DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU

DOSEN DINGIN PUJAAN HATIKU
Episode 66


__ADS_3

Setelah mengusir dan mendorong Sania keluar dari rumahnya, Erik pun langsung melangkah menuju kamarnya untuk memberi penjelasan kepada Dinda tentang kesalah pahamannya dengan Sania.


"Sayang, mas bisa jelasin sama kamu sayang.! Semua ini cuma salah pah,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong, karena ia kaget bukan main melihat Dinda yang ternyata tidak ada di dalam kamarnya.


"Sayaaang, kamu dimana sayang.? Sayang, kamu diman,,,,,,," Lagi-lagi ucapannya terpotong.


"Maaf pak Erik, non Dinda nya enggak ada di kamar. Tadi non Dinda nya keluar diantar pak Ridwan, katanya sih non Dinda mau pulang ke rumah pak Irsyad." Kata bi Ijah sopan, ia mencoba untuk memberi tahu Erik, kalau Dinda memanglah pulang ke rumah pak Irsyad Ayahnya.


"Apa.? Non Dinda pulang ke rumah pak Irsyad bi.? Kenapa tadi bibi enggak kasih tau saya bi.?" Kata Erik kaget dan panik.


"Ya udah, ya udah.! Sekarang saya mau susul non Dinda dulu yah bi.?"Kata Erik lagi tergesa-gesa, sambil buru-buru melangkah keluar dari rumahnya menuju garasi mobil untuk menyusulnya, karena ia sangat khawatir dengan keadaannya yang sekarang ini sedang hamil besar, yang pergi larut malam dengan keadaan hati yang tak menentu, apalagi mengingat jarak yang Dinda tempuh sekarang ini lumayan jauh, perasaannya pun semakin tak karuan, ia takut kalau sampai terjadi sesuatu kepada Dinda dan calon anaknya yang ada di dalam kandungannya, dan bukan hanya itu saja, ia buru-buru menyusulnya karena ia juga ingin cepat-cepat menjelaskan semua tentang kesalah pahamannya dengan Sania.


DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH PAK IRSYAD.


Waktu menunjukkan pukul 01:30 malam.


Terlihat bi Iroh yang sedang berjalan dengan sangat terburu-buru menuju pintu masuk.


"Iya non, sebentar non.! Ini bibi lagi bukain pintu nya." Triak bi Iroh sambil membukakan pintu untuk Dinda yang baru saja sampai di rumah tersebut.


"Hiks,,, hiks,,, hiks,,,," Dinda menangis dengan keadaan yang sangat lemas, raut wajahnya pun terlihat sangat pucat dan lelah.


"Ya ampun non Dinda.! Non Dinda kenapa non.? Kok non Dinda nangis sih.? Non Dinda pulang sama siapa.? Pak Erik nya mana non.?" Kata bi Iroh tergesa-gesa dan panik, melihat Dinda menangis seperti itu.


"Hiks,, hiks,, mas Erik bi, hiks,, hiks,, mas Erik.? Mas Erik hiks,,, hiks,, jahat sama hiks,, hiks,, Dinda bi.? Mas Erik udah hiks,, hiks,,,,,,," Belum sempat Dinda menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong, karena bi Iroh langsung memeluknya dengan begitu erat.


"Sssstttttt udah, udah.! Non Dinda jangan nangis terus.! Non Dinda tenang dulu yaaah.? Nanti kalau non Dinda udah tenang, baru deh non Dinda cerita kan semuanya sama bibi, lebih baik sekarang kita duduk dulu yuk di sana.!" Kata bi Iroh mencoba untuk menenangkannya, kemudian ia pun langsung melangkah dan mengajaknya untuk duduk di ruang tamu.


"Ya udah, sekarang non Dinda kasih tau bibi yah.? Non Dinda ini kenapa.? Kenapa kok non Dinda nangis.?" Kata bi Iroh mencoba untuk menanyakannya lagi.


Mendengar bi Iroh bertanya lagi kepada dirinya, Dinda pun mencoba untuk menjelaskan semuanya tentang apa yang baru saja ia lihat antara Erik dan Sania di dalam kamar.


