DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 12


__ADS_3

"E, e, ehhhhh loh Dik, loh udah bangun.???" Kata Devano kaget, sambil buru-buru menyimpan kalung tersebut didalam sakunya.


"Eh Dev, itu apaan.??? Kok kayak kalung sih, kalung siapa itu.???" Kata Diki penasaran sambil menatap kearah kalung tersebut yang sedang Devano simpan.


"Kenapa,,, oh ini.??? Ada deeeehh,,," Kata Devano sambil tersenyum.


"Yaelaaah Dev, pelit banget sih loh sama sahabat sendiri.??" Kata Diki.


Mendengar kata-kata dari Diki, Devano tidak menjawabnya, ia justru malah terdiam sambil terus tersenyum.


"Eeemmm gw masih enggak nyangka sama gadis kecil itu, masih kecil tapi pikirannya udah Dewasa, gw bener-bener enggak nyesel nolongin itu gadis kecil dari kejaran para preman." Kata Devano dalam hati sambil terus tersenyum mengingat-ingat ucapan gadis kecil tersebut.


"Dev, loh kenapa sih dari tadi senyum-senyum sendiri.??? Loh masih waras kan, loh enggak gila kan gara-gara putus dari Tania.???" Kata Diki penasaran melihat tingkah laku Devano yang sangat aneh itu.


Mendengar kata-kata dari Diki, lagi-lagi Devano tidak menjawabnya, ia masih terus tersenyum sambil mengingat-ingat gadis kecil tersebut, sehingga Diki pun kesal.


"Devano.!!! Loh dengerin gw ngomong apa enggak sih.???" Kata Diki dengan suara sedikit tinggi.


"E, e, ehhhhh ada apa, ada apa.?? Loh tadi ngomong apa Dik.??" Kata Devano kaget, seketika ia pun langsung terbangun dari bengongnya.


"Ya ampun Dev,,, gw itu dari tadi ngomong sama loh.??? Ya udah lah enggak jadi, enggak jadi, udah lupain aja.!!!" Kata Diki semakin kesel.


"Sorry brooo,, tadi gw itu lagi kurang konsen.??? Udah, udah, loh jangan marah doongg.???" Kata Devano sambil memasang wajah melas.


"Gw bukannya marah sama loh Dev, gw cuma bingung aja sama loh.??? Loh kenapa sih dari tadi senyum-senyum sendiri.?? Loh enggak gila kan,,, loh masih waras kan.???" Kata Diki masih penasaran.


"Gila yah loh, ya masih lah.!!!" Kata Devano.


"Kirain udah stress.!" Kata Diki.


"Hemm apaan sih loh, orang gw waras-waras kaya gini juga dibilang strees.!!!" Kata Devano serius.


"Lagian loh sih dari tadi senyum-senyum sendir,,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.


"Ssstttt udah, udah, udah, diem.!!! Lebih baiiiik,,, sekarang loh dengerin gw ngomong, soalnya ada yang mau gw tanyain nih sama loh." Kata Devano serius, entah apa yang akan ia tanyakan kepada Diki.


"Loh mau nanya sama gw,,, loh mau nanya apa.??? Bikin penasaran aja sih loh Dev dari tadi..???" Kata Diki semakin penasaran.


Melihat Diki sepenasaraan itu, Devano justru malah tersenyum.


"Nih gw mau nanya sama loh, loh dengerin yah.??? Menurut loh, lebih pentingan mana.??? Antara sahabat dan Orang tua.???" Kata Devano serius, sepertinya ia ingin menyakinkan dirinya agar lebih yakin lagi kalau kata-kata dari gadis kecil tersebut itu benar.


"Yaelaaah Dev, kirain gw loh mau nanyain apa.?? Ya jelas orang tua lah, aneh banget sih loh Dev.!! Hal kayak gini aja masih loh tanyain sama gw." Kata Diki heran mendengar pertanyaan dari Devano yang menurutnya tidak masuk akal.


"Bener nih Dik lebih pilih orang tua.??" Kata Devano mencoba untuk meyakinkan dirinya lagi.


