
DI RUMAH RENATA.
Waktu menunjukkan pukul 09:00 Pagi.
Terlihat Renata yang baru saja pulang dari rumah Diki dan masuk ke dalam rumahnya.
"Aduuuh.! Kira-kira jam segini papah udah berangkat ke kantor apa belum yah.?" Ucapnya dalam hati panik, sambil berjalan dengan sangat pelan, agar tidak terdengar oleh siapapun yang ada di dalam rumahnya.
"Kalau papah sampai tau semalam gw nginep di rumah Bang Diki, pasti papah bakal marah besar sama gw.! Aduuuh, gw harus kasih alasan apa yah sama pap,,,,,," Seketika ucapannya terpotong.
"Dari mana aja kamu jam segini baru pulang.?" Ucap pak Edo yang sedang berdiri di belakangnya, bersama dengan ibu Lia yang tak lain adalah istrinya.
"P, p, papah.?" Ucap Renata gugup karena saking takutnya.
"Jawab.! Dari mana aja kamu jam segini baru pulang.?" Ucap pak Edo dengan suara tinggi dan tatapan mata yang sangat tajam, ia mencoba untuk menanyakannya lagi dengan tegas.
"I, i, itu pah.! S, s, semalam Renata, i, i, itu,,,,," Ucap Renata lagi-lagi gugup.
"Semalam Renata itu, semalam Renata itu, apa.?" Ucap pak Edo marah.
"Sssttt.! Papaaah, anaknya baru pulang kok langsung dimarahin sih.? Mungkin aja Renata pulang pagi karena semalam Renata habis lembur, iya kan sayang.?" Ucap Ibu Lia sambil mengedipkan matanya kepada Renata putrinya untuk memberinya kode, ia mencoba untuk membelanya meskipun sesungguhnya ia sangat tau, tidak mungkin Renata putrinya lembur sampai pagi seperti sekarang ini, karena memang sebelumnya Renata tidak pernah pulang kerja sampai pagi seperti sekarang. Namun ia terpaksa memberi alasan seperti itu, karena ia sangat tau waktu pak Edo suaminya itu sangatlah keras.
"I, i, iya bener pah.! S, s, semalam Renata lembur." Ucap Renata gugup karena ia sedang berbohong.
"Soalnya semalam itu ada pasien gawat yang harus Renata tangani pah, kalau papah enggak percaya, papah boleh kok telepon sama Dita, soalnya semalam Renata lembur bareng Dita." Ucapnya lagi-lagi berbohong.
"Ya udah kalau gitu papah percaya. Tapi awas aja yah kalau kamu sampai bohongin papah.! Papah enggak akan pernah maafin kamu.!" Ucap pak Edo dengan sangat tegas, ia langsung percaya begitu saja dengan ucapan Renata, karena sebelumnya Renata memang tidak pernah berbohong yang melebihi batas kepadanya.
"I, i, Iya pah." Ucap Renata.
"Papah ini apa-apaan sih.? Kok ngomongnya gitu sama anak sendiri." Ucap Ibu Lia sedikit kesel.
"Ya udah sayang, lebih baik kamu naik gih ke kamar.! Mandi terus istirahat, lagian kamu pasti lelah banget kan, jam segini baru pulang kerja.?" Ucapnya lagi menyuruh Renata putri tersayangnya untuk istirahat.
"Ya udah mah, pah.! Kalau gitu Renata ke kamar dulu yah.?" Ucap Renata sambil berjalan menuju kamarnya, kemudian ia pun langsung masuk ke dalam kamar tersebut. sesampainya ia di dalam kamar, ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar
"Selamaaaat-selamat, untung papah sama mamah percaya, hampir aja copot jantung gw ini.!" Ucapnya dalam hati lega.
DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH DEVANO.
Terlihat Devano yang sedang duduk di dalam kamarnya sambil terus termenung.
"Ya Tuhaaaan.! Kenapa gw jadi pusing banget kayak gini sih.? Gw enggak salah kan udah kasar banget sama Diki kayak gitu.? Lagian emang dia kan yang salah.?"
Ucap Devano dalam hati sambil terus termenung, sehingga Alana Istrinya yang melihatnya pun heran.
