
Melihat Alana terdiam sambil menatap kearah Dosen-Dosen yang juga sedang terdiam karena kaget melihat Alana yang tiba-tiba masuk kedalam ruangan pak Erik dan mengganggu rapatnya, Siska yang ternyata dari tadi mengikuti kemana Alana pergi pun dengan segera langsung menghampirinya.
"Ma, ma, maaf yah pak, bu.??? Te, te, teman saya ini udah menganggu rapat bapak dan ibu.??" Kata Siska gugup dan merasa bersalah, ia mencoba meminta maaf kepada semua Dosen- Dosen yang sedang rapat itu, atas sikap Alana sahabatnya yang kurang sopan kepada mereka semua, kemudian dengan segera ia pun langsung menutup pintu ruangan tersebut dan kemudian langsung menarik tangan Alana untuk membawanya pergi jauh dari ruangan tersebut.
"Alanaaa,,,, loh itu apa-apaan siiiih.?? Ngapain juga coba loh itu ngikutin itu Dosen.?? Pake acara buka pintu ruangan pak Erik lagi, kalau kayak gini kan kesannya kamu itu murid yang enggak punya sopan san,,,,,,,," Seketika ucapan Siska terpotong.
"Tunggu, tunggu.!!! Tadi kamu ngomong apa,,, Dosen.?? Maksudnya,,, kakak-kakak yang tadi numpahin obat papah aku itu Dosen.??" Kata Alana kaget karena ia sama sekali tidak tau kalau laki-laki yang tadi menumpahkan obat yang sedang ia pegang yang tak lain adalah Devano itu adalah salah satu Dosen di kampusnya, karena seperti yang kita tau kemarin ia tidak masuk kuliah sehingga ia tidak mendengar saat pak Erik memberikan pengumuman kepada seluruh mahasiswanya kalau sekarang ini ia sudah digantikan oleh Devano putranya itu.
"Iya,,, kakak-kakak ganteng itu Dosen di kampus kita, lebih tepatnya lagi kakak-kakak ganteng dan gaul itu adalah Dosen baru di kampus kita ini.??? Kalau udah kayak gini, gimana coba.?? Takut kan loh.??" Kata Siska mencoba memberi tau Alana tentang siapa itu Devano sebenarnya.
"E, e, enggaaak,, a, a, aku enggak takut.!!! Ngapain aku harus takut, kan semua ini memang kakak-kakak jelek itu yang salah.?? Justru nanti siang sepulang dari kuliah aku harus cepat-cepat menegur kakak-kakak jelek itu.!!! Masa seorang Dosen tingkah lakunya kayak gitu sih, enggak mau tanggung jawab.!!!" Kata Alana kesal dengan sikap Devano yang menurutnya tidak mencerminkan kepribadian dari seseorang Dosen, sepertinya ia tidak takut sama sekali kepada Devano dengan apa yang baru saja ia lakukan di ruangan pak Erik tadi, dan sepertinya juga ia lupa kalau kemarin ia pernah ketemu dengan Devano di rumahnya.
"Ya ampun Alanaaaa, kamu itu apa-apaan siiih.?? Udah deh, loh itu jangan memperpanjang masal,,,,,,,,,,," Seketika ucapan Siska terpotong karena tiba-tiba bel di Kampusnya berbunyi.
Mendengar bel di Kampusnya berbunyi, dengan segera Alana dan Siska pun langsung masuk ke dalam ruang kelasnya.
Waktu menunjukkan pukul 01:00 siang.
Terlihat semua mahasiswa dan mahasiswi yang sedang keluar dari kelasnya masing-masing karena sekarang ini waktunya mereka semua untuk pulang, begitupun juga dengan Alana, ia terlihat keluar dari ruang kelasnya dan kemudian duduk di sebuah tangga di depan Kampusnya.
"Mana yah kakak-kakak itu.?? Pokoknya Secepat mungkin aku harus temui kakak-kakak itu, kakak-kakak itu harus tanggung jawab.!!! Enggak bisa kakak-kakak itu main kabur begitu aja, kakak-kakak itu harus gantiin obat papah aku ini dengan yang baru, lagian bisa dapat uang dari mana lagi aku buat beliin papah aku ini obat.?? Kan minggu ini aku udah gajihan.??? Pokoknya enggak bisa dibiarin, kakak-kakak itu memang harus tanggung jawab.!!!" Kata Alana dalam hati kesel sambil terus duduk menunggu Devano, karena seperti yang kita tau sehabis pulang dari kuliah ia akan menemuinya untuk meminta pertanggung jawaban darinya.
"E, e, ehhh tunggu dulu, tunggu dulu.!!! Itu kayaknya kakak-kakak yang tadi yah.?? Iya bener,,, itu kakak-kakak yang tadi."
Kata Alana lagi dalam hati, sambil menatap kearah Devano yang sedang berdiri dan asyik ngobrol dengan seseorang.
