
"Iya Dok, enggak mungkin putri saya meninggal Dok, enggak mungkin.!" Kata pak Irsyad masih tak percaya dengan pernyataan dari Dokter tersebut.
"Maaf Pak, Bu, tapi keadaan anak bapak dan ibu sekarang ini memang benar-benar sudah dinyatakan meninggal, dan sekarang ini denyut nadi dan detak jantung anak bapak yang masih ada, hanya karena adanya alat medis yang terpasang ditubuh anak bapak, jadi saya menyarankan sebaiknya kita harus cepat-cepat melepaskan alat tersebut dari tubuhnya, agar anak bapak dan juga ibu tidak terlalu lama tersiksa." Kata Dokter tersebut mencoba untuk menyakinkan mereka kembali.
Mendengar saran dari Dokter, pak Irsyad langsung duduk terdiam dengan keadaan yang sangat lemas, sedangkan ibu Yuli masih dalam keadaan pingsan dan sekarang sedang diurus oleh suster.
"Apa Dokter bilang.? Enggak, jangan pernah Dokter lepaskan alat ini dari tubuh istri saya.! Istri saya ini masih hidup Dokter, istri saya ini masih hidup.!" Teriak Erik mencoba untuk menolaknya.
"Kamu yang sabar Rik, kamu yang sabar.! Semua ini sudah suratan takdir dari yang maha kuasa, jadi kamu harus bisa menerimanya Rik, kamu harus bisa.!" Kata pak Edi yang sedang berdiri disampingnya, ia mencoba untuk menguatkannya, meskipun sesungguhnya ia pun sangat hancur dan kehilangan Dinda menantunya itu.
"Papah tau ini semua sangat berat untuk kamu, tapi kamu harus kuat.! Kamu harus kuat Rik.! Jadi lebih baik sekarang kamu ikuti apa kata saran dari Dokter, kasihan Dinda Rik.?" Kata pak Edi lagi dengan suara bergetar karena menangis sambil mengusap-usap pundak Erik.
"Enggak pah, Dinda belum meninggal.! Erik yakin Dinda ini masih hidup, Dinda enggak mungkin ninggalin Erik pah.? Dinda enggak mungkin ninggalin Erik.! Jadi jangan pernah kalian semua mencoba melepaskan alat ini dari tubuh Dinda.! Dinda ini masih hidup, Dinda ini masih hidup.!" Kata Erik dengan suara tinggi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena tak percaya, kemudian ia pun berusaha untuk membangunkan Dinda kembali.
"Bangun sayang, banguuun.! Mas tau kamu masih hidup sayang, kamu pasti masih hidup.! Mas mohon sama kamu sayang, kamu harus bangun.! Kamu harus bangun sayaaaaang.!" Kata Erik lagi, dengan suara yang sangat tinggi sambil menggoyang-goyangkan tubuh Dinda dengan sangat kuat agar terbangun.
"Rik udah Rik, cukup.! kamu harus sabar Rik, kamu harus kuat.! Kamu harus bisa menerima semua ini dengan ikhlas Rik.?" Kata pak Edi lagi dengan suara tinggi sambil menarik tubuh Erik, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan sangat erat.
"Hiks,, hiks,, tapi Erik enggak bisa hidup tanpa Dinda paaah.? Hiks,,, hiks,,, Erik enggak akan bisaaa, hikss,,, hiks,, Erik enggak akan sanggup.! Hiks,, hiks,, enggak.! Erik enggak akan sanggup pah.? Hiks,,, hiks,, Dinda enggak mungkin meninggal kan paaah.? Hiks,, hiks,, Dinda pasti masih hidup kaaan.?" Kata Erik sambil terus menangis.
Melihat keadaan Erik putranya seperti itu dipelukan suaminya, dengan segera ibu Sari pun langsung menghampirinya, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan erat.
