DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 14


__ADS_3

"Ma, ma, mamaaah.???" Kata Devano gugup dengan keadaan yang sangat gemetaran, kemudian dengan segera ia pun langsung menutup pintu kamar tersebut dan lari menuju kamarnya, sesampainya di dalam kamar, ia hanya bisa terdiam karena saking syoknya.


"Apa yang baru saja gw lihat.??? Ini serius


Gw barusan lihat papah sama mamah,,,,,, Aaahhh.!!!! **** banget sih gw, kenapa juga coba gw enggak ketuk pintu dulu.??? Kalau kaya gini,,, gimana nanti gw jelasin ke papah sama mamahnya.??? Aduuuuhhh.!!!! Pasti malu banget nih gw nanti kalau ketemu mamah sama papah, masalahnya yang bikin gw malu,,, gw itu live streaming bokap sama nyokap gw sendiri.??? Kalau lihat film-film kayak gitu sih, gw juga sering sama teman-teman gw.??? Gilaaaa,,, sampai-sampai gw gemetaran kayak gini, mana ini kaki tadi lemes banget lagi enggak bisa jalan.???" Kata Devano panik sambil mondar-mandir didalam kamarnya.


"Lagian itu papah ngapain sih jam segini ada di rumah.??? Biasanya juga papah pulangnya sore dari kantor, kalau enggak malam.??? Kalau kayak gini,,, siap-siap aja nih nanti gw kena semprot papah, mana galak banget lagi itu papah kalau lagi mar,,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.


"Tok,,, tok,,, tok,,,," Suara seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Sayaaaang,,, Devanooo,,, kamu lagi ngapain nak.??? Keluar dulu sayang, makan siang dulu.!!! Itu dari tadi papah udah nungguin loh dibawah." Teriak Dinda dari balik pintu kamar Devano.


"Tuh kan bener kan,, papah udah nungguin gw di bawah.??? Aduuuuhhh,,, siap-siap aja nih gw kena marah papah." Kata Devano dalam hati semakin panik dan ketakutan.


"Sayaaaang,,, kamu didalam lagi ngapain sih.??? Kok mamah ngomong enggak dijawab-jawab.???" Teriak Dinda lagi penasaran.


"I i, Iyah mah.!!! I, i, ini Devano mau keluar kok.!!!" Kata Devano gugup sambil buru-buru melangkah menuju pintu kamarnya, sesampainya di depan pintu kamar, ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Bismillahirrahmanirrahiiiim." Kata Devano dalam hati sambil mengusap-usap dadanya, kemudian ia pun langsung membuka pintu kamar tersebut.


"Anak mamah kok lama banget sih didalam kamaaar, emang lagi ngapaiiiin, hah.???" Kata Dinda pelan sambil mengusap-usap pundak Devano.


"I, i, itu mah.!!! Ta, ta, tadi Devano dikamar emmm.??? Emmm,,, itu mah, emmm,,, perut Devano mules mah.!!!! I, i, iya mules mah.!!! Be, be, bener.!!!" Kata Devano gugup karena ia sedang berbohong.


Melihat tingkah laku anaknya seperti itu, Dinda pun tersenyum, ia tersenyum karena sebenarnya ia sangat tau apa yang ada di dalam pikiran Devano saat ini setelah tadi ia memergoki dirinya dan pak Erik didalam kamar yang sedang asyik bercinta, karena sebenarnya perasaan Dinda sekarang pun sama seperti perasaan Devano saat ini, yaitu sangat malu dan syok dengan semua kejadian yang baru saja terjadi, akan tetapi ia berusaha untuk tenang dan biasa saja, karena pak Erik lah yang menyuruhnya seperti itu, kemudian dengan segera Dinda pun langsung mengajak Devano untuk makan siang.


"Ya udah ayo sayang, sekarang kita makan.!!! Kasihan papah tuh udah nungguin kita dari tadi." Kata Dinda sambil tersenyum dan merangkul pundaknya, kemudian Dinda dan Devano pun langsung melangkah menuju meja makan, sesampainya di meja makan, Dinda pun langsung duduk disamping pak Erik, begitupun juga dengan Devano, ia pun terlihat duduk tepat dihadapan pak Erik.


