DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 60


__ADS_3

Dinda masih terus menangis dan teriak-teriak memanggil nama Erik tanpa henti-hentinya, sambil terus menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan sangat kuat agar bangun.


"Hiks,, hiks,, mas Erik banguuuuun.! Hiks,, hiks,, bangun mas.! Hiks,, hiks,, mas Erik banguuuunnn.! Hiks,, hiks,, jangan tinggalin Dinda mas Erik.! Hiks,, hiks,, mas Erik jangan tinggalin Din,,,,,,,,,,,," Seketika teriakan Dinda terhenti, karena ia mendengar ada seseorang yang sedang membangunkannya dari tidur.


"Dindaaa, sayaaang, kamu kenapaa.? Bangun sayang, bangun.!" Kata orang tersebut panik, sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya agar terbangun dari tidurnya, karena ternyata dari tadi ia sedang bermimpi.


"Hiks,,, hiks,,, jangan mas Erik.! Hiks,,, hiks,,, jangan tinggalin Dinda.! Hiks,,, hiks,,,, jangan.!" Teriak Dinda lagi sambil terus menagis dan masih terus memejamkan matanya.


"Sayaaang, bangun sayang.! Kamu kenapaaa.? Buka matanya sayang.! Bangun.!" Kata orang tersebut lagi semakin panik, sambil terus menggoyang-goyangkan tubuhnya agar terbangun.


Mendengar suara orang tersebut membangunkannya, seketika Dinda pun langsung terbangun dari tidurnya, dan kemudian langsung duduk.


"Hiks,, hiks,, jangan tinggalin Dinda mas Erik.! Hiks,, hiks,, jangan tinggalin Dind,,,,,,,,," Seketika teriakan Dinda terpotong.


"M, m, mas Eriiiiik.?" Kata Dinda gugup dan kaget, sambil menatap Erik, ia Erik yang sedang duduk tepat dihadapannya, karena orang yang sedang membangunkannya itu ternyata adalah Erik suaminya yang baru saja sampai dari Jepang.


"Sayang, kamu kenapa.? Kamu mimpi.?" Kata Erik pelan sambil menatap dalam wajah cantik Dinda.


Mendengar ucapan Erik, Dinda tidak menjawabnya, ia justru langsung memeluknya dengan begitu erat.



"Hiks,,, hiks,,, mas Erik jangan tinggalin Dinda.! Hiks,, hiks,, jangan mas Erik.! Hiks,, hiks,, Dinda enggak mau mas Erik tinggalin.? Hiks,, hiks,, Dinda enggak mau.?" Kata Dinda lagi tergesa-gesa dan ketakutan, sambil terus memeluknya dengan erat, seakan tak mau berpisah dengannya seperti apa yang ada di dalam mimpinya tadi.


Mendengar kata-kata dari Dinda, perlahan Erik pun mencoba untuk melepaskan pelukannya itu, kemudian ia pun langsung menatap wajahnya dengan tatapan yang sangat dalam.


"Sayaaaang, mas ada disiniii.! Mas enggak akan kemana-mana kok, kamu mimpi yah sayang, hah.? Kamu mimpiiii.?" Kata Erik pelan, ia mencoba untuk meyakinkan Dinda kalau sekarang ini ia tidak meninggalkannya.


"Hiks,, hiks,,, maaas.?" Kata Dinda sambil terus menangis, kemudian ia pun langsung memeluk Erik kembali dengan begitu eratnya.


"Eeeeeemmm kasihan istri mas ini, kamu mimpiiiii, hah.?" Kata Erik sambil mengusap-usap rambut Dinda dengan penuh kasih sayang.


"Hiks,, hiks,, ia, tadi Dinda hiks,, hiks,, mimpi.? Hiks,, hiks,, mas Erik hiks,, hiks,, jahat sama hiks,, hiks,, Dindaaa, hiks,, hiks,, mas Erik ninggalin hiks,, hiks,, Dinda sama hiks,, hiks,, Dedeeee.? Dinda hiks,, hiks,, takut mas Eriiiiik, Dinda hiks,, hiks,, takuuuuut.? Dinda takut hiks,, hiks,, mas ninggalin hiks,, hiks,, Dinda sama hiks,, hiks,, Dedeeee." Kata Dinda dengan suara bergetar karena menangis.


"Sssstttt.! Udah, udah jangan nangiis.! Kasihan kamu, tadi kamu mimpi mas ninggalin kamu sama Dedeee, hah.? Kamu takut banget yah.? Sampai-sampai kamu nangis kayak gini.! Udah kamu enggak usah takut.! Kamu cuma mimpi kok sayang, kamu cuma mimpi, yaaah.? Mas ada disini kok, mas enggak akan pernah ninggalin kamu sama Dede.! Enggak, enggak akan pernah.! Jadi sekaraaaang, sssssttttt udah.! Jangan nangis lag yaaaah.?" Kata Erik pelan, ia mencoba untuk menenangkannya sambil tersenyum mengusap-usap rambutnya.


