
MASIH DI RUMAH SAKIT.
Waktu menunjukkan pukul 07:00 pagi.
Terlihat Devano dan Dinda yang masih setia menunggu Alana yang sekarang ini masih belum sadarkan diri, sedangkan Pak Erik dan Raka sudah tidak terlihat lagi berada di Rumah Sakit, mereka sudah pulang, karena memang mereka banyak pekerjaan.
"Ya tuhaaan, sekarang gw harus gimana.? Apa yang bisa gw lakukan untuk menolong istri dan calon anak gw.?"
Ucap Devano dalam hati sedih.
"Baru kali ini gw ngerasa, kalau gw bener-bener enggak ada gunanya." Ucapnya lagi dalam hati.
Melihat keadaan anaknya sesedih itu, Dinda yang sedang duduk di sampingnya pun langsung berusaha untuk menghiburnya.
"Sayaaaang, kamu yang sabar yah.? Mamah tau, semua ini memang sangat berat untuk kamu. Tapi kamu enggak boleh sedih terus kayak gini, justru kamu lah yang harus kuat, karena kamu harus bisa menyemangati Alana, supaya Alana juga bisa kuat, bisa mempertahankan calon Anaknya." Ucap Dinda sambil mengusap-usap pundak Devano, sebenarnya Dinda pun sangat sedih dengan semua kejadian ini, namun sebagai orang tua ia berusaha untuk kuat didepan Devano anaknya.
"Tapi maaah, mamah itu ngerasa enggak sih.? Kalau sekarang ini Devano benar-benar enggak ada gunanya sebagai seorang suami.? Soalnya sekarang ini Devano bener-bener ngerasa, kalau Devano ini bener-bener enggak ada gunanya, Devano enggak bisa berbuat apa-apa untuk istri dan calon anak Devano sendiri." Ucap Devano, lagi-lagi ia menyalah kan dirinya sendiri.
"Sstttttt.! Kamu itu ngomong apa sih.? Sekarang ini kan kamu juga lagi berusaha untuk menyelamatkan istri dan calon anak kamu, dan sebentar lagi juga dokter yang menangani Alana datang, jadi kamu harus sabar.! Kamu enggak boleh ngomong kaya git,,,,,,,,," Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong, karena tiba-tiba Pak Adi dan Ibu Rika datang.
"Devano, gimana kondisi Alana sekarang Dev.?" Ucap pak Adi dan ibu Rika secara bersamaan, tergesa-gesa dan panik.
"Kondisi Alana sekarang ini masih krit,,,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Devano duduk tepat dibawah kaki pak Adi sambil menangis.
"Hiks,,hiks,, Devano benar-benar minta maaf pak, semua ini Devano yang salah, Devano udah enggak bisa ngejaga Alana dan juga calon anak Devano, Devano udah gagal jadi seorang suami." Ucap Devano sedih, sambil terus menangis dan memeluk kaki pak Adi.
"Hiks,, hiks,,, Devano udah gagal pak, hiks,, hiks,, Devano udah gagal ngejagain anak Bapak." Ucapnya lagi, ia benar-benar merasa sangat bersalah karena sudah gagal menjaga anak pak Adi yaitu Alana istri tersayangnya.
__ADS_1
"Sssssttt.! Udah Dev, cukup Dev.! Kamu enggak boleh kayak gini." Ucap pak Adi sambil buru-buru mengangkat tubuh Devano yang sekarang ini masih duduk tepat dihadapannya, sambil terus memeluk kakinya.
"Tapi paaah, semua ini salah Dev,,,,," Belum sempat Devano menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.
"Enggak Dev, enggak.! Kamu enggak salah, semua ini musibah Dev, semua ini musibah yang harus kita lewati." Ucap pak Adi mencoba untuk menyadarkannya, karena memang pak Adi menganggap semua ini adalah musibah, dan ia tidak menyalahkan Devano sama sekali dengan semua kejadian ini.
"Ia Dev, semua ini musibah. Lebih baik sekarang kita berdoa, supaya Alana dan calon anaknya bisa selamat." Sambung ibu Rika yang sedang berdiri tepat dihadapan Devano.
"Ia Dev, lebih baik sekarang kita berdo,,,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong karena tiba-tiba Dokter yang akan menangani Alana datang.
"Devanooo, Tante Dindaaaa.?" Ucap Dokter tersebut kaget melihat Devano dan Dinda bisa berada di rumah sakit tempat ia bekerja.
"Ini kalau enggak salah, Renata kan yah.?" Ucap Dinda yang juga kaget melihat keberadaan Renata di rumah sakit tersebut, ia Renata,,,,, karena Dokter tersebut bernama Renata.
