
DI RUMAH PAK IRSYAD.
Waktu menunjukkan pukul 08:30 Pagi.
Terlihat Erik yang sedang berdiri didalam kamar, sambil tersenyum menatap ke arah Dinda istrinya, yang dari tadi sibuk memakai perawatan kecantikannya sambil bercermin.
Melihat istrinya sesibuk itu, Erik pun melangkah menghampirinya, perlahan ia pun memeluknya dari belakang dengan begitu erat.
"Eeeemmmm kamu dari tadi sibuk banget sih sayaaang.? Udah, udah cantik kok.! Entar keburu Dokter Tia nya nunggu kita kelamaan lagi, kan pagi ini kita mau ketemu sama Dokter Tia, sekalian periksa perut kamu yang tadi mual.?" Kata Erik sambil tersenyum dan terus memeluknya dengan erat, ia berbicara seperti itu karena hari ini ia memang mau mengantarkan Dinda untuk berobat ke dokter Tia, sekalian mau membicarakan tentang kapan jadwal operasinya akan dilakukan, karena tanpa sepengetahuan dari kita Erik dan Dinda ternyata semalam sudah mendiskusikan masalah tersebut, dan Dinda pun sudah menyetujuinya, apalagi kebetulan sekali sekarang ini Dokter Tia sudah kembali lagi ke Indonesia, karena Doktet Irvan yang sedang bulan madu dan tidak bisa menggantikannya.
"Eeeemmm mas Eriiiiik, sebentar lagiiiii.? Dinda mau pakai ini dulu.!" Kata Dinda sambil menunjukan lipstik yang sedang ia pegang, karena lipstik tersebut akan ia pakai.
Mendengar rengekan dari Dinda, Erik pun tersenyum.
"Ya udah, kamu pakai dulu lipstiknya yaaah.? Biar kamu tambah cantik." Kata Erik sambil tersenyum menggoda Dinda.
"Eeemmm maaas.?" Kata Dinda merengkek manja sambil tersenyum, karena senang mendengar godaan Erik dari Erik itu, kemudian ia pun langsung kembali memakai lipstik tersebut.
"Oh iya mas.! Kalau Dinda pake warna yang ini cantik enggak.?" Kata Dinda mencoba untuk meminta pendapat kepada Erik suaminya, yang sekarang ini masih duduk tepat dibelakangnya sambil terus memeluknya dengan erat.
"Apa cantikan warna yang ini.? Terus kalau yang ini gimana.? Kelihatan cantik enggak.?" Kata Dinda lagi dengan bawelnya, sambil terus menunjukkan warna lipstiknya satu-persatu kepada Erik, karena hari ini ia ingin terlihat cantik di depannya.
Mendengar istrinya yang tak henti-hentinya bertanya seperti itu, Erik pun lagi-lagi tersenyum.
"Kamu itu bawel banget siiiih, hah.?" Kata Erik sambil mencubit gemas hidung Dinda.
__ADS_1
"Mau pake warna apa aja, kalau istri mas ini yang pake, pasti akan tetap terlihat cantik kok.! Karena baru bangun tidur aja, istri mas ini udah cantiiiik banget," Kata Erik serius, ia memujinya seperti itu bukan karena ia sedang gombal kepadanya, akan tetapi karena memang kenyataannya Dinda istrinya itu sangat cantik meskipun ia baru bangun tidur sekalipun.
"Iiiiiiihhhhh mas Erik beneraaaan.? Dinda cantiknya pakai warna yang mana.?" Kata Dinda sambil tersenyum karena malu mendengar ucapan Erik, kemudian ia pun langsung menunjukkan lagi lipstiknya itu kepada Erik suaminya.
"Eeemmm warna yang mana yaaah.?" Kata Erik pura-pura berfikir, karena sebenarnya ia tidak tau sama sekali warna apa yang cocok untuknya, karena menurut ia mau pakai warna apa saja, asalkan Dinda istrinya itu yang memakai, pasti akan tetap terlihat cantik, namun karena ia sangat tau sifat Dinda istrinya itu seperti apa, yang pastinya akan terus bawel meminta pendapat kepadanya, akhirnya ia pun mencoba untuk menjawabnya, meskipun sesungguhnya ia tidak tau sama sekali tentang kecantikan.
"Oh iya, kayaknya yang ini deh sayang.!' Kata Erik sambil menunjuk salah satu warna lipstik Dinda.
"Yang ini mas.? Beneraan.?" Kata Dinda dengan suara tinggi sambil tersenyum menatap kearah lipstik tersebut.
"I, i, iya bener yang itu.!" Kata Erik gugup, karena sebenarnya ia hanya asal memilih.
"Iiiiiiihhhhh maaaas, padahal dari tadi Dinda mau pakai warna yang iniiii.! Tapi Dinda takut mas enggak suka." Kata Dinda sambil tersenyum senang, karena menurutnya warna pilihan Erik itu sesuai dengan warna yang akan ia pilih, kemudian dengan segera ia pun langsung memakainya.
