
"J, j, jadi, selama ini loh yang udah neror Alana, hah.?" Teriak Devano penuh emosi.
"E, e, enggak Dev.! Gw bisa jelasin semuanya.! I, i, ini semua cuma salah paham Dev, bener.! Ini semua cuma salah paham." Ucap Tania gugup dan ketakutan, ia mencoba untuk membohonginya.
"Apa loh bilang.? Semua ini cuma salah paham.? Loh pikir gw ini bego, hah.?" Teriak Devano sambil terus memegang tangannya dengan kuat, kemudian ia pun langsung menyeretnya.
"Sekarang juga loh ikut gw.!" Ucapnya lagi, sambil terus menyeretnya.
"Aw.! Aduh, aduh.! Sakit Dev, lepasin tangan gw.! Gw bisa jelasin semuanya, ini semua cuma salah paham Dev." Ucap Tania kesakitan.
"Gw enggak butuh penjelasan dari loh.! Semuanya udah cukup jelas, dan sekarang juga loh harus ikut gw, ayo.!" Teriak Devano, kemudian ia pun langsung menyeretnya lagi dengan kuat.
"Aw, aduh, aduh.! Tapi loh mau bawa gw kemana Dev.? Lepasin.!" Ucap Tania kesakitan sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Devano.
"Sekarang juga gw mau bawa loh ke kantor polisi. Ngerti.!" Ucap Devano serius, kalau ia akan membawanya ke kantor polisi.
"Apa.?" Ucap Tania dalam hati kaget dan tak percaya Devano bisa senekad itu kepada dirinya.
"E, e, enggak Dev.! J, j, jangan.! Iya Dev, gw ngaku, iya gw yang udah neror Alana, tapi gw mohon sama loh Dev.! Jangan bawa gw ke kantor polisi, gw enggak mau dipenjara Dev, gw enggak mau dipenjara." Teriak Tania panik dan semakin ketakutan, akhirnya ia mengakui semua perbuatan jahatnya itu, sehingga Devano pun langsung tersenyum sinis mendengarnya.
"Akhirnya loh ngakuin juga perbuatan jahat loh ini, hah.?" Teriak Devano masih penuh emosi.
"I, i, iya Dev, gw ngaku, gw yang udah ngelakuin semua ini. T, t, tapi,,,,,," Seketika Tania pun terdiam.
"Tapi, tapi apa, hah.?" Teriak Devano lagi semakin marah.
"Untung aja loh ini perempuan.! Kalau loh laki-laki, udah gw habisin loh sekarang juga." Ucapnya lagi, ia mencoba untuk mengingatkannya agar jangan berani main-main dengannya.
"Ia Dev, gw tau gw salah. Tapi gw mohon Dev, loh jangan marah sama gw. Gw ngelakuin semua ini tuh karena loh Dev.! Gw ngelakuin semua ini karena loh.! Karena selama ini gw itu masih sayang sama loh Dev.! Gw enggak mau Dev, gw enggak mau loh hidup bahagia dengan perempuan lain kecuali gw." Ucap Tania mencoba untuk menjelaskan, apa alasannya mengapa ia bisa berbuat senekad itu terhadap Alana.
"Dan gw yakin Dev, dari lubuk hati loh yang paling dalam, loh masih sayang kan sama gw Dev.? Loh masih sayang kan Dev.?" Ucap Tania dengan percaya dirinya.
"Jadi gw mohon Dev.! Lebih baik sekarang kita mulai lagi hubungan kita ini dari awal." Ucapnya lagi memohon sambil memeluk lengannya dengan erat.
"Lepasin tangan gw.! Loh enggak usah mimpi bisa balik lagi sama gw.!" Teriak Devano sambil menghempaskan tangannya dengan kuat.
"Sekarang juga loh ikut gw ke kantor polisi. Ayo.!" Teriak Devano sambil menyeretnya lagi.
"Enggak Dev, enggak mau.! Gw enggak mau ke kantor polisi. Lepasin.!" Teriak Tania sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Devano lagi.
