
2 jam berlalu,,,,,,
Akhirnya Erik pun sudah selesai bermain-main diatas ranjang bersama dengan Dinda, dan terlihat Dinda yang sedang terdiam dengan keadaan lemas tak berdaya dipelukan Erik.
Melihat keadaan istrinya seperti itu karena ulahnya, Erik pun tersenyum.
"Kamu kenapa diem aja, kamu lemes yah hah.?"
Kata Erik pelan dan penuh perhatian, sambil mengusap-usap rambut Dinda dengan penuh kasih sayang, karena ia memang selalu memperlakukannya seperti itu, apalagi setelah tau kondisinya yang sedang sakit seperti sekarang ini, ia pun akan berusaha lebih sayang dan perhatian lagi kepadanya.
"Iya Dinda lemes, solanya tadi mas mainnya lamaaa.?" Kata Dinda pelan, dengan keadaan yg masih sangat lemes dan tak berdaya karena permainan Erik malam ini memang benar-benar memakan waktu yang cukup lama, bagaimana mungkin tidak memakan waktu yang cukup lama, Erik bermain-main bersamanya dengan gerakan yang sangat pelan, karena seperti yang kita tau Erik memang sengaja bermain dengan gerakan seperti itu, karena kasihan kepada Dinda, ia takut kalau perut Dinda akan sakit lagi, karena ia ingat akan pesan dari Dokter Irvan semalam, karena sehabis berantem dengannya, Dokter Irvan banyak menceritakan dan menjelaskan kepada dirinya tentang apa saja yang harus dihindari untuk sementara waktu oleh Dinda, sebelum Dinda melakukan operasi, karena sepertinya Erik mau mengambil tindakan operasi untuknya, karena ia sangat ingin Dinda istrinya itu, bisa sembuh dari penyakitnya, dan itu pun Dokter Irvan yang menyarankan kepadanya.
Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun lagi-lagi tersenyum, kemudian ia pun langsung mengeratkan pelukannya itu ke tubuh Dinda.
"Eeeemmm kasihan, tadi mas mainnya lama yah, kamu jadi lemes kaya gini.?" Kata Erik tak tega melihat keadaan Dinda seperti itu.
"Ya udah, lebih baik sekarang kita bobo yah.? Biar kamu enggak lemes lagi, lagian mas juga capek banget nih dari kemaren belum istirahat." Kata Erik, ia mengajak Dinda untuk tidur karena ia benar-benar sangat capek, apalagi ia juga belum istirahat sama sekali dari kemaren, mengingat semalam ia bolak balik Jakarta, Bandung, Jakarta lagi tanpa istirahat.
"Iya mas." Kata Dinda singkat, kemudian ia pun langsung beranjak untuk tidur bersama dengannya, namun belum sempat mereka berdua tidur, tiba-tiba Erik dibuat kaget oleh Dinda, karena tiba-tiba Dinda mual-mual.
"Huekk,,,, huekk,,,, huekk,,," Suara Dinda mual-mual, dengan keadaan yang sangat lemas dipelukan Erik.
"Dinda, kamu kenapa.? Perut kamu mual.? Kamu mau muntah, hah..?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik melihat keadaan Dinda seperti itu.
"Iya mas Eriiiiik perut Dinda mu,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terhenti, karena tiba-tiba ia langsung muntah-muntah.
"Huek,,, huek,,, huek,,,," Suara Dinda muntah-muntah, dengan keadaan yang semakin lemas dan tak berdaya, bahkan saking lemasnya, ia sampai tak sadar jika muntahnya itu mengenai selimut dan seprai kasurnya, bahkan bukan hanya selimut dan seprai kasurnya, muntahannya pun terlihat cukup banyak mengenai tubuh dan perut Erik yang memang tidak memakai baju, mengingat Erik yang habis bermain-main dengannya dan langsung mengajaknya untuk tidur di pelukannya.