"Dev, aku mau nanya deh sama kamu.?? Emang kamu kenal yah sama perempuan yang tadi masuk ke ruangan papah kamu itu.??" Kata Raka penasaran, mengapa tiba-tiba perempuan yang ia tolong kemarin yang tak lain adalah Alana masuk kedalam ruangan pak Erik dengan waktu yang tidak beda jauh dengan Devano.
"Enggak tau juga sih, kayaknya gw enggak kenal deh sama itu perempuan.?? Gw juga enggak tau kenapa itu perempuan tiba-tiba masuk ke ruangan papah." Kata Devano serius tidak mengenalinya, karena sepertinya ia lupa kalau kemarin ia sempat bertemu dengannya di rumah laras dan sepertinya karena tadi ia sedang sangat terburu-buru ia jadi tidak terlalu fokus melihat perempuan itu siapa, bahkan sepertinya ia juga tidak ngeh kalau tadi ia sudah menumpahkan obat milik perempuan tersebut yang tak lain adalah Alana.
Mendengar kata-kata dari Devano, Raka pun langsung tersenyum.
"Oohhh kamu enggak kenal.??? Syukur deh kalau gitu." Kata Raka sambil terus tersenyum karena senang ternyata Devano tidak mengenali perempuan yang pernah ia tolong kemarin yang tak lain adalah Alana, karena kalau Devano mengenali perempuan tersebut, Raka sangat takut kalau Devano akan menaklukkan perempuan tersebut yang tak lain adalah pujaan hatinya.
"Kok loh malah senyum-senyum gitu sih.?? Kenapa emang, perempuan itu siapa kamu.??" Kata Devano bingung melihat Raka yang senyum-senyum sendiri, namun ia juga penasaran sebenarnya ada hubungan apa antara Raka dan perempuan itu.
"Ada deeeehh.!!! Ya udah yah,,, aku balik dulu.???" Kata Raka sambil terus tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah pergi meninggalkan Devano.
"Aneh banget sih itu anak, emang perempuan itu siapanya Raka yah.??" Kata Devano dalam hati penasaran.
"Apa jangan-jangan, perempuan itu,,,,, Ahhhhhh udah lah bodo amat.!!! Mau itu perempuan pacarannya Raka kek, mau temenya kek, gw enggak perduli.!!! Lebih baik sekarang gw ke rumah Laras, gw ajak dia keluar.?? Iya bener,,, lebih baik sekarang gw ke rumah Laras, gw ajak dia main keluar." Kata Devano sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menuju mobilnya.
Namun belum sempat ia melangkah, langkahnya sudah terhenti.
"Kakak tunggu.!!!"
Terik Alana sambil menatap kearah Devano, kemudian ia pun langsung buru-buru untuk mengahmpirinya.
"A, a, ada yah.?? Ka, ka, kamu ini siapa.??" Kata Devano gugup dan bingung, karena seperti yang kita tau tadi ia tidak ngeh kalau ia sudah menumpahkan obat yang sedang Alana pegang.
"Apa kakak bilang.??? Ada apa,,, aku ini siapa.??? Emang kakak lupa apa tadi kakak habis berbuat kesalahan apa sama aku.???" Kata Alana dengan suara tinggi karena kesel mendengar kata-kata dari Devano itu.
"Apaan sih kamu, datang-datang langsung nyolot kayak gini.??? Dasar perempuan aneh.!!" Kata Devano kesel, kemudian ia pun langsung buru-buru melanjutkan langkahnya kembali, namun belum sempat ia melangkah lagi-lagi langkahnya sudah terhenti karena tiba-tiba Alana langsung menarik tangannya.
"Kakak, kakak mau kemana.??? Kakak enggak boleh kabur begitu aja dong kak.!!! Kakak itu harus tanggung jawab.!!!" Kata Alana kesel dengan suara yang sangat tinggi, sehingga mahasiswa lain yang sedang berada didekatnya pun mendengar ucapannya itu dan kemudian mereka pun salah sangka.
"Iiiihhh enggak nyangka yah,,, ternyata pak Devano kayak gitu.??" Kata salah satu mahasiswi yang mendengarnya.
"Iya yah,, masa udah berani berbuat enggak berani bertanggung jawab sih.???" Sambung salah satu diantara meraka lagi.
"Tau tuh pak Devano, ternyata gw salah menilai pak Devano, gw kira pak Devano itu Dosen tampan yang berkepribadian baik kayak pak Erik, ternyata gw salah." Kata salah satu diantara mereka lagi kecewa kemudian mereka semua pun langsung buru-buru pergi meninggalkan Devano dan Alana.
"Gara-gara kamu nih.!!! Mereka semua jadi ngira aku yang enggak-enggak, sebenarnya kamu itu siapa sih.??? Terus kamu itu mau apa.?? Ngomong seenaknya nyuruh aku untuk tanggung jawab, tanggung jawab.!!! Emang bapak bayi yang ada di perut kamu itu enggak mau tanggung jawab apa, sampai-sampai kamu maksa-maksa aku untuk tanggung jawab kayak gini.???" Kata Devano kesal dengan ucapan Alana, karena gara-gara ucapannya, murid-muridnya itu jadi salah sangka kepada dirinya.
