DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 41


__ADS_3

"Lagian kamu tenang aja Din.! Dessy itu enggak bakalan mau kok sama suami kamu ini.? Gantengan juga mas Arya dari pada suami kamu ini.?" Kata Arya lagi, sambil tersenyum menggoda Erik, sebagai sahabat godaan Arya itu sudah biasa ia lakukan kepadanya.


"Enak aja kamu ngomong kaya gitu.? Ya jelas gantengan aku lah dari pada kamu.! Buktinya aja sekarang aku udah laku, ya enggak sayang.?" Kata Erik sambil tersenyum, menatap kearah Dinda.


"Iya dooong." Kata Dinda sambil tersenyum.


"Ahhh bohong loh Din, masa loh lebih belain laki-laki ini sih dari pada kakak kamu sendiri.?" Kata Arya kesel, karena Dinda lebih membela Erik.


"Iiiiiiihh maraaah.? Orang beneraan kok gantengan aku, iya enggak sayang.?" Kata Erik sambil tersenyum menggoda Arya lagi-lagi ia meminta pendapat kepada Dinda.


"Aaaahhhh.! Gw enggak percaya, kalau gw sama loh gantengan loh.? Masa ia sih, dulu Dessy lebih milih gw dibanding loh.? Kan dari situ juga udah jelas kali, kalau gw sama loh itu gantengan gw.?" Kata Arya sambil tersenyum, karena ia merasa menang dari Erik.


"Kok kamu jadi bawa-bawa masa lalu sih.?" Kata Erik sedikit panik, mendengar Arya berbicara seperti itu di depan Dinda, karena ia tau betul sifat Dinda itu seperti apa, apalagi berbicara mengenai Dessy.


"M, m, maksud mas Arya.?" Kata Dinda gugup dan bingung, karena ia memang benar-benar tidak tau tentang masa lalu mereka bertiga.


"Ohhh e, e, enggak sayang, enggak ada maksud apa-apa." Kata Erik gugup karena ia sedang berbohong.


"Mas Aryaaa, tolong jelasin sama Dinda.! Maksud mas Arya apaaa.? Mas Erik beneran suka sama ka Dessy.?" Kata Dinda panik, karena ia benar-benar sangat takut, kalau sampai Erik dan Dessy benar-benar mempunyai hubungan.


"Kok kamu nanya sama mas Arya sih.? Kamu tanya dong suami kamu.!" Kata Arya sambil tersenyum menggoda Erik, karena sepertinya ia sengaja berbicara seperti itu agar Erik semakin panik.


"Yah kayaknya ini anak lagi cari-cari masalah nih sama ak,,,," Seketika ucapan Erik terpotong.


"Mas Eriiiiiiik, mas Erik jawab dong.! Mas Erik suka yah sama kak Dessy.?" Kata Dinda sambil merengek sambil cemberut.


"Gara-gara kamu nih.!" Kata Erik kesal karena Arya mencoba memancing-mancing Dinda agar cemburu.


Melihat Erik sekesal itu, Arya malah justru tersenyum.


"Hayooo, ketahuan loh Rik sekaraaang.? Gw enggak ikut-ikutan yah.? Gw mah mau keluar aja ah nyamperin Dessy.! Baik-baik ya kalian berdua disini.? Inget.! Jangan BERANTEM.!" Kata Arya sambil tersenyum meledek Erik.


"Udah Din, marahin aja tuh suami kamu.!" Kata Arya lagi, sambil buru-buru pergi menghampiri Dessy, tentunya Arya nemanas-manasi Dinda seperti itu hanya untuk bercanda, karena sesungguhnya ia pun tidak benar-benar ingin melihat Dinda dan Erik berantem.

__ADS_1


"Hiks,, hiks,, mas Erik kenapa jahat sih sama Dinda.? Hiks,, hiks,, kalau mas Erik suka sama kak hiks,, hiks,, Dessy, kenapa mas Erik mau hiks,, hiks,, dijodohin sama Dinda.?" Kata Dinda sambil menagis karena cemburu,


Melihat Dinda menangis seperti itu, Erik pun langsung memeluknya.


