
Melihat keadaan Dinda seperti itu, dengan segera pak Erik dan Devano pun langsung menghampirinya.
"Sayang, kamu kenapa sayaaang.?? Kok kamu muntah-muntah sih, kamu engak papa kan sayaaang.???" Kata pak Erik panik sambil merangkul pundaknya.
"Hikss,,, hikss,,, kepala Dinda pusing bangeeeet.??? Hiks,,, hiks,,, perut Dinda juga hiks,, hiks,,, muaaal." Kata Dinda sambil menangis dengan keadaan yang sangat lemas, karena memang perutnya sangat-sangat mual dan kepalanya pun sangat pusing.
"Ya ampun pah.!!! Muka mamah juga kelihatan pucat banget pah.???" Kata Devano dengan suara tinggi karena kaget dan panik melihat keadaan Dinda mamahnya yang sangat pucat.
"Ya ampun sayaaaang,,, kamu kenapa jadi kayak gini siiiih.??? Tadi kamu pas keluar bareng Tika sama Ria, kamu makan apa sayang di luar, kamu salah makan kali sayaaang.???" Kata pak Erik dengan suara tinggi karena saking paniknya melihat keadaan Dinda seperti itu.
"Hikss,, hikss,, enggak kok mas, hiks,, hiks,, tadi,,, hiks,, hiks,, Dinda enggak makan apa-apa bareng merekaaa,,, hikss,,, hikss,, Dinda langsung, hiks,, hiks,, pulaaang." Kata Dinda sambil terus menangis, ia mencoba untuk menjelaskan kepada pak Erik kalau memang tadi saat ia keluar shopping bareng Tika dan Ria, ia tidak makan apapun selama diluar dan ia pun langsung pulang.
"Terus kenapa dong sayang, kok tiba-tiba kamu jadi muntah-muntah kayak giniii.???" Kata pak Erik bingung dan panik.
"Hikss,, hikss,, enggak tauuuu,,, hiks,, hiks,, kepala Dinda juga sekarang, hiks,, hiks,, pusing bangeeeeet.???" Kata Dinda sambil memegangi kepalanya karena saking pusingnya.
"Kenapa yah,, kok bisa tiba-tiba kayak gini sih.???" Kata pak Erik semakin bingung.
"Ya udah deh pah, kalau gitu papa sama mamah enggak usah antar Devano ke rumah Diki, lebih baik papah antar mamah ke dokter aja.!! Kasihan mamah pah, lagian Devano udah biasa kok kerumah Diki sendiri." Kata Devano serius, karena ia tidak tega melihat kondisi Dinda mamahnya yang seperti itu.
"Udah enggak papa Dev, papah sama mamah ikut aja.!!! Sekalian papah mau antar mamah kamu ini ke Dokter." Kata pak Erik serius.
"Ya udah sekarang kita siap-siap yuks.?!!!" Kata pak Erik lagi sambil merangkul pundak Dinda, kemudian memapahnya menuju kamar untuk siap-siap berangkat ke rumah Diki dan sekalian membawa Dinda untuk berobat, begitupun juga dengan Devano, ia pun langsung bergegas melangkah menuju kamarnya untuk siap-siap berangkat ke rumah Diki bersama dengan pak Erik dan Dinda kedua orangtuanya.
Setengah jam kemudian,,,,,
Akhirnya mereka bertiga pun sudah selesai siap-siap dan sedang berjalan menuju garasi mobilnya, sesampainya di garasi tersebut, Devano langsung masuk kedalam mobilnya dan langsung mengendarainya, akan tetapi tidak dengan pak Erik dan Dinda, mereka berdua terlihat masuk kedalam mobil yang biasa pak Erik pakai, karena pak Erik dan Devano berniat untuk membawa mobil sendiri-sendiri.
DI MOBIL PAK ERIK.
Terlihat Dinda yang sedang duduk dan hanya terdiam disamping pak Erik yang sedang fokus menyetir mobilnya.
