DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 53


__ADS_3

MASIH DI PERJALANAN.


Waktu menunjukkan pukul 08:00 Pagi.


Terlihat Diki yang sedang melanjutkan perjalanannya untuk mengantarkan Dimas adiknya ke sekolah.


"Bang, ngomong-ngomong cewek yang tadi itu siapa sih bang.?" Ucap Dimas penasaran.


"Yang mana.? Yang tadi.?" Ucap Diki sambil sibuk menyetir mobilnya tanpa menoleh kearahnya sama sekali.


"Ia bang, yang tadi. Kalau dilihat-lihat, cantik juga yah bang itu cewek." Ucap Dimas mengagumi kecantikan Renata, sehingga membuat Diki pun terkekeh.


"Apa kamu bilang.? Cewek yang tadi kata kamu cantik.? Masa cewek rese kayak gitu dibilang cantik." Ucapnya sambil terus tertawa, ia berbicara seperti itu karena memang menurutnya Renata itu biasa-biasa saja, mungkin ia seperti itu karena ia tidak memiliki perasaan apa-apa kepadanya, namun sebenarnya Renata itu memanglah cantik.


"Yaaaah ini Abang.! Udah buta kali yah.? Masa enggak bisa ngeliat cewek secantik itu, giliran kak Anita aja, dipuja-pujaaaa terus." Ucap Dimas meledeknya.


"Ya wajar lah.! Kak Anita kan cewek special buat Abang." Ucap Diki sambil tersenyum.


"Ya ia buat Abang sepecial, tapi kak Anitanya cuma mainin Abang doang." Ucap Dimas yang juga kesal sama seperti Devano, karena Anita hanya mempermainkan Diki Abangnya saja.


Mendengar ucapan Dimas, Diki pun langsung terdiam, sehingga membuat Dimas pun merasa tak enak.


"Ups.! Sorry bang keceplosan." Ucap Dimas sambil tersenyum.


"Oh iya bang, tapi ngomong-ngomong lagi nih yah, cewek itu siapa sih.? Terus abang bisa kenal sama cewek secantik itu dimana.?" Ucapnya lagi masih penasaran.


Melihat Dimas adiknya sepenasaran itu, Diki pun langsung menceritakan semuanya, dari pertama kali ia bertemu dengannya, sampai menceritakan siapa sebenarnya sosok Renata itu.


"Apa kak.? Perempuan itu namanya kak Renata, terus dia teman kuliahnya kak Devano, dan dia itu seorang Dokter.?" Ucap Dimas kaget dan tak percaya.


"Iya Dimaaaas, bawel banget sih kamu.! Kayak perempuan aja tau enggak." Ucap Diki sedikit kesel, sambil terus menyetir mobilnya.


"Waaaah bang.! Kalau kayak gitu bararti kak Renata itu anak orang kayak dong bang.?" Ucap Dimas sambil tersenyum penuh makna.


"Tau dari mana kamu, kalau dia anak orang kaya.?" Ucap Diki penasaran dengan pemikiran Dimas adiknya yang sok tau itu.


"Ya iya lah bang.! Secara kan kata Abang, kak Renata itu seorang Dokter, dan kata Abang juga, kak Renata itu teman kuliah kak Devano waktu kak Devano kuliah di Korea, kan enggak mungkin dong bang, kak Devano berteman sama orang miskin." Ucap Dimas sambil tersenyum kearah Diki Abangnya.


"Kecuali Abang.!" Ucapnya lagi sambil tersenyum jahil kepadanya.


"Sial loh.!" Ucap Diki yang juga ikutan tersenyum.

__ADS_1


"Tapi kayaknya kak Renata suka deh sama Abang.! Soalnya Dimas lihat-lihat, tadi itu kak Renata perhatiin Abang mulu." Ucap Dimas serius, kalau tadi ia melihat Renata yang tak henti-hentinya memperhatikan Diki Abangnya.


