DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 68


__ADS_3

MASIH DI RUMAH PAK EDO.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 Malam.


Terlihat keluarga pak Edo beserta dengan anggota keluarga barunya yang tak lain adalah Diki, yang sedang makan malam bersama dengan suasana yang sangat tegang.


"Aduuuh sial.! Gw mimpi apa sih semalam bisa ada disini.! Mana harus berhadapan sama pak Edo yang mukanya asem banget kayak gitu lagi.!" Ucapnya dalam hati kesel, sambil menatap kearahnya yang sedang duduk tepat dihadapannya dengan raut wajahnya yang memang sangatlah asem.


"Ini enggak bisa dibiarin.! Gw enggak bisa terus-terusan kayak gini.! Gw enggak mau kalau setiap hari harus berhadapan sama pak Edo.! Kerena gw sangat yakin, kalau sekarang ini pak Edo pasti benci banget sama gw." Ucapnya lagi dalam hati sambil terus terdiam.


"Nak Diki, nak Diki kenapa.? Kok dari tadi diem aja, ayo makan.!" Ucap Ibu Lia dengan penuh perhatiannya sambil tersenyum, sepertinya ia tidak membencinya sama sekali meskipun ia sudah menyakiti Renata putri tersayangnya itu, karena yang terpenting untuknya sekarang ini, ia sudah mau menikah dan bertanggung menjawab terhadap putrinya itu, dan sekarang ini ia pun sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri


"Sayaaang, kamu siapin dong makanan buat bang Diki.! Kan sekarang kamu ini istrinya." Ucapnya lagi menyuruh Renata putri tersayangnya itu untuk menyiapkan makanan untuknya.


"Eh.! Enggak usah Tan, enggak usah.! Diki bisa kok ambil makanan sendiri." Ucap Diki tergesa-gesa karena ia merasa tidak enak.


"Loh kok Tan sih.? Mamah dong.! Kan sekarang ini Tante udah jadi mamah kamu.! Om Edo juga, kamu sekarang panggil Om Edo papah yah.?" Ucap Ibu Lia menyuruhnya seperti itu.


"I, i, iya Tan.! Eh m, m, mah maksudnya." Ucap Diki gugup.


"Ehem.!" Suara pak Edo pura-pura batuk agar Diki menyapanya.


"P, p, pah.!" Ucap Diki menyapanya dengan gugup dan tegang sambil mencoba untuk tersenyum.


"Emmm.!" Jawab pak Edo singkat, dengan raut wajah yang masih sangat asem tanpa menoleh kearahnya sedikit pun.


"Aduuuh, gila.! Serem banget.! Laki-laki ini bener-bener mertua gw nih.?" Ucap Diki dalam hati tak percaya akan mempunyai mertua seseram itu.


"B, b, bang, Abang kenapa.?" Ucap Renata gugup dan bingung melihat Diki terdiam seperti itu.


"Eh iya kenapa.? Oh e, e, enggak, Abang enggak kenapa-kenapa." Ucap Diki gugup karena ia sedang berbohong.


"Oooh." Ucap Renata sambil tersenyum


"Ya udah yah bang.! Biar Renata yang ambilin nasinya.?" Ucapnya lagi, sepertinya ia sedang berusaha menjadi istri yang baik untuknya.


"Iya sayang, kamu ambilin gih nasi buat suami kamu ini.!" Ucap Ibu Lia lagi.


"Iya mah." Ucap Renata sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru mengambilkan dan menyimpan makanan tersebut untuknya, hingga akhirnya mereka berempat pun makan malam bersama dengan aman dan terkendali tanpa adanya keributan.


"Oh iya Tan, Om.! Eeehhh maksud Diki mah, pah.!" Ucap Diki yang baru saja selesai makan, ia mencoba untuk memberanikan diri berbicara dengan mereka berdua.


"Iya nak Diki, ada apa.?" Ucap Ibu Lia.