"Kamu kenapaaa,,, kok dari tadi diem aja siiiih.?? Kepala kamu masih pusiiiing, perut kamu masih muaaal, hah.???" Kata pak Erik penuh perhatian sambil menatap kearah Dinda Istrinya yang dari tadi hanya terdiam tidak seperti biasanya yang selalu cerewet.
"Iya mas,, kepala Dinda masih pusiiiing, perut Dinda juga masih muaaal.???" Kata Dinda merengek karena memang kepalanya masih sangat pusing dan perutnya pun masih mual-mual.
"Eeeeemmmm kasihan nih istri mas ini.?? Sabar yaaah,,, nanti habis pulang dari rumah temen Devanoo,, kita ke Dokter, kita periksa yaaah, hah.???" Kata pak Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda menggunakan satu tangannya, karena tangan yang satunya lagi sedang sibuk menyetir mobilnya.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda pun langsung menganggukkan kepalanya dengan sangat manja.
"Iya,,," Kata Dinda singkat
"Mas Eriiiiiik,,,,???" Kata Dinda lagi sambil merengek.
"Kenapa lagiiii, hah.??? Istri mas yang cantik ini mau apaaaa.???" Kata pak Erik pelan dan penuh kasih sayang.
"Dinda pengin diusap-usap perutnyaaaaa,,, sakiiiiiit.???" Kata Dinda dengan sangat manja.
Melihat tingkah laku istrinya yang sangat manja, pak Erik pun tersenyum.
"Iyaaaa,,, nanti habis pulang dari Dokteeer, mas usap-usap perut kamu yaaaah, dirumaaah, hah.??? Kata pak Erik pelan sambil terus fokus menyetir mobilnya.
"Enggak mau dirumaaah,,,, Dinda pengin sekarang diusapinyaaaaa,,,???" Kata Dinda lagi-lagi ia merengek.
Mendengar rengekan dari Dinda yang menurutnya tak masuk akal, pak Erik pun tersenyum.
"Sayaaaang,,, ya enggak bisa doooong.?? Kan mas lagi bawa mobil, entar aja diusapinnya di rumaaah, yaaah.???" Kata pak Erik mencoba untuk menjelaskan.
"Enggak mau.!!! Dinda penginya diusap-usap sekarang.!!! Cepetan mas usap-usap perut Dinda sekaraaaang.???" Kata Dinda ngambek, entah apa yang sedang terjadi kepadanya mengapa tiba-tiba ia bisa sesensitif itu dan langsung marah
Melihat tingkah laku istrinya seperti itu, pak Erik pun heran.
"Sayaaaang,,, kamu kenapa siiiih.?? Kok malah ngambeeek, kan mas tadi udah kasih tau kamuuu,,, mas lagi bawa mobiiiil,, masa lagi bawa mobil sambil usap-usap perut kamu sih.??? Ya mas enggak bisa dong susaaaah.???" Kata pak Erik mencoba untuk menjelaskan lagi kepada Dinda.
"Enggak mau tau.!!! Pokoknya mas usap-usap perut Dinda sekarag.!!! Cepetan mas usapin perut Dinda sekaraaaang.??? Udah matiin dulu mobilnyaaaaa.???" Kata Dinda semakin ngambek sambil terus merengek-rengek agar pak Erik mau menuruti kemauannya.
Melihat istrinya yang tak henti-hentinya merengek-rengek seperti itu, pak Erik pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Ya udah, iya, iyaaaaa,,,, nih mas matiin mobilnya.!!" Kata pak Erik sedikit kesal sambil buru-buru mematikan mobil tersebut.
"Iiiiiiihhhhh mas enggak boleh sambil cemberuuuut.??? Mas nya sambil senyuuuum.!!!!" Kata Dinda kesel.