Mendengar kata-kata dari Erik, perlahan Dinda pun melepaskan pelukannya itu.

__ADS_1


"Mas janji.! Mas enggak boleh ninggalin Dinda sama dede kayak dimimpi Dindaaaa.! Dinda enggak mau maaas, Dinda enggak mauuuu, Dinda enggak mau mas ninggalin Dindaaa.! Kalau mas ninggalin Dinda, nanti dede diperut gimanaaa.? Dede sama Dinda masih butuh mas.! Dede sama Dinda sayang banget sama maaas.?" Kata Dinda merengek manja seperti anak kecil, sepertinya ia memang benar-benar sangat takut jika harus kehilangan Erik suami tersayangnya itu seperti apa yang ada didalam mimpinya.


Mendengar rengekan Dinda, Erik pun tersenyum.


"Iyaaa, mas janji.! Mas enggak akan pernah ninggalin kamu sama dede, dan asal kamu tau.! Mas juga sayaaaang banget sama kamu dan juga sama dede kita ini.! Jadi sekaraaang, kamu enggak usah takut lagi, yaaah.? Lagian kan sekarang mas udah pulang, mas udah ada di samping kamu.! Kalau kamu ketakutan terus kaya gini.? Kasihan dede diperut, nanti dede enggak sehat lagi diperut kamu." Kata Erik pelan, sambil mengusap-usap perut Dinda dengan penuh kasih sayang.


"Enggak boleeeeh.! Dede enggak boleh sakiiiiiit.? Dede harus tetep sehat diperut Dindaaa, Dinda sayang sama Dedeee." Kata Dinda dengan sangat manjanya.


Melihat tingkah laku istrinya yang sangat manja, lagi-lagi Erik pun tersenyum.


"Iyaaa, dede enggak bakalan sakit kok.! Yang pentiiiiing, kamu jangan terlalu banyak pikiran.! Kalau kamu banyak pikiraaaan, nanti dede nya sakit, kamu enggak mau kan kalau dede sampai sakit.?" Kata Erik dengan sabarnya sambil mengusap-usap rambut Dinda.


"Enggak mau, Dinda enggak mau dede sakiiiit.?" Kata Dinda, sambil menggelengkan kepalanya.


"Ya udah.! Kalau gituuu, lebih baik sekarang kita bobo yah.? Mas itu udah kangeeeeen banget sama kamu tau enggak, hah.?" Kata Erik sambil tersenyum dan mencubit manja hidung Dinda, ia mengajaknya untuk tidur, karena ia memang sudah sangat kangen dan ingin cepat-cepat bermain-main dengannya diatas ranjang.


Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda pun langsung tersenyum.


"Eemmmm, Dinda juga kangen sama massss.? Ayo sekarang bobo, cepetaaaan.! Dinda pengin mas cepet-cepet mainin Dindaaa.!" Kata Dinda merengek manja seperti anak kecil, karena ia pun sama seperti Erik sudah tidak sabar ingin cepat-cepat bermain-main diatas ranjang dengannya, apalagi mengingat sudah tiga hari tubuh seksinya itu tidak dimainin oleh Erik diatas ranjang, karena biasanya hampir setiap malam tubuh seksinya itu selalu Erik mainin.


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun tersenyum, perlahan ia pun membaringkan tubuhnya dan tubuh Dinda diatas ranjang, sambil membelai lembut wajah cantik Dinda menggunakan jari tangannya.


"Iyaaa, Dinda pengin cepet-cepet dimanin sama mas.?" Kata Dinda merengek manja.


"Sama, mas juga udah enggak sabar pengin cepet-cepet mainin tubuh istri mas yang seksi ini.! Tadi istri mas yang cantik ini udah istirahat kan, udah bobo.?" Kata Erik sambil terus memandangi dan membelai-belai wajah cantik Dinda.


"Iya, tadi Dinda udah istirahat, Dinda juga udah bobooo, emang kenapa.?" Kata Dinda penasaran, sebenarnya apa yang akan Erik lakukan kepadanya, mengapa ia menyuruhnya untuk istirahat dan tidur, bahkan sejak ia masih berada di Jepang.