"Lagian asal loh tau yah Dev.! Pelakunya itu bukan cuma gw. Tapi Dimas adik dari Diki, temen terbaik loh.! Dia juga terlibat dalam kasus ini.! Dan Diki juga udah tau semuanya tentang ini, tapi dia sengaja nutup-nutupi semuanya dari loh.! Karena apa.? Karena dia mau nusuk loh dari belakang.! Dan disini yang penghianat itu bukan cuma gw Dev.! Tapi Diki Dev, Diki. Sahabat terbaik loh juga menghianati loh.!" Ucap Tania mencoba untuk mengadu domba antara Devano dan Diki. Namun ia bisa tau kalau Dimas adalah adik Diki, karena ia dan Marcell sempat menyelidiki siapa sosok Dimas sebenarnya.
"Maksud loh apa ngomong kayak gitu.? Loh mau main-main sama gw, hah.?" Teriak Devano tak percaya.
"Terserah loh Dev.! Mau percaya apa enggak sama gw, tapi memang itulah kenyataannya. Dan kalau loh masih tetap enggak percaya, loh boleh tanya langsung sama Diki temen terbaik loh, yang sekarang udah jadi penghianat.?" Ucap Tania mencoba untuk menyakinkannya kalau ucapnya itu benar.
"Enggak, enggak mungkin.! Gw enggak percaya sama loh.! Sekarang juga ayo ikut gw ke kantor polisi.!" Teriak Devano penuh emosi sambil menyeretnya dengan kuat, kemudian ia pun langsung membawanya kantor polisi dan menjebloskannya ke penjara, kemudian setelah itu ia pun langsung pulang.
"Gw bener-bener enggak nyangka loh bisa setega ini sama gw Dik.? Sebenarnya gw salah apa sih selama ini sama loh.?"
Ucap Devano yang sedang mengendarai mobilnya untuk pulang dengan raut wajah yang sudah tidak karuan, sepertinya sekarang ini ia sudah mulai kemakan oleh omongan Tania.
DI TEMPAT BERBEDA, DI PERJALANAN.
Waktu menunjukkan pukul 04:00 Sore.
Terlihat Renata yang sedang mengendarai mobilnya muter-muter dipinggiran kota, karena ia sedang mencari rumah Diki.
"Aduuuuuh.! Perasaan gw dari tadi udah muter-muter, tapi kok rumah itu cowok enggak ketemu-ketemu sih.? Kata Devano alamatnya disini, tapi kok dari tadi gw udah muter-muter enggak ketemu-ketemu juga." Ucap Renata yang sudah mulai lelah, ia berbicara seperti itu karena tadi pagi ia sempat meminta alamat rumah Diki kepada Devano karena ia ingin mengembalikan jaket yang ia pinjamkan kepadanya.
"Eh tunggu dulu.! Apa mungkin itu yah rumahnya.! Mmmmm, tapi kok kecil banget sih.?" Ucapnya lagi bingung, sambil menatap sebuah rumah kecil yang sangat-sangat sederhana tepat dipinggiran sungai dan itu memanglah rumah Diki, Diki sengaja enggan pindah dari rumah tersebut, karena menurutnya rumah tersebut adalah kenang-kenangannya saat bersamaan adik-adiknya dan juga kedua orang tuanya waktu kedua orang tuanya masih hidup, dan sebenarnya untuk membeli sebuah rumah untuk sekarang ini ia sangatlah mampu, bahkan bukan cuma itu, Devano dan pak Erik pun sudah berkali-kali menyuruhnya untuk menghuni salah satu rumahnya, namun lagi-lagi Diki menolaknya dengan alasan seperti itu.
"Tapi gw coba turun deh.! Siapa tau emang bener itu rumahnya." Ucapnya lagi sambil buru-buru turun dari mobilnya, kemudian ia pun langsung melangkah menuju rumah tersebut, namun baru saja ia melangkah, langkahnya sudah terhenti, karena ia melihat dua orang perempuan yang sedang asyik ngobrol di depan teras rumah tersebut, dan kedua perempuan tersebut ternyata adalah Siska dan Anita.
