
"K, k, kak Raka ada keperluan apa yah kesini.?" Kata Alana masih gugup, karena ia takut kalau sampai Raka melihat perlakuan Devano tadi kepada dirinya.
"Ohhh ini,,, aku mau anterin barang-barang kamu, yang kemaren ketinggalan di kantor aku.??" Kata Raka serius, kalau ia ke rumah Devano karena memang ia mau mengantarkan barang-barang Alana yang kemaren ketinggalan di kantornya, karena seperti yang kita tau, waktu Alana pulang dari kantornya, ia tidak sempat ganti baju dan mengambil tasnya terlebih dahulu, karena ia langsung ditarik oleh Devano untuk pulang.
"Ohhh,,, i, i, iya,,, m, m, maaf banget yah kak.?? U, u, udah ngrepotin kak Raka.??" Kata Alana gugup, karena ia merasa sangat tidak enak.
"Iya enggak papa, santai aja.!!!" Kata Raka sambil tersenyum.
"Oh iya, ngomong-ngomong itu tadi Devano mau kemana.?? Kok kayak buru-buru banget sih, kamu panggil-panggil dia enggak mau nyautin.??" Kata Raka penasaran sebenarnya Devano mau kemana, sampai-sampai ia tidak menjawab teriakan dari Alana.
"Itu kakak, kata kakak Devano, kakak Devano mau pergi sama temen perempuannya, pacar kakak Devano kal,,,,,,,," Seketika ucapan Kiara terpotong.
"Eh sayang, udah siang banget nih.?? Ayo cepetan kita ke taman, entar kita ketinggalan angkot lagi.??" Kata Alana tergesa-gesa, ia mencoba untuk mengalihkan pembicaraan Kiara, karena ia tidak mau kalau Raka sampai mengetahui sebenarnya Devano suaminya itu mau kemana.
Melihat tingkah laku Alana seperti itu, Raka hanya terdiam sambil tersenyum.
"Kamu benar-benar istri yang baik.! Udah disakiti Devano berkali-kali, tapi kamu masih aja menutupi-nutupi kelakuan buruk suami kamu itu.?? Heeeemmm enggak sepantasnya kamu mempunyai suami seperti Devano." Kata Raka dalam hati sambil terus tersenyum, karena ia sangat kagum dengan sikap baik Alana itu, yang sudi menutup-nutupi keburukan Devano ke semua orang, meskipun ia sudah di sakiti berkali-kali olehnya.
"Oh iya, Kiara lupa kak.! Ayo kak sekarang kita ke taman.??" Kata Kiara dengan suara tinggi sambil tersenyum dan penuh semangat.
"Iya sayaaang." Kata Alana sambil tersenyum.
"Oh iya kak Raka, maaf banget yah.? Alana enggak bisa temenin kakak lama-lama disini.? Soalnya sekarang ini, Alana sama Kiara mau ke taman dulu kak, maaf banget yah kak.?" Kata Alana mencoba untuk memberi tahu Raka kalau sekarang ini, ia dan Kiara memang mau pergi ke taman.
"O, o, ohhh,,, y, y, ya udah enggak papa.!" Kata Raka gugup
"Ya udah yah kak, kalau gitu Alana sama Kiara ke taman dulu.?" Kata Alana sambil tersenyum, kemudian ia dan Kiara pun langsung mencoba untuk melangkah keluar dari dalam rumah menuju jalan untuk menunggu angkot.
"E, e, ehhh tunggu dulu.!! Kalian ke taman mau naik apa.?? Biar aku aja yang antar, yah.??" Kata Raka mencoba menawarkan diri untuk mengantar Alana dan Kiara ke Taman.
"O, o, oh enggak usah kak.! Enggak pap,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.
"Kakak Raka beneran.?? Kakak Raka mau anterin kita ke taman.?? Ya udah ayo kak.! Cepetan anterin kita ke taman.!!" Kata Kiara dengan suara tinggi dan penuh semangat sambil menarik-narik tangan Raka karena ia ingin sekali mengajaknya ke taman.
"Sayaaang, enggak boleh kayak gitu.! Kan kakak Raka itu orang sibuk." Kata Alana memcoba untuk menasehati Kiara.
