
MASIH DI KAMAR DINDA.
Waktu menunjukkan pukul 01:00 Siang.
Terlihat Erik dan Dinda yang sangat menikmati waktu bolos kuliahnya bersama-sama, mereka berdua terlihat sedang asyik ngobrol-ngobrol, bercanda-canda, manja-manjaan, ketawa-ketawa, yang jelas mereka berdua terlihat sangat bahagia.
"Coba mas pengin cium.!" Kata Erik yang sedang berbaring di bawah tubuh Dinda.
"Mas pengin cium lagi.? Kan tadi udah.?"
Kata Dinda dengan sangat manjanya, sambil tersenyum menatap wajah tampan Erik.
"Ya enggak papa dooong minta lagi juga.? Kan mas ini suami kam,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong, karena tiba-tiba ponselnya bergetar karena ada yang menelfon Drttttt,,,, Drttttt,,,, Drttttt,,,,
Mendengar ponselnya bergetar, dengan segera ia pun langsung mengambilnya untuk mengecek siapa yang menelepon, dan ternyata yang meneleponnya adalah Arya.
"Iya Arya ada apa ? Oh gitu.? Ya udah oke, oke.! Sekarang juga saya siap siap nih." Kata Erik sambil buru-buru menutup telepon tersebut.
Mendengar Erik berbicara seperti itu kepada Arya kakanya, seketika wajah ceria Dinda pun berubah menjadi cemberut, karena ia tau kalau Erik suaminya itu, akan pergi dan tidak jadi berdua-duaan didalam kamar bersama dengannya seperti apa yang Erik suaminya itu katakan.
Setelah menyudahi teleponnya dengan Arya, Erik pun langsung menghampiri Dinda dengan raut wajah yang sangat bingung, karena ia sudah terlanjur mengangkatkan kepadanya akan menemaninya seharian, namun ternyata di kantor juga sedang ada kerjaan yang harus ia kerjakan, dengan berat hati ia pun akhirnya memilih untuk kekantor dan mencoba untuk meminta izin kepadanya.
"Dindaa,,,,,,,,,," Baru saja Erik menyebut namanya, Dinda sudah memotong ucapannya.
"Udah tau.! Udah sana pergi.! Enggak usah pulang sekalian." Kata Dinda ketus sambil terus cemberut.
"Dindaaa, sayaaang, sini.!" Kata Erik pelan, ia mencoba untuk merayunya dengan memanggilnya sayang, agar Dinda mengizinkannya pergi ke kantor.
"Gak mau.! Udah mas pergi sana.! Pokonya entar malam, mas jangan bobo sama Dinda, Dinda gak mau.!" Kata Dinda ngambek.
__ADS_1
Melihat Dinda ngambek seperti itu, dengan segera Erik pun langsung menghampiri dan duduk disampingnya.
"Sayaaang, kamu enggak boleh kaya gitu yah.? Kan mas harus kerja, tadi mas Arya udah telfon nyuruh mas cepat-cepat kekantor, kasihan mas Arya enggak ada yang bantuin." Kata Erik dengan sabarnya.
"Maaaas, tapi Dinda masih kangen sama maaas.? Dinda enggak mau mas pergi, Dinda masih pengin ditemenin sama maaas.?" Kata Dinda merengek seperti anak kecil, karena sekarang ini ia benar-benar masih sangat kangen dan ingin ditemani oleh Erik.
"Iya mas tau, tapi kan sekarang mas harus kerja, kamu ngerti yah.?" Kata Erik mencoba untuk menjelaskan kepada Dinda.
"Tapi maaas.?" Kata Dinda sambil terus merengek dengan sangat manjanya.
Melihat Dinda merengek seperti itu, Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung mencium keningnya.
"Nih udah mas cium.! Biar kangennya reda, biar kamu kuat nahan kangen sampai mas pulang nanti." Kata Erik sambil tersenyum menatap wajah cantik Dinda.
Mendengar kata-kata Erik, Dinda hanya terdiam sambil terus cemberut.
