
"Ia mba, maksudnya apa.? Bang Diki itu siapa.? Tolong kasih tau Tante.! Siapa itu Bang Diki.?" Ucap Ibu Lia tergesa-gesa karena saking penasarannya.
"I, i, itu Tan, Bang Diki itu sahabatnya mas Devano.! A, a, Alana cuma sedikit curiga aja, kalau Bang Diki lah pelakunya." Ucap Alana mencoba untuk menjelaskan siapa itu Diki sebenarnya.
"Enggak, enggak mungkin.! Kamu ini ngomong apa sih sayang.? Mana mungkin Diki itu ngelakuin hal sebejad itu.!" Ucap Devano tak terima dengan ucapan Alana istrinya, karena menurutnya Diki itu bukanlah orang yang seperti itu.
"Mas, tapi Alana ngomong kayak gini itu bukan tanpa alasan loh mas, soalnya waktu itu Alana itu pernah lihat,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.
"Udah sayang, udah.! Cukup.! Kamu jangan bicara tentang Diki yang enggak-enggak.! Lagian mana mungkin Diki itu tega ngelakuin hal seperti itu sama Renata.! Karena mas ini tau betul Diki itu orangnya kayak gimana, dan mas juga sangat yakin, kalau anak yang sedang Renata kandung sekarang ini.! Itu bukan anak Diki.!" Ucap Devano dengan sangat yakin kalau ucapan Alana istrinya itu salah.
"Iya kan Ren.?" Ucapnya lagi mencoba untuk memastikannya, namun sayang Renata tidak bisa menjawabnya ia malah justru menangis.
"Kenapa loh malah nangis Ren.? Jawab.!" Ucap Devano dengan suara tinggi.
"Anak yang sekarang ini loh kandung, itu bukan anak Diki kan.?" Ucapnya lagi.
"Hiks,, hiks,, loh salah Dev.! Hiks,, hiks,, loh salah.! Hiks,, hiks,, dan benar kata Alana, kalau anak yang sedang gw kandung sekarang ini.! Hiks,, hiks,,, itu adalah anak, hiks,, hiks,, Bang Diki, Dev." Ucap Renata sambil terus menangis, ia mencoba untuk meyakinkannya kalau ucapan Alana itu benar.
"Enggak, enggak mungkin.! Gw enggak percaya.! Loh pasti bohong kan Ren.? Loh pasti boh,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Sssttttt.! Mas itu apa-apaan sih.?" Ucap Alana sedikit kesel, sambil buru-buru menarik tangannya dan mengajaknya untuk keluar dari ruangan tersebut.
"Maaf yah Tan, kak Renata juga.! Alana sama mas Devano pamit pulang dulu." Ucap Alana dengan sangat sopan, ia sengaja mengajak Devano untuk pulang sekarang juga, karena ia takut kalau ucapannya itu akan membuat Renata stress, karena ia ingat betul apa yang tadi Dokter Dita sempat pesankan kepada Ibu Lia, kemudian ia pun langsung buru-buru mengajak Devano keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Renata dan Ibu Lia hanya berdua.
"Sayang, apa benar kata perempuan tadi.! Kalau anak yang ada di dalam kandungan kamu ini.! Adalah anak Diki, sahabatnya Devano.? Dan kalau memang itu benar, sebenarnya Diki itu siapa sayang.? Seperti apa babat, bibit, bobotnya.?" Ucap Ibu Lia yang sudah mulai sedikit tentang, sepertinya sekarang ini ia semakin penasaran dengan siapa itu sosok Diki sebenarnya.
"Hiks,, hiks,,, bener mah, anak yang Renata kandung sekarang ini adalah anak Bang Diki temennya Devano.! Dan Bang Diki itu bukanlah orang penting ataupun orang kaya mah.! Bang Diki hanyalah seorang laki-laki yang terlahir dari keluarga biasa yang sudah lama ditinggalkan oleh kedua orangtuanya meninggal, dan Bang Diki juga adalah sosok kakak yang sangat bertanggung jawab terhadap adik-adiknya. Hiks,, hiks,,, dan mungkin itulah salah satu alasan Renata mengapa bisa jatuh cinta sama Bang Diki.! Hiks,, hiks,, tapi Renata bener-bener enggak tau kalau ternyata Bang Diki itu cuma niat mau main-main doang sama Rena,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong.