"T, t, tapi kak,,, K, k, Kiara kan pengin ajak kak Raka ke tam,,,,,,," Belum juga Kiara menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.
"Udah enggak papa, ya udah ayo.! Biar Kakak yang anter Kiara ke taman.??" Kata Raka sambil tersenyum dan mengandeng tangan Kiara menuju mobilnya.
"T, t, tapi kak.! E, e, emang sekarang kakak enggak lagi sibuk.??" Kata Alana gugup, ia berbicara seperti itu, karena ia takut merepotkan Raka.
"Udah Alana, kamu tenang aja.! Aku enggak lagi sibuk kok.! Lagian sekarang kan hari libur." Kata Raka mencoba untuk menjelaskan, kalau sekarang dirinya memang sedang tidak sibuk.
"Ya udah ayo.! Biar aku yang antar." Kata Raka sambil terus mengandeng tangan Kiara, kemudian ia pun langsung melanjutkan langkahnya kembali menuju mobilnya, dan di ikuti oleh Alana dari belakang, sesampainya di mobil tersebut, Raka pun langsung melajukan mobilnya menuju taman.
DI TEMPAT BERBEDA, DI BUTIK.
Waktu menunjukkan pukul 03:00 Sore.
Terlihat Devano yang baru saja keluar dari ruang ganti.
"Gimana Ras, baju pilihan kamu ini cocok enggak buat kakak.??"
Kata Devano sambil tersenyum dan menunjukkan penampilannya sekarang ini kepada Laras, karena ia mau meminta pendapat kepadanya cocok atau tidak, dengan baju yang sedang ia pakai yang tak lain adalah pilihan Laras sendiri kekasihnya itu.
"Tuh kan kak.! Kata Laras juga apa.?? Kakak itu cocok banget pakai baju yang ini.?? Wahhhhh,,, pasti nanti malam di pesta ulang tahun teman kakak, kakak yang paling ganteng deh.!!" Kata Laras memuji-muji ketampanan Devano kekasihnya itu, dan sepertinya sekarang ini ia pun sangat senang, karena Devano mau mencoba baju yang ia pilihkan untuknya.
"Bener nih, kakak cocok pakai baju yang in,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar ponselnya bergetar Drttttt,,, drttttt,,, drttttt,,, karena ada yang menelepon.
"E, e, ehhhh tunggu dulu yah Ras.! Kakak mau angkat telepon dulu.?? Ya udah kamu pilih-pilih lagi aja dulu.! Nanti kakak kesini lagi." Kata Devano sambil buru-buru melangkah menjauh dari Laras, dan kemudian langsung mengangkat telepon tersebut.
"Iya hallo ada apa pak.??" Kata Devano mencoba untuk menjawab telepon dari pak Anton supir pribadinya, karena ternyata yang meneleponnya itu adalah supir pribadinya.
"Ini Den, semua kado-kado yang Aden minta sudah saya beliin, dan semuanya sudah siap.!! Tinggal di kasih saja ke non Alana Den." Kata pak Anton mencoba untuk memberi tahu Devano, kalau semua kado-kado yang Devano pesan kepadanya untuk Alana, semuanya sudah siap, karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata tadi Devano sempat meminta pak Anton supir pribadinya itu untuk membelikan kado-kado yang banyak untuk Alana.
*Kado-kado tersebut*
"Ohhh gitu pak, semua kado-kadonya udah siap.??" Kata Devano sambil tersenyum.
"Iya Den semuanya udah siap.!!" kata pak Anton mencoba untuk meyakinkan Devano lagi.
"Ya udah kalau gitu pak Anton simpan dulu aja yah kadonya.?? Jangan dikasih ke non Alana dulu, biar nanti saya aja yang kasih sendiri ke non Alana pak.??" Kata Devano meminta pak Anton untuk menyimpan kado tersebut, karena ia ingin memberikan sendiri kado tersebut kepada Alana istrinya itu, sebagai kejutan.
"Baik Den.!!! Lagian non Alana sama non Kiaranya juga belum pada pulang dari taman." Kata pak Anton serius, kalau sekarang ini Alana dan Kiara memang belum pulang dari taman.
"Apa.?!!! Udah sesore ini mereka belum pada pulang dari taman.??" Kata Devano kaget mendengar kata-kata dari pak Anton supir pribadinya itu.
