DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 44


__ADS_3

"Din loh kenapa Din.? Perut loh sakit lagi.?" Kata Ria dan Tika secara bersamaan, tergesa-gesa panik melihat keadaan Dinda seperti itu, meskipun sebenarnya mereka sudah sering melihat Dinda mereunyi kesakitan seperti sekarang ini, karena mereka memang sahabat terdekatnya, apalagi mereka dan Dinda sudah lama bersahabat, jadi mereka sudah tau jika menjelang menstruasi perut Dinda memang sering sakit-sakitan, tapi yang membuat mereka panik, baru kali ini mereka melihat Dinda kesakitan separah itu.


Mendengar pertanyaan dari Tika dan Ria, Dinda tidak menjawabnya, ia malah justru menangis.


"Hiks,,, hiks,,,, aduh sakiiiiiiit.? Hiks,,, hiks,, aw aduh, aduh.! hiks,, hiks,, sakiiiiit.?" Kata Dinda terus mereunyi kesakitan sambil memegangi erat perutnya, karena perut yang ia rasakan saat ini lebih sakit dari sakit perut yang ia rasakan semalam saat bersama Erik.


"Dinda loh kenapa.? Perut loh sakit lagi.? Ya udah, ya udah.! Kita ke dokter yah sekarang.?" Kata Tika semakin panik.


"Ya udah ayo ah.! Kita bawa ke dokter aja tik.? Enggak tega gw ngelihatnya." Kata Ria yang juga sangat panik melihat keadaan Dinda seperti itu, kemudian dengan segera ia dan Tika pun langsung membawanya ke rumah sakit


Satu jam kemudian,,,,,,,,


DI RUMAH SAKIT.


Terlihat Tika dan Ria yang sedang duduk diruang tunggu.


"Aduuuh gimana ini Tik.? Mana dokter Tia nya enggak ada lagi.? Kira-kira dokter yang ngerawat Dinda sekarang bisa enggak yah nyembuhin sakit Dinda.?" Kata Ria panik, karena dokter Tia yang tak lain adalah dokter pribadi keluarga pak Irsyad yang biasa merawat Dinda sedang tidak ada di rumah sakit tersebut, ia sedang bertugas di luar negeri, hingga ia pun menyuruh dokter Irvan keponakannya yang menggantikannya untuk sementara waktu sampai ia kembali ke Indonesia.


Dokter Irvan.



Dokter Irvan adalah Dokter yang sangat baik, lembut, sabar dan juga penyayang terhadap pasiennya, ia berusia 35 tahun, ia masih lajang dan ia juga pria yang tampan, namun jika dibandingkan dengan Erik, tetap Erik lah yang lebih tampan, ia juga adalah sosok dokter yang sangat santai, tidak seperti dokter-dokter pada mumumnya.


"Iya Tik, gw juga takut banget.? Tapi lebih baik sekarang kita berdoa aja, semoga Dinda enggak kenapa-napa." Kata Ria mencoba untuk tenang, meskipun sesungguhnya sekarang ini ia pun sangat panik, sama seperti Tika.


15 menit berlalu,,,,,,,


Terlihat Dokter Irvan yang keluar dari Ruang Rawat Dinda.


"Eehhh itu dokternya udah keluar.! Kita ke ruangan Dinda yuk sekarang.?" Kata Tika tergesa-gesa, sambil buru-buru melangkah masuk ke dalam ruang rawat Dinda dan diikuti oleh Ria dari belakang.


"Din loh udah mendingan.? Perut loh udah enggak sakit lagi kan.?" Kata Tika panik, sambil menatap kearah Dinda yang masih terbaring lemah di tempat tidurnya.


"Iya loh udah sembuh kan Din.?" Sambung Tika yang juga panik dengan keadaan Dinda sekarang ini.


"Kalian tenang aja.! Aku udah mendingan kok, cuma masih sedikit lemes aja." Kata Dinda pelan sambil tersenyum, ia mencoba untuk menenangkan kedua temannya itu.


Mendengar kata-kata Dinda, Ria dan Tika pun langsung menghela nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Syukur deh Din kalau udah mendingan.? Gilaaa.! Kita ini tadi panik banget tau ngelihat loh kesakitan kayak gitu.?" Kata Ria lega mendengar kabar dari Dinda.

__ADS_1


"Iya Din, tadi itu kita panik banget.? Tapi ya syukur deh kalau sekarang perut loh udah enggak sakit lagi." Kata Tika sambil tersenyum, karena ia pun sangat lega mendengar kabar dari Dinda.


"Oh iya, tapi ngomong-ngomong loh udah boleh pulang kan sekarang.?" Kata Tika lagi.


"Iya, aku udah boleh pulang kok sekarang, tapi aku enggak mau pulang dulu, soalnya aku mau nunggu hasil lab dulu, aku penasaran banget nih.! Sebenarnya aku ini sakit apa.? Soalnya akhir-akhir ini perut aku itu sering sakit-sakitan, apa lagi saat aku berhubungan sama pak Erik, rasanya tuh sakiiiit banget.!" Kata Dinda mencoba untuk memberi tahu kepada Ria dan Tika, kalau sakit perut yang ia rasakan bukan hanya saat menstruasi, akan tetapi saat berhubungan suami istri dengan Erik pun ia merasakannya.