"Ssssttttt udah jangan nangiiis.? Malu tuh.! Ada Dessy sama mas Arya di luar, entar mereka denger kamu nangis lagi, masa udah jadi istri masih nangis siiih.?" Kata Erik sambil mengusap-usap rambut Dinda, ia mencoba untuk menenangkannya.


"Lagian mas sama Dessy itu cuma masa lalu, dan sekarang mas udah enggak punya perasaan apa-apa kok sama Dessy, kamu percaya yah sama mas.?" Kata Erik serius, ia mencoba untuk menjelaskan sejelas-jelasnya kalau sekarang ini ia sudah tidak mempunyai perasaan apa-apa kepada Dessy


"Hiks,, hiks,, mas bohong.! Mas itu hiks,, hiks,, sebenarnya enggak hiks,, hiks,, sayang kan sama Dinda.?" Kata Dinda sambil terus menangis, karena sekarang ini ia benar-benar sangat cemburu


"Sayaaaaang, kamu percaya dong sama maaass.! Mas udah enggak punya perasaan apa-apa lagi sama Dessy.! Lagian kalau memang mas masih suka sama Dessy, mas enggak bakalan dong nikah sama kamuuu.? Dan mana mungkin juga siih, mas pengin cepet-cepet punya anak dari kamu.? kamu harus percaya yah sama mas.!" Kata Erik lebih serius lagi.


"Hiks,, hiks,, tapi mas enggak hik,, hiks,, bohong kan.?" Kata Dinda manja.


"Iyaaa, mas enggak bohong kok.! Kamu harus percaya sama mas yah.? Udah sekarang kamu jangan nangis lagi.!" Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap air mata Dinda.


"Hiks,, hiks,, iya mas." Kata Dinda sambil menganggukkan kepalanya, akhirnya ia percaya dengan penjelasan Erik.


"Eeeemmmm, kamu enggak boleh yaaah.? Kayak gitu lagi.! Kamu harus percaya sama mas.! Lagian mas enggak mungkin menyia-nyiakan istri mas ini, udah cantik, seksi dan paling bisa lagi buat suami kamu ini puas." Kata Erik sambil tersenyum menggoda Dinda.


"Eeeeemmm mas Eriiiik, Dinda pengin ciuuuum.!" Kata Dinda merengek manja seperti anak kecil.


Melihat tingkah laku istrinya seperti itu,, Erik pun tersenyum.


"Eeeeemmm istri mas ini manja banget siiih.? Penginnya dicium-cium mulu nih sama mas niiih.!" Kata Erik sambil terus tersenyum dan mencubit manja hidung Dinda.


"Sabar yaaaah.? Jangan disini, malu tuh.! Ada mas Arya sama Dessy mau kesini." Kata Erik sambil menatap kearah Arya dan Dessy yang sedang melangkah masuk menghampiri dirinya dan Dinda.


"Erik.? Kok kamu ada disini.? Kamu lagi ngajak istri kamu main disini juga.?" Kata Dessy kaget dan bingung, melihat Erik dan Dinda yang juga sedang berada di rumah adik Arya, ia bingung karena sampai sekarang ia belum tau kalau ternyata adik dari Arya itu adalah Dinda, yang tak lain istri dari Erik.


"Maaain, maksudnya.?" Kata Dinda yang juga bingung mendengar ucapan Dessy.


"Iya, kamu sama Erik disuruh main kesini juga sama mas Arya.?" Kata Dessy mencoba untuk menjelaskannya lagi.

__ADS_1


"Kita ini enggak lagi main, ini tuh kan emang rumah mas Erik." Kata Dinda masih kebingungan.


"Ini rumah mas Erik.? Maksudnya apa sih.? Aku enggak ngerti." Kata Dessy semakin kebingungan.