"I, i, ini mah, sebenarnya Diki mau minta izin sama mamah dan juga papah.! Kalau mulai malam ini, Diki mau ajak Renata pindah dan tinggal di rumah Diki.! Enggak papa kan mah, pah.?" Ucap Diki serius, kalau mulai malam ini ia mau mengajak Renata yang sekarang ini sudah syah menjadi istrinya itu, untuk tinggal dan pindah ke rumahnya, karena ia tidak mau jika harus tinggal di rumah pak Edo terlalu lama, apalagi jika harus satu rumah dengannya, karena seperti yang kita tau hubungan mereka berdua itu memang kurang baik.


"I, i, iya mah, pah.! Enggak papa kan.? Kalau mulai malam ini Renata pindah dan tinggal di rumah bang Diki.?" Ucap Renata gugup, ia berbicara seperti itu, karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi sehabis ijab qobul, Diki langsung mengajaknya untuk cepet-cepet pindah ke rumahnya, namun sebenarnya Renata pun belum siap jika harus pindah secepat itu, namun ia terpaksa mau mengikuti kemauan darinya, karena ia berharap sedikit demi sedikit Diki suaminya itu akan berubah dan sayang kepadanya.


"Loh.! Kok gitu sih sayang.? Enggak bisa, enggak bisa, enggak bisa.! Mamah enggak mau, mamah enggak setuju.!" Ucap Ibu Lia tidak setuju dengan keputusan mereka berdua


"Maaah, pleaseeee.! Mamah enggak boleh kayak gitu.! Meskipun Renata tinggal di rumah bang Diki, tapi kita kan masih bisa ketemu mah." Ucap Renata mencoba untuk menasehatinya seperti itu, meskipun sesungguhnya ia pun tidak tega jika harus meninggalkannya secepat ini.


"Iya mah, bener kata Renata.! Mamah masih bisa kok ketemu sama Renata.! Mamah boleh kok main ke rumah Diki kapan aja semau mamah.! Nginep juga enggak papa." Ucap Diki serius, ia menyuruhnya seperti itu karena sepertinya ia benar-benar sudah tidak mau jika harus tinggal di rumah pak Edo lebih lama lagi.


"Iya nak Diki, mamah juga tau.! Tapi apa harus secepat ini kalian pindahannya.?" Ucap Ibu Lia masih berat melepaskan Renata putri tersayangnya itu jika harus pindah secepat ini dari rumahnya.


"Maaah, udah deh.! Mamah jangan kayak anak kecil.! Bang Diki ajak Renata pindah malam ini.! Itu karena besok bang Diki harus kerja, dan kalau bang Diki tetep tinggal disini, bang Diki enggak bisa mah.! Soalnya kantor bang Diki itu jauh dari rumah kita." Ucap Renata, ia berbicara seperti itu, karena itulah alasan yang Diki ucapkan kepadanya mengapa ia mengajaknya untuk cepat-cepat pindah dan tinggal dirumahnya.


"Oooh, jadi itu alasan kamu ajak Renata cepet-cepet pindah dari sini Dik.?" Ucap Ibu Lia.


"Iya mah, soalnya kantor Diki itu jaraknya jauh dari sini.!" Ucap Diki mencoba untuk menjelaskannya lagi


"Kalau emang itu alasannya, gimana kalau kamu kerja di kantor papah aja.?" Ucap Ibu Lia mencoba untuk memberi saran seperti itu.

__ADS_1


"Atau enggak, kamu pegang tuh perusahaan papah yang satu lagi.! Yang udah papah bangun buat Marcell, enggak papa kan pah.? Dari pada enggak ada yang ngurus." Ucapnya lagi meminta pendapat dari pak Edo suaminya itu.


"Maaah, mamah itu ngomong apa sih.? Udah biarin aja kalau emang Diki mau ajak Renata tinggal dan pindah di rumahnya.! Lagian sekarang ini kan Renata itu udah sepenuhnya jadi tanggung jawabnya." Ucap pak Edo yang dari tadi hanya terdiam dan mendengarkan perdebatan mereka, ia setuju dengan keputusan mereka berdua, karena ia ingin tau sebenarnya Diki itu serius atau tidak menjalani rumah tangganya dengan Renata putri tersayangnya itu.


