
DI RUMAH PAK ERIK.
Waktu menunjukkan pukul 11:00 Siang.
Terlihat Devano yang baru saja sampai dari bandara dan sedang masuk kedalam Rumah.
"Mamah, mah.!!! Anak ganteng mamah pulang nih mah.!!!" Terik Devano sambil terus berjalan masuk kedalam Rumah.
Mendengar suara teriakan dari Devano, Dinda yang sedang membantu bi Ijah masak di dapur pun langsung buru-buru melangkah untuk menghampirinya.
"De, De, Devano,,, Kamu udah sampai nak.???" Kata Dinda gugup sambil tersenyum karena saking senangnya melihat putra kesayangannya itu pulang.
"Iya mah.!!!" Kata Devano sambil tersenyum kemudian ia pun langsung mencium tangan Dinda mamahnya.
"Oh iya mah, sepi amat ini rumah.?? Papah sama Kiara pada kemana mah.??" Kata Devano heran sambil menengok ke kanan dan ke kiri seisi ruangan yang terlihat sangat sepi itu.
"Papah baruuu aja tadi berangkat ke kampus, soalnya papah itu buru-buru sayang.??? Tadi sih papah juga nungguin kamu, tapi kamu nya lama sih enggak pulang-pulang." Kata Dinda serius kalau tadi pak Erik memang menunggu Devano, akan tetapi Devano tak juga kunjung pulang, hingga akhirnya ia pun berangkat ke Kampus karena ada sesuatu pengumuman yang harus ia sampaikan kepada para mahasiswa dan mahasiswinya, karena tanpa sepengetahuan dari kita ternyata sekarang ini pak Erik adalah Dekan di kampus tersebut.
"Ooohh gitu mah,,, pantas aja tadi Raka disuruh mampir enggak mau, katanya sih Dia mau langsung buru-buru ke kampus, mungkin karena mau ada pengumuman dari papah kali yah.???" Kata Devano serius kalau tadi Raka memang tidak mau mampir dulu ke rumahnya, alasannya karena ia mau cepat-cepat ke kampus.
"Ya bisa jadi sayaaang,,," Kata Dinda sambil tersenyum.
"Oh iya sayang, hampir aja mamah lupa.!!! Tadi papah juga ngomooong,,, katanya kalau kamu udah sampai, terus kamu juga udah enggak capek lagi, papah juga nyuruh kamu ke Kampus." Kata Dinda mencoba untuk memberi tahu kepada Devano, kalau tadi pak Erik memang memberikan pesan seperti itu kepada dirinya untuk Devano.
"Papah nyuruh Devano ke kampus,,, ada apa yah mah.???" Kata Devano bingung karena ia benar-benar tidak tau apa maksud dari pak Erik Ayahnya menyuruh dirinya ke kampus.
"Enggak tau sih sayang mamah juga, tapi ini juga kalau kamu enggak capek sih sayang, kalau kamu capek ya udah enggak usah.!!!" Kata Dinda mencoba untuk memberi saran kepada Devano.
"Sebenarnya Devano capek sih mah, Devano pengin istirah,,,,,,,," Seketika Devano terdiam.
"E, e, ehhh tunggu dulu, tunggu dulu.!!! Apa gw ke Kampus aja yah.??? Siapa tau kan nanti di kampus gw ketemu sama gadis kecil pemilik liontin.??? Oh iya bener, lebih baik sekarang gw kekampus." Kata Devano dalam hati sambil tersenyum karena ia berharap bisa menemukan gadis kecil pemilik liontin yang ia simpan.
"Dev,,, kamu kenapa.??? Kok kamu diem sih.?? Kalau kamu capeeek,,, ya udah kamu enggak usah ke Kampus." Kata Dinda bingung melihat Devano yang dari tadi terdiam.
"Ke, ke, kenapa mah.??? O, o, ohhhh enggaaak Devano enggak capek.!!! Ya udah kalau gitu Devano mandi dulu yah mah.???" Kata Devano gugup sambil buru-buru melangkah menuju kamarnya, namun baru saja ia melangkah langkahnya sudah terhenti.
"Oh iya mah, Kiara mana mah.?? Devano mau ketemu sama Kiara dulu nih mah." Kata Devano lagi.
