
Melihat Laras terdiam seperti itu, Devano pun tersenyum sinis.
"Heeemmm.! Kenapa loh diam.? Loh syok, karena ternyata gw udah tau semuanya, kalau loh itu ternyata adalah perempuan ular yang berwujud manusia, hah.?" Kata Devano dengan suara tinggi tepat dihadapan Laras.
Mendengar Devano yang lagi-lagi membentaknya seperti itu, Laras pun lagi-lagi hanya bisa terdiam.
"Mas Devanooo, udah ayo ah.! Lebih baik kita beli buah aja.! Ayooo maaas.?" Kata Alana merengek sambil menarik tangan Devano, karena ia tidak mau melihat Devano suaminya itu ribut dengan Laras, yang tak lain adalah kakak tirinya.
"Tunggu dulu sayang.! Mas harus kasih pelajaran dulu sama perempuan ular ini.! Biar perempuan ular ini jera dan tidak menipu banyak orang lagi." Kata Devano bersikeras ingin memberi pelajaran kepada Laras.
"Maaaass,,," Kata Alana lagi-lagi merengek, karena ia benar-benar tidak mau melihat Devano dan Laras kakak tirinya itu ribut.
Melihat Alana yang lagi-lagi merengek seperti itu, Devano pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Iya sayaaaang, iya.!" Kata Devano pelan, ia mencoba untuk mengikuti kemauan Alana.
"Gw peringatin yah sama loh.? Kalau bukan karena Alana, udah habis sekarang loh sama gw.?" Kata Devano penuh dengan emosi tepat dihadapan laras, kemudian ia pun langsung merangkul pundak Alana dan mengajaknya masuk ke dalam toko buah, meninggalkan Laras yang masih terdiam itu hanya sendiri.
"Sial, sial, SIAL.!!! Beraninya kamu kak Devano bentak-bentak gw di depan Alana.? Lihat aja.! Gw enggak akan pernah tinggal diam, gw pastikan kehidupan rumah tangga kalian enggak akan pernah bisa bahagia SELAMANYA." Kata Laras dalam hati penuh dengan emosi, sambil menatap sinis kearah Devano dan Alana, kemudian ia pun langsung pergi meninggalkan toko buah tersebut.
1 Jam kemudian,,,,,,
DI RUMAH SAKIT.
Terlihat Pak Erik dan Dinda yang dari tadi sudah berada di dalam ruang rawat Raka.
"Raka, sekali lagi Om benar-benar minta maaf yah.? Om baru bisa jenguk kamu sekarang, soalnya kemarin-kemarin Om itu lagi banyak banget kerjaan di kantor, Om lagi sibuk banget.? Dan Om juga benar-benar minta maaf banget atas perbuatan kasar Devano ini sama kamu.?" Kata pak Erik mencoba untuk meminta maaf kepada Raka atas perbuatan kasar Devano putranya itu.
"Iya Raka, tolong maafin Devano yah.?" Sambung Dinda merasa bersalah kepada Raka.
"Iya Om, Tan, enggak papa kok.! Lagian luka Raka juga sekarang udah mendingan." Kata Raka sambil tersenyum, karena ia tidak mau melihat Om dan Tantenya merasa bersalah seperti sekarang ini..
"Oh iya Om, gimana kabar Devano.? Berhasil enggak rencan,,,,,,,,,," Seketika ucapan Raka terpotong.
Tok,,,, tok,,, tok.!!! Suara seseorang mengetuk pintu kamar rawat Raka.
"Siap yah itu Om.?" Kata Raka penasaran.
"Enggak tau Om juga, apa mungkin Devan,,,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong.
"Mah, pah, kak Raka juga.?" Sapa Alana yang baru saja masuk ke dalam kamar rawat Raka bersama dengan Devano sambil tersenyum dengan sangat ramah.
"Devanooo, Alanaaa.? Kalian masih ingat sama aku juga disini.?" Kata Raka kaget, sambil tersenyum menatap kearah Alana dan juga Devano yang sekarang ini sudah berdiri tepat di hadapannya.
"Yaelahhh Raka, basi banget sih pertanyaan loh in,,,,,,,," Seketika ucapan Devano itu terpotong.
"Mas Devano.!" Kata Alana sambil melototkan matanya, kemudian ia pun langsung tersenyum menghadap ke arah Raka.
"Ya jelas dong kak Raka, kita masih inget sama kakak disini.?" Kata Alana sambil tersenyum.
"Tau kamu Devano, bukanya minta maaf baik-baik kamu sama Raka.! Malah ngomong kayak gitu kamu.?" Kata pak Erik kesel mendengar ucapan Devano itu.
"Iya sayaaaang, kamu minta maaf dong sama Rakaaa.! Kan Raka bisa sakit kayak gini juga gara-gara kamu." Kata Dinda mencoba untuk menasehati Devano dengan sangat pelan, agar Devano mau menuruti nasehatnya itu.
"Iya mas, mas minta maaf dong sama kak Raka.!" Kata Alana, ia pun mencoba untuk untuk menasehati Devano.
Mendengar nasehat dari mereka, alih-alih mendengarkan, Devano malah justru terdiam dengan raut wajah kesel, karena sepertinya ia masih kesel dengan kejadian waktu di pesta ulang tahun Tania, saat Raka membawa Alana ke pesta ulang tahun tersebut tanpa meminta izin terlebihdahulu kepada dirinya.
"Mas Devano, kok mas malah diam aja sih.? Ayo dong mas, minta ma'aaaaf.!" Kata Alana sedikit kesal.
Melihat Devano yang dari tadi terdiam seperti itu, Raka pun tersenyum.
"Udah Alana, Om, Tante juga, kalau orangnya enggak mau minta maaf jangan dipak,,,,,,,,," Seketika ucapan Raka terpotong.
"Maaf.!" Kata Devano ketus, sambil menatap sinis kearah Raka.
"Devanooo, kok kamu minta maafnya enggak ikhlas kayak gitu sih sayaaang.?" Kata Dinda heran melihat sikap Devano seperti itu.
"Tau kamu Dev.! Minta maaf itu yang ikhlas dong Dev.?" Kata pak Erik, mencoba untuk menasehati Devano kembali.
"Udah mah, pah.! Enggak papa, biar Alana aja yang minta maaf sama kak Raka, enggak apa kan kak Raka.? Kan sekarang ini Alana istri mas Devano, anggap aja ini permintaan maaf dari mas Devano, lagian kan kak Raka bisa sakit kayak gini juga gara-gara Alana, iya kan kak.?" Kata Alana mencoba untuk mewakilkan Devano untuk meminta maaf kepada Raka.
"Udah Alana, kamu enggak usah minta maaf.? Lagian kamu ini enggak sal,,,,,,," Seketika ucapan Raka itu terpotong.
"Ehemmm, Eheeemm.!" Suara Devano batuk yang dibuat-buat karena cemburu melihat Raka sebaik itu kepada Alana.
"Maaas, mas itu kenapa siiiih.?" Kata Alana bingung melihat kelakuan Devano seperti itu.
"Hemmm.! Kamu ini kenapa sih Deeeev.? Kamu cemburu sama aku.?" Kata Raka sambil tersenyum, karena ia sudah bisa menebak apa yang sekarang ini sedang Devano sepupunya itu rasakan.
"E, e, enggaaak,,, siapa yang cemburu.? Orang tenggorokan gw lagi gatel kok.!!!" Kata Devano gugup karena ia sedang berbohong, kemudian ia pun langsung pura-pura batuk lagi.
"Ehemmm.!! Ehemmm.!! Uhuk.!! Uhuk.!! Aduuuuhhh gatel banget sih ini tenggorokan.?" Kata Devano sambil terus pura-pura batuk.
Melihat tingkah laku Devano putranya seperti itu, pak Erik dan Dinda pun langsung tersenyum.
