DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
S 2. Episode 34


__ADS_3

4 Jam kemudian,,,,,,


Terlihat Devano yang masih terus memaksa Alana, meskipun sekarang ini keadaan Alana istrinya itu sudah sangat lemas dan tak berdaya.


"Awww maaass,,, hiks,, hiks,, jangan masss, hiks,, hiks,, sakiiiiit.??"



Kata Alana pelan, sambil menangis kesakitan sekaligus merintih kenikmatan dipelukan Devano suaminya itu, karena malam ini permainan dari Devano itu benar-benar sangat kasar dan memakan waktu yang sangat lama, apalagi dengan keadaannya yang sekarang ini sedang mabuk berat, di tambah lagi efek dari obat perangsang yang Laras masukkan ke dalam minumannya itu, ia pun jadi semakin kasar dan kuat saat bercinta dengan Alana istrinya itu, yang memanglah masih perawan, yang rasanya itu pasti sangatlah sakit dan perih, sehingga ia pun tak henti-hentinya menangis.


"Sebentar lagi sayaaaang, nanggung yah sayang yaaah.??" Bisik Devano penuh dengan nafsu, dengan suara nafas yang terdengar sangat ngos-ngosan, sambil terus mencoba untuk memaksa Alana kembali, karena sekarang ini hasrat dan nafsunya memang benar-benar belum terlampiaskan semuanya, kemudian dengan segera ia pun langsung mengeluarkan seluruh tenaganya dengan sangat kuat.


"Awwww maaaass, hiks,, hiks,, sakit maaass.?? Awww, hiks,, hiks,, maas.?? Hiks,, hiks,, awww, aw, aw, aw, aw mas Deeeev,,, aw, aw, aw, sakit maaas,,, aw, aw, aw, aw, Aaaawwww,,,,,"



Seketika desahan Alana itu terhenti secara perlahan, karena sepertinya Devano sudah selesai melampiaskan semua hasrat dan nafsunya itu kepadanya.


"Terimakasih yah sayaaang.?? Malam ini Kamu udah kasih mas kepuasan.?? Terimakasih yaaah, terimakasiiiih.??" Bisik Devano dengan suara nafas yang terdengat sangat ngos-ngosan, dengan keadaan yang sudah sangat lemas dan tak berdaya, kemudian dengan segera ia pun langsung memeluk tubuh Alana kembali dengan begitu eratnya, sambil terus menciumi habis wajah cantik Alana tanpa henti-hentinya.


"Mas sayang sama kamu sayaaang.?? Kamu ini istri maaas,,, sekarang kamu ini benar-benar istri mas sayaaang.??" Bisik Devano lagi sambil terus menciumi wajah cantik Alana itu tanpa henti-hentinya.


Merasakan ciuman dari Devano, Alana tidak perduli, ia hanya bisa menangis dan terus menangis.


"Hiks,,, hiks,, hiks,,," Suara Alana menangis di pelukan Devano, karena ia sangat sedih keperawanannya sekarang ini sudah di renggut olehnya secara kasar dan pemaksaan, disaat keadaannya yang sedang tidak sadarkan diri karena mabuk.


Mendengar Alana menangis seperti itu, Devano yang sedang mabuk berat pun tidak perduli, ia malah justru memeluknya semakin erat lagi, sambil terus menciumi wajah cantik Alana istrinya itu tanpa henti-hentinya.


"Terimakasih sayaaaang, terimakasiiiih.?? Ternyata kamu ini masih perawan sayaaang, kamu ini masih peraw,,,,, waaan." Perlahan bisikan Devano itu terhenti, karena tiba-tiba ia langsung tertidur dengan sangat pulas sambil terus memeluk tubuh Alana istrinya itu dengan sangat erat.


"Hiks,,, hiks,,, kamu jahat mas.?? Hiks,, hiks,, kamu jahat.??" Kata Alana sambil terus menangis dan menatap wajah Devano, perlahan ia pun mencoba untuk mengangkat satu persatu lengannya yang masih terus memeluknya itu.


"Awww sssttt,,, aduh-aduuuuh." Seketika Alana mereunyi kesakitan, karena lengan Devano itu tiba-tiba terjatuh menimpa gunung kembarnya, karena ternyata keadaan gunung kembarnya sekarang ini lecet parah dan mengeluarkan sedikit darah akibat dari permainan Devano yang sangat kasar itu, namun meskipun sakit ia tetap berusaha untuk mengangkat lagi lengan Devano satu persatu dari atas gunung kembarnya, kemudian setelah itu, ia pun langsung duduk sambil mencoba untuk memakai pakaiannya kembali.


