
"Kamu serius dengan ucapan kamu ini.? Kamu mau kita cerai.? Enggak, sampai kapan pun mas enggak akan pernah menceraikan kamu.! Enggak, enggak akan pernah.! Ngerti kamu.?" Kata Erik dengan suara tinggi dan raut wajah yang sangat marah, sambil menatap wajah Dinda dengan tatapan yang sangat tajam, ia mencoba untuk menolak permintaan darinya.
"Terserah mas mau menceraikan Dinda atau enggak.! Yang jelas Dinda akan tetap bercerai dari mas.!" Kata Dinda dengan suara yang lebih tinggi dari Erik dan raut wajah yang sangat marah, sepertinya ia tetap teguh dengan pendiriannya itu, karena seperti yang kita tau, ia tidak mau membebani Erik dengan penyakitnya, dan mulai sekarang ia ingin fokus mengobati penyakitnya itu.
Mendengar ucapan dari Dinda, Erik pun tersenyum sinis.
"Sekarang mas tanya sama kamu.! Apa alasan kamu kenapa kamu tiba-tiba ingin cerai dari mas, hah.? Kemaren-kemaren kamu biasa saja sama mas, kenapa tiba-tiba kamu ingin cerai dari mas.?" Kata Erik bingung mengapa tiba-tiba Dinda ingin berpisah dan bercerai darinya, karena seingatnya hubungan rumah tangganya dengan Dinda baik-baik saja dan tidak ada masalah sama sekali.
"Mas mau tau apa alasan Dinda ingin bercerai dari mas.? Alasan Dinda ingin bercerai dari mas, karena Dinda enggak pernah cinta sama mas.! Selama ini Dinda cuma pura-pura mas, dan sekarang, Dinda udah capek mas.! Dinda udah capek.! Dinda udah capek bersandiwara terus dihadapan mas.!" Kata Dinda terpaksa berbohong kepada Erik, meskipun sesungguhnya ia benar-benar tidak tega berkata seperti itu, namun ia harus memberikan alasan seperti itu karena dengan alasan ini, ia berharap Erik akan menyerah dan bersedia bercerai dengan dirinya, karena menurutnya tidak mungkin Erik tega untuk memaksakan cinta seseorang.
"Apa kamu bilang.? Kamu enggak pernah cinta sama mas.? Dan selama ini kamu cuma pura-pura.? Enggak, mas enggak akan percaya dengan alasan kamu ini.! Kalau memang kamu enggak pernah cinta sama mas, kenapa kamu rela memberikan seluruh tubuh kamu ini untuk mas.? Bahkan keperawanan kamu pun kamu berikan kepada mas, kenapa.?" Kata Erik dengan suara yang sangat tinggi dengan raut wajah yang semakin marah, karena ia benar-benar bingung mendengar alasan darinya.
Mendengar kata-kata dari Erik, Dinda tidak bisa menjawabnya, ia hanya terdiam karena bingung harus menjawab apa, karena ia sudah tidak mempunyai alasan lagi untuk tetap bercerai darinya.
"Kenapa kamu Diam.? Jawab.!" Kata Erik sambil membentak, karena sekarang ini ia benar-benar sangat marah kepadanya dan sekarang ini adalah kali pertama ia membentaknya seperti itu.
Mendengar bentakan dari Erik, Dinda lagi-lagi tidak bisa menjawabnya, ia malah justru melangkah pergi keluar dari kamar sambil menangis.
"Hiks,,, hiks,,,, " Suara Dinda menangis sambil terus berjalan keluar dari kamarnya.
"Kamu mau kemana.? Jawab pertanyaan mas.!" Bentak Erik lagi sambil menarik tangannya, sepertinya Dinda sudah berhasil memancing emosinya, sehingga Erik bisa semarah itu kepadanya.
"Lepasin.!" Kata Dinda dengan suara tinggi sambil menghempaskan tangan Erik dengan sangat kuat, kemudian ia pun langsung mendorong tubuhnya, sehingga Erik pun sedikit terjatuh dan tersungkur, kemudian dengan segera ia pun langsung lari dan keluar meninggalkan rumahnya, karena ia berniat ingin pulang kerumah orang tuanya, karena ia sangat tau sampai kapan pun Erik tidak akan pernah mau menerima alasannya untuk bisa bercerai darinya.