"Devanooo, Devano.! Ada-ada aja sih kamu ini.?" Kata pak Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap pundaknya, karena ia pun tau kalau Devano sekarang ini sedang cemburu.
"Udah lah Dev, kamu ngaku aja.! Kamu enggak usah bohongin aku kayak gitu.? Mau nih.! Alana istri kesayangan kamu ini aku rebut beneran.?" Kata Raka sambil tersenyum, ia mencoba untuk menakut-nakuti Devano.
"M, m, maksud loh.?" Kata Devano gugup dan ketakutan.
"Heeemmm santai aja kali Dev.! Aku cuma bercanda.?" Kata Raka sambil terus tersenyum, karena lucu melihat Devano ketakutan seperti itu.
"Oh iya Dev, tapi aku senang tau.! Lihat kamu sekarang udah jatuh cinta beneran sama Alana, jadi kan rencana kita enggak sia-sia, iya enggak Om.?" Kata Raka sambil tersenyum menatap kearah pak Erik, namun entah rencan apa yang sebenarnya ia dan pak Erik sudah lakukan itu.
"Rencanaaa.? Maksudnya.?" Kata Devano, Dinda dan juga Alana secara bersamaan, mereka kaget dan bingung, karena mereka benar-benar tidak tau apa yang telah mereka rencanakan itu.
"Iya, RENCANA.! Kalau semuanya pada penasaran, tanya langsung aja tuh sama Om Erik.! Soalnya Om Erik yang buat semua rencana ini." Kata Raka serius kalau semua rencana itu adalah ide dari pak Erik.
"Semua rencana ini papah yang buaaat.? Emang rencana apa yang udah papah buat bareng Raka, di belakang Devano.?" Kata Devano penasaran.
"Iya pah.! Emang rencana apa sih pah.?" Kata Alana yang juga penasaran.
"Tau nih mas.! Emang rencana apa sih.? Bikin kita penasaran aja deh.!" Sambung Dinda.
Melihat Devano, Alana dan juga Dinda sepenasaran itu, dengan segera pak Erik pun langsung menceritakan semua tentang rencananya itu yang ia lakukan bersama Raka, kalau ternyata dari kemarin-kemarin Raka mendekati Alana itu, karena pak Erik lah yang menyuruhnya, dengan alasan karena ia ingin membuat Devano cemburu dan mau mengakui cintanya itu kepada Alana.
"Apa.?!!! Jadi selama ini, Raka deketin Alana karena papah yang nyuruh.? Papah sengaja mau bikin Devano cemburu.?" Kata Devano dengan suara tinggi karena kaget dan tak percaya dengan cerita dari pak Erik itu.
"Iya, papah yang nyuruh." Kata pak Erik serius, sambil tersenyum.
"Maksudnya apa sih mas.? Dinda enggak ngerti.?" Kata Dinda yang memang tidak tau apa-apa dengan masalah Devano, Alana dan juga Raka kemarin-kemarin.
"Iya pah, Alana juga enggak ngerti deh.! Perasaan selama ini, kak Raka biasa-biasa aja enggak pernah deketin Alana.?" Kata Alana, ia berbicara seperti itu karena ia memang tidak pernah menganggap kalau selama ini Raka itu sedang mendekati dirinya, mungkin ia seperti itu karena ia tidak mempunyai perasaan apa-apa kepadanya.
"Ya kalian ini memang enggak bakalan pernah tau, cuma Devano aja tuh yang tau.! Apa maksud dari papah dan Raka merencanakan ini semua." Kata Pak Erik sambil terus tersenyum menatap kearah Raka.
"Ya ampun papaaah, papah.! Papah bener-bener keterlaluan yah.? Gimana kalau ini anak orang mati di tangan Devano gara-gara Devano cemburu.?" Kata Devano bercanda, sambil merangkul pundak Raka dengan begitu eratnya.
"Aw.! Aduh, aduh.!! Sakit Dev.? Jangan kenceng-kenceng pelukkannya.!" Kata Raka sambil mereunyi kesakitan.
Melihat tingkah laku Devano dan Raka seperti itu, Pak Erik, Dinda dan Alana pun langsung tersenyum.
"Lagian loh sih.? Pakai acara mau aja disuruh-suruh sama papah gw, jadinya loh kayak gini kan.? Sakit semua badan loh, hah.?" Kata Devano mencoba untuk menasehati Raka.
"Iya tapi enggak papa sih Dev sakit juga.? Yang terpenting buat aku, sekarang ini kamu udah bisa tulus sayang sama Alana, iya enggak Om.?" Kata Raka sambil tersenyum senang menatap kearah pak Erik, sepertinya sekarang ini ia benar-benar sangat senang, Devano sepupunya itu sudah bisa mencintai Alana istrinya sepenuh hatinya.
"E, e, ehhhh tapi tunggu dulu.! Bukannya dulu loh pernah ngomong ke gw yah.? Kalau loh suka sama perempuan yang loh tolong waktu itu.? Dan bukannya perempuan itu Alana, iya kan.?" Kata Devano mencoba untuk memastikan kepada Raka, perempuan tersebut Alana atau bukan.
Mendengar kata-kata dari Devano, Raka pun langsung tersenyum.
"Emang kenapa kalau perempuan itu Alanaaaa.? Kamu mau kasih istri kamu itu buat aku.?" Kata Raka bercanda, sambil tersenyum menatap kearah Alana.
"Enak aja.! Ya enggak bisa dooong,,, iya enggak sayang.?" Kata Devano sambil tersenyum dan merangkul pundak Alana dengan begitu eratnya.
"Iya maaaas.?" Kata Alana pelan, sambil tersenyum.
"Ehemmm.! Ehemmm.! Kayaknya ada yang ketakutan banget nih.! Takut istrinya aku rebut.? Sampai-sampai dipeluk erat banget gitu istrinya." Kata Raka sambil tersenyum menggoda Devano.
Melihat Devano putranya, yang seperti sangat menyayangi Alana, pak Erik dan Dinda pun langsung tersenyum.
"Nah gitu dong sayaaang, kamu harus sayang sama istri kamu sendiri.! Biar kamu ini kayak papah, yang selalu sayang sama mamah, iya kan maaas.?" Kata Dinda sambil tersenyum menatap kearah pak Erik.
"Iyaaaa,,," Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda.
Melihat pak Erik dan Dinda, juga Devano dan Alana sebahagia itu, Raka pun tersenyum karena ia pun ikut bahagia.
DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH PAK ADI.
Waktu menunjukkan pukul 05:00 Sore.
Terlihat Laras yang baru saja sampai dan masuk ke dalam rumahnya.
"Mamaaah.? Mamah kenapaaa.? Kok kelihatannya mamah kayak lagi kesel gitu.?" Kata Laras kaget dan bingung melihat ibu Rika yang tak lain adalah mamahnya yang seperti sedang kesal.
"Iya sayang, mamah itu lagi kesel banget tau enggak sih sama papah.? Coba nih kamu baca sekarang.!" Kata Ibu Rika penuh dengan emosi, sambil memberikan satu lembar kertas kepada Laras.
"I, i, ini kertas apa mah.?" Kata Laras gugup dan semakin bingung.
"Coba aja kamu baca sendiri.!" Kata Ibu Rika ketus.
"Apa.?!!! I, i, ini serius mah.? Ini beneran.? P, p, papah,,, mau cerai dari mamah.?" Kata Laras gugup dan kaget, setelah membaca surat tersebut.
"Iya sayang, ini semua serius.? Mamah benar-benar enggak habis pikir, berani-beraninya papah mau ceraiin mamah kayak gini.?" Kata Ibu Rika tak habis pikir dengan tindakan pak Adi suaminya itu.
"Enggak, enggak mah.! Sampai kapan pun mamah enggak boleh cerai sama papah.?" Kata Laras tak terima dengan semua itu.
