DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 71


__ADS_3

7 TAHUN KEMUDIAN.


DI RUMAH DIKI.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 Malam.


Terlihat Diki dan Anita yang dari tadi sedang berdebat di dalam kamarnya tiada henti-hentinya, karena selama tujuh tahun pernikahannya itu, ternyata mereka berdua itu tidak lah bahagia, bahkan hampir setiap hari mereka berdua itu pun berdebat dan terus berdebat tiada hentinya sampai sekarang ini.


"Bang, Abang mau kemana.? Abang mau lembur lagi.?" Ucap Anita kesel, karena hampir setiap malam Diki suaminya itu tidak pernah ada di dalam rumahnya dengan alasan seperti itu.


"Iya." Ucap Diki singkat dan cuek, tanpa menoleh kearahnya sedikit pun.


"Bang, Abang ini mau sampai kapan sih kayak gini terus sama Anita.? Kita ini udah menikah selama tujuh tahun loh bang.! Tapi selama itu juga, kita ini belum pernah sekalipun melakukan hubungan suami istri.! Bahkan untuk bisa tidur berdua dengan Abang aja, itu terasa susah banget buat Anita.! Sebenarnya apa sih bang, apa yang udah buat Abang jadi berubah kayak gini sama Anita sejak kita menikah.?" Ucap Anita kesal dan bingung, mengapa Diki suaminya itu bisa berubah drastis seperti itu setelah menikah dengannya, dan tidak sesuai dengan harapannya, karena dulu ia sangat yakin kalau Diki suaminya itu pasti akan tambah nurut dan tambah sayang lagi kepadanya setelah mereka berdua menikah, namun kenyataannya berbeda dan malah justru berbalik kepadanya, karena sejak mereka berdua menikah, ternyata ia lah yang justru terus mengejar-ngejarnya sampai sekarang, sedangkan Diki suaminya itu malah justru tidak perduli sama sekali dan selalu cuek kepadanya, dan itulah yang menjadi konflik utama dalam pernikahannya selama ini, yang membuatnya terus berdebat dan terus berdebat tiada henti. Apalagi dari sejak awal mereka berdua menikah sampai sekarang, ternyata mereka berdua itu belum pernah sekalipun melakukan hubungan suami istri, dikarenakan Diki yang selalu menolak dan menolaknya dengan alasan yang Anita pun tidak tau apa itu alasannya, karena Diki suaminya itu tidak pernah mau menceritakan apa itu alasannya kepadanya, namun beruntungnya anak yang dulu sempat ia kandung mengalami keguguran tanpa sepengetahuan darinya dengan usia kandungan yang masih sangat muda, sehingga sampai sekarang ia pun berhasil merahasiakan masalah tersebut darinya.


"Udah yah Nit, cukup.! Abang capek, Abang capek kalau setiap hari Abang ini harus berdebat masalah kayak gini terus sama kamu.!" Ucap Diki yang terpancing emosinya, karena Anita istrinya itu tak henti-hentinya menuntut kewajibannya itu sebagai seorang istri kepadanya, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru melangkah keluar pergi dari kamarnya.


"Bang.! Abang mau kemana bang.? Abang enggak bisa yah terus-terusan kayak giniin Anita.! Emang selama ini Abang itu anggap Anita apa bang.?" Teriak Anita dengan raut wajah yang penuh dengan emosi. Namun sayang, mendengar Anita teriak seemosi itu, Diki tidak perduli dan sama sekali tidak menghiraukannya, ia pun malah justru melangkah lebih cepat lagi keluar dari rumahnya entah kemana, meninggalkan Anita hanya sendiri di dalam rumah tersebut.


"Gw bener-bener udah enggak ngerti lagi.! Sebenarnya apa sih yang udah buat bang Diki jadi berubah kayak gini sama gw.?" Ucapnya masih kesal dan bingung.