"Hiks,,, hiks,,, hiks,,,"



Suara Alana masih terus menangis dengan raut wajah yang sangat sedih, sambil memakai celannya yang tadi sempat di buka secara paksa oleh Devano, namun baru saja ia selesai memakai celana tersebut, lagi-lagi ia mereunyi kesakitan.


"Awww.! Stttttt aduuuuuh." Suara Alana mereunyi kesakitan, sambil memegangi bagian bawahnya yang ternyata juga lecet parah dan mengeluarkan cukup banyak darah, bahkan darah tersebut pun sampai berceceran di celana dan di atas seprai kasurnya, karena seperti yang kita tau, permainan dari Devano tadi itu benar-benar sangat kasar dan memakan waktu yang sangat lama.


"Hiks,, hiks,, mas Devano jahat.?? Hiks,, hiks,, mas Devano enggak punya perasaan."



Kata Alana sedih dan kecewa, mengingat kejadian kasar yang baru saja Devano suaminya itu lakukan kepada dirinya.


"Hiks,, hiks,, aw.! Ssstttt aduuuuhhh,, sssttt dingiiiiiin.??" Kata Alana menggigil kedinginan, sambil memegang pelan gunung kembarnya yang lecet parah itu, yang sekarang ini ternyata sudah mengeras dan membengkak sangat besar.


"Aduuuuhhh sssttttt dingiiiiin.?? Alana enggak kuat, ssssssttttt dingin bangeeeeet.??" Kata Alana sambil terus menggigil kedinginan, karena sepertinya sekarang ini ia demam, efek dari bagian bawah dan gunung kembarnya yang lecet dan membengkak semakin parah itu, belum lagi tadi ia sempat kehujanan saat pulang dari pesta ulang tahun Tania.


MASIH DI KAMAR DEVANO.


Waktu menunjukkan pukul 09:00 Pagi.


Terlihat Devano yang masih tertidur dengan sangat pulas di atas ranjang.


"Hoaaammm,,, eeemmm dingin banget siiiiiih.??" Suara Devano terusik dari tidurnya karena dingin, sambil meraba-raba tubuhnya yang sekarang ini masih telanjang.


"Baju gw,,, baju gw mana.??" Kata Devano kaget sambil terus meraba-raba tubuhnya yang masih telanjang itu, kemudian ia pun langsung beranjak untuk duduk.


"Kok gw enggak pakai baju.?? Baju gw man,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.


"D, d, darah itu.??"



Kata Devano gugup dan kaget, sambil menatap kearah bercak darah yang cukup banyak menempel di seprai kasurnya, karena sepertinya sekarang ini ia belum mengingat akan kejadian semalam bersama dengan Alana istrinya itu.


"K, k, kok bisa ada darah disin,,,,,,,,,," Lagi-lagi ucapannya terpotong.


"A, A, Alnaa.??" Kata Devano gugup dan kaget, karena sepertinya sekarang ini ia sudah mengingat semua apa yang semalam telah ia lakukan kepada Alana istrinya itu.


"I, i, iya Alana.?? T, t, tapi,, sekarang Alana ada di mana.??" Kata Devano gugup dan panik sambil menatap ke kanan dan ke kiri seisi dalam kamar, karena dari sejak ia bangun, ia tidak melihat adanya Alana, kemudian dengan segera ia pun langsung mengecek seisi ruangan kamar tersebut.


"Alanaaa, kamu ada dimana Alanaaa.??" Teriak Devano tergesa-gesa dan panik sambil buru-buru membuka pintu kamar mandi, berharap Alana ada di dalam kamar mandi tersebut.


"Alana enggak ada disini.??" Kata Devano bingung karena lagi-lagi ia tidak melihat adanya Alana di seisi ruangan kamar.


"Alana kemana yaaah.?? Apa Alana marah sama gw.?? Terus dia kabur dari rumah gara-gara kejadian semalam.??" Kata Devano lagi semakin panik dan bingung, kemudian dengan segera ia pun langsung memakai pakaiannya kembali.


"Gw harus cepat-cepat cari Alana sekarang.!! Gw harus minta maaf sama dia, gw enggak mau kalau sampai dia marah ke gw dan kabur dari rumah.?? Gw enggak mau kehilangan Alana, gw benar-benar enggak mau kehilangan Alana.?? Gw sayang banget sama Alana, gw bener-bener sayang banget sama Alana." Kata Devano dalam hati tergesa-gesa dan panik, karena ia sangat takut akan kehilangan Alana istrinya itu, karena sepertinya sekarang ini ia sudah sadar kalau ternyata dirinya sangatlah menyayangi Alana, dan sepertinya juga tanpa ia tau siapa sebenarnya pemilik liontin yang sedang ia pegang, Alana sudah berhasil membuatnya jatuh cinta untuk yang kedua kalinya, kemudian dengan segera ia pun langsung buru-buru keluar dari dalam kamarnya.


