DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 31


__ADS_3

DI KAMAR DINDA.


Waktu menunjukkan pukul 09:00 Pagi.


Matahari terbit sudah cukup tinggi, alarm berbunyi sudah berkali-kali, akan tetapi Erik dan Dinda masih terus tertidur dengan sangat pulas.



Sepertinya mereka berdua sangat lelah dan capek, karena semalam mereka berdua habis bertempur di atas ranjang, akan tetapi karena Dinda merasa ada yang aneh dari bagian tubuhnya, akhirnya ia pun terbangun.


"Euuuummmm,,,," Suara Dinda terusik dari tidurnya, perlahan ia pun mencoba untuk membuka matanya.


"Aw.! Stttttt, aduuuuhhh.!"



Kata Dinda dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, sambil mereunyi kesakitan.


"Aw.! Aduh, aduh.! Kok ini Dinda sakit banget yah.?" Kata Dinda lagi sambil memegang pelan bagian bawahnya yang terasa semakin sakit dan perih.


"Loh, kok ini Dinda lecet sih.? Terus kok ini juga ada darah.?" Kata Dinda kaget dan bingung melihat bagian bawahnya lecet dan melihat cukup banyak bercak darah diselimut dan seprei kasurnya, melihat bercak darah yang lumayan banyak, dengan segera ia pun membangunkan Erik yang masih tidur disampingnya.


"Pak Erik bangun.! Pak Erik cepetan banguuuuuunnn.!" Kata Dinda panik dan ketakutan sambil menggoyang-goyangkankan tubuh Erik agar bangun.


"Euuuummmm, ada apa sih Diiin.? Saya masih ngantuuuk.?" Kata Erik dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, kemudian ia pun mencoba untuk tidur kembali, karena sekarang ini ia benar-benar masih sangat ngantuk.


"Iiiiihhhh pak Erik kok bobo lagi sih.? Pak Erik banguuuunnn.! Lihat dulu deh, ini kenapa banyak darah.? Dinda takuuut." Kata Dinda merengek ketakutan sambil menarik-narik tangan Erik.


Mendengar ucapan dari Dinda, seketika Erik pun langsung bangun dari tidurnya dan kemudian langsung beranjak untuk duduk.



"Dinda ada apa.? Apanya yang berdarah, kamu kenapa.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik, karena ia mengira Dinda terluka dan lukanya berdarah, ia bisa sepanik itu karena sepertinya sekarang ini ia benar-benar sangat menyayanginya.


"Itu pak Erik.! Banyak darah di kasur.?" Kata Dinda sambil menunjuk darah tersebut.



Setelah Erik melihat darah tersebut, ia pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Dindaaa, itu tuh darah kamu bekas semalam, udah kamu tenang aja yah.? Kamu enggak papa kok, mendingan kita bobo lagi yuk.! Saya masih ngantuk banget niiih.?" Kata Erik mencoba untuk menjelaskan kepada Dinda, kemudian ia pun langsung mengajak Dinda untuk tidur lagi.


Mendengar penjelasan dari Erik, Dinda pun lega, kemudian ia pun mengikuti perintahnya, dan langsung berbaring kembali disampingnya untuk tidur, namun disaat ia mencoba untuk tidur, tiba-tiba ia merasakan kebelet pengin buang air kecil, hingga akhirnya ia pun terbangun kemudian mencoba untuk berjalan menuju kamar mandi.


"Aw, aduuuuhhh.! Kok gw jalannya susah banget yah.? Ssstttt sakiiit." Kata Dinda mereunyi kesakitan, sambil berjalan dengan sangat pelan menuju kamar mandi karena ia benar-benar merasakan sakit dan perih dibagian bawahnya, kemudian setelah ia sampai di kamar mandi, ia pun langsung buru-buru mencoba untuk membuang semua air kecilnya.


"Aaaaaaaaaawwww.!" Teriak Dinda dengan suara yang sangat kencang, sehingga Erik yang sedang tidur pun terbangun dan langsung buru-buru melangkah menuju kamar mandi, tempat dimana suara triakan Dinda itu berasal.


"Dinda ada apa.? Kamu kenapa, hah.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik, karena ia benar-benar takut kalau sampai Dinda istrinya itu kenapa-napa.