"Iya pak, mereka belum pada pulang." Kata pak Anton mencoba untuk menjawab pertanyaan Devano.
"Kok bisa sih pak.?? Tadi pagi mereka ke taman diantar sama bapak enggak.??" Kata Devano sedikit panik.
"Enggak Den, tadi pagi pak Erik nyuruh saya untuk ke rumah temannya, untuk mengambil berkas-berkas penting Den, jadi saya enggak sempet anterin non Alana sama non Kiara ke taman Den." Kata pak Anton serius, kalau tadi pagi ia memang disuruh oleh pak Erik untuk mengambil berkas-berkas penting di rumah temannya.
"Tapi tadi sih bi Ipah ngomong, katanya sih non Alana sama non Kiara, mereka ke taman naik angkot Den." Kata pak Anton mencoba untuk memberi tau Devano, kalau tadi bi Ipah asisten pribadi di rumahnya, berbicara seperti itu kepada dirinya, karena sepertinya bi Ipah tidak tau kalau ternyata Alana dan Kiara ke taman di antar oleh Raka.
"Apa.?!!! Non Alana sama non Kiara ke taman naik angkot pak.??"
Kata Devano kaget, karena ia sangat panik mendengar kata-kata dari pak Anton, karena menurutnya angkot itu sangatlah kotor dan tidak sehat.
"Iya Den." Kata pak Anton tegas.
"Ya udah, ya udah pak.! Sekarang bapak bawa semua kado-kado itu ke taman.! Soalnya sekarang ini saya mau langsung ke taman nyusul mereka pak.! Nanti saya share lokasinya yah ke bapak." Kata Devano tergesa-gesa, karena ia sangat panik dan takut kalau sampai terjadi sesuatu kepada Alana dan juga Kiara di taman, seperti kejadian waktu itu saat Alana dan Kiara di ganggu oleh preman, dan sepertinya ia menyuruh pak Anton untuk membawa semua kado-kadonya itu ke taman, karena ia mau memberikan kado tersebut di taman kepada Alana.
"Baik Den, sekarang juga saya langsung ke taman." Kata pak Anton dengan sangat tegas.
"Iya Ok, Ok, pak.!" Kata Devano sambil buru-buru memutuskan sambungan telepon tersebut, dan kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menghampiri Laras.
"Laras, kayaknya kakak harus pulang sekarang deh.!" Kata Devano tergesa-gesa, ia mencoba untuk meminta izin kepada Laras kekasihnya itu.
__ADS_1
"Kakak mau pulang sekarang.?? Emang kakak mau ngapain.??" Kata Laras penasaran dan bingung mengapa tiba-tiba Devano mau pulang.
"Ini Ras, dari tadi pagi Kiara sama Alana lagi di taman, dan sampai sekarang mereka berdua belum pada pulang, kakak takut mereka kenapa-napa Ras.??" Kata Devano panik, ia memcoba untuk menjelaskan semuanya kepada Laras.
"Apa tadi kakak bilang.? Kiara sama Alana.? Kakak sekhawatir ini sama Alana.?" Kata Laras kesel.
"Raaaas, ayolah.! Kamu jangan marah-marah kayak gini.? Kakak bukan khawatir sama Alana,,, yang kakak khawatirkan itu Kiara.? Kakak takut kalau sampai Kiara itu kenapa-napa, kamu percaya yah sama kakak.??" Kata Devano memcoba untuk meyakinkan Laras, sambil memasang wajah melas, agar Laras kekasihnya itu percaya dengan semua kebohongannya itu, karena ternyata bukan hanya Kiara yang sekarang ini sedang ia khawatirkan, melainkan juga dengan Alana istrinya itu.
"Tapi beneraan kan kak.? Semua ini bukan karena Alana.?" Kata Laras masih sedikit ragu dan tak percaya dengan ucapan Devano kekasihnya itu.
"Beneran.! Kakak enggak bohong, kamu percaya kan sama kakak.?" Kata Devano mencoba untuk meyakinkan Laras kembali dengan kebohongannya itu.
"Ya udah.! Laras percaya." Kata Laras sambil tersenyum.
"Ya udah kalau gitu sekarang juga kakak ke taman yah.?" Kata Devano tergesa-gesa, sambil mencoba untuk melangkah keluar dari butik menuju mobilnya.
