DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 30


__ADS_3

DI KAMAR DINDA


Waktu menunjukkan pukul 11:00 malam.


Terlihat Dinda yang sedang duduk di atas kasur dengan raut wajah sedih, karena ia masih memikirkan sikap Erik yang berubah menjadi acuh dan tidak perduli kepadanya, apalagi semenjak ia menolak ajakan darinya, Erik pun jadi sering pulang malam, ia seperti seorang bujangan yang tidak mempunyai istri, pulang dan pergi semaunya.


Dinda menunggu Erik sudah cukup lama, hingga akhirnya Erik pun pulang dan masuk ke dalam kamar, namun ia pulang masih dengan keadaan yang sama, ia tidak menyapa dan melihat kearah Dinda sama sekali, Dinda benar-benar seperti tidak terlihat olehnya.


Melihat Erik yang lagi-lagi acuh seperti itu kepada dirinya, Dinda pun tak tahan, ia sudah tidak kuat dengan sikapnya itu, hingga akhirnya ia pun menangis dan tangisannya itu pun terdengar oleh Erik yang memang berada di dekatnya.


"Hiksss,,, hiks,,, hiks,,,," Suara Dinda menangis dengan raut wajah yang masih sangat sedih


Melihat Dinda menangis seperti itu, Erik pun tak tega, dengan segera ia pun langsung menghampiri dan duduk di sampingnya.


"Kamu kenapa nangis.?" Kata Erik pelan dan penuh perhatian, sambil menatap kearah Dinda yang sedang tertunduk disampingnya, ia pura-pura tidak tahu kenapa Dinda bisa menangis seperti itu, sebenarnya ia sangat tau kalau Dinda menangis karena memikirkan sikapnya yang berubah.


"Hiksss,,, hiks,,, hiks,,," Suara Dinda mengencangkan suara tangisannya karena mendengar Erik yang sudah mau berbicara lagi kepada dirinya, ia terharu sekaligus senang akhirnya Erik sudah mulai perhatian lagi kepadanya.


Mendengar Dinda mengencangkan suara tangisannya seperti itu, Erik pun langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Ssssssttttt,,,, udah, udaaah.! Jangan nangis lagi yaaah.? Saya ada disini kok, saya enggak akan kemana-mana." Kata Erik pelan sambil menciumi rambut Dinda dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang, ia mencoba untuk menenangkannya.


"Hiks,,, hiks,,, pak Erik jahat sama Dinda.! Hiks,,, hiks,,, pak Erik udah hiks,, hiks,, enggak sayang lagi sama Dinda.! Hiks,,, hiks,,, pak Erik udah hiks,,, hiks,,,,,," Belum juga Dinda menyelsaikan ucapannya, namun sudah memotongnya.


"Ssssssttttt.! iya, iya, saya udah jahat sama kamu, dan sekaraaang, saya minta maaf yah.? Udah jangan nangis lagi.!" Kata Erik, sambil tersenyum dan mengusap air mata Dinda.


"Hiks,, hiks,, pak Erik janji.! Hiks,, hiks,, pak Erik enggak boleh kaya gini lagi sama Dinda.! Hiks,, hiks,, Dinda enggak mau pak Erik diemin lagi, Hiks,, hiks,, Dinda maunya pak Erik sayang-sayang Dinda, hiks,, hiks,, pak Erik manja-manja Dinda.! Hiks,, hiks,, pak Erik.? Hiks,, hiks,, Dinda sayang sama pak Eriiiik.?" Kata Dinda dengan sangat manjanya sambil terus menangis, akhirnya ia mengakui juga perasaannya kepada Erik, kalau ia sebenarnya sangat menyayanginya.


Melihat tingkah laku manja istrinya, Erik pun tersenyum, kemudain ia pun langsung mengeratkan pelukannya ke tubuh Dinda.


"Eeeemmmmmm kasihan istri saya ini, kamu tenang aja yaaah.? Saya enggak akan pernah diemin kamu lagi kaya gini." Kata Erik serius sambil tersenyum.


"Eeemmmm pak Eriiiik, Dinda sayang banget sama pak Erik.?" Kata Dinda merengek manja, sambil membalas pelukan Erik dengan begitu eratnya.

__ADS_1


"Iyaaaa." Kata Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda.


"Pak Erik, yang kemaren Dinda minta maaf.? Dinda udah buat pak Erik marah sama Dinda, Dinda udah buat pak Erik kecewa sama Dinda, Dinda udah bu,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.


"Ssssssttttt.! Udah, udah enggak usah minta maaf.! Semua itu salah saya kok, udah paksa-paksa kamu, padahal kamunya belum siap." Kata Erik sambil tersenyum.


"Enggak pak Erik, pak Erik enggak salah.! Semua itu salah Dinda, Dinda yang udah buat pak Erik marah sama Dinda, Dinda yang udah buat pak Erik kecewa sama Dinda, dan sekaraaang,,, Dinda mau nebus kesalahan Dinda yang kemarin." Kata Dinda serius, karena sepertinya sekarang ini ia benar-benar merasa sangat bersalah kepada Erik.


"M, m, maksudnyaaa.?" Kata Erik bingung sambil tersenyum, karena ia tau maksud dari ucapannya itu.