"Loh, papah kok gitu sih pah.? Bukannya dukung mamah.!" Ucap Ibu Lia kesel.


"Udah, udaaah.!" Ucap pak Edo pelan sambil mengusap-usap pundaknya.


"Oh iya.! Ngomong-ngomong kapan kamu mau ajak Renata pindah.? Malam ini.?" Ucapnya lagi dengan tegas.


"I, i, iya pah, malam ini.!" Ucap Diki gugup dan semakin tegang, karena ini adalah kali pertama pak Edo yang tak lain adalah mertuanya yang sudah menyekapnya kemarin itu, mengajaknya untuk ngobrol.


"Ya udah kalau gitu kalian siap-siap.! Nanti biar sopir papah yang akan anterin kalian.!" Ucap pak Edo lagi.


"Ya udah pah, mah.! Kalau gitu Renata sama bang Diki siap-siap dulu yah.?" Ucap Renata, kemudian ia pun langsung melangkah menunju kamarnya untuk siap-siap dan diikuti oleh Diki dari belakang, setelah mereka berdua selesai siap-siap, mereka berdua pun langsung kembali turun ke bawah menghampiri pak Edo dan Ibu Lia yang sedang berdiri di depan teras rumahnya.


"Mah, Renata sama bang Diki pamit yah.?" Ucap Renata sedih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Hiks,, hiks,, sayang, jadi kamu beneran mau ninggalin mamah.?" Ucap Ibu Lia sambil menangis, karena ia bener-bener tidak mau jika harus berpisah dengannya secepat ini.


"Maaah, Renata ini enggak ninggalin mamah.! Kita ini masih bisa ketemu kok mah." Ucap Renata mencoba untuk menasehatinya seperti itu lagi.


"Iya mah, udah.! Mamah jangan kayak gini terus.! Biarin aja Renata ikut sama Diki, lagian kan mereka berdua sekarang ini sudah menikah." Ucap pak Edo yang juga ikut menasehatinya.


"Iya mah, enggak papa yah Renata pindah ke rumah Diki.?" Ucap Diki mencoba untuk meminta izin lagi kepadanya.


"Hiks,, hiks,, ya udah enggak papa. Hiks,, hiks,, tapi mamah minta tolong banget yah sama kamu Dik.! Hiks,, hiks,, mamah titip Renata.! Hiks,, hiks,, tolong kamu jagain dia.! Hiks,, hiks,, karena kondisinya sekarang ini masih sangat lemah, hiks,, hiks,, jangan buat dia kecapekan, hiks,, hiks,, apalagi banyak pikiran.! Hiks,, hiks,, yah Dik.?" Ucap Ibu Lia sambil terus menangis, ia mencoba memberinya pesan seperti itu.


"Iya mah, insyaallah." Ucap Diki tidak yakin.


"Ya udah mah, pah.! kalau gitu Diki sama Renata pamit dulu yah.!" Ucapnya lagi sambil memberanikan diri untuk salaman dengan pak Edo dan Ibu Lia mertuanya itu.


"Hiks,, hiks,, ya udah.! Hiks,, hiks,, ati-ati yah kalian.!" Ucap Ibu Lia masih terus menangis.


DI RUMAH DIKI.


Waktu menunjukkan pukul 09:00 Malam.


Terlihat Dimas dan teman-temannya yang sedang nongkrong sambil asyik ngobrol di depan teras rumahnya.


"Eh Dim.! Loh masih inget enggak si Sinta.? Si Sinta teman kita waktu SD dulu.!" Ucap salah satu dari temannya itu.


"Sinta, Sinta yang mana nih.? Sinta culun yang dulu sering kita bully.? Ucap Dimas.


"Iya bener Dim.! Loh tau enggak.? Body nya dia sekarang, beuuuuh.! Seksi abis.! Pokoknya jauh berbeda lah, dari Sinta culun yang dulu sering kita bully." Ucap salah satu dari temannya tersebut.