"E, e, ehhh kak tunggu dulu.! Terus ini semua belanjaannya gimana.? Siapa yang akan bayar.?" Kata Laras ketakutan, kalau sampai semua belanjaannya itu, ia yang akan membayarnya sendiri.
"Udah kamu tenang aja.! Semuanya kakak yang akan bayar, nanti uangnya kakak transfer." Kata Devano tergesa-gesa sambil buru-buru melanjutkan langkahnya kembali.
"E, e, ehhh kak tunggu lagi.! E, e, emang kakak enggak ganti baju dulu.? I, i, itu kan bajunya juga belum di bayar.?" Kata Laras lagi sambil menatap kearah baju yang sekarang ini sedang Devano pakai yang memang belum di bayar, karena seperti yang kita tau tadi Devano sedang mencoba baju tersebut.
"Udah biarin aja.! Baju ini juga kakak yang akan bayar.! Ya udah yah, kakak lagi buru-buru nih.?" Kata Devano tergesa-gesa sambil buru-buru melangkah kembali keluar dari butik menuju mobilnya untuk ke taman dan meninggalkan Laras sendiri di butik tersebut.
"Eeemmmm,,, seneng juga yah ternyata punya pacar orang kaya.? Tinggal ngomong doang langsung dibeliin, pokoknya nanti malam rencana gw ini harus berhasil.! Supaya gw bisa dapatin kak Devano seutuhnya.! Biar hidup gw yang susah ini enggak ada beban lagi.! Iya,,, bener.! Pokoknya rencana gw nanti malam harus berhasil." Kata Laras dalam hati sambil tersenyum, sepertinya sekarang ini ia sudah sangat matang dengan rencananya nanti malam, rencana yang kita pun tidak tau entah itu apa.
"Heeemmm Alanaaa, Alana.! Kasihan banget sih nasib loh.? Punya suami kok enggak perduli." Kata Laras lagi dalam hati sambil terus tersenyum karena sekarang ini ia sangat senang, melihat Devano yang lebih mementingkan dirinya dibandingkan dengan Alana istrinya sendiri, karena sepertinya ia tidak tau, kalau sekarang ini Devano sudah mulai baper kepada Alana istrinya itu.
Satu jam kemudian,,,,,
DI TAMAN.
Terlihat Devano yang sedang berjalan kecil sambil mencari-cari Alana dan juga Kiara.
"Di mana yah meraka.? Kok udah gw cari-cari dari tadi enggak ketemu-ketemu sih.?" Kata Devano sedikit kesal, karena ia sudah mencari-cari Alana dan Kiara dari tadi namun ia tidak juga menemukannya.
"Apa mungkin di sana yah.? Ahhh udah lah.! Lebih baik sekarang gw kesan aj,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Eeehhh tunggu dulu, tunggu dulu.!!! Itu kayaknya Alana deh.! Iya bener,,, itu Alana." Kata Devano sambil menatap kearah Alana, yang seperti sedang asyik bermain dengan Kiara adiknya itu.
Namun sepertinya ia tidak melihat adanya Raka bersama dengan mereka.
"Kalau dilihat-lihat, ternyata istri gw itu cantik juga yah.??" Kata Devano sambil tersenyum dan terus memandangi wajah cantik Alana istrinya itu yang sedang asyik bermain.
Sepertinya tanpa ia sadari, lagi-lagi ia sangat terpesona melihat kecantikan Alana istrinya itu.
"Iya bener, istri gw itu memang cantik.! Gw samperin dia sekarang apa enggak yah.? Kalau gw samperin dia sekarang, tapi kadonya juga belum ada, pak Anton nya belum datang, kan gw mau kasih kejutan buat dia, gimana y,,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"E, e, ehhhh tunggu dulu, tunggu dulu.!!! I, i, itu kok Alana kaya lagi nyapa ke gw yah.?? Apa jangan-jangan.! Sekarang ini Alana udah lihat gw ada disini lagi.??" Kata Devano sambil tersenyum karena senang melihat Alana yang seperti sedang menyapanya.
"Ayo cepetan kesini.!!"