"Apa kakak bilang.?? Bapak bayi yang ada didalam perut aku enggak mau tanggung jawab,, maksud kakak.?? Kakak ngira sekarang ini aku lagi hamil.??" Kata Alana dengan suara tinggi karena kaget dan kesel mendengar tuduhan Devano kepada dirinya itu.
"Iya,, sekarang kamu lagi hamil kan.?? Dan pastinya kamu ini hamil karena kecelakaan, diuar nikah, terus pacar kamu itu kabur enggak mau tanggung jawab, iya kan.??? Kalau enggak kenapa coba datang-datang kamu minta tanggung jawab sama ak,,,,,,,,,"
"Udah cukup.!!! Kakak enggak usah nuduh aku yang macam-macam, ayo lebih baik kakak ikut aku.!!! Biar kakak sadar sebenarnya kesalahan kakak itu apa.???" Kata Alana semakin kesel sambil menarik tangan Devano dengan kuat, kemudian mengajaknya pergi menuju tong sampah tempat dimana ia membuang obat milik papanya yang rusak karena terjatuh oleh Devano tadi.
"E, e, ehhhhh pelan-pelan.!!! Kamu mau bawa aku kemana sih.???" Kata Devano gugup dan bingung karena ia benar-benar tidak tau sebenarnya Alana mau membawa dirinya kemana.
"Udah kakak enggak usah banyak omong.!!! Sekarang juga ikut aku.!!!" Kata Alana sambil terus menarik tangan Devano dan membawanya menuju tong sampah.
"Tuh lihat.!!! Obat papah aku pecah kayak gini.?? Ini semua itu gara-gara kakak jalannya enggak hati-hati tau enggak.???" Kata Alana dengan suara tinggi sambil menunjukkan obat tersebut di tong sampah.
Mendengar kata-kata dari Alana, seketika Devano pun terdiam.
"Oooohhh,,,, kamu ini perempuan yang aku tabrak tadi yah.??? Heemmm cuma gara-gara Obat kayak gini marah-marah." Kata Devano sambil tersenyum sinis menatap dan meremehkan obat-obat milik Alana itu, ia berbicara seperti itu karena menurutnya obat tersebut sangat murah dan sangat mudah untuk dibeli, karena apa sih yang enggak bisa dibeli olehnya.
"Tadi kakak ngomong apa.??? Cuma gara-gara Obat ini kakak bilang.?? Bener-bener sombong banget yah kakak ini.?? Kayaknya kakak ini enggak pantes deh jadi Dos,,,,,,,,," Seketika ucapan Alana terpotong.
"E, e, ehhhhh tunggu dulu, tunggu dulu.!!! Kayaknya aku pernah lihat kakak deh.?? Ohhhh kakak itu yang kemarin main ke rumah aku kan.?? Kakak itu pacar kak Laras kan.?? Hemmm pantes aja kakak pengin jadi Dosen di kampus ini, biar kakak bisa dengan mudah kan ketemu sama kak Laras.??" Kata Alana sambil tersenyum sinis dan sok tau, ia berbicara seperti itu karena sepertinya ia baru mengingat siapa itu kakak-kakak yang sekarang ini sedang berdiri dihadapannya itu.
"Oh iya bener, bener.!!! Kamu ini perempuan yang kemarin ada di rumah Laras kan, terus kamu ini adiknya Laras kan.?? Hemmm enggak nyangka aku, Laras punya adik ngeselin kayak kamu.??" Kata Devano sambil tersenyum sinis karena kesel melihat tingkah laku Alana itu, sepertinya ia juga baru mengingat siapa perempuan yang sedang berdiri dihadapannya itu.
"Aahh terserah kakak mau ngomong apa.!!! Yang jelas kakak harus gantiin obat papah aku ini yang rusak.!!!" Kata Alana, lagi-lagi ia meminta Devano untuk menggantikan obat papahnya yang rusak itu.
"Iya, iya,,,, kamu enggak usah takut.!!! Obat murah kayak gitu aja ketakutan benget sih.?? Obat murah kayak gitu, bisa aku beli berapa pun yang aku ma,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong karena tiba-tiba ponsel Alana berdering.
"Sssttttt Diem.!!!" Kata Alana sambil memegang erat tangan Devano karena takut ia akan kabur.
"Diem sih Diem.!!! Tapi tangan aku jagan dipegang kayak gin,,,,,," Lagi-lagi ucapan Devano terpotong.
"Iiiihhh kakak berisik banget sih.??? Aku mau angkat telepon dulu nih.!!!" Kata Alana kesel karena Devano yang tidak mau diam, kemudian dengan segera ia pun langsung mengangkat telepon tersebut.