"Aduuuuuh.! Bodoh banget sih gw, kenapa tadi gw enggak tanya dulu sama Devano yah.? Diki udah punya istri apa belum. Gimana kalau salah satu dari perempuan itu ternyata adalah istrinya.? Iiiihhh.! Mau ngapain kali gw jauh-jauh kesini." Ucap Renata kesal dan sedikit kecewa, karena sepertinya bener apa kata Dimas, ia sudah mulai ada rasa kepada Diki abangnya.
"Udah deh.! Lebih baik sekarang gw pulang aj,,,,,,,," Seketika ucapnya terpotong.
"Maaf kak, dari tadi saya perhatiin kaka bolak-balik terus kayak lagi cari alamat, kalau saya boleh tau, kakak lagi cari alamat rumah siapa yah.?" Ucap Siska yang sekarang sedang berdiri tepat dihadapannya.
"Oh i, i, iya.! Aku sekarang emang lagi cari alamat." Ucap Renata gugup dan kaget.
"Mba tau enggak, Alamat rumah Diki dimana.?" Ucapnya lagi mencoba bertanya kepada Siska.
"Oh rumah bang Diki, kalau sekarang kakak cari rumah bang Diki, kebetulan sekali ini rumah bang Diki kak.!" Ucap Siska sopan sambil tersenyum.
Mendengar Siska menyebut Diki dengan panggilan Bang, seketika Renata pun langsung terdiam.
"Tuh kan, perempuan ini panggil Diki dengan sebutan bang. Apa mungkin perempuan ini bener istri Diki yah.?" Ucapnya lagi dalam hati bertanya-tanya.
__ADS_1
"Kak, kakak kenapa.? Kok kakak malah diem.?" Ucap Siska bingung.
"Oh e, e, enggak.! Enggak papa." Ucap Renata gugup karena ia sedang berbohong.
"Oh iya, kalau boleh tau sekarang Diki nya ada enggak yah di rumah.?" Ucapnya lagi.
"Bang Diki nya masih kerja kak, tapi sebentar lagi juga pulang." Ucap Siska serius, kalau sebentar lagi adalah waktu Diki Abangnya itu pulang dari kerja.
"Ooooh masih kerja yah.?" Ucap Renata.
"Iya kak masih kerja, jadi gimana.? Kakak Mau nunggu disini, apa mau kesini lagi lain waktu.?" Ucap Siska mencoba untuk memberi pilihan.
"Ya udah deh enggak papa, aku tunggu Diki sampai pulang aja." Ucap Renata sambil tersenyum.
"Ya udah kalau gitu, ayo kak masuk.! Kita tunggu bang Diki nya di dalem." Ucap Siska menyuruhnya untuk masuk.
"Sis, perempuan itu siapa.? Loh kenal.?" Bisik Anita yang dari tadi sedang berdiri disampingnya, sambil menatap sinis kearah Renata.
"Gw juga enggak tau, mungkin temen kerjanya bang Diki kali." Ucap Siska mencoba untuk menebaknya.
"Ooooh gitu." Ucap Anita sambil memperhatikannya dari dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Siapa yah perempuan ini.? Awas aja kalau perempuan ini berani deketin bang Diki." Ucapnya dalam hati kesel, sambil terus memperhatikannya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
"Mba,,,,," Ucap Renata menyapa Anita dengan sopan sambil tersenyum, namun sayang Anita tidak menjawabnya.
"Ya udah ya Sis, gw pulang dulu.! Udah sore nih.!" Ucap Anita sambil buru-buru melangkah pulang ke rumahnya.
1 Jam kemudian,,,,,,
Terlihat Renata yang masih duduk diruang tamu rumah Diki, karena sampai sekarang Diki belum juga pulang.