"Waaahhh bener.! Itu Alana lagi nyapa gw.? Gw sapa balik ah.!!" Kata Devano sambil tersenyum dan penuh semangat, kemudian ia pun langsung buru-buru membalas sapaan dari Alana istrinya itu.
"Ha,,,,,,,,,,,"
Seketika ucapan Devano terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Raka yang sedang berlari tepat dihadapannya untuk mengejar Alana dan juga Kiara.
"Kiara sama kakak Alana, kakak kejar yah.?!!" Teriak Raka sambil tersenyum dan terlihat sangat bahagia, sambil terus mengejar Alana dan juga Kiara, karena memang dari tadi mereka bertiga sedang bermain kejar-kejaran.
"Apa.?!!! I, i, itu bukannya Raka.? J, j, jadi,,, t, t, tadi itu,,, A, A, Alana lagi nyapa Raka.? B, b, berarti,,, dari tadi pagi, R, R, Raka nemenin Alana di taman.?" Kata Devano dalam hati kaget melihat Raka yang ternyata berada di taman juga bersama dengan Alana dan juga Kiara.
"Ayo Kiara.! Sekarang kita lari.!" Teriak Alana sambil tertawa-tawa dengan sangat bahagia, kemudian ia dan Kiara pun langsung berlari menjauh dari Raka.
"Enggak, enggak mungkin.!!! I, i, ini enggak mungkin terjadi,,, A, A, Alana enggak boleh deket-deket sama Raka.! G, g, gw harus cepat-cepat samperin mereka sekarang.!!" Kata Devano gugup dan ketakutan, melihat Alana deket-deket dengan Raka, karena sekarang ini ia benar-benar sangat cemburu melihat kedekatan mereka berdua, kemudian dengan segera ia pun mencoba untuk menghampiri mereka bertiga.
"E, e, ehhh tapi tunggu dulu.!!! Gw enggak boleh pasang muka kayak gini.?? Kan ada Raka, gengsi lah.!!! Nanti dia jadi besar kepala lagi, kalau dia tau gw itu cemburu sama dia.?? Pokoknya gw harus pura-pura senyum dan biasa aja di depan mereka berdua." Kata Devano dalam hati, ia berbicara seperti itu karena ia benar-benar gengsi dan takut kalau sampai Raka tau dirinya sedang cemburu kepadanya yang akhir-akhir ini sedang dekat dengan Alana istrinya itu, yang sebenarnya Raka pun sudah mengetahui semuanya.
"Iya bener.!!! Gw harus pura-pura senyum dan tenang di depan mereka berdua." Kata Devano lagi dalam hati, kemudian ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Loh harus bisa tahan emosi Devano.!!! Senyum, senyum, senyum.!!!" Kata Devano dalam hati, kemudian ia pun langsung melangkah menghampiri Alana, Raka dan juga Kiara yang sedang asyik bermain kejar-kejaran itu, sambil tersenyum dan terlihat sangat tenang.
"Kak Alana, kak Alana.!! Lihat tuh.!! Itu ada kak Devano mau kesini kak.!!!" Teriak Kiara sambil menatap kearah Devano yang sedang berjalan menghampirinya, Alana dan juga Raka.
"Mana sayang kak Dev,,,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.
"M, m, mas Devano.?" Kata Alana gugup karena ia kaget melihat Devano yang sudah berdiri tepat dibelakangnya.
"Hay Dev.!!! Kamu masih ingat juga sama istri kamu ini.??" Teriak Raka sambil berjalan menghampiri Devano, Alana dan juga Kiara.
"Maksud loh apa ngomong kaya git,,,,,,,,," Seketika Devano langsung terdiam.
"Aduuuuhhh.!!! Hampir aja emosi gw kepancing sama Raka.? Sabar Dev, sabar.!!! Loh harus bisa tahan emosi loh, loh jangan sampai ketahuan sama Raka, kalau sekarang ini loh lagi cemburu sama dia." Kata Devano dalam hati mencoba untuk sabar dan tidak emosi.
"Hemmmm kenapa, kok kamu diam.?" Kata Raka sambil tersenyum menatap kearah Devano yang tiba-tiba terdiam seperti itu.
"Apaan sih loh.? Gw kesini bukan karena gw inget sama Alana yah.? Gw kesini karena gw ini inget sama Kiara, gw khawatir sama dia, ngerti loh.?!!" Kata Devano pura-pura tidak perduli dengan Alana istrinya itu.