"Iya Om ada apa.??" Kata Alana dengan sangat ramah sambil tersenyum menjawab pertanyaan dari seseorang yang sedang meneleponnya itu.
"Ommmm.???" Kata Devano dalam hati kaget dan bingung, ia curiga kalau Alana itu adalah wanita penghibur om-om, karena ia mendengar Alana menyebutkan kata Om.
"Apa jangan-jangan perempuan ini, wanita penghib,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Ohhh gitu Om.?? Jadi sekarang Alana ke hotel aja nih.?? Ohhhh iya, iya,,,, oke Om, kalau gitu sekarang juga Alana ke hotel." Kata Alana mencoba menjawab lagi pertanyaan dari seseorang yang sedang meneleponnya itu, namun entah siapa orang yang sedang meneleponnya tersebut.
"Tuh kan bener, kayaknya perempuan ini memang,,,,,,, waaahhh kayaknya bener nih dugaan gw.!!! Pokoknya gw harus ikuti kemana pun perempuan ini pergi.!!! Perempuan ini kan mahasiswi gw,,, gw enggak mau kalau kampus gw ini tercemar nama baiknya gara-gara ini perempuan.!!!" Kata Devano lagi dalam hati semakin yakin kalau perempuan yang sedang berdiri di hadapannya yang tak lain adalah Alana itu adalah wanita penghibur Om-om.
"Eh iya kenapa Om.??? Oooohhh ya udah enggak apa-apa, seminggu sekali aja bayarnya enggak usah perjam." Kata Alana mencoba menjawab lagi pertanyaan orang yang sedang meneleponnya itu, dan sepertinya orang tersebut adalah bosnya, namun entah apa sebenarnya pekerjaan Alana itu.
"Waaahhh bener-bener ini perempuan diobral murah, sampai segitunya ini perempuan.?? Kayaknya gw memang harus ikuti ini perempuan." Kata Devano lagi, sepertinya sekarang ini ia sudah sangat mantap dengan dugaannya itu.
"Ya udah yah Om.?? Kalau gitu Alana mau cepat-cepat ke hotel nih takut telat." Kata Alana lagi, sambil buru-buru memutuskan sambungan teleponnya itu.
"Gw bener- bener enggak nyangka sama perempuan ini.?? Hanya karena demi duit, perempuan ini rela menjual diri.??" Kata Devano lagi dalam hati heran, sambil terdiam menatap wajah Alana.
"Kakak,,, kakak kenapa lihatin aku kayak gitu.???" Kata Alana bingung melihat Devano yang sedang menatapi wajahnya seperti itu.
Mendengar kata-kata dari Alana, seketika Devano pun langsung terbangun dari bengongnya.
"Eh, iya kenapa.??? E, e, enggaaaak, enggak papa." Kata Devano gugup karena ia sedang berbohong.
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu aku mau pergi dulu, tapi inget.!! Masalah kita belum selesai, pokoknya besok kakak harus gantiin obat papah aku ini dengan yang baru.!!!" Kata Alana mencoba mengingatkan Devano untuk menggantikan obat pak Adi papahnya dengan yang baru, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menuju taksi yang sudah disiapkan oleh seseorang yang tadi meneleponnya, karena tanpa sepengetahuan dari kita tadi orang yang meneleponnya itu memesankan taksi untuk Alana.
"Sekarang juga gw harus ikuti perempuan itu.!!!" Kata Devano dalam hati sambil buru-buru melangkah menuju mobilnya, kemudian langsung mengikuti taksi yang sedang ditumpangi oleh Alana.
1 jam kemudian,,,,,
Terlihat Alana yang baru saja turun dari taksi dan sedang berjalan dengan sangat terburu-buru masuk ke dalam hotel, begitupun juga dengan Devano, ia pun terlihat sedang berjalan mengikuti langkah kaki Alana dari belakang.
"E, e, ehhhhh tunggu dulu.!!! Ini bukannya hotel milik papah yah.?? Iya bener banget,,, hotel ini milik papah." Kata Devano sambil mengingat-ingat hotel tersebut milik pak Erik papahnya atau bukan, karena sepertinya saking fokusnya ia mengikuti Alana, ia jadi tidak ngeh kalau sekarang ini ia mengikuti Alana sampai ke hotel milik pak Erik papah nya itu.
"Waaahhh bener-bener ini perempuan harus gw kasih pelajaran, mana mesumnya di hotel milik papah gw lagi.??? Bisa-bisa hotel milik papah gw ini jauh dari rejeki kalau dipake buat mesum kayak gini sama itu perempuan." Kata Devano dalam hati kesel, sambil terus berjalan mengikuti Alana, sampai akhirnya ia pun melihat Alana masuk ke dalam sebuah kamar hotel.
Melihat Alana masuk kedalam kamar hotel, dengan segera ia pun langsung melangkah dan berdiri tepat didepan pintu kamar hotel tersebut.