"Iya sayang, sampai kapanpun mamah akan berusaha agar papah enggak jadi ceraiin mamah.!" Kata Ibu Rika serius, sepertinya sekarang ini ia memang benar-benar tidak mau bercerai dengan pak Adi suaminya itu.
"Oh iya sayang, ngomong-ngomong bagaimana dengan hubungan kamu sama Devano.? Kamu udah nemuin Devano apa belum.?" Kata ibu Rika panik, karena ia takut kalau sampai hubungan Laras putrinya itu dengan Devano bernasib sama seperti hubungannya dengan pak Adi.
Mendengar kata-kata dari ibu Rika, Laras pun langsung menarik nafas pernah dan membuangnya kasar.
"Kenapa sayang.? Hubungan kamu sama Devano sekarang ini baik-baik aja kan.?" Kata ibu Rika semakin panik.
"Mah, hubungan Laras sama kak Devano, sekarang ini sama kayak hubungan mamah sama papah.? Udah enggak ada yang bisa diharapkan lagi." Kata Laras mencoba untuk menjawab pertanyaan dari ibu Rika.
"Kok bisa kayak gitu sih sayaaang.?" Kata Ibu Rika kaget mendengar jawaban dari Laras.
Melihat ibu Rika kaget seperti itu, dengan segera Laras pun langsung menceritakan semuanya tentang kejadian tadi saat ia berada di toko buah, saat ia di bentak-bentak oleh Devano di depan Alana.
"Apa sayang.?!!! Jadi Devano udah tau siapa kamu yang sebenarnya.? Dan tadi itu Devano bentak-bentak kamu di depan Alana..?" Kata ibu Rika dengan suara tinggi karena kaget, dengan raut wajah yang sangat marah.
"Iya mah.! Kak Devano udah tau siapa Laras yang sebenarnya, dan tadi itu kak Devano bentak-bentak Laras di depan Alana." Kata Laras mencoba untuk meyakinkan ibu Rika mamahnya itu tenang kejadian tadi
"Apa jangan-jangan.! Semua ini adalah ulah dari Alana mah.? Begitu juga dengan papah yang tiba-tiba minta cerai sama mamah.?" Kata Laras dengan suara tinggi, ia mencoba untuk menebaknya.
"Sekarang papah ada di mana mah.? Papah ada di mana.?" Kata Laras tergesa-gesa.
"Mamah juga enggak tau sayang.? Pas mama pulang dari arisan, papah udah enggak ada di rumah, dan terus tadi itu bibi cuma kasih surat cerai ini ke mamah." Kata Ibu Rika serius, kalau sekarang ini ia memang tidak tau diamana keberadaan pak Adi suaminya itu.
Mendengar kata-kata dari ibu Rika, Laras pun langsung tersenyum sinis.
"Hemmm.! Kalau sekarang ini papah enggak ada di rumah, Laras semakin yakin mah.! Kalau semua ini pasti rencana dari Alana mah.? Alana sengaja mau rebut kak Devano dan juga papah dari kita." Kata Laras semakin yakin dengan tebakannya itu.
"Ya udah ayo sayang, sekarang juga kita ke rumah Alana.! Kita kasih pelajaran sama dia." Kata Ibu Rika tergesa-gesa sambil menarik tangan Laras.
__ADS_1
"T, t, tapi mah.! Di rumah Alana kan ada kak Devano mah.?" Kata Laras panik, ia mencoba menolak ajakan dari ibu Rika itu.
"Sayaaaang, kenapa kamu ini takut banget sama Devano sih.? Biarin aja ada Devano juga, yang penting usrusan kita sekarang ini kan sama Alana dan juga sama papah.? Soalnya sekarang ini mamah sangat yakin pasti papah ada di rumah Alana, kita harus rayu papah dulu.! Supaya papah enggak jadi ceraiin mamah seperti apa yang sedang di rencanakan Alana sekarang ini sayang.? Terus setelah itu, baru kita balas semua apa yang sudah Alana dan Devano lakukan kepada kamu sayang.?" Kata Ibu Rika mencoba untuk menjelaskan kepada Laras.
"Ya udah ayo sayang.! Cepetan sekarang juga kita kesana.?" Kata Ibu Rika lagi sambil menarik kembali tangan Laras dan mengajaknya pergi ke rumah Devano.
1 Jam kemudian,,,,,
DI RUMAH DEVANO.
Terlihat ibu Rika dan juga Laras yang sedang berdiri di depan pintu gerbang, tepat di depan rumah Devano.
DOR.! DOR.! DOR.! Ibu Rika menggedor-gedor pintu gerbang rumah tersebut.
"Maaf, ini siapa yah.?" Kata salah satu satpam penjaga rumah tersebut.
"Eeemm,,, ini saya pak, keluarganya Alana." Kata Ibu Rika sopan.
"Oohhh ini keluarganya non Alana.? Ya udah ayo masuk bu.! Masuk.!" Kata satpam tersebut, sambil buru-buru membukaan pintu gerbang tersebut dan menyuruhnya untuk cepat-cepat masuk kedalam.
"Terimakasih yah pak.?" Kata Laras, kemudian ia dan ibu Rika pun langsung buru-buru melangkah menuju pintu masuk rumah tersebut.
"Sayang, pokoknya sekarang ini kita harus bisa merayu papah.? Supaya papah itu bisa percaya sama kita lagi dan enggak percaya sama omongan Alana." Kata ibu Rika, sambil terus berjalan menuju pintu masuk rumah tersebut.
"Iya mah, sekarang ini kita harus bisa rayu papah, kita harus baik-baikin papah.? Supaya papah enggak jadi ceraiin mamah.?" Kata Laras yang sekarang ini sudah berdiri tepat didepan teras rumah tersebut.
"Iya sayang, pokoknya kalau sampai papah tetep ceraiin mamah, Alana yang akan menanggung semua in,,,,,,,,,," Seketika ucapan ibu Rika terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar seseorang yang seperti sedang ngobrol di ruang keluarga rumah tersebut.
"Paaah, Alana mohon pah sama papah.! Papah jangan sampai ceraiin mamaaah.? Biar bagaimanapun juga, mamah Rika sama kak Laras itu udah jadi bagian dari keluarga kita paaah.?" Kata Alana memohon kepada pak Adi, iya,,, kata Alana, karena ternyata yang sedang ngobrol di ruang tamu tersebut adalah Alana, Devano dan juga pak Adi yang tak lain adalah Ayah dari Alana.
Mendengar kata-kata dari Alana, ibu Rika dan Laras pun langsung terdiam.
"S, s, sayaaaang,,,, I, i, ini serius.? Alana melarang papah untuk ceraiin mamah.?" Kata ibu Rika kaget dan tak percaya dengan apa yang sedang di ucapkan oleh Alana itu.
"L, ,L, Laras juga enggak tau mah.? K, k, kalau semua ini benar, berarti selama ini dugaan kita salah dong mah.?" Kata Laras yang juga tak percaya dengan ucapan Alana itu, kemudian ia dan ibu Rika pun langsung mencoba untuk menguping obrolan mereka kembali.
"Enggak bisa nak.! Papah udah enggak bisa mempertahankan pernikahan papah ini sama mamah Rika, papah enggak mau lihat kamu terluka dan tersakiti lagi oleh mereka.?" Kata pak Adi bersikeras untuk tetap bercerai dengan ibu Rika.
"Paaah, Alana mohon paaah.? Alana bener-bener mohon sama papaaah.? Jangan ceraikan mamah Rika pah.? Alana mohooon.?" Kata Alana lagi-lagi memohon dengan mata yang berkaca-kaca, karena ia benar-benar tidak mau kalau sampai pak Adi Ayahnya itu bercerai dengan ibu Rika.
