DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 37


__ADS_3

Mendengar bisikan dari Erik, seketika Dinda pun langsung menatap kearah di mana orang tersebut berada.


"Tika.?" Kata Dinda dalam hati kaget dan panik melihat Tika yang sedang berdiri tepat didepan mobil Erik.


"Aduuuh.! Bodoh banget sih aku ini.? Kenapa sih aku enggak sadar kalau dari tadi ada Tika.? Kalau kayak gini bisa gawat nih.? Mau ditaruh dimana muka aku.? Mana tadi aku lagi yang peluk-peluk mas Erik, bukan mas Erik yang peluk aku, kan kelihatanya aku ini perempuan murahan bangeeet, aduuuh gimana nih.? Aku harus ngomong apa sama Tika.?" Kata Dinda lagi dalam hati semakin panik, karena sekarang ini ia benar-benar merasa sangat malu, dengan apa yang baru saja ia lakukan kepada Erik.


"Dinda.?" Kata Tika sambil menggelengkan kepalanya, dan menatap kearah Dinda yang juga sedang menatapnya.


Melihat Tika menatapnya seperti itu, seketika Dinda pun langsung turun dari pangkuan Erik dan duduk kembali di tempat duduknya, dengan raut wajah panik bercampur malu, sehingga Erik yang melihatnya pun tersenyum.


"Kamu kenapa.? Kamu malu yah.?" Kata Erik sambil terus tersenyum, ia berbicara seperti itu karena sekarang ini ia sangat tau apa yang sedang Dinda rasakan.


"Iya mas Erik, Dinda maluuuu.? Dinda enggak tau harus ngomong apa sama Tika, pokonya Dinda maluuuu." Kata Dinda sambil merengek


"Udah kamu tenang aja, kamu enggak usah malu.! Lagian kamu ini kan enggak salah, kamu kan peluk suami kamu sendiri bukan peluk orang lain.? Yang harusnya malu itu orang di luran sana tuh.! Yang masih pada pacaran, tapi udah pada ciuman, udah pada bikin Dede lagi, iya kan.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum, ia mencoba untuk menenangkan Dinda.


"Ya udah, lebih baik sekarang kamu turun.! Terus kamu temui Tika, kasihan tuh.! Dari tadi dia udah nungguin kamu." Kata Erik lagi sambil menunjuk ke arah Tika yang dari tadi masih berdiri menunggu Dinda di depan mobilnya.


"T, t, tapi mas, Dinda mal,,,,,,," Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.


"Ssssssttttt.! Udah enggak usah malu, ayo keluar.! Lagian sekarang udah siang, entar telat lagi." Kata Erik mengajak Dinda keluar dari mobilnya, karena memang hari sudah semakin siang.


"I, i, iya mas." Kata Dinda gugup, sambil buru-buru ikut melangkah keluar dari mobil bersama Erik.


Melihat Erik dan Dinda keluar dari mobil, dengan segera Tika pun langsung melangkah menghampiri mereka.


"Maaf yah pak Erik.? Saya mau ajak Dinda dulu.!" Kata Tika sopan, sambil menarik tangan Dinda dan mengajak nya pergi menjauh dari Erik.


"E, e, ehhhh Tik, mau ngapain.? Pegangnya pelan-pelan.! Tangan aku sakit." Kata Dinda gugup, sambil berjalan mengikuti langkah kaki Tika, karena Tika masih terus menarik tangannya.


Melihat tingkah laku mereka berdua, Erik hanya tersenyum, kemudian ia pun langsung melangkah pergi menuju ruangannya.

__ADS_1


DI RUANG KELAS DINDA.


Terlihat Tika yang masih terus menarik tangan Dinda sambil masuk kedalam ruang kelasnya.


"Aduh Tika lepasin sakit.?" Kata Dinda mereunyi kesakitan karena dari tadi Tika menarik tangannya cukup kuat.


Melihat Dinda mereunyi kesakitan seperti itu, dengan segera Tika pun langsung melepaskan tangan Dinda dari genggamannya, kemudian ia pun langsung menatap wajah Dinda dengan tatapan yang sangat tajam.


"Dinda,,,,,,," Belum sempat Tika menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.


"Tikaaaa, jangan kasih tau siapa-siapaaaa.? pleaseeeeeee banget yaah.?" Kata Dinda sambil merengek dan memasang wajah melas.


"Dinda, loh udah gila yah.? Loh sadar apa enggak sih apa yang baru saja loh lakuin sama pak Erik.? Lagian emang loh sama pak Erik pacaran.?" Kata Tika heran melihat tingkah laku Dinda seperti itu.


"Aku sama pak Erik enggak pacaran, tapi aku sama pak Erik itu uda,,,,,,,,," Belum sempat Dinda menyelsaikan ucapannya, namun sudah terpotong.


"Apa.? Loh sama pak Erik enggak pacaran.? Kayaknya loh ini benar-benar udah gila kali yah Din.? Kalau loh enggak pacaran sama pak Erik, terus ngapain loh tadi cium-cium, peluk-pelukkan sama pak Erik.? Pake acara pangku-pangkuan segala lagi kaya anak kecil, lagian gw heran deh sama loh, bukanya loh sama pak Erik itu musuhan yah.?" Kata Tika dengan suara tinggi sambil marah-marah, ia marah-marah seperti itu, karena ia takut kalau Erik cuma memanfaatkan kecantikan dan tubuh seksi Dinda, seperti para lelaki yang sudah-sudah.


"Ya udah cepetan deh loh jelasin.!" Kata Tika sewot.