"Dinda.! Kamu mau kemana.?" Teriak Erik sambil buru-buru mengejarnya, namun sayang, setelah sampai di pinggir jalan di depan rumahnya, ia melihat Dinda yang sudah masuk kedalam taksi, sepertinya sekarang ini Dinda sedang memberikan diri untuk naik taksi sendiri.
"Hufff SIAL.!" Teriak Erik sambil menendang pintu gerbang dengan sangat kuat, kemudian ia pun langsung buru-buru mengeluarkan mobilnya dan kemudian langsung mengikuti Dinda istrinya itu dari belakang, ia melakukan semua itu karena sekarang ini ia sangat mengkhawatirkan keadaannya, apalagi melihat Dinda naik taksi hanya sendiri dan bukan dirinya lah yang memesankan taksi tersebut ia pun jadi semakin panik, karena seperti yang kita tau, biasanya kalau Dinda kemana-mana, Erik lah yang memesankan taksi untuknya.
DI TEMPAT BERBEDA, DI RUMAH PAK IRSYAD.
Terlihat Arya yang sedang duduk di meja makan sambil menunggu makanan yang sedang Dessy masak.
"Yaaaank, udah belum.? Aku udah lapar nih.!" Kata Arya tak sabar ingin cepat-cepat makan masakan Dessy.
__ADS_1
"Iya yaaank, sebentar lagi sabar ih.!" Teriak Dessy dari dalam dapur.
"Lama banget sih.? Cepet,,,,,,," Seketika teriakan Arya terpotong.
"Makanan udah datang.?" Kata Dessy sambil tersenyum dan menaruh makanan tersebut diatas meja makan tepat di hadapan Arya.
"Eeeeemmm harum banget yank makanannya.? Jadi tambah lapar nih pengin cepet-cepet makan.?" Kata Arya sambil tersenyum dan mencium aroma masakan tersebut.
"Ya udah, aku siapkan makanannya yah.?" Kata Dessy sambil menyiapkan makanan tersebut untuk Arya, karena ia memang perempuan yang sangat dewasa dan mandiri.
"Udah nih, udah selesai.! Sekaraaang, kamu makan yang kenyang yah.?" Kata Dessy lagi penuh perhatian.
"Eeemmm enggak mauuu, pengin disuapin.? A,, a,,," Kata Arya merengek manja seperti anak kecil, sambil membuka kan mulutnya supaya Dessy menyuapi makanan tersebut untuk nya, karena Arya itu memang sedikit manja dan sangat berbeda jauh dari Erik, mungkin Arya seperti itu karena seperti yang kita tau, kedua orang tua Arya adalah pengusaha sukses yang memiliki perusahaan dimana-mana, jadi Arya dan Dinda dari sejak kecil memang selalu dimanjakan oleh kekayaan yang dimiliki oleh kedua orang tuanya itu, dan apa pun yang Arya dan Dinda inginkan, selalu dituruti oleh kedua orang tuanya, Itu sebabnya mengapa Arya dan Dinda tumbuh menjadi anak-anak yang sangat manja.
Melihat tingkah laku Arya seperti itu, Dessy pun tersenyum.
"Kamu ini manja banget sih yank.? Enggak pernah berubah deh dari dulu." Kata Dessy, ia berbicara seperti itu, karena ia memang sangat tau kalau Arya kekasihnya itu dari dulu memang sangatlah manja.
"Sebentar lagi aku mau menjadi istri kamu.? Maksudnya.?" Kata Dessy bingung, karena ia benar-benar tidak tau apa maksud dari ucapannya itu.
Melihat Dessy kebingungan seperti itu, Arya pun langsung tersenyum, kemudian ia pun langsung bangun dari tempat duduknya dan langsung berlutut tepat dihadapannya.
"Kamu bersedia kan jadi istri aku.?" Kata Arya serius, sambil terus berlutut di hadapan Dessy dan memberikan cincin untuk melamarnya, karena sekarang ini ia benar-benar serius ingin menjadikan Dessy sebagai Istrinya.
Mendengar kata-kata dari Arya, Dessy tidak menjawabnya, ia hanya bisa terdiam dan kaget, seketika ia pun langsung menangis.
"Hiks,,, hiks,,, hiks,,,," Suara Dessy menangis, karena terharu sekaligus senang melihat Arya melamarnya.
Melihat Dessy menangis seperti itu, Arya pun langsung berdiri.
"Yaaank, kamu kenapa nangis.? Kamu mau kan jadi istri aku.?" Kata Arya panik, karena ia takut kalau Dessy akan menolak lamarannya.
