DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 60


__ADS_3

Pagi pun tiba,,,,,,,,


MASIH DI RUMAH DEVANO.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 Pagi.


Terlihat Alana yang sedang sibuk menyiapkan sarapan untuk Devano suaminya, yang hendak berangkat ke kantor.


"Mas Devano pengin rasa apa Rotinya.? Rasa coklat aja yah.?"



Ucap Alana yang dari tadi masih sibuk menyiapkan sarapan tersebut tanpa menoleh ke arah Devano sedikit pun, sehingga Devano yang sedang duduk di sampingnya pun tersenyum.


"Mas kenapa senyum-senyum.?" Ucap Alana sambil memberikan sarapan tersebut kepadanya.


"Enggaaak.! Mas cuma seneng aja sayang, diperhatiin terus kayak gini setiap hari sama kamu.!" Ucap Devano.


"Makasih yah sayang, kamu udah mau repot buat mas.?"



Ucapnya lagi sambil tersenyum menatap kearahnya.


"Mas itu ngomong apa sih.? Alana ini kan istri mas.! Jadi udah kewajiban Alana dooong buat ngelayanin mas.! Kan mas juga udah rela capek buat Alana, mas udah rela kerja setiap hari buat Alana, bahkan kadang-kadang mas juga sampai lembur lagi kerjanya." Ucap Alana sambil tersenyum, dengan dewasanya ia menjawabnya seperti itu, sehingga membuat Devano pun terkesan mendengarnya.


"Eeemmm makasih yah sayaaang.?" Ucap Devano sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung menyuruhnya untuk duduk di pangkuannya.


"Sini.!" Ucapnya lagi sambil menariknya menuju pangkuan.


"Kenapa maaas.?" Ucap Alana yang sekarang ini sudah berada di pangkuan tersebut.


"Enggaaak.! Mas cuma mau nanya, nen kamu masih sakit enggak.?" Ucap Devano pelan dan penuh perhatian, sambil mengusap-usap rambutnya.


"Iya masih sakiiiit." Rengek Alana dengan manjanya, sehingga Devano pun tersenyum dibuatnya.


"Ya udah, nanti siang jam istirahat mas jemput yah.? Kita berobat ke rumah sakit." Ucap Devano serius.


"Iya mas." Ucap Alana sambil menganggukkan kepalanya.


"Ya udah mas.! Udah siang, mas cepetan sarapan.! Nanti tekat loh." Ucap Alana sambil buru-buru beranjak dari pangkuannya itu, namun baru saja ia beranjak, tiba-tiba ia terjatuh lagi kepangkuan Devano.


"Aw.! Ssstttt, aduh mas.! Kepala Alana pusing bangeeet." Ucap Alana kepusingan sambil memegangi kepalanya, kemudian ia pun langsung mual-mual. Hoek.! Hoeeeek.!


"Aduuuh.! Kok perut Alana juga mual banget sih mas.?" Ucapnya lagi dengan keadaan wajah yang sangat pucat, namun entah apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


"Sayang, kamu kenapa sayang.? Kamu enggak papa kan.? Kita ke Rumah Sakit sekarang aja yah sayang yah.?" Ucap Devano tergesa-gesa karena saking paniknya melihat keadaan Alana istri tersayangnya seperti itu.


"Aw.! Ssstttt enggak usah mas.! Alana cuma butuh istirahat aja, mungkin Alana kecapekan." Ucap Alana sambil terus memegangi kepalanya karena merasakan pusing dan mual yang luar biasa.


"Beneran sayang, kamu enggak papa.?" Ucap Devano masih panik.


"Ia mas beneran, Alana enggak papa.! Nanti siang aja kita berobatnya." Ucap Alana serius.


"Ya udah yah mas, Alana mau ke kamar dulu istirahat, soalnya kepala Alana ini masih pusing banget, perut Alana juga masih mual." Ucapnya lagi sambil meringis kepusingan memegangi kepalanya.

__ADS_1


"Ya udah, ya udah.! Ayo mas anter." Ucap Devano tergesa-gesa sambil buru-buru berdiri dan memapahnya menuju kamar.


DI KANTOR PAK ERIK.


Waktu menunjukkan pukul 09:00 Pagi.


Terlihat pak Erik yang lagi-lagi sedang menasehati Diki, yang baru saja keluar dari ruangan meeting.