RENATA.
"Ia Tante, ini Renata. Waaaaah enggak nyangka bisa ketemu sama Tante juga Devano disini." Ucap Renata sambil tersenyum bahagia, kemudian ia pun langsung terdiam.
"Apa ini yang dinamakan jodoh.? Kok gw bisa tiba-tiba ketemu Devano disini yah." Ucapnya lagi dalam hati sambil tersenyum senang, karena sepertinya sampai sekarang pun ia masih memiliki perasaan kepada Devano.
"Oh ia Dev, kamu kenapa.? Kok dari tadi kamu diam aja, kamu enggak nyapa aku.? Emang kamu enggak kangen sama aku.?" Ucap Renata bercanda, ia berbicara seperti itu karena memang ia melihat Devano dari tadi hanya terdiam tidak menyapanya sama sekali.
"Oh iya Ren maaf.! Gimana kabar loh Sekar,,,,,,,,," Seketika ucapan Devano terpotong, karena tiba-tiba ada suster datang menemui Dokter Renata.
"Dok, gawat dok.! Pasien kejang-kejang dok." Ucap suster tersebut tergesa-gesa, ia berbicara seperti itu karena memang tadi Alana sempat kejang-kejang.
"Apa, pasien kejang-kejang.?" Ucap Renata kaget.
__ADS_1
"Ya udah, ya udah.! Sekarang juga saya kesana." Ucapnya lagi panik.
"Ya udah Tante, Devano, maaf yah.? Saya enggak bisa lama-lama disini, soalnya ada pasien gawat yang harus saya tangani." Ucap Renata, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah menuju kamar rawat Alana, sepertinya ia tidak tau kalau pasien yang akan ia tangani adalah Alana istri Devano, karena ia pun tidak tau kalau ternyata Devano pria yang ia cintai sudah menikah.
DI RUANG RAWAT ALANA.
Terlihat Dokter Renata yang baru saja masuk kedalam ruang rawat tersebut.
"Bagaimana keadaan pasien sekarang.?" Ucap Dokter Renata sambil buru-buru memeriksa keadaannya.
"Tadi sempat kejang-kejang dok, dan keadaannya pun sekarang semakin lemah, karena dari tadi pagi pasien pendarahan lagi dok." Ucap salah satu suster yang dari kemarin merawat dan menjaga Alana, ia berbicara seperti itu, karena setelah semalaman Alana berhenti pendarahan, tiba-tiba tadi pagi ia pendarahan lagi.
"Siapkan semua alat-alat sekar,,,,,," Seketika ucapan Dokter Renata terpotong, karena tiba-tiba pemilik Rumah Sakit tersebut datang dan masuk ke dalam ruang rawat Alana.
"Gimana keadaan ibu Alana sekarang dok.? Dokter Renata bisa kan, menyelamatkan Ibu Alana dan juga kandungannya.?" Ucapnya khawatir.
"Saya enggak yakin pak, bisa menyelamatkan keduanya, kalau untuk ibunya insyaallah bisa selamat, tapi saya tidak menjamin untuk kandungannya, karena kondisi kandungannya sekarang ini benar-benar lemah, dan ibu Alana juga tidak berhenti-berhenti pendarahan, kalau kandungannya dipertahankan, nantinya ibu Alana yang enggak kuat, dan itu semua akan membahayakan ibu Alana." Ucap Dokter Renata mencoba untuk menjelaskan keadaan Alana sekarang ini kepada pemilik Rumah Sakit tersebut.
"Tapi Dokter Renata, Kita harus benar-benar kasih perawatan yang terbaik untuk ibu Alana. Karena pasien ini benar-benar sangat penting untuk saya. Karena ibu Alana adalah istri Devano, dan Ayah Devano, pak Erik adalah teman baik saya, dan saya enggak mau mengecewakan beliau." Ucap pemilik Rumah Sakit tersebut mencoba untuk menjelaskan.
"T, t, tadi bapak ngomong apa.? Ibu Alana istri Devano, putra dari pak Erik.?" Ucap Dokter Renata gugup dan kaget.
"Ia, Devano putra pak Erik, teman baik saya. Jadi saya mohon kepada Dokter Renata dan juga semua perawat disini, tolong berikan perawatan yang terbaik untuk ibu Alana." Ucap pemilik Rumah Sakit tersebut dengan jelas.
"Enggak, enggak mungkin.! Jadi wanita ini istri Devano.?" Ucap Dokter Renata kecewa, sambil menatap kearah Alana yang masih terbaring dan belum sadarkan diri.
############
Maaf baru bisa Up.
__ADS_1
Jangan lupa like, comen dan fav 😍