"Pak Eriiiik, tadi pipis Dinda sakiiiiit, periiiiih.?" Kata Dinda merengek seperti anak kecil sambil terus mereunyi kesakitan.

__ADS_1


"Tadi kamu pipisnya sakit.? Terus sekarang kamu udah pipis belum.?" Kata Erik panik dan penuh perhatian.


"Udah.! Dinda udah pipis." Kata Dinda mencoba untuk menjawab pertanyaan Erik.


"Oh udaaah, syukur deh kalau gitu.? Ya udah ayo bobo lagi.?" Kata Erik lega sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung merangkul pundak Dinda dan melangkah menuju kasur, namun belum sempat ia melangkah, tiba-tiba langkahnya terhenti.


"Pak Eriiiiik, Dinda jalannya susaaah, sakiiiit.? Dinda enggak bisa jalan ke kasur, Dinda pengin digendooong." Kata Dinda merengek dengan sangat manjanya, sambil mengulurkan kedua tangannya kepada Erik.


Melihat tingkah laku istrinya yang sangat manja, Erik pun tersenyum.


"Eeemmm, manja banget sih kamu hah.?" Kata Erik sambil mencubit gemas hidung Dinda, kemudian ia pun langsung menggendongnya sampai diatas kasur.


Setelah menggendong Dinda, Erik pun langsung duduk di atas kasur tepat disampingnya, mereka berdua terlihat sangat romantis duduk berdua sambil ngobrol-ngobrol dan bercanda-canda.


"Gimana semalam, enak enggak.?" Kata Erik sambil tersenyum mengingat kejadian semalam bersama Dinda diatas ranjang.


"Enggak, biasa aja." Kata Dinda manja, dengan raut wajah merah karena malu.


"Eeemmm bohong niiiih.? Kalau enggak enak, kok semalam ini nya basah sih, hah.?" Kata Erik sambil tersenyum menatap kearah bagian bawah Dinda yang semlam memang sangat basah dan licin saat ia mainin.


"Iiiiiiihhhhh pak Eriiiiik.?" Kata Dinda merengek, karena ia benar-benar sangat malu.


"Kenapa emang, kamu malu yah.?" Kata Erik sambil terus tersenyum.


"E, e, enggak, Dinda enggak malu." Kata Dinda gugup karena ia berbohong.


Mendengar jawaban dari Dinda, Erik pun tersenyum.


"Pak Erik, kok kita bobo lagi.?"



Kata Dinda bingung.


"Emang kita enggak ke kam,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena ia kaget bukan main melihat jarum jam menunjuk kearah 10:00 pagi.


"Ya ampun pak Erik.! Ini itu udah siang bangeeettt.? Emang kita enggak ke kampus.?" Kata Dinda panik, sambil buru-buru mengambil handuk dan memakainya, kemudian ia pun langsung beranjak bangun.



Melihat Dinda terburu-buru seperti itu, Erik justru malah tersenyum.


"Kamu mau kemana buru-buru banget kayak gitu.?" Kata Erik dengan santainya.


"Ya mau mandi lah pak Erik.! Kita ini udah telat." Kata Dinda masih panik.


"Udah enggak papa.! Hari ini kita bolos." Kata Erik serius, karena sepertinya ia memang sudah merencanakan semua itu.


"Boloooos.? Pak Erik serius.?" Kata Dinda kaget dan tak percaya mendengar ucapan Erik, karena seperti yang kita tau, Erik itu adalah seorang Dosen yang sangat tegas dan disiplin.


"Iya sekarang kita bolos, lagian sekarang ini.? saya lagi pengin berduaan seharian di dalam kamar, bareng sama istri saya ini yang paliiiiinggg, cantik." Kata Erik serius, sambil tersenyum dan mencubit manja hidung Dinda, sepertinya ia masih belum puas dengan permainannya semalam bersamanya, sampai-sampai hari ini ia mengajaknya untuk bolos kuliah.

__ADS_1


"Lagian kamu juga kan jalannya susah, sakit, iya kan.?" Kata Erik lagi penuh perhatian.


"P, p, pak Erik, pak Erik beneran.? Pak Erik ngajak Dinda bolos.?" Kata Dinda gugup, karena ia benar-benar masih belum percaya, seorang Erik yang sangat disiplin mengajaknya bolos kuliah.