"Sayaaaang, kamu enggak boleh kayak gitu dong sayaaaang.? Biarin aja papah yang mutusin semua ini.? Lagian kan selama ini mamah Rika sama Laras itu udah jahat banget sama kamu sayaaaang.?" Kata Devano pelan, ia mencoba untuk menasehati Alana istri tersayangnya itu.
"Alana tau mas, mereka itu enggak pernah sayang sama Alana.? Tapi sampai kapan pun, Alana akan tetap sayang sama mereka mas.? Mereka itu adalah keluarga Alana mas.?" Kata Alana serius kalau ia sangat menyayangi Ibu Rika dan Laras.
Mendengar ucapan Alana, ibu Rika dan Laras yang sekarang ini masih berdiri di depan teras rumah Devano pun lagi-lagi hanya bisa terdiam.
"Sayaaaang, apa bener semua yang di ucapkan Alana.? Kalau selama ini, Alana sangat menyangi kita.? Dan bahkan selama ini juga, Alana sudah menganggap kita ini keluarga Alana sendiri.?" Kata Ibu Rika masih belum percaya dengan ucapan dari Alana itu.
"Kayaknya semua itu memang benar deh mah.? Kalau selama ini Alana memang sangat menyayangi kita, buktinya aja sekarang ini dia belain kita didepan papah dan juga di depan kak Devano mah.?" Kata Laras yang sudah mulai percaya dengan kata-kata Alana itu.
"Iya sayang, kayaknya selama ini kita udah salah menilai Alan,,,,,,,," Seketika ucapan ibu Rika itu terpotong, karena lagi-lagi ia mendengar pak Adi, Alana dan Devano yang masih terus ngobrol.
"Nak, tapi papah enggak mungkin nak.! Mempertahankan pernikahan ini diatas penderitaan kamu.? Papah enggak akan pernah mungkin bisa nak.?" Kata pak Adi serius.
"Paaah, Alana ini enggak pernah menderita paaah.? Ngelihat papah bisa bahagia hidup bersama mama Rika aja, Alana itu udah bahagia banget paaah.? Lagian emang papah enggak kasihan sama mamah Rika dan juga kak Laras.? Udah bertahun-tahun loh pah, mereka hidup bersama kita dalam susah maupun senang.? Bahkan sampai sekarang pun mamah Rika masih setia sama papah.? Meskipun papah sering sakit-sakitan, mamah Rika enggak pernah ninggalin papah kan.? dan mama Rika juga enggak pernah lupa dengan kewajibannya sebagai seorang istri, mamah Rika kasar sama Alana, mungkin karena mamah Rika belum bisa menerima Alana selayaknya anak sendiri.? Tapi Alana yakin, mamah Rika dan kak Laras itu sangat menyangi papah.?" Kata Alana panjang lebar, ia mencoba untuk mengingatkan kebaikan Ibu Rika kepada pak Adi Ayahnya itu.
Mendengar kata-kata dari Alana, Devano pun langsung tersenyum.
"Sayang, mas benar-benar enggak nyangka kamu mempunyai hati sebaik ini.? Padahal Tante Rika sama Laras itu udah sering banget berbuat kasar sama kamu.? Tapi kenapa kamu ini masih bisa berbuat baik sama mereka sayang.? Kata Devano sambil terus tersenyum, sepertinya sekarang ini ia benar-benar tidak percaya, kalau Alana istrinya mempunyai hati sebaik itu.
"Karena Alana yakin mas.? Suatu saat nanti kebaikan Alana ini, bisa mengalahkan rasa benci di hati mamah Rika dan juga kak Laras, dan Alana juga yakin suatu saat nanti, mamah Rika dan kak Laras pasti akan bisa menyaingi dan menerima Alana selayaknya mereka menyangi keluarga mereka sendiri." Kata Alana dengan mata yang masih berkaca-kaca, sepertinya dari dulu ia sudah berpegang teguh dengan keyakinannya itu.
Mendengar kata-kata dari Alana, ibu Rika dan Laras pun lagi-lagi hanya bisa terdiam.
"J, j, jadi selama ini, Alana memang benar-benar sesayang itu sama saya dan juga Laras.? Meskipun selama ini, saya dan Laras itu sering nyakitin dia.? Saya benar-benar enggak nyangka, ternyata hati Alana memang benar-benar sangat baik.?" Kata ibu Rika dalam hati, dengan mata yang berkaca-kaca, karena sepertinya sekarang ini ia sudah mulai sadar dengan kebaikan dan ke tulusan hati Alana.
"Hiks,, hiks,, Alana.? Hiks,, hiks,,maafin mamah selama ini Alana.? Hiks,, hiks,, selama ini mamah selalu berbuat kasar sama kamu.? Hiks,, hiks,, meskipun mamah tau, hiks,, hiks,, kalau dari dulu kamu itu sangat ingin sekali diakui keluarga sama mamah, hiks,, hiks,,, disayangi sama mamah.? Hiks,, hiks,, tapi selama ini mamah malah menganggap kamu sebagai sumber kesialan dalam hidup mamah.? Hiks,, hiks,, mamah benar-benar menyesal.! Hiks,, hiks,, mamah ini benar-benar bukan mamah yang baik buat kam,,,,,," Seketika ucapan ibu Rika itu terpotong.
"Hiks,,, hiks,, maaah.? Hiks,, hiks,, lebih baik sekarang ini kita masuk kedalam yuks mah.? Hiks,, hiks,, kita minta maaf baik-baik sama Alana dan juga papah mah.?" Kata Laras sambil menangis, karena sepertinya setelah ia mendengarkan obrolan dari mereka, sekarang ini ia sangat menyesal karena sudah berbuat kasar kepada Alana, dan selalu berbohong kepada pak Adi Ayah tirinya itu.
"Hiks,, hiks,, iya sayang.? Hiks,, hiks,, sekarang ini kita harus minta maaf sama hiks,, hiks,, Alana dan juga hiks,, hiks,, papah.?" Kata Ibu Rika yang juga menangis karena menyesal.
Mendengar kata-kata dari Alana, pak Adi pun langsung tersenyum.
"Papah benar-benar bangga sayang, mempunyai anak seperti kamu.? Papah bener-bener bangga." Kata pak Adi dengan mata yang berkaca-kaca, kemudian ia pun langsung memeluk tubuh Alana dengan begitu eratnya.
"Iya pah, Alana juga bangga memiliki orang tua seperti papah.? Alana mohon yah pah.? Jangan pernah papah ceraiin mamah Rika.! Alana janji sama papah, Alana akan buktiin.! Kalau suatu saat nanti, mamah Rika dan juga kak Laras itu pasti akan bisa menyayangi Alana seperti mereka menyayangi keluarga mereka sendiri, Alana akan buktiin pah.! Alana akan bukti,,,,,,,," Seketika ucapan Alana itu terpotong.
"Hiks,, hiks,,, Kamu benar sayang, hiks,, hiks,, Kamu benar.! Hiks,, hiks,, semua kata-kata kamu itu.? Hiks,, hiks,, hari ini terbukti.! Hiks,, hiks,, karena mulai hari ini, hiks,, hiks,, mamah dan kak Laras, pasti akan hiks,, hiks,, selalu menyangi kamu.? Hiks,, hiks,, kamu bener sayang.? Hiks,, hiks,, kamu bener, hiks,, hiks,, semua kata-kata kamu itu, hiks,, hiks,, hari ini terbukti.?" Kata Ibu Rika yang baru saja masuk kedalam rumah Devano bersama dengan Laras, dalam keadaan yang masih terus menangis.
"M, m, mamah.? K, k, kak Laras.? Kalian sejak kapan disini.? Terus kenapa kalian menangis.?" Kata Alana gugup dan kaget melihat mereka mengangis seperti itu didalam rumahnya.