"Mas Devano, mas Devano kenapa sih.? Perasaan dari semalam Alana perhatiin, mas Devano bengong terus.? Apa Alana ada salah sama mas.?" Ucap Alana bingung, ia berbicara seperti itu karena memang benar, dari semalam sejak Devano pulang dari Rumah Diki, ia terus-terusan bengong seperti banyak pikiran.
"Eh, iya kenapa sayang.? Ada apa.?" Ucap Devano yang terbangun dari bengongnya.
"Tuh kan, mas enggak dengerin Alana ngomong. Kata Alana juga mas kenapa dari semalam bengong terus.? Apa mungkin Alana ada salah sama mas.?" Ucap Alana mencoba untuk mengulangi ucapnya lagi.
"Sayang, kamu ini ngomong apa sih.? Mana pernah sih kamu buat salah sama mas, yang ada juga mas kali yang buat salah terus sama kamu." Ucap Devano sambil tersenyum karena lucu mendengar ucapan Alana istri tersayangnya itu.
"Kalau gitu kenapa dong, perasaan dari semalam Alana perhatiin mas bengong terus.?" Ucap Alana penasaran.
Mendengar ucapan Alana, Devano pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Oh itu, itu karena mas lagi banyak banget pikiran sayang.! Biasalah mikirin masalah kerjaan mas di kantor." Ucap Devano berbohong, karena ia tidak mau kalau sampai Alana istri tersayangnya itu ikut-ikutan memikirkan hubungannya dengan Diki yang sekarang ini sedang retak.
"Oh gitu mas." Ucap Alana, kemudian ia pun melangkah menghampirinya dan langsung memeluknya.
"Eeeemmmm, Alana minta maaf yah mas.? Gara-gara mas sibuk kerja buat Alana, mas jadi banyak banget pikiran deh, mas harus mikirin masalah kerjaan mas di kantor." Ucap Alana merasa bersalah.
"Maksudnya.?" Ucap Devano bingung dengan ucapannya.
__ADS_1
"Ya iya mas gara-gara mas kerja buat Alana, buat kasih makan Alana, buat kasih jatah bulanan Alana belanja, buat kasih jatah bulanan Alana jajan, buat Alana shopping, pokonya semunyaaaa mas kasih buat Alana, berarti kan semua ini salah Alana, iya kan mas.?" Ucap Alana merasa bersalah dengan raut wajah sedih, sehingga membuat Devano pun tersenyum.
"Kamu itu ngomong apa sih sayaaaang, hah.?" Ucapnya sambil mencubit gemas hidungnya.
"Nih yah mas mau ngomong, dengerin.! Kamu ini istri mas, jadi semua kebutuhan kamu itu semuanya udah tanggung jawab mas, udah kewajiban mas harus bahagiain kamu, harus mencukupi semua kebutuhan kamu.! Mas udah berani nikahi kamu.! Berarti mas udah tau semua resikonya yang harus mas tanggung, jangan cuma mau enaknya aja." Ucap Devano mencoba untuk memberi tahu Alana istri tersayangnya, namun sepertinya ia lupa kalau dulu ia juga seperti itu, waktu pertama ia menikah dengannya yang tidak tanggung jawab sama sekali dan cuma mau enaknya aja.
"Jangan cuma mau enaknya aja, maksudnya.?" Ucap Alana bingung, sehingga membuat Devano pun lagi-lagi tersenyum di buatnya.
"Ya iya sayang, jangan cuma mau enaknya aja. Contohnya gini nih.! Kamu kan udah rela tuh, ngasih semuaaaaanya buat mas, dari waktu kamu kamu sisihkan buat mas, kasih sayang dan cinta kamu semuanya kamu kasih buat mas, perhatian kamu, dan ada satu lagi yang paling penting dan berharga dari diri kamu yang udah kamu kasih buat mas, yang udah buat mas sadar dan enggak akan pernah bisa mas lupain sampai sekarang, dan bahkan mungkin enggak akan pernah bisa mas lupain untuk selamanya." Ucap Devano sambil tersenyum.
"Enggak akan pernah bisa mas lupain untuk selamanya, emang apaan mas.?" Ucap Alana bingung dan penasaran, sehingga membuat Devano pun lagi-lagi tersenyum.