"Dinda kamu kenapa.? Kok kamu bisa muntah-muntah kaya gini sih.? Kamu masuk angin, perut kamu sakit lagi.?" Kata Erik tergesa-gesa dan semakin panik.
__ADS_1
Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda tidak menjawabnya sama sekali, ia malah justru langsung ketakutan.
"Ya ampun mas Eriiiik, Dinda minta maaf Mas.? Dinda enggak sengaja, Dinda bener-bener enggak sengaja muntah di perut mas, Dinda minta maaf.?" Kata Dinda tergesa-gesa sambil buru-buru membersihkan tubuh dan perut Erik menggunakan selimut yang sedang ia pakai.
"Dinda minta maaf mas Eriiiiikk, Dinda benar-benar enggak sengaja.?" Kata Dinda lagi masih ketakutan, sambil terus membersihkan tubuh dan perut Erik, ia meminta maaf seperti itu, karena ia memang benar-benar sangat takut kepadanya, karena dengan beraninya sudah muntah-muntah mengenai tubuh dan perutnya, ia takut kalau Erik akan marah, dan ia pun sangat yakin kalau Erik pasti akan marah, akan tetapi semuanya tidak seperti apa yang ia fikirkan.
Melihat Dinda ketakutan seperti itu, Erik pun langsung duduk disampingnya, kemudain ia pun langsung terdiam sambil menatap kearah Dinda yang sekarang ini masih terus membersihkan muntahan diperut dan tubuhnya, ia terdiam seperti itu karena sedih melihat Dinda istrinya yang seperti sangat ketakutan kepadanya.
Melihat Erik duduk dan terdiam seperti itu, Dinda malah justru semakin ketakutan, karena ia mengira kalau Erik benar-benar marah kepadanya, bahkan saking takutnya sampai-sampai ia hampir menangis.
"Dinda minta maaf mas Erik, Dinda enggak sengaja, Dinda minta ma,,,,,,,,,," Belum juga Dinda menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong, karena tiba-tiba Erik langsung memeluknya dengan begitu erat.
"Ssssssttttttt.! Kamu ngapain minta maaf sih sama mas.? Kamu takut banget yah sama mas, hah.?" Kata Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda, ia mencoba untuk menenangkanya.
Melihat Erik memeluknya seperti itu, seketika Dinda pun langsung menangis.
"Hiks,,,, hiks,,, hiks,,,," Suara Dinda menangis karena sedih, sekaligus lega akhirnya Erik tidak marah kepadanya.
"Ssssssttttt.! Kamu kenapa nangis siiih.? Udah udah, jangan nangis.!" Kata Erik pelan sambil terus mengusap-usap rambutnya.
Mendengar kata kata dari Dinda, Erik pun langsung melepaskan pelukannya, kemudian ia pun langsung menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam.
"Kamu takut banget yah sama mas.? Sampai-sampai kamu nangis kaya gini.? Kamu enggak usah takut yah.! Mas enggak akan marah kok sama kamu, lagian ini kan muntahan istri mas sendiri, ngapain mas harus marah.? Jadi sekaraaang,,,, udah, kamu jangan nangis lagi yah.? Mas enggak marah kok." Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap air matanya.
"Hiks,, hiks,, iya mas." Kata Dinda sambil menganggukkan kepalanya.
Melihat Dinda menganggukkan kepalanya, Erik pun tersenyum.
"Ya udah, sekarang kamu duduk di sofa dulu yah.? Biar mas ganti dulu seprai sama selimut nya, kan banyak muntahan kamu.?" Kata Erik penuh perhatian sambil tersenyum.
"Hiks,, hiks,, Iya mas." Kata Dinda lagi, kemudian ia pun langsung melangkah menuju sofa.
__ADS_1
Melihat Dinda melangkah menuju sofa, dengan segera Erik pun langsung mengganti semua seprai dan selimut yang terkena muntahannya itu, ia seperti itu karena ia memang benar-benar sosok suami yang bertanggung jawab dan suami Idaman, pantas saja banyak perempuan yang mengejar-ngejar dan ingin menjadi istrinya.
