
DI PERJALANAN.
Waktu menunjukkan pukul 07:00 pagi
Terlihat Erik yang sedang fokus menyetir mobilnya menuju kampus bersama dengan Dinda, setelah seharian kemarin mereka bolos dari kuliah, akhirnya hari ini mereka kembali juga ke kampus.
"Haciiiiiiiim.. haciiiiiiiim..!" Suara Dinda bersin-bersin, dan ternyata ini sudah kebeberapa kalinya ia bersin-bersin seperti itu, bahkan sejak ia masih berada di rumah pun ia sudah bersin-bersin, karena seperti yang kita tau, dari semalam ia memang sedang kurang sehat, namun sebenarnya Erik pun sudah melarang nya untuk kuliah, akan tetapi ia tetap memaksa, alasannya karena ia tidak mau seharian di rumah hanya sendiri seperti kemarin, apalagi mengingat betapa bosen dan BT nya kemarin saat Erik meninggalkannya hanya sendiri di rumah.
Melihat Dinda yang tak henti-hentinya bersin-bersin seperti itu, Erik pun langsung menghentikan mobilnya.
"Kamu itu lagi sakit, udah jangan bandel deh.! pulang yah, kita muter balik.?" Kata Erik kesal, dengan sikap Dinda yang keras kepala, karena terus memaksakan diri untuk kuliah meskipun keadaannya sekarang ini sedang kurang sehat.
"Maaaass, Dinda tuh enggak mau di rumaaaah.? Dinda bosen di kamar teruuuus, mas enggak tau sih rasanya kaya gimanaaa.? Mas mah seneng bisa pergi kesana, kesini, ke kantor, ke kampus." Kata Dinda merengek kesal sambil cemberut, karena Erik yang cerewet dan lagi-lagi menyuruhnya untuk Istirahat di rumah.
"Kamu ini memang keras kepala yah.? Susah dikasih taunya tau enggak.?" Kata Erik semakin kesal melihat tingkah laku Dinda seperti itu.
"Tadi mas ngomong apa.? Keras kepala.? Maksud mas apa ngomong kaya gitu.? Asal mas tau yah, Dinda sakit kaya gini tuh gara-gara mas tau enggak.? Dan sekarang dengan beraninya mas malah ngata-ngatain Dinda kaya gitu, mas tuh jahat banget sih jadi suami.?" Kata Dinda dengan suara tinggi karena marah dan tidak terima dengan ucapan Erik itu, apalagi menurutnya ia bisa sakit seperti sekarang ini karena ulahnya yang mengajaknya bercinta berjam-jam di dalam kamar mandi, meskipun sesungguhnya waktu bercinta semalam, ia lah yang seperti perempuan kegatelan yang sudah tidak sabar pengen cepet-cepet di belai-belai olehnya.
Melihat Dinda marah-marah seperti itu, Erik hanya terdiam sambil tersenyum sinis, ia tidak menjawab sepatah kata pun dari ucapannya, menjawab pun percuma yang ada nanti malah jadi ribut, karena ia sangat tau sifat Dinda istrinya itu seperti apa, kemudian dengan segera ia pun langsung kembali menyetir mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
"Dasar suami gak pengertian.! Orang mah istrinya lagi sakit itu dimanja-manja, disayang-sayang, diperhatiin.! Ini mah marah-marah.! Pake ngata-ngatain istrinya sendiri keras kepala lagi.! Iiiiiiihhhhh ngeselin banget sih.?" Kata Dinda dalam hati kesal, sambil menatap tajam ke arah Erik.
"Kamu kenapa ngelihatin mas kayak gitu.?" Kata Erik sambil terus fokus menyetir mobilnya tanpa menatap kearah Dinda sedikit pun.
"Enggaaak, siapa yang lagi ngelihatin m,,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, Haciiiiiiiim.. haciiiiiiiim...! Suara Dinda yang lagi-lagi bersin.
"Tuh kan kamu bersin bersin terus, tadi kamu udah minum obat belum.?" Kata Erik panik, sambil buru-buru menghentikan mobilnya kembali
"Tau.!" Kata Dinda sigkat dan ketus, sambil terus cemberut.