"Den Devano, aden mau kemana Den.??" Kata bi Ipah yang sedang berdiri tepat didepan kamar Devano majikannya itu.


"I, i, ini bi, saya,,,,,," Seketika Devano pun langsung terdiam.


"Oh iya bi, bibi lihat non Alana enggak bi.?? " Kata Devano tergesa-gesa, ia mencoba untuk menanyakan keberadaan Alana kepada bi Ipah.


"I, i, itu dia den, sekarang ini bibi ke kamar Aden,,, a, a, aden tau enggak.?? Semalam itu kira-kira jam 2 an,,, non Alana keluar dari rumah den.?? Dan sampai sekarang,, non Alana belum juga pulang den.??" Kata bi Ipah memcoba untuk menjawab pertanyaan dari Devano, ia berbicara seperti itu, karena memang benar, semalam pukul 02:00 malam, ia melihat Alana keluar dari rumah Devano.


"Apa.?!! Semalam jam 2 an, non Alana keluar dari rumah, dan sampai sekarang dia belum juga pulang bi.??" Kata Devano dengan suara tinggi karena kaget dan panik mendengar ucapan bi Ipah itu.


"Iya den, padahal semalam itu bibi sama pak Anton udah larang non Alana untuk pergi den.?? Soalnya semalam itu bibi kasihan ngelihat keadaan non Alana, tapi non Alana nya maksa terus untuk pergi den." Kata bi Ipah serius, kalau semalam ia dan pak Anton supir pribadinya memang sudah melarang Alana untuk pergi dari rumah, akan tetapi Alana memaksa dan bersikeras untuk tetap pergi dari rumah tersebut.

__ADS_1


"Apa.?!! Bibi sama pak Anton udah larang non Alana pergi, tapi non Alana nya tetap maksa untuk pergi bi.??" Kata Devano semakin kaget mendengar ucapan bi Ipah itu.


"Tapi tunggu dulu bi.!!! Bibi tau enggak bi, semalam itu non Alana pergi ke mana.??" Kata Devano lagi.


"Bibi juga enggak tau sih den, soalnya semalam itu non Alana nya langsung buru-buru pergi den, dan non Alana itu enggak ngomong apa-apa sama bibi, padahal semalam juga pak Anton udah mau anterin non Alana, tapi non Alananya nolak den." Kata bi Ipah serius, ia mencoba untuk menjawab dan menjelaskan kejadian semalam saat Alana pergi dari rumah Devano.


"N, n, non Alana enggak mau di antarin sama pak Anton bi.??" Kata Devano semakin bingung mendengar ucapan dari bi Upah itu.


"Iya Den, non Alana enggak mau dianterin sama pak An,,,,,,," Seketika ucapan bi Ipah terpotong.


"Ehhh,,, t, t, tapi tunggu dulu deh bi.!! Tadi bibi bilang, semalam itu bibi kasihan ngelihat keadaan non Alana.?? Emang semalam non Alana kenapa bi.??" Kata Devano gugup dan penasaran dengan keadaan Alana semalam.


"Itu den, semalam itu kayaknya non Alana lagi demam deh den.?? Soalnya semalam itu badan non Alana panas banget den, non Alana juga menggigil terus enggak ada henti-hentinyaaa, dan teruuus,,, yang bikin bibi lebih kasihannya lagi, non Alana itu kayak enggak bisa jalan den, non Alana itu kaya susaaaah banget jalannya.! Soalnya non Alana itu jalannya pelan bangeeet, terus sekilas bibi juga lihat, rok non Alana itu ada sedikit bercak darah den.??" Kata bi Ipah serius, kalau keadaan Alana semalam memang seperti itu adanya.


"Apa.?!! Keadaan Alana semalam separah itu.?? Dan semua itu gara-gara gw.??" Kata Devano dalam hati kaget dan merasa bersalah.


"Gw ini bener-bener suami yang kasar dan enggak punya perasaan.?? Kenapa gw ini bisa tega ngelakuin semua itu sama Alana.?? Gw harus cari Alana sekarang.!! Gw bener-bener harus cari Alana sekarang.!!!" Kata Devano tergesa-gesa, ia berbicara seperti itu, karena sepertinya sekarang ini ia sudah sadar akan semua kesalahannya kepada Alana istrinya itu.


