
Pagi pun tiba,,,,,,
Waktu menunjukkan pukul 07:00 Pagi.
Terlihat Diki, Renata, Siska dan Dimas yang sedang sarapan bersama di meja makan.
"Nih bang sarapannya.! Udah Renata siapin." Ucap Renata masih dengan raut wajahnya yang sedih karena masih mengingat kejadian semalam, sambil memberikan sepotong roti untuknya sarapan, sepertinya meskipun semalam Diki suaminya itu sudah berbuat kasar kepadanya, ia tetap berusaha untuk menjadi istri yang baik untuknya, karena ia selalu berharap Diki suaminya itu akan berubah menjadi suami yang baik dan sayang kepadanya, meskipun sesungguhnya perasaannya sekarang ini sudah tidak karuan dan bercampur aduk rasanya.
"Makasih." Ucap Diki singkat.
"Naaah, kalau yang ini kak Renata siapin nih buat Dimas." Ucap Renata lagi sambil berusaha untuk tersenyum dan mengambil sepotong roti lagi untuk menyiapkannya sarapan.
"Eeeeh, enggak usah kak, enggak usah.! Dimas bisa kok siapin sarapan Dimas sendiri." Ucap Dimas merasa tak enak.
"Iya kak, bener kata Dimas, Dimas bisa kok siapin sarapan Dimas sendiri.! Lagian Dimas juga udah biasa kok kak." Ucap Siska yang dari tadi sedang duduk disampingnya.
"Ooooh, ya udah kalau gitu." Ucap Renata.
"Oh iya kak, ngomong-ngomong gimana perut kakak.? Udah mendingan.?" Ucap Siska penasaran.
"Alhamdulillah, sekarang perut kakak ini udah rada mendingan Sis." Ucap Renata serius, sambil tersenyum.
"Perut kamu udah rada mendingan.? Emang perut kamu kenapa.?" Ucap Diki bingung, karena ia benar-benar tidak tau apa yang semalam telah terjadi kepada Renata istrinya itu setelah didorongnya dengan kasar.
"Itu bang, semalam kak Renata sempat pendarahan." Ucap Dimas mencoba untuk menjawabnya.
"Semalam kamu sempat pendarahan.?" Ucap Diki kaget.
"Kok kamu enggak kasih tau Abang sih.! Tapi sekarang kamu udah enggak papa kan.? Enggak ada sesuatu hal buruk yang terjadi sama anak kita ini kan.? Terus sekarang kamu udah minum obat apa belum.?" Ucapnya lagi tergesa-gesa dengan raut wajah yang sangat panik, dengan sok perhatiannya ia berbicara seperti itu, sehingga membuat Siska pun tersenyum geli melihatnya.
"Sok perhatian amat sih bang Diki.! Semalam aja kasar banget sama kak Renata." Ucapnya pelan.
"Udah kok bang, Renata udah minum obat, dan Alhamdulillah enggak ada sesuatu hal buruk yang terjadi sama anak kita in,,,,,,," Seketika ucapan Renata itu terpotong.
"Eh, sebentar, sebentar.!" Ucap Diki sambil buru-buru mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya, karena tiba-tiba ponselnya itu bergetar karena ada pesan masuk, kemudian ia pun langsung buru-buru membacanya.
"Kayaknya Abang harus cepet-cepet berangkat ke kantor sekarang deh.!" Ucap Diki tergesa-gesa setelah membaca pesan tersebut, sambil buru-buru beranjak dari tempat duduknya.
"Loh, kok buru-buru amat bang.? Kan sarapan Abang juga belum dimakan bang.?" Ucap Renata bingung mengapa tiba-tiba ia berangkat ke kantor dengan sangat terburu-buru seperti itu.
"Udah enggak papa.! Nanti biar Abang sarapan dikantor aja." Ucap Diki sambil buru-buru memakai jasnya.
"Tau nih Abang.! Emang ada apa sih.? Buru-buru amat.! Kan sekarang ini masih pagi bang.? Lagian itu chat emang dari siapa.?" Ucap Siska sedikit curiga dengan tingkah laku Diki Abangnya itu.
"I, i, ini Sis, ini chat dari pak Erik.! I, i, iya bener pak Erik, pak Erik nyuruh Abang untuk cepet-cepet ke kantor.! Soalnya ada masalah penting yang harus Abang selesaikan sekarang." Ucap Diki gugup.
"Ooooh, ya udah kalau gitu Abang
ati-ati yah.?" Ucap Renata sambil mengulurkan tangannya untuk salaman, karena ia bener-bener sedang berusaha untuk menjadi istri yang baik untuknya.