"Kamu udah pulang.???" Kata pak Erik tegas.


"U, u, udah pah.!!!" Kata Devano gugup dan ketakutan.


"Kenapa pulang.??? Bukannya kata kamu, kamu mau kabur dari rumah.???" Kata pak Erik lagi semakin tegas.


"Maaaasss,,,, mas jangan galak-galak gitu dong sama Devanooo.??? Kasihaaaan,, Devano nya kan baru pulaaaaang.??? Entar kalau Devano nya pergi dari rumah lagi gimanaaa.???" Kata Dinda merengek ketakutan kalau sampai Devano akan pergi lagi dari rumah.


"Udaaaahhh,,, enggak bakalan, kamu tenang aja, yah.??" Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap pundak Dinda.


"Tapi maaaasss,,, Dinda takut Devano pergi lag,,,,,,,"Seketika ucapan Dinda terpotong.


"Ssssssttttt,,,, udaaaahhh Kamu percaya sama mas aja, yaaah.???" Kata pak Erik, ia mencoba untuk meyakinkan Dinda kembali, kalau Devano tidak akan mungkin berani kabur dari rumah lagi, karena Devano sudah berani menginjakkan kaki di rumahnya kembali yang artinya ia sudah kalah dari dirinya.


"Udah sekarang kamu jawab pertanyaan papah tadi.?!!! Bukannya kamu kabur, kenapa sekarang kamu udah ada disini lagi.???" Kata pak Erik serius sambil menatap tajam wajah Devano.


"E, e, enggak pah.!!! De, De, Devano enggak jadi kabur." Kata Devano gugup dan semakin ketakutan.


"Oooohhh kamu enggak jadi kabuuur.???" Kata pak Erik dengan santainya.


"I, i, Iyah pah.!!! E, e, enggak jadi." Kata Devano.


"Oh iya, ngomong-ngomong kenapa tadi kamu masuk kamar papah enggak ketuk pintu dulu.??? Enggak punya sopan santun kamu jadi anak.!!!" Kata pak Erik marah.


"Maaaasss,,,," Kata Dinda merengek, sambil menendang kaki pak Erik dikolong meja, karena ia tidak mau pak Erik menanyakan hal seperti itu kepada Devano.


"I, i, itu pah.!!! I, i, itu,,,, ta, ta, tadi,,,, De, De, Devano,, e, e, enggak tau papah ada di dalam kamar.!!!" Kata Devano panik, ia berbicara seperti itu karena ia memang benar-benar mengira kalau pak Erik itu tidak ada didalam kamar, karena biasanya diwaktu siang seperti ini pak Erik papahnya masih berada di kantor.


"Ta, ta, tapi,,,, papah sama mamah tenang aja.!!!! Devano enggak tau kok.!!! Ta, ta, tadi papah sama mamah lagi pada ngapain.??? De, De, Devano enggak ngelihat kok,,, e, e, enggaaak,,, Devano e, e, enggak ngelihat.???" Kata Devano berbohong karena ia sedang ingin mencari aman.


Mendengar kata-kata dari Devano, Dinda yang memang sangat-sangat polos pun, langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Syukur laaah,,,, jadi tadi anak mamah enggak ngelihat papah sama mamah lagi pada ngapain sayang, hah.???" Kata Dinda sambil tersenyum karena ia sangat lega mendengar jawaban dari Devano, akan tetapi tidak dengan pak Erik mendengar jawaban dari Devano, ia hanya terdiam sambil tersenyum sinis.


"Hemm,, dasar anak kemarin sore.!!! Kamu pikir kamu bisa bohongin papah.??? Orang udah jelas-jelas tadi kamu lihat papah sama mamah lagi ngapain.??" Kata pak Erik dalam hati, ia berbicara seperti itu karena ia tau, kalau tadi Devano itu memang melihat jelas apa yang sedang dirinya dan Dinda lakukan didalam kamar.


"Ta, ta, tapi pah,,, mah.??? Enggak papah kok, kalau papah sama mamah bikin Dede buat Devano juga, Devano malah seneng.???" Kata Devano serius sambil tersenyum, entah apa maksud dari ucapannya mengapa tiba-tiba ia berbicara seperti itu.


