
DI PERJALANAN.
Terlihat Renata yang sedang mengendarai mobilnya menuju cafe, sambil termenung memikirkan sikap Diki yang seperti berubah kepadanya.
"Kira-kira tadi Bang Diki lagi teleponan sama siapa yah.? Emang segitu pentingnya yah orang itu buat Bang Diki, sampai-sampai Bang Diki enggak mau angkat telepon dari gw, tapi malah justru teleponan sama itu orang.?" Ucapnya dalam hati bertanya-tanya.
"Apa jangan-jangan.! Bang Diki sengaja lagi, enggak mau angkat telepon dari gw karena Bang Diki mau menghindar dari gw, karena Bang Diki enggak mau tanggung jawab kalau sampai nanti gw hamil." Ucapnya lagi dalam hati ketakutan.
"Aaahhh udah lah.! Pusing gw dari tadi mikirin Bang Diki, lebih baik gw positif thinking aja.! Mungkin aja Bang Diki lagi teleponan sama rekan kerjanya." Ucapnya lagi mencoba untuk menenangkan dirinya sendiri, sambil terus menyetir mobilnya menuju cafe.
DI CAFE.
Terlihat Alana yang dari tadi sudah sampai di cafe tersebut, sambil duduk menunggu Renata datang menemuinya.
"Udah hampir setengah jam aku disini, tapi kok kak Renata belum juga datang yah.?" Ucap Alana dalam hati bingung.
"Apa mungkin di jalan mac,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.
"Ya ampun Alana, kak Renata minta maaf banget yah.? Lagi-lagi kak Renata telat, kamu udah nungguin kak Renata lama yah.?" Ucap Renata yang baru saja datang dan masuk kedalam cafe tersebut.
"Eh kak Renata, kak Renata baru sampai.?"
Ucap Alana sambil tersenyum menatap kearahnya.
"Aduuuuh.! Iya nih kak Renata baru aja sampai, maaf banget yah.? Lagi-lagi kak Renata telat." Ucap Renata merasa bersalah kemudian ia pun langsung duduk tepat di hadapannya.
"Iya enggak papa kok kak." Ucap Alana sambil tersenyum.
"Ya udah minum tuh kak.! Alana udah pesenin minuman kesukaan kak Renata." Ucap Alana menawarkan sebuah minuman kesukaannya.
__ADS_1
"Kok kamu bisa tau sih minuman kesukaan kak Renata.?" Ucap Renata sambil tersenyum karena heran mengapa Alana bisa tau minuman kesukaannya itu.
"Iya kak, soalnya tadi mas Devano yang kasih tau Alana, apa minuman kesukaan kak Renata." Ucap Alana lagi, ia berbicara seperti itu karena memang benar tadi Devano sempat memberi tahu apa minuman kesukaannya.
"Ooohhh gitu, Devano yang kasih tau." Ucap Renata sambil tersenyum.
"Ya udah, kalau gitu kak Renata minum yah.?"
Ucap Renata sambil tersenyum dan mencoba untuk menikmati minuman kesukaannya yang Alana pesankan itu.
"Oh ya udah silahkan kak.!" Ucap Alana dengan sangat ramahnya.
"Oh iya Alana, maaf banget yah.? Semalam kak Renata enggak bisa anterin ini obat ke rumah kamu.! Bilangin juga sama Devano, kak Renata minta maaf banget." Ucap Renata sambil memberikan obat tersebut kepada Alana, ia meminta maaf kepadanya, karena seharusnya semalam ia yang harus mengantarkan obat tersebut ke rumahnya.
"Ya udah enggak papa, lagian Alana sama mas Devano juga tau kok.! Kak Renata ini kan orang sibuk." Ucap Alana sambil tersenyum, ia dan Devano mencoba untuk memakluminya.
"Aduuuh.! Kenapa gw keceplosan kayak gini sih di depan Alana.? Lagian gw sama Bang Diki kan belum jelas apa setatusnya." Ucapnya lagi dalam hati panik.
"Tadi kak Renata ngomong apa.? Semalam kak Renata main ke rumah pacar.? Emang kak Renata udah punya pacar.?" Ucap Alana kaget sambil tersenyum, karena setau ia dan Devano, Renata itu dari dulu sampai sekarang masih jomblo.
"O, o, oh enggaaak, itu loh maksud kakak.! Temeeen." Ucap Renata gugup, ia terpaksa menjawabnya seperti itu, karena memang itulah kenyataannya, kemudian ia pun langsung terdiam.
"Ternyata kayak gini yah rasanya.? Enggak enak banget kalau menjalin hubungan tanpa status, lagian kenapa sih, Bang Diki enggak mau memperjelas setatusnya dengan gw." Ucap Renata dalam hati sedih, sehingga Alana yang melihatnya pun bingung.
"Kak Renata, kak.! Kakak kenapa.?" Ucap Alana.