"Ada tuh sayang di kamarnya, lagi ngambek dia dari tadi nungguin kamu pulang." Kata Dinda mencoba untuk memberi tahu Devano, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru melangkah menuju kamar Kiara dan diikuti oleh Devano dari belakang.
"Tok,, tok,, tok,, Kiara sayaaang,,,, bukain pintunya dulu nak.!!!" Kata Dinda pelan sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar Kiara.
"Enggak mau.!!! Kiara enggak mau bukain pintunya kalau kakak Devano belum pulang.!!!" Kata Kiara dari dalam kamar, ia masih ngambek karena Devano yang tak juga kunjung datang.
"Iya sayaaaang,,, makanya Kiara liat duluuu.!!! Lihat nih, mamah sama siapa nih.???" Kata Dinda sambil tersenyum.
"Enggak mau.!!! Paling juga mamah lagi sama pap,,,,,,," Seketika ucapan Kiara terpotong karena tiba-tiba ia melihat Devano kakak tersayangnya yang dari tadi sedang ia tunggu-tunggu membuka pintu kamarnya yang ternyata tidak terkunci sambil tersenyum manis menatap kearahnya.
"Kakak Devanooo.???"
Kata Kiara sambil tersenyum karena senang melihat Devano kakaknya yang sudah pulang dan sekarang sedang berada di dalam rumahnya.
"Iya Dek ini kakak Devano, sini.!!!" Kata Devano sambil tersenyum dan melentangkan kedua tangannya.
Mendengar kata-kata dari Devano kakaknya, dengan segera Kiara pun langsung buru-buru lari menghampirinya, kemudian ia pun langsung memeluknya.
"Eeeeemmmm kakak Devano, Kiara kangen sama kakak Devanoooo.??" Kata Kiara manja sambil terus memeluknya.
"Sama sayang, kakak Devano juga kangen.?? Uuuuhhh Adek kakak udah gede aaaja nih ???" Kata Devano sambil tersenyum kemudian ia pun langsung membalas pelukan Kiara dengan begitu eratnya.
"Kakak Devano, kakak Devano, Ayo cepetan kita maiiiin.!!! Sekarang Kiara punya banyak boneka loh dibeliin sama papaaah.???" Kata Kiara merengek manja sambil menarik-narik lengan Devano dan mengajaknya untuk bermain Boneka.
"Kiara sayaaang,,, anak mamah yang cantiiiik, sekarang Kiara mainnya sama mamah dulu yaaahhh.??? Soalnya Kakak Devano nya mau ke kampus duluuu,,," Kata Dinda pelan sambil mengusap-usap rambut Kiara.
"Iiiiiiihhhhh Kiara enggak mauuuu.!!! Kiara pengin mainnya sama kakak Devano aja enggak mau sama mamaaah.!!!" Kata Kiara ngambek karena ia benar-benar ingin bermain dengan Devano kakaknya.
"Kiara Adek kakak yang cantiiiik,,, enggak boleh kayak gituuu, yaaahhh.??? Sekarang Adek kakak yang cantik ini,,, main dulu sama mamah, soalnya kakak Devano nya mau ke kampus dulu, enggak papa kaaan.???" Kata Devano pelan sambil mengusap-usap rambut Kiara, ia mencoba untuk menenangkan Kiara adiknya yang sedang ngambek itu.
"Ta, ta, tapi kak.!!! Kiara pengin main sama kakak aja, enggak mau main sama mam,,,,,,," Seketika ucapan Kiara terpotong
"Ssssssttttt iya sayaaaang kakak tau,,, kakak janji deh.!!! Nanti kalau kakak udah pulang dari kampuuuus,,, kita main Boneka yang lama, yaaahhh.???" Kata Devano pelan sambil tersenyum dan terus mengusap-usap rambut Kiara, ia mencoba untuk merayunya agar tidak ngambek lagi.
"Tapi beneran kan kak, kakak enggak bohooong.???" Kata Kiara sedikit ketakutan kalau Devano kakaknya akan berbohong.
"Enggak sayaaaang,,, kakak janji.!!!" Kata Devano sambil tersenyum dan mencoba untuk meyakinkannya.