Mendengar kata-kata dari Devano, Dinda yang tadinya percaya dengan kata-katanya pun sedikit curiga.


"Sayaaaang,,, kok kamu ngomong kayak gitu sih.??? Sebenernya tadi itu kamu lihat mamah sama papah lagi ngapain apa enggak sih.???" Kata Dinda panik karena ia takut kalau Devano melihatnya.


"E, e, nggak kok mah.!!! De, De, Devano enggak ngelihat.???" Kata Devano, lagi-lagi ia berbohong.

__ADS_1


Mendengar kebohongan Devano, pak Erik hanya terdiam sambil tersenyum sinis dan tetap fokus untuk makan.


"Ooohhh,,, syukur deh kalau gitu.???" Kata Dinda merasa lega.


"Aduuuuhhh,,, hampir aja mamah curiga, sampai deg-degan kayak gini gw.??? Tapi enggak papah sih, yang penting gw selamat.!!! Akhirnya mamah sama papah percaya juga sama kata-kata gw." Kata Devano dalam hati sambil tersenyum senang, karena ia mengira pak Erik pun sama seperti Dinda mamahnya yang percaya dengan kata-katanya.


"Oh iya sayang,,, kalau kamu tadi enggak lihat mamah sama papah lagi ngapain,,, terus tadi maksud kamu apa dong.?? Kok tiba-tiba kamu nyuruh papah sama mamah bikin Dede buat kamu.???" Kata Dinda penasaran.


"Ooohhh yang itu mah,,, tadi Devano ngomong kayak gituu,, Itu karena Devano pengin punya Dede mah.??? Biar mamah di rumah ada temennya, kan kata papah mulai besok Devano sekolah di Korea.???" Kata Devano serius sambil tersenyum.


Mendengar kata-kata dari Devano, pak Erik yang dari tadi sedang fokus makan pun seketika langsung angkat bicara.


"Tadi kamu ngomong apa Dev.??? Kamu beneraan dengan kata-kata kamu ini.??? Kamu mau ngikutin kemauan papah untuk ngelanjutin sekolah dan kuliah di Korea.???" Kata pak Erik dengan suara tinggi karena kaget dan tak percaya.


"Iya pah,,, Devano serius, besok Devano udah siap kok berangkat ke Korea diantar sama papah.???" Kata Devano sambil tersenyum, ia mencoba untuk meyakinkan pak Erik kembali kalau semua kata-katanya itu memang benar.


"Apa sayaaaang,,, besok kamu mau ke Korea untuk melanjutkan sekolah dan kuliah di sanaaa.??? Enggak sayang,,, mamah enggak setuju.!!! Sampai kapanpun mamah enggak akan pernah setuju kamu sekolah disana.!!! Nanti siapa yang ngurusin kamu disana sayaaang.???" Kata Dinda kaget dan tak percaya, ia berbicara seperti itu karena ia memang benar-benar tidak mau kalau sampai anak semata wayangnya tinggal dan sekolah di Korea.


"Sayaaaang,,, kamu ini kenapa siiiih.??? Kan kemarin-kemarin kamu udah janji sama maaas, katanya kamu mau ngikutin semuaaaa cara mas dalam mendidik Devano, emang kamu lupaaa, hah.???" Kata pak Erik pelan, ia mencoba untuk mengingatkan lagi semua kata-kata dan janji-janjinya yang kemarin ia ucapkan kepada dirinya.


"Tapi maaass,,, kalau untuk yang satu ini Dinda neggak mauuuu.??? Nanti kalau Devano di Korea kenapa-napa gimanaaa.?? Lagian Dinda juga kan di rumah enggak ada temennyaaa.???" Kata Dinda merengek seperti anak kecil agar pak Erik mengurungkan niatnya untuk mengirim Devano ke Korea.


"Sayaaaang,,, kan di rumah masih ada maaas.???" Kata pak Erik mencoba untuk merayunya.