"Kamu ini kenapa sih Dik.? Sebenarnya kamu ini lagi ada masalah apa.? Kemarin kan saya udah ingatin sama kamu.! Bisnis ini itu bisnis besar-besaran, dan saya itu udah percayakan semuanya ini sama kamu.! Jangan sampai gagal. Tapi kok bisa-bisanya semuanya ini malah gagal. Kamu ini lagi ada masalah apa sih sebenarnya dari kemaren.?" Ucap pak Erik kesal karena ia sangat kecewa dengan cara kinerja Diki sekarang ini yang sangat amburadul, sepertinya ia tidak tau kalau Diki seperti itu karena sedang memikirkan hubungan pertemanannya dengan Devano putranya, karena dari sejak mereka berantem, ternyata Diki pun sama seperti Devano, ia tak henti-hentinya bengong dan tidak fokus dalam segala hal, dan itu sebabnya sekarang ini ia sampai gagal melaksanakan perintah dari pak Erik.


"M, m, maaf pak.!" Ucap Diki singkat dan gugup dengan raut wajah yang sangat bersalah.


"Ya udah, sekarang kamu lanjutkan kerjaan kamu yang lain.!" Ucap pak Erik dengan tegas, kemudian ia pun langsung melangkah pergi meninggalkan Diki diruangan kerjanya itu.


"Aaaahhhh SIAL.! Kenapa semuanya jadi kayak gini sih.?" Teriak Diki sambil menggebrak meja kerjanya dengan kencang, sehingga rekan-rekan kerja yang lain pun kaget dan terbengong melihatnya, kemudian ia pun langsung pergi keluar dari kantor tersebut entah kemana.


DI DISKOTIK.


Terlihat Diki yang dari tadi sedang duduk termenung di tempat tersebut


"Kenapa semuanya jadi kayak gini sih.?"



Ucap Diki dalam hati bingung, mengapa hidupnya sekarang ini jadi hancur seperti ini. Iya Diki, karena ternyata tadi ia memang pergi ke tempat tersebut, tujuan yaitu untuk menenangkan pikirannya yang sekarang ini sedang kacau.


"Aaahhh udah lah.! Pusing gw." Ucapnya lagi dalam hati kesal, kemudian ia pun langsung tak henti-hentinya menenggak minuman beralkohol, sehingga keadaannya sekarang ini pun mabok parah.


"Bang dua botol lagi Bang.!" Teriak Diki dengan keadaan beler.


"Aaahhh udah diem loh.! Gw ini sekarang lagi pusing banget." Ucap Diki, kemudian ia pun langsung menenggak lagi dua botol minuman beralkohol tersebut satu persatu sampai habis. Setelah itu, dengan keadaan sempoyongan ia pun melangkah pergi keluar dari diskotik tersebut entah kemana.


"Woy.! Loh mau kemana Dik.?" Teriak salah satu temannya itu heran.


"Cabut gw Bro.!" Teriak Diki dengan keadaan yang masih sempoyongan, sambil terus melangkah keluar dari diskotik tersebut meninggalkan temannya itu.


"Udah gila kali yah itu anak.! Enggak biasanya dia mabok, bukannya itu anak udah insyaf yah.? Ada masalah apa yah sama itu anak.! Sampai bisa mabok parah kayak gitu.!" Ucap salah satu temannya itu penasaran dan heran, karena setahunya Diki dan Devano itu sudah sama-sama insyaf dari dulu, dan sudah berjanji tidak akan meminum minuman beralkohol lagi.


DI RUMAH SAKIT.


Waktu menunjukkan pukul 11:30 Siang.


Terlihat Renata yang dari tadi sedang sibuk memeriksa pasien-pasiennya.


"Iya Bu, ada keluhan apa yah dengan kandungannya.?" Ucap Renata dengan sangat ramah.


"Ini Bu, perut saya kadang-kadang suka kram sebelah kenapa yah Bu.? Terus kadang-kadang juga suka keluar darah sedikit dari ini saya Bu." Ucap salah satu pasiennya, ia mencoba untuk menjelaskan apa keluhannya itu.


"Oh itu, itu bisa jadi karena mungkin ibu ini terlalu banyak ger,,,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong, karena tiba-tiba ponselnya bergetar karena ada yang menelepon.


"Maaf, saya tinggal sebentar yah Bu.! Saya mau angkat telepon dulu." Ucap Renata dengan sangat sopan, sambil melangkah menjauh dari pasiennya itu, kemudian ia pun langsung buru-buru mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang menelponnya.


"Bang Diki.?" Ucapnya dalam hati kaget dan heran, sambil membaca tulisan yang tertera di layar ponselnya itu.


"Ada apa yah siang-siang kayak gini bang Diki telepon gw.? Tumben banget, giliran kemarin aja gw teleponin enggak mau ngangkat-ngankat." Ucapnya lagi dalam hati penasaran, namun ia juga sedikit kesel karena kemarin Diki tidak mau mengangkat telepon darinya.

__ADS_1


"Ya udah ah.! Gw coba angkat aja, siapa tau aja penting." Ucapnya lagi dalam hati, kemudian ia pun langsung buru-buru mengangkat telepon tersebut.


"Iya hallo Bang Diki, ada apa.?" Ucap Renata via telepon.