"Ya iya lah Dev orang tua, loh itu aneh banget sih.??? Nih yah gw kasih tau sama loh Dev, di dunia ini,,, Enggak ada orang tua yang jahat sama anaknya, kalau sahabat mah banyaaak,, buktinya aja Rasya tuh semalam.???" Kata Diki mencoba untuk menjelaskan kepada Devano.


Mendengar penjelasan dari Diki, Devano tidak menjawabnya, lagi-lagi ia justru terdiam sambil tersenyum.


"Sekarang gw semakin yakin, kalau ucapan gadis kecil itu semalam benar." Kata Devano dalam hati sambil terus tersenyum.


"Ini anak yah, dikasih tau malah senyum-senyum sendir,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.


Tok,,, tok,,, tok,, suara seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Diki, sarapan dulu nak.!!! Ajak juga teman kamu itu untuk sarapan." Teriak ibu Ati yang tak lain adalah mamah Diki, dari balik pintu kamar tersebut.


"Iya mah.!!" Teriak Diki, kemudian ia pun langsung mengajak Devano untuk sarapan.


"Ya udah ayo Dev, kita sarapan dulu.!!" Kata Diki sambil buru-buru melangkah keluar menuju meja makan dan diikuti oleh Devano dari belakang.


Sesampainya dimeja makan, Diki langsung duduk di tempat duduknya, akan tetapi tidak dengan Devano, ia justru malah terdiam dan terbengong sambil menatap kekanan dan kekiri seisi ruangan tersebut, mungkin Devano seperti itu karena ia heran melihat keadaan rumah Diki yang sangat teramat kecil dan sederhana, dan ia seperti itu mungkin karena ia sudah terbiasa tinggal di rumahnya yang sangat-sangat mewah dan megah itu, sehingga ia sedikit kaget melihat rumah Diki sahabatnya dengan keadaan seperti itu.


"Dev, loh ngapain berdiri aja dari tadi.?? Ayo sini duduk.!!" Kata Diki menyuruhnya untuk duduk.


Mendengar kata-kata dari Diki, seketika Devano pun langsung terbangun dari bengongnya.


"E, e, ehhhhh,,, I, i, Iyah,,, ini juga gw mau duduk.!!!" Kata Devano gugup, sambil buru-buru duduk disamping Diki.


Melihat tingkah laku Devano seperti itu, Ibu Ati mamah dari Diki pun tersenyum, ia tersenyum karena ia sudah bisa menebak apa yang ada didalam pikiran Devano.


"Kenapa nak, Rumah ibu kecil yah.??? Enggak kayak Rumah nak Devano.???" Kata ibu Ati palan sambil tersenyum, ia berbicara seperti itu karena Diki pernah memberitahu dirinya kalau temannya yang bernama Devano adalah anak dari pendonor dana terbesar di sekolahannya dan Diki pun memberi tahu dirinya kalau Devano temenya itu, terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya, bahkan rumahnya pun sangat besar, mewah dan sangat megah bak istana, belum lagi dengan perusahaan pak Erik orang tuanya yang cukup banyak dan berada dimana-mana.


"O, o, ohhhh,,, e, e, enggak kok Bu.!" Kata Devano gugup karena ia berbohong.

__ADS_1


Mendengar kata-kata dari Devano, lagi-lagi ibu Ati pun tersenyum.


"Ya udah ayo nak Devano, kita makan.!!!" Kata ibu Ati dengan sangat ramah.


"Iya Bu.!" Kata Devano sambil tersenyum, kemudian mereka pun siap-siap untuk sarapan.


"Oh iya mah, Lala, Dimas, sama Zara pada kemana.??? Mereka enggak pada ikut sarapan mah.???" Kata Diki heran karena ia tidak melihat adik-adiknya di meja makan.


"Oh iya mamah sampai lupa.!! Ya udah mamah panggil dulu yah.???" Kata ibu Ati sambil tersenyum, sepertinya karena asyik ngobrol dengan Devano ia jadi lupa kalau ternyata adik-adik Diki belum pada ikut sarapan.