"Iya mamah,,, lagian kan di rumah masih ada papah yang nemenin mamah.??? Dan kalau masalah mamah takut Devano kenapa-napa di Koreaaa, mamah tenang aja.!!! Kan disana ada Oma sama Opa.??? Dan lagian kan rumah papah yang di Korea, deket juga tuh sama rumah Oma, jadi mamah enggak usah khawatir.!!! Kalau ada apa-apa sama Devanooo,, mamah tinggal telepon sama Oma aja.!!! Lagian Devano juga udah gede kok mah, Devano udah bisa jaga diri sendiri." Kata Devano serius, ia mencoba untuk menyakinkan Dinda kalau dirinya bisa menjaga diri selama berada di Korea dan selama jauh dari orang tua.


"Tapi sayaaaang,, mamah tetep takut kalau kamu sampai kenapa-napa selama disanaaa.??? Terus lagian juga mamah di rumah sama siapaaa.??? Kan papah itu sibuk terus dikant,,,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena pak Erik langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Ssssssttttt sayaaaang,,,, kamu percaya sama Devano yaaah.??? Devano itu pasti bisa jaga diri kok selama disana, dan kamu juga harus percaya sama mas.!!! Mas ngelakuin semua ini demi kebaikan Devano, mumpung sekarang Devano nya lagi mau sayang.??? Kalau Devano berubah pikiran lagi gimana, hah.??? Lagian kamu tenang aja yaaaah,,, kalau kamu disini kesepian enggak ada temaeeen, kan kita bisa bikin Dede lagi kayak tadi, biar kamu disini ada temennya,, iya kan.???" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya, sepertinya pak Erik keceplosan berbicara seperti itu didepan Devano.


Mendengar kata-kata dari pak Erik, Devano hanya terdiam dengan raut wajah merah karena malu.


"Aduuuuhhh.!!!! Kenapa papah ngingetin kejadian tadi lagi sih.??? Jadi malu sendiri gw ingetnya." Kata Devano dalam hati sambil mengingat kembali kejadian tadi saat ia memergoki kedua orangtuanya yang sedang asyik bercinta didalam kamar.


"Maaasss,,, tapi kan bikin Dede nya juga enggak jadi, jadiiii.??? Entar kalau Devano udah berangkat, terus kita bikin Dede nya enggak jadi lagi gimanaaa.???" Kata Dinda merengek, karena ia takut kalau sampai ia gagal untuk hamil lagi.


"Ya kita usaha dong sayaaaang,,, Iya kan Devano.???" Kata pak Erik mencoba untuk merayu Dinda kembali sambil meminta pendapat kepada Devano.


"I, i, iya pah,,, be, be, bener banget.!!! Mamah sama papah hari usaha.!!! Agar secepatnyaaa,, Devano punya Dedeee.??? Lagian Devano juga udah pengiiiiin banget punya Dede mah." Kata Devano serius, karena ia memang benar-benar sudah ingin mempunyai adik.


"Tuh kan sayang, kamu dengar kan kata-kata Devano.??? Jadi enggak papa yaaah,,, besok mas antar Devano ke Koreaaa, hah.??" Kata pak Erik pelan sambil terus mengusap-usap rambut Dinda.


Mendengar kata-kata dari pak Erik, akhirnya Dinda pun menyetujuinya jika memang Devano harus pindah sekolah di Korea.


"Iya mas,, tapi mas nganterin Devano nya jangan lama-lamaaaa.???" Kata Dinda merengek manja sambil cemberut.


"Iyaaa,,, mas janji, setelah beres ngurus-ngurus Devano disanaaa,,, mas langsung pulang, yaaah.??" Kata pak Erik sambil tersenyum.


"Oh iya pah, tapi sebelum Devano berangkat ke Korea, boleh enggak Devano minta sesuatu sama papah.??" Kata Devano serius, entah apa yang sedang Devano inginkan dari pak Erik.


"Kamu mau minta sesuatu sama papah,,, maksudnya.???" Kata Pak Erik bingung.


"Apa jangan-jangan.!!! Kamu bersedia papah kirim sekolah di Korea, karena sekarang kamu lagi ada maunya lagi sama papah.???" Kata pak Erik mencoba untuk menebaknya, karena biasanya Devano memang suka seperti itu, ia selalu nurut jika memang ia sedang ada maunya.