"Iiiiiiihhhhh ngeselin banget sih mas Devano, Jadi suami kok gitu amat.?? Enggak adaaa perduli-perdulinya sama istri sendiri." Kata Alana dalam hati kesel, dengan sikap Devano suaminya itu.
"Benernan loh kesini cuma untuk Kiara.? Bukan untuk Alana.?" Kata Raka sambil terus tersenyum, karena ia tidak percaya dengan ucapan Devano itu.
"Loh tadi enggak denger.? Gw kesini bukan karena gw inget sama Alana, tapi gw kesini karena gw khawatir sama Kiar,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Maaf Den, ini semua kado-kado nya mau di taruh dimana.?" Kata pak Anton supir pribadinya, yang baru saja sampai ke taman sambil membawa kado-kado yang akan Devano berikan untuk Alana.
"M, m, mas Devano,,, k, k, kado-kado sebanyak ini buat siapa mas.?" Kata Alana kaget dan penasaran, sambil menatap kearah kado-kado yang sedang di bawa oleh pak Anton supir pribadinya itu.
__ADS_1
"Iya kakak Devano, semua kado-kado ini buat siapa.? Buat kakak Alana yah kak.? Kan hari ini kakak Alana lagi ulang tahun kak." Kata Kiara dengan sangat polosnya.
"Apa.?? Hari ini Alana lagi ulang tahun.?" Kata Raka dengan suara tinggi sambil tersenyum, karena ia kaget sekaligus senang mendengar kalau sekarang ini adalah hari ulang tahun Alana.
"Aduuuuhhh mati gw.! Harusnya tadi gw telepon pak Anton dulu, untuk bawa pulang lagi semua kado-kado ini.? Kalau kayak gini gw harus jawab apa.? Bisa-bisa Raka curiga nih, kalau ternyata gw ini perhatian sama Alana." Kata Devano dalam hati panik, karena seperti yang kita tau, ia sangat takut dan gengsi kalau sampai Raka tau tentang isi hatinya yang sebenarnya kepada Alana istrinya itu.
"M, m, mas Devano.? K, k, kok mas Devano diem sih.? Semua kado-kado ini buat siapa mas.?" Kata Alana bingung melihat Devano yang dari tadi hanya terdiam seperti itu.
Mendengar kata-kata dari Alana, seketika Devano pun langsung terbangun dari bengongnya.
"Eh, iya kenapa.?!! K, k, kado-kado ini yah.?!! I, i, ini,,, eemmmm.??? S, s, semua kado-kado ini,, m, m, mau mas bagiin sama anak-anak kecil yang ada disini.!!! I, i, iya,,, s, s, semua kado-kado ini mau mas bagiin sama anak-anak kecil yang ada disini.!!!" Kata Devano gugup karena sekarang ini ia sedang berbohong.
"Hallo adik-adik semuanya.!!! Ini kakak mau bagi-bagi kado buat kalian semua." Teriak Devano tergesa-gesa sambil menatap kearah adik-adik kecil yang sedang bermain di taman tersebut.
Mendengar teriakkan dari Devano, seketika adik-adik kecil yang sedang bermain di taman tersebut pun langsung heboh.
"Horeeee.!!! Horeeee.!!! Kita dapat kado, horeeee.!!!" Teriak adik-adik kecil tersebut sambil berlari menghampiri Devano.
"M, m, mas Devano,,,, m, m, mas serius.? S, s, semua kado-kado ini buat mereka.?" Kata Alana gugup karena ia tidak percaya dengan apa yang sedang Devano lakukan sekarang ini.
"Iya kakak, kakak Devano serius.?? Semua kado-kado ini buat mereka.?? Kan yang sedang ulang tahun sekarang ini, kak Alana kak.??" Kata Kiara yang juga tak percaya melihat apa yang sedang Devano kakaknya itu lakukan, karena seharusnya Devano memberikan kado tersebut untuk Alana, yang memang sedang ulang tahun hari ini.
"Iya Dek.!!! Kakak serius,,, kakak enggak bercanda." Kata Devano mencoba untuk meyakinkan semuanya, sambil tersenyum dan melirik kearah Raka.