"Mas Eriiiiik, lipstiknya udah Dinda pakai, Dinda cantik enggak.?"
"Eeeeeemmm cantik enggak yaaaaah.?" Kata Erik sambil tersenyum menggodanya.
"Iiiiiiihhhhh mas Eriiiiiik, Dinda cantik enggak.? Solanya kan hari ini Dinda pengin terlihat cantik di depan mas.?" Kata Dinda merengek seperti anak kecil.
Mendengar rengekan Dinda, Erik pun tersenyum, kemudian ia pun langsung memeluknya kembali dari belakang, sambil menciumi leher dan pundaknya tanpa henti-henti.
"Eeemmmm wangi banget sih istri mas ini.?" Kata Erik sambil terus menciumi pundak dan leher Dinda.
"Mas jangan cium-cium muluuu, mas jawab dulu.! Dinda cantik enggak.?" Kata Dinda lagi-lagi bertanya seperti itu kepada Erik.
__ADS_1
Mendengar Dinda yang lagi dan lagi bertanya seperti itu, Erik pun lagi-lagi tersenyum, kemudian ia pun langsung menatapnya dengan sangat dalam.
"Hari ini kamu itu kelihatan sangat-sangaaaat, cantik, apalagi kalau kamu tersenyum, kamu itu kelihatan tambah cantik, tetap cantik dan selalu tersenyum seperti ini yah.? Meskipun suatu saat nanti mungkin kita enggak akan bisa bersama lagi." Kata Erik serius, namun entah apa yang ada didalam fikirkannya mengapa tiba-tiba ia berbicara seperti itu
"Maksudnya.?" Kata Dinda bingung mendengar ucapan dari Erik.
Melihat Dinda kebingungan seperti itu, Erik hanya terdiam, ia justru mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi tepat di depan wajah cantik Dinda, sambil terus memandangi wajah cantiknya itu lebih dalam lagi.
"M, m, mas Erik Kenapa.? Kok dari tadi mas ngelihatin Dinda kaya gitu.?" Kata Dinda semakin bingung dengan tingkah laku Erik, semalam Erik suaminya itu memintanya, jika suatu saat nanti ia sakit, dirinya harus mau merawatnya, dan sekarang ia berbicara dengan kata-kata yang tidak masuk akal lagi, yaitu tadi ia menyuruhya agar tetap cantik dan selalu tersenyum meskipun suatu saat nanti mungkin ia dan dirinya tidak bisa bersama lagi.
Melihat Dinda yang semakin kebingungan seperti itu, lagi-lagi Erik hanya terdiam, perlahan ia pun justru mendekatkan bibirnya ke bibir Dinda sambil terus memandangi wajah cantiknya itu tanpa henti-henti.
"Maaaas.?"
Kata Dinda pelan, dengan suara nafas yang terdengar sangat ngos-ngosan sambil memejamkan matanya, karena ia sangat yakin kalau Erik suaminya itu akan mencium bibirnya.
Namun sayang semua tidak seperti yang Dinda pikirkan, karena ternyata Erik tidaklah mencium bibirnya, ia hanya memandangi dan membelai wajah cantiknya dengan tatapan yang sangat sedih, namun lagi-lagi entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini, mengapa tiba-tiba ia menatapnya seperti itu, seakan-akan ia dan Dinda tidak akan bertemu lagi, mungkin ia seperti itu karena ia sangat takut, mengingat Dinda istri tercintanya yang sebentar lagi mau melakukan operasi, dan mungkin saja ia seperti itu karena ia mempunyai alasan sendiri yang ia pun tidak tau dan tidak bisa untuk dijelaskan.
Erik memandangi wajah cantik Dinda sudah cukup lama, sehingga Dinda yang dari tadi masih memejamkan matanya pun bingung.
"Kok mas Erik enggak cium-cium Dinda sih.?" Kata Dinda dalam hati, perlahan ia pun mencoba untuk membukaan matanya yang terpejam itu.
"M, m, mas Erik, mas Erik kenapa.? Kok mas Erik kaya sedih gitu sih ngelihatin Dinda.?" Kata Dinda gugup dan kaget melihat Erik menatapnya seperti itu.
"Mas Erik takut Dinda kenapa-kenapa karena sebentar lagi Dinda mau operasi.? Mas Erik tenang aja.! Mas Erik enggak usah sedih.! Dinda enggak akan kenapa-napa kok, Dinda kuat, Dinda pasti kuat.! Demi mas Erik, Dinda akan selalu kuat." Kata Dinda mencoba untuk meyakinkan Erik suaminya itu, kalau ia pasti akan selalu kuat demi Erik suaminya itu.
__ADS_1
Mendengar kata-kata dari Dinda, Erik pun langsung memeluknya dengan begitu erat, seakan-akan sekarang ini adalah pelukan terakhirnya dengan Dinda.