"Hiks,, hiks,, sabar yah nak.? Hiks,, hiks,, sabar.! Kamu harus hiks,, hiks,, kuat nak.! Hiks,, hiks,, Mama percaya sama hiks,, hiks,, kamu, kamu pasti bisa menerima semua ini hiks,,hiks,, dengan ikhlas nak." Kata ibu sari sedih, sambil terus menangis dan mengusap usap pundak Erik.
"Hiks,,, hiks,,, tapi maaah, Erik bener-bener hiks,, hiks,, enggak bisa hidup tanpa Dinda mah.? Hiks,, hiks,, Erik enggak akan sanggup.! Hiks,, hiks,, Erik enggak akan sanggup mah.? Hiks,, hiks,, Erik sayang banget sama hikss,, hikss,, Dinda." Kata Erik sambil terus menangis.
"Sabar nak, sabar.! Kalau kamu memang benar-benar sayang sama Dinda, kamu harus bisa mengikhlaskan Dinda ya nak yah.? Kamu harus ikuti saran dari Dokter, kasihan Dinda nak, kasihan Dinda." Kata ibu Sari lagi, mencoba untuk menguatkan Erik.
Mendengar kata-kata dari ibu Sari, Erik hanya bisa terdiam sambil terus menangis.
"Maaf Pak, Bu, sekarang saya coba lepaskan alat ini dari tubuh anak bapak dan ibu yah.?" Kata Dokter tersebut meminta izin kepada mereka semua dengan sopan.
Mendengar kata-kata dari Dokter, seisi ruangan hanya terdiam sambil terus menangis, mereka semua mencoba untuk ikhlas melepas kepergian Dinda, meskipun sesungguhnya hati mereka semua sangat hancur.
"Ya udah sus, sekarang lepaskan semua alat ini dari tubuh pasien.!" Kata Dokter lagi, meminta suster supaya cepat-cepat melepaskan alat medis tersebut dari tubuh Dinda.
"Baik Dok.!" Kata suster tegas, kemudian dengan segera suster tersebut pun mencoba untuk melepaskan semua alat medis tersebut dari tubuh Dinda.
"Tunggu.! Jangan lepaskan alat ini dulu dari tubuh istri saya Dok.! Tunggu sampai saya balik lagi kesini, tunggu saya Dok.! Tunggu saya.!" Teriak Erik tergesa-gesa, sambil buru-buru keluar dari kamar rawat Dinda.
"Rik, kamu mau kemana Rik.?" Teriak ibu sari bingung, sebenarnya apa yang akan Erik putranya itu lakukan.
Mendengar teriakkan dari ibu Sari, Erik tidak menjawabnya, ia malah justru lari dengan sangat terburu-buru dengan keadaan yang sangat lemas dan sudah tidak karuan menuju ruang inkubator, namun entah apa rencananya, mengapa tiba-tiba ia lari ke ruangan tersebut.
Sesampainya Erik di ruang inkubator tersebut, ia pun langsung melangkah dan berdiri tepat disamping bayi mungil nan lucu yang tak lain adalah putranya yang sudah ia beri nama.
Devano Zayn Pratama
Kemudian ia pun langsung mengencangkan suara tangisannya.
"Hiks,, hiks,, anak papaaah, hikss,, hiks,, tolong papah ya sayang yaaah.? Hiks,, hiks,, tolong bangunin mamah sayaaang, hiks,, hiks,, tolong bangunin mamaaah.! Cuma kamu sayang satu-satunya harapan hiks,, hiks,, papah saat ini untuk bisa hiks,, hiks,,, membangunkan mamah sayang.! Hiks,, hiks,, papah mohon ya sayaaang, hiks,, hiks,, kamu harus bisa bangunin mamah sayang, hiks,, hiks,, kamu harus bisa bangunin mamah.! Hiks,, hiks,, kita masih sangat membutuhkan mamah sayaaang, hiks,, hiks,, kita ini masih sangat membutuhkan mamaaah." Kata Erik pelan, dengan raut wajah yang sangat sedih, sambil menggenggam tangan Devano dengan begitu eratnya.