"Ya udah.! Kalau gitu sekarang Abang berangkat yah.?" Ucap Diki lagi sambil buru-buru keluar dari rumahnya itu menuju mobilnya, meninggalkan Renata, Siska dan Dimas yang masih sarapan bersama.
"Ya udah, kalau gitu Siska juga berangkat kuliah sekarang yah kak.?" Ucap Siska yang baru saja selesai sarapan.
"Iya kak, Dimas juga berangkat sekolah sekarang yah kak.?" Ucap Dimas yang juga baru selesai sarapan, sambil buru-buru mengambil tasnya.
"Ya udah, kalian ati-ati yah.?" Ucap Renata dengan penuh perhatiannya sambil tersenyum.
"Iya kak.!" Ucap Siska dan Dimas secara bersamaan, kemudian mereka berdua pun langsung keluar dari rumahnya meninggalkan Renata hanya sendiri di dalam rumah tersebut.
"Yaaah, semuanya udah pada berangkat deh.! Tinggal ada gw doang sendiri disini.! Mana ini rumah sepi banget lagi kalau jam segini." Ucapnya merasa kesepian.
"Ya udah deh, daripada gw kesepian kayak gini.! Mendingan gw ke depan aja, gw siramin tanaman bang Diki." Ucapnya lagi sambil buru-buru melangkah keluar menuju depan rumahnya dan langsung menyirami tanaman-tanaman tersebut.
"Eeemmm kasihan banget sih kamu ini.! Udah pada layu kayak gini.! Pasti bang Diki enggak pernah ngurusin kamu yah.?"
Ucapnya merasa kasihan terhadap tanaman-tanaman tersebut sambil terus sibuk menyiraminya satu persatu.
__ADS_1
"Kalian tenang aja yaaaah.? Mulai sekarang kamu enggak akan pernah layu lag,,,," Seketika ucapannya itu terpotong.
"Renata,,," Ucap Ibu Lia yang sedang berdiri tepat dibelakangnya.
"Mamah.!" Ucap Renata kaget, sambil tersenyum menatap kearahnya dengan raut wajah yang sangat bahagia, kemudian ia pun langsung memeluknya.
"Eeemmmm mamaaaah, Renata kengeeeen." Ucapnya lagi sambil terus memeluknya dengan erat.
"Iya sayang, mamah juga kangeeeen banget sama anak mamah yang cantik ini.!" Ucap Ibu Lia sambil tersenyum terharu menatap wajah cantik Renata putrinya itu, karena ia benar-benar sudah sangat rindu kepadanya.
"Oh iya mah.! Tapi ngomong-ngomong mamah tau dari mana Alamat rumah bang Diki.?" Ucap Renata penasaran, sambil buru-buru melepaskan pelukannya itu, karena seingatnya ia atau pun Diki belum pernah memberikan alamat rumah tersebut kepadanya.
"Dita sayang, Dita yang udah kasih tau mamah." Ucap Ibu Lia serius.
"Oh iya sayang.! Kata Dita semalam kamu sempet pendarahan lagi.? Terus gimana keadaan kamu sekarang.? Kamu baik-baik aja kan.?" Ucap Ibu Lia panik, sepertinya sekarang ini ia berkunjung ke rumah Diki menantunya itu, karena ia ingin menjenguk Renata putrinya dan ia pun ingin tau keadaannya sekarang ini seperti apa.
"Udah mamah tenang aja.! Renata baik-baik aja kok sekarang." Ucap Renata mencoba untuk menenangkannya.
"Ya udah ayo mah, lebih baik sekarang kita masuk.! Biar kita ngobrolnya enak." Ucapnya lagi menyuruh Ibu Lia mamahnya itu untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
"Ya udah ayo.!" Ucap Ibu Lia, kemudian ia pun langsung melangkah masuk kedalam rumah tersebut bersama dengannya, namun baru saja ia sampai di depan pintu, tiba-tiba langkahnya terhenti, kemudian ia pun langsung terdiam sambil memperhatikan keadaan dari bagian-bagian rumah tersebut satu-persatu.
"Mamaaah, mamah kok diem aja.? Ayo masuk.!" Ucap Renata bingung sebenarnya apa yang sedang Ibu Lia mamahnya itu pikiran, lagi-lagi ia menyuruh mamanya itu untuk masuk kedalam rumah tersebut.
"Sayang,,," Ucap Ibu Lia lagi sambil terus memperhatikan keadaan dari bagian-bagian rumah tersebut.
"Iya mah ada apa.?" Ucap Renata.