"Dasar anak enggak tau diri.!" Ucap pak Edo yang baru saja datang dan masuk ke dalam ruangan tersebut dengan raut wajah yang penuh dengan emosi, kemudian ia pun langsung menampar Renata putri kesayangannya itu dengan sangat kencang PLAAAK.!
"Aw.!" Ucap Renata kesakitan sambil memegangi pipinya.
"Pah.! Papah ini apa-apaan sih pah.? Kenapa papah tampar Renata kayak gitu.!" Ucap Ibu Lia dengan suara tinggi, karena ia benar-benar tidak terima pak Edo suaminya menampar Renata putri kesayangannya seperti itu, karena semarah-marahnya Ibu Lia, ia tidak pernah sekasar itu terhadap anak-anaknya.
"Biarin aja mah.! Biar anak enggak tau diri ini dikasih pelajaran.!" Ucap pak Edo dengan suara tinggi sambil menunjuk ke arah Renata yang sedang kesakitan dan masih terbaring lemah diatas ranjang.
"Papah bener-bener enggak nyangka, Renata anak kesayangan papah.! Yang selalu papah bangga-banggakan, bisa melakukan hal serendah ini dan mencoreng nama baik keluarga.! Papah bener-bener kecewa sama kamu Ren.! Papah bener-bener kecewa.!" Ucap Pak Edo marah.
"Hiks,, Hiks,,, Renata minta maaf pah.! Hiks,, hiks,, Renata benar-benar minta maaf.! Hiks,, hiks,, kalau memang papah mau marah sama Renata, hiks,, hiks,, enggak papa pah.! Hiks,, hiks,, marahin aja Renata.! Hiks,, hiks,, marahin aja Renata pah.!" Ucap Renata sambil terus menangis dan sujud dikaki pak Edo, sehingga ibu Lia pun tak tega melihatnya.
"Sayang, kamu ini apa-apaan sih sayang.? Cukup sayang.! Kamu ini enggak perlu kayak gini.!" Ucapnya sambil buru-buru mengangkat tubuh Renata dari kaki pak Edo suaminya, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan erat.
"Hiks,, hiks,, kamu itu enggak perlu kayak gini sayang.! Hiks,, hiks,, kamu itu enggak perlu kayak gini.! Hiks,, hiks,, semua ini bukan salah kamu sepenuhnya sayang, hiks,, hiks,, bukan salah kamu sepenuhnya." Ucapnya lagi sambil menangis dan mengusap-usap rambut Renata yang masih berada dipelukannya.
__ADS_1
"Hiks,, hiks,, tapi Renata udah bikin kesalahan besar sama mamah dan juga papah mah, hiks,, hiks,, Renata udah bikin malu keluarga.! Hiks,, hiks,, dan Renata juga udah bikin,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong.
"Aaahhh udah cukup.! Semuanya sudah terlanjur terjadi, yang terpenting untuk sekarang ini.! Kamu kasih tau papah.! Siapa laki-laki yang udah berani buat kamu kayak gini.!" Ucap Pak Edo masih penuh dengan emosi, namun sayang lagi-lagi Renata tidak menjawabnya.
"Kenapa kamu diam aja.! Jawab sayang.! Siapa laki-laki yang udah berani buat kamu kayak gini.!" Ucap pak Edo lagi dengan suara tinggi sambil menggoyang-goyangkan pundaknya.
"Udah pah, cukup pah, cukup.! Kondisi Renata sekarang ini lagi enggak stabil pah.! Renata harus banyak-banyak istirahat.! Enggak sepantasnya papah marahin dia kayak gini.!" Ucap Ibu Lia dengan suara tinggi sambil menarik tangan pak Edo dari pundaknya.
"Sekarang biar mamah yang jawab semuanya." Ucapnya lagi dengan tegas dan jelas, kemudian ia pun langsung menceritakan semuanya kalau Diki lah pelakunya, seorang lelaki yang tidak mau bertanggung jawab, dan ia pun menceritakan siapa itu sosok Diki sebenarnya, seperti apa babat bibit bobotnya, seperti yang Renata ceritakan kepadanya tadi.