"Ya udah sayang, sekarang Kiara main sama mamah dulu yuks.??? Kakak Devano nya biar mandi dulu." Kata Dinda sambil tersenyum kemudian ia dan Kiara pun langsung masuk ke dalam kamar Kiara untuk bermain bersama.
__ADS_1
Melihat Dinda dan Kiara masuk kedalam kamar, dengan segera Devano pun langsung masuk kedalam kamarnya untuk mandi dan kemudian siap-siap untuk berangkat ke kampus.
DI TEMPAT BERBEDA.
Di kampus, terlihat seluruh mahasiswa dan mahasiswi baik yang baru maupun yang senior sedang berbaris di lapangan, karena mereka semua akan mendengarkan pengumuman dari pak Erik Dekan di kampusnya.
"Oh iya Raka, tadi Devano ngomong enggak kalau dia mau ke kampus.???" Kata pak Erik serius, sambil berjalan menuju lapangan.
"Tadi sih Devano telpon Raka om, katanya sih jadi,,, malahan dia ngomong 10 menit lagi juga nyampe.???" Kata Raka yang juga sedang berjalan tepat disamping pak Erik menuju lapangan bersama dengan Dosen-Dosen yang lain, karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata Raka juga adalah salah satu Dosen di kampus tersebut.
"Oh gituuu,,, ya udah kalau gitu sambil nunggu Devano datang, Om mau langsung kasih pengumuman.???" Kata Pak Erik sambil buru-buru melangkah dan kemudian berdiri di lapangan tepatnya di depan seluruh mahasiswa dan mahasiswinya untuk memberikan pengumuman kepada mereka semua.
"Selamat siang semuanya.???" Kata pak Erik menyapa mereka semua.
"Siang pak.!!!" Jawab mereka semua secara bersamaan.
"Baik langsung saja yah.??? Untuk kalian semua yang mungkin bertanya-tanya, mengapa siang-siang seperti ini bapak mengumpulkan kalian semua di lapangan, itu karena bapak mau memberi pengumuman kepada kalian semua.!!! Kalau mulai besok, bapak sudah tidak bisa mengajar kalian lagi." Kata pak Erik tegas, ia mencoba untuk menjelaskan kepada mereka semua tentang apa alasan ia mengapa siang-siang seperti ini mengumpulkannya di lapangan.
Mendengar pengumuman dari pak Erik, seketika mereka semua pun langsung protes.
"Yaaaah kok gitu sih paaak.???" Kata mereka semua secara bersamaan kecewa mendengar pengumuman dari pak Erik itu.
"Iya pak, kok gitu sih.??? Enggak asyik nih bapak.!!!" Sambung beberapa dari mereka lagi yang juga kecewa mendengar pengumuman dari pak Erik itu.
"Benar pak, kita enggak mau bapak berhenti dari kampus ini.!!!" Teriak sebagain dari mereka lagi.
"Setuju.!!!"
"Setuju.!!!"
"Setuju.!!!"
"Setuju.!!!" Sambung mereka semua memberikan pendapat secara bergantian.
"Ssstttt cukup, cukup.!!! Kalian tenang dulu.!!! Meskipun bapak sudah tidak mengajar kalian lagi, tapi kalian harus tetap semangat untuk belajar.!!! Karena apaaa.?? Karena mulai besok sudah ada Dosen baru yang menggantikan bapak,,, yaitu pak Devano, putra dari bapak sendiri, yang baru saja pulang dan menyelesaikan kuliahnya di Korea." Kata pak Erik tegas dan serius, kalau mulai besok Devano putranya itu, memang akan mengajar di kampus tersebut untuk mengantikan dirinya.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, seluruh mahasiswa dan mahasiswi pun langsung heboh sendiri.
"Apa.?!!! Dosen barunya anak pak Erik.??? Emang pak Erik punya anak cowok yah.???" Kata salah satu dari mahasiswi tersebut kaget dan bingung, karena ia tidak tau kalau pak Erik itu mempunyai anak cowok.
"Iya bener, emang pak Erik punya anak cowok.???" Sambung salah satu dari mereka yang juga bingung mendengar kata-kata dari pak Erik itu.