"Kamu tau, kenapa mas nyuruh kamu untuk istirahat dan bobo sebelum mas pulang.? Karena malam ini mas mau mainin tubuh seksi kamu ini sampai pagi sayang.? Mas pengin mainin tubuh seksi kamu ini yang lama, mas kangen banget sayang, mas kangen banget sama kamu.! Malam ini kamu bisa kan bikin mas mu ini puas.? Kamu bisa kan layananin mas mu ini sampai pagi, hah.?" Kata Erik penuh dengan nafsu.


"Iyaaa, Dinda bisa kok bikin mas puaaaas.! Dinda juga bisa main-main sama mas samapi pagi." Kata Dinda sambil menatap dalam wajah tampan Erik.


"Sekarang cepetaaan, mas mainin Dindaaaa.! Dinda udah pengin cepet cepet mas mainiiiiin.?" Kata Dinda tak sabar.


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun tersenyum, kemudian tanpa basa-basi ia pun langsung menciumi telinganya dengan sangat rakus.


"Awwww mas Eriiiiik.? Aawww, pelan-pelaan maaaas.! Awww." Kata Dinda merintih kenikmatan sambil memeluk tubuh Erik dengan begitu eratnya.

__ADS_1


Mendengar Dinda merintih seperti itu, Erik tidak perduli, ia pun terus menciumi telinganya dengan sangat rakus dan tanpa henti-hentinya.


"Awww mas Eriiiiiik.? Awww, aw enaak maasss.? Mas Eriiik awww.! Enaaak.?" Kata Dinda terus merintih kenikmatan, dengan Keadaan yang sangat lemas dan tak berdaya dipelukan Erik.


Melihat keadaan Dinda seperti itu, nafsu Erik semakin menggila, dengan segera ia pun langsung membuka baju dan pengait bra Dinda dengan sangat kasar.


"Mas Eriiik, pelan-pelaaaaaan.! Dinda takuuuut.?" Kata Dinda merengek dengan sangat manjanya.


"Iya sayaaang, ini juga udah pelan kok.!" Kata Erik dengan suara nafas yang terdengar sangat ngos-ngosan, sambil terus membuka baju dan pengait bra Dinda, kemudian ia pun langsung melampiaskan nafsunya malam itu juga bersama Dinda, bahkan malam itu mereka berdua pun terlihat sangat sibuk bermain-main diatas ranjang.


"Mainnya sambil duduk yah sayang.?" Kata Erik dengan suara nafas yang terdengar masih sangat ngos-ngosan, sambil mengangkat tubuh Dinda keatas pangkuannya, kemudian ia pun langsung memulai kembali permainannya itu sambil menciumi habis bibirnya.



"Aw mas, sakit maaas.? Pelan-pelaaan.! Aawwww sakit maaas.?" Kata Dinda merintih kesakitan sekaligus mendesah kenikmatan sambil memeluk tubuh Erik dengan begitu eratnya.


"Iya sayaaaang, tahan yaaaah.? Sebentar lagi keluar nih.!" Kata Erik masih ngos-ngosan, sambil terus bermain-main dengan Dinda, hingga akhirnya ia pun berhasil melampiaskan seluruh nafsunya itu sampai pagi seperti apa yang ia inginkan.


MASIH DI KAMAR DINDA.


Waktu menunjukkan pukul 10:00 Pagi.


Terlihat Erik dan Dinda yang baru saja selesai mandi dan sekarang sedang berbaring di atas sofa.



"Gimana sayang, tadi sakit banget yah.?" Kata Erik pelan, sambil menciumi rambut Dinda dengan penuh kasih sayang.


"Iya sakiiiit." Kata Dinda merengek dengan sangat manjanya dipangkuan Erik.


"Eeeemm kasihan nih istri mas.? Mas tiupin yah, biar enggak sakit lag,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong.


"Eemmmm enggak mau, enggak mau, enggak mau.!" Kata Dinda tergesa-gesa dan ketakutan.


"Loh kok enggak mau sih sayang.? Emang kenapaaa.?" Kata Erik sambil tersenyum.


"Enggak mau.! Soalnya kalau ini Dinda mas tiupin, nanti sama mas suka sambil dijilatin lagi, suka mas mainin pakai tangan, terus punya mas dimasukin lagi deh sama mas ke ini Dinda.! Enggak mau maaas, sakiiiit.?" Kata Dinda merengek ketakutan sambil menatap kearah bagian bawahnya, karena tanpa sepengetahuan dari kita Erik memang selalu seperti itu saat ia meniupi bagian bawahnya itu.

__ADS_1


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun langsung tersenyum.


"Iya enggak sayang, enggaaak.? Eemmmm istri mas ini ketakutan banget siiiih, hah.?" Kata Erik sambil terus tersenyum dan mencubit gemas hidung Dinda.


__ADS_2