
Mendengar perintah dari ketuanya, para preman tersebut pun langsung mencoba untuk menghajar Devano, namun sayang belum sempat mereka menghajar, tiba-tiba ada sekelompok pria berbadan kekar dan besar yang tak kalah jauh besar dan kekarnya dari mereka, bahkan jumlahnya pun lebih banyak dari mereka mencegah mereka semua.
"Tunggu dulu.!!! Jangan pernah kalian coba sentuh pemuda itu, sekali saja kalian berani sentuh pemuda itu, kalian semua akan berhadapan dengan saya." Teriak salah satu peria berbadan besar dan kekar tersebut sambil menunjuk ke arah Devano, namun entah siapa sebenarnya mereka, mengapa tiba-tiba mereka semua menolong Devano.
Mendengar teriakkan dari pria tersebut, seketika Devano pun langsung menatap kearahnya, ia kaget dan bingung, sebenarnya mereka semua itu siapa mengapa tiba-tiba menolongnya dan mencegah para preman tersebut agar tidak menghajarnya, begitupun dengan para preman tersebut, mendengar teriakkan dari pria tersebut, seketika mereka pun langsung menatap kearahnya, begitupun dengan ketuanya.
"Kurang ajar.!!! Siapa kalian, berani banget kalian ikut campur urusan gw.???" Teriak ketua preman tersebut marah.
"Kalian tidak perlu tau siapa saya, sekarang juga lepasin pemuda itu.!!!! Jika tidak, kalian semua akan berurusan dengan saya.??" Kata pria tersebut tegas.
"Cuiiiiiiiihhhh.!!! Beraninya loh menantang gw.??? Sekarang juga serang mereka.!!!" Kata ketua preman tersebut sambil meludah dan menyuruh anak buahnya untuk menyerang sekelompok pria tersebut, sehingga akhirnya mereka pun saling serang.
Melihat mereka semua saling serang, dengan segera Devano pun langsung menarik tangan gadis kecil tersebut, dan mengajaknya lari menjauh dari mereka semua, kemudian membawanya ke tempat yang lebih aman.
Devano dan gadis kecil tersebut masih terus berlari dengan sangat terengah-engah, hingga akhirnya mereka berdua pun sampai dan duduk disebuah taman.
"Kak terimakasih yah, kakak udah mau nolong aku.???" Kata gadis kecil tersebut dengan suara nafas yang terdengar sangat ngos-ngosan.
"Terimakasih, terimakasih.! Lagian gadis kecil kaya kamu ngapain sih malam-malam ada diluar.??? Gara-gara kamu tau enggak gw jadi capek kaya gini.??? Nyusahin aja sih kamu.???" Kata Devano marah-marah.
"Y, y, ya maaf kak, kalau aku udah nyu, nyu, nyusahin kakak." Kata gadis kecil tersebut gugup dan ketakutan.
"Kamu bisa enggak sih jangan sebut AKU, ke orang yang lebih tua.??? Kamu sebut nama dong.!!! Emang kamu enggak punya nama.?? Enggak sopan tau.!!!" Kata Devano, lagi-lagi ia marah-marah dan ia pun sok-sokan menasehatinya.
"Ta, ta, tapi kak,,, ka, ka, kata papah sama ma, ma, mama aku,,, aku enggak boleh kasih tau nama aku kesembarang orang." Kata gadis kecil tersebut mencoba untuk menjelaskan.
Mendengar kata-kata dari gadis kecil tersebut, Devano pun langsung tersenyum sinis.
"Hemm apa kata kamu tadi,,, kesembarang orang.??? Enggak salah tuh, Gw itu orang yang sudah mati-matian nolongin kamu, dan sekarang,,, kamu bilang gw itu sembarang orang.??? Enggak tau balas Budi banget sih kamu.???" Kata Devano semakin kesal.