"Keperawanan kamu sayang.!" Ucap Devano sambil tersenyum menggodanya.
"Ini kamu nih.! Yang montok. Yang dengan senang hati kamu kasih semuanya buat mas." Ucap Devano lagi sambil terus tersenyum dan mengusap-usap bagian bawah Alana istri tersayangnya itu.
"Iiiihhh mas, udah mulai mesum deh pikirannya." Ucap Alana.
"Tapi emang bener kan.? Dengan senang hati kamu kasih buat mas ini keperawanan kamu.! Orang kalau mas lagi mainin ini kamu juga kamu kesenengan, lagi mas, lagi mas, awwww lagiiii.! gitu kan.?" Ucap Devano lagi-lagi menggodanya.
"Iiiihhh apaan sih mas.!" Ucap Alana dengan raut wajah merah karena malu.
"Lagian nih yah mas, Alana mau ngomong, dengerin.! Alana ini enggak pernah yah ngasih keperawanan Alana ini dengan senang hati buat mas.! Orang mas yang dulu udah maksa-maksa Alana, Alana udah enggak mau, Alana udah nangis-nangis, tapi tetep aja mas paksa Alana, mas malah tega perkosa Alana, iya kan.?" Ucap Alana sambil cemberut mengingat kejadian dulu saat bersamanya.
"Kok kamu ngomongnya gitu sih sayang.? Eeemmmm jangan gitu dooong.!" Ucap Devano merasa bersalah sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Alana.
"Ya emang kenyataannya kayak gitu kan mas.?" Ucap Alana.
"Iya deh iya, mas ngaku.! Mas dulu udah maksa-maksa kamu, mas udah jahat sama kamu, mas udah tega sama kamu, mas udah perkosa kamu, sampai kamu keenakan iya kan.?" Ucap Devano sambil tersenyum, lagi-lagi ia menggodanya.
"Iiiihhh maaass." Rengek Alana malu, sehingga Devano pun lagi-lagi tersenyum dibuatnya.
"Iya, enggak sayang, enggaaak.! Eeemmmm." Ucap Devano sambil mengeratkan lagi pelukannya ke tubuh Alana.
"Mas mah dari tadi gitu, goda-godain Alana muluuu." Ucap Alana sambil cemberut-cemberut manja.
"Abisnya lucu sih sayang, eeeemmm Gemes.!" Ucap Devano sambil mencubit gemas kedua pipinya.
"Iya, iya, enggak sayang, enggaaak." Ucap Devano lagi sambil terus tersenyum.
"Oh iya sayang, katanya kamu mau ketemuan sama Renata di cafe, jadi enggak.?" Ucapnya lagi, ia berbicara seperti itu karena memang benar Alana dan Renata sudah janjian akan bertemu di sebuah cafe, karena Renata menawarkan sebuah obat kepada Alana untuk menyuburkan kandungan.
"Iya mas jadi, ini juga Alana mau mandi, terus mau siap-siap." Ucap Alana sambil tersenyum.
"Ya udah, entar biar mas anter sekalian mas berangkat ke kantor." Ucap Devano.
DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH RENATA.
Terlihat Renata yang sedang duduk terdiam sambil senyum-senyum sendiri mengingat kejadian semalam dengan Diki.
"Enggak nyangka banget gw, semalam gw bisa ngelakuin hubungan kayak gitu sama Bang Diki, ternyata Bang Diki itu orangnya romantis banget yah.? Buktinya semalam aja, Bang Diki memperlakukan gw dengan lembut dan penuuuh kasih sayang, Bang Diki sayang-sayang gw, peluk-peluk gw, usap-usapin gw pas gw lagi bobo, bahkan semalam Bang Diki enggak mau sedetik pun jauh dari pelukan gw."
Ucap Renata dalam hati sambil terus terdiam dan senyum-senyum sendiri, sehingga ibu Lia yang sedang berdiri di depan pintu kamar tersebut pun tersenyum melihat tingkah laku Renata putri tersayangnya itu.
"Eeemmmm kayaknya ada yang lagi kasmaran nih.?" Ucapnya sambil tersenyum dan berjalan menghampiri Renata putri tersayangnya.
"M, m, mamah.? Sejak kapan mamah ada di kamar Renata.?" Ucap Renata gugup dan kaget melihat keberadaan ibu Lia mamahnya yang tiba-tiba bisa berada di dalam kamarnya.