"E, e, ehhhhh liat deh.!!! Itu siapa.??? Waaahh cowok itu ganteng bangeeeeet,,,,," Kata salah satu diantaranya lagi kaget dan heran sambil terdiam dan terbengong menatap kearah pria ganteng tersebut, yang tak lain adalah Devano, iya,,,, Devano yang sedang berjalan menuju lapangan, dengan gayanya yang sangat cool dan pakaiannya pun terlihat sangat lah gaul.
Mendengar kata-kata darinya, seketika semua mahasiswa dan mahasiswi pun langsung menatap kearah Devano yang masih terus berjalan menuju lapangan.
"Wah beneeeeer, cowok itu ganteng bangeeeet.???" Sambung salah satu diantara mereka lagi sambil tersenyum dan terbengong karena ia pun terpesona melihat ketampanan dari Devano itu.
"Iya yah bener, cowok itu ganteng banget.??? tapi cowok ganteng itu siapa yaaah.??? Masa iya sih itu pak Devano putra dari pak Erik yang akan jadi Dosen di kampus kita.??? Kayaknya enggak mungkin deh.!!! Masa seorang Dosen pakaiannya gaul banget kayak git,,,,,,,,,,," Seketika ucapannya terpotong.
"Baik, cukup, cukup.!!! Semuanya tenang dulu.!!! Karena sepertinya itu pak Devano sudah datang." Kata pak Erik tegas sambil menunjuk ke arah Devano yang masih terus berjalan semakin mendekat kearahnya.
"Itu papah yah.???"
Kata Devano sambil tersenyum menatap kearah pak Erik yang masih berdiri di lapangan, kemudian dengan segera ia pun langsung melangkah lebih cepat lagi menuju lapangan dan langsung berdiri tepat disamping pak Erik Ayahnya.
Melihat Devano berdiri di samping pak Erik, semua mahasiswa dan mahasiswipun langsung teriak histeris dibuatnya.
"Hay Pak Dosen ganteeeng.?? Selamat datang di kampus kitaaa.??" Teriak mereka semua secara bersamaan sambil tersenyum dan terdengar sangat heboh.
"Doseeeen,,,, maksudnya apa ini pah.???" Kata Devano bingung, karena ia benar-benar tidak tau apa maksud dari ucapan mereka semua mengapa tiba-tiba menyebutnya dengan sebutan pak Dosen, karena sepertinya pak Erik memang merencanakan semua itu dibelakang Devano.
"Udah kamu tenang aja.!!! Nanti papah kasih tau kamu dirumah, lebih baik sekarang kamu balas dulu sapaan dari mereka semua, cepetan.!!!" Bisik pak Erik tepat ditelinga Devano.
"Ba, ba, baik pah.!!!" Kata Devano gugup, kemudian dengan segera ia pun langsung membalas sapaan dari mereka semua.
"Hay juga.!!! Apa kabar kalian semua.???"
Kata Devano sambil tersenyum dan melambaikan tangan kepada seluruh mahasiswa dan mahasiswi tersebut.
Mendengar Devano membalas sapaan darinya, lagi-lagi mereka semua pun langsung teriak histeris dibuatnya.
"Baik pak Dosen ganteeeeng.!!!" Teriak mereka semua secara bersamaan, penuh dengan semangat.
"Iya kabar kita baik pak Dosen gauuuul,,," Teriak sebagian dari mereka lagi secara bersamaan, sepertinya mereka menyebut Dosen gaul kepada Devano, karena mereka melihat dari gaya pakaian yang sedang Devano kenakan sekarang ini yang sangat-sangat jauh berbeda dari Dosen-Dosen yang lain.
__ADS_1
Mendengar mereka semua menyebut Devano Dosen gaul, seketika pak Erik pun langsung melihat penampilan Devano dari atas sampai ke bawah.
"Dev, kamu kenapa pakai celana kayak gini.??? Kan enggak pantes Dev, enggak sopan.!!! Masa Dosen celananya robek-robek kayak gini sih.???" Bisik pak Erik sambil menatap kearah celana Devano yang rebok- robek itu, ia mencoba untuk menasehatinya agar berpakaian yang lebih sopan.
"Yaelahhh pah, kan Devano enggak tau Devano kesini mau ngapain.?? Lagian papah kenapa enggak ngomong dari awal kalau Devano kesini itu mau dikenalin sama mereka semua untuk dijadiin Dosen.??? Kalau papah ngomong dari awal, kan paling nggak Devano enggak pakai pakaian kayak gini pah.??" Bisik Devano, ia berbicara seperti itu, karena ia memang benar-benar tidak tau apa maksud dari pak Erik Ayahnya mengapa tiba-tiba menyuruhnya ke Kampus.
