DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 43


__ADS_3

DI KAMPUS.


Waktu menunjukkan pukul 11:00 Siang.


Sepertinya waktu istirahat sudah tiba, terlihat pak Iwan, Dosen di kelas Dinda yang pergi meninggalkan ruangan tersebut.


Melihat pak Iwan keluar dari ruang kelasnya, Ria dan Tika pun langsung duduk mendekat kearah Dinda.


"Dinda, emang bener gosip dari anak-anak tentang kamu sama pak Erik kemarin.?" Kata Tika penasaran dengan gosip yang sekarang ini masih rame diperbincangkan para mahasiswa dan mahasiswi, tentang apa yang dilakukan oleh Erik dan Dinda kemarin di gudang, ia bertanya seperti itu untuk memastikan saja, apa benar adanya gosip tersebut, karena saat kejadian kemarin, ia tidak ada ditempat kejadian tersebut, ia sedang mengikuti pelajaran di dalam kelasnya.


"Iya Din bener kata Tika, gw juga penasaran nih.! Bener apa enggak sih.? Terus dengar-dengar, katanya loh sama pak Erik udah nikah, emang bener.?" Kata Ria yang juga penasaran dengan adanya gosip tersebut, apalagi ia baru tau kalau ternyata Dinda dan Erik itu sudah menikah saat kejadian kemarin.


"I, i, iya." Kata Dinda gugup, dengan raut wajah merah karena malu.


"What.? Jadi semua gosip itu benar.?" Kata Tika dengan suara tinggi karena sekarang ini ia benar-benar sangat kaget mendengar pengakuan dari Dinda.


"Gila Din, gw enggak nyangka deh sama pak Erik, kok dia berani banget sih ngelakuin kaya gitu di kampus.?" Kata Tika lagi tak percaya dengan apa yang sudah Erik lakukan kepada Dinda kemarin, apalagi ia sangat tau kalau Erik itu adalah seorang dosen yang menurutnya sangat disiplin dan taat kepada aturan, yang tidak akan mungkin berani melakukan hal-hal seperti itu selama dilingkungan kampus.


"Tapi tunggu dulu deh.! Bukanya loh kemaren lagi kesel yah sama pak Erik.? Gara-gara loh sama Tika dimarahin habis-habisan sama pak Erik.? Lagian kemaren kan loh sama kita ke kantin, terus loh ngelakuinnya kapan, di mana.?" Kata Ria penasaran kapan dan di mana Erik melakukan semua itu kepadanya, karena ia ingat betul, kemarin itu Dinda kekantin bersama dengannya dan juga Tika.


Mendengar kata-kata dari Ria, Dinda pun langsung menjelaskan semuanya kepada mereka, kapan dan dimana ia dan Erik melakukan semua itu.


"Apa Din.? Jadi loh kemarin enggak ke toilet.? Tapi loh nemuin pak Erik di gudang.? Dan pak Erik ngelakuin semua itu sama loh di dalam gudang.?" Kata Tika semakin kaget mendengar ucapan dari Dinda.


"Iya Tik, pak Erik ngelakuin semua itu digudang, tapi semua itu bukan salah pak Erik kok.! Kita sama-sama mau, jadi aku enggak mau yah kalau kalian cuma nyalahin pak Erik.!" Kata Dinda mencoba untuk menjelaskan kepada mereka berdua, kalau semua itu bukan hanya salah Erik, melainkan ia sama-sama mau.


"Gw enggak nyangka deh Din sama loh.? Bukanya loh itu gadis polos yah.? Lagian loh sama pak Erik udah pada gila kali yah.? Masa ngelakuin kaya gitu di gud,,,,,,," Belum sempat Tika menyelsaikan ucapannya, namun sudah terpotong, karena tiba-tiba Dinda langsung membekap mulut Tika.


"Ssssssttttt.! Kamu ini berisik banget sih.? Kalau yang lain pada denger gimana.? Gw enggak mau yah, temen-temen yang lain tau soal ini, apalagi kalau sampai mereka nyalahin pak Erik." Kata Dinda panik, karena ia sangat takut kalau reputasi Erik sebagai dosen yang disiplin, tegas dan selalu taat kepada aturan akan hancur.