"Sekarang gw harus buka pintu kamar ini, gw harus bisa nge geb perempuan itu lagi main sama om-om yang perempuan itu kencani, biar perempuan itu jera dan enggak berani berbuat mesum lagi." Kata Devano dalam hati, ia sangat yakin kalau sekarang ini Alana sedang melayani om-om yang tadi meneleponnya itu, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru membuka pintu kamar hotel tersebut dan kebetulan pintu kamar hotel tersebut tidak terkunci.
"Ketangkap basah kalian berdua.!!! Sekarang kalian berdua udah enggak bisa lari lag,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Pa, pa, papah." Kata Devano gugup karena ia sangat kaget melihat pak Erik papahnya berada di dalam kamar hotel tersebut.
"Devanoo,,, kamu lagi apa-apan.???" Kata pak Erik kaget dan bingung melihat tingkah laku putranya seperti itu, pak Erik bisa berada didalam kamar hotel tersebut karena ia sedang ingin refreshing.
"Iya kakak Devano, kakak Devano lagi apa-apan sih kak.???"
Kata Kira yang sedang les privat bersama dengan Alana, iya,,,, les privat, karena ternyata yang tadi menelepon Alana adalah pak Erik, ia meminta Alana untuk mengajari Kiara putri kesayangannya itu les privat, dan bukan meminta Alana untuk menemaninya tidur di atas ranjang seperti apa yang sedang Devano pikirkan, pak Erik menyuruh Alana mengajari Kiara les privat, karena ia tau dari pak Adi temannya yang tak lain adalah ayah dari Alana, kalau Alana itu adalah anak yang pintar dan ia pun bersedia untuk mengajari siapapun yang ingin les privat dengannya, dan bahkan sekarang ini pun sudah Minggu ke tinga Alana mengajari Kiara itu les privat.
"Taaau nih,,, anak mamah kenapa sih.?? Aneh banget nih anak mamah.???" Kata Dinda yang sedang duduk di samping Alana dan juga Kiara, ia pun kaget dan bingung melihat tingkah laku putranya seperti itu.
"Apa.??? Jadi kakak-kakak ini anaknya Tante Dinda sama om Erik.??" Kata Alana dalam hati kaget dan tak percaya, kalau ternyata kakak-kakak yang membuatnya kesal yang tak lain adalah Devano itu adalah anak dari pak Erik dan Dinda orang yang menurutnya sangat-sangat baik kepada dirinya.
"Eh iya ke, ke, kenapa mah.??? E, e, enggaaak Devano enggak kenapa-napa kok mah.!!! Kan kakak Devano lagi main tangkap-tangkapan sama Kiaraaa, iya kan Dek.???" Kata Devano gugup sambil buru-buru melangkah menghampiri Kiara dan kemudian duduk disampingnya.
"E, e, enggak kok kak.!!! Kan Kiara lagi belajar sama kakak Alanaaa, iya kan kak.??" Kata Kiara dengan polosnya.
"Iyaaa,,," Kata Alana pelan sambil tersenyum.
"Ohhh jadi nama perempuan ini Alana.?? Aduuuuhhh lagian apa-apaan sih gw ini, pake sok-sokan ngikutin ini perempuan.?? Malu-maluin diri gw sendiri aja sih." Kata Devano dalam hati menyesal karena sudah mengikuti Alana.
"Oh iya kakak Devano, Ayo sekarang kita ke tamaaan,,,!! Kan kakak Devano udah janji sama Kiara, katanya kakak Devano mau ajak Kiara ketaman.???" Kata Kiara merengek manja sambil menarik-narik tangan Devano.
"Kiara sayaaaang,,, kan Kiara anak mama lagi belajaaar, kok ke taman sih.???" Kata Dinda mencoba untuk melarangnya.
"Sayaaaang udah enggak papa." Kata pak Erik pelan sambil berjalan menghampiri Dinda.
"Tapi mas, kan Kiaranya lagi belaj,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong.
"Ssssssttttt udah enggak papa, yaaah.???" Kata pak Erik pelan sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.
"Iya mas." Kata Dinda menurut kepada pak Erik suaminya itu.
"Ya udah Kiara sama kak Alana mandi sanah.!!! Siap-siap ketaman." Kata pak Erik.
"A, a, Alana Om.???" Kata Alana gugup dan bingung.
"Iya kamu,,, kamu mau kan sama kak Devano temenin Kiara ke taman.??" Kata pak Erik serius.
"Ta, ta, tapi pah,,,,,,," Belum sempat Devano menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong oleh pak Erik
"Udah kamu dieeeem, enggak usah tapi-tapian.!!! Lebih baik sekarang kamu juga mandi, ganti baju, terus anter tuh Kiara sama Alana ke taman, dan ingat.!!! Jangan sampai Kiara sama Alana kenapa-napa, kamu jagain mereka berdua.!!!" Kata pak Erik dengan tegas.