"Maaass,,, mas jangan gitu dooong.!!! Mas dengerin dulu Devano mau ngomong apaaa.???" Kata Dinda kesel dengan ucapan pak Erik, karena memang ia selalu membela Devano.


"Ya udah kalau gitu, kamu mau minta apa sama papah.?? Mobil baru,,, Apa motor baru.???" Kata pak Erik dengan sangat tegas, ia berbicara seperti itu karena bisanya jika Devano sedang ada maunya, ia pasti minta di beliin mobil baru, atau enggak motor baru oleh pak Erik.


"Bu, bu, bukan pah,,, bu, bukan itu.!!!" Kata Devano gugup entah apa sebenarnya yang sedang Devano ingin kan dari pak Erik, mengapa semua tebakan dari pak Erik itu salah.


"Bukan ituuuu.??? Terus kamu mau minta apa dong sayang dari papaaah.???" Kata Dinda bingung dan heran, karena Dinda pun sangat tau, biasanya jika anak semata wayangnya itu sedang ada maunya pasti hanya dua yang ia inginkan yaitu mobil baru, atau enggak motor.


"Iya bener tuh kata mamah, kalau bukan itu,,, terus kamu mau apa dong dari papah.???" Kata pak Erik penasaran.


"Se, se, sebenarnya pah.??? Devano,,, De, De, Devano pening minta uang 100 juta sama papah,,, bo, bo, boleh kan pah.???" Kata Devano gugup dan ketakutan, entah untuk keperluan apa, mengapa ia meminta uang sebanyak itu kepada pak Erik Ayahnya.


"Kamu serius cuma mau minta uang doang sama papah.??" Kata pak Erik tak percaya, mengapa tiba-tiba anaknya seaneh itu tidak seperti biasanya yang selalu minta dibelikan motor atau mobil baru.


"Iya sayang, kamu seriuuus.??? Kamu cuma mau minta uang doaaang, hah.???" Kata Dinda yang juga tak percaya mendengar permintaan yang tak biasa dari Devano itu.


"Iya pah, mah,,,, Devano cuma mau minta uang 100 juta, udah itu doang.!!!' Kata Devano mencoba untuk meyakinkan pak Erik dan Dinda.

__ADS_1


"Soalnya pah, mah,,, Devano pengiiiiin banget bantu keluarga teman Devano yang namanya Diki.??? Keluarga Diki itu kasihan tau enggak pah, mah.???" Kata Devano serius dan sedih mengingat-ingat betapa susahnya keluarga Diki, dan ternyata dari tadi ia meminta uang sebanyak itu kepada pak Erik, karena ia ingin sekali membantu keluarga Diki sahabatnya itu, karena sepertinya sekarang ini hati Devano benar-benar sudah terbuka.


"Apa sayaaang,,, kamu mau bantu keluarga teman kamu.??? Emang keluarga teman kamu itu kenapaaa.???" Kata Dinda kaget dan bingung mendengar kata-kata dari Devano.


"Iya,,, emang keluarga teman kamu itu kenapa.???" Kata pak Erik dengan sangat tegas.


Mendengar kata-kata dari pak Erik dan Dinda orang tuanya, dengan segera Devano pun langsung menceritakan semua kejadian-kejadian yang pernah ia lihat didalam rumah Diki dan menceritakan betapa susahnya keluarga Diki dalam menjalani kehidupannya sehari-hari.


"Apa.?!!! Temen kamu sampai segitunya sayaaang.??? Hanya karena ayam goreeeng,,, adik-adiknya sampai pada ribut rebutaaan.???" Kata Dinda kaget dan tak percaya ada orang sesusah itu, karena seperti yang kita tau, dari kecil ia hidupnya sudah dimanjakan oleh kekayaan.


"Iya mah,,, belum lagi papah Diki yang sekarang sedang sakit, Devano jadi semakin kasihan sama Diki mah, pah.???" Kata Devano serius dan sedih meningkat-ingat curhatan dari Diki tentang penyakit pak Eko Ayahnya itu.