"Sebenarnyaaaa, aku sama pak Erik itu.? Eeemmm,,,,,,,," Seketika Dinda pun terdiam.


"Emm, emmm apa.?" Kata Tika semakin sewot.


"Aku sama pak Erik itu udah menikah, dan aku sama pak Erik udah lama ko menikahnya." Kata Dinda mencoba untuk jujur.


"What.? Loh sama pak Erik sudah menik,,,,,," Seketika ucapan Tika terpotong oleh, karena tiba-tiba Dinda langsung membekap mulut Tika menggunakan tangannya.


"Ssssssttttt.! Loh itu berisik banget sih.? Jangan kenceng-kenceng ngomongnya, kalau yang lain pada denger gimana.?" Kata Dinda panik dan ketakutan kalau sampai teman-teman yang lain tau tentang pernikahannya itu dengan Erik, kemudian ia pun perlahan membuka bekapan tangannya dari mulut Tika.


"Dinda loh serius udah nikah sama pak Erik.? Sejak kapan.? Bukanya loh sama pak Erik itu enggak pernah akur yah.?" Kata Tika kaget dan tak percaya dengan pengakuan Dinda.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan, loh diperkosa sama pak Erik.? Terus loh terpaksa deh nikah sama pak Erik.? Secara pak Erik itu kan tinggal di rumah loh." Kata Tika sambil mencoba untuk menebak apa alasan Dinda bisa mau menikah dengan Erik musuhnya itu.


"Gila yah loh.? Bukan kayak gitu, biar aku jelasin dulu makanannya." Kata Dinda tak habis pikir dengan cara berpikir Tika.


"Ya udah cepetan jelasin.! Gw penasaran nih.!" Kata Tika tak sabar.


Melihat Tika yang sudah tidak sabar seperti itu, dengan segera Dinda pun menjelaskan semua tentang awal mula mengapa dirinya bisa menikah dengan Erik.


"Ya ampuuuun loh dijodohin sama pak Erik Din.? Kenapa pak Erik dijodohinnya enggak sama gw aja yah.?" Kata Tika kaget, sambil tersenyum membayangkan betapa bahagianya jika ia yang dijodohkan dengan Erik.


"Iiiiiiihhhhh apaan sih kamu.?" Kata Dinda tak terima Tika berbicara seperti itu.


"Ya iya Din, secara pak Erik itu kan ganteng bangeeeeett.? Udah ganteng, dewasa, tegas, disiplin lagi.! Iiiiiiihhhhh pokonya pak Erik itu bener-bener tipe gw banget lah, suami idaman." Kata Tika sambil terus tersenyum membayangkan betapa senangnya jika ia menjadi istri Erik.


"Iiiiiihhhhh Tikaaaa.! Kok kamu ngomong kayak gitu mulu sih.? Pak Erik itu kan suami aku.?" Kata Dinda sambil merengek manja.


"Eeemmm cemburu niiih.? Iya deh iya, gw enggak ngomong kayak gitu lagi." Kata Tika sambil tersenyum menggoda Dinda.


"Eeeehh tapi tunggu dulu deh Din.! Kata loh kan, loh dulu enggak suka tuh sama pak Erik, dan loh menikah sama pak Erik juga kan karena terpaksa, karena dijodohin.? Tapi gw puji-puji pak Erik loh kok kaya enggak rela gitu sih.? Terus tadi juga waktu di mobil, gw lihatnya loh deh yang agresif banget sama pak Erik.?" Kata Tika penasaran.


"Iya Tik, awalnya sih aku emang enggak suka sama pak Erik, malahan aku benci banget sama pak Erik, tapi semakin kesini, semakin kesini, ternyata pak Erik itu orangnya baiiiiiiiik banget, buktinya kemaren aja waktu aku sakit enggak bisa jalan, aku digendong sama pak Erik, kalau aku mau ke kamar mandi, kalau aku mau kemar, Eeeemmm pokonya pak Erik itu perhatiaaaaaan banget." Kata Dinda sambil tersenyum membayangkan betapa baik dan perhatiannya Erik kepadanya kemarin, saat ia sakit dan susah untuk jalan karena ulahnya, sepertinya Dinda keceplosan berbicara seperti itu kepada Tika.


Mendengar kata-kata Dinda, Tika pun tersenyum.


"Cieeeeee jadi loh kemarin bolos dari kampus, karena loh sakit enggak bisa jalan.? Ngomong-ngomong, kalau boleh tau nih yah.? Loh diapain aja sama pak Erik samapi-sampai loh enggak bisa jalan gitu.?" Kata Tika sambil tersenyum menggoda Dinda, ia menggodanya seperti itu, karena ia tau apa yang menyebabkan Dinda bisa susah untuk jalan.


"Iiiiiihhhhh apaan sih.? Aku enggak ngapa-ngapain sama pak Eriiiiik." Kata Dinda dengan raut wajah merah karena malu.


"Biasa aja kali, enggak usah malu.? Kaya sama siapa aja." Kata Tika lagi sambil tersenyum.


"Oh iya Din, tapi ngomong-ngomong gimana tuh rasanya, enak enggak.?" Kata Tika sambil terus tersenyum menggodanya, ia sengaja berbicara seperti itu karena ia ingin memancingnya, supaya Dinda mau mengakuinya kalau dia dan Erik memang sudah pernah melakukan hubungan suami istri.

__ADS_1


"Rasanyaaaa, gimana yah.? Ya kayak gitu deh.! Susah diceritainnya." Kata Dinda sambil tersenyum membayangkan betapa nikmatnya permainan dari Erik semalam.


__ADS_2