"Udah sekarang kamu kasih tau gw,, nama kamu siapa.?? Anak kecil nyebut AKU ke orang yang lebih tua, itu namanya enggak sopan tau." Kata Devano lagi-lagi ia sok menasehati gadis kecil tersebut, sehingga membuat gadis kecil tersebut pun menjawabnya dengan kata-kata yang membuat Devano terdiam dan bingung karena tidak bisa untuk menjawabnya.
"Ka, ka, Kaka juga enggak sopan.???" Kata gadis kecil tersebut.
"Apa kamu bilang,,, gw enggak sopan, maksudnya.???" Kata Devano bingung.
"Kakak juga nyebut GW ke anak yang lebih kecil,,, itu kan namanya juga enggak sopan.???" Kata gadis kecil tersebut mencoba untuk membalikkan semua kata-kata Devano.
"Kamu ini yah diajarinya,,,,, ahhhh udah lah terserah kamu aja.!!! Mau kamu kasih tau nama kamu ke gw ke, mau enggak ke, gw enggak perduli, lagian enggak penting juga buat gw, ya udah yah,,, sekarang gw mau pergi, kamu udah bisa kan pulang sendiri.???" Kata Devano kesal kemudian ia pun mencoba meninggalkan gadis kecil tersebut ditaman, namun belum juga sempat Devano melangakah, langkahnya sudah terhenti.
"Ka, ka, kakak tunggu dulu.!!!" Teriak gadis kecil tersebut mencoba untuk mencegahnya.
"Aduuuuh,,, ada apa lagi si,,,,,,,,,,," Tiba-tiba ucapan Devano terhenti.
"Ka, ka, kakak,,,, i, i, ini kenapa.???" Kata gadis kecil tersebut gugup sambil memegang pelan pipi Devano yang terlihat biru seperti bekas tamparan.
"Jangan pegang-pegang.!!!" Kata Devano kesal, sambil menghempaskan tangan gadis kecil tersebut dengan kuat.
Melihat tangannya dihempaskan oleh Devano, seketika gadis kecil tersebut pun langsung tertunduk dengan raut wajah sedih.
__ADS_1
Melihat raut wajah gadis kecil tersebut seperti itu, Devano pun tak tega.
"Aduuuhh kenapa kamu malah jadi sedih kayak gini sih.??? Gw kan jadi enggak tega ninggalinnya." Kata Devano, kemudian ia pun langsung duduk kembali di bangku taman tersebut.
"Mau sampai kapan kamu berdiri terus disitu.??? Cepetan sini duduk.!!!" Kata Devano lagi sambil menarik tangannya untuk duduk.
"Ma, ma, maaf yah kak.??? Ga, ga, gara-gara kakak nolongin aku,,, pi, pi, pipi kakak jadi biru kaya gini,,, pa, pa, pasti ini sakit banget yah kak.???" Kata gadis kecil tersebut merasa bersalah karena melihat pipi Devano yang sedikit memar biru itu.
Mendengar kata-kata dari gadis kecil tersebut, Devano malah justru tersenyum.
"Ke, ke, kenapa,,, kok ka, ka, kakak malah senyum sih.???" Kata gadis kecil tersebut bingung.
"Lain kali,,, kamu itu bisa enggak sih jangan sok tau.???" Kata Devano ketus.
"Jangan sok tau,,,, maksud Kaka.???" Kata gadis kecil tersebut semakin bingung.
"Pipi gw kaya gini,,,, bukan karena tadi gw nolongin kamu, lihat aja.!!! Orang gw jagoan kaya gini, mana badan gw juga besar dan kekar lagi seperti ini.??? Jadi mana mungkin sih gw kena pukul mereka.???" Kata Devano sok jagoan dan percaya dirinya, padahal saat kejadian tadi betapa takut dan paniknya ia melihat para preman yang akan menghajarnya itu, beruntung saja ada sekelompok pria yang tak lain adalah suruhan dari pak Erik, iya,,, suruhan dari pak Erik menolongnya, karena ternyata sekelompok pria berbadan kekar dan besar itu adalah orang-orang yang di suruh pak Erik untuk mengikuti dan menjaga Devano putra semata wayangnya itu.