"Yang bener loh.! Sinta kan.? Sinta culun yang dulu satu kelas sama kita.? Yang dulu sering kita bully.?" Ucap Dimas mencoba untuk meyakinkannya lagi.


"Iya Dim, Sinta culun yang dulu satu kelas sama kit,,,,,,,," Seketika ucapan dari salah satu temannya itu pun terpotong.


"Eh tunggu dulu, tunggu dulu.! Semuanya, coba lihat deh.! Perempuan itu siapa.? Anjiiiiiir, cantik bangeeeeet.!" Ucap salah satu dari temenya yang lain terpukau dan terpesona, melihat kecantikan perempuan tersebut, yang baru saja turun dari dalam mobil tepat di depan rumah Diki.


"Iya bener.! Perempuan itu cantik bangeeeeet.! Tapi perempuan itu siapa yah.? Kalian-kalian pada kenal enggak.?" Ucap salah satu dari mereka lagi heboh.


"Enggak, gw enggak kenal. Tapi emang bener sih perempuan itu cantik banget." Ucap salah satu dari mereka lagi yang juga terpukau dan terpesona melihat kecantikan perempuan tersebut.


"Kalian ini pada berisik banget sih.? Emang mana sih perempuan,,,,," Seketika Dimas pun langsung terdiam.


"K, k, kak Renata.!" Ucapnya lagi kaget, sambil tersenyum menatap kearah perempuan cantik tersebut, yang tak lain adalah Renata kakak iparnya yang sedang berjalan kearahnya.



"Permisiii.?" Ucap Renata yang sudah sampai tepat didepan mereka semua, ia menyapanya dengan sangat ramah sambil tersenyum.

__ADS_1


"Dim, Dim.! Perempuan cantik ini siapa Dim.?" Ucap salah satu dari temannya itu, penasaran.


"Iya Dim, loh kenalin dong sama gw.!" Ucap salah satu dari temannya yang lain lagi heboh.


"Tau nih Dimas.! Giliran kenal cewek catik aja, diem-diem aja loh.!" Ucap salah satu dari temannya yang lain lagi kesel, kemudian ia pun langsung buru-buru menggodanya.


"Mba, Mba, namanya siapa.? Cantik banget sih Mba.? Kenalan dooong.!" Godanya sambil tersenyum dan terus memandangi kecantikannya itu.


"Tau nih Mba, cantik banget sih.?" Goda dari mereka lagi yang juga tersenyum memandangi kecantikannya.


"Makasiiiih." Ucap Renata sambil tersenyum dengan sangat manis kearah mereka semua, sehingga Diki yang sedang menurun-nurunkan barang-barang miliknya dari dalam mobil pun, seketika langsung emosi dan langsung buru-buru menghampiri mereka semua.


"Ngapain kalian goda-godain istri gw kayak gitu.?"



Ucap Diki marah, sambil menatap sinis kearah mereka semua, karena ternyata ia sudah memperhatikan mereka semua dari tadi, dari pertama Renata istrinya itu datang ke rumahnya, namun entah apa yang sebenarnya terjadi kepadanya, mengapa tiba-tiba ia bisa semarah itu kepada mereka semua


"B, b, bang Diki.!" Ucap mereka semua secara bersamaan gugup dan kaget.


"S, s, sorry bang.! K, k, kita enggak tau kalau perempuan ini ternyata istri bang Diki." Ucap salah satu dari mereka gugup dan ketakutan.


"I, i, iya bang, s, s, sorry banget bang.! Kita ini bener-bener enggak tau." Ucap salah satu dari mereka lagi yang juga gugup dan ketakutan, namun diantara mereka ada juga yang justru tersenyum dengan maksud tertentu.


"Ooooh, jadi perempuan cantik ini istrinya Diki.! Eeemmm boleh juga nih perempuan.!" Ucapnya dalam hati sambil tersenyum mesum memperhatikan tubuh Renata dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.


"Eh Bang Diki." Ucap Renata sambil tersenyum kearahnya.


