DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 70


__ADS_3

DI RUMAH SAKIT.


Waktu menunjukkan pukul 00:30 malam.


Terlihat Dinda yang sedang tertidur dengan pulas di tempat tidurnya, karena sejak Erik menyuruhnya untuk istirahat ia langsung istirahat dan kemudian tidur.


Dinda tidur diruang rawatnya yang baru, karena kondisinya yang semakin membaik, akhirnya ia pun dipindahkan dari ruangan sebelumnya menuju ruang rawat inap.


Sedangkan Pak Irsyad, Ibu Yuli, Pak Edi dan juga Ibu Sari, terlihat sudah tidak ada diruangan tersebut, mereka semua tidak mau mengganggu istirahat Dinda, jadi mereka semua memilih untuk pulang, akan tetapi tidak dengan Erik, ia terlihat masih setia menemani Dinda yang sedang tidur ditempat tidurnya.


Namun karena hari semakin malam dan Dinda pun sudah tidur dengan pulas, Erik yang memang belum istirahat sama sekali dari kejadian Dinda terjatuh ditangga pun akhirnya memilih untuk istirahat dan tidur disamping tempat tidurnya.


Namun baru saja Erik tidur, Dinda justru terbangun, kemudian ia pun langsung membangunkannya dari tidurnya.


"Mas Erik bangun maaas.! Dinda dingiiiiin, mas Erik, Dinda dingiiiiin, bangun maaass.!" Kata Dinda kedinginan.


Mendengar suara Dinda membangunkannya, seketika Erik pun langsung bangun.


"Sayang, kamu kenapa.? Kok kamu bangun sih.?" Tanya Erik panik.


"Mas Erik jangan bobo disituuu.! Mas Erik bobo disini temenin Dindaaa, Dinda dingiiiiin." Jawab Dinda merengek.


Mendengar kata kata Dinda, dengan segera Erik pun langsung menghampirinya dan duduk di sampingnya.


"Kenapa.? Kamu kedinginan sayang, hah.?" Tanya Erik pelan.


"Iya Dinda dinginnnn, mas bobo disini aja sama Dindaaa.! Dinda pengin dipeluuuk.? Dingin maaaas.?" Jawab Dinda, ia menyuruh Erik untuk tidur di tempat tidurnya karena ia memang benar-benar kedinginan.


"Eeeeemmmm kasihaaaan, istri mas kedinginaaan, hah.?" Kata Erik pelan dan penuh perhatian.


"Ya udah.! Mas bobo disini yaaaah.? Temenin kamu." kata Erik lagi, sambil naik ke atas tempat tidur Dinda, dan berbaring di sampingnya, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan begitu erat.



"Eeeemmm kedinginan nih istri m,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong.


"Sayang.! Kok badan kamu panas sih.? Kamu demam sayang.?" Kata Erik panik sambil memegang jidat Dinda yang memang sangatlah panas, sepertinya sekarang ini ia sedang demam.

__ADS_1


"Iya maaas, badan Dinda juga dingin bangeeeeet.?" Kata Dinda masih kedinginan.


Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun langsung mengeratkan pelukannya.


"Awww sakit maaass.? pelan-pelan peluknyaaaa.!" Kata Dinda sambil meruenyi kesakitan, sehingga Erik pun semakin panik dan langsung melepaskan pelukannya.


"Sayang kamu kenapa.? Apanya yang sak,,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong, karena ia melihat baju dibagian dada Dinda yang sudah basah dipenuhi dengan ASI, dan sepertinya itu yang menyebabkan badan Dinda panas dan kedinginan seperti sekarang ini, bahkan sampai menyebabkan Dinda Demam, karena gunung kembarnya semakin mengencang dan membengkak, apalagi dari ia melahirkan, Devano belum minum ASI nya sama sekali.


Melihat keadaan Dinda seperti itu, Erik pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar, ia lega karena ia tau apa yang sedang Dinda istrinya itu rasakan sekarang ini adalah hal yang sangat wajar bagi seorang perempuan yang baru saja melahirkan dan sedang menyusui, kemudian ia pun langsung memeluknya kembali dengan pelan.


"Emmmmmm kasihaaan istri mas ini.! Pasti sakit banget yah, hah.? ASI nya keluar banyak banget sayang, sampai bengkak kaya gini." Kata Erik sambil mengusap-usap gunung kembar Dinda yang memang sudah sangat membengkak itu.


"Aw.! Sakiiiit maass, jangan dipegaaang.!" Kata Dinda sambil terus mereunyi kesakitan.


"Iyaaa, mas enggak pegang kok.! Mas cuma usap-usap doang yaaah.?" Kata Erik dengan sabarnya.


"Tapi sakiiiit maass.?" Kata Dinda merengek.


"Iya mas juga tau sakit, kamu tahan yah sayang yaaaah.? Besok juga sembuh kok.! Kan besok Devano udah boleh keluar dari ruangannya, kalau Devano udah keluaaar, kan nanti ASI kamu dinen sama Devano, kalau Devano udah nen Asi kamu, nanti kamu enggak kesakitan lagi, dan teruusss ini juga enggak bakalan bengkak lagi kaya gini." Kata Erik sambil tersenyum dan menunjuk gunung kembarnya.


"Emang bener mas.? Kalau Devano udah nen ASI Dinda, Dinda enggak bakalan kesakitan lagi, terus ini juga enggak bakalan bengkak kaya gini.?" Kata Dinda dengan sangat polosnya sambil memegang gunung kembarnya, ia menjawab seperti itu karena ia memang benar-benar tidak tau, karena seperti yang kita tau ia belum pernah memberikan ASI sebelumnya dan Devano adalah anak pertamanya.