Mendengar kata-kata dari Alana, dengan segera ibu Rika dan Laras pun langsung menghampirinya dan duduk tepat dibawah kakinya.
"Hiks,, hiks,, mamah minta maaf yah sayang.? Hiks,, hiks,, mamah minta maaf.? Hiks,, hiks,, mamah udah denger semuanya sayang, hiks,, hiks,, apa yang baru saja kamu obrolin sama papah dan juga nak Devano.? Hiks,, hiks,, kalau ternyata,,, hiks,, hiks,, selama ini kamu sangat menyayangi mamah juga kak Laras.? Hiks,, hiks,, mamah minta maaf yah sayang.? Hiks,, hiks,, selama ini mama udah sering berbuat kasar sama kamu.? Hiks,, hiks,, mamah benar-benar menyesal sayang.? Hiks,, hiks,, mamah benar-benar menyesal." Kata ibu Rika dengan raut wajah yang sangat sedih, sambil terus duduk tepat dibawah kaki Alana dengan keadaan menunduk.
"Hiks,, hiks,, maaah.? Hiks,, hiks,, mamah kenapa nangis kayak gini.? Hiks,, hiks,, udah mah.! Hiks,, hiks,, udah.! Hiks,, hiks,, sekarang mamah bangun.! Hiks,, hiks,, mamah jangan duduk di bawah kayak gin,,,,,,," Seketika ucapan Alana itu terpotong.
"Hiks,, hiks,, Iya Alana.? Hiks,, hiks,, kak Laras juga minta maaf yah.? Hiks,, hiks,, selama ini kak Laras udah jahat banget sama kamu.? Hiks,, hiks,, selama ini kak Laras selalu iri sama kamu.? Hiks,, hiks,, enggak seharusnya kak Laras ini mengaku-ngaku sebagai kamu sama kak Devano, hiks,, hiks,, kak Laras benar-benar minta maaf.? Hiks,, hiks,, tolong maafin kak Laras yah Alana.? Hiks,, hiks,, kak Devano juga.? Hiks,, hiks,, maafin Laras yah.?" Kata Laras yang juga masih duduk di bawah, tepat didepan kaki Alana, dengan raut wajah yang sangat sedih, karena sepertinya sekarang ini ia dan ibu Rika benar-benar sudah sadar dan menyesali semua perbuatan jahatnya kepada Alana selama ini.
"Hiks,, hiks,, iya kak.! Hiks,, hiks,, Alana maafin.? Hiks, hiks,, tapi udah kak Laras sama mamah jangan duduk dibawah.! Hiks,, hiks,, Ayo kak Laras sama mamah duduk di atas.!" Kata Alana yang juga menangis, karena sedih sekaligus senang dengan apa yang sedang terjadi sekarang ini.
"Iya Ras, Aku juga udah maafin kamu kok.! Jadi sekarang, kamu sama tante Rika jangan duduk di bawah.? Ayo duduk di atas.!" Kata Devano serius, ia mencoba untuk memaafkan semua kesalahan Laras demi Alana, meskipun sesungguhnya sekarang ini ia masih sangat benci kepadanya.
"Hiks,,, hiks,, iya kak Devano, hiks,, hiks,, terimakasih yah kak.?" Kata Laras sambil terus menangis.
"Hiks,, hiks,, iya nak Devano, hiks,, hiks,, ibu juga bener-bener minta maaf.? Hiks,, hiks,, karena ibu juga udah ikut berbohong sama kamu, hiks,, hiks,, ibu udah nutup-nutupi siapa Alana yang sebenarnya sama kamu.? Hiks,, hiks,, tolong maafin ibu yah nak.?" Kata Ibu Rika meminta maaf dengan tulus kepada Devano.
"Iya bu, Devano maafin.?" Kata Devano sambil tersenyum.
"Hiks,, hiks,, Makasih yah mas.? Hiks,, hiks,, mas udah mau maafin,,, hiks,, hiks,, mamah sama kak Laras.?" Kata Alana sambil menatap dalam wajah Devano.
"Iya sayang, semua ini demi kamu.? Asalkan kamu bisa bahagia, mas pasti akan lakukan apapun itu untuk kamu." Kata Devano serius, kemudian ia pun langsung memeluk tubuh Alana dengan begitu erat.
"Hiks,, hiks,, makasih mas.? Hiks,, hiks,, makasih.?" Kata Alana sambil terus menangis dipelukan Devano.
"Iya sayaaaang." Kata Devano pelan sambil tersenyum.
"Oh iya.! Mamah, Laras, Ayo duduk diatas.! Jangan duduk di bawah." Kata Devano menyuruh Laras dan Ibu Rika kembali untuk duduk diatas.
"Iya nak Devano, terimakasih yah nak.?" Kata ibu Rika, kemudian ia dan Laras pun langsung beranjak bangun dan duduk tepat disamping pak Adi.
"Hiks,, hiks,, paaaah.? Hiks,, hiks,,, Maafin mamah sama hiks,, hiks,, Laras yah paaah.? Hiks,, hiks,, selama ini mamah sama Laras selalu bohongin papah tentang Alana.? Hiks,, hiks,, mamah sama Laras benar-benar menyesal pah.? Hiks,, hiks,, mamah sama Laras benar-benar menyesal.?" Kata ibu Rika serius, sambil terus menangis karena menyesal.
"Hiks,, hiks,, iya pah.? Hiks,, hiks,, maafin mamah sama Laras yah pah.? Hiks,, hiks,, Laras sama mamah benar-benar menyesal paaah.?" Kata Laras yang juga masih terus menangis itu.
Melihat istri dan anaknya meminta maaf seperti itu, pak Adi pun tersenyum, kemudian ia pun langsung memeluk ibu Rika dan juga Laras dengan begitu eratnya.
"Iya sayaaang, papah maafin kalian berdua. Tapi kalian janji yah sayang sama papah.? Jangan pernah kalian berbuat seperti itu lagi.?" Kata pak Adi mencoba untuk menasehati ibu Rika dan juga Laras.
"Iya pah, Laras sama mamah janji.! Laras sama mamah enggak akan pernah ngelakuin hal bodoh kayak gitu lagi." Kata Laras mencoba untuk menyakinkan pak Adi.
"Iya pah, bener kata Laras, mamah sama Laras enggak akan pernah berbuat kayak gitu lagi." Kata ibu Rika, ia pun mencoba untuk meyakinkan pak Adi.
"Iya sayaaaang." Kata pak Adi sambil terus tersenyum, kemudian ia pun langsung memeluk Ibu Rika dan Laras kembali dengan begitu eratnya.
Melihat keluarganya akur kembali seperti itu, Alana yang sekarang ini masih berada dipelukan Devano pun langsung tersenyum.
"Oh iya Alana, sini.! Biar kita pelukan rame-rame.?!" Kata Ibu Rika sambil tersenyum.
"I, i, i,ya mah.!" Kata Alana gugup, karena sekarang ini adalah kali pertama ibu Rika mengajaknya untuk berpelukan.
Melihat Alana gugup seperti itu, Devano pun langsung tersenyum.
"Kamu kenapa gugup kayak gitu sayaaaang, hah.? Udah sanah.! Tuh mamahnya pengin peluk." Kata Devano menyuruh Alana untuk ikut berpelukan dengan keluarganya itu.
"T, t, tapi mas,,,, Kalau sekarang Alana pelukkan sama keluarga Alana, entar mas pelukan sama siapa.?" Kata Alana manja.
Mendengar kata-kata dari Alana, lagi-lagi Devano pun tersenyum.
"Udah enggak papaaaa, mas di sini aja.! Mas mau lihatin istri mas yang cantik ini bahagia bareng keluarganya." Kata Devano sambil tersenyum menggodanya.
"Iiiiiiihhhhh maaaas.?" Kata Alana merengek manja sambil tersenyum.