"Iya, hari ini kita bolos kuliah.! Saya lagi pengin berduaan di dalam kamar bareng sama istri saya yang cantik ini, kenapa.? Kamu enggak mau, hah.?" Kata Erik lagi sambil tersenyum, ia mencoba untuk meyakinkan Dinda kalau semua ucapannya itu benar.


"Eeeeemmm pak Eriiiiiik, Dinda mau berdua-duaan sama pak Erik Di dalam kamaaaaar.?" Kata Dinda sambil tersenyum dengan sangat manjanya.


"Eh tapi tunggu dulu deh.! Kok pak Erik tumben sih tiba-tiba nagajak Dinda bolos kuliah.? Bukanya pak Erik itu orangnya disiplin banget yah.? Taat sama aturan lagi, iya kan.?" Kata Dinda bingung, karena ia sangat tau sifat Erik suaminya itu seperti apa.


"Iya tapi itu dulu, sebelum saya kenal sama kamu.! Dan sekaraaang, setelah saya kenal sama kamu, semuanya jadi berubah, setiap saat saya jadi ingin selalu berduaan sama kamu tanpa ada aturan." Kata Erik sambil tersenyum menggoda Dinda.


"Iiiiiihhhhh pak Eriiiik, Dinda seneng banget pak Erik bisa romantis kaya gini sama Dindaaa.?" Kata Dinda manja, sambil tersenyum karena senang mendengar gombalan dari Erik.


Melihat istrinya tersenyum seperti itu, Erik pun langsung memeluknya dengan erat.


"Eeeemmmm, saya juga senang banget bisa buat kamu tersenyum seperti sekarang ini.? Selalu tersenyum seperti ini yah, disamping saya.?" Kata Erik pelan sambil menatap dalam wajah Dinda.


"Oh iya.! Biar tambah romantis lagi, jangan panggil saya pak yah.? Kamu panggil saya mas aja.!" Kata Erik lagi serius ingin merubah panggilan Dinda kepadanya, agar tidak terlalu kaku dan lebih enak untuk di dengar.


"Iiiiiiihhhhh kenapa pak Erik jadi romantis kaya gini sih.? Dinda suka kalau pak Erik romantis kaya giniiii.?" Kata Dinda semakin senang dengan perubahan sikap Erik kepadanya.


"Satu lagi.! Saya enggak mau denger, kamu ngomong pake bahasa loh, gue, yah.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda, sepertinya sedikit demi sedikit ia ingin merubah cara bicara Dinda agar terdengar lebih sopan.


Mendengar perintah dari Erik, Dinda pun langsung menganggukkan kepalanya.


"Iya." Kata Dinda singkat sambil tersenyum.


"T, t, tpi pak Erik, emang enggak papa Dinda panggil pak Erik, mas.? Nanti Dinda enggak sopan lagi sama pak Erik.?" Kata Dinda gugup karena ia ragu dengan perintah Erik yang satu ini.


"Udah enggak papa, kamu panggil saya mas aja.! Lagian kan sekarang ini kita udah menikah." Kata Erik mencoba untuk meyakinkan Dinda.


"Sekaraaang coba.! Suami kamu ini pengin denger, kamu panggil suami kamu ini mas.?" Kata Erik sambil tersenyum.


"Enggak mau, Dinda maluuu.?" Kata Dinda merengek karena ia benar-benar malu jika harus merubah panggilannya itu kepada Erik.


Mendengar kata-kata Dinda, Erik pun tersenyum.


"Kenapa maluuu.? Udah cepetan.! Suami kamu ini pengin denger." Kata Erik lagi menyuruh Dinda untuk memanggilnya mas.


"M, m, mas Erik.?" Kata Dinda pelan dan gugup, dengan raut wajah merah karena malu.


"Tuh kamu bisa panggil saya mas.? Sekaraaang, kamu panggil saya mas aja yah.?" Kata Erik sambil tersenyum.


Mendengar perintah dari Erik, Dinda pun langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum manja.


#########


Jangan lupa like coment vote dan rate yah.???


karena satu like dari kalian sudah cukup buat saya semangat untuk berkarya 🙏

__ADS_1


__ADS_2