"Lala, Dimas, Zara, Sini nak sarapan dulu.!!! Udah siap nih sarapannya." Teriak ibu Ati dari meja makan.


Mendengar teriakkan dari mamahnya, seketika Lala, Dimas, dan Zara pun langsung lari dengan sangat terburu-buru.


"Mamah, hari ini makan pakai apa mah.??" Kata Lala adik no satu Diki dengan tergesa-gesa sambil terus berlari.


"Wahhhhh hari ini kita makan pakai Ayam kak.???" Kata Zara adik no dua Diki, sambil tersenyum senang menatap kearah ayam goreng yang sudah terhidang di meja makan, ia bisa sesenang itu melihat Ayam goreng, karena biasanya ibu Ati mamahnya sangat jarang sekali memasak Ayam, karena seperti yang kita tau keluarga Diki sangatlah kekurangan dan sekarang ibu Ati memasak Ayam pun karena ada tamu yang tak diundang menginap di rumahnya, yaitu Devano.


Melihat Ayam tersebut terhidang di meja makan, Dimas adik bontot Diki pun seketika langsung menarik piring yang berisikan Ayam tersebut.


"Ayam ini semuanya punya Dimas.!!!" Kata Dimas sambil terus menarik piring ayam tersebut.


"Iiiihhh Ayam ini punya kak Zara.!!!" Kata Zara sambil merebut piring tersebut dari tangan Dimas.


"Iiiihhh kalian jangan serakah dong.!!! Kak Lala kan juga mauuuu,,," Kata Lala kesel, ia pun ikut-ikutan menarik piring Ayam tersebut


Melihat tingkah laku Adik-adik Diki, lagi-lagi Devano hanya bisa terdiam dan terbengong.


"Hanya cuma gara-gara sepotong Ayam, Adik-adik Diki sampai ribut seperti ini.??" Kata Devano dalam hati heran.


"Apa ini juga maksud ucapan dari gadis kecil itu semalam yah.?? Kalau hidup gw ini lebih beruntung, bagaimana hidup gw ini enggak lebih beruntung, dari kecil gw belum pernah rebutan makanan sampai ribut seperti mereka.???Jangankan rebutan makanan, gw bisa ngehabisin makanan dirumah aja, mamah sama papah gw itu udah seneeeeng banget." Kata Devano dalam hati serius, lagi-lagi ia mengingat-ingat ucapan gadis kecil tersebut, dan sepertinya sedikit-sedikit ucapan gadis kecil tersebut sudah mulai terbukti kebenarannya untuk Devano.


"Iiiihhh ini Ayam Dimas.!!!" Kata Dimas lagi sambil terus menarik Ayam tersebut.


"Ini Ayam Zara.!!!" Kata Zara sambil merebutnya dari Dimas.


"Iiiihhh kak Lala kan juga ma,,,,,,," Seketika ucapan Lala terpotong.


"Ssssssttttt cukup.!!! Kalian Jagan pada rebutan, nanti juga semuanya kebagian kok.!!! Lagian malu tuh diliahatin sama kak Devano." Kata ibu Ati sambil merebut piring ayam tersebut dari mereka.


Mendengar kata-kata dari ibu Ati, seketika Devano pun langsung terbangun dari bengongnya.


"O, o, ohhhh,,,, e, e, enggaaak,,, enggak papa kok bu." Kata Devano gugup.


"Tau nih kalian.!!! Malu tuh sama kak Devano.?? Lagian kalian ketakutan amat sih, nanti juga pada kebagian semuanya." Kata Diki kesal kepada Adik-adiknya.


Mendengar kata-kata Diki dan mamahnya, seketika adik-adik Diki pun langsung terdiam dan tertunduk.


"Nah gitu dong nak kalian diem, Kan kalau kalian diem mamah bagi Ayam nya jadi gampang, udah sini mana piringnya.?!!! Biar mamah bagi satu-satu." Kata ibu Ati tegas, kemudian ia pun langsung membagi ayam tersebut satu-satu karena Ayamnya memang tinggal tiga potong.


