DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 45


__ADS_3

DI KAMAR DINDA.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 Malam.


Terlihat Dinda yang sedang duduk termenung di atas ranjang hanya sendiri, sambil menangis karena memikirkan penyakitnya.


"Hiks,,, hiks,,, hiks,,," Suara Dinda menangis tanpa henti-hentinya karena sedih tidak bisa memberikan kebahagiaan untuk Erik seperti apa yang suaminya itu inginkan, karena ternyata tanpa sepengetahuan dari kita, sejak ia pulang dari rumah sakit, ia terus menangis tak ada hentinya.


"Sekarang aku sakit, dan aku udah enggak akan bisa hamil, yang artinya.? Sampai kapan pun aku enggak akan pernah bisa kasih mas Erik kebahagiaan, jadi untuk apa aku ngelanjutin semua ini sama mas Erik.? Semuanya enggak ada gunanya, dan semua itu cuma akan menghabiskan waktu mas Erik dengan sia-sia karena hidup bersama aku.? Karena aku enggak akan pernah bisa memberikan mas Erik keturunan seperti yang mas Erik damba-dambakan selama ini, mas Erik enggak seharusnya mempunyai istri seperti aku.? Dan mas Erik udah sepantasnya mendapatkan kebahagiaan yang mas Erik inginkan, dan kebahagiaan mas Erik bukanlah bersama aku.? Jadi aku harus sadar diri, aku harus pergi menjauh dari mas Erik.! Iya, aku harus pergi menjauh dari mas Erik.! Aku enggak akan pernah pantes buat mas Erik sampai kapanpun.! Enggak, enggak akan pernah pantes." Kata Dinda dalam hati sedih, sambil terus menangis, sepertinya sekarang ini ia berniat akan pergi dan menjauh dari Erik, karena menurutnya Erik pantas mendapatkan seorang istri yang lebih dari dirinya, yang bisa memberikannya keturunan, kebahagiaan, yang jelas istri yang sempurna yang tidak seperti dirinya.


"Iya bener, aku harus cepat-cepet pergi dari kehidupan mas Er,,,,,,,,," Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotog, karena tiba-tiba ia mendengar suara mobil Erik yang sedang berparkir di halaman rumahnya, sepertinya Erik sudah pulang dari kantor.


"Aku harus hapus air mata ini.? Aku enggak mau kalau sampai mas Erik tau kalau aku habis nangis." Kata Dinda panik, sambil buru-buru menghapus air matanya, kemudian ia pun langsung berbaring dan menutupi seluruh tubuh dan wajahnya menggunakan selimut, karena ia berniat untuk pura-pura tidur agar Erik tidak melihat keadaannya saat ini, karena seperti yang kita tau, ia tidak mau kalau Erik sampai tau tentang penyakit yang dideritanya, karena kalau sampai Erik tau, ia sangat yakin Erik pasti akan tetap memperjuangkan pernikahannya bersama dirinya meskipun tidak mempunyai anak sekalipun, karena ia tau kalau Erik adalah suami yang bertanggung jawab yang tidak akan mungkin meninggalkan dirinya hanya karena dirinya tidak bisa hamil, namun ia akan tetap melakukan semua ini, karena menurutnya ia lah yang harus menanggung penderitaan dari penyakitnya, dan tidak adil jika Erik ikut merasakannya, apalagi kalau seumur hidupnya sampai tidak bisa mempunyai anak hanya karena demi memperjuangkan pernikahannya dengan dirinya.


10 menit berlalu,,,,,,,


Terlihat Erik yang sedang berjalan masuk ke dalam kamarnya, namun disaat ia masuk kedalam kamar, ia heran melihat Dinda yang sudah tidur diwaktu yang menurutnya masih sangat sore.


"Hemmm, tumben kamu jam segini udah bobo.? Biasanya kamu kalau mau bobo nungguin mas pulang dulu.?"



Kata Erik dalam hati sambil tersenyum menatap kearah Dinda yang sudah terbaring tepat diatas ranjang, ia berbicara seperti itu karena tidak biasanya Dinda sudah tidur di waktu sesore ini, apalagi ia juga tau kalau biasanya Dinda selalu menunggu dirinya pulang dari kantor terlebih dahulu dan kemudian baru lah Dinda dan dirinya tidur bersama, karena ia pun sangat tau kalau Dinda istrinya itu sangatlah manja, yang harus dibelai-belai, dimanja-manja dan dimainin bagian-bagian tubuhnya terlebih dahulu baru kemudian ia bisa tidur dengan nyenyak.


