
"Ngapain malah senyum sih.? Orang mah jawab.!" Kata Dinda dengan suara sedikit tinggi karena marah.
Mendengar Dinda meninggikan suaranya, Erik pun lagi-lagi tersenyum.
"Jangan berisik ah udah malam.!" Bisik Erik sambil tersenyum menggoda Dinda, akan tetapi bisikan Erik ini bukan bisikan biasa, ia berbisik ditelinga Dinda sambil menjilat telinganya dengan sangat pelan dan lembut, sehingga Dinda pun seketika langsung mengeratkan pelukannya ketubuh Erik.
"Awwww pak Erik, geliii.?" Kata Dinda dengan sangat manjanya, sambil kenikmatan merasakan jilatan dari Erik, Erik memang paling bisa mencuri-curi kesempatan untuk menyentuh tubuhnya.
Melihat Dinda yang sudah mulai kenikmatan dengan sentuhannya, Erik pun melanjutkan aksinya dengan terus menjilati dan menciumi telinganya tanpa henti-henti, bahkan bukan hanya telinga, ia pun terlihat menciumi leher, pundak dan bibir Dinda dengan sangat rakusnya.
Sampai-sampai Dinda tak berdaya dan mengakui sentuhan dari Erik itu memang nikmat
"Aawwww pak Erik awwww, pak Erik enaaaakk.?" Kata Dinda lagi sambil mendesah kenikmatan.
Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun tersenyum.
"Enak.? Kamu suka, hah.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum dan menatap dalam wajah cantik Dinda.
"Iya Dinda suka." Kata Dinda sambil menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Mendengar kata-kata Dinda, dengan segera Erik pun langsung menciumi dan menjilati kembali telinga Dinda dengan rakusnya, bahkan kali ini jilatan dan ciuman Erik bukan hanya ditelinganya, jilatan dan ciuman Erik turun ke leher, pundak, bibir dan seluruh wajah cantik Dinda semuanya habis dicium dan dijlati olehnya, sehingga Dinda pun lagi-lagi mendesah kenikmatan.
"Aaw pak Eriiiiik,,, awwww." Kata Dinda lagi-lagi mendesah kenikmatan dengan keadaan lemas dan tak berdaya di pelukan Erik.
Melihat keadaan Dinda lemas tak berdaya seperti itu, perlahan Erik pun mencoba untuk membuka baju seksi Dinda, kemudian ia pun mencoba membuka pengait branya, sepertinya ia mau mencoba aksinya dengan menunggunya lengah terlebih dahulu, dengan cara membuatnya terbuai dan tak berdaya oleh sentuhan darinya.
Akan tetapi semua usaha Erik sia-sia, karena sepertinya Dinda sadar, kalau Erik menyentuh tubuhnya sudah melebihi batas, sehingga ia pun langsung mencegahnya.
"Pak Erik, jangan.! Dinda enggak mau, Dinda belum siap, Dinda takut.? Jangan pak Erik.! Jangan lakukan sekarang.! Dinda takut.?" Kata Dinda dengan suara sedikit tinggi, karena panik sekaligus takut, kalau sampai Erik akan merenggut keperawanannya.
"Sekali ini aja, saya mohon.! Kamu harus mau layanin saya yah.?" Kata Erik memohon sekaligus memaksa, dengan raut wajah penuh dengan nafsu, sambil mencoba membuka kembali baju dan pengait bra Dinda, karena nafsunya sekarang ini sudah tak tertahan lagi.
"Hiks,,, hiks,,, jangan pak Erik.! Hiks,, hiks,, jangan.! Dinda enggak mau, hiks,,, hiks,, Dinda takut.?" Kata Dinda lagi-lagi menolak, sambil menangis ketakutan.
Melihat Erik melepaskan pelukannya, dengan segera Dinda pun langsung merapikan bajunya kembali sambil terus menangis.
"Hiks...hiks...hiks...hiks..." Suara Dinda menangis sambil terus merapikan bajunya, kemudian ia pun langsung berbaring membelakangi Erik dengan keadaan yang masih terus menangis.
Melihat Dinda menangis terus seperti itu, Erik pun langsung pergi keluar dari kamarnya meninggalkan Dinda, sambil membantingkan pintu kamar tersebut dengan sangat kuat JEBRET.! Karena marah dan kecewa kepadanya.
Mendengar Erik membanting dan menutup pintup kamar sekuat itu, sebenarnya Dinda pun kaget, akan tetapi ia tidak menoleh ke arah pintu sama sekali, karena ia tau kalau sekarang ini Erik suaminya sangat kecewa dan marah kepadanya, namun sebenernya ia tidak mau membuatnya kecewa dan semarah itu, akan tetapi ia melakukan semua itu karena ia memang benar-benar takut dan belum siap memberikan keperawanannya kepada Erik.
__ADS_1
Setelah membanting pintu dengan kuat, Erik pun terus melangkah menuju ruang kerjanya yang berada di samping kamarnya, karena ia berniat untuk tidur di ruangan tersebut, ia membiarkan Dinda tidur sendiri di kamarnya.
KEMBALI KE DINDA
Malam semakin larut, akan tetapi Dinda belum juga tidur, ia terdiam dan terbengong karena ia masih mengingat kejadian yang baru saja terjadi, namun disaat ia sedang terbengong, tiba-tiba ia ingat akan Erik.
"Pak Erik kemana yah.? Kok pak Erik belum masuk-masuk ke kamar.? Apa jangan-jangan.! Pak Erik pergi ke Rumah Dessy.?" Kata Dinda dalam hati, panik dan khawatir memikirkan Erik yang pergi selarut ini dengan keadaan marah, karena ia sangat takut kalau Erik akan melampiaskan nafsunya itu kepada Dessy, karena sepertinya ia tidak tau kalau ternyata Erik tidur di ruang kerja.
MASIH DI KAMAR DINDA.
Waktu menunjukkan pukul 03:00 Pagi.
Terlihat Dinda yang masih belum juga tidur, karena ia sedang menunggu Erik yang belum juga pulang.
"Udah sepagi ini, tapi pak Erik kok belum pulang yah.? Ya tuhaaaan, pak Erik kemana sih sebenarnya.?" Kata Dinda semakin panik dan khawatir memikirkan keberadaan Erik, karena seperti yang kita tau, ia mengira Erik pergi keluar dari rumah.
Dinda menunggu Erik sudah cukup lama, sambil bolak-balik, mondar-mandir, berdiri, duduk, hingga berdiri lagi, dan duduk lagi, sesekali ia melihat jendela untuk mengecek apakah Erik sudah pulang atau belum, akan tetapi ia tak juga melihat tanda-tanda Erik pulang, hingga akhirnya ia pun ketiduran.
############
Jangan lupa like, coment, vote dan rate yah.?
__ADS_1
karena satu like dari kalian, sudah membuat saya semangat untuk berkarya 🙏