"Ya tuhaaaan,,, sebenarnya apa sih yang sedang terjadi sama istri saya sekaraaaang.??? Kenapa makin kesini makin tambah banyak banget mau nya kayak gini siih.???" Kata pak Erik dalam hati bingung, dan sepertinya sekarang ini ia pun sudah mulai kepusingan menghadapi sikap Dinda yang banyak maunya itu.
"Mas kok malah dieeeem,,, senyuuuum.?!!!" Kata Dinda semakin kesel.
"E, e, ehhh,,, I, i, ya nih mas senyum.!!" Kata pak Erik gugup, sambil memaksakan senyumnya dihadapan Dinda.
Melihat pak Erik tersenyum, Dinda pun langsung memeluknya dengan begitu erat.
"Eeeeemmmm,,, Dinda sayang sama maaas.???" Kata Dinda manja sambil menciumi leher pak Erik dengan sangat agresif.
"Iyaaa,, mas juga sayang sama kamu, yaaaaah.???" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.
"Ya udah mana perutnya.??? Katanya istri mas yang manja ini nih,,, pengin diusap-usap perutnya sama mas nih, jadi enggak.???" Kata pak Erik lagi, sambil tersenyum.
"Jadiiiii,,,,, Entar dulu yah mas.!!! Dinda sambil boboan dulu.??" Kata Dinda sambil buru-buru berbaring dan mengangkatkan kedua kakinya tepat diatas paha pak Erik.
"E, e, ehhhhh sayang, sayang.!!! Udah enggak usah sambil boboan, sambil duduk juga bisa kok mas usapinya.??" Kata pak Erik mencoba untuk mencegah Dinda agar tidak berbaring.
__ADS_1
"Iiiiiiihhhhh maaaasss.!!! Dinda kan pengin sambil boboaaaan.???" Kata Dinda lagi-lagi ia ngambek dan sengat sensitif.
"Oh iya, iya, iya, enggak papa, enggak papa, enggak papaaaaa,,, eeemmm istri mas yang cantik ini pengin boboooan, hah.???" Kata pak Erik dengan begitu sabarnya dan membiarkan Dinda berbaring, karena ia tidak mau melihat istrinya itu ngambek lagi.
"Aduuuuhhh,,, kenapa istri saya ini jadi tambah sensitif kayak gini sih.??? Sebenernya ada apa sih sama istri saya sekarang ini.??? Masa cuma enggak boleh boboan aja ngambek.???" Kata pak Erik dalam hati bingung dengan sikap Dinda yang sangat-sangat sensitif seperti sekarang ini.
"Iyaaa,,, Dinda pengin sambil boboaaaan.??? Cepetan sekarang mas usapin perut Dindaaa." Kata Dinda dengan sangat manja.
"Ya udaaah,, sekarang mas usap-usap perut istri mas yang manja ini yaaahh.??? Eeeeemmmm kasihan nih istri mas, perutnya sakiiiiiit, hah.???" Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap perut Dinda istrinya yang sangat manja itu.
"Iya sakiiiiiit.??? Mas terus usapiiiiiinnn, biar perut Dinda enggak sakit lagiiii.???" Kata Dinda dengan sangat manjanya.
"Iyaaa,,, mas usapin yaaaaah.???" Kata pak Erik pelan sambil terus mengusap-usap perut Dinda.
"Mas Eriiiiiik,,,???" Kata Dinda merengek, entah apa lagi yang ia inginkan dari pak Erik suaminya yang sangat sabar itu, sehingga tiba-tiba ia merengek lagi kepadanya.
"Kenapaaa, hah.??? Istri mas yang cantik ini mau apa lagi dari maaas.???" Kata pak Erik, lagi-lagi ia sangat sabar menghadapi sikap istrinya yang banyak maunya itu.
"Dinda pengin,,,,," Kata Dinda.
"Pengin apaaa, hah.??? Kata pak Erik.