"Ya udah sanah.! Pelukan sama mamanya." Kata Devano sambil menatap kearah ibu Rika, Laras dan juga pak Adi yang sekarang ini masih berpelukan.
"Ya udah yah mas.? Kalau gitu Alana mau peluk keluarga Alana dulu." Kata Alana sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menghampiri pak Adi, Ibu Rika dan juga Laras, dan kemudian langsung ikut memeluk mereka dengan begitu eratnya.
"Eeeemmmm Alana sayang sama kaliaaaan.?" Kata Alana sambil tersenyum, dengan raut wajah yang sudah tidak bisa diartikan lagi betapa bahagia hatinya saat ini.
"Sama, mamah sama kak Laras juga sayaaaang banget sama kamu.?" Kata ibu Rika sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Alana.
"Iya Alana, maafin kak Laras sama mamah yah.?" Kata Laras lagi-lagi minta maaf kepada Alana.
"Iya kak Laras, Alana juga minta ma,,,,,,," Seketika ucapan Alana itu terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar teriakkan dari Siska sahabatnya, tepat didepan pintu masuk rumahnya.
"Hallo semuanyaaaaa.? Kita dat,,,,,,,,,tang." Seketika teriakan Siska tersendat, karena ia kaget bukan main melihat pemandangan yang menurutnya sangat-sangat langka itu berada tepat di depan mata.
"I, i, ini serius.? A, a, aku enggak lagi mimpi kan.? S, s,, semuanya udah pada akur.?" Kata Siska gugup sambil mengucek-ngucek matanya, karena sekarang ini ia benar-benar masih belum percaya dengan apa yang sedang ia lihat.
"Siskaaa, Dikiiii.? Kok kalian tiba-tiba kesini.? Terus itu Kalian bawa apaan banyak banget.?" Kata Devano kaget dan bingung, sambil menatap ke arah beberapa bingkisan sayur-sayuran dan daging yang sedang mereka tenteng.
"I, i, ini Dev.? G, g, gue kesini,,,,,,,,," Belum sempat Diki menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.
"Kenapa kalian masih ada di luar.? Ayo sekarang juga kita masuk.!" Kata Raka yang juga baru sampai di rumah Devano, yang sekarang ini sedang berdiri tepat di belakang Diki dan Siska, sambil menenteng bingkisan beberapa macam buah-buahan di tangannya.
"I, i, itu kak.! Di dalam,,, a, a, ada,,,,,," Belum sempat Siska menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.
"Aduuuuhhh kenapa sih kalian.? Sebenarnya ada apa sih di dalam.?" Kata Raka penasaran, sambil buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah Devano, namun baru saja ia melangkah sampai di depan pintu, tiba-tiba langkahnya terhenti.
"Rakaaaa,, kamu juga ada disini.? Terus kamu juga bawa,,,,,,,, Aduuuuhhh sebenarnya ini ada apa sih.? Sebenarnya kalian mau ngapain di sini.?" Kata Devano kaget dan semakin bingung, mengapa tiba-tiba Raka, Diki dan juga Siska datang kerumahnya sambil repot membawa sayur, daging dan buah-buahan sebanyak itu.
"Iya, kak Raka, kak Diki, Siska juga.? Sebenarnya ini ada apa sih.? Kok tiba-tiba, malam-malam kayak gini, kalian main ke sini.? Mana repot-repot bawa belanjaan banyak banget kayak gitu lagi.?" Kata Alana yang juga bingung melihat mereka tiba-tiba datang ke rumahnya dengan belanjaan yang sebanyak itu.
"Kenapa sayaaaang.? Kok kayaknya anak mamah pada heran sih lihat mereka malam-malam main kesini.? Mereka semua kan temen kalian sayaaang.?" Kata Dinda yang baru saja masuk ke dalam rumah Devano bersama dengan pak Erik dan juga Kiara.
"Mamaaah, Papaaah, Kiara juga.? Sebenarnya semua ini ada apa sih.?" Kata Devano yang semakin bingung dengan semuanya.
"Oh iya, mamah lupa.! Mamah belum kasih tau kalian yah.? Sebenarnyaaaa,,,," Belum juga Dinda menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.
"Papah, papah.! Kiara pengin turun dong.! Soalnya Kiara pengin duduk di pangkuan kakak Alanaaa.?" Kata Kiara yang sekarang ini sedang berada di gendongan pak Erik.
"Oooohhh Kiara pengin sama kakak Alanaaa.?" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum.
"Iyaaaa, Kiara mau sama kakak Alana paaaah.?" Kata Kiara sambil merengek.
"Ya udaaah, kalau Kiara pengin sama kakak Alanaaa, sekarang Kiara turun yaaah.?" Kata pak Erik sambil menurunkan Kiara dari gendongannya, kemudian Kiara pun langsung lari dan duduk di pangkuan Alana.
"Eeemmm kesayangan kaaakak nih.?" Kata Alana sambil mengusap-usap rambut Kiara dengan penuh kasih sayang.
"Ya udah mah, tolong jelasin sama Devano.! Sebenarnya ini semua ada apa sih.? Kok semuanya pada bawa belanjaan banyak banget kayak gini ke rumah Devano.?" Kata Devano mencoba untuk menanyakan lagi kepada Dinda mamahnya, sambil menatap kearah belanjaan yang cukup banyak, yang mereka bawa itu.
"Ya udah sekarang mamah jelasin yaaah.? Sebenarnyaaa, sekarang ini mamah kesini ajak mereka semuaaa, karena malam ini.? Kita semua mau masak-masak dan makan-makan di sini.? Enggak papa kan sayang.? Itung-itung ngerayain kamu sama Alana, kan sekarang ini, kamu sama Alana udah bener-bener jadi suami istri beneraan, iya kan sayang.?" Kata Dinda mencoba untuk menjawab pertanyaan dari Devano.
"Yaelahhh maaah.! Mamah ini ada-ada aj,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
__ADS_1
"E, e, eehhh tapi tunggu dulu.! Disini juga ternyata ada Pak Adi.? Ibu Rika, dan Laras juga.? Kalian semua juga ada disini.?" Kata Dinda kaget, sambil tersenyum menatap kearah pak Adi, Ibu Rika dan juga Laras.
"I, i, iya bu.! Tapi enggak papa.! Kalau sekarang disini lagi ada acara, biar sekarang kita pulang aja.?" Kata Ibu Rika gugup, karena ia merasa tidak enak.
"Iya bener banget mah, lebih baik sekarang kita pulang aja.! Takutnya kita disini ganggu acara Om Erik sama Tante Dinda lagi." Kata Laras yang juga merasa tidak enak.
"Loh kok malah pada mau pulang.? Ibu Rika sama Laras enggak usah pada pulang.! Lebih baik sekarang ini ibu Rika sama Laras ikut masak-masak dan makan-makan disini aja.!" Kata Dinda mencoba untuk mengajak Ibu Rika dan Laras untuk makan bersama.
"Iya Bu, Laras juga.! Sekarang ini,,, kita semua kan keluarga, jadi alangkah baiknya sekarang ini kita berkumpul disini rame-rame, supaya kita bisa mempererat tali silaturahmi keluarga kita ini bu.?" Kata pak Erik sambil tersenyum.
"T, t, tapi pak, bu.! Apa kita ini enggak gang,,,,,,,,," Seketika ucapan ibu Rika terpotong.
"Maaaah, ayo lah maaaah,,, kak Laras juga.! Kalian jangan nolak.! Malam ini, biar kita makan disini rame-rame, Alana mohon mah, kak Laras juga, yaaah.?" Kata Alana memohon kepada ibu Rika dan juga Laras.
"Iya mah, dan kamu juga Laras.! Malam ini kita ikut makan rame-rame aja disini yah.? Entar habis itu baru kita pulang." Kata pak Adi serius.