"Apa non.? Pak Erik mau mencoba untuk memperkosa non Sania.? Enggak non, bibi enggak percaya kalau pak Erik berbuat sebejad itu.! Bibi benar-benar enggak percaya non, Mungkin saja non Sania itu bohong non, non Sania itu bohong.! Non Dinda Itu jangan terlalu mudah percaya dengan omongan non Sania dong non.! Ya meskipun bibi juga tau kalau non Sania itu sepupu non, tapi kan non Dinda sama non Sania itu baru kenal dekat, jadi non Dinda jangan mudah percaya non.!" Kata bi Iroh kaget dan tak percaya mendengar penjelasan dari Dinda, karena ia sangat tau kalau Erik bosnya itu adalah seorang laki-laki yang sangat baik, yang tidak mudah tergoda oleh perempuan, apalagi perempuan yang baru saja ia kenal seperti Sania.


"Dinda juga enggak tau bi sebenarnya siapa yang sedang berbohong, tapi kayaknya enggak mungkin kalau kak Sania itu berbohong, soalnya tadi tuh Dinda benar-benar lihat mas Erik sedang peluk-peluk kak Sania didalam kamar kak Sania bi.? Kalau kak Sania bohong, terus untuk apa mas Erik malam-malam masuk ke kamar kak Sania.? Untuk apa bi.?" Kata Dinda mencoba untuk menjelaskan lagi tentang apa yang baru saja ia lihat.


"Dan buktinya tadi waktu Dinda lari, mas Erik enggak ngejar Dinda sama sekali bi, bahkan sampai sekarang, mas Erik enggak ada nemuin Dinda kesini.! Kayaknya memang benar kata-kata kak Sania, kalau mas Erik itu tadi memang benar-benar mau memperko,,,,," Seketika ucapan Dinda terpotong, karena lagi-lagi bi Iroh memeluknya dengan begitu erat.


"Ssstttt udah, udah.! Non Dinda jangan terusin lagi.! Lebih baik sekarang non Dinda Istirahat.! Non Dinda itu jangan terlalu banyak pikiran, kan sekarang non Dinda itu lagi hamil.? Kalau non Dinda terlalu banyak pikiran, kasihan anak non yang ada di dalam perut, lihat nih muka non sekarang.! Muka non itu kelihatan pucat dan lelah katak gini." Kata bi Iroh sambil menatapi wajah Dinda yang memang terlihat sangatlah pucat dan lelah itu.


"Lebih baik sekarang non istirahat.! Ayo non.! Biar bibi antar non ke kamar.?" Kata bi Iroh lagi penuh perhatian.


Mendengar kata-kata dari bi Iroh, Dinda tidak menjawabnya, ia hanya menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang terlihat masih sangat sedih.


"Ya udah ayo.!" Kata bi Iroh sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung merangkul pundaknya dan melangkah menuju kamar Dinda.


"Sekarang non Dinda Istirahat yah.? Non Dinda tidur, ingat.! Non Dinda jangan terlalu banyak pikiran.! Lagian sekarang juga masih malam non, bibi juga mau tidur lagi." Kata bi Iroh mencoba untuk menasehatinya.


"Ya deh bi, sekarang Dinda tidur.! Tapi bi Iroh juga tidur disini temenin Dindaaa.? Soalnya Dinda enggak mau tidur sendiri, Dinda takuuut.? Dinda takut kalau Dinda tidur sendiri, nanti kalau perut Dinda sakit gimanaaa.? Bibi mau yah tidur disini temenin Dindaaa.?" Kata Dinda merengek seperti anak kecil, ia meminta bi Iroh untuk menemaninya tidur, karena akhir-akhir ini ia memang sangat takut untuk tidur sendiri, apalagi sekarang ini usia kandungannya sudah menginjak umur sembilan bulan, yang artinya hanya tinggal hitungan hari ia akan melahirkan Erik junior, jagoan kesayangannya dan juga kesayangan Erik yang sudah dinanti-nantikannya selama ini, dan itu sebabnya mengapa ia meminta bi Iroh untuk menemaninya tidur, karena untuk jaga-jaga takut tiba-tiba perutnya sakit.


Mendengar rengekan dari Dinda, bi Iroh pun tersenyum.


"Ya udah, malam ini bibi tidur disini temenin non Dinda." Kata bi Iroh, kemudian ia pun langsung berbaring di sampingnya, hingga akhirnya Dinda pun tertidur dengan sangat pulas.


Melihat Dinda tertidur pulas seperti itu, lagi-lagi bi Iroh pun tersenyum.


"Kasihan kamu non, pasti sekarang ini non lagi banyak banget masalah yah.? Non sampai kelihatan pucat dan lelah kaya gini." Kata bi Iroh pelan, sambil mengusap-usap rambut Dinda.