"Udah deh bang, mendingan Abang sikat aja.!" Ucapnya lagi penuh semangat, sehingga Diki yang dari tadi sibuk menyetir mobilnya pun lagi-lagi tersenyum dibuatnya.


"Loh kira itu WC, asal main sikat-sikat aja." Ucap Diki.


"Ya iya lah bang.! Lagian kan kak Renata itu anak orang kaya bang." Ucap Dimas mencoba untuk mengingatkan Diki Abangnya kalau Renata itu anak orang kaya.


"Lah, emang kenapa kalau kak Renata itu anak orang kaya.?" Ucap Diki bingung dengan pemikiran Dimas adiknya.


"Yaaaah ini Abang.! Kurang jauh nih Abang mainnya, jadinya kurang pinter." Ucap Dimas lagi-lagi meledeknya.


"Nih yah bang, Dimas kasih tau Abang.! Kalau Abang sampai nikah sama kak Renata, kan otomatis Abang jadi orang kaya, dan kalau Abang sampai jadi orang kaya, otomatis Dimas sebagai adik Abang kan juga ikutan kecipratan tuh kekayaannya, iya kan bang.?" Ucapnya lagi sambil tersenyum senang membayangkan betapa bahagianya jika ia menjadi orang kaya.


"Yah ini anak.! Ngehalu aja bisanya." Ucap Diki sambil menjitak kepalanya.


"Aduh.! Sakit bang." Ucap Dimas kesakitan.


"Lagian sih kamu, ada-ada aja.! Nih Abang kasih tau yah sama kamu.! Kalau kamu mau jadi orang kaya, belajar dulu aja yang bener.! Tuh udah nyampe, udah turun sanah.!." Ucap Diki sambil menunjuk ke arah sekolahan Dimas.


DI RUMAH DEVANO.


Terlihat Devano yang baru saja pulang dari kantor, dan masuk kedalam kamarnya.


"Ini kamar sepi amat, gelap lagi. Alana kemana yah.?" Ucap Devano bingung, sambil menyalakan lampu dikamarnya, kemudian ia pun melangkah menuju tempat tidur, namun baru saja ia melangkah, langkahnya sudah terhenti, karena ia melihat Alana istri tersayangnya yang ternyata sedang tertidur dengan pulas.


"Loh, kamu tidur sayang.?"



Ucap Devano sambil tersenyum menatap kearah Alana istrinya yang sudah terbaring pulas diatas ranjang, kemudian ia pun melangkah menuju ranjang tersebut dan duduk tepat disampingnya.


"Eeemmm bohong banget sih kamu sayang sama mas, tadi aja nyuruh mas cepet-cepet pulang.! Katanya udah kangen banget sama mas, pengin dipeluk-peluk sama mas, pengin dicium-cium sama mas, udah enggak sabar pengin bikin Dede lagi sama mas, tapi masnya pulang kok malah bobo sih, hah.?" Ucap Devano gemas, sambil tersenyum dan mengusap-usap rambutnya, ia berbicara seperti itu karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi saat Devano di kantor, Alana menelponnya dan berbicara seperti itu, hingga akhirnya dengan penuh semangat Devano pun langsung pulang.


"Tumben banget sih pagi-pagi kayak gini kamu bobo sayang, kamu pasti kecape,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano pun terpotong.


"Tapi bohoooong.!"



Teriak Alana sambil tertawa-tawa, karena ternyata dari tadi ia tidak tidur, ia hanya ingin mengisengi Devano suaminya.

__ADS_1


"Eeemmmm udah pinter bohongin mas kamu sekarang yaaah, hah.? Awas aja nih, hah.!" Ucap Devano sambil tersenyum dan buru-buru mengangkat tubuh Alana kepangkuannya, kemudian ia pun langsung menciumi habis bagian dadanya.


"Aw, mas Devano enggak mau mas.! Jangan mas, geliiiii."



Teriak Alana kegelian, karena Devano menciumnya dengan rakus.