"Heeemmm.!!! Bohong banget sih kamu Dev.??? Dasar munafik.!!! Kalau cinta mah ngaku aja kali." Kata Raka dalam hati, sambil tersenyum sinis menatap kearah Devano.
"Mas serius mas.?!! Kado-kado ini buat mereka semua.?!! Alana minta satu yah maaaas.?? Kan Alana juga mau dikasih kado sama mas.??" Kata Alana merengek sambil memasang wajah melas, berharap Devano akan memberikan salah satu kado-kado tersebut untuknya.
"Enggak bisa Alanaaa,, semua kado-kado ini udah mas siapin untuk adik-adik kecil ini semua.?" Kata Devano sambil menatap kearah adik-adik kecil yang sedang menerima kado-kado tersebut dari pak Anton, karena sekarang ini pak Anton yang sedang membagikan kado-kado tersebut kepada mereka semua.
"Terimakasih yah kak.!"
"Terimakasih yah kak.!" Kata adik-adik kecil tersebut secara bergantian.
"Iiiiiiihhhhh.!!! Mas Devano kok pelit banget sih sama istri sendiri." Kata Alana kesel sambil cemberut.
"Tau nih.!!! Kakak Devano pelit banget sih sama kakak Alana.?!" Kata Kiara yang juga kesel melihat tingkah laku Devano kakaknya seperti itu.
"Udah, udah, kalian enggak usah pada sedih.!!! Kado buat kak Alana, biar kak Raka aja yang kasih, yah.??" Kata Raka sambil tersenyum, ia mencoba untuk menghibur Alana dan juga Kiara.
"Waaahhh bener kak.?? Kakak Raka mau kasih kado buat kak Alana.??" Kata Kiara sambil tersenyum dan penuh semangat.
"B, b, bener kak.?? K, k, kak Raka,,, m, m, mau kasih kado,,, b, b, buat Alana.??" Kata Alana gugup sambil tersenyum karena ia sangat senang akhirnya ada juga yang memberikan kado untuknya dihari ulang tahunnya sekarang ini.
"Apa.?!!! Raka mau kasih kado buat Alana.?? Enggak, enggak boleh.!! Alana enggak boleh menerima kado dari siapapun kecuali dari gw." Kata Devano panik.
"Iyaaa,,, kakak mau kasih kado buat kak Alana." Kata Raka sambil tersenyum.
"Tapi kadonya apa yaaah.??" Kata Raka lagi bingung.
"Oh iya.!!! Karena ini mendadak, kalau kadonya balon aja gimana.? Entar kakak beli tuh disitu.!!!" Kata Raka sambil tersenyum menatap kearah pedagang balon yang sedang berdiri tepat dihadapannya.
"Iya enggak papa kak.!!! Pasti Kakak Alana suka deh.!!! Iya kan kak, kakak Alana suka sama bal,,,,," Seketika ucapan Kiara terpotong.
"E, e, ehhhh enggak bisa, enggak bisa.!! Semua balon-balon itu udah gw BORONG.!!!!." Kata Devano tergesa-gesa sambil melirik kearah Raka, ia sengaja memborong balon-balon tersebut, karena seperti yang kita tau ia takut kalau sampai Raka berhasil memberikan kado untuk Alana istrinya itu.
"Iiiiiiihhhhh kakak Devano kok gitu sih.? Kakak Devano jahat iiiiiiihhhhh.!!!" Kata Kiara semakin kesal melihat tingkah laku kalanya seperti itu.
"Tau, mas ini kenapa sih.??" Kata Alana yang juga semakin kesal melihat tingkah laku Devano suaminya seperti itu, karena ia benar-benar tidak tau kalau ternyata sekarang ini Devano suaminya itu sedang cemburu kepada dirinya yang sedang dekat dengan Raka.
"Emang kenaaapa, kalau mas borong balon-balon itu.!!! Enggak boleeeeh.???" Kata Devano dengan santainya.
"Heeemmm Devanooo, Devano.!! Kekanak-kanakan banget sih kamu ini.?" Kata Raka dalam hati, sambil tersenyum sinis menatap kearah Devano, karena ia tau kalau semua itu adalah rencana Devano untuk menggagalkan niatnya membelikan balon untuk Alana.
"Iiiiiiihhhhh mas itu ngeselin bang,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.