"Yang bener loh Din.? Loh kesakitan saat loh berhubungan sama pak Erik.?" Kata Tika dengan suara tinggi karena kaget, mendengar ucapan dari Dinda.


"Kok bisa sih Din.? Bukanya rasanya itu enak yah.?" Kata Ria heran.


"Ssstttt.! Loh ngomong apaan sih.?" Kata Tika mencoba untuk menghentikan ucapan Ria.


"Oh iya Din, ngomong-ngomong pak Erik tau enggak nih.? Kalau loh sekarang lagi di rumah sakit.?" Kata Tika penasaran, sebenarnya Erik tau atau tidak dengan keadaan Dinda sekarang ini.


"Belum Tik, pak Erik belum tau kalau sekarang aku di rumah sakit, lagian aku juga enggak mau kasih tau pak Erik soal ini.! Soalnya aku enggak mau ngerepotin pak Erik terus, lagian kan kalian juga tadi denger, kalau pak Erik lagi banyak kerjaan di kantor, aku kasihan kalau harus nyuruh pak Erik balik lagi kesini, cuma untuk ngurusin aku." Kata Dinda serius, ia sengaja tidak mau memberi tahu Erik tentang keadaannya sekarang ini, karena ia tidak mau merepotkannya, apalagi ia sangat tau kalau sekarang ini pekerjaannya sangat banyak.


"Lagian juga tadi Dokter Irvan ngomong, kalau hasil lab nya sebentar lagi keluar, dan kalau hasil lab nya udah keluar, kan kita bisa langsung pulang.? Jadi enggak usah lah kasih tau pak Erik, kasihan dia kan lagi kerja." Kata Dinda lagi sambil tersenyum, sepertinya sekarang ini sedikit-sedikit ia sudah semakin dewasa.


Mendengar kata-kata Dinda, Tika pun langsung tersenyum.


"Eeeemmm Dindaaaaa, enggak nyangka deh.! Anak manja kaya loh.? Bisa sebijak ini jawabannya, pasti kamu sayang banget yah sama pak Erik.?" Kata Tika sambil tersenyum menggodanya.


"Ya gitu deh.!" Kata Dinda sambil tersenyum.


"Eeemmmm ganteng juga yah dokter yang ngerawat loh itu Din.?" Kata Ria lagi sambil tersenyum, meningkat wajah tampannya, karena seperti yang kita tau Ria itu sangat lemah dan mudah untuk jatuh cinta.


"Kebiasaan deh loh.! Ngelihat cowok tampan sedikit langsung bapeerrr.! Udah sering dibohongi cowok juga, masih aja enggak kapok-kapok loh.!" kata Tika heran dengan tingkah laku Ria.


"Ya biarin aja suka-suka gu,,,,,,," Belum sempat Ria menyelsaikan ucapannya, namun sudah terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Dokter Irvan masuk kedalam ruang rawat Dinda.


"Waahh dokter Irvan ganteng bangeeet.? Enggak papa deh enggak dapatin pak Erik, yang penting gw bisa dapetin dokter Irvan." Kata Ria dalam hati, sambil tersenyum menatap wajah tampan dokter Irvan yang sekarang ini sedang berdiri tepat di hadapan Dinda sambil membawa hasil lab ditangannya.


"Dok, emang saya sakit apa ya Dok.? Kok akhir-akhir ini perut saya jadi sering sekali sakit-sakitan.?" Kata Dinda tak sabar, karena sekarang ini ia benar-benar sangat penasaran sebenarnya penyakit apa yang membuat perutnya sering sakit-sakitan seperti sekarang ini.


Mendengar pertanyaan dari Dinda, Dokter Irvan tidak menjawabnya, ia hanya terdiam karena ia bingung bagaimana cara untuk menyampaikan hasil dari leb mengenai penyakitnya itu, karena ia benar-benar tidak tega untuk menyampaikannya.


"Dok, kok Dokter diam sih.? Tolong jawab Dok.! Sebenarnya saya sakit apa.?" Kata Dinda panik, karena ia sangat yakin, kalau sakit yang di deritanya itu pasti cukup serius.


Melihat Dinda yang seperti sangat memaksa, dengan berat hati, Dokter Irvan pun akhirnya mencoba untuk menjawabnya.


"Sebenarnyaaa, kamu ini mengidap penyakit Endometriosis, atau yang disebut dengan kista." Kata Dokter Irvan serius, kalau Dinda memang mengidap penyakit tersebut.

__ADS_1


"Apa dok.? Endometriosis atau kista.? Penyakit ini bahaya apa enggak dok.??" Kata Dinda penasaran, karena ia benar-benar tidak tau penyakit tersebut bahaya atau tidak untuknya.


Mendengar pertanyaan dari Dinda, Dokter Irvan pun langsung mencoba untuk menjelaskan, yang sejelas-jelasnya kepada Dinda tentang penyakitnya itu.



