DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 67


__ADS_3

"Apa loh bilang.? Lepasin.? Sampai kapanpun gw enggak akan pernah lepasin loh.! Gw enggak akan pernah sia-sia kan kesempatan ini." Kata Sania sambil terus mencoba untuk mendorongnya dari atas tangga.


"Hiks,, hiks,, kak Sania awas.! Hiks,, hiks,, jangan kaaak.! hiks,, hiks,, lepasin Dinda.! Hiks,, hiks,, kak Sania lepasin Dinda Kaaak.!" Teriak Dinda sambil terus menangis ketakutan dan terus berusaha untuk melepaskan diri dari Sania


Melihat Dinda menangis ketakutan seperti itu, alih-alih kasihan, Sania justru malah tertawa bahagia.


"Hahahahahha Dindaaa, Dinda, buat apa loh mohon-mohon sambil menangis kayak gini ke gw, hah.? Buat apa.? Percuma Dinda, percuma.!Semakin loh nangis ketakutan kayak gini.? Itu semua justru akan membuat tekad gw semakin bulat buat dorong dan menjatuhkan loh dari sin,,,,,,,,,," Seketika ucapan Sania terpotong.


"Tunggu.! Lepaskan Dinda.!" Teriak seseorang dari bawah tangga.


Mendengar suara teriakan tersebut, seketika Sania pun langsung menatap kearah dimana suara teriakan tersebut berasal.


"E, E, Erik.?" Kata Sania gugup dan kaget, sambil menatap kearah Erik yang baru saja sampai dan masuk ke dalam rumah dengan raut wajahnya yang penuh dengan emosi.



Erik kembali pulang ke rumah pak Irsyad, karena ia mau mengambil ponselnya yang ketinggalan.


"M, m, mas Erik.?" Kata Dinda yang juga gugup dan kaget melihat Erik suaminya yang secara tiba-tiba bisa kembali lagi pulang ke rumahnya, kemudian dengan segera ia pun langsung meminta tolong kepadanya.


"Hiks,, hiks,, mas Erik tolongin Dinda mas.! Hiks,, hiks,, Dinda takut mas Eriiik.? Hiks,, hiks,, Dinda takuuut.?"



Teriak Dinda tergesa-gesa, sambil memegangi erat perutnya.


"Lepasin Dinda.! Sekarang juga Cepat lepasin Dinda.!" Triak Erik dari bawah tangga, kemudian ia pun langsung mencoba untuk melangkah menghampirinya.

__ADS_1


"Jangan mendekat.! Selangkah saja mas Erik berani mendekat, gw pastikan sekarang juga Dinda akan jatuh kebawah.!" Teriak Sania sambil mencoba untuk mendorong Dinda kembali.


"Kak Sania jangan kak.! Kak Sania jangan dorong Dinda.! Dinda mohon kaaaak.?" Kata Dinda memohon sambil terus menangis.


"Mas Erik tolongin Dinda maaaaas.! Dinda takuuut.? Dinda takut mas Erik, mas Erik tolongin Dindaaaaa.!" Teriak Dinda lagi-lagi meminta tolong kepada Erik.


"Iya sayang, kamu tenang dulu.! Mas pasti akan tolongin kamu.! Mas pasti akan tolongin kamu." Kata Erik, ia mencoba untuk menenangkannya meskipun perasaannya sekarang ini pun sama seperti Dinda.


"Lepasin Dinda sekarang juga.! Saya bilang lepasin Dinda sekarang juga.!" Triak Erik penuh emosi, sambil melanjutkan langkahnya untuk menghampiri Dinda.


Melihat Erik melangkah mendekat ke arahnya dan Dinda, dengan segera Sania pun langsung mencoba untuk mendorong tubuh Dinda kembali.


"Jangan kak sania.! Lepasin Dinda kak.! Jang,,,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.


"Aaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh,,,,,,,,,," Teriak Dinda dengan begitu kencangnya, karena Sania berhasil mendorongnya.


"Tidak.! Dindaaaaaaaaaaaaa,,,,,,,,,," Teriak Erik panik, sambil berlari untuk menolongnya. Namun sayang, baru saja ia berlari sampai kira-kira di lima anak tangga, ia sudah melihat Dinda yang terjatuh dan terguling dengan sangat kuat dan berhenti tepat dibawah kakinya.


"Ya ampun sayang, kamu enggak kenapa-napa kan sayang.? Kamu enggak kenapa-napa kan.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik.


"Awwww sakit mas Eriiiiik.? Perut Dinda sakiiiiit, Dinda enggak kuat maaaasss.? Aduh sakit maasss.?" Kata Dinda menangis kesakitan, dengan keadaan yang sudah tidak karuan, sambil memegangi erat perutnya.


Melihat keadaan Dinda seperti itu karena ulahnya, Sania yang dari tadi masih berdiri di atas tanggapun hanya bisa terdiam.


"Apa yang baru saja gw lakukan.? Kenapa gw berani banget dorong Dinda di depan Erik.? Bagaimana kalau seandainya nanti Erik sampai laporin gw kepolisi.?" Kata Sania dalam hati panik dan ketakutan, sambil terus menatap kearah Dinda yang masih terus tergeletak kesakitan.