"Ooooh, geli yah, hah.? Gel,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong karena tiba-tiba Alana teriak dengan begitu kencangnya.


"Mas Devano awas.!" Teriak Alana ketakutan, sambil buru-buru memeluknya dengan erat, karena ia melihat ada sebuah batu yang terlempar ke jendela kamarnya, hingga kaca jendela kamar tersebut pun pecah.


"Sayang, kamu enggak kenapa-napa kan sayang.? Kamu enggak kenapa-napa.?" Ucap Devano tergesa-gesa dan panik sambil melihat-lihat keadaan Alana istri tersayangnya, karena ia takut Alana terkena batu atau pecahan kaca tersebut.


"SIAL.! Siapa yang udah berani-beraninya ngelakuin semua ini.?" Teriak Devano penuh emosi, kemudian ia pun langsung lari keluar untuk mencari orang tersebut.


"Gawat.! Kenapa jam segini Devano bisa ada di rumah.? Bukannya tadi pagi dia udah berangkat ke kantor." Ucap seorang perempuan misterius dengan pakaian tertutup, yang sedang berdiri tepat di depan rumah Devano dengan keadaan panik dan ketakutan, karena sepertinya perempuan tersebut adalah dalang dibalik semua kasus peneroran Alana, kemudian ia pun langsung lari.


"Woy tunggu.! Mau lari kemana loh.?" Teriak Devano penuh emosi, kemudian ia pun langsung lari untuk mengejarnya.


"Pokoknya hari ini juga gw harus tangkap dan habisi orang yang udah berani neror Alana." Ucapnya lagi masih penuh dengan emosi, sambil terus mengejar perempuan tersebut dengan kencang.


"Aduuuuuh.! Gw harus lari kemana nih.? Kayaknya sekarang gw harus ngumpet deh.! Enggak mungkin gw menang lawan Devano, Devano kan larinya kenceng banget." Ucap perempuan tersebut semakin panik, kemudian ia pun menengok ke belakang untuk mencari tau seberapa dekat jaraknya dengan Devano.


"Loh, Devano mana.? Kok enggak ada.?" Ucapnya lagi sambil menengok ke kanan dan ke kiri, untuk memastikan dimana Devano berada.


"Kemana yah, apa mungkin dia nyerah.?" Ucapnya lagi bingung, kemudian ia pun langsung tersenyum dengan raut wajah yang sangat senang.


"Emmmm, tapi bagus deh kalau gitu.! Berarti sekarang gw am,,,,,,,,,," Seketika perempuan tersebut pun langsung terdiam.


"D, D, Devano.?" Ucap perempuan tersebut kaget dan tak percaya melihat Devano yang sedang berdiri tepat dihadapannya.


"Mau lari kemana loh.?" Ucap Devano penuh emosi, sambil memegang tangan perempuan tersebut dengan kuat.


"Aw.! Awas, lepasin.!" Teriak perempuan tersebut panik dan ketakutan, sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Devano.


"Enggak, sampai kapanpun gw enggak akan pernah ngelepasin tangan loh.! Sekarang juga buka topeng loh.!" Teriak Devano masih penuh dengan emosi, sambil berusaha membuka topeng yang sedang perempuan tersebut kenakan.


"Enggak.! Jangan.! Lepasin.!" Teriak perempuan tersebut semakin panik dan ketakutan, sambil berusaha untuk mempertahankan topeng yang ia kenakan, namun sayang Devano tetap berusaha untuk membuka topeng tersebut, hingga akhirnya Devano pun berhasil membukanya dan tau siapa dalang dibalik pelaku peneroran Alana istri tersayangnya.


"T, T, Tania.?" Ucap Devano kaget dan tak percaya sambil terus menatap kearah Tania. Ia Tania, karena pelaku peneroran tersebut adalah Tania mantannya dulu waktu ia masih sekolah.

__ADS_1


__ADS_2