"Den Devanooo, den Devano kenapa den.?? Kok Aden diem aja.??" Kata bi Ipah bingung melihat Devano yang dari tadi hanya terdiam seperti itu.


"Apa mungkin non Alana itu lagi hamil den.?? Terus semalam itu non Alana pendarah,,,,,," Seketika ucapan bi Ipah terpotong.


"Y, y, ya udah yah bi.?? Saya harus cari non Alana sekarang bi.!! Saya harus cepat-cepat cari non Alana sekarang.!!" Kata Devano gugup dan tergesa-gesa, sambil buru-buru melangkah keluar menuju mobilnya, kemudian ia pun langsung mengendarai mobil tersebut dengan kecepatan yang sangat tinggi untuk mencari Alana istrinya itu yang pergi entah kemana.


"Aduuuuhhh.! Sebenarnya sekarang ini kamu kemana sih Alanaaa.?? Ayo dong Alanaaa, kamu jangan bikin mas mu ini paniiiik.??" Kata Devano tak tenang, sambil terus menyetir mobilnya, ia bisa tak tenang seperti itu, karena sekarang ini ia benar-benar sangat menghawatirkan keadaan Alana istrinya itu, yang pergi entah kemana setelah ia nikmati habis seluruh tubuhnya.


"Gw harus cari kamu kemana Alanaaa.?? Gw harus cari kamu keman,,,,,," Seketika ucapannya terhenti, kerena tiba-tiba ia mendengar ponselnya berdering TING.!!! Karena ada pesan masuk.


"Aduuuuhhh pesan dari siapa lagi ini.??" Kata Devano sambil buru-buru mengambil ponselnya, kemudian ia pun langsung mengecek pesan tersebut dari siapa.


*DIKI*


"Dev, loh kemana aja.?? Dari semalam gw teleponin loh, loh enggak angkat-angkat.?? Sekarang Alana ada di rumah gw nih, dari semalam dia sakit, badannya panas banget, dan sekarang dia lagi dirawat sama Siska, loh cepetan kesini yah.???" Isi pesan dari Diki.


Diki mengirim pesan seperti itu kepada Devano, karena memang benar, sekarang ini Alana berada di rumahnya dan keadaannya sekarang ini sedang sakit, namun yang jadi pertanyaannya, mengapa sekarang ini Alana bisa berada di rumah Diki.?? Itu karena tanpa sepengetahuan dari kita, ternyata semalam sehabis Devano melampiaskan semua nafsu dan hasratnya kepada Alana, ia langsung pergi dari rumah Devano, ia memutuskan akan berpisah dengannya, karena ia benar-benar sudah tidak kuat mengahadapi sikap Devano yang sangat kasar dan egois itu, namun di saat ia sudah keluar dari rumah Devano, ia bingung harus pergi kemana, karena tidak mungkin ia pulang ke rumah pak Adi Ayahnya, di waktu yang sangat larut, apa lagi dengan keadaannya yang sedang tidak karuan dan sedang sakit, hingga akhirnya ia pun lebih memilih untuk pergi ke rumah Siska sahabat terdekatnya, yang tak lain adalah adik dari Diki sahabat dari Devano, ia lebih memilih pergi ke rumah Diki, karena ia tidak mau membuat pak Adi Ayahnya khawatir dengan keadaannya sekarang ini.


"Apa.?!!! J, j, jadi, sekarang ini Alana ada di rumah Diki.??" Kata Devano gugup sambil tersenyum, karena sekarang ini ia sangat senang dan sedikit tentang, akhirnya ia sudah mengetahui keberadaan Alana istrinya itu, kemudian dengan segera ia pun langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lebih tinggi lagi menuju rumah Diki.


Satu jam kemudian,,,,


DI RUMAH DIKI.


Di kamar Siska, terlihat Alana yang sedang terbaring lemas dan tak berdaya, dengan keadaan badan yang semakin panas dan terus menggigil kedinginan.


"Ssssssttttt,,, dingiiiinn.?? Ssstttt maaaah,, sssttttt Alana kangen sama mamaaaah.?? Sssttttt mamah dimana maaah.?? Sssttt peluk Alana maaah, sssttttt Alana dingiiiiiin.??" Suara Alana mengingo, sambil terus menggigil kedinginan, karena suhu tubuhnya sekarang ini semakin tinggi.