Mendengar kata-kata dari Devano, pak Erik hanya menghela nafas pelan lalu membuangnya kasar.
"Ya udah untuk kalian semua, pengumuman dari bapak hari ini sudah cukup, jadi sekarang kalian semua boleh bubar dan balik ke tempat kalian masing-masing.!!!" Kata pak Erik dengan sangat tegas menutup pengumuman tersebut, kemudian dengan segera ia dan Dosen-Dosen lain pun langsung melangkah pergi meninggalkan lapangan dan di ikuti oleh Devano dari belakang, begitu pun juga dengan seluruh mahasiswa dan mahasiswinya mereka pun terlihat langsung bubar meninggalkan lapangan tersebut.
MASIH DI KAMPUS.
Terlihat Devano yang sedang berjalan keliling Kampus sambil memegang kalung liontin milik gadis kecil yang pernah ia tolong 10 tahun yang lalu, karena seperti yang kita tau sekarang ini ia akan mencoba untuk mencari gadis kecil tersebut di kampus.
"Gadis kecil ini wajahnya dulu kayak gini,,, kalau sekarang kayak gimana yah.??? Kira-kira gadis kecil ini ada enggak yah diantara mereka.???" Kata Devano dalam hati, sambil menatap foto wajah gadis kecil tersebut di liontin yang sedang ia pegang, kemudian ia pun langsung menyamakannya dengan perempuan-perempuan yang sedang berdiri dihadapannya.
"Tapi kayaknya diantara mereka enggak ada deh.!!! Ah gw coba cari kesan,,,,,,,,," Tiba-tiba ucapan Devano terhenti karena ada seorang perempuan yang tak sengaja menabraknya PRAK.!!!! Seketika kalung liontin yang sedang Devano pegangan pun terjatuh kelantai.
"Aw,,, aduh-aduh.!!! Maaf banget yah kak, aku enggak sengaja kak, aku enggak sengaj,,,,,,,,," Seketika perempuan tersebut terdiam.
"Apa yang baru saja gw lakukan.??? Kenapa gw bisa croboh banget sih nabrak cowok ini.?? E, e, ehhhhh tunggu dulu, tunggu dulu.!!!bukanya cowok ini pak Devano yah, Anak dari pak Erik yang akan jadi Dosen baru di kampus ini.???" Kata perempuan tersebut dalam hati ketakutan karena dengan beraninya sudah menabrak Devano putra dari pak Erik Dekan di kampusnya.
"Y, y, ya udah enggak papa.!!!" Kata Devano gugup kemudian dengan segera ia pun langsung memcoba untuk mengambil kalung liontin tersebut yang terjatuh dilantai.
"Ka, ka, kalung itu.???"
Kata Perempuan tersebut gugup dan kaget sambil menatap kearah kalung liontin tersebut yang sedang Devano ambil.
Mendengar kata-kata dari perempuan tersebut, seketika Devano pun langsung menatap kearahnya.
"Ka, ka, kamu kenal sama kalung ini.???" Kata Devano gugup karena ia sangat kaget ada seorang perempuan yang mengenali kalung tersebut, yang artinya perempuan itu pasti gadis kecil pemilik liontin tersebut yang dulu pernah ia tolong.
"I, i, iya aku kenal,,,, i, i, itu kalung Aku yang dulu pernah hilang saat aku dikejar para preman." Kata perempuan tersebut gugup.
"Apa.?!!! Ini kalung kamu.??? Berarti kamu,,,, kamu gadis kecil yang dulu pernah kakak tolong.???" Kata Devano kaget dan tak percaya dengan mata yang berkaca-kaca karena saking terharunya akhirnya ia bisa menemukan gadis kecil pujaan hatinya yang selama ini ia cari-cari.