"Emang bang Diki udah selesai turun-turunin barang-barang Renat,,,,,," Seketika ucapannya itu pun terpotong, karena tiba-tiba Diki langsung menggenggam tangannya dan langsung menariknya dengan sangat kuat masuk kedalam rumahnya.


"E, e, ehhhhh bang Diki ada apa ini.? A, A, Abang kenapa.?" Ucap Renata gugup dan bingung mengapa tiba-tiba ia menariknya seperti itu.


Mendengar pertanyaan dari Renata, Diki yang sedang marah pun tidak mejawabnya, ia pun justru menarik tangannya lebih kuat lagi masuk ke dalam kamarnya, kemudian ia pun langsung mendorongnya ke atas kasur dengan sangat kuat, sehingga Renata pun terjatuh dan tersungkur di atas kasur tersebut.


"Aw.! Ssssttttt." Ucap Renata sambil meringis kesakitan memegangi perutnya.


"Bang.! Abang ini sebenarnya kenapa sih.? Kenapa Abang kasar banget sama Reanta.! Emang Renata salah apa sih sama Abang.?" Ucapnya lagi dengan suara tinggi karena marah, sambil terus meringis kesakitan.


Melihat Renata semarah itu, Diki pun justru lebih marah lagi darinya, kemudian ia pun langsung melangkah lebih dekat lagi kearahnya dan berhenti tepat dihadapannya.


"Abang peringatin yah sama kamu.! Jangan pernah kamu senyum-senyum kecentilan lagi kayak tadi di depan teman-teman Dimas.! Ngerti kamu.!" Ucap Diki mencoba untuk mengancamnya seperti itu, sehingga membuat Renata pun tersenyum heran, bingung dan kesel mendengar ucapannya yang tidak masuk akal itu.


"Apa Abang bilang.? Renata senyum-senyum kecentilan sama temen-temen Dimas.? Abang ini udah gila kali yah.! Siapa yang senyum-senyum kecentilan sama temen-temen Dimas.? Renata enggak pernah senyum-senyum kecentilan sama temen-temen Dimas.!" Ucap Renata tidak terima dengan tuduhannya itu.


"Ya siapa lagi kalau bukan kamu.!" Ucap Diki masih marah, lagi-lagi ia kekeuh menuduhnya seperti itu, sehingga membuat Renata pun semakin marah dibuatnya.


"Bang.! Abang ini apa-apaan sih bang.? Kapan sih Renata ini senyum-senyum kecentilan sama temen-temen Dimas.? Kapan bang, kap,,,,,,," Seketika ucapa Renata pun terpotong.


"Ahhhhh udah, udah, udah, cukup.! Abang lagi males yah berdebat sama kamu.!." Ucap Diki dengan suara tinggi dan raut wajah penuh dengan emosi, kemudian ia pun langsung melangkah keluar lagi dari kamarnya.


"Bang.! Abang mau kemana bang.? Bang.!" Teriak Renata dari dalam kamar tersebut.


Mendengar teriakkan dari Renata istrinya, Diki tidak perduli, ia pun terus melangkah keluar dari kamarnya, kemudian ia pun malah justru langsung menelpon seseorang.


"Iya hallo Anita.! Kamu masih nungguin Abang di cafe kan.?" Ucapnya via telepon, ia menyebut nama Anita, karena ia memang sedang meneleponnya untuk memastikan jadi atau tidak mereka berdua untuk ketemuan, karena ternyata itulah alasan yang sebenarnya mengapa ia ingin cepat-cepat mengajak Renata pindah dan tinggal di rumahnya malam ini juga, karena ia ingin bebas ketemuan dengan Anita pujaan hatinya itu kapan saja, semaunya tanpa ada yang melarang.


#####


Hadeuuuuh.! Diki semakin lama emang bener-bener semakin meresahkan yah guys.!


Tapi kalian tenang aja.! Author akan buat Diki menyesal dan bucin sebucin-bucinya sama Renata πŸ˜„


Jangan lupa like coment dan vote.! Supaya Author lebih semangat lagi untuk lanjutin ceritanyaπŸ‘ dan maaf jika visualnya kurang pas πŸ™

__ADS_1


__ADS_2