DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 33


__ADS_3

"Ya udah loh hati-hati yah Dev.?!! Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya.!!" Kata Diki mencoba untuk mengingatkan Devano sahabatnya itu.


"Iya Dik.! Ya udah gw cabut yah.??" Kata Devano sambil terus meringis karena merasakan pusing yang luar biasa di kepalanya, kemudian ia pun langsung dipapah kembali oleh Laras dan melangkah keluar dari gedung tersebut untuk pulang, namun belum sempat mereka melangkah keluar, tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.


"E, e, ehhh Dev, tunggu dulu.!!!" Teriak Diki tergesa-gesa.


"Aduuuuhhh.!!! Ini Diki sebenarnya ada apa sih.?? Orang lagi buru-buru juga, memperlambat rencana gw aja sih.?!!" Kata Laras dalam hati kesel, karena dari tadi Diki terus mengajak Devano kekasihnya itu untuk ngobrol.


"Iya ada apa Dik.??" Kata Devano sambil terus menahan rasa pusing di kepalanya.


"I, i, itu bukannya Alana yah Dev.!!! T, t, tapi kok Alana bisa sama Raka sih Dev.???" Kata Diki gugup dan bingung, sambil menatap kearah Alana yang seperti sedang asyik berpose cantik tepat dihadapan Raka.


"Kak Raka, kak Raka, tolong dong Photoin Alana.!!!" Kata Alana meminta tolong kepada Raka untuk memotretnya, kemudian ia pun langsung berpose sambil tersenyum dengan gayanya yang sangat cantik dan pakaiannya pun terlihat sangat seksi.



Bagaimana mungkin sekarang ini ia tidak terlihat sangat cantik dan seksi, jika yang memakeup dan memilihkan pakaiannya adalah Dinda mamah mertuanya, yang dari muda memang sudah sangat suka dengan model-model pakaian dan makeup seperti itu.


Namun yang jadi pertanyaannya sekarang ini adalah.?? Mengapa Alana tiba-tiba bisa berada di pesata tersebut bersama dengan Raka.?? Itu karena ternyata, tadi saat Dinda mamah mertuanya datang ke rumahnya dan menyuruhnya untuk cepat-cepat mandi, ia langsung buru-buru menlepon Raka, ia meminta tolong kepadanya untuk mengantarkan Alana menyusul Devano di pesta ulang tahun Tania mantan kekasih sekaligus sahabatnya, yang tak lain adalah sahabat Raka juga.


Sedangkan Raka yang mendengar perintah dari Dinda tantenya, ia yang memang juga diundang oleh Tania pun dengan senang hati langsung menjemput Alana, kemudian ia pun langsung mengantarkan Alana ke pesta ulang tahun tersebut untuk menyusul Devano.


"Apa.?!! Sekarang Alana ada disini.?" Kata Laras dalam hati panik, karena ia sangat takut kalau rencananya itu akan gagal.


"Sekarang Alana ada disini sama Raka.?? Mana Dik.??" Kata Devano penasaran dengan raut wajah marah.


"I, i, itu Dev, lihat Deh.!!!" Kata Diki gugup, sambil menunjuk kearah Alana yang masih berdiri berhadapan dengan Raka.


Melihat Diki menunjukkan tangannya, seketika Devano pun langsung menatap kearah dimana tangan Diki itu menunjuk.


"Apa.?!!! J, j, jadi,,, sekarang Alana benar-benar ada di sini bersama dengan Raka.?? Dan Alana berani-beraninya memakai pakaian seseksi itu saat bersama dengannya.??"



Kata Devano dalam hati kaget, dengan raut wajah yang sangat marah sambil menatap kearah Alana yang masih terus asyik berpose dengan pakaian yang menurutnya sangatlah seksi.


"Fotoin Alana sekali lagi ya kak.?!!" Kata Alana sambil terus tersenyum dan berpose dengan gayanya yang sangat cantik.



Lagi-lagi ia meminta tolong kepada Raka untuk memotretnya.


"Kurang ajar.!!! Ini semua enggak bisa di biarin.!! Berani-beraninya Raka ajak Alana kesini dengan pakaian seseksi itu.??" Kata Devano dalam hati penuh dengan emosi, karena seperti yang kita tau, ia paling tidak terima jika bagian tubuh seksi Alana istrinya itu terlihat oleh laki-laki lain kecuali dirinya, kemudian dengan segera ia pun langsung mencoba untuk melangkah kembali menuju mejanya.