"Kamu serius tinggal dirumah ini.?" Ucap Ibu Lia tak percaya.
"Loh kok mamah nanya kayak gitu sih mah.? Ya iya dong Renata tinggal di rumah ini.! Emang kenapa mah.?" Ucap Renata sambil tersenyum bingung, karena ia benar-benar tidak tau apa yang sebenarnya sedang ibu Lia mamahnya itu pikiran sekarang ini.
"Loh kok kenapa sih sayang.! Emang kamu enggak lihat.! Ini tuh rumahnya kecil banget loh sayang, sama kamar kamu di rumah aja gedean kamar kamu.! Mana panas lagi. Emang kamu betah apa tinggal di rumah sekecil ini.?" Ucap Ibu Lia tak tega dan merasa kasihan jika Renata putri tersayangnya yang biasanya hidup berkecukupan dan selalu dikelilingi dengan kemewahan harus tinggal di rumah sekecil itu, dan sepertinya memang hal itulah yang membuat ibu Lia dari tadi terus terdiam seperti itu.
"Udah deh sayang.! Lebih baik sekarang kamu tinggal di rumah mamah lagi aja yah.?" Ucapnya lagi menyuruhnya seperti itu.
"Maaah, mamah itu ngomong apa sih.? Ya enggak bisa dong mah, sekarang ini kan Renata udah jadi istrinya bang Diki.! Jadi Renata ini harus tetap ikut bang Diki kemana pun bang Diki pergi mah." Ucap Renata, dengan dewasanya ia menjawabnya seperti itu.
"Maaaah, pleaseeeeee.!" Ucap Renata memohon agar ibu Lia mamahnya itu stop untuk membahas hal tersebut, sehingga Ibu Lia pun terpaksa menurutinya, kemudian ia pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.
"Ya udah, iya, iya.!" Ucap Ibu Lia, kemudian ia pun langsung melanjutkan langkahnya kembali untuk masuk ke dalam rumah tersebut.
"Oh iya sayang, tapi ngomong-ngomong pada kemana nih.? Sepi amat ini rumah." Ucap Ibu Lia yang sekarang ini sudah duduk di dalam rumah tersebut.
"Kok mamah nanya pada kemana.? Ya jelas lah.! Kalau bang Diki lagi kerja, dan kalau adik-adiknya ada yang kuliah, ada yang seko,,,,,," Lagi-lagi ucapan Renata itu pun terpotong
"Oh iya sayang, mamah hampiiiiir aja lupa.! Tadi di jalan tuh mamah kayak lihat Diki deh, tapi kok Diki sama perempuan yah.? Udah gitu mereka berdua pegang-pegangan tangan lagi didalam mobil kayak akrab banget, dan mamah rasa itu bukan adiknya deh.! Terus pas mamah mau samperin, eeehhh tau-taunya mobilnya Diki jalan." Ucap Ibu Lia serius, kalau tadi ia memang sempat melihat Diki menantunya itu yang sedang jalan dengan perempuan lain. Dan kenyataannya memang benar, tadi Diki itu memang sedang jalan dengan perempuan lain yang tak lain adalah Anita, karena ternyata yang mengirim pesan kepadanya tadi itu bukalah pak Erik melainkan ia, ia memintanya untuk ketemuan pagi ini juga, sehingga Diki pun langsung buru-buru menurutinya.
Mendengar ucapan Ibu Lia, seketika Renata pun langsung terdiam.
"Jadi tadi itu kamu bohongi Renata bang.?" Ucapnya dalam hati sedih dan kecewa karena ia merasa telah dibohongi olehnya.
"Kira-kira perempuan itu siapa yah Ren.? Kok bisa seakrab itu.! Kalian berdua lagi enggak ada masalah apa-apa kan.?" Ucap Ibu Lia lagi penasaran dan sedikit panik, karena ia takut kalau Renata putrinya itu sedang ada masalah dengan Diki suaminya.
"Kamu itu tega banget sih bang.! Lagi-lagi kamu selingkuh sama perempuan itu dibelakang Renata. Emang Renata ini salah apa sih bang sama Abang.?" Ucap Renata lagi dalam hati semakin sedih, dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kayaknya gw emang udah enggak bisa deh pertahanin lagi rumah tangga gw ini.! Gw bener-bener udah enggak sanggup lagi kalau harus terus-terusan disakiti sama bang Diki kayak gini." Ucapnya lagi dalam hati sambil terus terdiam dengan mata yang masih berkaca-kaca, sehingga membuat ibu Lia pun semakin panik.