"Yank, bisa enggak kita ketemuan sebentar.?" Ucap Diki dengan suara yang sedikit ngaco, karena keadaannya sekarang ini masih mabok, tanpa basa-basi ia mengajaknya untuk ketemuan, sehingga membuat Renata pun langsung terdiam karena saking kagetnya.


"Apa.? T, t, tadi Bang Diki ngomong apa.? Bang Diki ngajakin gw ketemuan.? Gw enggak salah denger kan ini.! Gw enggak lagi mimpi kan.?" Ucapnya dalam hati tak percaya, sambil tersenyum karena saking senangnya, Diki pujaan hatinya itu mengajaknya untuk ketemuan.


"Hallo, Yank.? Kok kamu diem aja, bisa kan kita ketemuan.?" Ucap Diki lagi-lagi memintanya untuk ketemuan, namun entah apa yang sebenarnya akan ia lakukan kepadanya.


"I, i, ia Bang.! Bisa, bisa, bisa." Ucap Renata gugup dan tergesa-gesa karena saking senangnya.


"Oh iya Bang.! T, t, tapi kapan ketemuannya.? Kalau sekarang kayaknya Renata enggak bisa deh.! Soalnya sekarang ini Renata lagi banyak banget pasien." Ucap Renata mencoba untuk menjelaskan keadaan pekerjaannya sekarang ini kepadanya.


"Tapi Abang pengin ketemuannya sekarang.!" Ucap Diki dengan jelas.


"T, t, tapi Bang, kayaknya Renata enggak bisa deh kalau sekarang.! Gimana kalau nanti malam aj,,,,,,," Seketika ucapan Renata terpotong.


"Pelasseee, Abang mohon.! Ketemuan sekarang yah.? Sebentaaaar aja.!" Ucap Diki memohon dengan suara yang sangat melas, sehingga Renata yang mendengarnya pun kasihan.


"Ya udah deh Bang, kalau gitu Renata usahain yah.?" Ucap Renata.


"Oh iya, tapi ketemuannya dimana Bang.?" Ucapnya lagi.


"Sekarang kamu lagi dimana.?" Ucap Diki mencoba untuk menanyakan keberadaannya.


"Sekarang Renata lagi di rumah sakit, tempat Renata kerja Bang." Ucap Renata mencoba untuk memberi tahu keberadaannya itu.


"Ya udah, nanti Abang yang kesitu.! Kamu tungguin Abang diparkiran mobil yah.?" Ucap Diki serius, sehingga membuat Renata pun lagi-lagi kaget dibuatnya.


"A, a, apa.? T, t, tadi Bang Diki ngomong apa.? Bang Diki mau kesini samperin Renata.? Yang bener Bang.?" Ucap Renata gugup dan tak percaya, sambil tersenyum karena saking senangnya Diki pujaan hatinya itu mau berkunjung menemuinya ditempat ia bekerja.


"Iya Abang mau kesitu.!" Ucap Diki mencoba untuk meyakinkannya.


"Ya udah yah.? Abang langsung On the way kesitu nih.!" Ucap Diki serius.


"I, i, iya Bang, ati-ati.!" Ucap Renata gugup sambil tersenyum karena saking senangnya, kemudian ia pun langsung buru-buru memutuskan sambungan telepon tersebut.


"Tadi gw enggak salah denger kan.? Sekarang Bang Diki mau kesini samperin gw.? Kira-kira Bang Diki mau ngapain yah.? Apa Bang Diki mau ngersemiin hubungannya sama gw.?" Ucap Renata dalam hati masih tak percaya sambil terus tersenyum.


"Eeemmm kalau sampai semua itu benar, Bang Diki sampai ngersemiin hubungannya sama gw, gw akan langsung kenalin Bang Diki ke teman-teman Dokter gw yang lain.! Biar mereka semua tau, kalau sekarang ini gw enggak jomblo lagi, biar mereka semua juga berhenti goda-godain gw, jodoh-jodohin gw sama kenalan-kenalannya, biar mereka juga tau kalau pacar gw, yang namanya Bang Diki, itu ganteeeeng banget."



Ucapnya lagi dalam hati sambil terus tersenyum, ia berbicara seperti itu karena memang benar, selama ini ia selalu digoda-godain dan dijodohin-jodohin oleh teman-teman Dokter yang lain lantaran ia yang menjomblo terus-menerus.


#########


Haduuuh.! Kira-kira Diki mau ngapain yah nemuin Renata di Rumah Sakit.?


Mungkinkah benar dugaan Renata, kalau Diki ke rumah sakit untuk meresmikan hubungannya yang tidak jelas itu.?


Jangan lupa like coment dan vote.!


Maaf jika visualnya kurang pas 🙏

__ADS_1


__ADS_2