"Kak Devano mau kemana kak.?? Ayo katanya sekarang kita mau pulang kak.??" Teriak Laras tergesa-gesa karena panik melihat Devano yang justru melangkah kembali menuju mejanya.


Mendengar teriakkan dari Laras, Devano tidak perduli, ia justru melangkah lebih cepat lagi menuju mejanya, dengan raut wajahnya yang masih sangat marah, kemudian ia pun langsung berdiri tepat di depan Diki.


"Dev kok loh balik lagi.? Loh kenapa Dev.? Loh mau ngapa,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Devano yang menenggak habis minuman beralkohol tiga botol sekaligus, karena sekarang ini ia benar-benar sangat marah dan cemburu buta melihat Alana pergi bersama Raka dengan pakaian seseksi itu.


"Dev, loh udah gila yah Dev.?? Ngapain loh minum sebanyak itu.?? Bukannya kepala loh sekarang ini lagi pusing Dev.??" Teriak Diki tergesa-gesa dan panik melihat Devano seperti itu.


Mendengar teriakkan dari Diki, Devano yang sedang marah pun tidak menjawabnya, ia justru melangkah dengan keadaan sempoyongan.


"Dev, loh mau kemana Dev.?!! Loh mau ngapain.?!!" Teriak Diki lagi panik, karena melihat Devano melangkah pergi dengan keadaan seperti itu, apalagi dengan raut wajahnya yang sekarang ini terlihat sangat marah, Diki pun semakin panik dibuatnya.


"Iya kak Devano, kak Devano mau kemana kak.?!!!" Teriak Laras yang juga sangat panik melihat keadaan Devano seperti itu.


Mendengar teriakkan dari Diki dan Laras, lagi-lagi Devano tidak menjawabnya, ia justru berjalan semakin cepat dengan keadaannya yang semakin sempoyongan, karena sepertinya minuman tiga botol yang baru saja ia tenggak sudah mulai beraksi, kemudian ia pun langsung berhenti dan berdiri tepat di samping Alana dan juga Raka, dengan raut wajahnya yang sangat marah.



Sambil menatap kearah Dada Alana yang terumbar dan terbuka dengan sangat lebar itu.



"Alana.!!! Ayo sekarang juga kita pulang.!!!" Teriak Devano penuh dengan emosi sambil menatap tajam kearah Alana.


Mendengar teriakkan dari Devano, seketika Alana dan Raka pun langsung menatap kearahnya.

__ADS_1


"M, m, mas Devano.??" Kata Alana gugup dan kaget sambil menatap kearah Devano yang masih emosi itu.


"Devanooo, kamu udah ada disini.?? Dari tadi itu aku nyariin kamu, nih tadi Tante Dinda nitipin Alan,,,,,," Seketika ucapan Raka terpotong.


"Kurang ajar loh.!!!" Teriak Devano penuh dengan emosi sambil menonjok Raka dengan sekuat tenaga, sampai Raka pun akhirnya terjatuh dan terpental ke atas meja GUMBRANG.!!!!!! Seketika Raka dan meja tersebut pun terjatuh kelantai.


Melihat kejadian seperti itu didepan mata, semua tamu undangan pun langsung teriak histeris dibuatnya.


"Haaaaaaaaaa.!!!" Teriak mereka semua panik dan ketakutan sambil berlari menjauh dari Devano dan juga Raka.


"Ada apa ini, ada ap,,,,,,,,," Seketika ucapan Tania pun terpotong.


"Apa.?!!! Kenapa acara pesta ulang tahun gw jadi berantakan seperti ini.??" Kata Tania kaget dan bingung karena saat Devano memukul Raka, ia sedang tidak ada di tempat tersebut.


"Aduuuuhhh,,, ini semua kenapa jadi kayak gini.?? Gawat.!!! Kalau kaya gini, lebih baik sekarang juga gw kabur dari sini, gw enggak mau ikut tanggung jawab atas perbuatan Devano ini.??" Kata Laras dalam hati panik dan tergesa-gesa, sambil buru-buru melangkah keluar dari gedung tersebut meninggalkan Diki yang masih berdiri disampingnya itu.