Melihat Dinda cemberut seperti itu, Erik pun tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Sayaaaaaang, tadi kamu udah minum obat belum.?" Kata Erik pelan dan penuh perhatian.
"Sini duduk disini.!" Kata Erik lagi sambil menepuk-nepuk pangkuannya, ia menyuruh Dinda untuk duduk di pangkuannya, karena sekarang ini ia sedang merayunya agar tidak ngambek lagi, karena sepertinya ia sangat takut kalau sampai nanti malam ia tidak mendapatkan jatah rutinnya diatas ranjang dari Dinda istri tersayangnya itu.
Mendengar Erik merayunya seperti itu, Dinda hanya terdiam sambil terus cemberut.
"Enak banget mas Erik, udah ngata-ngatain aku kaya gitu.? Dan sekarang ngrayu-ngerayu aku untuk duduk di pangkuannya.? Jangan tergoda Dindaaa.! Jangan tergoda, jangan tergoda, jangan tergoda.! Kamu harus kasih tau mas Erik, kalau kamu itu bukan perempuan gampangan.!" Kata Dinda dalam hati, sambil menatap sinis wajah Erik, ia mencoba untuk menahan diri agar tidak tergoda dengan rayuan dari suaminya itu, meskipun sesungguhnya sekarang ini ia memang sudah tidak tahan ingin cepat-cepat duduk di pangkuannya dan menyender manja di dadanya, akan tetapi karena ia adalah perempuan yang mengedepankan rasa gengsinya, ia pun mencoba untuk terus menahannya.
"Kenapaaa, kok kamu dieeem.? Sini duduk.! Biar mas pangku." Kata Erik sambil tersenyum manis, ia mencoba untuk merayunya lagi.
"Gak mau.! Duduk aja sendiri, kaya anak kecil aja main pangku-pangkuan.!"
Kata Dinda keteus, lagi-lagi ia mencoba untuk menolak tawaran dari Erik, meskipun sesungguhnya sekarang ini ia sudah semakin tak tahan dengan rayuannya itu.
Melihat Dinda yang lagi-lagi menolak rayuannya, Erik pun tersenyum, kemudian ia pun mencoba untuk menjalankan mobilnya kembali.
"Mas Erik.! Jangan jalan duluuu.?" Kata Dinda merengek ketakutan melihat Erik yang seperti mau melanjutkan perjalanannya kembali dan tidak akan merayunya lagi.
Mendengar rengekan Dinda, Erik pun langsung tersenyum.
"Enggak boleh jalaaan, emang kenapa.?" Kata Erik pura-pura tidak tahu apa mau Dinda.
"Mas Eriiiiiiik, Dinda mau duduk di pangkuan maaaas.?" Kata Dinda sambil merengek dengan sangat manjanya, kemudian ia pun langsung buru-buru pindah dan duduk di pangkuan Erik dengan posisi menghadap ke arahnya.
"Eeeeemmm mas Eriiiiiiiiik, Dinda sayang sama maaaas.?" Kata Dinda manja, sambil memeluk tubuh Erik dengan begitu eratnya.
Melihat tingkah laku Dinda yang sangat manja, Erik pun lagi-lagi tersenyum.
"Kenapaaa.? kamu enggak bisa yah ngambek lama-lama sama mas, hah.? Kamu takut yah.?" Kata Erik dengan percaya dirinya, sambil menatap dalam wajah Dinda, sehingga ia dan Dinda pun saling bertatapan dengan jarak yang begitu dekat, karena seperti yang kita tau posisi Dinda sekarang ini sedang duduk di pangkuannya sambil menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Eeemmm mas Eriiiiiiik.?" Kata Dinda merengek manja sambil memandangi bibir Erik, perlahan ia pun memejamkan matanya, kemudian mendekatkan bibirnya ke bibir Erik lebih dekat lagi sampai hampir bersentuhan, ia berharap Erik akan mencium dan ******* bibirnya itu.
"Eeeehhh sayang, kamu ngapain.? Tunggu dulu.! Kamu kan lagi sakit.??" Kata Erik mencoba untuk mencegahnya, karena keadaan Dinda sekarang ini sedang flu yang pastinya akan menular kepadanya.