"Dinda pengin mas usap-usapin perut Dinda nya yang lamaaa.???" Kata Dinda dengan sangat manja.
"Tapi sayaaang, sekarang ini kan kita lagi ada di dalam mob,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terhenti.
"Aaaahhhh udah enggak papa lah.!!! Biar cepat selesai, entar kalau enggak dituruti bisa-bisa ngambek lagi kayak tadi.??? Kalau ngambek lagi, kan saya juga yang repot.!!! Lagian juga kasihan Devano udah nungguin kali dari tadi, aduuuuhhh ini kenapa istri saya jadi banyak banget maunya kayak gini sih.??" Kata pak Erik dalam hati semakin bingung.
"Usapinnya jangan berhenti maaaasss,,, yang lamaaaa..???" Kata Dinda sambil terus merengek, karena ia merasa sangat nyaman saat perutnya diusap-usap oleh pak Erik.
"Iya, iyaaa,, sekarang perut istri mas yang cantik ini,, mas usapin yang lama yaaaaah, hah.??? Nih mas usapin nih, yang lama hah.??" Kata pak Erik sambil tersenyum dan mencubit-cubit manja perut Dinda.
"Aw, aw, mas Erik Geliiiiiiiii.??? Jangan sambil dicubiiiiit,,, Aw geli maaass.???" Kata Dinda manja sambil kegelian merasakan cubitan manja dari pak Erik suaminya itu
"Kenapaaaa,,, istri mas yang cantik ini geliiiii, hah.???" Kata pak Erik sambil tersenyum, karena semua ini adalah akal-akalan dari pak Erik supaya Dinda mau menyudahi usapan darinya itu.
Dan benar saja, semua seperti apa yang ada didalam pikiran pak Erik, merasakan cubitan manja dari pak Erik, Dinda pun langsung meminta pak Erik untuk menyudahinya.
"Iya geliiiii,,,??? Udah Dinda enggak mau diusap-usap lagiii,,, gel,,,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Aww udah mas geli.!!! Awww udah geliiiii,,,.???" Kata Dinda lagi-lagi kegelian karena tiba-tiba pak Erik mencubit-cubit manja lagi perutnya.
Melihat istrinya yang lagi-lagi kegelian seperti itu, pak Erik pun tersenyum.
"Iya, enggak, enggaaaak,,, eemmmm kasiihaaan, istri mas Geliiiiiiiii, hah.???" Kata pak Erik pelan sambil terus tersenyum.
"Iya geliiiii,,," Kata Dinda merengek manja.
"Eeeeemmmm,, istri mas ini manja banget siiiiih.???" Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda.
"Biarin manja jugaaaa.???" Kata Dinda merengek.
"Iyaaa biarin." Kata pak Erik sambil tersenyum.
"Oh iya, istri mas yang cantik ini udah puas kaaan, mas usap-usapin perutnyaaaa.???" Kata pak Erik pelan.
"Iya Udah.!!! Enggak mau diusapin lagi, Geliiiiiiiii,,,,," Kata Dinda ketakutan kalau-kalau pak Erik akan mencubit-cubit manja perutnya lagi.
"Iya, iya, engaaaak,,,, eeemmmm kasihaaaan,, istri mas yang cantik ini geli yah, hah.???" Kata pak Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.
"Iyaaa,,,," Kata Dinda manja.
"Ya udah, kalau gituuu,, sekarang kita lanjutin jalan ke rumah temennya Devano yaaah.??? Takutnya Devano udah sampai lagi, dari tadi dia udah nungguin kita disana." Kata pak Erik serius, sambil buru-buru mencoba untuk menyalakan mobilnya kembali, namun belum juga sempat pak Erik menyalakan mobilnya, lagi-lagi Dinda sudah merengek.
"Mas Eriiiiiik,,,.???" Kata Dinda.
"Ada apa lagi sayaaang, hah.???" Kata pak Erik mencoba untuk tetap sabar.