"Dev, loh ini apa-apaan sih Dev.?? Cukup Dev.!!! Cukup.!!!" Teriak Diki panik sambil menatap kearah Devano.


Mendengar teriakkan dari Diki, Devano yang sekarang ini sedang mabuk parah pun tidak perduli, ia justru langsung melangkah menghampiri Raka dengan keadaan yang sangat sempoyongan, kemudian ia pun langsung mencoba untuk menonjoknya lagi.


"Mas Devanoooo.!!! Cukup mas.!!!" Teriak Alana sambil menangis karena saking kaget dan paniknya, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menghampirinya.


"Udah mas.!!! Jangan mas, cukuuuup.!!!" Teriak Alana sambil terus menangis dan menarik-narik tangan Devano yang masih terus berusaha untuk memukuli Raka.


"Kemarin kan gw udah peringatin sama loh.!!! Jangan pernah loh bawa Alana tanpa seizin dari gw.?? Tapi dengan beraninya sekarang loh malah bawa Alana kesini.?? Loh berani sama gw, hah.?!!!" Teriak Devano penuh dengan smosi, kemudian ia pun langsung memukuli Raka kembali.


"Dev, gw bisa jelasin semua ini sama loh Dev.?!! Gw bisa jelasin semua ini sama loh.??" Teriak Raka tergesa-gesa dengan keadaan yang sangat lemah dan babak belur, karena sekarang ini ia tidak bisa melawan Devano yang secara tiba-tiba menyerangnya seperti itu, apalagi sekarang ini Devano sedang mabuk parah.


"Hiks,, hiks,, iya mas.!!! Hiks,, hiks,, mas jangan emosi dulu mas.!! Hiks,, hiks,, mas jangan emosi dulu.!!!" Teriak Alana sambil terus menangis dan menarik-narik tangan Devano yang masih terus memukuli Raka itu.


"Gw udah enggak butuh penjelasan dari loh.!!! Sekarang juga, gw akan habisi loh disini.!!!" Teriak Devano dengan suara yang sangat tinggi, kemudian dengan sekuat tenaga ia pun langsung mencoba untuk memukuli Raka kembali yang sudah sangat lemah itu.


"Jangan mas Devanoooo.!!!! Jang,,,,,,,,," Seketika teriakan Alana terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Diki menarik tubuh Devano yang sedang berada diatas tubuh Raka dengan sangat kuat, sehingga Devano pun terjatuh kelantai dan ia pun akhirnya tidak berhasil menghajar Raka.


"Loh udah gila yah Dev.!!! Raka itu sepupu loh Dev.!!! Raka itu sepupu loh.!!!" Teriak Diki penuh dengan emosi, sambil menatap kearah Devano yang masih tergeletak di lantai.


"Perempuan ini adalah istri gw.?? Jadi bagi siapa saja yang berani bawa perempuan ini tanpa seizin dari gw.?? Kalian semua akan berurusan dengan gw.!! Dan kalian semua akan bernasib sama seperti Raka.!!" Teriak Devano lagi, sambil terus menatap kearah tamu undangan, kemudian ia pun langsung menarik tangan Alana dan membawanya untuk keluar dari gedung tersebut.


"Hiks,, hiks,, lepasin mas.!!! Hiks,, hiks,, lepasin.!!! Hiks,, hiks,, mas mau bawa Alana kemana mas.?!! Hiks,, hiks,, Alana enggak mau ikut sama mas.!!! Hiks,, hiks,, Alana benci sama mas.!!! Hiks,, hiks,,, Alana benci sama mas.!!! Hiks,, hiks,, Mas itu benar-benar laki-laki yang enggak punya perasaan.!!! Hiks,, hiks,, Mas itu laki-laki yang enggak punya perasaan.!!!" Teriak Alana marah, sambil mencoba untuk melepaskan genggaman Devano dari tangannya, ia berbicara seperti itu karena sekarang ini ia benar-benar benci kepada Devano, laki-laki yang menurutnya sangat kasar dan tidak punya perasaan.


Mendengar teriakkan dari Alana, Devano yang sekarang ini sedang mabuk parah pun tidak menghiraukannya, ia justru menarik tangannya lebih kencang lagi, sampai akhirnya ia pun berhasil membawanya keluar dari gedung tersebut.