"Enggak usah cemberut kayak gitu.! Kamu tenang aja yah.? Entar malam kita main-main lagi kayak semalam." Kata Erik mencoba untuk merayu Dinda lagi.
"Tapi beneraaan, entar malam lagiiii.?" Kata Dinda merengek manja, sepertinya ia sudah mulai ketagihan dengan permainan Erik semalam, sampai-sampai ia terus terang seperti itu kepadanya.
Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun tersenyum.
"Tar malam Lagi.? Emang apanya yang lagi.?" Kata Erik pura-pura tidak tau, sambil tersenyum menggoda Dinda.
Mendengar godaan dari Erik, seketika wajah Dinda pun berubah menjadi merah karena malu.
"Iiiiiihhhhh maaaas, yang semalam itu tuh.!" Kata Dinda mencoba untuk mengingatkan kembali kejadian semalam saat bersamanya.
"Itu, itu apa.?" Kata Erik sambil terus tersenyum dan terus menggodanya, karena ia memang paling senang menggoda Dinda istrinya, apa lagi kalau sampai ia malu dan mulai ngambek.
"Iiiiiihhhhh mas Erik, tau ah.!" Kata Dinda ngambek.
__ADS_1
Melihat Dinda yang sudah mulai ngambek, Erik pun tersenyum.
"Iya, iyaaa, mas tau.! Entar malam kita main-main lagi yah.? Yang penting entar malam kamu jangan bobo dulu.! Tungguin mas pulang.!" Kata Erik sambil terus tersenyum.
"Ya udah.! Mas siap-siap dulu yah.? Takut mas Arya nungguin." Kata Erik lagi, kemudian ia pun langsung siap-siap untuk pergi ke kantor.
DI KANTOR.
Waktu menunjukkan pukul 02:00 Siang.
Terlihat Erik yang baru saja sampai dan berdiri di depan kantor, dengan penampilannya yang sangat tampan dan mempesona, bahkan ia pun terlihat sangat bersemangat.
Karena sepertinya pelayanan Dinda diatas ranjang sangat memuaskan dirinya dan bisa mengisi daya tahan tubuhnya kembali normal seperti semula, sehingga Dessy yang melihatnya pun tersenyum.
"Rik, Hari ini kamu semangat amat.? Emang ada apa.? Wahhh, kayaknya lagi seneng nih.?" Kata Dessy sambil tersenyum menggoda Erik.
"Oh E.e.enggak, biasa aja.!" Kata Erik gugup karena ia sedang berbohong.
"Oh iya Des, berkas-berkas yang kemaren udah selesai belum.?" Kata Erik lagi, mencoba untuk menanyakan berkas-berkas kemarin yang rusak oleh Arya.
"Itu dia Rik masalahnya.? Kamu kok gak kasih tau aku sih.? Kalau Arya juga kerja disini.?" Kata Dessy serius.
"Emang kenapa kalau Arya kerja disini.?Bukanya Arya udah gak penting lagi buat kamu.?" Kata Erik sambil tersenyum, sepertinya ia sengaja berbicara seperti itu, untuk memancing Dessy, karena ia ingin tau perasaannya ke Arya sekarang ini seperti apa.
"Y, y, ya bukan gitu Rik.? Aku kaget aja lihat dia ada disini, soalnya kan aku sama dia udah lama banget gak ketemu." Kata Dessy gugup, karena sesungguhnya ia memang masih mempunyai rasa kepada Arya.
"Oh iya Rik, tapi kalau dilihat-lihat.! Sekarang dia berubah yah Rik.? Dia kelihatan lebih dewas,,,,,,," Belum sempat Dessy menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.
"Maaf Bu Dessy, Bu Dessy disuruh ke ruangan pak bos sekarang." Kata salah satu karyawan dari kantor pak Irsyad, ia sengaja memanggil Arya dengan sebutan pak Bos, karena memang Arya yang menyuruhnya.
__ADS_1