Mendengar kata-kata dari pak Erik, Devano pun langsung menarik nafas pelan kemudian membuangnya kasar.
"Iya pah." Kata Devano tanpa semangat, sambil berjalan menuju kamarnya untuk mandi, begitupun juga dengan Alana dan Kiara ia pun terlihat masuk kedalam kamar Kiara untuk mandi.
Terlihat Devano yang sedang berdiri diparkiran sambil menunggu Kiara dan Alana turun dari kamar hotel, dengan penampilannya yang sangat-sangat jauh berbeda dari profesinya yaitu seorang Dosen, sambil menghisap sebatang rokok.
Devano seperti itu, karena ia memang mempunyai sifat dan hobi yang sangat-sangat jauh berbeda dari pak Erik ayahnya.
"Aduuhhh kemana sih mereka,, lama bangeeet.?? Dasar perempuan yah, dimana-mana suka lama deh dandanannya, kalau kayak gini gimana gw bisa jalan sama Laras." Kata Devano kesal karena sudah menunggu Alana dan Kiara cukup lama akan tetapi mereka berdua tak juga kunjung datang.
"Masa harus gw samperin keatas lagi sih.???" Kata Devano bingung sambil terus menghisap sebatang rokok.
"Ya udah deh, lebih baik gw samperin aj,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Kakak Devano,, Kiara sama kak Alana udah turuuuun.??" Kata Kiara sambil tersenyum dan penuh semangat.
Melihat tingkah laku Kiara seperti itu, Alana hanya tersenyum sambil terus berjalan bersama Kiara untuk menghampiri Devano.
"Uuuuuuhhh Adik kakak ini cantik banget siiiiih.??" Kata Devano sambil mencubit gemas pipi Kiara dan terus menghisap rokoknya itu.
"Ya ampun kak Devano.!!! Kak Devano nagapain ngerokok disini sih.?? Disini kan ada anak kecil kak, buang enggak rokoknya.!!!" Kata Alana kaget karena ia baru melihat ternyata Devano itu sedang merokok.
"Apaan sih kamu, biasa aja kali." Kata Devano dengan santainya.
"Apa kak Devano bilang,,, biasa aja.?? Emang kak Devano enggak lihat apa, disini kan ada Kiara kak, Kiara kan masih anak kecil.?? Asapnya itu enggak baik buat anak kecil tau enggak sih kak.?? Lagian kan kak Devano itu Dosen,,, masa Dosen kayak gini sih kalakuannya.?? Udah pakaiannya kayak preman, ngerokok lagi." Kata Alana kesal, sambil menatap penampilan Devano dari bawah sampai atas, yang tidak mencerminkan seorang Dosen, ia mencoba menasehati Devano, karena ia memang seperti itu dari sejak kecil, ia suka menasehati orang yang menurutnya salah.
"Emang kenapa kalau Dosen.?? Enggak boleh berpenampilan kayak gini.?? Enggak boleh ngerokok.??? Lagian kan aku jadi Dosen kalau dikampus, kalau udah di rumah mah bebas lah mau berpenampilan kayak gimana juga." Kata Devano sewot, ia mencoba untuk membela dirinya sendiri.
"Ya udah lah terserah kak Devao aja mau ngomong kayak gimana juga.!!! Yang Alana mau,,, sekarang juga sini mana rokoknya.??" Kata Alana dengan suara tinggi sambil merebut rokok tersebut dari tangan Devano.
"Awww sstttttt aduh, aduh.!!! Panaaaas,,," Kata Alana kepanasan sambil meniupi tangannya yang terkena api rokok yang sedang Devano pengang itu.
"Alanaaa, kamu enggak papa kan.???" Kata Devano panik dan tergesa-gesa sambil buru-buru memegang tangan Alana dan kemudian langsung menipuinya.
"Udah awas ah.!!! Gara-gara kakak nih, panas tau.!!!" Kata Alana dengan suara tinggi sambil menghempaskan tangan Devano yang sedang memeganginya itu.
"Kak Alana, kak Alana enggak kenapa-napa kan kak.???" Kata Kiara yang juga panik melihat Alana terkena api rokok milik Devano kakaknya itu.
"Enggak sayang, kak Alana enggak papa kok.!!! Ya udah ayo,,, lebih baik sekarang kita ke taman entar keburu sore lagi." Kata Alana sambil tersenyum kemudian ia pun langsung menggandeng tangan Kiara menuju motor Devano, karena mereka berdua ke taman naik motor bersama Devano.
1 Jam kemudian,,,,,,,
Akhirnya mereka bertiga pun sudah sampai di taman tersebut, dan sedang berjalan kaki mencari-cari tempat yang indah dan nyaman.
"Kakak Devanooo,,,, Kiara capeeek.??? Kiara pengin digendoooong.??" Kata Kiara merengek meminta gendong kepada Devano karena ia memang benar-benar kecapekan.