"Pak Erik, kalau malam ini pak Erik mau, Dinda udah siap kok.!" Kata Dinda serius, sambil menatap dalam wajah tampan Erik.


"K, k, kamu serius.? Kamu udah siap ngelayanin saya.?" Kata Erik gugup dan tak percaya sambil tersenyum, karena sekarang ini ia benar-benar sangat bahagia mendengar ucapan dari Dinda.


"Iya pak Erik, Dinda udah siap.!" Kata Dinda sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya, karena memang sekarang ini ia sudah siap untuk melayani Erik suaminya di atas ranjang, karena ia tidak mau mengecewakannya lagi.


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung membaringkannya di atas ranjang, sambil mencium keningnya dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang.



"Awwww pak Eriiiiik,,, awwww." Suara Dinda mendesah kenikmatan dengan sangat manja.


Mendengar Dinda mendesah kenikmatan seperti itu, nafsu Erik pun semakin menggila, dengan segera ia pun langsung menciumi kembali telinga Dinda itu dengan sangat rakus dan tanpa henti-henti, bahkan bukan hanya telinga, Erik pun terlihat menciumi leher, pundak, dan seluruh wajah Dinda semuanya habis ia ciumi, sehingga Dinda pun lagi-lagi mendesah kenikmatan.


"Awwww pak Erik awwww.!" Kata Dinda sambil mendesah kenikmatan dengan keadaan lemas dan tak berdaya di pelukan Erik.


Melihat Dinda yang lagi-lagi mendesah seperti itu, dengan segera Erik pun langsung membuka baju yang ia kenakan, kemudian ia pun langsung memandangi wajah cantik Dinda tanpa henti-henti.


"Kamu udah siap kan sayang.?"



Kata Erik pelan dengan suara nafas yang terdengar sangat ngos-ngosan, sambil terus memandangi wajah cantik Dinda.

__ADS_1


"Iya, Dinda udah siap kok.!" Kata Dinda serius kalau ia memang benar-benar sudah siap merelakan keperawanannya itu kepada Erik suaminya.


Mendengar kata-kata Dinda Erik pun tersenyum, kemudian tanpa pikir panjang ia pun langsung membuka baju dan pengait bra Dinda dengan sedikit kasar, karena ia benar-benar sudah tidak tahan ingin cepat-cepat merasakan malam pertama bersama Dinda istrinya yang tertunda selama berbulan-bulan.


"Pak Erik, pelan-pelaaan.! Dinda takuuuut, sakiiiiiit.?" Kata Dinda merengek ketakutan, karena seperti yang kita tau, sekarang ini adalah kali pertama ia melakukan hubungan suami istri.


"Kamu enggak usah takut yah.? Rasa sakit itu perlahan akan berubah menjadi nikmat." Kata Erik dengan raut wajah penuh dengan nafsu, ia mencoba untuk merayunya, karena sepertinya nafsu Erik sekarang ini sedang mengebu-gebu, ia sudah tidak tahan ingin cepat-cepat melampiaskan nafsunya itu.


"Iya pak Erik, tapi janji pelan-pelaaan.! Dinda takuuut..?" Kata Dinda lagi-lagi merengek ketakutan.


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik tidak menjawabnya, ia hanya menganggukan kepalanya sambil menatap dalam wajah cantiknya dengan tatapan penuh dengan nafsu, kemudain ia pun langsung melampiaskan nafsunya dengan Dinda malam itu juga.


4 Jam berlalu,,,,,


Akhirnya Erik pun sudah selesai bermain-main dengan Dinda diatas ranjang, Dinda terlihat sangat lemas tak berdaya, terkapar terbaring di atas kasur.


Melihat keadaan istrinya seperti itu karena ulahnya, Erik pun tersenyum.


"Kasian kamu, lemes yah.?" Kata Erik penuh perhatian, sambil mengusap-usap rambut Dinda.


Mendengar pertanyaan dari Erik, Dinda tidak menjawabnya, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan keadaan yang masih sangat lemas dan tak berdaya.


Melihat Dinda menganggukan kepalanya seperti itu, Erik pun lagi-lagi tersenyum.


"Tapi gimana rasanya.? Enak kan, kamu suka.?" Kata Erik lagi serius.


"Iya enaaak.! Tapi ini Dinda sakiiiit, periiih.?" Kata Dinda merengek kesakitan sambil menatap kearah bagian bawahnya.


"Eeeeemmm kasihan, ininya sakiiit, hah.? Entar saya tiupin yaaah.? Biar sakit sama perihnya ilang.?" Kata Erik pelan dan penuh perhatian.


"Iya nanti tiupin, periiiih.?" Kata Dinda sambil terus merengek kesakitan karena bagian bawahnya memang benar-benar sangat perih.


"Ya udah nanti saya tiupin, tapi sekarang bobo yah udah malam.?" Kata Erik, ia mengajak Dinda untuk tidur, karena hari memang sudah sangat malam, setelah Erik mengajak Dinda tidur, akhirnya Dinda pun tertidur dengan sangat pulas, begitu juga dengan Erik, ia pun terlihat tertidur dengan sangat pulas seperti sudah tidak ada beban lagi dihidupnya.

__ADS_1


#######


Jangan lupa like, coment dan vote.!


__ADS_2