"Oh e, e, enggak.! Kakak enggak papa.!" Ucap Renata gugup karena ia sedang berbohong.
"Oh iya Alana, kamu udah tau belum? Kalau kemaren itu Bang Diki sama Devano berantem.?" Ucap Renata mencoba untuk mengalahkan pembicaraannya.
__ADS_1
"A, a, apa.! Tadi kak Renata ngomong apa.?"
Ucap Alana gugup karena saking kagetnya.
"Kamu udah tau belum, kalau kemaren Bang Diki sama Devano itu berantem.?" Ucap Renata mencoba untuk mengulangi ucapnya lagi.
"Berantem, kapan.? Kok Alana enggak tau." Ucap Alana panik, karena ia memang benar-benar tidak tau hal tersebut.
Melihat Alana sepanik itu, Renata pun langsung mencoba untuk menceritakan semuanya, dari awal kejadian Devano datang ke rumah Diki sambil marah-marah, sampai akhirnya Devano menghajar Diki habis-habisan sampai babak belur.
"Apa.! Mas Devano tega ngelakuin perbuatan kasar kayak gitu sama Bang Diki.?" Ucap Alana kaget dan tak percaya, karena semua orang pun tau kalau Devano dan Diki itu adalah sahabat sejati yang tidak bisa terpisahkan.
"Iya Alana, kak Renata juga kaget banget pas pertama lihat Devano datang ke rumah Bang Diki sambil marah-marah." Ucap Renata mencoba untuk meyakinkannya lagi.
"Tapi masalahnya apa kak.? Kenapa coba mas Devano bisa sekasar itu sama Bang Diki.?" Ucap Alana penasaran dan sedikit kesal mengapa Devano suaminya bisa sekasar itu kepada Diki yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Melihat Alana sekesal itu, dengan segera Renata pun langsung menceritakan semuanya, seperti apa yang sudah Siska ceritakan kepada nya kemarin, soal masalah teror yang Dimas lakukan kepada Alana, dan soal Diki yang merahasiakan hal tersebut dari Devano, karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata waktu di rumah Diki, Siska menceritakan semuanya, apa akar dari permasalahan tersebut.
"Ya ampuuun.! Kalau kayak gitu berarti mas Devano salah paham dong kak, yang salah itu bukan Bang Diki atau pun Dimas, tapi yang salah itu si penerornya, mungkin Bang Diki enggak mau jujur sama mas Devano, karena Bang Diki mau ngelindungin Dimas dari mas Devano, karena kak Renata juga pasti tau lah, mas Devano itu kalau lagi marah kayak gimana.? Dan kalau menurut Alana, Dimas juga enggak salah disini.! Lagian kan Dimas cuma dibayar buat neror Alana, dan itu pun Dimas enggak tau siapa orang yang mau Dimas teror." Ucap Alana mencoba untuk menjelaskan apa pendapatnya dengan panjang lebar.
"Nah itu masalahnya, kenapa kak Renata ajak kamu ambil obat disini.! Itu karena kak Renata pengin ngomong masalah ini sama kamu.! Biar kamu tau, soalnya disini kan enggak ada Devano." Ucap Renata mencoba untuk menjelaskan apa tujuannya mengapa ia mengajaknya ketemuan di cafe tersebut, kemudian ia pun langsung menggenggam tangan Alana.
"Alana, kak Renata bener-bener mohon banget yah sama kamu.! Tolong kamu omongin Devano baik-baik, kamu kasih tau dia, supaya dia tau kalau Bang Diki sama Dimas itu enggak salah, supaya mereka semua itu baikan lagi kayak biasanya." Ucap Renata memohon, karena ia tidak mau kalau Diki pujaan hatinya sampai mempunyai banyak musuh apa lagi dengan Devano, karena sepertinya ia benar-benar sangat menyayanginya.
"Iya kak.! Tanpa kakak nyuruh Alana untuk ngomong masalah ini ke mas Devano, Alana akan tetap ngomong masalah ini sama mas Devano, karena mas Devano sama Bang Diki itu udah kayak soulmate kak.! Mereka itu selalu bersama dan mereka itu enggak pernah berantem, bahkan mereka berdua itu saling bantu satu sama lain jika mereka berdua sedang kesusahan." Ucap Alana mencoba untuk memberi tahunya, seberapa dekat hubungan pertemanan antara Devano dan Diki, namun tiba-tiba ia pun langsung terdiam.
"Eh tapi tunggu dulu.! Apa mungkin masalah ini yah yang sebenarnya udah buat mas Devano bengong terus dari semalam.? Dan bukanlah masalah pekerjaannya di kantor." Ucap Alana dalam hati sedikit curiga.
"Kalau bener masalah ini yang udah buat mas Devano bengong dan sedih terus kayak gitu.! Berarti aku harus cepet-cepet cari cara supaya mas Devano sama Bang Diki baikan lagi." Ucapnya lagi dalam hati.
__ADS_1