"Uuuuuuhhh kasihaaaan adik kakak yang cantik ini capeeek, hah.???" Kata Devano pelan sambil menatap kearah Kiara.
"Iya capeeeek, Kiara pengin digendoooong.???" Kata Kiara lagi-lagi merengek minta gendong.
"Ya udah, ya udah, sekarang kakak gendong yaaah.??" Kata Devano pelan sambil jongkok dihadapan Kiara.
"Oh iya Alana, bawain gitar aku dong.!!!" Kata Devano meminta tolong sambil memberikan gitar yang sedang ia pegang kepada Alana, karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata Devano ketaman membawa gitar.
"Iiiihhh lagian ngapain sih ke taman bawa-bawa gitar.?? Kan susah jadinyaaa, berat tau.!!!" Kata Alana kesel sambil cemberut.
"Dari pada kamu yang gendong Kiara.??? Mau emang.???" Kata Devano kesel.
"Y, y, ya bukan gitu maksudnyaaa,,,, ya udah sini mana ahhh gitarnya.!!!" Kata Alana kesel sambil mengambil gitar yang sedang Devano pengang.
"Udah nih gitarnya Alana bawa.!!!"
__ADS_1
Kata Alana cemberut sambil menatap kearah Devano yang akan menggendong Kiara.
"Nah gitu doooong,,, jangan marah-marah Mulu.!!!" Kata Devano sambil tersenyum menggodanya, kemudian ia pun langsung menggendong Kiara dan melangkah pergi mencari tempat yang nyaman.
"Iiiihhh ngeselin banget sih.?!!!" Kata Alana sambil terus cemberut membawa gitar milik Devano dan kemudian melangkah mengikuti Devano dari belakang, hingga akhirnya mereka bertiga pun sampai ditempat nyaman tersebut,
Sesampainya di tempat tersebut, Kiara langsung mengajak Alana bermain lari-lari, sedangkan Devano terlihat Asyik bermain gitar sambil tersenyum menatap kearah Alana dan Kiara yang sedang asyik bermain lari-lari itu.
"Kiaraaa, sayang.!!! Kakak ambil motor dulu yah.?? Biar pulangnya enggak capek.??" Teriak Devano sambil beranjak bangun dari tempat duduk.
"Iya kak.!!!" Jawab Kiara sambil terus asyik bermain lari-lari dengan Alana.
"Ya udah kakak pergi dudu yah.!!" Kata Devano sambil berjalan menuju tempat dimana motornya berparkir.
15 menit berlalu,,,,,,
Akhirnya Devano pun sudah kembali lagi di tempat dimana Alana dan Kiara sedang bermain-main, sambil membawa motornya itu.
"Kakak Devanoooo.!" Teriak Kiara sambil tersenyum dan melambaikan tangannya kearah Devano yang sedang duduk di samping motornya itu.
"Kenapa sayaaaang.?"
Jawab Devano sambil tersenyum menatap kearah Kiara yang dari tadi sedang asyik bermain-main dengan Alana.
"Kiara tangkap kakak nih.!"
Kata Alana sambil tersenyum dan lari-lari menjauh dari Kiara, agar Kiara menangkapmya.
"Ya udah sekarang Kiara tangkapa kakak Alan,,,,,,,,,," Seketika ucapan Kiara terpotong.
"Lagi ngapain kalian berdua disini.??" Kata seorang preman dengan suara tinggi sambil berjalan menghampiri mereka.
"O, o, om mau ngapain.??" Kata Kiara gugup dan ketakutan.
"Iya om,,, om mau ngapain kesini.??" Kata Alana yang juga ketakutan sambil memeluk tubuh Kiara dengan begitu eratnya, karena takut kalau sampai preman tersebut menangkap Kiara.
"Enggak usah banyak tanya kalian.!!! Gw kesini itu mau menangkap kalian, cepat serahkan tas kamu itu.!!!" Kata preman tersebut dengan suara tinggi sambil menarik-narik tas Alana karena ia berniat untuk merampoknya.
"Jagan.!!! jangan ambil tas aku om.!! Tolong,,, tolong,,, kak Devano tolong.!!!" Teriak Alana meminta tolong sambil mencoba merebut tas miliknya dari preman itu.
"Iya kakak Devano tolooooong.!!! Tolong kak Alana sama Kiara kakak Devanooo.!!!" Teriak Kiara dengan raut wajah yang sangat ketakutan.
"Diem kamu anak kecil.!!! Sekali lagi kamu teriak meminta tolong, gw enggak akan segan-segan untuk menghabisi Kam,,,,,,," Seketika ucapan preman tersebut terpotong.
"Jangan berani loh sakiti mereka berdua.!!!' Teriak Devano dengan raut wajah yang sangat marah sambil berjalan menghampiri preman tersebut.
"Ka, ka, kakak,,,," Kata Kiara masih sangat ketakutan.