"Iya sayang, kalau Devano udah nen ASI kamu.! Inii tuh enggak bakalan bengkak dan kesakitan lagi kaya gini.! Apa kamu mau ASI kamu dinen sama mas hah.?" Kata Erik pelan sambil tersenyum.


"Iiiiiihhhhh maaas." Kata Dinda manja, dengan raut wajah merah karena malu.


Melihat raut wajah Dinda seperti itu, Erik pun lagi-lagi tersenyum.


"Beneran sayang, mas enggak bohong.! Kalau sekarang ASI kamu dinen sama mas, nanti ini tuh enggak bakalan bengkak kaya gini.! Terus nanti kamu juga enggak bakalan kesakitan lagi." Kata Erik serius, ia mencoba merayunya dan mencari-cari kesempatan untuk bisa menyentuh tubuhnya.


"Emang bisa mas.? Berarti kalau mas nen ASI Dinda, mas jadi bayi lagi dong kaya Devano.?" Kata Dinda sambil tersenyum.


"Enggak papa jadi bayi lagi juga, yang penting bisa nen ASI kamu kaya Devano." Kata Erik sambil tersenyum, lagi-lagi ia menggodanya.


"Eeemmmmm maaaasss.?" Rengek Dinda dengan sangat manjanya, sambil mengeratkan pelukannya ke tubuh Erik.


"Kenapaaa, hah.? Enggak papa kan sekarang mas nen ASI kamu.!" Kata Erik pelan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Y, y, ya udah kalau mas mau nen enggak papa.! Dinda juga mau kok dinen sama mas." Kata Dinda gugup dengan raut wajah merah karena malu.


"Ya udah.! Kalau gituuu, sekarang baju kamu biar mas buka yah.?" Kata Erik, ia memang paling bisa soal rayu-merayu Dinda istrinya yang sangat polos itu, apalagi Dinda itu sangat haus akan belaian dan sentuhan darinya.


"I, i, iya mas,,," Kata Dinda singkat sambil menganggukkan kepalanya.


Mendengar jawaban dari Dinda, Erik pun tersenyum, dengan segera ia pun langsung membuka kancing baju Dinda, kemudian secara perlahan ia pun mencoba untuk membuka branya, namun disaat ia memcoba untuk membuka branya, ia sedikit kesulitan, karena branya penuh dengan ASI yang sudah mengering dan menempel dipuncak gunung kembarnya, namun karena ia sudah tidak sabar ia pun tetap mencoba untuk terus membukanya.


"Aw sakit mas.! Pelan-pelan bukanyaaa.!" Teriak Dinda kesakitan sambil memegang erat rambut Erik yang berada tepat diatas tubuhnya, sehinga Erik pun mencoba untuk menghentikan aksinya sejenak.


"Uuuuuhh sakit yah sayang hah.? Mas minta maaf yah.? Ya udah mas bukanya pelan-pelan, sambil mas tiupin yaaah.?" Kata Erik memcoba untuk merayunya kembali.


"Iya, tapi pelan-pelan sakiiit.!" Kata Dinda merengek ketakutan.


"Iyaaaa," Kata Erik pelan, kemudian ia pun mencoba untuk membuka kembali branya.


"Sambil tiupin maaasss.! Dinda takuuuut, sakiiit." Kata Dinda lagi-lagi merengek ketakutan.


"Iya sayaaaaang, ini juga sambil mas tiupin kok.! Yaaah.?" Kata Erik dengan sabarnya, sambil terus membuka bra Dinda, namun baru saja ia membuka branya, tiba-tiba ia mendengar suara seseorang yang sedang berbicara tepat di belakang nya.


"Maaf yah pak ganggu seben,,,,tar." Seketika ucapan orang tersebut tersendat karena kaget bukan main melihat kelakuan Erik dan Dinda diatas ranjang.


Mendengar seseorang berbicara, seketika Erik dan Dinda pun langsung menatap kearah orang tersebut berada.


"S, s, suster.?" Kata Erik gugup, dengan segera ia pun langsung menarik selimut yang sedang Dinda pakai dan menutupi gunung kembarnya yang sudah berhasil ia buka menggunakan selimut tersebut. Ia menyebut nama suster, karena orang tersebut adalah suster yang akan mengontrol keadaan Dinda.


"Mas Erik, Dinda maluuuuu.?" Bisik Dinda tepat di telinga Erik, sambil memeluknya dengan erat.


Mendengar bisikan dari Dinda, Erik pun tersenyum.


"Ssssssttttt udah, udah.! Enggak usah malu.!" Kata Erik sambil mengusap-usap pundaknya, ia mencoba untuk menenangkannya, meskipun sesungguhnya ia pun sangat teramat malu dengan kejadian tersebut.


"Oh iya sus, ada apa yah.?" Kata Erik sopan, ia memcoba untuk santai dan biasa saja.


"Oh e, e, enggaaaak.! Enggak jadi, maaf.! S, s, saya keluar dulu yah pak, bu.?" Jawab suster tersebut gugup, sambil buru-buru melangkah keluar dari ruang rawat tersebut, ia tidak jadi mengontrol keadaan Dinda karena ia sangat syok dan malu melihat kejadian seperti itu didepan mata.


######

__ADS_1


Maaf kalau untuk episode selanjutnya masih banyak pengulangan kata, karena proses edit baru sampai episode ini 🙏


__ADS_2