"I, i, iya kak,,, a, a, aku gadis kecil itu.!!! Kalau Kakak enggak percaya, sekarang kakak boleh ke rumah aku.!!! Di rumah aku banyak foto aku waktu aku masih kecil yang sama persis wajahnya dengan foto gadis kecil yang ada di kalung itu.!!!" Kata perempuan tersebut lagi-lagi gugup, ia mencoba untuk menyakinkan Devano kalau foto gadis kecil yang ada di kalung liontin tersebut adalah dirinya.
"Ka, ka, kamu serius.??? Ka, ka, kamu enggak bohong kan.?? Te, te, terus nama kamu siapa.??? Ka, ka, kakak pengin tau.!!!" Kata Devano gugup dan masih tak percaya kalau ia bisa secepat itu menemukan gadis kecil pujaan hatinya itu.
"Aku enggak bohong kak, aku serius.!!! Nama aku Laras kak, aku gadis kecil yang dulu pernah kakak tolong, kalau kakak enggak percaya, sekarang juga ayo kakak ke rumah aku.!! Biar aku tunjukin foto-foto aku waktu aku masih kecil." Kata Laras, iya,,, nama perempuan tersebut adalah Laras, ia mencoba untuk menyakinkan Devano kembali kalau gadis kecil tersebut adalah dirinya.
Mendengar kata-kata dari Laras, Devano pun langsung mengikutinya, kemudian dengan segera ia dan Laras pun langsung pergi meninggalkan kampus menuju rumah Laras, untuk membuktikan apakah benar atau tidak semua ucapan Laras itu, kalau gadis kecil tersebut adalah dirinya.
30 Menit kemudian,,,,,,,,,
Akhirnya Devano dan Laras pun sudah sampai di depan pintu masuk rumah Laras.
"Tok,,, tok,,, tok,,,, bi, bukain pintunya bi.!!! Cepetan bi.!!!" Kata laras tergesa-gesa dan tak sabar sambil mengetuk-ngetuk pintu masuk rumahnya.
"Aduuuuhhh.!!! Kemana sih ini bibi, kok pintunya enggak dibuka-buka sih.???" Kata Laras kesal.
"Kakak Devano sabar yah kak.!!! Nanti kalau pintunya sudah dibuka, biar aku tunjukin semua bukti foto-foto aku, waktu aku masih kecil kak, kalau aku itu memang perempuan yang ada didalam kalung yang sekarang sedang kakak pegang." Kata Laras serius, lagi-lagi ia mencoba untuk meyakinkan Devano kalau gadis kecil tersebut adalah dirinya.
"Iya Ras, kakak akan selalu sabar.!!! Yang terpenting buat kakak sekarang ini, kakak harus bisa menemukan gadis kecil yang ada di liontin ini.??? Dan kalau memang benar gadis kecil itu adalah kamu, kakak akan sangat-sangat bersyukur, karena akhirnya tuhan mengizinkan kita untuk bertemu lagi." Kata Devano pelan dan serius, sepertinya ia sangat berharap kalau semua ucapan Laras itu benar.
"Iya kak.!! Aku juga bersyukur banget akhirnya tuhan mempertemukan kita kembali." Kata Laras terharu sambil menatap dalam wajah Devano.
"Ya udah yah kak, aku coba ketuk pintu lagi." Kata Laras lagi, kemudian dengan segera ia pun langsung mengetuk pintu rumahnya kembali.
"Tok,,, tok,,, tok,,, Bi.!!! Bibi lagi ngapain sih kok lama banget.?!!!" Teriak Laras sambil mengetuk-ngetuk pintu rumahnya dengan penuh emosi, karena kesal kepada asisten rumah tangganya yang tak juga kunjung membukaan pintu untuknya.
"Iya sebentar duluuu.!!! Ini mau Alana buk,,,,,,,,,,"
Seketika ucapan Alana terpotong karena ia kaget melihat Devano, iya ucapan Alana,,,, karena nama perempuan cantik tersebut adalah Alana, perempuan yang sama saat Raka tolong tadi pagi.
" A, a, aku kayak pernah liat perempuan itu.??? Ta, ta, tapi dimana yah.???"
Kata Devano dalam hati, sambil terdiam dan terbengong menatap kearah Alana.
########
Sebenarnya siapakah Itu Alana dan siapakah itu Laras.??? Dan ada hubungan apakah antara Devano, Alana dan juga Laras.????
Tebak ya guys.!!!! 🙏🙏😍😍
__ADS_1