"Kurang ajar.!!! Berani loh ngelawan gw.??? Loh pikir loh itu siapa , hah.!!!" Kata preman tersebut marah sambil memukul Devano.
"Awww.!!!!! Ya mpun kak Devano hati-hati kak.!!!" Teriak Alana panik melihat Devano yang kena pukul preman tersebut.
Sedangkan Devano yang melihat preman tersebut memukulnya, ia pun berusaha untuk melawannya, dengan segera ia pun langsung membalas pukulan dari preman tersebut, hingga akhirnya Devano dan preman tersebut pun saling balas-membalas pukulan, bahkan Devano dan preman tersebut pun terlihat sudah sama-sama berdarah dan babak belur.
"Kurang ajar loh.!!!"
Kata Devano sambil mencoba untuk mengangkat dan membanting preman tersebut, hingga akhirnya preman tersebut pun berhasil ia banting dan kemudian preman tersebut pun langsung kabur.
"Woy,,, mau kabur kemana loh.!!!"
Teriak Devano penuh emosi, kemudian ia pun mencoba untuk mengejar preman tersebut.
"Kak Devano udah jangan dikejar kak.!!!" Teriak Alana panik sambil berjalan menggandeng Kiara menuju Devano yang babak belur itu.
Mendengar teriakkan dari Alana, Devano pun langsung mengurungkan niatnya untuk mengejar preman tersebut.
"Beraninya sama perempuan.!!! Aw aduh, aduuuuhhh.!!!"
Kata Devano sambil menjilat darah di bibirnya yang sedang mengalir.
"Ya ampun kak Devanooo, itu mukanya babak belur kayak gituuu.??? Udah sekarang kak Devano duduk.!!! Biar luka kak Devano Alana yang bersihin.!!!" Kata Alana panik dan tergesa-gesa sambil mengajak Devano untuk duduk.
"Kiara coba mana air minumnya tadi.??? Kakak minta sayang.???" Kata Alana tergesa-gesa.
"Ini kak.!!!" Kata Kiara sambil memberikan sebotol air mineral kepada Alana.
"E, e, ehhh tunggu dulu.!!! Buat apa air itu.???" Kata Devano ketakutan kalau sampai air itu digunakan untuk membersihkan luka di wajahnya, yang pastinya rasanya itu sangatlah perih.
"Ya buat bersihin luka kakak lah.!! Luka kakak kan harus dibersihin nanti infeksi loh.???" Kata Alana sambil membuka botol air mineral tersebut.
"Iya kakak, luka kakak Devano kan harus dibersihin kak.???" Kata Kiara mencoba untuk memberi saran.
"Iya Dek kakak tau,,, tapi perih kakak enggak kua,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Ssstttttt udah kakak jangan banyak bicara dulu.!!! Sekarang luka kakak biar Alana bersihin yah.???" Kata Alana perhatian, perlahan ia pun mencoba untuk membersihkan luka Devano itu.
"Aw aduh, aduhhh.!!! Pelan-pelan dong periiiih.???" Teriak Devano dengan mata yang berkaca-kaca karena ia benar-benar merasakan perih diwajahnya itu.
"Iyaaa,,, ini juga pelan-pelan kok kak.!!!" Kata Alana dengan sabarnya, sambil mencoba untuk membersihkan luka diwajah Devano lagi.
"Awww.!!!! Kata aku juga pelan-pelan, sakit tau.!!!!" Teriak Devano semakin kecang.
"Iiiiiihhh kakak ini manja banget sih.??? Orang lagi di bersihin juga teriak-teriak mulu dari tadi." Kata Alana dengan suara tinggi karena kesal, sepertinya sekarang ini kesabarannya sudah habis.
"Iya tapi kan sak,,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Awww, aduhhh,, aduuuuhhh.!!! Kok luka aku kamu tekan sih.???" Teriak Devano kesakitan karena lukanya ditekan oleh Alana.
"Sengaja.!!! Lagian sih kakak jadi orang manja banget.???" Kata Alana semakin kesal melihat tingkah laku Devano seperti itu.
Melihat tingkah laku Devano dan Alana seperti itu, Kiara pun tersenyum.
"Kakak Alana sama kakak Devano, kalian jangan berantem teruuuus.!!! Entar kakak Alana sama kakak Devano jadi suka loh.???" Kata Kiara meledeknya.
Mendengar kata-kata dari Kiara seketika Devano dan Alana pun langsung menatap kearah Kiara.
"Kiara sayaaaang,,, anak kecil itu enggak boleh ngomong kayak gituuu.???" Kata Alana pelan sambil tersenyum.
"Awww aduh, aduuuh,,,, Iya sayaaaang anak kecil itu enggak boleh ngomong kayak git,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.
"Kak Devanooooo.???" Kata Laras yang sedang berdiri tepat dibelakang Devano, Alana dan juga Kiara.
#######
__ADS_1
Maaf kalau visualnya kurang pas 🙏