"Sayang, kamu kenapa.? Kok dari tadi kamu diem aja.? Kamu enggak lagi ada masalah apa-apa kan sama Diki.?" Ucapnya.
"Oh e e, enggak kok mah, Renata enggak lagi ada masalah apa-apa kok sama bang Diki.! Mungkin aja perempuan itu temen kerjanya bang Diki di kantor kali mah." Ucap Renata gugup karena ia sedang berbohong, sambil buru-buru menghapus air matanya. Namun sayang, ibu Lia tidak percaya begitu saja, karena dilihat dari raut wajahnya pun, terlihat jelas olehnya dan ia pun sudah bisa menebaknya, kalau sekarang ini Renata putrinya itu pasti sedang ada masalah dengan Diki suaminya itu.
"Sayang, kamu enggak usah bohong deh sama mamah.! Kamu ini anak mamah.! Dan mamah itu udah kenal sama kamu dari sejak kamu masih kecil, jadi kamu itu enggak bisa bohongi mamah kayak gini.! Sekarang kamu lagi ada masalah kan sama Diki.?" Ucap Ibu Lia dengan tegas, sehingga membuat Renata pun tidak bisa menjawabnya, dan ia pun hanya bisa menangis.
"Hiks,, hiks,," Suara Renata menangis dengan raut wajah yang masih sangat sedih sambil menundukkan kepalanya.
"Kamu kenapa nangis.? Kamu lagi ada masalah kan sama Diki.?" Ucap Ibu Lia lebih tegas lagi, sehingga Renata pun tidak bisa untuk mengelaknya lagi.
"Hiks,, hiks,, iya mah.! Hiks,, hiks,, sekarang ini Renata emang lagi ada masalah sama bang Diki.! Hiks,, hiks,, dan Renata rasa, hiks,, hiks,, Rumah tangga Renata ini udah enggak bisa Renata mempertahanin lagi mah.! Hiks,, hiks,, Renata pengin pisah aja sama bang Diki mah.! Hiks,, hiks,, Renata udah enggak sanggup, hiks,, hiks,, Renata ini bener-bener udah enggak sanggup jadi istrinya bang Diki mah." Ucap Renata serius, sambil terus menangis dengan raut wajah yang semakin sedih, sehingga ibu Lia pun merasa kasihan dan tak tega melihatnya, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Sssttttt, udah, udah, sayaaang.! Kamu jangan nangis terus kayak gini.!" Ucap Ibu Lia mencoba untuk menenangkannya sambil mengusap-usap rambutnya dengan penuh kasih sayang.
"Kalau itu memang udah keputusan kamu.! Mamah enggak bisa ngomong apa-apa lagi sayang, karena apapun keputusan kamu itu.! Pasti mamah akan dukung.! Karena mamah juga sangat yakin, kamu pasti udah belajar banyaaaak banget dari masalah kamu ini.!" Ucap Ibu Lia mencoba untuk mendukung apapun keputusannya itu.
"Hiks,, hiks,, tapi gimana sama papah mah.? Hiks,, hiks,, Renata takut mah, hiks,,hiks,, Renata takut kalau papah sampai marah dan enggak setuju sama keputusan Renata ini.!" Ucap Renata sedikit panik dan takut, kalau pak Edo papahnya itu tidak setuju dengan keputusannya itu.
"Udah sayang, kamu tenang aja.! Masalah papah biar mamah yang ngomong." Ucap Ibu Lia mencoba untuk menenangkannya lagi.
"Yang penting ingat.! Ambillah keputusan yang bisa buat hidup kamu ini bahagia yah sayang.? Karena kebahagiaan itu suatu hal yang paling penting dalam hidup kita." Ucapnya lagi mencoba untuk memberinya saran seperti itu.
"Hiks,, hiks,, iya mah.! Hiks,, hiks,, makasih yah mah, hiks,, hiks,, selama ini mama udah selalu dukung Renata, hiks,, hiks,, mamah selalu ada untuk Renata, hiks,, hiks,, baik susah maupun senang, hiks,, hiks,, bener maupun salah." Ucap Renata sambil terus menangis.
"Iya sayang." Ucap ibu Lia dengan penuh perhatiannya sambil tersenyum.
MASIH DI RUMAH DIKI.
Waktu menunjukkan pukul 07:00 Malam.
Terlihat Renata yang sedang menunggu Diki suaminya itu pulang dari kantor, sambil terus termenung di dalam kamarnya.
"Ya Tuhaaaan, semoga aja keputusan gw ini bener." Ucapnya dalam hati dengan raut wajah yang sangat panik.