"Iiiihhh.! Itu cowok rese lama banget sih enggak pulang-pulang.? Mana sekarang gw cuma berdua doang lagi sama istrinya." Ucapnya dalam hati kesel, karena sampai sekarang ia mengira kalau Siska itu adalah istrinya, mungkin ia seperti itu karena sekarang ini ia sedang cemberu kepada Siska.
"Maaf yah kak, tadi aku tinggal sebentar." Ucap Siska yang baru saja masuk kedalam rumahnya, karena ia baru saja pulang dari belanja sayuran di depan rumahnya.
"Oh i, i, iya enggak papa kok.!" Ucap Renata gugup sambil tersenyum.
"Oh iya kak, kakak bisa masak enggak.? Dari pada kakak jenuh nungguin bang Diki kelamaan, mendingan kita masak bareng-bareng aja gimana.?" Ucap Siska mengajaknya untuk masak bersama dengan penuh semangat.
"B, b, boleh sih.! T, t, tapi aku enggak bisa masak." Ucap Renata sambil tersenyum malu, karena ia memang tidak bisa masak, karena seperti yang kita tau ia terlahir dari keluarga yang sangat kaya raya sama seperti Devano, jadi dari sejak kecil ia selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya.
"Oh enggak bisa masaaak, ya udah enggak papa deh.! Kakak bantu potong-potong sayur,,,,,,,,,,," Seketika ucapan Siska terpotong, karena tiba-tiba ponselnya berdering karena ada pesan masuk TING.! dari Diki Abangnya.
"Yaaaah kak, gimana yah.? Tadi bang Diki chat aku, katanya bang Diki lembur, jadi bang Diki enggak bisa pulang cepat." Ucap Siska mencoba untuk memberi tahu apa isi dari chat Diki tersebut.
"Oh gituuuu, ya udah kalau gitu aku pulang aja deh.! Lain waktu aku kesini lagi." Ucap Renata, kemudian ia pun langsung terdiam.
"Iiiihhh.! Itu cowok rese ngeselin banget sih.! Gw udah nunggu lama-lama juga, mana bareng istrinya lagi.! Eehhh malah enggak pulang-pul,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong.
"Maaf banget yah kaaak.? Bang Diki mah emang gitu orangnya, belum punya istri juga laganya udah kayak punya istri 5 aja, hobinya lembuuur terus kerjanya." Ucap Siska merasa bersalah, ia mencoba untuk memberi tahu Renata kalau Diki Abangnya memang selalu seperti itu.
"M, m, maksudnya.?" Ucap Renata kaget dan bingung.
'Iya kak, bang Diki itu emang kayak gitu orangnya, belum punya istri juga laganya kayak udah punya istri 5 aja, hobinya lembuuur terus kerjanya." Ucap Siska mencoba untuk mengulangi lagi ucapnya itu.
Mendengar ucapan Siska, Renata yang dari tadi sedang kesel pun seketika langsung tersenyum.
"J, j, jadi, kamu bukan istrinya bang Diki.?" Ucap Renata gugup sambil terus tersenyum karena saking senangnya.
"Yaelah kaaak, bukan lah.!" Ucap Siska sambil tersenyum karena lucu mendengar ucapan Renata.
"Makanya kak, kita kenalan dulu.! Nama aku Siska, aku adik pertama dari bang Diki, dan bang Diki juga belum punya istri kok kak." Ucapnya lagi sambil tersenyum, ia mencoba memberi tahu Renata kalau Diki abangnya masih perjaka.
"Oh g, g, gituuuu.." Ucap Renata lagi-lagi gugup.
"Y, y, ya udah, kalau gitu kita masak yuk.!" Ucapnya lagi sambil tersenyum penuh semangat.
"Loh, kok masak sih kak.? Bukannya tadi kata kakak, kakak mau pulang yah.?" Ucap Siska bingung.
"Oh e, e, enggak deh, enggak jadi.! Aku mau nungguin bang Diki aja, sekalian aku juga mau belajar masak sama kamu.! Biar aku bisa masak makanan kesukaan bang Dik,,,,,," Seketika Renata pun langsung terdiam.