"Kalau bukan karena nolongin aku,,, terus kenapa dong pipi Kaka jadi kaya gini.???" Kata gadis kecil tersebut penasaran sambil menatap kearah pipi Devano itu.
"Kenapa pipi gw bisa kaya gini,,, itu karena tadi dirumaaah, gw itu habis berantem sama papah gu,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Aaaahhhh udah lah,,, kenapa gw jadi ngomong kaya gini ke kamu sih, enggak penting juga." Kata Devano lagi, ia mencoba untuk menghentikan ucapannya, karena sepertinya tadi ia keceplosan ngomong seperti itu kepada gadis kecil tersebut
"Enggak kak,,, tadi kakak ngomong apa.??? Kakak habis berantem sama papa kakak di rumah.???" Kata gadis kecil tersebut kaget, kemudian ia pun langsung menasehati Devano.
"Kakak enggak boleh tau ngelawan sama orang tua, dosa kak.??? Lebih baik sekarang kakak pulang, terus kakak minta maaf sama papah Kakak.!!!" Kata gadis kecil tersebut dengan dewasanya, ia berbicara sebijak itu, karena orang tuanya selalu mengajarkannya seperti itu, ia tidak boleh melawan kepada orang tua dan harus selalu sopan kepadanya.
"Apa kata kamu tadi, Dosa.??? Anak kemarin sore seperti kamu berbicara soal Dosa.??? Tau apa kamu tenang Dosa.??? Lagian kakak itu enggak percaya sama yang namanya Dosa." Kata Devano meremehkan kata-katanya.
"Lagian kamu tau dari mana kalau gw itu ngelawan sama orang tua.??? Kamu itu jangan sok tau deh." Kata Devano lagi kesel.
Mendengar kata-kata dari Devano, lagi-lagi gadis kecil tersebut menjawabnya dengan kata-kata yang membuat Devano terdiam dan bingung karena tidak bisa menjawabnya.
"Kalau kakak enggak ngelawan sama orang tua kakak, kenapa dong kakak bisa sampai ditampar papah kakak.??? Pasti karena kakak bandel kan,,, kakak pasti ngelawan kan saat papah kakak menasehati kakak.???" Kata gadis kecil tersebut mencoba untuk menebaknya.
"Sial.!!!! Kenapa gadis kecil ini tau sih, kalau gw suka ngelawan sama papah.???" Kata Devano dalam hati sambil menatap gadis kecil tersebut.
"Kakak, kakak kenapa,,,, Kok Kaka diam.???" Kata gadis kecil tersebut bingung melihat Devano terdiam seperti itu.
"Ke, ke, kenapa.??? E, e, engaaaak,,,, kata siapa gw diem.???" Kata Devano gugup.
Melihat Devano gugup seperti itu, gadis kecil tersebut pun tersenyum.
"Tadi kakak diem kenapa.??? Kakak merasa bersalah yah sama papah kakak.??? Kalau kakak ngerasa bersalah sama papah kakaaak,, lebih baik sekarang kakak pulang.!! Teruuuuus,,, kakak minta maaf sama papah kakak.!!! Sebelum terlambat kak.???" Kata gadis kecil tersebut serius, lagi-lagi ia mencoba untuk menasehati Devano.
"Sebelum terlambat,,,, maksudnya.???" Kata Devano bingung.
"Iya sebelum terlambat,,, sebelum kakak bernasib sama seperti aku, kakak itu masih beruntung tau enggak kak.??? Kakak masih punya orang tua yang lengkap, masih ada mereka yang bisa menasehati kakak disaat Kakak berbuat salah, dan disaat kakak sedihpun masih ada mereka yang bisa menghibur kakak, sedangkan aku kak,,, aku pengiiiiin,,, banget dinasehati sama mamah dan juga papah aku sama seperti papah kakak menasehati kakak, dan aku juga pengiiiin,,, banget dihibur mereka disaat aku sedih, tapi sayang kak, semua itu tidak akan mungkin terjadi." Kata gadis kecil tersebut sedih.