"Tapi ini kamu enggak lagi bohongin papah kan.??? Ini semua bukan cuma akal-akalan kamu, supaya papah kasih kamu duit lagi kan.???" Kata pak Erik mencoba untuk meyakinkan dirinya, kalau sekarang ini Devano sedang tidak berbohong kepada dirinya.


"Beneran paaahh,,, Devano enggak bohooong.??? Papah mau kan bantu keluarga Diki.??? Cuma 50 Juta doang pah buat biaya papah Diki operasi, mau yah paaaah,,, kasihan paaah.??? Sebelum Devano berangkat ke Korea paaah, Devano pengiiiiin banget bantu keluarga Diki.?? Lagian kan papah udah biasa bantu-bantu orang susah kaya keluarga Diki, masa sekarang enggak mau sih paaah.???" Kata Devano memohon-mohon sambil memasang wajah melas agar pak Erik mau mengabulkan permintaannya.


"Papah sih mau-mau aja kalau memang ini beneran.??? Tapi tunggu dulu deh.!!! Tadi kan kata kamu, Ayahnya Diki cuma butuh 50 juta buat biaya operasi,,, terus kenapa kamu mintanya 100 juta.?? Yang 50 juta lagi mau kamu pake buat apa.??? Buay foya-foya kamu sama temen-temen kamu lagi.???" Kata pak Erik mencoba untuk menanyakan kepada Devano, karena ia tidak mau lagi kalau sampai uang tersebut digunakan untuk foya-foya Devano dan teman-temannya.


"Maaass,,, kamu ini kenapa siiiih.??? Curigaaaa terus sama anak sendiri, udah biarin mas kasih aja dia 100 juta, Devano pasti punya alasan sendiri kenapa minta uang 100 juta maaas.???" Kata Dinda kesel, lagi-lagi ia mencoba untuk membela Devano.


"Iya pah,,, benar kata mamah, Devano minta uang 100 juta,,, itu karena yang 50 juta lagi sisanya,,, mau Devano kasih buat modal usah keluarga Diki, biar keluarga Diki buka bengkel sendiri aja dirumah pah, dan jangan kerja di bengkel orang lagi.??? Soalnya Devano kasihan banget pah sama papahnya Diki, lagi sakit kaya gitu tapi masih harus tetap kerja." Kata Devano serius dan sedih dengan mata yang berkaca-kaca.


"Kamu kasihan sama papahnya Diki,,, terus sama papah kamu sendiri, kamu kasihan enggak.???" Kata pak Erik serius dan tegas.


Mendengar kata-kata dari pak Erik, seketika Devano pun langsung beranjak dari tempat duduknya, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Hiks,,, hiks,,, Devano minta maaf paaah.??? Hiks,,, hiks,,, selama ini Devano udah jadi anak durhaka.??? Hiks,,, hiks,,, Devano enggak pernah nurut sama kata-kata papah.??? Hiks,, hiks,, Devano minta maaf paah,,,, hiks,,, hiks,, Devano minta ma'aaaf.???" Kata Devano sambil menangis karena saking sedihnya mengingat betapa banyaknya Dosa yang telah ia perbuat kepada pak Erik Ayahnya.


Melihat keadaan anaknya seperti itu, seketika Dinda pun ikut menangis.


"Hikss,,, hikss,,, kok kamu malah nangis sih sayaaang.??? Hiks,,, hikss,,, udah kamu jangan nangiiiis.???" Kata Dinda sedih, seketika ia pun langsung memeluk pak Erik dan Devano dengan begitu eratnya.


Melihat anak dan istrinya memeluknya dengan begitu erat, pak Erik pun tersenyum


"Ssssssttttt udah, udah, udaaah,,, kenapa ini malah jadi pada nangis semua siiiih, hah.???Udaaaah, kalian jangan pada nangis lagi, yaaaaah.???" Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda dan Devano yang masih terus memeluknya.


"Hiks,, hiks,, tapi papah maafin Devano hiks,, hiks,, kaan.?? Hiks,, hiks,, papah percaya kan sama hiks,,, hiks,, Devanoo.???" Kata Devano sambil terus menangis, sepertinya sekarang ini ia memang benar-benar sudah sangat menyesali perbuatannya selama ini kepada pak Erik.