Melihat Dinda yang sudah tertidur, Erik pun langsung menghampirinya.

__ADS_1


"Dindaaa, sayaaaang, kamu udah bobo.?" Kata Erik pelan, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dinda, ia ingin memastikan apakah benar Dinda istrinya itu benar-benar sudah tidur.


Mendengar pertanyaan dari Erik, Dinda tidak menjawabnya, ia masih terus pura-pura tidur.


"Hemmm, jadi kamu beneraan udah bobo.?" Kata Erik lagi sambil tersenyum, ia mengira kalau Dinda memang benar-benar sudah tidur.


"Eehhh tapi tunggu dulu.! Kamu ini apa-apaan sih bobo kaya gini hah.? Emang enggak engap apa.?" Kata Erik pelan dan penuh perhatian, sambil mencoba untuk membuka selimut yang menutupi wajahnya.


Setelah membuka selimut yang menutupi wajah Dinda, Erik tersenyum, perlahan ia pun mengecup keningnya dengan sangat pelan dan lembut.


"Kamu pasti capek banget yah.? Tumben jam segini kamu udah bobo, mas minta maaf yah.? Karena hari ini mas pulang telat dari kantor, kamu pasti udah nungguin mas lama, sampai-sampai kamu ketiduran kaya gini.?" Kata Erik pelan, sambil mengusap-usap rambut Dinda, ia tidak tau sama sekali kalau ternyata Dinda hanya pura-pura tidur dan ia pun tidak curiga sama sekali kalau ternyata Dinda sedang menyembunyikan suatu rahasia yang sangat besar kepada dirinya.


"Ya udah, mas mandi dulu yah.?" Kata Erik lagi sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.


Melihat Erik masuk kedalam kamar mandi, perlahan Dinda pun membuka matanya yang terpejam, kemudian ia pun langsung menangis lagi.


"Aku enggak tau, kuat apa enggak menjauh dari mas Erik.? Tapi mau kuat ataupun enggak, semua ini harus tetap aku lakukan demi kebahagiaan mas Erik.! Karena aku enggak mau ngeliat mas Erik ikut menderita karena penyakit aku ini, sekali lagi Dinda minta maaf mas.? Dinda terpaksa ngelakuin semua ini, karena Dinda enggak mau mas Erik sampai tau penyakit Dinda, karena kalau mas Erik tau penyakit Dinda, mas pasti akan terus mempertahankan pernikahan kita, Dinda enggak mau itu terjadi.! Dinda enggak mau kalau mas Erik sampai terbebani oleh penyakit Dinda ini.? Secepatnya aku harus cari cara agar bisa menjauh dan menghindar dari mas Erik, sebelum mas Erik tau yang sebenarnya tentang penyakit aku ini.? Iya, secepatnya aku harus cari cara.!" Kata Dinda lagi dalam hati, sepertinya sekarang ini ia sudah benar-benar mantap dengan keputusannya itu, meskipun sesungguhnya ia pun sangat terluka dengan semuanya.


"Tapi harus dengan cara apa yah.? Agar aku bisa mudah meninggalkan mas Erik, tanpa membuat mas Erik curig,,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, kemudian ia pun langsung pura-pura tidur lagi, karena tiba-tiba ia mendengar Erik keluar dari kamar mandi.


"Heemmm kamu masih bobo.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung melangkah menghampirinya, dan ikut berbaring tepat di sampingnya, setelah berbaring disampingnya, perlahan ia pun memeluk tubuh Dinda dari belakang.


"Eeemmm, bukanya nungguin mas.? Padahal mas udah kangen banget.?" Kata Erik sambil tersenyum dan menciumi rambut, pundak, leher Dinda dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang.


Melihat perlakuan Erik yang sangat lembut dan penuh kasih sayang seperti itu, Dinda pun semakin sedih dan tidak tega jika harus meninggalkannya, bahkan saking sedihnya ia sampai tidak tahan untuk menahan tangisnya.

__ADS_1


"Hiks,,, hiks,,, hiks,,," Suara Dinda menangis dipelukan Erik dan tangisannya itu terdengar jelas ditelinganya.


"Sayaaang, kamu kenapa.? Kok kamu nangis sih.? Perut kamu sakit lagi.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik, sambil mencoba untuk membalikkan tubuh Dinda agar berbalik menghadap kearahnya.


"Awas ah.!" Kata Dinda dengan suara tinggi, sambil menghempaskan tangan Erik dari tubuhnya dengan kuat, sepertinya ia sudah mulai menjalankan niatnya untuk bisa pergi menjauh dari Erik suaminya itu, dengan cara memancing-mancing emosinya terlebih dahulu, agar Erik marah kepadanya, meskipun sebenarnya ia pun benar-benar tidak tega memperlakukan semua itu kepadanya, tapi semua itu harus ia lakukan.