__ADS_1
"Tidak mungkin terjadi,,, maksudnya.???" Kata Devano semakin bingung, karena ia benar-benar tidak tau apa maksud dari kata-katanya itu.
"Iya kak,,, tidak mungkin terjadi, dan tidak mungkin akan pernah terjadi sampai kapanpun, karena sekarang ini,,,,, mamah aku sudah berada di surga." Kata gadis kecil tersebut semakin sedih.
"Ma, ma, maksudnya,,,,,, ma, ma, mamah kamu sudah meninggal.???" Kata Devano gugup dan kaget.
"Iya kak, mamah aku sudah meninggal, dan sekaraaang,,,, papah aku sudah menikah lagi dengan mama baru aku, sejak papah aku menikah dengannya,,,, papah jadi berubah, papah jadi kurang perhatian sama aku, dan papah juga jadi tidak ada waktu luang buat aku, karena papah sibuuuuuuk terus dengan pekerjaannya, tapi meskipun papah aku kaya gitu,,, aku tau, kalau sebenarnya papah aku itu sangat menyayangi aku." Kata gadis kecil tersebut sambil tersenyum, ia mencoba memberi tahu Devano kehidupan yang ia alami selama ini.
Mendengar kata-kata dari gadis kecil tersebut, Devano hanya bisa terdiam.
"Kasian juga gadis kecil ini.??? Apa benar kata gadis kecil ini yah,,, lebih baik sekarang gw pulaaang,,, terus gw minta maaf sama papah.???" Kata Devano dalam hati.
"Ahhhh enggak mungkin.!!! Apa sih yang sedang kamu pikirkan Devano,,, kenapa kamu jadi rapuh kayak gini sih.??? Lagian kan gw enggak salah,,, jadi buat gw minta maaf sama papah, dan lagian juga ngapain gw ngikutin ucapan gadis kecil ini.???" Kata Devano lagi dalam hati.
"Kakak, kakak kenapaa,,, Kok Kakak diam.??? Kakak mau kan minata maaf sama papah kakak.?? Sebelum terlambat kak.???" Kata gadis kecil tersebut lagi-lagi ia menyuruh Devano untuk minta maaf kepada papahnya.
Mendengar kata-kata dari gadis kecil tersebut, Devano pun tersenyum sinis.
"Ehhhh gadis kecil, gw kasih tau yah sama kamu,,, hidup gw itu enggak semalang kamu.??? Jadi meskipun gw enggak minta maaf sama papah gw,, masih ada orang yang bisa menghibur gw disaat gw sedih, dan bahkan disaat gw lagi ada masalah, susah sekalipun, masih ada orang-orang yang setia menemani gw, karena apa.??? Karena gw masih punya teman-teman yang selalu ada untuk gw, dan bukan hanya itu saja, gw juga punya pacar yang selalu setia menemani gw disaat gw susah dan disaat gw sedih, ngerti.???" Kata Devano mencoba untuk memberi tahu kepada gadis kecil tersebut, tanpa minta maaf kepada pak Erik Ayahnya pun, ia masih mempunyai orang-orang yang menurutnya baik dan selalu setia kepada dirinya.
"Ya itu sih terserah kakak, tapi asal Kakak tau aja yah.??? Kata mamah aku dulu,,, enggak ada loh kak di dunia ini, sahabat bahkan pacar sekalipun yang lebih setia dari orang tua kita, yang selalu ada untuk kita disaat kita susah, dan juga disaat kita sedih." Kata gadis kecil tersebut, ia berbicara seperti itu karena memang dulu mamahnya pernah memberi tahu seperti itu kepada dirinya.
"Apa kamu bilang.??? Enggak ada sahabat bahkan pacar sekalipun yang lebih setia dari orang tua kita.??? Gw enggak percaya, buktinya sampai sekarang sahabat-sahabat gw, dan juga pacar gw selalu setia sama gw, dia selalu ada untuk gw." Kata Devano tidak percaya dengan kata-kata gadis kecil tersebut.