"Ya udah kalau gitu pah.! Kita mau kok makan disini rame-rame." Kata ibu Rika sambil tersenyum.
Mendengar jawaban dari ibu Rika, seisi ruangan pun semuanya langsung bersorak.
"Horeeeeeeee.!" Suara mereka semua bersorak dengan sangat gembira.
"Ya udah ayo sekarang juga kita masak.!" Kata Siska tergesa-gesa sambil tersenyum.
"Ya udah, ayo.! ayo.! Entar kita keburu kemalaman lagi.?" Kata Diki dan Raka secara bersamaan, penuh dengan semangat.
"Iya bener.! Takutnya entar kita kemalaman.? Ayo kak Laras.! Sekarang juga kita ke dapur." Kata Siska sambil menarik tangan Laras, kemudian ia, Laras, Raka dan Diki pun langsung mencoba untuk melangkah menuju dapur.
"E, e, ehhhh tunggu dulu.! Ini serius kita yang mau masak.?" Kata Devano gugup dan tak percaya.
"Ya iya lah kak Devano, kan sekarang Tante Dinda sama Tante Rika nya, lagi ngobrol tuh di ruang keluarga bareng sama Om Erik juga Om Adi.?" Kata Siska sambil menatap kearah pak Erik, Dinda, pak Adi dan juga ibu Rika yang memang sedang ngobrol dengan begitu asyik di ruang keluarga.
"Lagian kak Devano tenang aja.! Istri kak Devano itu jago masak kok.!" Kata Siska sambil tersenyum menatap kearah Alana yang sedang berdiri tepat di samping Devano.
Mendengar kata-kata dari Siska, Alana pun langsung tersenyum.
"Iya mas Devano, mas Devano tenang aja.! Alana udah biasa masak kok.?" Kata Alana serius, ia mencoba untuk menyakinkan Devano.
"Tuh kan kak Devano, bener kata aku.? Istri kak Devano itu jago masak.! Ya udah ayo sekarang juga kita ke dapur.!" Kata Siska sambil buru-buru melangkah kembali menuju dapur, dan diikuti oleh Raka, Diki juga Laras dari belakang.
"Ya udah ayo mas, sekarang kita ikut mereka ke dapur.?" Kata Alana sambil tersenyum dan menggandeng tangan Devano, kemudian ia pun mencoba untuk melangkah menuju dapur.
"E, e, ehhh tunggu dulu sayang.! Tapi kamu enggak boleh masak yah.? Biar mas aja yang masak, kan sekarang ini kamu lagi sakit.?" Kata Devano penuh perhatian.
"Apa.?!!! Alana enggak salah dengar.? Mas aja yang masak.? Emang mas bisa masak.?" Kata Alana dengan suara tinggi karena kaget mendengar ucapan dari Devano suaminya itu.
"Eeeemmm sembarangan nih istri mas.! Gini-gini mas juga pinter masak tau.? Kan dulu mas lama tinggal di Korea sendiri waktu mas masih kuliah, jadi sedikit-sedikit mas bisa lah masak sendiri." Kata Devano serius kalau ia memang benar-benar bisa memasak.
"Mas serius mas.? Mas enggak bohong.?" Kata Alana masih belum percaya dengan ucapan Devano itu.
"Mas serius sayaaaang, udah makanannya nanti di dapur kamu enggak usah masak, kamu duduk aja, lihatin mas yang masak.! Lagian kan sekarang ini kamu lagi sakit." Kata Devano mencoba untuk meyakinkan Alana kembali, kemudian ia dan Alana pun langsung melangkah menuju dapur untuk memasak bersama dengan yang lainnya.
Satu jam berlalu,,,,
MASIH DI DAPUR.
Terlihat Alana yang dari tadi sedang duduk terdiam, sambil terus tersenyum.
Karena lucu melihat Devano suaminya itu, yang dari tadi sedang sibuk memasak.
"Mas Devano.! Masak yang enak yah buat Alana.?" Teriak Alana sambil terus tersenyum menatap kearahnya.
"Iya sayaaaang, kamu tenang aja.! Makanan ini mas masakin spesial buat kamu." Kata Devano dengan sabarnya, sambil terus sibuk memasak masakannya itu.
"Dev, loh udah selesai belum.? Kita mah udah selesai nih." Kata Raka sambil membawa hasil masaknya satu-persatu menuju meja makan, bersama dengan Diki, Laras dan juga Siska.
"Iya nih, sebentar lagi juga gw selesai." Kata Devano.
"Ya udah, kalau gitu sekarang kita duluan yah ke ruang makan.?" Kata Diki sambil terus berjalan menuju ruang makan, bersama dengan Raka, Laras, dan juga Siska.
"Wah.! Wah.! Waaaahhhh.! Makanannya udah pada matang nih.?" Kata Dinda yang dari tadi sudah duduk di meja makan bersama dengan pak Erik, Kiara, pak Adi dan juga Ibu Rika.
"Udah dong Tanteeee." Kata Siska sambil tersenyum dan terus menyiapkan makanan tersebut di meja makan.
"Oh iya.! Devano nya mana nih sama Alana.?" Kata pak Erik sambil menengok kanan kiri mencari Devano dan juga Alana yang tak terlihat olehnya.
"Devano sama Alana nya masih di dap,,,,,,,," Seketika ucapan Raka terpotong.
"E, e, ehhhh itu Devano sama Alana nya udah datang Om.?" Kata Raka sambil menatap kearah Devano dan Alana, yang baru saja keluar dari dapur, yang sekarang ini sudah berdiri di ruang makan tersebut dan berkumpul dengan yang lainnya.
Setelah semuanya berkumpul di meja makan, dengan segera mereka semua pun langsung menyantap hidangan tersebut dengan sangat lahap, bahkan mereka semua pun terlihat sangat asyik dan sangat menikmati hidangan tersebut.
"Waaaah,,, yang ini enak bangeeeet.?" Kata Siska sambil mencicipi salah satu jenis makanan yang mereka masak.
"Jangan dihabisin dooong.! Aku juga maaau." Kata Raka ketakutan.
"Sama aku juga mau, jangan di habisin doooong.!" Kata Diki yang juga ketakutan.
Melihat tingkah laku mereka bertiga seperti itu, pak Erik, Dinda, pak Adi, dan ibu Rika pun tersenyum, begitu juga dengan Laras, ia dari tadi terlihat hanya terdiam sambil terus tersenyum.
"Gw baru tau, ternyata kebersamaan itu benar-benar sangat menyenangkan.?" Kata Laras dalam hati, sambil terus tersenyum menatap kearah Raka, Diki, dan juga Siska yang masih terus rebutan makanan.
"Laraaas, kamu kenapa.? Kok dari tadi diam aja.? Kamu mau enggak.? Ini kan masakan kamu juga, enak tau.!" Kata Diki sambil tersenyum, dan sok perhatian, ia mencoba untuk menawarkan makanan tersebut kepada Laras, karena sepertinya dari semenjak ia masak bersama di dapur tadi, Diki sedikit tertarik kepadanya.
"Ehemmm, Eheeemm.!!! Bisa aja nih Diki.?" Kata Raka pura-pura batuk sambil tersenyum menggodanya.
"Tau nih kak Diki, modus nih kak Diki niiiiih.! Moduuuus.?" Sambung Siska yang juga tersenyum menggodanya.
"Apaan sih kalian, brisik tau.!" Kata Diki sewot.
"Udah Ras, jangan didengerin omongan mereka.! Lebih baik kita makan, nih buat kamu.?" Kata Diki lagi, sambil memberikan makanan tersebut kepada Laras.
"I, i, iya,,,, terimakasih yah kak.?" Kata Laras gugup sambil tersenyum.
Melihat tingkah laku Diki seperti itu, seisi ruangan pun semuanya langsung tersenyum, begitupun juga dengan Devano dan Alana.