"Tau nih Tika, berisik banget sih.? Lagian itu tuh.! Yang namanya cinta.? Apa aja bisa dilakukan asalkan kita seneng, loh sih enggak pernah jatuh cinta, jadi loh itu enggak ngerti rasanya jatuh cinta itu kaya gimana.? Makanya loh itu jangan terlalu pilih-pilih pasangan deh.! Biar loh itu tau rasanya jatuh cinta itu kayak gimana." Kata Ria sambil tersenyum menggoda Tika, ia berbicara seperti itu karena memang benar Tika itu sangat teliti dalam memilih pasangan.


"Gw itu bukan loh kali, asal ada cowok yang deketin main sikat aja.! Eeehhh ujung-ujungnya cuma di PHP in doang, di bohongin lah, diselingkuhin lah.! Kan nyeseeek.? Iya enggak Din.?" Kata Tika balik menggoda Ria, ia berbicara seperti itu karena memang benar, Ria itu terlalu percaya dan gampangan kepada rayuan lelaki, yang membuatnya sering di PHP in, dibohongi dan diselingkuhin.


Mendengar kata-kata Tika, Dinda tidak menjawabnya, ia hanya tersenyum.


"Ya biarin aja dibohongin juga.! Yang penting kan gw udah tau gimana rasanya jatuh cinta, dari pada loh.! Enggak pernah pacaran, enggak pernah dekat sama cowok, pokonya miris lah hidup loh itu.!" Kata Ria sambil tersenyum, ia mencoba untuk membela dirinya sendiri.


"Ya masih mending gw lah.! Miris juga enggak semiris loh.! Yang di bohongin terus sama cow,,,,,,," Seketika ucapan Tika terpotong.


"Iiiihhhh apaan sih.? Kok Kalian malah jadi Ribut." Kata Dinda mencoba untuk menghentikan kedua temannya itu yang sedang ribut.


"Tau tuh.! Tika duluan." Kata Ria sewot.


"Enak aja, yang ada juga loh duluan kal,,,,,," Belum sempat Tika menyelsaikan ucapannya namun sudah terpotong.

__ADS_1


"Mas Eriiiik.?"



Kata Dinda kaget, sambil tersenyum menatap kearah Erik yang ternyata dari tadi sedang memperhatikannya sambil tersenyum dan duduk di meja tempat biasa ia mengajar.



"Hay.?" Kata Erik sambil tersenyum menyapa Dinda, kemudian ia pun langsung melangkah menghampirinya.


Melihat Erik melangkah menghampiri Dinda, semua mahasiswi yang berada didalam kelas pun langsung terdiam dan terbengong, mereka semua terpesona melihat ketampanannya, bahkan diantara mereka ada yang iri karena Dinda, karena bisa mendapatkan cinta dari Erik dosennya yang sangat tampan dan sempurna itu, begitupun juga dengan Ria dan Tika, seketika mereka berdua pun langsung ikut terdiam dan terbengong.


"Waaaah pak Erik ganteng banget siiiih.?" Kata Ria sambil tersenyum dan terus terbengong menatap kearah Erik.


"I, i, itu beneran pak Erik.? P, p, pak Erik beneraan mau nyamperin loh Din.?" Kata Tika gugup dan tak percaya melihat Erik melangkah menghampiri Dinda.


"A, a, aku juga enggak tau Tik." Kata Dinda yang juga gugup, karena ia pun sama seperti Tika, ia tak percaya melihat Erik suaminya melangkah menghampirinya, karena biasanya Erik memang selalu cuek dan tidak pernah mau dekat dengannya jika sedang berada di dalam kampus.


"M, m, mas Erik.? Kok mas Erik tumben sih ke kelas Dinda.? E, e, emang ada apa mas.?" Kata Dinda gugup sambil tersenyum dan menatap kearah Erik yang sekarang ini sudah ada dan berdiri tepat dihadapannya.


Melihat Dinda gugup dan kaget seperti itu, Erik yang sekarang ini sudah ada dan berdiri tepat dihadapannya pun tersenyum.