"Hiks,, hiks,, mas mau bawa Alana kemana mas.?!! Hiks,, hiks,, Alana enggak mau ikut sama mas.??" Teriak Alana lagi sambil terus mencoba untuk melepaskan genggaman Devano dari tangannya.


"Mas mau bawa kamu pulang.!!! Ayo sekarang juga kita pulang.!!!" Teriak Devano, kemudian ia pun langsung menarik tangan Alana lagi dengan sangat kuat menuju parkiran mobil.


"Hiks,, hiks,, tapi sekarang ini sedang hujan mas.?? Hiks,, hiks,, Alana enggak bisa hujan-hujanan mas.?? Hiks,, hiks,, dingin mas, hiks,, hiks,, dingin.?!!!" Teriak Alana kedinginan sambil memegang erat pundaknya, karena seluruh tubuhnya basah kuyup terkena air hujan, karena tanpa sepengetahuan dari kita ternyata sekarang ini keadaan di luar memang sedang hujan lebat.


Melihat Alana kedinginan seperti itu, lagi-lagi Devano tidak menghiraukannya, ia pun justru menarik tangannya lebih kuat lagi menuju mobilnya, kemudian ia pun langsung mengendarai mobilnya itu dengan kecepatan yang sangat tinggi seperti orang yang sedang kesetanan, sehingga membuat jantung Alana pun terasa seperti mau copot, Devano membawa mobilnya dengan kecepatan seperti itu, karena seperti yang kita tau sekarang ini ia sedang tidak sadar / mabuk berat.


1 Jam kemudian,,,,


DI RUMAH DEVANO.


Akhirnya Devano dan Alana pun sudah sampai, dan sekarang ini mereka berdua pun sedang berjalan masuk menuju kamarnya.


"Masuk.!!!" Teriak Devano menyuruh Alana untuk masuk, sambil membukaan pintu kamar tersebut untuknya, kemudian ia pun langsung ikut masuk bersama dengannya dan menutup pintu kamar tersebut dengan sangat kuat JEBREEEEET.!!!!


"Hiks,, hiks,, hiks,,," Suara Alana menangis karena kesal dengan sikap Devano, sambil menggigil kedinginan, karena seperti yang kita tau, baju yang sekarang ini ia kenakan basah kuyup terkena air hujan.


Melihat Alana kedinginan seperti itu, Alih-alih kasihan, Devano yang sedang mabuk berat pun malah justru menarik baju seksi yang sedang ia kenakan tepat dibagian depannya.


"Mas, mas mau ngapain mas.?? Jangan mas.!! Dingin mas.!!" Teriak Alana tergesa-gesa dengan keadaan yang masih sangat kedinginan, sambil mencoba untuk menyingkirkan tangan Devano yang masih terus menarik bajunya itu.


"Mas mau robek baju murahan kamu ini.!!!" Teriak Devano sambil terus menarik baju seksi Alana itu, karena seperti yang kita tau, dari sejak ia melihat Alana di pesta ulang tahun Tania tadi, ia benar-benar sudah muak melihat baju seksi yang sedang Alana kenakan itu, yang melihatkan dengan jelas bagian dadanya ke semua orang.


"Tapi buat apa mas.?? Jangan mas.!!" Teriak Alana bingung sambil terus menggigil kedinginan, ia berbicara seperti itu, karena ia benar-benar tidak tau apa alasan Devano mau merobek bajunya itu.


"Mas mau telanjangin kamu.!! Biar kamu enggak usah pakai baju sekalian, biar mas yang pertama lihat tubuh seksi kamu ini.?? Mas enggak rela, mas enggak rela, lihat kamu pakai baju murahan kayak gini di depan Raka dan melihat kan bagian tubuh seksi kamu ini ke semua orang.!!! Mas enggak rela, mas benar-benar enggak rela.!!!" Teriak Devano mencoba untuk menjelaskan sambil terus menarik-narik baju seksi Alana itu dengan sangat kasar, ia bisa sekasar itu kepada Alana istrinya, karena sekarang ini ia benar-benar sedang cemburu buta, belum lagi dengan keadaannya yang sekarang ini sedang mabuk berat, ia pun jadi semakin kasar.