"Iyaaa,,,, papah percaya kok sama kamu.??? Yang pentiiing,,, sekarang kamu berubah, kamu enggak boleh bandel lagi kaya kemarin-kemarin, yaaah.??" Kata pak Erik pelan sambil terus mengusap-usap rambut Devano.


"Hiks,, hiks,, Dinda juga mau minta maaf sama hiks,, hiks,,, maaas.???" Kata Dinda sedih sambil terus menangis.


Mendengar kata-kata dari Dinda, pak Erik pun langsung tersenyum.


"Eeeeemmmm ini mamahnya juga ikut-ikutan aja nih.!!! minta maaf sama mas, nih.???" Kata pak Erik pelan sambil mencubit manja hidung Dinda.


"Hikss,,,, hikss,,, iyaaa,, Dinda juga minta maaf sama hiks,,, hiks,,, maaas.???? Selama ini Dinda kan suka marah-marah sama hiks,,, hiks,,, maaas.??? Hiks,, hiks,, Dinda juga suka ngambek-ngambek sama hiks,,, hiks,,, maaas.???" Kata Dinda sedih dan merasa bersalah karena selama ini suka marah-marah dan ngambek-ngambek kepada pak Erik.


"Iyaaa,,, mas maafin, Dan kalau mas ada salaaaah,, mas juga minta maaf yaaaah.??? Devano juga, papah minta maaf yah,,, kalau selama ini papah kasar sama kamu.?? Ya udah, sekarang Jangan pada nangis lagi, yaaaah.???" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum dan terus memeluk tubuh Devano dan Dinda.


"Oh iya Dev, jadi enggak nih.??? Katanya mau bantuin keluarga temen kamu.???" Kata Pak Erik serius.


"Pa, pa, papah tadi ngomong apa.??? Pa, pa, papah bersedia bantuin keluarga temen Devano.???" Kata Devano gugup dan tak percaya dengan ucapan pak Erik Ayahnya itu.


"Ya jadi dooong.!!! Siapa juga sih yang enggak mau bantuin orang susah.??? Selagi kita mampuuu,, dan selagi kita masih bisa menolong mereka,,, kenapa enggak.???" Kata pak Erik sambil tersenyum, ia berbicara seperti itu karena tanpa sepengetahuan dari kita ia mamang selalu mambantu orang-orang yang sedang kesusahan seperti keluarga Diki, karena pak Erik adalah orang yang sangat dermawan.


"Terimakasih banget yah pah.?!!! Terimakasih.!!! Sekarang papah sama mamah ikut yah ke rumah Diki.??? Biar papah sama mamah lihat sendiri keadaan keluarga Diki itu seperti apa.???" Kata Devano tergesa-gesa karena saking senangnya.


Melihat tingkah laku anaknya seperti itu, pak Erik dan Dinda pun tersenyum.


"Iyaaa,,, nanti papah sama mamah ikut ke rumah temen kamu itu, yaaah.???" Kata pak Erik serius.


"Ya udah ayo, sekarang mending kita siap-siap.!!!" Kata pak Erik lagi sambil tersenyum, kemudian mereka pun langsung mencoba untuk melangkah menuju kamarnya masing-masing, namun baru saja mereka melangkah, langkah mereka sudah terhenti.


"Sayang, kamu kenapa sayaaang.???" Kata pak Erik tergesa-gesa dan panik sambil menatap kearah Dinda yang sedang berdiri sempoyongan sambil memegangi kepalanya.


"Iya mamah, mamah kenapaaa.???" Kata Devano yang juga panik melihat keadaan Dinda mamahnya seperti itu.


"Aduhhh Dinda juga enggak tau nih maaas.??? Tiba-tiba kepala Dinda pusing bangeeeeet,,, perut Dinda juga mu,,,,,," Seketika ucapan Dinda terhrnti.


"Hueeeek,,,, hueeeek,,,,," Tiba-tiba Dinda muntah-muntah yang entah tau kenapa.

__ADS_1


__ADS_2