Mendengar suara Erik Ayahnya, seketika Devano pun langsung menangis.
"Eaaaaaaaa,,, eaaaaaaaa,,, eaaaaaaaa,,,," Suara Devano menangis dengan begitu kencangnya, sehingga suster yang berada di ruangan tersebut pun langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Ada apa pak.? Kenapa bayi bapak menangis.?" Kata suster panik.
"Sus, tolong saya yah sus.! Tolong keluarin bayi saya dari sini sus.! Saya mohon tolong keluarin bayi saya dari sini sus, saya pengin gendong bayi saya sus, saya mohon.?" Kata Erik memohon dengan raut wajah yang sangat melas sambil terus menangis, entah apa yang ada didalam pikirannya, mengapa tiba-tiba ia meminta suster untuk mengeluarkan Devano bayinya dari ruang inkubator.
"Maaf pak, tapi saya tidak bisa mengeluarkan bayi bapak dari sini, sebab sekarang ini kondisi bayi bapak masih sangat lemah." Kata suster menolak permintaan Erik, karena sekarang ini kondisi Devano memang benar-benar masih sangat lemah.
"Saya mohon sus, sebentar saja.! saya pengin gendong bayi saya sus, saya mohon sus, saya mohon.!" Kata Erik lagi-lagi memohon dengan wajah melas, berharap suster tersebut akan mengabulkan permohonannya itu.
"Ya udah.! Kalau memang bapak memaksa, sekarang saya coba keluarin dulu bayinya yah.?" Kata Suster tersebut tak tega, kemudian ia pun langsung mengeluarkan Devano dari ruang inkubator.
"Ini pak bayinya.! Tapi gendongnya jangan lama-lam,,,,,,,,,," Seketika ucapan suster tersebut terpotong, karena suster tersebut kaget bukan main melihat Erik yang langsung merebut bayinya, kemudian langsung menggendongnya lari keluar dari ruangan tersebut.
"Mau dibawa kemana pak bayinya.? Bayi bapak masih sangat lemah pak.!" Teriak suster tersebut panik.
Mendengar teriakkan dari suster, Erik tidak perduli, ia justru berlari lebih cepat lagi sambil terus menggendong Devano bayinya itu menuju ruang rawat Dinda, ia berharap Devano bisa membangunkan Dinda mamahnya, karena menurutnya batin antara seorang anak dan ibu itu sangat lah kuat.
Melihat Erik menggendong Devano masuk ke ruang rawat Dinda, seisi ruangan pun kaget.
"Rik, kamu kenapa bawa bayi kamu kesini Rik.? Bayi kamu ini masih sangat lemah Rik.! Bahaya Rik.?" Kata ibu Sari dengan suara yang sangat tinggi karena panik.
"Iya Rik, kamu ngapain bawa bayi kamu kesini.? Cepetan sekarang juga kasih ke papah.! Biar papah bawa bayi kamu kembali ke ruang inkubator.!" Sambung pak Edi yang juga panik, sambil menatap kearah Devano yang sekarang ini masih berada digendongan Erik.
"Eaaaaaaaa,,, eaaaaaaaa,,, eaaaaaaaa,,," Suara Devano menangis.
Mendengar tangisan Devano cucunya, pak Irsyad yang dari tadi hanya terdiam karena syok pun, seketika langsung angkat bicara.
"Rik sekarang juga bawa bayi kamu kembali ke ruang inkubator Rik.! Papah enggak mau kehilangan anak papah dan juga cucu papah Rik.! Cepetan bawa kembali Rik.! Cepetan Rik.!" Perintah pak Irsyad dengan suara yang sangat tinggi, karena takut kalau sampai cucunya akan bernasib sama seperti Dinda putrinya.