"Tapi sampai kapanpun gw enggak akan pernah nyerah, gw enggak akan pernah nyerah ngrayu bang Diki untuk bisa kembali sayang lagi sama gw seperti dulu." Ucapnya lagi serius, sepertinya ia tak mau menyerah begitu saja.


DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH DEVANO.


Waktu menunjukkan pukul 08:00 Malam.


Terlihat Devano dan Alana yang dari tadi sedang asyik menemani Raya bermain diruang keluarga.


RAYA.



Ia adalah putri semata wayang Devano dan Alana yang dari dulu selalu ia nanti-nantikan, usianya sekarang ini 6 tahun, ia baik, cantik, pintar dan penurut kepada kedua orangtuanya.


"Ayo sayang, kalahin mamah.! Tangkap nih bolanya.!" Teriak Devano sambil melempar bola tersebut kepada Raya putri semata wayangnya itu.


"Horeeee.! Bolanya berhasil Raya tangkap pah.? Horeeee.! Raya menang, Raya menang pah.! horeeee.!" Teriak Raya yang berhasil menangkap bola tersebut, sambil tersenyum kegirangan.


"Yaaaah papah curang nih.! Masa lemparnya sama Raya terus, mamah dari tadi enggak kebagian,,,," Seketika ucap Alana itu pun terpotong.


"Eh sayang, tunggu dulu deh.! Itu bener bukan sih suara mobil Diki.?" Ucap Devano sambil mendengarkan suara mobil yang sedang berparkir tepat didepan rumahnya.

__ADS_1


"Iya mas bener, itu suara mobil bang Diki.! Tapi mau ngapain yah mas malam-malam kayak gini bang Diki kesini.?" Ucap Alana bingung dan penasaran.


"Yaelah sayang, kayak kamu enggak tau Diki aja.! Ya mau ngapain lagi kalau bukan mau curhat masalah rumah tangganya yang ruwet,,,,,," Seketika ucap Devano itu pun terpotong.


"Aduh Deeeev, pusing banget nih kepala gw." Ucap Diki yang baru saja masuk ke dalam rumah tersebut dan berdiri tepat dihadapan mereka bertiga, dengan raut wajahnya yang sudah tidak karuan karena saking pusingnya.


"Bentar dulu yah Dik.!" Ucap Devano, kemudian ia pun langsung jongkok tepat di hadapan Raya putri semata wayangnya itu.


"Raya sayang, sekarang Raya mainnya sama mamah dulu yah.? Soalnya papah mau ngobrol dulu sama Om Diki." Ucap Devano pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.


"Ok pah.!" Ucap Raya sambil tersenyum dengan sangat ceria.


"Ya udah ayo sayang, kita main disana.!" Ucap Alana mengajak Raya putri semata wayangnya itu untuk pindah tempat bermain.


"Ya udah ayo mah.!" Ucap Raya, kemudian ia pun langsung melangkah menuju tempat tersebut bersama dengannya, meninggalkan Devano dan Diki hanya berdua didalam ruangan tersebut.


"Oh iya Dik, tadi loh kenapa.?" Ucap Devano mencoba untuk menanyakan apa yang tadi sempat ia ucapkan.


"Aduuuh.! Kepala gw ini pusing banget tau enggak sih Dev.! Kepala gw ini pusing banget karena setiap hari gw ini harus berdebat sama Anita yang terus-terusan menuntut gw untuk memenuhi kewajiban gw sebagai seorang suami." Ucap Diki mencoba untuk memberi tahu apa penyebabnya yang membuatnya bisa sepusing seperti sekarang ini.


"Ya tinggal loh kasih aja lah Dik.! Apa susahnya sih.? Lagian Anita itu kan emang istri loh.! Dan udah kewajiban loh untuk melayaninya lahir dan batin." Ucap Devano mencoba untuk menasehatinya seperti itu.