Melihat Erik yang sangat perhatian kepada dirinya, Dinda yang dari tadi sedang duduk di sofa pun langsung berjalan menghampirinya, kemudian ia pun langsung memeluknya dari belakang.
"Eeeemmm mas Eriiiik, Dinda sayang sama mas Eriiiiik.? Dinda minta maaf.! Dinda udah ngerepotin mas teruuus.?" Kata Dinda terharu sekaligus senang karena mempunyai suami seperti Erik yang sangat perhatian, bertanggung jawab, dewasa dan sangat menyayangi dirinya.
"Kamu itu ngomong apa siiiiih.? Mas udah berapa kali ngomong sama kamu, kamu itu istri mas.! Dan sudah kewajiban mas ngurusin kamu, apalagi dengan keadaan kamu yang sedang sakit seperti sekarang ini.?" Kata Erik sambil berbalik menghadap ke arah Dinda.
"Lagian kamu tenang aja.! Semua ini enggak geratis kok.!" Kata Erik lagi sambil tersenyum.
"Enggak gratis, maksudnya.? Dinda harus bayar sama mas.? Tapi Dinda enggak punya uaaaaaang, kan Dinda juga uang nya dari mas.?" Kata Dinda serius, karena sejak ia menikah dengan Erik, ia memang sudah tidak pernah mendapat jatah uang dari pak Irsyad dan ibu Yuli lagi, semua kebutuhannya sudah ditanggung oleh Erik suaminya.
Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun langsung tersenyum.
"Eeemmmm kamu enggak punya uang.? Kasihan banget sih.?" Kata Erik sambil terus tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.
"Kamu tenang aja yah.! Bayarnya enggak pakai unag kok.! Mas cuma mauuu, kalau seandainya suatu saat nanti mas sakit, kamu juga mau yah ngurusin mas.?" Kata Erik serius, namun entah apa maksud dari ucapannya itu.
"Mas enggak boleh sakiiiiiit.! Nanti kalau mas sakit, yang ngurusin Dinda siapaaaa.? Pokonya mas Erik enggak boleh sakit.! Enggak boleh.!" Kata Dinda merengkek manja seperti anak kecil, karena ia memang benar-benar takut kalau semua itu benar-benar terjadi, karena ia sudah menganggap Erik suami tersayangnya itu adalah pelindungnya dan hidupnya pun sudah sangat bergantung kepadanya.
Mendengar rengekan dari Dinda, Erik hanya tersenyum.
"Ya udah, mas mau lanjutin beresin seprai dulu, habis beresin seprai kita mandi yah.? Udah mau jam enam tuh.! Terus entar rada siangan kita ke dokter, kita periksa perut kamu ini.?" Kata Erik penuh perhatian, ia berbicara seperti itu karena memang benar, hari ini ia berniat mau mengajak Dinda periksa ke dokter.
"Asyiiiikk.! Nanti kita mandi bareng yah mas.?" Kata Dinda sambil tersenyum dan penuh semangat.
"Kenapa emaang.? Kamu udah kangen yah pengin mandi bareng mas lagi.?" Kata Erik sambil tersenyum menggodanya.
"Iya, Dinda udah kangen pengin mandi bareng mas lagi.?" Kata Dinda manja.
"Iyaaa, nanti kita mandi bareng lagi.! Lagian ini kamu juga harus dicuci nih.! Basah banget semalam, licin lagi pas mas mainin.?" Kata Erik sambil tersenyum menatap kearah bagian bawah Dinda, lagi-lagi ia menggodanya.
__ADS_1
"Eeemmm maaas.?" Kata Dinda merengkek dengan raut wajah merah karena malu.
Melihat raut wajah Dinda seperti itu, Erik pun lagi-lagi tersenyum.