"Ya ampun kak Diki, badan Alana semakin panas kak.?? Terus dari semalam Alana ngigo terus kayak gini.?? Kak Diki udah telepon kak Devano belum kak.?? Suruh kak Devano cepat-cepat kesini kak.?!!" Kata Siska tergesa-gesa dan panik, sambil memegang jidat Alana yang semakin panas, ia berbicara seperti itu, karena tanpa sepengetahuan dari kita, dari semalam Alana itu terus mengingo tak ada hentinya.


"Udah dek, tadi kakak udah telepon kak Devano, lebih baik sekarang kamu tenang, kamu enggak usah panik.! Sebentar lagi juga kak Devano nya sampai kok." Kata Diki mencoba untuk menjawab pertanyaan Siska sambil mengusap-usap pundaknya agar ia tenang.


"Sssttttt Kakaaak,, sssstttt sekarang kakak dimanaaa.?? Ssstttt Alana pengin ketemu sama kakaaaak.?? Ssssstttt Tolongin Alana lagi kaaaak.?? Ssssttt Mas Devano jahat kaaak,,, ssstttt mas Devano jahaaat.??" Kata Alana menggigil kedinginan, sambil mengingo meminta tolong kepada kakak-kakak yang dulu pernah menolongnya ditaman, agar ia mau menolongnya dari Devano, suaminya yang sudah tega menikmati habis seluruh tubuhnya secara paksa, yang ternyata suaminya yang sudah tega itu adalah kakak-kakak itu sendiri yang dulu pernah menolongnya.


"Tuh kan kak Diki, Alana itu ngigo terus kayak gini kak.?? Sebenarnya apa sih yang sudah kak Devano lakuin sama Alana.?? Sampai-sampai dari semalam Alana itu ngigo terus kayak gini kak.??" Kata Siksa tergesa-gesa dan semakin panik, kerena ia mendengar Alana yang lagi-lagi mengingo seperti itu.


"Ahhh udah lah kak.!! Sekarang Siska mau bawa Alana ke rumah sakit aja.!!" Kata Siska kesal, sambil buru-buru mencoba untuk membawa Alana ke rumah sakit.


"Deeek,,, kamu yang sabar.!! Sebentar lagi juga kak Devano nya pasti dat,,,,,,,," Seketika ucapan Diki terpotong.


"Diki, Alana nya mana Dik.?? Alananya mana.?!!!" Kata Devano yang baru saja sampai dan masuk kedalam kamar Siska, dengan suara tinggi sambil menggoyang-goyangkan pundak Diki dengan sangat kuat karena saking paniknya.


"Sabar Dev.!! Sabar.!! Alana nya ada Dev, Alana nya ad,,,,,," Lagi-lagi ucapan Diki terpotong.


"A, A, Alanaaaaaa.???" Kata Devano gugup dan kaget, sambil menatap kearah Alana yang masih terbaring lemas dan tak berdaya diatas ranjang, kemudian dengan segera ia pun langsung melangkah dan duduk disampingnya.


"Alanaaa, kamu kenapa jadi kayak gini.??Bangun Alanaaa.?!! Bangun.!!! Mas minta maaf Alana.?? Mas bener-bener minta ma,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.


"Sssttt maaahhh,,, ssstttt Alana kangen sama mamaaaah.?? Ssssttt Alana pengin ketemu sama mamaaah.??" Kata Alana pelan, sambil terus mengingo memanggil-manggil almarhum mamahnya.


"A, A, Alana.? Kamu kenapa Alana.?? Kamu pengin ketemu sama mamah.?? Kamu pengin ketemu sama mamah sayaaang.??" Kata Devano gugup dan tergesa-gesa, sepertinya tanpa ia sadari sekarang ini ia sudah mulai berani memanggil Alana dengan sebutan SAYANG.


"Maaah, Alana kangen maaaah.??" Kata Alana lagi semakin pelan dan lirih, sambil terus mengingo memanggil-manggil Almarhum mamahnya.


"Ya udah yah sayang.! Mas sekarang juga ke rumah kamu sayang.! Mas jemput mamah kamu, biar secepatnya kamu bisa ketemu sama mamah kamu yah sayang, yah.??." Kata Devano tergesa-gesa, sambil buru-buru melangkah keluar dari kamar Siska, namun belum sempat ia melangkah keluar, tiba-tiba langkahnya sudah terhenti.


"Dev, loh mau kemana Dev.?!!" Kata Diki bingung, melihat Devano yang tiba-tiba mau keluar dari kamar Siska, setelah ia mendengar Alana mengingo seperti itu


"Iya kak Devano, Kak Devano mau kemana kak.??" Kata Siska yang juga bingung melihat Devano seperti itu.