"Enggak.! Bayi ini akan tetap disini temenin Erik.! Erik yakin bayi ini pasti bisa membangunkan Dinda, Erik yakin pah, Erik yakin.! Dinda ini belum meninggal pah, Dinda ini masih hidup.!" Kata Erik menolak perintah dari pak Irsyad, karena ia yakin bayinya itu bisa membangunkan Dinda kembali, kemudian ia pun langsung menggendongnya dan membaringkannya tepat diatas dada Dinda.
"Eaaaaaa,,, eaaaaaa,,, eaaaaaa,,,,"
Mendengar tangisan dari Devano, Erik pun ikut menangis.
"Bangun sayaaang, bangun.! Kamu dengar kan tangisan anak kita.? Anak kita masih sangat membutuhkan kamu sayang, kamu harus bangun.! Kasihan anak kita sayang, kasihan anak kita." Kata Erik dengan suara bergetar karena menangis, sambil memeluk tubuh Dinda dan Devano dengan begitu eratnya.
Mendengar Erik ayahnya menagis, Devano pun ikut menangis, bahkan tangisannya sekarang ini semakin kencang dan tak ada hentinya, seakan ia tau dan ikut merasakan apa yang sedang orangtuanya rasakan saat ini, mungkin itu lah ikatan batin dari seorang anak terhadap orangtuanya.
Melihat Devano menangis seperti itu, pak Irsyad, pak Edi dan ibu Sari pun semakin panik, dengan segera ibu Sari pun langsung mengambil Devano dari pelukan Erik kemudian langsung menggendongnya.
"Kembalikan bayi Erik mamah.! Kembalikan bayi Erik.! Erik yakin mamah, Dinda pasti masih hidup, Dinda ini masih hidup mah.!" Triak Erik sambil terus menangis, kemudian ia pun langsung mencoba untuk membangunkan Dinda kembali.
"Bangun sayang, banguuuun.! Mas tau kamu belum meninggal sayang.! Kamu belum meninggal.! Jadi sekarang kamu bangun sayang, banguuuun.!" Kata Erik dengan suara yang sangat tinggi, sambil menggoyang- goyangkan tubuh Dinda dengan sangat kuat agar terbangun, kemudian ia pun langsung memeluknya dengan erat.
"Bangun sayang, banguuun.! Jangan tinggalin mas sayang, jangan tinggalin maaas.! Mas mohon bangun sayaaaaang, banguuuun.!" Kata pak Erik pelan dengan keadaan yang sudah sangat lemas dan tak berdaya, sambil terus memeluk tubuh Dinda dengan begitu eratnya.
"Maaf pak Erik, keadaan istri bapak memang sudah meninggal, jadi sekarang izinkan saya melepaskan semua alat-alat ini dari tubuh istri bapak." Kata Dokter tersebut mencoba untuk meminta izin kembali kepada Erik.
Mendengar kata-kata dari Dokter tersebut, Erik hanya bisa menangis, sambil terus memeluk dan menggenggam tangan Dinda dengan sangat erat, sepertinya ia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, ia hanya bisa berdoa semoga saja ada keajaiban untuk Dinda istrinya itu.
"Ya Allah, saya benar-benar memohon kepada mu ya Allah.? Bangunkanlah istri saya ya Allah.! Kasihanilah saya dan juga anak saya yang masih bayi ini ya Allah.? Anak saya masih sangat membutuhkan ibunya ya Allah, bangunkanlah istri saya ya Allah, bangunkanlah istri saya.!" Doa Erik dalam hati untuk Dinda.
Melihat Erik terdiam seperti itu, dengan segera Dokter dan tim medis lainnya pun langsung mencoba untuk melepaskan alat-alat tersebut dari tubuh Dinda, namun belum sempat mereka melepaskan alat-alat tersebut, Erik yang sekarang ini masih berdoa pun seketika terhenti dari Doanya.