"Dasar bocah ingusan.! Beraninya dia enggak mau bertanggung jawab setelah apa yang telah dia lakukan kepada putri saya.!" Ucap Pak Edo semakin marah, ia tak terima dengan keputusan sepihak dari Diki.
"Rupanya itu bocah ingusan mau main-main sama saya." Ucapnya lagi dengan tatapan mata yang sangat tajam, kemudian ia pun langsung mengambil ponselnya dan langsung menelepon seseorang.
"Ia Lex, ini Bapak.! Tolong sekarang juga kamu kumpulkan semua anak buah kamu.! Karena hari ini ada tugas penting untuk kalian.!" Ucap pak Edo dengan sangat tegas, sambil berjalan keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Renata dan ibu Lia hanya berdua.
"Hiks,, hiks,, mah, papah mau kemana.? Hiks,, hiks papah enggak akan sakiti Bang Diki kan mah.?" Ucap Renata panik dengan keadaan yang semakin lemah.
"Udah sayang, kamu yang tenang aja yah.? Papah kamu pasti tau kok, mana yang harus papah kamu lakukan dan mana yang enggak." Ucap Ibu Lia mencoba untuk menenangkannya.
"Jadi lebih baik, sekarang kamu istirahat.! Lihat nih.! Muka kamu udah pucet banget." Ucap ibu Lia dengan penuh perhatiannya sambil mengusap-usap rambutnya.
"Iya mah." Ucap Renata pelan, kemudian ia pun langsung melangkah secara perlahan menuju tempat tidurnya kembali.
"Apa lebih baik, Renata gugurin kandungan Renata aja.? Biar papah sama mamah enggak malu lagi." Ucapnya lagi mencoba untuk memberi saran seperti itu.
"Hussttt.! Kamu ini ngomong apa sih sayang.?" Ucap Ibu Lia.
"Kamu ini enggak boleh ngomong kayak gitu sayang.! Anak yang ada didalam perut kamu ini sama sekali enggak punya salah dan enggak punya dosa sayang, jadi kamu enggak boleh berniatan seperti itu.! Lagian kamu juga kan tau, anak yang ada didalam perut kamu ini adalah darah daging kamu.! Cucu mamah. Dan mau bagaimana pun keadaannya, mamah akan menyainginya sama seperti mamah menyayangi kamu sayang.! Dan mamah juga berharap kamu bisa seperti mamah." Ucapnya lagi mencoba untuk menasehatinya.
"Hiks,, hiks,, ia mah, Renata janji.! Renata enggak akan pernah berniat seperti itu lagi, dan Renata juga janji.! Mau bagaimana pun keadaan anak Renata ini nanti, mau anak Renata ini punya ayah atau pun enggak, Renata akan mempertahankan anak Renata ini semampu Renata.! Dan Renata juga akan menyayangi anak ini.! Sama seperti mamah menyayangi Renata." Ucap Renata sambil menangis.
"Iya sayang." Ucap ibu Lia sambil tersenyum karena ia sangat bangga dengan jawaban Renata putri kesayangannya itu.
DI TEMPAT BERBEDA, DI PERJALANAN.
Terlihat Devano dan Alana yang sedang dalam perjalanan pulang, sambil terus meributkan masalah Diki dan Renata.
"Sekarang mas udah denger sendiri kan.? Kalau emang Bang Diki yang udah hamilin kak Renata." Ucap Alana sedikit kesel karena tadi Devano suaminya itu sempat tidak percaya dengan ucapannya, ia berbicara seperti itu karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi itu ia dan Devano tidak sengaja mendengar perdebatan antara Renata, Pak Edo dan Ibu Lia.
"Iya sayang, tapi mas masih bener-bener enggak nyangka kalau Diki bisa berbuat seperti itu.!" Ucap Devano masih tak percaya dengan perbuatan bejat Diki, kemudian ia pun langsung terdiam sambil terbengong.
"Kalau memang benar Renata hamil anak Diki. Berarti sekarang ini Diki lagi dalam masalah besar, kayaknya sekarang ini gw harus cepat-cepat temu Diki dan bujuk dia supaya dia mau bertanggung jawab." Ucap Devano dalam hati sedikit panik akan nasib sahabatnya itu, karena ia tau betul siapa itu pak Edo dan seperti apa orangnya, sepertinya meskipun sekarang ini hubungannya dengan Diki sedang kurang baik, ia tidak bisa membohongi perasaannya, kalau sekarang ini ia memang sangat-sangat mengkhawatirkan keadaannya.