"Sayaaang, kamu kenapaaa.? Kamu marah sama mas karena mas pulang telat.? Apa kamu marah karena tadi kamu pulang naik taksi.?" Kata Erik bingung melihat Dinda marah seperti itu kapada dirinya.


"Eeemmm kasihan istri mas ini.? Mas minta maaf yaaah.? Mas janji, mas enggak akan kaya gitu lagi.! Sekaraaang, sssssttttt udah.! Jangan nangis lagi yah.? Katanya kamu udah pengin jadi mama, masa udah mau jadi mama masih manja banget kaya gini siiiih.? Nangiiiiiis terus kaya akan kecil." Kata Erik pelan sambil tersenyum menggodanya, ia mencoba untuk merayunya agar tidak marah lagi, dengan cara memperlakukannya dengan sangat manja seperti biasanya jika Dinda istrinya itu sedang ngambek, karena ia sangat tau kalau Dinda paling tidak tahan jika dirayu dan dmanja-manja olehnya, namun sepertinya tidak dengan sekarang, mendengar rayuan dari Erik, seketika Dinda pun langsung mengencangkan suara tangisannya karena ia benar-benar sangat sedih.


"Hiks,,, hiks,,, mas Erik masih bisa ngomong kaya gitu sekarang.? Hiks,,,hiks,,, karena mas Erik enggak tau kenyataan yang sedang Dinda rasakan sekarang ini seperti apa.? Hiks,,, hiks,,, Dinda enggak akan pernah bisa menjadi seorang mama mas Eriiiikk.? Hiks,,, hiks,,, Dinda enggak akan pernah bisa.!" Kata Dinda dalam hati sambil terus menangis dengan sangat kencang.


"Sayaaang, kamu ini sebenarnya kenapa sih.? Kok kamu malah makin kenceng nangisnya.? kamu kenapa.? Apa mas ada salah sama kamu.? Kalau mas ada salah, kasih tau mas biar mas tau.!" Kata Erik panik melihat keadaan Dinda seperti itu.


Mendengar kata-kata dari Erik, seketika Dinda pun langsung beranjak bangun dan kemudian duduk.


"Mas Erik enggak pernah ada salah apa-apa sama Dinda.! Semua ini Dinda yang salah, karena Dinda udah mau dijodohin sama mas.! Dan sekarang, Dinda mau pisah sama mas Erik.!" Kata Dinda serius, dengan suara bergetar karena menangis


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik justru malah tersenyum, karena ia mengira Dinda berbicara seperti itu hanya untuk bercanda.


"Hemmm.! Kamu itu ngomong apa sih.? Mas enggak suka yah, kamu bercanda dengan kata kata seperti ini.? Pokoknya mas enggak mau denger kamu ngomong kaya gini lagi.! Ngerti.?" Kata Erik mencoba untuk menasehatinya, karena ia benar-benar tidak tau kalau ternyata ucapan Dinda itu serius.


"Dinda enggak lagi bercanda mas.? Dinda serius.! Dinda mau pisah sama mas, Dinda mau cerai dari mas.?" Kata Dinda dengan suara sedikit tinggi, ia mencoba untuk meyakinkan Erik kalau semua ucapan itu serius dan tidak main-main, meskipun sesungguhnya hatinya sangat sakit untuk mengucapkan semua kata-kata itu.


"Kamu itu ngomong apa sih, hah.? Mas tadi udah ngomong sama kamu kan.? Jangan pernah kamu mengatakan kata-kata seperti itu lagi.! Tapi kamu malah bernai beraninya mengatakan kata cerai.? Kamu pikir pernikahan itu main-main, hah.?" Kata Erik dengan suara yang lebih tinggi dari Dinda, dan raut wajah yang sangat marah, karena kesel mendengar Dinda yang lagi-lagi mengucapkan kata-kata seperti itu, karena menurutnya pernikahan itu bukanlah untuk main-main.

__ADS_1


"Tapi Dinda benar-benar mau kita berpisah mas.! Dinda enggak main-main dengan kata-kata Dinda ini.? Dinda mau kita cerai.! Mas ngerti kan.? Dinda mau cerai.!" Teriak Dinda serius sambil menangis.


Melihat Dinda seserius itu ingin cerai darinya, seketika Erik pun langsung terdiam dengan keadaan yang sangat lemas.


__ADS_2