"Tunggu dulu Dok.! Jangan lepaskan alat-alat ini dari tubuh istri saya.! Ini tangan istri saya gerak-gerak Dok.! Istri saya ini masih hidup Dok, Istri saya masih hidup." Teriak Erik tergesa-gesa, sambil tersenyum bahagia melihat tangan Dinda yang memang sedang gerak-gerak.
Sepertinya semua Doa-doanya terkabulkan.
__ADS_1
Mendengar kata-kata dari Erik, Dokter dan tim medis pun mengurungkan niatnya untuk melepaskan semua alat-alat tersebut dari tubuh Dinda, kemudian dengan segera Dokter dan semua tim medis tersebut pun langsung memeriksa keadaannya, hingga akhirnya Dokter dan tim medis tersebut pun menyudahinya.
"Bagaimana dengan keadaan istri saya Dok.? Istri saya ini masih hidup kan Dok.? Istri saya masih hidup kan.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik.
Mendengar pertanyaan dari Erik, Dokter tersebut pun langsung tersenyum.
"Ini semua benar-benar sebuah keajaiban pak.! Ini semua benar-benar sebuah keajaiban, detak jantung dan denyut nadi istri bapak sekarang ini kembali normal, istri bapak selamat pak.? Sekarang istri bapak masih hidup, dan sebentar lagi istri bapak juga akan sadar." Kata Dokter tersebut serius.
Mendengar jawaban dari Dokter, semua orang yang ada didalam ruangan pun langsung menangis karena saking bahagianya, begitupun juga dengan ibu Yuli yang baru saja bangun dari pingsannya, ia pun langsung memeluk Dinda dengan begitu eratnya.
"Hiks,, hiks,, mama sayang sama kamu Dindaaa.? Hiks,, hiks,, mama sayang sama kamu.! Hiks,, hiks,, akhirnya kamu selamat sayang.? Hikss,, hikss,, kamu selamat." Kata ibu Yuli dengan suara bergetar karena menangis dan raut wajah yang sangat bahagia.
Sedangkan Erik yang mendengar jawaban Dari dokter, seketika ia pun langsung duduk dilantai kemudian langsung sujud karena rasa syukurnya kepada Allah yang maha esa.
"Terimakasih ya Allah, terimakasih.? Terimakasih engkau telah mengabulkan doa-doa saya.! Terimakasih ya Allah engkau telah menyelamatkan istri saya, termakasih ya Allah, terimakasih.?" Kata Erik dengan suara bergetar karena menangis dengan raut wajah yang sudah tidak bisa diartikan lagi betapa bersyukur dan bahagianya saat ini, kemudian dengan segera ia pun langsung beranjak untuk bangun dan melangkah menghampiri Dinda.
"Sayang, kamu selamat sayang.? Kamu masih selam,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong.
"Mas Eriiiiiik, maaaaas,,,,,,," Kata Dinda tersadar dari komanya, dengan suara yang sangat pelan dan terdengar sangat lirih, dengan keadaan yang masih sangat lemah.
"S, s, sayang, kamu udah sadar sayang.? K, k, kamu udah sadar.?" Kata Erik gugup dan kaget sambil tersenyum dengan sangat bahagia.
"Mah, pah.! Dinda udah sadar mah, Dinda udah sadar." Teriak Erik tergesa-gesa sambil terus tersenyum menatap kearah pak Irsyad, ibu Yuli, pak Edi dan juga ibu Sari.
Mendengar teriakkan dari Erik, pak Irsyad, pak Edi, ibu Yuli dan ibu Sari pun langsung mengencangkan suara tangisannya karena saking bahagianya, begitupun dengan Erik, ia pun langsung mengencangkan suara tangisannya, kemudian langsung menciumi habis wajah Dinda tanpa henti-hentinya.