__ADS_1


"Hiks,, hiks,, cukup mas.!!! Hiks,, hiks,, cukup.!!! Hiks,, hiks,,, mas itu kenapa sih kasar banget sama Alana, hiks,, hiks,, hah.??" Teriak Alana penuh emosi, dan kali ini ia pun benar-benar sangat emosi kepada Devano, bahkan saking emosinya rasa dingin di tubuhnya sekarang ini pun sudah tak terasa lagi.


"Apa kamu bilang.?? Kenapa mas bisa kasar sama kamu.?? Kamu enggak sadar, kamu ini siapa mas, hah.???" Teriak Devano dengan suara yang sangat tinggi dan raut wajah yang sangat marah.


"Kamu ini istri mas.!!!" Teriak Devano lagi dengan suara yang lebih tinggi lagi tepat di depan wajah Alana, sambil menggoyang-goyangkan pundak Alana dengan sangat kuat, karena sekarang ini ia benar-benar kesal mendengar ucapan Alana itu.


"Hiks,, hiks,, enggak.!!! Hiks,, hiks,, enggak.!!! Hiks,, hiks,, mulai malam ini, hiks,, hiks,, Alana bukan istri mas lagi.!!! Hiks,, hiks,, Alana udah capek mas, hiks,, hiks,, Alana udah capeeeek.!!! Hiks,, hiks,, Alana capek ngehadapi sikap mas yang egois ini.!! Hiks,, hiks,, dan Alana rasa, hiks,, hiks,, lebih baik sekarang ini, hiks,, hiks,, kita akhiri aja pernikahan kita hiks,, hiks,, ini." Teriak Alana sambil terus menangis, sepertinya sekarang ini kesabaran Alana sudah benar-benar habis menghadapi sikap Devano suaminya itu yang sangat egois yang hanya mementingkan perasaannya sendiri.


Mendengar teriakkan dari Alana, Devano yang sedang mabuk pun langsung tersenyum.


"Hemmmm,, apa kamu bilang.?? Kamu mau kita akhiri pernikahan kita ini.?? Enggak.!!! Semua itu enggak akan pernah terjadi,, karena apa.?? Karena malam ini, kamu harus layani mas.!!!" Teriak Devano emosi, sambil berjalan melangkah mendekat lagi ke arah Alana dengan raut wajah penuh dengan nafsu.


"E, e, enggak mas,,, e, e, enggak.!!!! M m, mas Devano mau ngapain mas.?? M, m, mas Devano mau ngapain.??" Teriak Alana gugup dan ketakutan, sambil melangkah mundur menjauh dari Devano suaminya itu yang sekarang ini seperti ingin memangsanya, namun sayang disaat ia sedang melangkah mundur, tiba-tiba langkahnya terhenti, karena ada ranjang dibelakangnya.


Melihat ada ranjang tepat di belakang Alana, Devano pun tersenyum, dengan segera ia pun langsung mendorong dan membaringkan tubuh Alana istrinya itu, tepat di atas ranjang tersebut.


"M, m, mas Devano,,, j, j, jangan mas.!! A, A, Alana takut mas.?? J, j, jangan..!!!" Teriak Alana gugup dan semakin ketakutan, sambil terus berbaring di atas ranjang tersebut.


Melihat Alana ketakutan seperti itu, Alih-alih kasihan, Devano yang sekarang ini sedang mabuk berat pun malah justru membuka pakaianan yang sedang ia kenakan.


"M, m, mas Devano,,, j, j, jangan mas.!! S, s, sekarang ini mas Devano lagi mabuk mas.?? S, s, sekarang ini mas Devano lagi enggak sadar.!!! I, i, ini Alana mas.?? I, i, ini bukan kak Laras." Kata Alana lagi-lagi gugup dan ketakutan sambil menatap kearah Devano yang sekarang ini sudah selesai membuka pakaiannya itu.


Melihat Alana gugup dan ketakutan seperti itu, dengan segera Devano pun langsung berbaring tepat di atas tubuhnya.


"Temani mas malam ini sayaaaang.?? Temani mas malam ini.?!! Malam ini mas benar-benar udah enggak kuat sayang.?? Mas benar-benar udah enggak kuat." Bisik Devano penuh dengan nafsu tepat ditelinga Alana sambil membelai lembut wajah cantik Alana istrinya itu, karena sepertinya obat perangsang yang Laras masukkan kedalam minumannya itu, sekarang ini sudah mulai terangsang olehnya.