"G, g, gue mau jemput mamah Rika Dik.! Gue harus cepat-cepat bawa mama Rika kesini.! Supaya secepatnya Alana bisa sadar Dik.!." Kata Devano gugup, ia berbicara seperti itu, karena seperti yang kita tau, setau Devano ibu Rika itu adalah mamah dari Alana.


"Dev, loh itu apa-apaan sih.?? Alana itu ngigo bukan pengin ketemu sama tante Rika Dev." Kata Diki mencoba untuk memberi tahu Devano.


"Iya kak Devano, Alana itu ngigo kayak gitu bukan pengin ketemu sama tante Rika kak.?? Alana ngigo kaya gituuu, itu karena Alana pengin ketemu sama Almarhum mamahnya kak.?? Alana kangen sama Almarhum mamah Alana kak.??" Kata Siska serius, ia pun memcoba untuk menjelaskan sejelas-jelasnya kepada Devano.


"Apa.?!!! T, t, tadi kamu ngomong apa.?? Almarhum mamahnya.?? M, m, maksudnya,,, mamah Alana itu udah meninggal.??" Kata Devano gugup dan kaget, mendengar ucapan dari Siska itu.


"I, i, iya kak.! Emang kak Devano belum tau.??" Kata Siska mencoba untuk meyakinkan Devano lagi.


"B, b, belum, kakak belum tau.!" Kata Devano gugup dan masih tak percaya.


"K, k, kalau memang benar mamah Alana udah meninggal, berarti Laras sama mamah Rika udah bohongin gw.??" Kata Devano dalam hati, sepertinya sekarang ini ia sedikit curiga kepada Laras dan jugua ibu Rika.


"T, t, tapi,, buat apa mereka bohongin gu,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.


"Deeev, kok loh diam aja.?? Loh kenapa.??" Kata Diki bingung melihat Devano terdiam seperti itu.

__ADS_1


Mendengar ucapan Diki, seketika Devano pun langsung terbangun dari bengongnya.


"E, e, enggak.!! Gw kaget aja denger mamah Alana udah meninggal." Kata Devano memcoba untuk menjelaskan mengapa ia bisa terdiam seperti itu.


"Yaelahhh Dev.! Emang loh belum tau.?? Gw kira loh itu udah tau." Kata Diki.


"B, b, belum Dik.! Gw baru tau sekarang.?? Berati sekarang ini, mamah Alana udah meninggal.??" Kata Devano gugup, ia mencoba untuk meyakinkan dirinya lagi.


"Iya kak Devano, mamah Alana itu udah meninggal.!!! Malahan dari sejak Alana masih kecil kak.??" Kata Siska mencoba untuk meyakinkan Devano lagi.


"Apa.?!! J, j, jadi,,, mamah Alana benar-benar udah meninggal.??" Kata Devano dalam hati sedih, dengan mata yang berkaca-kaca, kemudian dengan segera ia pun langsung duduk kembali disamping Alana.


"Hiks,,, hiks,, Alanaaa, hiks,, hiks,, bangun sayaaaang.?? Hiks,, hiks,, bangun.!! Hiks,, hiks,, kenapa kamu enggak kasih tau mas sayaaang.?? Hiks,, hiks,, kalau mamah kamu hiks,, hiks,, udah enggak ad,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.


"Ssstttt kaaaak, sssttt kakak sekarang dimanaaaa.?? Ssstttt Alana pengin ketemu sama kakaaaak.?? Ssstttt mas Devano jahat kaaaak.?? Ssssttt mas Devano jahaaat.?! Tolongin Alana kaaak.??" Kata Alana pelan dan lirih, sambil terus mengingo dan menggigil kedinginan.


"A, A, Alanaaa.?? Kamu kenapa lagi Alana.??" Kata Devano gugup dan panik mendengar Alana mengingo seperti itu.


"Diki, Siska.!!! I, i, ini Alana kenapa.?? Dia panggil-panggil kakak siapa.?? A, a, apa Alana punya kakak.??" Kata Devano lagi tergesa-gesa dan semakin panik, ia berbicara seperti itu, karena ia benar-benar tidak tau kalau kakak-kakak yang sedang Alana itu panggil-panggil ternyata adalah dirinya.


Melihat Devano sepanik itu, Siska pun tersenyum, kemudian ia pun langsung mencoba untuk menceritakan semuanya kepada Devano, tenang siapa kakak-kakak yang sedang Alana panggil-panggil itu, kakak-kakak yang dulu sempat Alana ceritakan kepada dirinya.