"Aduuuuuh.! Bodoh, bodoh, bodoh.! Hampir aja gw keceplosan. Kira-kira Siksa denger enggak yah.? Tadi gw mau ngomong apa." Ucap Renata dalam hati panik.
"Apa.? Tadi kakak mau ngomong apa.?" Ucap Siska kaget sambil tersenyum, karena ia memang mendengar apa yang tadi Renata ucapkan.
"Oh e, e, enggak.! Ya udah ayo kita masak.!" Ucap Renata gugup dan semakin panik sambil buru-buru melangkah menuju dapur.
"Kak Renata.! Salah, bukan kesitu dapurnya." Teriak Siska sambil tersenyum, karena lucu melihat tingkah lakunya.
"Oh b, b, bukan kesini yah.?" Ucapnya lagi-lagi gugup, kemudian ia pun langsung melangkah menuju dapur, meninggalkan Siska yang sedang berdiri hanya sendiri.
__ADS_1
"Hemm.! Gw yakin, kak Renata pasti suka deh sama Bang Diki. Soalnya kelihatan banget sih dari tingkah lakunya." Ucap Siska dengan sangat yakin sambil tersenyum.
"Tapi enggak papa sih.! Lagian kak Renata kelihatannya baik kok orangnya, attitude nya juga Ok.! Sopan, Ramah lagi. Dari pada Anita.?" Ucap Siska mencoba membandingkan antara Renata dan Anita sahabatnya, kemudian ia pun langsung melangkah menuju dapur untuk menyusul Renata, namun sesampainya ia di dapur, ia heran melihat Renata yang sedang berdiri didepan jendela dapur tersebut sambil senyum-senyum sendiri.
"Kak, kakak kenapa.? Kok senyum-senyum sendiri.?" Ucap Siska bingung.
"Eh kamu Sis, enggaaaak.! Aku cuma seneng aja main di rumah kamu.! Soalnya disini tuh asyik, seru banget lagi." Ucapnya sambil terus tersenyum dan berdiri didepan jendela dapur tersebut, karena ternyata dari tadi ia sedang melihat Dimas dan teman-temannya yang sedang asyik bermain gitar di depan teras rumah tersebut.
Mendengar ucapan Renata, Siska pun langsung tersenyum.
"Ya namanya juga perkampungan kak, ya kayak gini deh suasananya." Ucap Siska.
"Enggak kayak rumah kakak, pasti rumah kakak berada di kawasan elite yah kak.? Dan pastinya juga mewah lagi." Ucap Siska mencoba untuk menebaknya, ia menebaknya seperti itu karena dilihat dari penampilannya terpampang dengan sangat jelas kalau Renata itu adalah anak dari orang kaya.
"Enggaaak, kata siapa.? Rumah kakak biasa-biasa aja kok." Ucap Renata merendah, kemudian ia dan Siska pun langsung mulai masak.
1 Jam kemudian,,,,,
Terlihat Dimas dan teman-temannya yang dari tadi masih asyik bermain gitar di depan teras rumahnya.
"Ternyata belum siap aku,,, Kehilangan dirimu,,,,," Suara Dimas menyanyikan lagu belum siap kehilangan dari Stevan Pasaribu sambil memetik sebuah gitar.
"Kayak gitu buka sih liriknya.?" Ucapnya yang sedikit lupa dengan lirik lagu tersebut.
"Iya bener Dim, kayak gitu lirik,,,,,,,," Seketika ucapan salah satu teman Dimas terpotong.
"Dimas, itu mobil siapa di depan.?" Ucap Diki Abangnya yang baru saja pulang kerja, sambil menatap kearah mobil Renata yang terparkir tepat didepan rumahnya.
"Eh Abang.! Baru pulang kerja bang.?" Ucap Dimas kaget.
"Iya nih.! Abang baru pulang kerja. Itu di depan mobil siapa.?" Ucap Diki mencoba untuk menanyakannya lagi.