"Itu ada baduuuut.!!!" Kata Dinda merengek sambil menunjuk kearah badut yang sedang berdiri tepat di depan mobilnya.
"Iya itu baduuuut,,, kenapa emaaang, hah.???" Kata pak Erik masih terus mencoba untuk sabar.
"Dinda pengin mas ganti baju pakai baju badut ituuuu,,, Cepetan mas panggil badutnyaaaa.!!!" Kata Dinda merengek sambil terus menujuk kearah badut tersebut, entah apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan Dinda, mengapa keinginannya sekarang ini semakin aneh dan tak masuk akal.
"Apa sayaaang.!!! Kamu seriuuus.???? Kamu nyuruh mas ganti baju,,, dengan baju badut itu.??!!" Kata pak Erik dengan suara tinggi karena kaget dan tak percaya mendengar permintaan dari Dinda Istrinya yang semakin aneh dan tak masuk akal itu, apalagi seperti yang kita tau pak Erik itu adalah pria yang sangat dingin dan cuek, yang apa jadinya jika pria sedingin dan secuek pak Erik memakai seragam badut seperti yang sedang ia lihat sekarang ini.
"Iya maaass,,, Dinda pengin mas pakai baju badut ituuu.??? Cepetan mas panggil badutnyaaaa.!!!" Kata Dinda masih terus merengek sambil menarik-narik tangan pak Erik dan menyuruhnya keluar untuk menghampiri badut tersebut.
"Sayaaaang,,, kamu kenapa jadi aneh banget kayak gini sih sayaaang.??? Yang bener ajaaa,,, masa kamu nyuruh mas turun untuk minjem baju badut itu siiih.??? Enggak mau, enggak mau, mas enggak bisa.!!! Lagian sekarang udah hampir sore sayang,,, kasihan Devano udah nungguin kita kali dari tadi." Kata pak Erik sedikit kesal dan sepertinya sekarang ini ia sudah tidak bisa sabar lagi mengahadapi sikap Istrinya yang banyak maunya itu.
"Iiiiiiihhhhh maaas.!!! Dinda kan pengin mas pakai baju badut ituuu,,, Dinda pengin lihaaaat, mas lucu enggak pakai baju badut ituuuu.???" Kata Dinda, lagi-lagi ia merengek dan ngambek kepada pak Erik.
Mendengar permintaan dari Dinda yang semakin tak masuk akal, lagi-lagi pak Erik pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Aduuuuhhh.!!! Bener-bener enggak tau saya.??? Sebenarnya istri saya ini lagi kenapa sih sekarang.??? Kenapa jadi banyak banget maunya kayak gini sihhh.!!! Masih mending kalau kemauannya wajar, nah ini,,, nyuruh saya ganti baju pakai baju badut ituuu,, Ada-ada aja siiih.???" Kata pak Erik dalam hati semakin bingung dengan perubahan sikap Istrinya itu yang secara tiba-tiba.
"Iiiiiiihhhhh,, kok mas malah diem siiih.??? Cepetan mas panggil badutnyaaaa,,, entar keburu badutnya pergiiii.???" Kata Dinda sambil terus merengek dan menarik-narik tangan pak Erik untuk menyuruhnya keluar mengahmpiri badut tersebut.
__ADS_1
"Iya, iyaaaa,,, nih mas kelu,,,,,,,,," Seketika ucapan pak Erik terpotong.
"E, e, ehhhhh sayang, tapi kok badutnya sekarang udah enggak aaada.???" Kata pak Erik sambil tersenyum karena ternyata semua itu adalah akal-akalan dari pak Erik, ia dari tadi sengaja bertele-tele agar badutnya pergi, karena tidak mungkin dong pria sedingin dan setampan pak Erik memakai baju badut seperti itu dipinggir jalan.