"Perut kamu masih sakit enggak.? Ini mas udah beliin obat buat kamu, jangan lupa diminum yah.? Terus nanti kalau kamu mau pulang, kabarin mas.! Entar biar mas pesenin taksi." Kata Erik sambil tersenyum dan penuh perhatian, sepertinya sekarang ini ia sudah mulai terbuka dan terang-terangan menunjukkan kasih sayang dan perhatiannya kepada Dinda di depan teman-teman Dinda yang tak lain adalah murid-muridnya juga.


"Iiiiiiihhhhh kenapa harus Dinda sih.? Kenapa coba enggak gw aja.? Gw juga kan cantik." Kata salah satu dari mereka dalam hati, sambil cemberut menatap kearah Erik dan Dinda, namun di antara mereka ada juga yang baper melihat perlakuan Erik yang seperti sangat menyayangi dan sangat perhatian kepada Dinda.


"Ya ampuuuuun, pak Erik itu benar-benar suami idaman yah.? Gw juga mau dong diperhatiin kayak Dinda." Kata salah satu diantara mereka lagi, sambil tersenyum dan terbengong menatap kearah Erik dan Dinda yang sekarang ini masih ngobrol.


"Mas Erik beliin Dinda obaaat.? Eeemmm maaaas, Dinda sayang sama mas.? Makasih ya maaas, mas udah beliin Dinda obaaat.?" Kata Dinda sambil tersenyum, dan memeluk manja pinggang Erik, karena posisi Erik sekarang ini sedang berdiri tepat dihadapannya yang sedang duduk di bangku.


Melihat Dinda memeluk Erik seperti itu, Tika dan Ria yang dari tadi masih duduk disampingnya pun hanya terdiam sambil tersenyum, karena mereka bahagia melihat Dinda sahabatnya mempunyai suami seperti Erik yang sangat perhatian dan menyayanginya, begitupun juga dengan Erik, melihat Dinda memeluknya seperti itu didepan murid-muridnya, ia justru malah tersenyum, ia tidak melarangnya sama sekali.


"Iyaaa." Kata Erik sambil terus tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda, dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang.


"Oh iya, emang mas mau kemana.? Kok tadi mas ngomong, mas mau pesenin Dinda taksi sih kalau Dinda mau pulang.? Emang mas mau kemanaaaa.?" Kata Dinda sambil merengek manja seperti anak kecil, karena ia benar-benar tidak tau sebenarnya Erik suaminya itu mau kemana.


"Oh iya mas lupa.! Sekarang mas harus ke kantor, soalnya tadi mas Arya telfon, katanya di kantor lagi banyak banget kerjaan, jadi enggak papa kan kamu pulang naik taksi.? Nanti biar mas yang pesenin." Kata Erik serius, kalau ia menghampiri Dinda di kelas karena mau meminta izin kepadanya


"Iiiiiihhhhh mas Eriiiiiik, Dinda enggak mau pulang naik taksiiii.? Dinda mau pulang sama mas aja.! Pokonya mas enggak boleh ke kantor.!" Kata Dinda ngambek sambil terus merengek.


Melihat tingkah laku Dinda seperti itu, tema-tema Dinda yang sedang berada di dalam kelas pun kesel.


"Iiiiiiihhhhh apaan sih Dinda, manja banget.?" Kata salah satu diantara mereka sewot.


"Tau tuh.! Mau aja pak Erik punya istri kaya dia." Sambung salah satu diantara mereka lagi dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Apaan sih kalian.? Iri aja ngeliat kebahagiaan orang." Kata Tika kesel mendengar ucapan mereka.


"Tau nih anak.? Iri bilang woy." Sambung Ria yang juga kesel mendengar ucapan mereka.


"Sayaaaang, kamu enggak boleh kaya gituuu.? Kan mas ini harus kerja, lagian semalam kamu ngomong apa hayooo.? Semalam kamu ngomong pengin punya Dede kan.? Kalau kamu pengin punya Dedeee, berati mas kerjanya harus lebih semangat lagi.! Kan buat Dede kita nanti, kalau mas enggak masuk-masuk kerja, entar dede kita gimanaaa.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum, ia mencoba untuk merayu Dinda, sepertinya sekarang ini ia sudah benar-benar mempublikasikan soal pernikahannya itu dengan Dinda, sampai-sampai ia berani berbicara seperti itu didepan teman-teman Dinda yang tak lain adalah murid-muridnya.