Sedangkan Devano yang mendengar cerita dari Siska pun langsung terdiam, dalam benaknya berkata.


"A, a, apa.?!! Alana punya cinta sejati dari sejak ia masih kecil.?? T, t, tapi,,, kenapa ceritanya hampir sama persis dengan cerita gw sama Lar,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong.


"Tok.!! Tok.!! Tok.!! Permisi.??" Kata seorang Dokter yang baru saja datang dan masuk kedalam kamar Siska.


"M, m, maaf.!! Saya kesini di telepon sama pak Devano untuk memeriksa keadaan Ibu Alana." Kata Dokter tersebut lagi sopan, ia berbicara seperti itu, karena tanpa sepengetahuan dari kita, tadi saat Devano habis mendapat chat dari Diki dan mengetahui keadaan Alana sekarang ini seperti apa, ia langsung buru-buru menelpon Dokter untuk datang ke rumah Diki dan memeriksa keadaan Alana istrinya yang sekarang ini sedang sakit.


"Oohhh,,, i, i, iya bu.! Silahkan masuk bu.!! Silahkan masuk.!!" Kata Devano, Diki dan juga Siska gugup dan secara bersamaan.


"Iya terimakasih pak, bu.!!" Kata Dokter tersebut sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menghampiri Alana yang sekarang ini masih terbaring di atas ranjang.


"Dok, tolong sembuhkan istri saya yah Dok.!! Saya mohon Dok, saya mohon.!!!" Kata Devano memohon-mohon agar Dokter tersebut menyembuhkan Alana.


"Iya pak.! Bapak yang tenang yah.?!!" Kata Dokter tersebut mencoba untuk menenangkan Devano, kemudian ia pun langsung mencoba untuk memeriksa keadaan Alana.


"Oh iya, pak, bu.! Sebelumnya maaf, bapak sama ibu keluar dulu sebentar yah.??" Kata Dokter tersebut dengan sangat sopan.


"Dok, tapi beneraan yah Dok.!! Sembuhkan istri saya Dok.!! Sembuhkan istri saya.!!" Kata Devano lagi-lagi memohon, karena sekarang ini ia benar-benar sangat panik dan takut kalau sampai terjadi sesuatu pada Alana istrinya itu.


"Iya pak, bapak yang tenang.! Lebih baik sekarang ini bapak keluar dulu, biar secepatnya saya periksa keadaan istri bapak ini.??" Kata Dokter tersebut mencoba memberi saran kepada Devano.


"I, i, iya bu.!" Kata Devano, kemudian ia pun langsung buru-buru keluar dari kamar tersebut, di ikuti oleh Diki dan juga Siska dari belakang.


"Dev, gw mau nanya deh sama loh.?? Loh itu kenapa sih semalam kasar banget sama Raka.?? Gara-gara loh,, sekarang ini Raka masuk rumah sakit tuh.??" Kata Diki serius, kalau sekarang ini Raka memang masuk rumah sakit.


"Apa kak ?!! Sekarang kak Raka masuk rumah sakit.??" Kata Siska kaget mendengar ucapan dari Diki kakaknya itu.


"Iya Dek.! Tuh gara-gara itu anak tuh.?!! Raka di hajar habis-habisan semalam sama dia.!" Kata Diki sambil menunjuk ke arah Devano yang sedang berdiri tepat dihadapannya.


"Kok bisa sih kak Devano, emang tadinya kenapa kak, kok bisa sampai kaya gitu.??" Kata Siska kaget dan penasaran.


"Tau Dev.!! Emang kenapa sih, semalam loh bisa sekasar itu sama Raka.??" Kata Diki yang juga penasaran mengapa semalam Devano bisa sekasar itu kepada Raka sepupunya sendiri.


Mendengar pertanyaan dari Diki dan Siska, Devano pun langsung menarik nafas pelan dan membuangnya kasar.


"Gw juga enggak tau Sis, Dik, tadinya itu kenapa.?? Padahal waktu pertama gw menikah sama Alana, gw itu bener-bener enggak punya perasaan apa-apa sama dia.?? Tapi semakin kesini-kesini, gw semakin bingung sama perasaan gw sendiri Dik, Sis.?? Setiap gw ngeliat Alana deket sama Raka, entah kenapa tiba-tiba hati gw ini terasa sakiiiiit banget.!! Apalagi semalam, ngeliat Alana ke pesta ulang tahun Tania memakai pakaian seksi bareng Raka, hati gw itu sebenarnya sakit banget Dik, Sis.!! Gw enggak terima, gw enggak terima bagian tubuh istri gw Alana, terlihat oleh Raka meskipun hanya sedikiiit.!!" Kata Devano serius, ia mencoba untuk menjekaskan kepada Diki dan Siska mengapa semalam ia bisa sekasar itu kepada Raka.