Setelah mamahnya membagi ayam tersebut, Lala dan Zara pun langsung duduk dan kemudian mereka pun langsung makan, akan tetapi tidak dengan Dimas adik bontot Diki.


"Mamah, Dimas enggak mau ah kalau cuma satu.!!!" Kata Dimas ngambek.


"Nak,, kamu enggak boleh kaya gitu.??? Kan Ayamnya memang udah pas tinggal buat kalian bertiga, udah enggak ada lagi." Kata Ibu Ati serius, ia mencoba untuk menasehati Anak bontotnya itu.


"Iiiihhh pokoknya Dimas enggak mau.!!! Kalau cuma satu Dimas enggak mau mak,,,,,,,,,," Seketika ucapan Dimas terpotong.


"Ssssssttttt udah, udah,,,, Ade jangan marah-marah lagi yah.??? Ini ayam kakak buat Ade aja." Kata Devano sambil memberikan Ayam yang sudah berada di dalam piringnya kepada Dimas.


"Eeehhhhh Dev, enggak usah Dev.!!! Biarin aja Dia mah memang suka kaya gitu.???" Kata Diki, sambil mencoba untuk mengambil kembali ayam tersebut dari piring Dimas, namun belum juga Diki mengambil Ayam tersebut, Devano sudah melarangnya.


"Udah Dik, biarin aja.!!! Gw enggak papa kok, lagian kan masih ada sayur yang lain tuh.!!!" Kata Devano serius sambil menunjuk sayur yang sudah terhidang di meja makan.


"Ya ampun nak Devanooo,,, ibu minta maaf banget yah.??? Nak Devano jadi terganggu sarapannya." Kata ibu Ati meresa bersalah.


"Enggak papa Bu." Kata Devano sambil tersenyum.


"Ya udah kalau gitu, sekarang kita mak,,,,,," Seketika ucapan ibu Ati terpotong.


"Uhuukkk,,,, uhuukkk,,, uhuukkk.!!!" Suara seseorang batuk-batuk.


"Bu,,, bapak berangkat kerja dulu yah.???" Kata pak Eko Ayah Diki, pamitan kepada ibu Ati istrinya untuk kerja.


"Loh,,, emang hari ini bapak kerja.??? Bukannya bapak masih sakit.???" Kata ibu Ati kaget, sambil melangkah menghampirinya, ia berbicara seperti itu karena kemarin sakit pak Eko memang kambuh.

__ADS_1


"Bapak kan kemarin udah libur bu.?? Kalau sekarang bapak libur lagi, bisa-bisa gajih bapak dipotong lagi bulan besok." Kata pak Eko serius.


"Ia pak, Ibu ngerti.!!! Ya udah ayo, biar ibu anter bapak sampai kedepan." Kata ibu Ati pelan, sambil melangkah ke depan bersama dengan pak Eko.


Melihat keadaan pak Eko yang tak lain adalah Ayah dari Diki seperti itu, Devano pun heran.


"Dik, itu bokap loh kan lagi sakit, tapi kok masih kerja sih.???" Kata Devano bingung.


"Iya Dev,, gw juga sebenernya kasihan sama bokap gw, lagi sakit kaya gitu juga masih tetep harus kerja, karena bokap gw kan enggak kaya bokap loh Dev.??? Duitnya banyak, perusahaannya dimana-mana, bokap loh mah gampang Dev, sakit flu sedikit aja mungkin bisa libur kerja berhari-hari, karena yang punya perusahaannya bokap loh sendiri.??? Nah kalau bokap gw,,, masih ikut orang, kemarin udah libur, kalau sekarang libur lagi, mau dikasih makan apa anak-anaknya.???" Kata Diki serius, ia mencoba untuk menjelaskan kepada Devano.


Mendengar penjelasan dari Diki, Devano hanya bisa terdiam.


"Apa karena ini,,, mengapa papah selalu melarang gw, agar gw tidak terlalu menghambur-hamburkan uang.??? Kalau ternyata tidak semua orang itu gampang mencari uang seperti papah." Kata Devano dalam hati sambil mengingat pesan dari pak Erik yang tak pernah ia perdulikan.