"Aw ! Stttttt sakit maaaas.? Ssssttttt perut Dinda sakiiiiit.?" Kata Dinda lagi-lagi menangis kesakitan.

__ADS_1


"Kenapa sayang, perut kamu sakit.? Ya udah sekarang kita ke dokter yah sayang.? Sekarang kita ke dok,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong, badannya pun tiba-tiba menjadi lemas dan tak berdaya.


"Ya ampun sayang, ini darah kamu keluar banyak banget sayang.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik, karena ia kaget bukan main melihat baju bagian bawah Dinda yang sudah basah dilumuri oleh darah yang keluar dari bagian sensitifnya dengan sangat banyak, bahkan saking banyaknya, darah tersebutpun sampai mengalir dan berceceran di tangga, kemudian dengan segera ia pun langsung memanggil bi Iroh asisten rumah tangganya.


"Bi Iroh, bi.! Cepetan kesini bi.! Cepetan bi.!" Triak Erik sambil buru-buru mengangkat dan menggendong tubuh Dinda menuju garasi mobil, ia memanggil bi Iroh, karena ia mau meminta tolong kepadanya, supaya bi Iroh memberi tahu pak Toni supir pribadinya untuk siap-siap membawa Dinda ke rumah sakit.


Mendengar teriakkan dari Erik, bi Iroh yang baru saja pulang dari pasar pun langsung melangkah menghampirinya.


"Iya bibi kesitu sekarang pak Erik, ada apa pak Erik, ada ap,,,,,,,,," Seketika ucapan bi Iroh terpotong, karena ia kaget bukan main melihat keadaan Dinda sekarang ini.


"Ya ampun non Dinda kenapa pak Erik.? Kenapa jadi banyak darah kaya gini.? Non Dinda kenapa pak Erik.? Non Dinda pendarahan.?" Kata bi Iroh tergesa-gesa dan panik, sambil menatap kearah bagian bawah baju Dinda yang sudah basah dilumuri oleh darah.


"Iya non Dinda pendarahan bi, cepetan kasih tau pak Toni bi.! Suruh pak Toni untuk siap-siap antar non Dinda ke rumah sakit sekarang juga bi.!" Kata Erik tergesa-gesa.


"Iya baik pak Erik.!" Kata bi Iroh, sambil buru-buru melangkah keluar menuju pak Toni dan di ikuti oleh Erik dari belakang.


"Aduh mas Erik sakit maaaaas.? Dinda enggak kuat mas, perut Dinda sakiiiiit.? Sakit maaaaas.?" Kata Dinda yang sekarang ini masih berada digendongan Erik.


"Iya sayang mas tau kamu sakit, tapi kamu harus kuat sayang.! Sekarang mas antar kamu ke rumah sakit yah sayang.? Mas antar kamu ke rumah sakit.! Kamu harus kuat sayang, kamu harus kuat yah.?" Kata Erik mencoba untuk menenangkan Dinda, sambil melangkah lebih cepat lagi menuju pak Toni supir pribadinya, hingga akhirnya ia pun berhasil menggendong Dinda sampai di dalam mobil tersebut.


Melihat semua orang sibuk mengurus Dinda, Sania yang sedang ketakutan pun, otaknya langsung berputar.


"Sekarang gw harus cepat-cepat kabur dari sini.! Iya, sekarang gw harus cepat-cepat kabur dari sini.! Mumpung semua orang sekarang lagi sibuk ngurusin Dinda, gw harus cepat-cepat kabur sekarang juga.! Sebelum Erik sadar dan melaporkan gw ke polisi." Kata Sania dalam hati, sambil buru-buru lari turun dari tangga, namun disaat ia sedang berlari, karena ia kurang hati-hati tak sengaja ia menginjak darah Dinda yang berceceran di tangga, sehingga ia pun terpleset dan terguling dari atas tangga kebawah dengan begitu kencangnya.


"Aaaaaaaahhhhhhhhhhhhhh,,,,,,,,," Teriak Sania dengan begitu kencangnya, karena ia merasakan sakit yang luar biasa dibagian tubuhnya, dan bukan hanya itu saja, dibagian belakang kepalanya pun terlihat berdarah dan mengalami luka yang sangat serius, karena saat ia terjatuh, dibagian belakang kepalanya itu terbentur dan menghantam tangga dengan sangat kuat.


"Suara teriakan siapa itu.?" Kata bi Iroh yang sedang menutup pintu gerbang untuk Dinda, kemudian dengan segera ia pun langsung melangkah menuju suara teriakan tersebut berasal.

__ADS_1


"Non Sania.?" Kata bi Iroh kaget bukan main melihat keadaan Sania yang sudah tergeletak dibawah tangga sambil kejang-kejang.


"Non Sania kenapa non.? Apa yang sebenarnya terjadi sama non.? Kenapa non Sania kejang-kejang kayak gini.? Non Sania jawab bibi non.! Non Sania bangun non.!" Teriak bi Iroh tergesa-gesa dan panik, sambil menggoyang-goyangkan tubuh Sania dengan sangat kuat agar terbangun, namun sayangnya Sania masih terus kejang-kejang.


__ADS_2