__ADS_1
"Karena kalau sampai Diki enggak mau bertanggung jawab, bisa habis dia dihajar oleh pak Edo beserta dengan anak buahnya.!" Ucapnya lagi dalam hati serius.
"Iya, kayaknya sekarang ini gw memang harus ke rumah Diki.! Sebelum pak Edo beserta anak buahnya yang terlebih dahulu datang ke sana." Ucapnya lagi dalam hati.
DI RUMAH DIKI.
Waktu menunjukkan pukul 07:00 Malam.
Terlihat Diki, Siska dan Dimas yang dari tadi sedang ngobrol dengan sangat serius.
"A, a, apa.! Minggu besok Bang Diki mau nikah sama Anita.?" Ucap Siska gugup karena saking kagetnya mendengar ucapan dari Diki Abangnya itu.
"I, i, iya Bang, ini serius Bang.? Abang enggak lagi bercanda kan.?" Ucap Dimas yang juga gugup karena saking kagetnya mendengar ucapannya itu.
"Abang serius. Minggu besok Abang memang mau nikah sama Anita.! Doain Abang yah, semoga acara pernikahan Abang sama Anita berjalan dengan lancar." Ucap Diki sambil tersenyum, ia mencoba untuk meyakinkannya lagi.
"Enggak, enggak mau.! Pokoknya Siska enggak setuju kalau Abang nikah sama Anita." Ucap Siska serius, kalau ia memang benar-benar tidak setuju jika Diki Abangnya harus menikah dengan Anita perempuan yang selama ini hanyalah mempermainkannya saja.
"Iya sama, Dimas juga enggak setuju.!" Ucap Dimas ngambek, sehingga membuat Diki pun sedikit emosi.
"Kalian ini sebenarnya pada kenapa sih.? Bukannya kalian yang dari dulu udah nyuruh Abang untuk cepet-cepet nikah.?" Ucap Diki bingung dengan pendapat dari adik-adiknya itu.
"Ia Bang, emang Siska yang dari dulu udah nyuruh Abang untuk cepet-cepet nikah.! Tapi enggak harus dengan Anita juga kali Bang.?" Ucap Siska sedikit kesel, karena ia benar-benar tidak tau lagi apa yang sebenarnya sedang terjadi kepada Diki Abangnya, sehingga membuatnya menjadi bodoh seperti itu, sudah berkali-kali disakiti tapi masih saja mau memaafkannya, dan malah justru mau menikahinya.
"Iya Bang, Abang ini sebenarnya kenapa sih.? Emang Abang enggak sadar apa.! Abang ini udah berkali-kali loh disakiti sama kak Anita." Ucap Dimas yang juga kesel dengan keputusan Diki Abangnya itu.
"Pokoknya Dimas enggak setuju kalau Abang mau nikah sama kak Anita.! Dimas setujunya Abang nikah sama kak Renata.!" Ucapnya lagi mencoba untuk memberikannya pendapat.
"Ia sama, Siska juga setujunya Abang nikah sama kak Renata.! Karena kak Renata itu orangnya baik, enggak kayak Anita yang bisanya cuma mempermainkan Abang do,,,,,,,,," Seketika ucapan Siska terpotong.
"Aaahhh udah cukup.! Berhenti yah kalian membanding-bandingkan antara kak Renata dengan kak Anita.! Dan Abang juga minta sama kalian berdua.! Berhenti sebut-sebut nama kak Renata lagi didepan Abang.!" Ucap Diki marah.
"Dan satu lagi.! Mau kalian setuju atau enggak Abang nikah sama Anita, Abang akan tetep nikahin dia.!" Ucapnya lagi dengan tegas dan jelas, kemudian ia pun langsung melangkah keluar dari dalam rumahnya meninggalkan mereka berdua, namun baru saja ia sampai depan rumah, tiba-tiba langkahnya terhenti.
"D, D, Devano.?"
Ucapnya gugup karena saking kagetnya melihat Devano yang tiba-tiba mau berkunjung lagi ke rumahnya.
"Diki.?"
__ADS_1
Ucap Devano sambil menatap kearahnya dan buru-buru lari menghampirinya.