"Hiks,,, hiks,, Iya, aku bersedia jadi istri kamu." Kata Dessy serius, sambil menatap dalam wajah Arya.
__ADS_1
Mendengar jawaban dari Dessy, Arya pun tersenyum, kemudian ia pun langsung memeluk tubuhnya dengan begitu erat.
"Terimakasih ya sayang.? Terimakasih, kamu benar-benar udah membuat aku menjadi lelaki yang sangat beruntung hari ini.? Terimakasih sayang, terimakasih.?" Kata Arya tergesa-gesa, sambil tersenyum karena saking bahagianya mendengar jawaban dari Dessy, kemudian ia pun langsung melepaskan pelukannya itu, dan langsung menatap wajah cantik Dessy dengan tatapan yang sangat dalam, perlahan ia pun mencoba untuk mendekatkan bibirnya ke bibir Dessy dan mencoba untuk **********, namun belum juga sempat ia ******* bibirnya, tiba-tiba ia mendengar suara teriakan dari Erik.
"Dinda.! Tunggu dulu.! Kamu ini kenapa sih sebenarnya.?" Teriak Erik dari depan rumah pak Irsyad.
Mendengar teriakkan dari Erik, Dessy dan Arya langsung menunda ciumannya itu.
"Sayang, itu bukannya suara Erik yah.? Dia kenapa.? Kok kaya lagi marah-marah sih sama Dind,,,,,," Seketika ucapan Dessy terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Dinda lari masuk kedalam rumah dengan keadaan menangis.
"Hiks,,, hiks,,, hiks,,," Suara Dinda menangis dengan raut wajah yang sangat sedih.
"Dinda ada apa.? Kamu kenapa.? Kok kamu nangis.?" Teriak Arya tergesa-gesa dan panik, melihat Dinda menangis seperti itu.
Mendengar pertanyaan dari Arya, Dinda tidak menjawabnya, ia malah lari semakin kencang masuk kedalam kamarnya, karena ia tidak mau kalau sampai Erik berhasil mengejarnya.
"Sayang, itu Dinda kenap,,,,,," Lagi-lagi ucapan Dessy terpotong, karena tiba-tiba ia melihat Erik yang juga masuk kedalam rumah, dengan raut wajah yang sangat marah.
"Rik, sebenarnya ada apa sih.? Kenapa kamu kejar-kejaran kayak gini.? Terus itu Dinda kenapa nangis tadi.?" Kata Arya penasaran dan bingung melihat Erik dan Dinda seperti itu.
"Iya Rik, sebenarnya ada apa sih.? Kamu sama Dinda enggak lagi ada masalah kan.?" Kata Dessy yang juga penasaran dan bingung melihat Erik dan Dinda seperti itu.
Mendengar kata-kata dari Arya dan Dessy, Erik pun langsung mencoba untuk menjelaskan semuanya kepada mereka, dengan sejelas-jelasnya mengenai Dinda yang tiba-tiba bersikeras ingin tetap bercerai dengan dirinya.
"Apa.? Dinda mau cerai dari kamu.?" Kata Arya dan Dessy secara bersamaan dengan suara tinggi, karena sekarang ini ia benar-benar kaget dan tak percaya mendengar penjelasan dari Erik, karena Dessy dan Arya sangat tau kalau rumah tangga Erik dan Dinda itu cukup harmonis.
"Iya Dinda ingin cerai dari saya, dan saya juga enggak tau apa alasan Dinda mengapa tiba-tiba ingin cerai dari saya.?" Kata Erik dengan raut wajah yang sangat sedih, ia mencoba untuk menyakinkan mereka kembali kalau semua ucapannya itu serius.
Melihat raut wajah Erik sesedih itu, Arya pun langsung mencoba untuk menghibur dan memenangkan.
"Ya udah, kamu yang tenang aja yah Rik.! Mungkin Dinda ngomong kaya gitu karena dia lagi marah.? Dan lebih baik, sekarang kamu pulang yah.! Nanti kalau Dinda udah tenang kamu bisa kesini lagi, bicara baik-baik sama dia." Kata Arya mencoba untuk memberi saran.
"Iya Ya, aku nitip Dinda yah.?" Kata Erik masih sedih, kemudian ia pun langsung melangkah keluar dari rumah pak Irsyad untuk pulang.
__ADS_1