"Iya, ini kan emang rumah mas Erik, emang mas Arya enggak kasih tau kak Dessy, kalau mau main ke rumah mas Erik.?" Kata Dinda mencoba untuk menjelaskan.


"Tunggu dulu deh.! Tadi kamu panggil Arya apa.? Mas.? Maksudnya, kamu ini adik mas Ary,,,,," Belum sempat Dessy menyelsaikan ucapannya, namun sudah terpotong.


"Oh iya yank, gw lupa.! Gw belum sempat kasih tau kamu, kalau adik aku ya itu Dinda, istrinya Erik." Kata Arya dengan suara sedikit tinggi, karena ia baru sadar kalau ternyata ia belum memberi tahu Dessy, kalau adiknya itu adalah Dinda, yang tak lain istri dari Erik sahabatnya.


"Ya ampun yaaaank, kok kamu enggak pernah ngomong sih.? Kalau Istri Erik itu adik kamu.?" Kata Dessy kaget mendengar ucapan Arya.


"Iya yank, aku minta maaf yah belum sempat ceritain ini semua sama kamu.? Sekarang biar aku jelasin yah.?" Kata Arya, kemudian ia pun langsung menjelaskan kepada Dessy tentang semuanya, awal mula Erik dan Dinda mengapa bisa sampai menikah seperti sekarang ini.


"Ooooh gitu ceritanya.? Kalian menikah karena dijodohin.?" Kata Dessy kaget dan tak percaya mendengar penjelasan dari Arya.


"Ya gitu deh.!" Kata Erik sambil tersenyum.


"E, e, ehhhh mau sampai kapan kalian berdua berdiri disitu.! Lebih baik sekarang kita masuk, kita makan bareng-bareng yuks.!" Kata Erik lagi mengajak Dessy dan Arya makan bersama.


"Oh iya bener mas.! Dinda juga udah laper bangeeet nih.!" Kata Dinda sambil memegangi perutnya karena sekarang ini ia benar-benar sudah lapar.


"Iya sayaaaang." Kata Erik sambil tersenyum.


"Ya udah ayo kita masuk.!" Kata Erik lagi sambil buru-buru melangkah masuk menuju meja makan, diikuti oleh Dinda, Arya dan juga Dessy dari belakang, kemudian mereka berempat pun makan bersama, sambil ngobrol-ngobrol, bercanda-canda, ketawa-ketawa yang jelas mereka berempat pun terlihat sangat bahagia, hingga akhirnya hari pun semakin malam, dan akhirnya mereka berdua pun pulang.


Setelah mereka berdua pulang, Erik dan Dinda pun langsung melangkah menuju kamarnya, namun belum sempat mereka melangkah tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Awww Aduh, aduh.! Sakiiitt mas, perut Dinda sakiiiiiit.?" Kata Dinda mereunyi kesakitan sambil memegangi erat perutnya.


"Sayang, kamu kenapa sayang.? Kamu enggak papa kan.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik, sambil buru-buru merangkul pundaknya.


"Perut Dinda sakit maaas.? Aww, aduh, aduh.! Sakit maaas.? Dinda enggak kuat sakiiiit bangeeet.?" Kata Dinda lagi sambil terus mereunyi kesakitan, karena perutnya sekarang ini benar-benar terasa sangat sakit, dan sebenarnya ini bukan pertama kalinya ia merasakan sakit diperutnya seperti itu, saat ia sedang menstruasi pun ia sering sekali merasakan hal yang serupa, bahkan saat ia sedang berhubungan suami istri dengan Erik pun ia pernah menangis karena merasakan sakit, namun ia tidak pernah memberi tahu kepadanya karena ia tidak mau merepotkannya, apalagi mengingat pekerjaannya yang sangat banyak, pagi-pagi ia harus ke kampus dan diwaktu siang lagi ia pun harus kekantor pak Irsyad Ayahnya, bahkan kadang-kadang ia pun bisa pulang sampai larut malam dari kantor karena lembur.

__ADS_1


__ADS_2