"Dev, loh kenapa,,, Kok loh diem sih.???" Kata Diki bingung karena melihat Devano yang terdiam.


"O, o, ohhhh enggaaak,,, enggak papa.!!" Kata Devano gugup.


"Oh iya Dik, emang bokap loh itu sakit apa.??? Terus dari kapan sakitnya.???" Kata Devano penasaran.


"Udah lama Dev,,, sakit bokap gw itu udah parah, awalnya sih bokap gw itu sakit paru-paru, tapi pas terakhir berobat lagi, kata Dokter yang memeriksa penyakit bokap gw, sekarang penyakit bokap gw udah komplikasi kemana-mana, bahkan sampai ke jantung segala Dev." Kata Diki serius kalau memang keadaan pak Eko Ayahnya separah itu.


"Apa.?!!! Komplikasi sampai ke jantung.?? terus kata Dokter gimana Dik.???" Kata Devano dengan suara tinggi karena kaget, mendengar penyakit yang di derita pak Eko separah itu.


"Sebenernya pas terakhir bokap gw berobat,,, Dokter sudah menyarankan, kalau secepatnya bokap gw itu harus di operasi.???" Kata Diki serius, ia mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Devano.


"Terus bokap loh di operasi Dik.???" Kata Devano penasaran.


"Belum Dev,,," Kata Diki sedih.


"Loh kok belum sih.??? Kenapa enggak di operasi aja sih Dik,,, Kan kasihan bokap loh.???" Kata Devano mencoba untuk menyarankan Diki.


"Ngomong sih gampang Dev,,, tapi biayanya itu Dev mahal bangeeet, coba loh bayangin.!!! Bokap gw harus nyiapin duit 50 juta.?? Punya duit dari mana bokap gw sebanyak itu Dev.??? Sedangkan loh juga kan tau sendiri keadaan keluarga gw itu kayak gimana.??? Jangankan uang 50 juta, 1 juta aja susah banget Dev buat keluarga gw dapatin, karena keluarga gw itu kan enggak kaya keluarga loh Dev, yang punya banyak duit.?? Loh mah enak Dev, mau apa aja tinggal minta sama bokap loh, bahkan uang dengan jumlah berjuta-juta pun bokap loh turutin, enggak kayak gw Dev, punya uang sedikit harus berbagi sama adik-adik gw.???" Kata Diki serius menceritakan tentang kisah kehidupannya yang sangat-sangat jauh berbeda dengan Devano.


Mendengar kata-kata dari Diki, lagi-lagi Devano pun terdiam.


"Sekarang gw semakin yakin kalau ucapan gadis kecil itu memang benar, kalau hidup gw ini lebih beruntung, buktinya aja sekarang.??? Uang 50 juta bagi keluarga Diki sangatlah besar dan susah untuk dicarinya, sedangkan untuk gw.??? Uang 50 juta itu bisa gw habisin dalam 2 hari, bahkan terkadang bisa dalam 1 hari gw habisin, dan sekarang juga,,,, gw punya papah dan mamah yang masih pada sehat, bahkan apapun yang gw mau,,, dan apapun yang gw minta, selalu mereka turutin, tidak perduli untuk mereka meskipun harganya harus mahal sekalipun, yang terpenting buat mereka gw ini harus bahagia, tapi entah mengapa gw ini tidak pernah bersyukur dengan semuanya, gw hanya bisa marah-marah dan suka ngelawan sama mereka, anak macam apa gw ini.??? Gw ini bener-bener anak yang tidak tau terimakasih." Kata Devano dalam hati panjang lebar, sepertinya hari ini ia sangat banyak sekali mendapatkan pelajaran tentang arti kehidupan yang sebenarnya itu seperti apa, dari semalam ia bertemu dengan gadis kecil, dan dengan kejadian semalam saat ia memergoki Tania dan Rasya selingkuh, Bahkan sampai sekarang pun ia masih mendapat pelajaran dari keluarga Diki.


Melihat Devano yang lagi-lagi terdiam, Diki pun semakin heran.