"Yaaah yang lagi kasmaran, sampai enggak sadar kalau ada orang masuk ke kamar." Ucapnya lagi sambil tersenyum menggodanya.
"Iiiihhh mamah apaan sih.? Emang mama tau dari mana kalau Renata lagi kasmaran.?" Ucap Renata sambil tersenyum malu.
"Yaaah ini anak.! Mama juga kan dulu pernah muda kali sayang. Dengerin nih yah.! Kalau anak perempuan udah dewasa, senyum-senyum sendiri kayak kamu tuh tadi.! Apa lagi coba sayang kalau bukan lagi kasmaran.?" Ucap Ibu Lia mencoba untuk menjelaskan.
"Tapi Renata enggak lagi kasmaran kok.!" Ucap Renata berbohong.
"Eeemmm bohong kamu.! Siapa emang cowoknya.? Devano.?" Ucap Ibu Lia mencoba untuk menebaknya.
__ADS_1
"Iiiihhh mamah, kok jadi bawa-bawa Devano sih.? Lagian nih yah mah, Renata kasih tau mamah.! Ternyata Devano itu udah nikah loh mah, malahan istri Devano juga pasien Renata di rumah sakit." Ucap Renata mencoba untuk memberi tahunya.
"Apa.! Devano udah menikah.? Sejak kapan sayang.?" Ucap Ibu Lia kaget.
"Renata juga enggak tau persis sih kapannya, tapi kayaknya udah lama sih mah." Ucap Renata mencoba untuk memberi tahunya lagi.
"Ohhh gitu." Ucap ibu Lia.
"Eh tunggu dulu.! Kalau bukan Devano, berarti siapa dong sayang, laki-laki yang udah bisa buat anak cantik mamah ini senyum-senyum sendiri, kasmaran kayak gini nih.!" Ucap Ibu Lia sambil tersenyum, lagi-lagi ia menggodanya, karena saking senangnya melihat Renata putri tersayangnya jatuh cinta, karena sebelumnya Renata tidak pernah jatuh cinta kecuali kepada Devano, dan itu pun cinta yang terpendam.
"Iiiihhh mamah.! Siapa sih yang lagi kasmaran." Rengek Renata dengan raut wajah merah karena malu.
"Ooohhh mamah tau nih.! Jangan-jangan, semalam kamu enggak lembur lagi sayang. Tapi kamu jalan sama itu cowok yang udah buat anak mamah kasmaran dan senyum-senyum sendiri kayak gini nih." Ucap ibu Lia sambil tersenyum dan terus menggodanya, ibu Lia tidak menyangka sama sekali kalau ternyata semalam Renata putri tersayangnya yang masih polos dan belum pernah pacaran itu melakukan hubungan terlarang dengan Diki.
"Iiiihhh mamah apaan sih.! Udah mamah keluar Sanah.! Keluar, keluar, keluaaaar.!" Ucap Renata sambil terus tersenyum malu dan mendorong-dorong ibu Lia mamahnya untuk keluar dari kamarnya.
"Loh, loh sayang.! Kok kamu usir mamah sih.?" Ucap Ibu Lia dari balik pintu kamarnya, karena Renata berhasil mendorongnya keluar.
"Mamah apa-apaan sih.? Ada-ada aja deh.!" Ucapnya dalam hati sambil terus tersenyum karena malu.
"Mendingan sekarang gw telepon Bang Diki aja deh.! Kira-kira sekarang Bang Diki lagi ngapain yah.?" Ucapnya lagi sambil buru-buru mengambil ponselnya untuk menelepon Diki pujaan hatinya.
DI KANTOR PAK ERIK.
Waktu menunjukkan pukul 10:00 Pagi.
Terlihat Pak Erik yang dari tadi sedang menasehati Diki karena tidak biasanya ia datang terlambat ke kantornya.
"Lagian kamu ini dari mana aja Dik.? Kok jam segini baru datang.? Semua klien kita tuh dari tadi udah nungguin kamu lama, sampai mereka bosen, dan akhirnya mereka semua pulang. Padahal kan kamu juga tau.! Bisnis ini itu bisnis besar-besaran di kantor bapak." Ucap pak Erik sedikit kecewa kepada Diki.