"Terimakasih sayang, terimakasih.? Kamu udah berjuang mati-matian untuk bisa kembali lagi bersama mas dan juga anak kita, sekarang kamu udah sadar sayang, sekarang kamu udah sadar." Kata Erik terharu karena saking bahagianya.
"Mas Eriiiiiik, maaass,,,,," Kata Dinda lagi dengan suara yang masih sangat pelan dan terdengar sangat lirih, sambil membukakan matanya secara perlahan.
Melihat Dinda perlahan membukakan matanya seperti itu, pak Irsyad, pak Edi, ibu Yuli dan ibu sari yang sedang menangis pun langsung tersenyum bahagia, akan tetapi tidak dengan Erik, ia pun lagi-lagi mengencangkan suara tangisannya.
"Hikss,,, hiks,,, hiks,,,," Suara Erik menangis bahagia.
"Mas kenapa nangiiiiiis.? Sekarang Dinda dimana maaaasss.?" Kata Dinda bingung.
Mendengar pertanyaan dari Dinda, seketika Erik pun langsung memeluknya dengan begitu erat.
"Kamu hampir aja buat hidup mas ini enggak ada artinya lagi sayang.! Kamu hampir aja ninggalin mas dan anak kita.!" Kata Erik tergesa-gesa sambil terus menangis.
"Rik udah Rik.! Jangan terlalu banyak ajak Dinda berbicara, Dinda masih sangat lemah Rik." Sambung ibu Yuli panik.
"Iya Rik.! Biarkan Dinda istirahat dul,,,,,," Seketika ucapan ibu Sari terpotong.
"Dinda hampir aja ninggalin masa sama anak kita.?" Kata Dinda masih bingung, sambil mengusap-usap perutnya yang sekarang ini sudah rata.
"Mas, anak kita mana mas.? Anak kita dimana.? Kenapa anak kita enggak ada di perut Dinda mas.?" Kata Dinda panik, dengan suara yang sangat pelan dan keadaan yang masih sangat lemah, ia panik karena ia sangat takut kalau anaknya sampai tidak terselamatkan.
"Kamu yang tenang yah sayaaang.? Anak kita ada, dan sekarang anak kita sedang dirawat. Jadi lebih baik sekarang kamu istirahat yah sayang yaaah.? Supaya kamu bisa cepat pulih seperti semula, biar kamu bisa cepat-cepat gendong jagoan kita Devano." Kata Erik pelan, sambil tersenyum dan menggenggam tangan Dinda dengan begitu eratnya.
"Devano.? Mas Erik menamai anak kita Devano mas.?" Kata Dinda sambil tersenyum bahagia, karena nama tersebut ia lah yang memilihkan saat anaknya itu masih dalam kandungannya.
"Iya sayang, nama anak kita Devano.! Nama yang sudah kamu siapkan dari jauh hari untuk anak kita, kamu suka kan sayang, hah.?" Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang.
"Iya mas, Dinda suka." Kata Dinda pelan sambil tersenyum.
"Devanooo, mama pengin cepet-cepet ketemu dan lihat wajah Devano .? Mama pengin cepet-cepet cium-cium Devano.? Dan mama juga pengin cepet-cepet gendong Devano, mama sayang sama Devano." Kata Dinda lagi pelan sambil menagis karena terharu.
Mendengar kata-kata dari Dinda yang seperti sangat menyayangi Devano putranya, Erik pun tersenyum.
"Kalau mamahnya pengin cepet-cepet gendong Devano, pengin cepat-cepat cium Devano, dan teruuus, pengin cepet-cepet ketemu sama Devano, sekarang mamahnya harus istirahat.! Yah.?" Kata Erik sambil terus tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda, ia menyuruhnya untuk istirahat, karena ia ingin Dinda istrinya itu cepet-cepet pulih seperti semula, agar ia bisa cepat-cepat berkumpul kembali dengan dirinya, keluarganya dan juga jagoannya Devano yang baru saja lahir.
__ADS_1
"Iya mas." Kata Dinda sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.