__ADS_1


"Tapi sekarang bibi benar-benar bangga sama non.! Bibi benar-benar enggak nyangka, non Dinda yang dulu masih kecil dan sangat manja, sekarang sudah sedewasa ini.! Bahkan sebentar lagi non Dinda mau melahirkan seorang an,,,,,,,," Seketika ucapan bi Iroh terpotong, karena tiba-tiba ia mendengar suara Erik yang sedang mengetuk-ngetuk pintu kamar Dinda Tok.! tok.! tok.!


"Dindaaa, bukain pintunya sayang.! Mas mau ngomong sama kamu." Kata Erik tergesa-gesa dan panik.


"Sayaaang, bukain pintunya say,,,,,,," Seketika ucapan Erik terpotong, karena tiba-tiba ia melihat bi Iroh keluar dari kamar tersebut.


"B, b, bi Iroh.?" Kata Erik gugup.


"Iya pak Erik, ini bib,,,,,," Belum sempat bi Iroh menyelesaikan ucapannya namun sudah terpotong.


"Bi Iroh, Dinda mana bi.? Dinda mana.?" Kata Erik tergesa-gesa dan panik, kemudian ia pun langsung buru-buru masuk kedalam kamar tersebut.


"Dindaaa.?"



Kata Erik lagi, sambil menatap kearah Dinda yang sedang tertidur dengan sangat pulas di tempat tidurnya.



Kemudian ia pun langsung menghampirinya dan duduk tepat di sampingnya.


Melihat Erik menghampiri Dinda, dengan segera bi Iroh pun langsung melangkah keluar dari kamar tersebut, meninggalkan Erik dan Dinda hanya berdua di dalam kamar.


"Mas minta maaf yah sayang.? Gara-gara mas kamu jadi kaya gini." Kata Erik sedih, sambil memandangi wajah Dinda yang terlihat masih sangat pucat dan lelah.


"Kenapa sih sayaaang, kamu ini enggak percaya sama mas.? Kalau kamu percaya sama mas, pasti kamu enggak akan kaya gini.! Mas minta maaf yah sayang, mas minta maaf.?" Kata Erik lagi, sambil mengusap-usap rambutnya dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang.


"Eeuuummm,,,," Suara Dinda terusik dari tidurnya.


"Eeeemmmmm, mas ini sayang banget sama kamu sayang.?" Kata Erik pelan, sambil menciumi rambut dan leher Dinda dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang.


"Eeuuummm." Lagi-lagi Dinda terusik dari tidurnya, perlahan ia pun mencoba untuk membuka matanya.


"M, m, mas Eriiiik.?" Kata Dinda kaget, Melihat Erik yang sudah berada disampingnya.


"Iya sayang, ini mas." Kata Erik sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung mengeratkan pelukannya itu ke tubuh Dinda.


"Eeeeemmmm, mas ini kangen banget sama kamu sayang.? Mas ini benar-benar kangen banget sama kamu.! Mas enggak bisa jauh-jauh dari kamu, mas enggak bisa sayang." Kata Erik pelan, sambil terus menciumi rambut dan leher Dinda tanpa henti-hentinya seakan tak mau pisah darinya.


"Awas ah.! Mas Erik mau ngapain kesini.? Mas Erik enggak usah peluk-peluk, cium-cium Dinda lagi.! Mas Erik udah jahat sama Dinda, Dinda benci sama mas.! Dinda benci sama mas.!" Kata Dinda dengan suara tinggi karena marah, sambil mencoba melepaskan pelukan erat Erik dari tubuhnya.


Melihat Dinda semarah itu, Erik justru memeluknya semakin erat lagi.


"Eeeemmm sayaaang, kamu jangan marah dulu sama mas sayang.! Mas bisa jelasin semuanya sama kamu.! Mas bisa jelasin semua,,,,,,,,,," Belum sempat Erik menyelesaikan ucapannya, namun sudah terpotong.


"Mas mau jelasin apa sama Dinda.? Semuanya udah jelas mas.! Kalau memang mas enggak mau perkosa kak Sania, kenapa mas bisa ada didalam kamar kak Sania mas.? Kenapa mas, kenapa.?" Kata Dinda semakin emosi.


"Sssssttttttt kamu tenang dulu sayang.! Kamu tenang dulu.! Mas akan jelasin semuanya sama kamu, mas akan jelasin semuanya sama kamu sayang.! Kamu harus percaya sama mas.! Mas ini enggak pernah bohong sama kamu, mas ini enggak pernah bohong sama kamu sayang." Kata Erik serius, sambil menatap dalam wajah Dinda.