"Karena gw ini enggak mau Tuhan, kalau harus terus-terusan disakiti kayak gini sama bang Diki.! Apalagi kalau gw harus menerima kenyataan kalau bang Diki itu selingkuh dibelakang,,,," Seketika ucapan Renata itu pun terpotong, karena tiba-tiba Diki suaminya itu pun akhirnya pulang dan masuk ke dalam kamarnya.
"Aduuuh.! Capek banget." Ucap Diki dengan raut wajah yang sangat lelah, sambil membuka jas yang sedang ia kenakan.
"Bang, Renata mau ngomong.!" Ucap Renata langsung berbicara seperti itu.
"Aduuuh.! Kamu ini mau ngomong apa sih Ren.? Abang ini capek banget tau enggak baru pulang kerja." Ucap Diki sedikit kesel, karena keadaannya sekarang ini memang benar-benar sangat capek dan lelah.
"Habis pulang kerja, apa habis ketemu sama Anita.?"
Ucap Renata dengan suara yang sangat ketus, karena ia bener-bener marah merasa telah ia bohongi.
"Maksudnya.?"
Ucap Diki pura-pura bodoh, sehingga membuat Renata pun semakin kesal.
"Aaaahhhh udah deh bang.! Abang enggak usah bohong sama Renata.! Abang tadi pagi abis ketemu kan sama Anita si pelakor itu.!" Ucap Renata dengan suara tinggi karena marah.
"Maksud kamu itu apa sih ngomong kayak gitu.? Abang ini malas yah berdebat terus setiap hari sama kamu.!" Ucap Diki dengan suara yang lebih tinggi lagi darinya karena terpancing emosinya.
"Sama, Renata juga males berdebat terus setiap hari sama Abang.!" Ucap Renata masih dengan suara tinggi.
"Nih.!" Ucapannya lagi sambil melemparkan satu buah amplop tepat dihadapannya.
"Apaan ini.?" Ucap Diki masih marah, sambil menatap kearah amplop tersebut.
"Abang buka aja sendiri.!" Ucap Renata menyuruhnya dengan suara yang masih ketus, sehingga Diki pun langsung buru-buru membukanya.
"Surat gugatan cerai.? Maksudnya.?" Ucap Diki bingung, karena menurutnya tidak mungkin kalau surat gugatan cerai tersebut darinya, karena ia sangat yakin kalau Renata istrinya yang sangat tergila-gila kepadanya itu tidak akan mungkin berani menggugatnya seperti itu.
"Itu gugatan cerai dari Renata.! Dan Renata rasa, rumah tangga kita ini udah cukup sampai disini.!" Ucap Renata lagi dengan jelas dan raut wajah yang masih sangat merah, kemudian ia pun langsung menarik kopernya dan membawanya pergi, karena ia berniat untuk pergi dan keluar dari rumah tersebut, dan tenyata ia pun sudah menyiapkan semuanya itu dari tadi pagi setelah ia meminta pendapat dari ibu Lia mamahnya.
"Ooohhh jadi kamu udah nyiapin semua ini dibelakang Abang.? Ok.! Kalau emang ini mau kamu.! Secepatnya kita akan ketemu di pengadilan.!" Teriak Diki dengan raut wajah yang penuh dengan emosi, karena ia benar-benar tidak terima digugat cerai olehnya seperti itu. Namun sayang, mendengar teriakkan dari Diki, Renata tidak menjawab dan tidak menghiraukannya, ia pun terus melangkah keluar dan pergi dari rumah tersebut, meninggalkan Diki suaminya itu hanya sendiri di dalam kamarnya.
"Ahhhhh Sial.!" Teriak Diki dengan raut wajah yang sangat pusing, sambil melempar surat gugatan cerai tersebut dengan kencang sehingga surat gugatan cerai tersebut pun terjatuh berserakan di lantai.
Beberapa hari kemudian,,,,,,
Setelah Renta menggugatnya cerai, ia dan Renata pun bolak-balik menjalani sidang ke pengadilan, hingga beberapa bulan kemudian mereka berdua pun akhirnya resmi bercerai, dan setelah mereka berdua resmi bercerai, Renta pun langsung pergi menghilang entah kemana dan hanya kedua orang tuanya yang tau kemana ia pergi dan menghilang. Sedangkan Diki pun langsung cepat-cepat menikahi Anita pujaan hatinya itu, hingga mereka berdua pun sekarang ini akhirnya resmi menikah.
7 TAHUN KEMUDIAN,,,,
Masih tanda ???????
__ADS_1
##########
Hadeuuuuh, kira-kira apa yah yang akan terjadi setelah 7 tahun kemudian.? 🤔🤔🤔