"Udah, udah, enggak papa.!!! Biarin aja semua balon-balon ini di BORONG semua sama DEVANO.!! Lebih baik sekarang kita cari balon-balon di sebelah sana yuk.?!!" Kata Raka mengajak Alana dan Kiara untuk membeli balon di tempat lain.
"Wah, wah, wah.!!! Enggak bisa dibiarin nih.?! Gw harus cegah mereka, gw enggak bisa lihat Alana sama Raka jalan bareng." Kata Devano lagi dalam hati panik.
"Ya udah ayo kak, Kita kesana aja.!!!" Kata Alana sambil menunjuk ke arah tempat tersebut.
"Ya udah ayo.!!!" Kata Raka sambil buru-buru melangkah menuju tempat tersebut, dan diikuti oleh Alana, juga Kiara dari belakang, namun sayang, baru juga mereka melangkah tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.
"Iya hallo papah ada apa.? Oooohhh Kiara sama Alana surah cepat-cepat pulang pah.?"
Kata Devano memasang wajah serius, namun sebenarnya sekarang ini ia sedang pura-pura telepon dengan pak Erik Ayahnya, kerena seperti yang kita tau, sekarang ini ia ingin mencegah Raka dan Alana agar tidak jadi pergi bersama.
"Ya udah entar dulu yah pah.!!!" Kata Devano lagi masih pura-pura teleponan dengan pak Erik ayahnya itu.
"Alana, Kiara.!!! Ayo cepetan sekarang juga kita pulang.!! Papah sama mamah udah nungguin kita di rumah nih.!!!" Teriak Devano sambil menatap kearah Alana dan juga Kiara yang sedang berdiri di samping Raka.
"Kak Raka, maaf banget yah.?? Alana sama Kiara harus pulang sekarang, soalnya papah sama mamah udah nungguin Alana sama Kiara di rumah tuh.!!! Maaf banget yah kak.??" Kata Alana meminta maaf kepada Raka, karena ia dan juga Kiara harus pulang sekarang dan tidak bisa melanjutkan untuk membeli balon bersama dengannya.
"Ya udah enggak pap,,,,,," Seketika ucapan Raka terpotong, karena tiba-tiba ponselnya bergetar karena ada yang menelepon Drttttt,, drttttt,,, drttttt,,,
"Om Erik.??? Bukannya Om Erik Sekarang ini lagi telepon sama Devano yah.??? Tapi kok sekarang Om Erik telpon aku.??? Berarti sekarang ini Devano,,,,,,,, heeemmm, Devanooo, Devano.!!! Kenapa sih kamu enggak jujur aja kalau sekarang ini kamu lagi ketakutan, ketakutan kalau sampai Alana aku rebut.?? Pakai acara pura-pura teleponan sama Om Erik segala lagi." Kata Raka dalam hati sambil tersenyum sinis menatap kearah Devano, namun ia tidak mau mengangkat telepon dari pak Erik itu, karena ia tidak mau melihat Devano malu di depan Alana.
"Ya udah pah, Ok, Ok.!!! Sekarang juga Devano, Alana, sama Kiara pulang nih pah.?"
Kata Devano sok serius, kemudian ia pun langsung pura-pura memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Ya udah ayo Alana, Kiara.?? Kita pulang sekarang.!!! Papah sama mamah udah nungguin kita tuh di rumah." Kata Devano mengajak Alana dan juga Kiara untuk cepat-cepat pulang.
"Sorry yah Raka, kita pulang dulu.!!!" Kata Devano sambil tersenyum dan merasa menang darinya, karena ia tidak tau kalau ternyata Raka mengetahui semua kebohongannya itu.
Mendengar kata-kata dari Devano, Raka pun. tersenyum.
"Iyaa,,,," Kata Raka dengan santainya sambil terus tersenyum, karena lucu melihat tingkah laku Devano sepupunya itu.
__ADS_1
"Ya udah ayo.!!! Kiara, Alana, kita pulang.!!!" Kata Devano sambil tersenyum karena ia sangat senang akhirnya ia bisa membawa Alana pergi menjauh dari Raka, kemudian mereka bertiga pun langsung melangkah menuju mobilnya untuk pulang dan meninggalkan Raka di taman hanya sendiri.