"Iiiiiiihhhhh maaass,,, tuh kan badutnya beneraan pergiiiii.??? Mas sih tadi enggak buru-buru.!!!" Kata Dinda gambek sambil menatap kearah jalan tempat di mana tadi badut tersebut berada.
"Sayaaaang,,, kok kamu malah ngambek siiiih.??? Kan mas juga enggak tau kalau itu badut mau pergi, maafin mas yaaah.??? Gara-gara mas enggak cepet-cepet nyamperin badut itu, kamu jadi enggak lihat deh mas pakai baju badut itu." Kata pak Erik pura-pura sedih, sebenarnya dalam hatinya sekarang ini ia sangat lega karena akhirnya dirinya selamat juga dari kemauan istrinya yang sangat-sangat aneh dan tak wajar itu.
"Ya udah Dinda maafin.!! Tapi lain kali kalau ada badut lagi, mas harus cepet-cepet samperiiiin,,, biar badutnya enggak keburu pergi lagiiii.???" Kata Dinda merengek manja.
"Iyaaaa,,, lain kali mas akan cepat-cepat samperin yaaah.???" Kata pak Erik pelan sambil mengusap-usap rambut Dinda.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Dinda pun langsung menganggukan kepalanya.
"Iyaaa,,," Kata Dinda manja.
Melihat tingkah laku istrinya seperti itu, pak Erik pun tersenyum.
"Ya udah, sekarang kita susul Devano yuk.?!! Mudah-mudahan aja Devano belum nyampe, biar nanti nyampenya kita barengan ke rumah temen Devano." Kata pak Erik serius, sambil buru-buru menyalakan mobilnya kembali dan kemudian langsung mengendarainya dengan kecepatan yang cukup tinggi, karena ia sedang ingin mengejar dan menyusul Devano agar bisa sampai di rumah Diki secara bersamaan.
*********
DI RUMAH DIKI.
Waktu menunjukkan pukul 02:00 siang.
Terlihat Dimas, Zara dan Lala adik-adik Diki yang sedang asyik bermain-main didepan teras rumahnya.
"E, e, ehhh kak Lala, kak Lala, lihat tuh.!!! Itu mobil siapa.??? Waaaah mobilnya bangus banget kaaak,,," Kata Dimas kaget dan tak percaya sambil menatap kearah mobil mewah yang sedang berjalan tepat didepan rumahnya.
"Mana dek, mana.??? Oh iya yah,,, itu mobil siapa dek.??? Kok mobilnya bagus banget sih.??" Kata Lala yang juga heran dan tak percaya melihat ada mobil sebagus itu.
"E, e, ehhhhh tunggu dulu deh kak.!!! Kok mobil itu berhenti di pinggir jalan depan rumah kita.??? Apa jangan-jangan, mereka mau kesini.??" Sambung Zara heran, sambil menatap kearah mobil mewah yang baru saja terparkir dipinggir jalan tepat didepan rumahnya.
"Enggak tau juga dek, masa iya sih mereka mau kerumah kita,,, emang mereka mau ngapa,,,,,,,,," Seketika ucapan Lala terpotong.
"Kak Lala, kak Lala, lihat Deh.!!! Tante cantik itu siapa.???" Kata Dimas penasaran, sambil menatap kearah perempuan cantik yang tak lain adalah Dinda, iya,,, Dinda yang baru saja keluar dan turun dari dalam mobil tersebut.
"Enggak tau juga yah dek.???" Kata Lala bingung, karena ia pun tidak mengenal Dinda sama sekali, jangankan mengenalinya ketemu dengannya pun baru kali ini.
"Mamah, mamah.!!! Kak Diki.!!! Cepetan kesini mah, kak.!!! Lihat nih di luar ada Tante cantik mau kesini.???" Teriak Zara tergesa-gesa karena saking herannya ada Tante cantik berkunjung ke rumahnya.
Mendengar teriakkan dari Zara, Ibu Ati dan Diki yang sedang menonton TV pun dengan segera langsung keluar untuk melihat siapa perempuan tersebut.