"Apa.? Gw enggak salah dengar kan.? Dinda temen gw, yang sangat manja dan polos ini.? Udah siap punya anak.?" Kata Tika dalam hati, kaget dan tak percaya mendengar ucapan dari Erik.


"Enggak papa kan sayang, kamu pulang naik taksi.? Kan kemaren mas udah enggak ke kantor, kalau sekarang mas enggak ke kantor lagi, entar mas dimarahin mas Arya loh.! Emang kamu enggak kasihan ngeliat suami kamu ini dimarahin sama kakak kamu.?" Kata Erik lagi sambil terus mencoba untuk merayunya.


Mendengar rayuan dari Erik, dengan sangat terpaksa Dinda pun akhirnya menurutinya.


"Ya deh mas Dinda ngerti.! Tapi mas janjiiii, mas jangan pulang malam-malaaaam.? Pokoknya mas harus pulang cepet.!" Kata Dinda sambil cemberut.


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun tersenyum.


"Iyaaa, mas usahain yaaaah.? Selesai dari kantor mas langsung cepet-cepet pulang." Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.


"Oh iya, jangan lupa obatnya diminum yah.? Takutnya entar perut kamu sakit lagi." Kata Erik lagi penuh perhatian.


"Iya." Kata Dinda sambil terus cemberut.


Melihat Dinda cemberut seperti itu, Erik pun lagi-lagi tersenyum.


"Ya udah, mas ke kantor dulu yah.?" Kata Erik sambil melangkah keluar dari kelas Dinda.


Melihat Erik keluar dari kelasnya, Tika dan Ria pun heboh dan langsung menggodanya.


"Cieeeeee Dinda, mentang-mentang udah punya mas, manja banget sihhhh sama mas nya.? Gw juga mau dong Din, punya mas kaya pak Erik, jadi iri nih gw pengin cepet-cepet punya suami juga kaya mas Erik, udah ganteng, romantis, perhatian, baik, dan tanggung jawab lagi.! Iiiiiihhh pokonya gw iri deh sama loh.!" Kata Ria sambil tersenyum dan membayangkan betapa senangnya jika ia mempunyai suami seperti Erik.


"Oh iya Din, gw lupa.! Emang bener kata pak Erik tadi, kalau loh udah pengin cepet-cepet punya anak dari pak Erik.??" Sambung Tika penasaran.


"Iya benar, gw memang pengin cepet-cepet punya anak dari pak Erik, soalnyaaa, gw itu pengiiiiiin banget bahagiain pak Erik, seperti pak Erik bahagian gw sekarang ini." Kata Dinda serius sambil tersenyum.


"Loh pengin bahagiain pak Erik.? Maksudnya.?" Kata Tika bingung mendengar ucapan Dinda.


Melihat Tika sebingung itu, Dinda pun langsung menjelaskan kepada Tika dan Ria sejelas-jelasnya, kalau ia ingin cepat-cepat hamil karena ia sangat ingin membahagiakan Erik, yang sudah sangat menunggu-nunggu kehadiran seorang anak dari pernikahannya itu, dan ia pun menjelaskan kalau ia juga ingin membahagiakan pak Edi dan Ibu Sari mertuanya, yang juga sama seperti Erik yaitu sangat menginginkan cucu dari pernikahanya.


"Oooohhh gitu Din.? Itu alasan kenapa loh pengin cepet-cepet ham,,,,,,,," Seketika ucapan Tika terpotong.


"Eeehh tapi tunggu dulu.! Bokap pak Erik siapa tadi namanya.? Pak Edi.? pak Edi mantan dosen di kampus kita.?" Kata Ria penasaran, karena ia memang benar-benar tidak tau kalau Erik adalah putra dari pak Edi mantan dosennya di kampus.


"Iya Din, maksudnya pak Edi siapa sih.? Mantan dosen di kampus kita buk,,,,,,," Seketika ucapan Ria terpotong, ia kaget bukan main karena tiba-tiba melihat Dinda mereunyi kesakitan.


"Aw aduh, aduh.! Sakiiiit, aww sakiiiiit.?" Kata Dinda sambil memegangi erat perutnya, karena sepertinya sakit perutnya itu kambuh lagi.

__ADS_1


__ADS_2