"Lucu yah mas mereka.?" Kata Alana sambil terus tersenyum menatap kearah Diki yang seperti sedang kasmaran kepada Laras.
"Udaaah kalau lagi makan, jangan sambil ngomooong." Kata Devano pelan, ia mencoba untuk menasehati Alana.
"Iya, iyaaaa." Kata Alana, kemudian ia pun langsung melanjutkan untuk makan kembali.
"Oh iya sayang, kamu juga mau enggak makanan itu.?" Kata Devano penuh perhatian, sambil menatap kearah makanan yang dari tadi sedang di perbutkan oleh teman-temannya itu.
"Enggak usah ah mas, enggak papa.! Alana mau makan masakan mas aj,,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.
"Aw.! Aduh, aduh.!" Kata Alana sambil memegang erat kepalanya.
"Sayang, kamu kenapa sayang.?" Kata Devano panik dan tergesa-gesa.
"Iya nak, kamu kenapa nak.?" Kata pak Adi, yang juga panik melihat keadaan Alana seperti itu.
"Aduuhhh, Alana juga enggak tau maaas, paaah.? Tiba-tiba kepala Alana ini pusing bangeeet.? Terus sekarang perut Alana juga mual." Kata Alana mencoba untuk menjawab pertanyaan Devano dan juga pak Adi.
"Apa sayang.?!!! Tadi kamu ngomong apa.? Sekarang kepala kamu pusiiiing, terus perut kamu juga mual.?" Kata Dinda dengan suara tinggi sambil tersenyum.
"Iya maaah." Kata Alana sambil terus meringis, Karena merasakan pusing dan mual.
"Benernan sayang, sekarang kamu ngerasain kayak gitu.? Kalau beneraan kamu ngerasain kayak gitu.? Berarti kemungkinan, apa kata dari Dokter Sinta tadi siang itu benar dong sayang.?" Kata Dinda sambil terus tersenyum menatap kearah Alana, namun entah apa maksud dari ucapanya itu.
Mendengar kata-kata dari Dinda, Alana pun langsung tersenyum.
"M, m, maksud mamah.? Sekarang ini,,, A, A, Alana beneran hamil mah.?" Kata Alana dengan raut wajah yang sangat-sangat bahagia, ia berbicara seperti itu, karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi siang saat ia diperiksa oleh dokter Sinta, Dinda mencoba untuk meminta tolong kepada dokter Sinta, untuk coba-coba memeriksa kandungan Alana, dan ternyata hasilnya.? Kemungkinan besar positif, namun karena garis di Test pack tersebut yang satu masih sangat buram dan hampir tidak terlihat, jadi dokter Sinta menyarankan Alana untuk memeriksanya lagi, satu Minggu yang akan datang.
"Apa sayang.?!!! S, s, sekarang ini kamu hamil.?" Kata Devano gugup sambil tersenyum, karena sekarang ini ia benar-benar kaget sekaligus senang mendengar ucapan Alana itu.
Melihat Devano kaget seperti itu, dengan segera Dinda pun langsung menjelaskan apa yang telah doker Sinta sampaikan kepadanya dan juga Alana tadi siang.
"Apa.?!! Berarti sebentar lagi kita punya cucu dooong.?" Kata pak Erik dengan suara tinggi sambil tersenyum, karena sekarang ini ia pun benar-benar sangat bahagia mendengar kabar tersebut.
"Horeeeeeeee.! Sebentar lagi Om Erik punya cucuuuuu.? Horeeeeeeee.!" Teriak Raka, Siska, Diki, dan Laras secara bersamaan, sambil tersenyum dengan raut wajah yang sangat bahagia.
"Mamah, mamah.? Kalau sekarang kakak Alana hamil, berati sebentar lagi Kiara punya temen dong mah.?" Kata Kiara sambil tersenyum dengan sangat bahagia.
"Iya sayang, sebentar lagi Kiara punya temen.?" Kata Dinda sambil terus tersenyum.
"Horeeee.! Sebentar lagi Kiara punya temen baru.! Horeeee.! Horeeee.! Horeeee.!" Teriak Kiara heboh, sambil loncat-loncat penuh dengan semangat.
Melihat tingkah laku Kiara seperti itu, seisi ruangan pun semuanya tersenyum, begitu juga dengan Devano dan juga Alana.
"Sayang, terimakasih yah.? Kamu udah memberikan hadiah yang sangat-sangat berharga untuk mas.? Mas janji sayang, mas akan selalu setia dan akan selalu berusaha untuk bisa bahagiain kamu dan juga anak kita ini SELAMANYA.?" Kata Devano serius, sambil tersenyum dan mengusap-usap perut Alana.
"Iya mas, Alana juga janji.! Alana akan berusaha menjadi istri dan ibu yang baik buat mas dan juga anak-anak kita kelak." Kata Alana sambil tersenyum, dan menatap dalam wajah tampan Devano.
Mendengar kata-kata dari Alana, Devano pun langsung tersenyum, kemudian ia pun langsung mengusap-usap perutnya.
"Hallo anak papaaah, sekarang anak papah lagi ngapain niiiih, didalam perut mamaaaah, hah.? Anak papah ini enggak boleh rewel yaaah.? Jangan bikin mamah nya sakit, kasihan mamaaah.?" Kata Devano sambil tersenyum dan terus mengusap-usap perut Alana itu dengan penuh kasih sayang.
"Ok papah.! Dede janji, dede enggak bakalan reweeel.? Lagian kan sekarang ini,, dede lagi bobo paaaah, di dalam perut mamaaah.?" Jawab Alana sambil terus tersenyum dan menirukan suara gemas dari anak kecil.
"Ohhh anak papah ini lagi boboooo, hah.?" Kata Devano lagi sambil tersenyum dan terus mengusap-usap perut Alana, kemudian ia pun langsung memeluk dan menciumi perutnya itu dengan sangat pelan dan lembut.
"Eeemmm anak paaapah ini.?" Kata Devano gemas, sambil terus tersenyum, kemudian ia pun langsung menciumi lagi perut Alana istrinya itu tanpa henti-hentinya.
"Aw.! Geli maaas.? Perut Alana nya jangan dicium-cium teruuuus." Kata Alana merengek dengan sangat manjanya.
Melihat tingkah laku Devano dan Alana seperti itu, seisi ruangan pun semuanya langsung tersenyum, kemudian mereka semua pun langsung memberikan selamat kepada Devano dan juga Alana.
"Selamat yah kak Devano, Alana.?"
"Iya selamat yah.?"
"Selamat yah.?"
"Selamat.?"
"Selamat.?"
"Selamat.?" Kata mereka semua secara bergantian
~END~
######
Tamat yah guys.!
Terimakasih buat para reader semuanya yang sudah setia membaca novel DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU ini, yang masih sangat-sangat jauh dari kata sempurna, karena tanpa para reader semuanya, tidak mungkin Author akan sanggup menyelesaikan cerita yang sangat panjang ini.
Dan terimakasih juga buat para reader semua yang sudah like, coment, vote, rat, fav, yang sudah kasih kritikan, saran dan juga semangat untuk author hingga novel ini mencapai 2 Juta views, dan mohon maaf juga buat para reader semuanya yang kurang berkenan, bosan dan tidak nyaman dengan cerita ini, karena Author juga sangat menyadari, dicerita ini tulisan Author masih sangat-sangat AMBURADUL.!!! Banyak pengulangan kata dan typo 🙏🙏🙏
NB:
Mohon maaf yang sebesar-besarnya buat para reader semuanya, jika ada yang belum ikhlas dan sedih novel DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU ini END, Karena sebenarnya Author juga sangat sedih 😭 Tapi mau gimana lagi, alur ceritanya memang harus seperti itu 🙏🙏🙏
__ADS_1