"Ya tadi kan aku udah kasih tau kakak, itu sih terserah kakak aja, kakak mau percaya atau enggak sama kata-kata aku ini." Kata gadis kecil tersebut.
"Enggak, gw enggak percaya dengan kata-kata kamu, lagian sahabat dan pacar gw itu baik dan juga setia sama gu,,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Ya ampun kak udah malam banget,,, aku pulang dulu yah kak.?!!"Kata gadis kecil tersebut tergesa-gesa, sambil buru-buru melangkah untuk pulang, sepertinya saking asyiknya ngobrol dengan Devano gadis kecil tersebut lupa kalau sekarang ini waktu sudah menunjukkan pukul 11:00 malam.
"Hay tunggu dulu.!!! Kamu mau kemana.???" Teriak Devano.
Mendengar Teriakkan dari Devano, gadis kecil tersebut tidak perduli, ia terus berjalan dengan sangat terburu-buru untuk pulang.
"Hem,, aneh banget sih itu anak, tadi aja sok-sokan nasehatin gw.?? Giliran pergi aja main selonong aja enggak punya sopan santun." Kata Devano kesal.
"Tapi tunggu dulu deh.!!! Kok gw kayak ragu yah sama keyakinan gw sekarang.??? Apa bener yah kata-kata gadis kecil itu, kalau di dunia ini,, tidak ada yang lebih setia dari orang tua kita.???" Kata Devano bingung, sepertinya sedikit-sedikit ia sudah mulai ragu dengan keyakinannya selama ini.
"Ahhh udah lah.!!! Ngapain juga sih gw inget-inget ucapan gadis kecil it,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Itu apaan yah.??? Bukanya itu liontin yang tadi gadis kecil itu pakai yah.??? Tapi Kenapa itu lontin bisa ada disini.??? Apa jangan-jangan, itu liontin jatuh lagi tadi waktu gadis kecil itu buru-buru pergi." Kata Devano bingung sambil menatap liontin yang tergeletak ditanah, ia berbicara seperti itu karena memang tadi ia melihat gadis kecil itu memakai liontin tersebut, dan sepertinya memang benar liontin tersebut terjatuh disaat gadis kecil itu buru-buru pergi untuk pulang.
Melihat liontin tersebut tergeletak di tanah, dengan segera Devano pun langsung mengambilnya, kemudian ia pun mencoba untuk membuka liontin tersebut.
"Hem lucu juga gadis kecil ini, tapi perempuan ini siapa yah.??? Apa perempuan ini mamah dari gadis kecil itu yang sudah meninggal.???" Kata Devano bingung, sambil menatap foto yang berada di dalam liontin tersebut, dan ternyata liontin itu adalah benda yang paling berharga untuk gadis kecil tersebut, karena liontin itu adalah pemberian dan kenang-kenangan terakhir dari mamahnya sebelum mamahnya itu meninggal, dan hanya dengan liontin itu, ia bisa mengurangi rasa kangen kepada mamahnya, namun apa jadinya jika liontin tersebut sekarang sudah tidak ada lagi ditangannya, apalagi yang menentukannya adalah Devano pria yang sama sekali tidak tau dimana tempat ia tinggal, bahkan nama dari gadis kecil tersebut pun ia tidak tau, jadi tidak mungkin jika Devano bisa mengembalikan lontin itu kepada gadis kecil tersebut, kecuali dengan adanya sebuah keajaiban, jika suatu saat ia bisa bertemu lagi dengannya, namun itupun jika ia bertemunya sekarang-sekarang, jika ia bertemunya disaat gadis kecil tersebut sudah dewasa, apakah mungkin Devano masih mengenalinya.????
ENTAHLAH,,,,,,
########
__ADS_1
Jangan lupa like, coment dan vote yah.???
Biar author tambah semangat lagi upnya 😃😃😃 love you 😍😍😍😍