"Dev,,, loh kenapa sih, persaan dari tadi kalau gw ngomong loh dieeem aja, loh kenapa emang.??? Loh bosen yah dari tadi dengerin gw curhat kaya gini.???" Kata Diki.


"E, e, ehhhhh kenapa.?? E, e, enggaaak,, gw enggak bosen kok, gw malah seneng loh curhat kaya gini sama gw, udah lanjutin lagi enggak papa.!!!" Kata Devano gugup.


"Ya kaya gitu lah Dev kurang lebih, makanya dulu itu gw pernah ngomong kan sama loh Dev, kalau gw itu pengiiiiin,,,, banget cepet-cepet lulus sekolah, itu karena gw pengin cepet-cepet kerja Dev, soalnya gw pengin banget Dev cepet-cepet bawa bokap gw kerumah sakit untuk operasi, biar bokap gw itu enggak kesakitan lagi.??? Dan gw juga pengiiiiiiin banget kerja cari uang buat bahagiain mamah gw sama adik-adik gw, dan terutama buat bokap gw Dev,,, sebelum terlambat, karena gw ini takuuut banget kalau samapi gw ini enggak sempet bahagiain mereka." Kata Diki serius, ia mencoba untuk mengutarakan semua isi hatinya kepada Devano.


"Apa tadi kata Diki,,, sebelum terlambat.??? Kenapa semua kata-kata Diki sama seperti kata-kata gadis kecil itu semalam yah.??? Apa iya,,,, secepatnya gw ini harus pulang untuk minta maaf sama papah, sebelum semuanya terlambat, seperti apa kata gadis kecil itu semalam.???" Kata Devano dalam hati bingung.


"Iya bener,,, kayaknya gw ini memang harus cepat-cepat pulang sekarang.!!! Terus gw minta maaf sama papah, dan juga sama mamah, sebelum semuanya terlambat." Kata Devano lagi Dalam hati, sepertinya berkat ucapan dari gadis kecil tersebut semalam, sekarang ini ia benar-benar sadar akan kesalahannya selama ini, kemudian dengan segera ia pun langsung meminta izin kepada Diki untuk pulang.


"Oh iya Dik,, kayaknya sekarang gw harus pulang deh.!!!" Kata Devano serius.


"Apa Dev, loh mau pulang.??? Loh serius Dev,,, bukanya loh lagi berantem sama bokap loh.???" Kata Diki kaget dan tak percaya mendengar kata-kata dari Devano.


"Iya Dik, tapi sekarang gw mau pulang.!!! Oh iya Dik, gw mau tanya nih sama loh.??? Loh beneraan,,, pengin banget bawa bokap loh ke rumah sakit untuk operasi.???" Kata Devano serius, entah apa maksud dari ucapannya itu mengapa tiba-tiba ia bertanya seperti itu kepada Diki.


"Yaelaaah Dev,,, masa gw main-main sih.??? Ya jelas lah.!!! Lagina kenapa emang.??? Kok loh nanya kayak gini sama gw.???" Kata Diki penasaran.


"O, o, ohhh enggaaak,,, enggak papa, ya udah kalau gitu sekarang gw pulang yah.???" Kata Devano sambil buru-buru beranjak dari tempat duduknya untuk pulang.


"Loh serius nih mau pulang.???" Kata Diki masih tak percaya.


"Iya gw serius mau pulang, ya udah yah gw pulang sekarang.???" Kata Devano mencoba untuk meyakinkan Diki, kemudian ia pun langsung buru-buru keluar dari rumah Diki.


"Eh bro gw anter yah.!!!" Teriak Diki.


"Enggak usah Dik, gw bisa pulang sendiri kok." Jawab Devano.


"Aneh banget sih tuh anak.??? Kok tiba-tiba mau pulang, ada apa yah.???" Kata Diki dalam hati bingung melihat tingkah laku Devano sahabatnya itu.


#######


Jangan lupa like coment dan vote.!!!


Biar author tambah semangat 😍😍😍

__ADS_1


Dan maaf baru bisa up sekarang 🙏🙏🙏


__ADS_2