Belum sempat Dokter Irvan menjelaskan semuanya, namun sudah terpotong.


"Namun, namun apa Dok.?" Kata Dinda semakin panik, mendengar penjelasan dari dokter Irvan, karena ia sangat takut kalau sampai ia tidak bisa hamil, yang artinya ia tidak akan pernah bisa membahagiakan Erik sampai kapanpun.


"Namun saya tidak bisa menjanjikan kalau kamu bisa hamil." Kata Dokter Irvan pelan, karena ia benar-benar tidak tega untuk menyampaikan hal tersebut kepadanya.


"Apa.? Hiks,, hiks,, enggak mungkin Dok.! Hiks,, hiks,, ini semua enggak mungkin.! Hiks,, hiks,, enggak dok.! Hiks,, hiks,, enggak mungkin.!" Kata Dinda kaget dan syok sambil menggeleng-gelengkkan kepalanya, karena ia benar-benar tidak percaya mendengar ucapan dari dokter Irvan.


"Enggak, enggak mungkin dok.! Dinda pasti bisa hamil dok, Dinda pasti bisa hamil kan dok.?" Kata Tika yang juga kaget dan tak percaya mendengar ucapan dokter Irvan.


"Iya dok, pasti dokter bohong kan.? Dinda pasti bisa hamil kan dok.?" Sambung Ria yang juga sama-sama kaget dan tak percaya mendengar ucapan dari dokter Irvan itu, kemudian dengan segera Tika dan Ria pun langsung memeluk Dinda.


"Ssstttttttttttttt udah, udah jangan nangis Din.! Kamu yang sabar yah.? Kamu pasti bisa hamil." Kata Ria sambil mengusap-usap pundak Dinda, ia mencoba untuk menghiburnya.


"Iya Din, kamu yang sabar yah.? Kamu masih ada kemungkinan untuk hamil Din, kamu enggak usah sedih.!" Sambung Tika, ia juga berusaha untuk menghiburnya, meskipun sesungguhnya sekarang ini ia pun sangat sedih sama seperti Dinda.


"Hiks,, hiks,, mana mungkin aku hiks,, hiks,, enggak sedih.! Hiks,, hiks,, aku udah enggak akan hiks,, hiks,, bisa hiks,, hiks,, bahagiain mas Eriiiik." Kata Dinda sedih, dengan suara bergetar karena menangis.


Melihat Dinda menangis seperti itu, Dokter Irvan pun akan berusaha untuk membantunya.


"Kamu yang sabar yah.? Saya janji saya akan berusaha membantu kamu.! Sebisa dan semampu saya, karena apa kata teman kamu itu benar, kamu masih ada kemungkinan untuk bisa hamil.? Yaaaa, meskipun kemungkinan itu sangat kecil, tapi kita harus berusaha." Kata Dokter Irvan mencoba untuk menguatkannya.


Mendengar kata-kata dari Dokter Irvan, Dinda tidak menjawabnya, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan keadaan yg masih terus menangis.


Melihat Dinda menganggukkan kepalanya, Dokter Irvan pun tersenyum.


"Ya udah, sekarang saya keluar dulu yah.? Soalnya masih ada pasien lain yang sedang menunggu, dan sekarang kamu juga udah boleh pulang.!" Kata Dokter Irvan, kemudian ia pun langsung melangkah keluar meninggalkan Dinda dan teman-temannya didalam ruangannya.


"Din, kita pulang yuk.? Apa loh mau telpon pak Erik, biar pak Erik jemput loh.??" Kata Tika pelan dan penuh perhatian.


"Jangan Tik, jangan telpon pak Erik.! Aku enggak mau pak Erik sampai tau tentang penyakit aku ini.? Lagian aku juga enggak mau nyusahin pak Erik, dan satu lagi.! Jangan pernah yah, kalian kasih tau pak Erik tentang penyakit aku ini." Kata Dinda serius, kalau ia memang ingin merahasiakan penyakitnya itu dari Erik, karena ia tidak mau merepotkannya.


"Tapi Din, pak Erik itu kan suami loh Din.? Dan pak Erik itu harus tau tentang penyakit loh ini." Kata Tika tidak setuju dengan ucapan Dinda.


"Iya Din, loh itu enggak seharusnya merahasiakan penyakit loh ini dari pak Erik, lagian pak Erik itu enggak akan pernah merasa direpotkan Din.? Tadi aja waktu di kelas, gw lihat pak Erik seperhatian itu kok sama loh.! Bahkan pak Erik juga kayak khawatir banget dengan keadaan loh, sampai-sampai pak Erik bela-belain beli obat buat loh.! Iya kan.?" Kata Ria yang juga tak setuju mendengar ucapan Dinda.

__ADS_1


"Aku mohon sama kalian, pleaseeeeee.! Jangan kasih tau pak Erik tentang penyakit aku ini.? Aku bener-bener mohon sama Kalian.!" Kata Dinda sambil memohon dengan raut wajah yang sangat melas.


Mendengar Dinda yang lagi lagi memohon seperti itu, akhirnya Tika dan Ria pun menuruti kemauannya.


__ADS_2