terus mengusap-usap rambut Dinda.
__ADS_1
"Kamu tenang aja yah.? Kamu enggak usah takut.! Saya enggak akan berbuat macam-macam sama kamu kok, saya akan ngelakuin semuanya nunggu sampai kamu siap, supaya kita bisa menikmatinnya bersama-sama." Kata Erik sambil terus tersenyum dan menatap dalam wajah cantik Dinda, sepertinya sekarang ini ia sudah benar-benar jatuh hati kepadanya.