"Mas Devano jangan mas.!!! Jangan.!!! Alana enggak mau mas.!!! Jang,,,,,,,,," Seketika teriakan Alana terhenti.


"Awwww maaasss, jangan maaaas.?? Awwww, Jang,,,,, awwww maaaasss.??" Kata Alana ketakutan sekaligus mendesah kenikmatan karena tiba-tiba Devano menciumi telinganya.


"Kenapa sayaaaang, hah.?? Enak kan sayaaang, hah.?? Enak kaaan.??" Bisik Devano dengan suara nafas yang terdengar sangat ngos-ngosan sambil terus menciumi telinga Alana istrinya itu.


"Jangan maaas.?? Jang,,,, Awwww,,, maaaas.?? Jangan maaaasss, jang,,,, Awwww mas Deeeev.??" Lagi-lagi Alana mendesah kenikmatan sambil memeluk tubuh Devano dengan begitu eratnya, karena ia merasakan nikmat yang luar biasa dari permainan Devano suaminya itu, belum lagi dengan keadaan tubuhnya yang sekarang ini masih kedinginan, ia pun jadi semakin erat lagi memeluk tubuh Devano.


Melihat Alana lagi-lagi mendesah seperti itu, nafsu Devano pun semakin menggila, dengan segera ia pun langsung menciumi bibir, leher, dan pundak Alana tanpa henti-henti dengan sangat rakusnya, bahkan ia pun terlihat menciumi habis seluruh wajah Alana istrinya itu tanpa henti-hentinya.


"Maaaasss,,, jangan maaass.?? Jangaaan.?!!" Kata Alana pelan, dengan keadaan yang sangat lemas dan tak berdaya di pelukan Devano.


Melihat keadaan Alana seperti itu karena ulahnya, dengan segera Devano pun langsung mencoba untuk membuka baju basah yang sedang Alana kenakan.


"Jangan mas.!!! Jangan.!!! Jangan buka baju Alana mas.!!! Alana mohon mas, jangan.!!!" Kata Alana panik dan ketakutan, sambil mencoba untuk mencegah Devano agar mengurungkan niatnya itu.


Melihat Alana ketakutan seperti itu, nafsu Devano yang sekarang ini sudah sangat memuncak pun tidak perduli, dengan segera ia pun langsung membuka baju Alana kembali, kemudian ia pun langsung memaksanya untuk mau melayani nafsunya yang sekarang ini sudah sangat tak tertahan itu.


"Hiks,,, hiks,,, mas Devano jangan mas.!!! Hiks,, hiks,,, Alana mohon mas.!!! Hiks,, hiks,, Alana mohon.!!!" Kata Alana menangis katakutan, sambil mencoba untuk berontak dari Devano yang sekarang ini masih terus memaksanya.


"Sekali ini aja sayang.!! Layani mas yah sayang.!! Layani mas.!!!" Kata Devano tergesa-gesa, dengan suara nafas yang terdengar sangat ngos-ngosan dan raut wajah penuh dengan nafsu, kemudian ia pun langsung mencoba untuk memaksa Alana kembali.


"Eemmmmmhhhh.!!!!"



Teriak Devano penuh dengan nafsu, dengan keadaan tubuh yang sudah basah di penuhi oleh keringat sambil mengeluarkan seluruh tenaganya dengan kuat.


"Aw.! Hiks,, hiks,, enggak mau mas.!! Hiks,, hiks,, jangan mas.!!! Hiks,, hiks,, enggak ma,,,,,,," Tiba-tiba ucapan Alana terpotong.


"Awwwwwwwww.!!!!"



Seketika Alana teriak dengan begitu kencangnya, karena sepertinya Devano suaminya itu sudah berhasil merenggut keperawanannya.


#####


Hay guys.!!!


Maaf banget yah.??


Ternyata untuk episode sekarang ini, author masih belum bisa mengungkap kebenaran tentang siapa gadis kecil pemilik Liontin yang sekarang ini sedang di pegang oleh Devano, karena episodenya terlalu panjang, insyaallah untuk episode besok semuanya terungkap, sekali lagi author minta maaf 🙏🙏🙏 bukan maksud membohongi, tapi jika di tulis sekarang, episodenya benar-benar memang sangat panjang.

__ADS_1


__ADS_2