"Ya udah, sekarang juga tolong mas jelasin semuanya sama Dinda.! Dinda enggak mau yah kalau mas Erik sampai bohong sama Dinda." Kata Dinda mencoba untuk mendengarkan penjelasan dari Erik.


"Terimakasih sayang, terimakasih.! Sekarang juga mas akan jelasin semuanya sama kamu sayang, mas akan jelasin semuanya sama kamu." Kata Erik tergesa-gesa sambil tersenyum, kemudian dengan segera ia pun langsung menjelaskan semuanya kepada Dinda tentang kesalahpahamannya antara dirinya dan Sania.


"Apa.? Mas dijebak sama kak Sania.?" Kata Dinda kaget dan tak percaya mendengar penjelasan dari Erik.


"Tapi mas enggak bohong kan sama Dinda.? Mas tadi benar-benar dijebak kan sama kak Saniaaa.?" Kata Dinda sedikit ketakutan kalau sampai Erik berbohong kepadanya.

__ADS_1


"Iya sayang, mas benar-benar dijebak.! Mas enggak bohong sama kamu sayang, mas enggak bohong." Kata Erik mencoba untuk menyakinkan Dinda.


"Eeemmm maaaas, Dinda minta maaf.? Tadi Dinda udah enggak percaya sama mas.! Habisnya tadi itu Dinda takut banget kalau sampai mas berbuat kayak gitu sama kak Saniaaa." Kata Dinda dengan sangat manjanya, sambil memeluk tubuh Erik dengan erat.


"Eeeemmm, kamu tenang aja yah sayang.? Mas ini enggak akan pernah ngelakuin hal sebodoh itu, enggak akan sayang.! Lagian masa ia sih, mas hianati istri mas yang cantik ini, yang sebentar lagi mau ngasih mas anak, hah.?" Kata Erik sambil tersenyum dan mencubit manja hidung Dinda.


Mendengar kata kata Erik, Dinda pun langsung tersenyum.


"Dinda sayang banget sama maaaaas.?" Kata Dinda.


"Sama, mas juga sayaaaaang banget sama istri mas yang ndut ini.!" Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap rambut Dinda.


"Iiiihhh enggak mau Nduuuut.?" Kata Dinda.


"Iya, iya, enggak.! Ya udah, lebih baik sekarang kita bobo yuk.! Lihat tuh sekarang udah jam berapa.? Sekarang udah hampir pagi sayang." Kata Erik sambil menatap kearah jam dinding di kamar Dinda, kemudian ia pun langsung beranjak untuk tidur bersama Dinda, dan akhirnya mereka berdua pun akur kembali.


DI DEPAN RUMAH PAK IRSYAD.


Waktu menunjukkan pukul 07:00 Pagi.


Terlihat Sania yang sedang berdiri di depan rumah tersebut.


"Pokoknya sekarang gw harus bisa rayu Dinda, supaya Dinda izinin gw tinggal di rumah om Irsyad.! Gw enggak bisa terus- terusan tinggal di hotel seperti semalam, bisa-bisa semua duit gw habis kalau gw tinggal di hotel, lagian kayaknya enggak susah deh ngerayu Dinda, sekarang ini kan Dinda lagi marah banget sama Erik gara-gara rencana gw semalam.! Dan kayaknya Dinda lebih percaya sama kata-kata gw deh, dari pada kata-kata Erik.? Emmmmm beber, Dinda lebih percaya sama kata-kata gw.!Jadi lebih baik sekarang, gw masuk aja deh ke rumah om Irsyad.!" Kata Sania dalam hati, sambil tersenyum senang, karena ia belum tau kalau ternyata Dinda dan Erik sudah akur kembali, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah masuk kedalam rumah tersebut, namun baru saja ia sampai di halaman rumah tersebut, tiba-tiba langkahnya terhenti, karena ia kaget melihat Erik dan Dinda yang keluar dari rumah tersebut dengan keadaan yang seperti sudah akur kembali.


"Sayang, mas berangkat ke kantor dulu yah.? Kamu jagain Dede baik-baik, Ingat.! Jangan terlalu capek dan jangan terlalu banyak pikiran." Kata Erik sambil tersenyum dan mengusap-usap perut Dinda dengan sangat pelan dan penuh kasih sayang.