"Oh ituuu.! Biasa lah bang, mobil calon pacar Abang." Ucap Dimas sambil tersenyum menggodanya.
"Dimaaas, please yah.! Jangan bercanda.! Sekarang Abang lagi capek banget, itu di depan mobil siapa.?" Ucap Diki, lagi-lagi ia menanyakan hal tersebut kepada Dimas.
"Dimas enggak bohong kok bang, kalau Abang enggak percaya, Abang masuk aja ke rumah.! Nanti juga Abang tau itu mobil milik siapa." Ucap Dimas.
'Ya udah lah.! Capek Abang ngomong sama kamu.!" Ucap Diki sambil buru-buru masuk ke dalam rumahnya.
"Eh.! Abang udah pulang bang.?" Ucap Siska yang sedang sibuk menyiapkan makan malam, di ruang makan.
"Udah Sis, aduuuuuh.! Capek banget Abang hari ini." Ucap Diki kecapekan sambil membuka jas yang sedang ia kenakan.
"Oh iya Sis, itu di depan mobil siap,,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.
"Aduh Siska, tolongin kakak Sis.! Aduh perih banget mata kakak." Ucap Renata yang baru saja keluar dari dapur sambil memejamkan matanya, ia kepedihan karena ia baru saja memotong bawang.
"R, R, Renata.?"
Ucap Diki kaget sambil menatap kearahnya.
Mendengar suara Diki, seketika Renata pun langsung membukakan matanya yang terpejam itu.
"D, D, Diki,,,, kamu udah pulang.?"
Ucap Renata kaget sambil tersenyum senang, karena orang yang ia tunggu-tungu akhirnya pulang juga.
"Ia gw udah pulang." Ucap Diki singkat.
"Eh tunggu dulu.! Ngomong-ngomong loh ngapain ke rumah gw.?" Ucapnya lagi bingung, mengapa tiba-tiba Renata bisa ada di rumahnya.
"Kok Abang nanyanya gitu sih.? Enggak sopan amat." Ucap Siska sedikit kesel dengan pertanyaan Diki Abangnya yang menurutnya kurang sopan.
"Y, y, ya bukan gitu maksud Abang Sis, Abang cuma kaget aja lihat Renata tiba-tiba ada disini." Ucap Diki mencoba untuk menjelaskan.
"Oh iya Ren, kalau boleh tau ada apa yah.? Loh kok tiba-tiba main ke rumah gw.?" Ucap Diki mencoba untuk menanyakannya lagi dengan sopan.
"Oh enggak, enggak ada apa-apa. Gw cuma mau balikin jaket loh yang kemarin loh pinjemin ke g,,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong, karena tiba-tiba Devano datang dan masuk ke rumah Diki dengan raut wajah yang penuh dengan emosi sambil teriak-teriak.
"Diki.! Dik.! Keluar loh sekarang juga.!" Teriaknya sambil terus berjalan masuk ke dalam rumah tersebut.
"Kak Devano.! Kak Devano kenapa.? Ada apa kak.? Kok kak Devano teriak-teriak.?" Teriak Dimas panik, sambil berjalan mengikuti Devano dari belakang.
Mendengar pertanyaan Dimas, Devano tidak menjawabnya, ia pun terus teriak-teriak memanggil Diki.
"Diki.! Loh Dimana.? Gw bilang keluar.!" Teriaknya lagi masih penuh dengan emosi, sambil berjalan masuk menuju ruang makan, sehingga Diki, Renata dan juga Siska yang berada di dalam ruang makan tersebut pun kaget.
__ADS_1
"Devano, loh kenapa.? Ada apa.? Kok loh teriak-teri,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong, karena tiba-tiba Devano memukulnya dengan kuat.
"Enggak usah belaga bego loh.! BANGSAT.!" Teriak Devano semakin emosi sambil terus memukulnya, sepertinya sekarang ini ia benar-benar sudah kemakan omongan Tania.