"Iya Dev, gw juga tau Anita itu istri gw.! Dan itu semua udah kewajiban gw untuk melayaninya lahir dan batin.Tapi mau gimana lagi Dev.? Gw ini benar-benar enggak bisa ngelakuin semua itu sama dia.! Karena apa.? Karena setiap kali gw mau berhubungan sama dia, bayang-bayang wajah Renata itu secara tiba-tiba muncul dan selalu hadir dalam pikiran dan otak gw.! Jadi mana mungkin gw ngelakuin hubungan seperti itu sama dia, sedangkan otak dan pikiran gw ini ada di Renata.? Gw ini bener-bener enggak bisa Dev, gw ini bener-bener enggak bisa ngelakuin hubungan suami istri sama dia.!" Ucap Diki serius, kalau ia sudah berkali-kali mencoba untuk melakukan hubungan suami istri dengannya, tapi semua itu gagal lagi dan gagal lagi, karena bayang-bayang wajah Renata secara tiba-tiba selalu muncul dan hadir dalam otak dan pikirannya, yang membuatnya tak tega dan selalu merasa berdosa kepadanya setiap kali ia mau melakukan hubungan suami istri dengan Anita istrinya itu, dan ternyata itulah alasannya mengapa sampai sekarang ia belum pernah sekalipun melakukan hubungan suami istri dengannya.


"Jadi egois enggak sih gw Dev.? Kalau sekarang ini gw berharap Renata bisa balik lagi sama gw.?"



Ucapnya lagi serius, dengan raut wajah yang sangat sedih karena menyesal, namun entah apa yang ada didalam pikirannya sekarang ini, sehingga ia mengharapkan hal tersebut terjadi kepadanya, sedangkan ia sendiri sekarang ini sudah mempunyai istri.


"Karena gw juga pengin ngerasain kayak loh Dev.! Gw pengin ngerasain kayak loh yang setiap hari bisa melihat istri dan anak loh bermain bersama, bercanda, ketawa. Karena gw yakin Dev, anak gw sekarang ini pasti usianya enggak jauh berbeda sama anak loh Raya Dev." Ucapnya lagi semakin sedih dengan mata yang berkaca-kaca, sambil menatap kearah Alana dan Raya yang sampai sekarang masih asyik bermain.


"Iiiihhh mamah curang.! Jadinya kan Raya kalah mah.!" Ucap Raya sambil cemberut manja.


"Ya udah, iya, iya, mamah minta maaf yaaaah.?" Ucap Alana sambil terus tertawa dengan raut wajah yang sangat bahagia.


"Ya udah, kalau gitu sekarang kita ulangi lagi deh mainnya.?" Ucapnya lagi mencoba untuk merayunya.


"Beneran yah mah.? Tapi mamah enggak boleh curang lagi.!" Ucap Raya penuh dengan semangat.


"Iyaaaa." Ucap Alana sambil terus tertawa dengan sangat bahagia.

__ADS_1


"Tapi kayaknya semua itu enggak mungkin deh Dev.! Karena keberadaan Renata dan anak gw aja, sekarang ini gw enggak tau dimana.? Bahkan gw ini enggak tau nama anak gw itu siapa, laki-laki tau perempuan, lahir dengan selamat atau enggak." Ucapnya lagi dengan raut wajah yang masih sangat sedih, kemudian ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Gw ini bener-bener seorang ayah yang payah yah Dev.?" Ucapnya lagi sambil tersenyum karena saking pusingnya memikirkan kisah perjalanan hidupnya itu.


"Udah lah Dik, loh berhenti.! Loh berhenti nyalahin diri loh sendiri terus kayak gini.! Lagian loh juga kan udah berusaha untuk mencari keberadaan mereka.! Loh sampai ke Korea, ke Jepang, Australi dan bahkan semua negara yang pernah Renata tinggali, loh itu pernah mencarinya ke sana.! Ya meskipun hasilnya nihil dan tidak sesuai dengan harapan, tapi paling enggak loh itu kan udah berusaha untuk tanggung jawab dan mencari keberadaan mereka." Ucap Devano serius, kalau Diki sahabatnya itu pernah mencari Renata dan anaknya sampai sejauh itu, bahkan Diki pun sudah berkali-kali datang ke rumah pak Edo dan ibu Lia untuk bertemu dengannya dan menanyakan dimana keberadaan mereka, akan tetapi semua itu tidak berhasil, karena jangankan bertemu dan bertanya dengannya, baru sampai di depan pintu gerbang rumahnya saja, ia sudah diusir oleh bodyguard-bodyguardnya.