"Iya mas, mas hati-hati yah.?" Kata Dinda sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung salaman dan mencium tangan Erik.


"Ya udah, mas berangkat." Kata Erik, kemudian ia pun langsung melangkah menuju mobilnya.


"Itu beneran Erik.? Kurang ajar.! Berarti rencana gw semalam gagal dong.?" Kata Sania dalam hati kesal melihat Erik dan Dinda yang sudah akur kembali.


"Gw enggak bisa lihat ini semua.! Gw enggak bisa.! Secepatnya gw harus bisa menyingkirkan Dinda dari kehidupan Erik.! Iya, secepatnya gw harus bisa menyingkirkan Dinda dari kehidupan Erik." Kata Sania lagi dalam hati, entah rencana jahat apa lagi yang akan ia lakukan kepada Dinda.


"Ehh tunggu dulu.! Itu kayaknya mobil Erik udah jalan." Kata Sania sambil menatap kearah mobil Erik yang baru saja jalan dan keluar dari rumah tersebut, kemudian ia pun langsung menatap ke arah Dinda yang sedang berjalan masuk ke dalam rumah.


"Eeemmm secepatnya gw harus ikut Dinda.! Mumpung sekarang ini Erik lagi enggak ada di rumah, gw harus bisa menyingkirkan Dinda sekarang juga.! Iya, gw harus cepat-cepat menyingkirkan Dinda sekarang juga.!" Kata Sania dalam hati sambil tersenyum, kemudian ia pun langsung buru-buru melangkah masuk ke dalam rumah tersebut mengikuti langkah Dinda dari belakang.


"Dinda mana yah.? Cepet banget sih jalan,,,,,," Seketika ucapan Sania terpotong, kemudian ia pun langsung tersenyum menatap kearah Dinda yang sedang berjalan naik tangga menuju kamarnya.


"Dinda tunggu dulu.! Kamu mau kemana.?" Teriak Sania sambil tersenyum sinis, kemudian ia pun langsung melangkah menghampirinya yang sekarang ini sudah sampai dipertengahan tangga.


"K, k, kak Sania.? K, k, kak Sania mau nagapain kesini.?" Kata Dinda gugup dan ketakutan, karena sekarang ini ia sudah tau kalau Sania itu adalah perempuan yang sangat licik yang ingin menghancurkan semua keluarganya.


Melihat Dinda ketakutan seperti itu, Sania malah justru tersenyum.


"Dindaaa, Dinda, loh takut yah ngeliat kak Sania kesini.?" Kata Sania sambil terus tersenyum.


"Bagus.! Sudah seharusnya sekarang ini loh takut sama gw.! Karena sekarang ini gw akan menyingkirkan loh dan bayi loh ini dari kehidupan Erik.! Ngerti loh.!" Kata Sania, dengan suara tinggi dan raut wajah yang sangat marah, sambil melangkah lebih dekat lagi menuju Dinda, kemudian ia pun mencoba untuk mendorongnya dari atas tangga agar Dinda terjatuh kebawah.


"Kak Sania mau ngapain.? Kak Sania jangan dorong Dinda kak.! Kak Sania jangan dorong Dinda.! Dinda mohon sama kak Sania.! Kak Sania jangan dorong Dinda.! Dinda takut kak Sania, Dinda takut.?" Kata Dinda tergesa-gesa dan ketakutan, bahkan saking takutnya ia pun sampai menangis.


Melihat Dinda menangis seperti itu, Sania malah justru tertawa dengan sangat lantang.


"Uuuuuuhhhh kasihaaann.? Kamu takut yah Dinda, hah.? Kamu takut.? Hahahhahha Kamu siap-siap yah sekarang Dinda.! Kamu siap-siap.! Karena sekarang ini, gw akan dorong loh kebawah.! Dan loh tau apa yang akan terjadi kalau sampai gw dorong loh ke bawah.? Loh dan bayi kesayangan loh ini pasti akan mati.! Dan itu yang gw mau, itu yang gw mau Dinda, itu yang gw mau.!" Kata Sania dengan suara sedikit tinggi, kemudian ia pun mencoba untuk mendorongnya kembali.


"Kak Sania lepasin Dinda.! Jangan kak Sania, jangan.! Kak Sania jangan dorong Dinda.! kak Sania lepasin Dinda kak.! Lepasin Dinda.!" Kata Dinda ketakutan, sambil mencoba untuk melawan Sania.

__ADS_1


__ADS_2