"Pokoknya bapak enggak mau tau.! Besok kamu jangan sampai terlambat lagi.! Karena schedule meeting nya di undur jadi besok pagi." Ucap pak Erik lagi dengan sangat tegas.
"I, i, iya pak.! Diki janji, besok Diki enggak akan tekat lag,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong karena tiba-tiba ponselnya berdering karena ada yang menelepon.
"Aduuuh.! Ini perempuan ngapain sih dari tadi teleponin gw mulu.! Enggak tau apa kalau gw ini lagi banyak masalah di kantor." Ucap Diki dalam hati kesel, karena tanpa sepengetahuan dari kita, dari tadi Renata tak henti-henti meneleponnya.
"Diki, itu telepon dari siapa.? Udah angkat aja.! Kasihan loh itu orang dari tadi teleponin kamu, tapi kamu enggak angkat-angkat." Ucap pak Erik yang juga mendengar kalau dari tadi ponsel Diki berdering karena ada yang menelepon.
"U, u, udah enggak papa pak.! Lagian ini telepon udah mati kok.! Enggak penting juga." Ucap Diki gugup karena ia merasa tidak enak kepada pak Erik.
"Enggak penting gimana.? Kalau itu telepon enggak penting, enggak mungkin dong dari tadi itu orang teleponin kamu mul,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong, karena lagi-lagi ponsel Diki berdering karena ada yang menelepon.
"Tuh kan, handphone kamu bunyi lagi. Udah angkat aja.!" Ucapnya lagi menyuruh Diki untuk mengangkat telepon tersebut.
"Y, y, ya udah, kalau gitu Diki angkat dulu yah pak.!" Ucap Diki lagi-lagi gugup, kemudian ia pun melangkah menjauh dari pak Erik dan langsung buru-buru mengangkat telepon tersebut.
"Aduuuh.! Kamu itu ngapain sih dari tadi teleponin Abang mulu.? Abang ini lagi sib,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.
"Dari tadi aku teleponin Abang.? Perasaan aku baru telepon Abang sekarang deh." Ucap seorang perempuan yang menelponnya bingung, sehingga membuat Diki pun langsung buru-buru mengecek ponselnya untuk mengetahui sebenarnya siapa yang sedang meneleponnya.
"A, A, Anita.? Aduuuh.! Sorry banget, aku kira tadi itu siapa." Ucap Diki gugup, ia menyebut nama Anita, karena memang benar yang menelponnya sekarang ini adalah Anita dan bukanlah Renata.
"Emang Abang pikir, yang sekarang nelepon Abang siapa.?" Ucap Anita penasaran.
"Oh enggak, itu.! Aku pikir, eeemm itu.! Dimas." Ucapnya gugup karena ia sedang berbohong.
"Ia bener Dimas, aku pikir tadi Dimas yang nelepon. Soalnya dari tadi itu Dimas teleponin aku mulu." Ucapnya lagi-lagi berbohong.
"Ohhh gitu, Oh iya bang.! Nanti sore kita makan di luar yuk bang.? Soalnya ada sesuatu yang mau Anita omongin sama Abang." Ucap Anita mengajaknya untuk makan di luar.
"Ooohhh, ya udah nanti aku usahain." Ucap Diki.
KEMBALI LAGI KE RENATA.
Terlihat Renata yang dari tadi masih sibuk menelepon Diki.
"Iiiihhh sebenarnya Bang Diki itu kemana sih.? Kenapa coba dari tadi bang Diki enggak angkat-angkat telepon dari gw.? Apa Bang Diki mau kabur yah dari gw, Bang Diki enggak mau tanggung jawab." Ucapnya sedikit ketakutan dan kesel, kemudian ia pun penasaran dan langsung mencoba untuk meneleponnya lagi.
"Berada dipanggilan lain.?" Ucapnya lagi sambil membaca tulisan yang tertera di layar ponselnya.
__ADS_1
"Maksudnya ini Bang Diki, dari tadi enggak mau angkat telepon dari gw, tapi malah teleponan sama orang lain gitu.? Tapi siapa.?" Ucap Renata penasaran dan panik, karena ia merasa tidak di pentingkan olehnya.