"Gw tau, mungkin perasaan gw ini terlalu egois.! Karena selama ini gw enggak pernah perduli sama Alana, gw selalu mempermainkan dia, gw selalu nyakitin dia, gw terang-terangan pacaran dengan Laras di depan dia, tanpa gw perduli perasaan dia itu seperti apa..?? Tapi gw seperti itu, karena kemarin-kemarin gw belum sadar dengan perasaan gw ini." Kata Devano serius, namun entah apa maksud dari ucapannya itu.


"K, k, kemarin-kemarin, loh belum sadar dengan perasaan loh, maksudnya.??" Kata Diki gugup dan bingung mendengar kata-kata dari Devano itu.


"I, i, iya kak.!!! Maksudnya apa yah kak.??" Kata Siska yang juga bingung mendengar ucapan Devano itu.


"Iya Dik, Sis, kemarin-kemarin gw belum sadar dengan perasaan gw ini.?? Kalau ternyata, gw ini sangat menyayangi Alana, gw bener-bener takut kehilangan Alana Dik, Sis.?? Gw bener-bener takut.??" Kata Devano serius, ia mencoba untuk menjelaskan kepada Diki dan Siska tentang perasaannya sekarang ini kepada Alana.


"Apa.?!!! K, k, kak Devano beneran.? Kak Devano enggak bohong.?? Kak Devano serius sayang sama Alana.??" Kata Siska gugup dan kaget sambil tersenyum karena senang, akhirnya Alana sahabatnya mempunyai suami yang tulus menyayanginya.


"Iya Dev, loh serius Dev.?!!" Kata Diki tergesa-gesa sambil tersenyum, karena ia juga sangat senang mendengar kata-kata dari Devano itu.


"Iya Dik, Sis, gw serius.!!! Gw bener-bener sayang sama Alana." Kata Devano sambil tersenyum, ia mencoba untuk meyakinkan Diki dan Siska kembali tentang perasaannya sekarang ini kepada Alana.


"E, e, ehhh tapi tunggu dulu Dev.!! Kalau sekarang loh sayang sama Alana, terus Laras gimana Dev.?? Dia loh putusin kan.??" Kata Diki sedikit ketakutan, kalau sampai Devano akan menjalin hubungan dengan Laras dan juga Alana.


Melihat Diki ketakutan seperti itu, Devano pun langsung tersenyum.


"Heeemmm, loh tenang aja Dik.!! Gw pasti akan putusin Laras kok.!!! Kasihan gw sama Alana, gw enggak mau nyakitin dia lagi, lagian kan sebentar lagi, Alana mau jadi ibu dari anak-anak gw Dik.??" Kata Devano serius sambil tersenyum mengingat kejadian semalam, saat ia bercumbu dengan Alana.


"Oh iya Dik.! Nanti loh mau kan, antarin gw ke rumah Laras.?? Gw mau ngomong baik-baik sama dia nih, kalau gw udah enggak bisa lagi pacaran sama dia, sekalian gw mau balikin kalung ini sama dia." Kata Devano serius, sambil mengeluarkan dan menunjukkan kalung liontin milik gadis kecil yang dulu pernah ia tolong kepada Diki dan Siska.



"K, k, kalung itu.? Aku kayak kenal kalung itu kak.?" Kata Siska gugup dan kaget sambil menatap kearah kalung liontin yang sedang Devano tunjukkan itu.


"K, k, kamu kenal kalung ini.?? B, b, beneran sis.??" Kata Devano gugup dan kaget mendengar kata-kata dari Siska.


"I, i, iya kak.!!! A, a, aku kenal, kalau enggak salah, kalung itu punya Alana deh kak.!! Yang ilang 10 tahun lalu di taman kak.??" Kata Siska memcoba untuk menjawab pertanyaan dari Devano.


"Apa.?!!! K, k, kalung ini punya Alana.?? M, m, maksudnya.??" Kata Devano gugup dan semakin kaget mendengar jawaban dari Siska itu.


#########


Jangan lupa like coment dan vote.!!!

__ADS_1


Dan maaf kalau ada typo nama Diki menjadi Raka yah.?? Soalnya author suka ketukar-tukur 😂


__ADS_2