"Iiiiiihhhhh mas Eriiiiik, Dinda pengin ciuuum.!" Kata Dinda sambil merengek.
Melihat Dinda merengek seperti itu, Erik pun tersenyum.
"Udah lebih baik kamu diam yaaah.? Mas mau lanjutin perjalanan lagi, udah siang takut telat." Kata Erik sambil memegang setir mobil untuk melanjutkan perjalanannya kembali, ia membiarkan Dinda terus duduk di pangkuannya dengan keadaan mobil berjalan, sepertinya perasaannya kepada Dinda sekarang ini benar-benar sudah membuatnya tidak tau aturan, sehingga dengan beraninya ia menyetir mobil sambil memangkunya, padahal seperti yang kita tau, dulu itu ia sangat disiplin dan taat kepada aturan, samapi-sampai dulu ia marah-marah kepada Dinda saat ia numpang di mobilnya dan lupa tidak memakai seat belt. Ya begitulah Erik sekarang, apa pun yang menurutnya asyik pasti akan dia lakukan.
Erik terus menyetir mobilnya dengan sangat fokus dan kecepatan yang sedikit tinggi karena takut telat, sambil mengusap-usap pundak Dinda menggunakan satu tangannya, karena seperti yang kita tau, tangannya satu lagi sedang menyetir mobilnya.
Akan tetapi tidak dengan Dinda, di pangkuan Erik, ia terlihati tidak bisa diam, ia terus memeluknya dengan erat sambil menciumi leher dan telinganya tanpa henti-henti.
"Eeeemmm Dinda sayang sama maaas.?" Kata Dinda dengan sangat manjanya, sambil terus menciumi leher dan telinga Erik, sehingga Erik yang sedang menyetir mobil pun sedikit terganggu.
"Aw sayang geli.?" Kata Erik sambil tersenyum karena menahan rasa geli dari ciuman Dinda itu.
Mendengar kata-kata Erik, Dinda tidak perduli, ia justru masih terus menciumi leher dan telinga Erik tanpa henti-hentinya, sehingga Erik pun tersenyum karena lucu melihat tingkah laku istrinya seperti itu.
"Seneng banget yah, cium-cium mas terus hah.?" Kata Erik pelan sambil terus menyetir mobilnya dengan fokus, ia membiarkan Dinda terus menciuminya meskipun ia sedikit terganggu, karena ia ingin membuat Dinda Istrinya itu senang dan nyaman saat berada di pelukannya.
Namun disaat Erik sedang fokus menyetir mobilnya, tiba-tiba ponselnya berdering karena ada pesan masuk TING.!
Mendengar suara ponselnya berdering, Erik pun langsung mengambil dan mengecek siapa yang mengirimkan pesan untuknya, setelah melihat siapa yang mengirimkan pesan untuk nya, ia pun langsung membacanya, akan tetapi ia membaca pesan tersebut sambil tersenyum, sehingga membuat Dinda curiga.
"Mas Erik, chat dari siapa.? Kok senyum-senyum sih, mas selingkuh yah.?" Kata Dinda sedikit kesel, melihat Erik tersenyum seperti itu.
"Ngomong apa sih kamu.? Ini tuh chat dari mamah, mamah nyuruh kita main kesana, terus mama juga nanya nih.! Katanya kamu udah hamil apa belum.? Soalnya mamah udah enggak sabar pengin cepet-cepet punya cucu." Kata Erik sambil tersenyum membacakan isi pesan dari ibu Sari yang tak lain adalah mamahnya.
Ibu Sari mengirim pesan seperti itu, karena ia memang benar-benar sudah tidak sabar ingin cepet-cepet punya cucu dari Erik dan Dinda, bahkan bukan hanya ibu Sari, pak Edi pun demikian, apalagi mengingat Erik dan Dinda menikah sudah lumayan lama, ia pun jadi semakin tidak sabar ingin cepat-cepat punya cucu dari mereka, karena ia belum mempunyai cucu, dan ternyata Erik itu adalah anak satu-satunya dari mereka, blum lagi dengan keadaan pak Edi yang sering sakit-sakitan, itu semua membuat ibu sari takut kalau sampai pak Edi tidak sempat merasakan betapa bahagianya mempunyai seorang cucu.
__ADS_1