"Mana nak Tante cantik nya nak, mana.???" Kata Abu Ati tergesa-gesa sambil terus berlari untuk melihat Tante cantik tersebut.
"Itu mah Tante cantiknya.?!!!" Kata Lala sambil menunjuk ke arah Dinda yang masih berdiri disamping mobilnya.
"Iya,, perempuan itu cantik bangeeeet.??? Siapa yah perempuan itu, kamu kenal enggak Dik.???" Kata Ibu Ati bingung karena ia pun tidak mengenalinya dan sekarang ini pun adalah kali pertama ia ketemu dengannya.
"Tunggu dulu deh mah.!!! Kalau dilihat-lihat, itu kayak Tante Dinda deh mamahnya Devano.??? Tapi mau ngapain yah Tante Dinda kesini, bukanya Devano udah pulang yah tadi pagi.??? Apa jangan-jangan Devano kabur lagi.???" Kata Diki mencoba untuk menebak-nebak apa maksud kedatangan Dinda ke rumahnya.
"Ohhh perempuan cantik itu mamahnya Devano.??? Ya ampun Dik, mau ngapain mamahnya Devano kerumah kita.??? Kamu enggak punya salah kan sama mereka.???" Kata Ibu Ati panik dan sedikit ketakutan.
"Enggak kok mah Diki enggak punya salah apa-apa sama merek,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.
"E, e, ,ehhhhh tunggu dulu deh mah.!!! Itu juga ada om Erik.???" Kata Diki semakin bingung, sambil menatap kearah pak Erik yang baru saja turun dari mobilnya dan sedang menatapi keadaan Rumahnya.
"Ya ampun Dik,,, kok orang tuanya Devano pada ke rumah kita semua.??? Mamah jadi takut, kamu beneraan kan enggak ada masalah sama keluarga Devano.???" Kata Ibu Ati semakin panik dan ketakutan.
"Eggak kok mah beneraan, Diki enggak punya masalah apa-apa sama keluarga Devano." Kata Diki mencoba untuk menjelaskan kembali kepada Ibu Ati mamahnya kalau dirinya memang benar-benar tidak mempunyai masalah apa-apa dengan keluarga Devano.
"E, e, ehhhhh tunggu dulu deh nak.!!! Itu juga kayaknya nak Devano yah.???" Kata Ibu Ati kaget sambil menatap kearah Devano yang juga baru turun dari mobilnya dan sedang berdiri di samping pak Erik dan Dinda.
"Kenapa mamah sama papah diem aja.??? Ayo mah, pah, kita masuk.!!! Itu rumah Diki."
Kata Devano sambil tersenyum dan mengajak kedua orangtuanya untuk masuk kedalam rumah Diki sahabatnya itu.
"O, o, ohhhh ya udah ayo sayang, sekarang kita masuk.!!! Kata pak Erik gugup, kemudian ia pun langsung menyuruh Dinda untuk berjalan mengikuti Devano dari belakang, begitu juga dengan dirinya.
Melihat mereka semua berjalan mendekat kearah rumahannya, semua adik-adik Diki pun langsung heboh.
"Mamah, mamah, Om ganteng sama Tante cantik itu beneran kesini mah.??? Terus kakak-kakak ganteng yang tadi kasih Dimas ayam juga ikuuut.???" Kata Dimas tergesa-gesa karena saking senangnya melihat mereka semua berkunjung kerumahnya.
"Iya beneran mah, mereka kesini mah.???" Kata Zara heboh.
"Iya dek, Tante cantik itu kesini.???" Sambung Lala sambil tersenyum dan menatap kearah Dinda yang masih terus berjalan dan sekarang sudah berada tepat dihadapan mereka semua.
"Bu,,,,??"
__ADS_1
Kata Dinda dengan sangat ramah sambil tersenyum kepada ibu Ati mamahnya Diki.