"Iya sih Dev, gw juga tau.! Tapi gw enggak yakin kalau semua itu bisa menebus semaua kesalahan-kesalahan gw dulu sama Renata.! Soalnya kesalahan gw sama Renata itu bener-bener kesalahan yang sangat besar Dev." Ucap Diki lagi dengan raut wajah yang masih sangat sedih, sehingga membuat Devano pun tersenyum lucu melihatnya.


"Udah lah Dik.! Dari pada loh sedih terus kayak gini.! Nih ada undangan buat loh.! Loh cari hiburan deh besok malam disana.! Loh minum sebanyak mungkin biar otak loh ini enggak oleng." Ucap Devano meledeknya, sambil memberikan satu carik kertas udangan pertunangan kepadanya.


"Undangan pertunangan, undangan pertunangan dari siapa ini Dev.?" Ucap Diki penasaran sambil buru-buru membuka dan membaca surat undangan tersebut sebenarnya dari siapa.


"Andra.?" Ucapnya lagi masih bingung.


"Ini bukannya Andra temen sekolah kita dulu, yang anaknya pendiam dan culun itu, Dev?" Ucapnya lagi.


"Iya," Ucap Devano singkat.


ANDRA.


Ia adalah teman sekolah Devano dan juga Diki waktu masih SMA. Akan tetapi untuk sekarang ini, ia bukanlah pria culun dan pendiam lagi seperti dulu. Bahkan untuk sekarang ini, ia adalah seorang pengusaha muda yang sangat sukses dan sedang viral, karena keberhasilannya.


"Gilaaaa.! Perempuan mana nih, yang mau sama pria pendiam dan culun kayak dia?" Ucap Diki sambil tersenyum meledeknya, ia berbicara seperti itu, karena sebagai teman sekolahnya dulu, ia sangat tau kalau Andra sahabatnya itu memang seperti itu.


"Gw juga enggak tau Dik, tapi gw denger-denger sih katanya, dia itu dijodohin sama anak konglomerat gitu." Ucap Devano mencoba untuk menjawabnya sesuai dengan apa yang ia tahu.


"Oh gituuuu, tapi hebat juga yah.? Cowok pendiam dan culun kayak dia, bisa dapatin anak konglomerat." Ucap Diki lagi-lagi berbicara seperti itu, sehingga membuat Devano pun tersenyum mendengarnya.


"Loh itu kenapa sih Dik, perasaan dari tadi seneng banget ngeledekin si Andra.?" Ucapnya sambil terus tersenyum.


"Lah emang kenapa.? Emang kenyataannya dia itu dulu kayak gitu kan, Dev!" Ucap Diki.


"Ya iya sih. Tapi loh jangan salah! Sekarang ini, dia udah berubah! Dia itu udah bukanlah Andra yang pendiam dan culun lagi, seperti yang kita kenal dulu!" Ucap Devano serius.


"Malahan loh tau nggak?"


"Sekarang ini, dia itu udah jadi pengusaha muda sukses yang mempunyai perusahaan dimana-mana!" Ucapnya lagi, yang dengan secara tiba-tiba berbicara seperti itu. Sehingga Diki yang mendengarnya pun, kaget.


"A_apa Dev? Loh tadi ngomong apa?" Ucapnya.


"Sekarang ini dia udah berubah bukan seperti Andra yang pendiam dan culun, seperti yang kita kenal dulu, dan bahkan sekarang ini dia juga udah jadi pengusaha sukses yang memiliki perusahaan dimana-mana?" Ucapnya lagi, tak percaya.

__ADS_1


"Iya," Ucap Devano singkat.


__ADS_2